menu

Bumi Bab 13

Mode Malam
Bab 13
INI akan jadi momen paling ganjil sejak aku remaja. Aku melotot, hendak mengusir Ali dari halaman rumah. Di sam­pingku Seli bengong melihat penampilan Ali yang berubah, susah membedakannya dengan pemain drama Korea favoritnya. Sementara Ali tersenyum lebar seolah tidak ada masalah sama sekali, seolah aku dan Seli memang habis bercakap sebal karena Ali tidak kunjung datang untuk belajar bareng.

”Ra, Seli, kenapa kalian malah bengong di situ?” Mama yang tidak memperhatikan, telanjur masuk ke ruang tamu, menoleh, kepalanya muncul dari bingkai pintu. ”Ayo, ajak temanmu ma­suk. Ayo, Nak Ali, masuk.”

Sebelum aku bereaksi atas tawaran Mama—misalnya dengan mencak­mencak mengusir Ali, anak itu mengangguk amat sopan, (pura­ pura) malu melangkah ke teras.

”Anggap saja rumah sendiri, ya.” Mama tersenyum. ”Iya, Tante.” Ali mengangguk lagi.

Aku benar­benar kehabisan kata. Aduh, kenapa Mama ramah sekali pada si biang kerok itu? Aku menyikut Seli, menyadar­kan ekspresi wajah Seli yang berlebihan, mengeluh kenapa Seli juga ikut tertipu dengan tampilan baru Ali. Aku bergegas ikut melangkah masuk ke ruang tamu.

”Nak Ali mau minum apa?”

”Nggak usah, Tante. Nanti merepotkan.”

”Tentu saja tidak. Tunggu sebentar ya, Tante siapkan di dapur.”

Belum sempurna hilang punggung Mama dari bingkai pintu, aku sudah loncat, mencengkeram lengan baju Ali. ”Kamu, ke­napa kamu datang, hah? Tidak ada yang mengajakmu belajar bareng?”

Ali hanya nyengir. ”Aku datang baik­baik lho, Ra.” 

”Bohong! Kamu pasti ada maunya,” aku berseru ketus.

”Eh, iya dong. Tentu saja ada maunya.” Ali menatapku, ter­senyum. ”Maunya adalah belajar bareng. Minta diajari me­ngarang jenis persuasif. Kamu kan yang paling pintar soal bahasa Indo­nesia.”

”Bohong! Kamu pasti sedang menyelidiki sesuatu.”

Ali mengangkat bahu, wajahnya seolah bingung. Dia menoleh ke Seli—yang serius menonton kami bertengkar. Jangan­jangan Seli berpikir ada adegan drama Korea live di depannya.

Aku menelan ludah. Cengkeraman tanganku mengendur. Aku tidak mungkin menuduh Ali sengaja datang untuk menyelidiki apakah aku bisa menghilang atau tidak. Ada Seli di ruang tamu, urusan bisa tambah kacau.

”Karanganmu sudah berapa kata, Sel?” Mengabaikanku, Ali beranjak mendekati Seli. ”Boleh aku lihat?” Ali menunjuk buku PR Seli.

”Eh, silakan,” Seli nyengir, ”tapi nggak bagus kok. Baru tiga paragraf.”

Aku menepuk dahi. Nah, sejak kapan pula Seli jadi ikutan ramah pada Ali? Bukannya kemarin dia marah­marah karena ditabrak Ali di anak tangga?

”Wah, ini bagus sekali, Sel.” Ali membaca sejenak. ”Oh ya?”

Aku menyikut lengan Seli, mengingatkan dia sedang ber­cakap­ cakap dengan siapa.

”Sebenarnya bagusan karangan Ra. Tadi aku juga dikasih ide tulisan sama dia.” Seli tidak merasa aku menyikutnya. Dia malah menunjuk buku PR milikku di ujung meja.

”Boleh aku lihat karanganmu, Ra?” Ali menoleh padaku. 

”Enak saja. Nggak boleh.” Aku bergegas hendak menyambar buku PR­ku.

”Nah, satu gelas jus buah tiba.” Mama lebih dulu masuk ke ruang tamu, menghentikan gerakan tanganku. ”Silakan, Nak Ali. Jangan malu­ malu.”

”Terima kasih, Tante.” Ali menerima minuman sambil ter­senyum santun.

”Ra tidak pernah cerita punya teman laki­laki di se­kolah.” Mama duduk sebentar, bergabung, seolah ikut punya PR bahasa Indonesia— tepatnya Mama sengaja menggodaku.

”Mereka berdua tidak temanan, Tante,” Seli yang menjawab, tertawa.

”Tidak temanan?” Mama menatapku dan Ali bergantian. ”Di sekolah mereka lebih sering bertengkar.”

”Oh ya?” Mama ikut tertawa.

Sore itu berakhir menyebalkan. Selama satu jam kemudian aku terpaksa mengalah, membiarkan Ali mengeluarkan buku dari tasnya, ikut mengerjakan PR di ruang tamu. Sebenarnya, terlepas dari mendadaknya, tidak ada yang aneh dari kedatangan Ali. Dia sungguh­sungguh mengerjakan PR mengarang. Seli membantu menjelaskan ide tulisan— seperti yang aku jelaskan kepada Seli. Ali mengarang dengan serius.

Setengah jam kemudian Ali minta izin ke toilet. Karena Mama sedang memakai kamar mandi bawah, aku ketus menyuruh­nya naik ke lantai atas. Ada toilet di sebelah kamar­ku.

”Kamu memang mengajak Ali belajar bareng, Ra?” Seli ber­bisik, saat kami tinggal berdua.

”Tidak,” aku menjawab ke­tus. ”Kok dia tahu kita belajar bareng?” 

”Mana aku tahu.” Aku melotot ke Seli, menyuruh dia me­nyelesai­kan karangannya. Tidak usah membahas hal lain. Seli nyengir, balik lagi ke buku PR. Hening sejenak.

”Gwi yeo wun, Ra,” Seli berbisik lagi.

”Apanya yang yeo wun?” Aku sebal menatap Seli—sejak ke­datangan Ali, aku mudah sebal pada siapa saja.

”Benar kan yang kubilang, Ra.” Seli tersenyum lebar, matanya bekerjap­kerjap. ”Ali itu aslinya cute, gwi yeo wun. Dengan pakai­an rapi, rambut disisir lurus, eh—”

”Kamu mau menyelesaikan PR atau tidak? Sudah hampir jam lima, tahu.”

”Eh, iya­iya, ini juga lagi diselesaikan.” Seli kembali ke buku. ”Kamu kenapa pula sensitif sekali, jadi mudah marah.”

Pukul setengah enam, Ali dan Seli pamit. Mama mengantar ke halaman, bilang hati­hati di jalan. Aku masuk ke rumah setelah mereka naik angkutan umum. Segera kubereskan piring dan gelas.

”Ternyata...” Wajah Mama terlihat menahan tawa, melangkah ke dapur.

”Kalau Mama mau menggoda Ra, tidak lucu, Ma.” Aku cem­berut

galak.

”Dia yang membuat kamu malu punya jerawat di jidat.” Mama tetap tertawa. ”Dia tampan dan sopan sekali lho, Ra. Pantas saja.”

Aku hampir menjatuhkan piring. Pantas apanya?

***

Sore berlalu dengan cepat. Gerimis turun membungkus kota saat lampu mulai dinyalakan satu per satu. Awan hitam ber­gelung memenuhi setiap jengkal langit. Kilau tajam petir dan gelegar guntur menghiasi awal malam. 

Pukul tujuh, aku makan malam sesuai jadwal. Mama me­nemani­ku—hanya menemani. ”Mama makannya nunggu Papa pulang, Ra.” Aku mengangguk, mengerti.

Pukul delapan, gerimis berubah menjadi hujan deras. Aku duduk di ruang keluarga, malas belajar. Daripada di kamar sibuk memencet jerawat, kuputuskan membaca novel saja, menemani Mama yang menonton televisi. Sialnya, tetap saja aku refleks me­megang­megang jerawat sambil membaca. Urusan jerawat selalu begitu, semakin berusaha dilupakan, semakin sering aku mengingatnya. Aku mengeluh dalam hati, hampir bertanya untuk kesekian kalinya kepada Mama, apa obat mujarab jerawat, tapi kemudian aku mengurungkannya. Nanti Mama jadi punya amunisi kembali menggodaku.

”Ma, Papa sudah telepon lagi atau belum?” ”Sudah,” Mama menjawab pendek.

”Papa bilang pulang jam berapa?” Aku memperbaiki posisi duduk, membiarkan si Putih meringkuk manja di ujung kakiku. Bulu tebalnya terasa hangat.

”Sampai urusan di kantor selesai, Ra. Belum tahu persisnya.” Mama menghela napas tipis, berusaha terdengar biasa­biasa saja. Aku manggut­ manggut, tidak bertanya lagi. Kembali kubaca novel, tangan kiriku juga kembali memegang­megang jidat.

Pukul sembilan, hujan deras mereda. Mama menyuruhku tidur lebih dulu. Aku mengangguk, sudah waktuku masuk kamar. Baiklah, aku menutup novel yang kubaca. Si Putih ikut bangun, berlari­lari menaiki anak tangga.

Meski sudah masuk kamar, aku tidak bisa segera tidur seperti malam sebelumnya. Banyak yang kupikirkan. Lewat tirai jendela, kutatap kerlap­kerlip lampu di antara jutaan tetes air. Aku menghela napas, semoga Papa baik­baik saja di kantor, urusan hari ini lebih mudah. Refleks aku memegang jidat.

Si Putih mengeong, naik ke atas tempat tidur. Aku menoleh. ”Kamu tidur duluan saja, Put. Aku belum mengantuk.” Aku kembali mengintip 

lewat sela­sela tirai jendela. Semoga si Hitam, di mana pun dia minggat sekarang, juga baik­baik saja. Hujan deras seperti ini, semoga dia menemukan loteng kering untuk tidur. Sudah dua hari kucingku itu tidak pulang. Aku refleks memegang jidatku.

Aku juga memeriksa buku PR matematika dari Miss Keriting, duduk di atas kasur. Lima menit sibuk membolak­balik halaman, tidak ada yang istimewa, hanya buku PR­ku seperti biasa. Aku mengingat­ingat pesan Miss Keriting, apa dia bilang? Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat­tempat yang hilang. Entahlah. Kalimat itu aneh sekali.

Hujan di luar semakin deras. Aku hendak memasukkan buku­ku kembali ke dalam tas, tapi sepertinya tasku ketinggalan di ruang televisi.

Ah, rasanya malas turun mengambil tas. Jadi aku beranjak, duduk di kursi belajar, menatap cermin besar, memperhatikan jerawatku. Jerawatku besar sekali—merah, dengan bintik putih tipis. Aku mematut­ matut beberapa menit, akhirnya gemas me­mencetnya. Tidak meletus, hanya menyisakan sakit dan semakin merah di sekitarnya. Aku mengeluh dalam hati, menyesal sudah memencetnya.

Pukul sepuluh, langit gelap kembali menumpahkan hujan. Le­bih deras daripada sebelumnya. Kilau petir membuat berkas cahaya di dalam kamar, guntur terdengar menggelegar. Aku masih termangu menatap jidatku, sudah tiga kali memencet jerawat­ku. Aku menyesal, kupencet lagi, menyesal lagi. Begitu­begitu saja, tambah geregetan.

Kenapa pula jerawat ini datang pada waktu yang tidak tepat? Susah sekali membuatnya meletus. Aku menatap cermin dengan kesal. Kenapa aku tidak bisa membuatnya menghilang seperti saat aku membuat tubuhku menghilang dengan menempelkan telapak tangan di wajah? Telunjukku geregetan terus menekan­nekan. Atau aku bisa membuatnya menghilang seperti itu? Aku menelan ludah. Kenapa tidak? Apa susahnya membuat jerawat batu ini hilang? Jangan­jangan, aku bisa menyuruhnya meng­hilang. Telunjukku terangkat, sedikit gemetar menunjuk jerawat itu. 

Saat telunjukku terarah sempurna ke jerawat, aku bergumam, ”Menghilanglah,” dan kilau petir menyambar begitu terang di luar ke­laziman. Suara guntur bahkan terdengar lebih cepat daripada biasa­nya, berdentum kencang. Aku hampir terjatuh dari kursi, me­nutup mulut karena hampir berseru. Lihatlah! Jerawat di jidatku sungguhan hilang.

Aku sedikit gemetar memastikan, berdiri, mendekatkan wajah ke cermin. Benar­benar hilang. Aku hampir bersorak senang, se­belum sesuatu menghentikannya.

”Halo, Gadis Kecil.” Sosok tinggi kurus itu telah berdiri di dalam cermin, menatapku lamat­lamat dengan mata hitam meme­sona­. Kali ini aku benar­benar terjatuh dari kursi. Kaget.

Apa yang barusan kulihat? Sosok itu? Aku bergegas berdiri, refleks menoleh ke belakang, tidak ada siapa­siapa berdiri di dalam kamarku. Kembali aku menoleh ke cermin, sosok tinggi kurus itu masih ada di sana, tersenyum. Matanya menatap me­mesona.

”Kamu sepertinya baru saja berhasil menghilangkan sebuah jerawat, Nak. Selamat.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊