menu

Bumi Bab 12

Mode Malam

Bab 12
GURUMU berbeda sekali, Ra.” Mama masih berdiri di depan

rumah.

Aku menoleh, melihat Mama yang masih menatap jalanan. ”Beda apanya, Ma?”

”Zaman Mama dulu sih masih ada guru seperti itu, rajin mengunjungi rumah muridnya, bertanya ke orangtua, bicara tentang kemajuan kami. Tetapi sekarang murid kan ribuan, itu tidak mudah dilakukan. Belum lagi kesibukan­kesibukan lain.”

Aku mengangkat bahu. Sebenarnya, aku belum mengerti kenapa Miss Keriting sengaja datang mengantarkan buku PR matematika. Aku balik kanan, masuk ke dalam rumah.

”Seli jadi datang, Ra?” Mama ikut melangkah masuk.

Bel pagar berbunyi nyaring sebelum aku menjawab. Aku dan Mama menoleh. Panjang umur, teman satu mejaku itu sudah berdiri di gerbang, melambaikan tangan. Aku tersenyum, yang ditunggu datang juga, berlari­ lari kecil ke pagar.

”Ra...!” Begitu masuk, Seli langsung memegang lenganku. ”Tadi itu Miss Keriting, kan?” Seli berseru, menatapku pe­nasa­r­an setengah mati. ”Iya, pasti Miss Keriting. Aku melihatnya naik mobil pas aku turun dari angkot. Sekilas, tapi aku yakin sekali. Miss Keriting, kan?”

Aku mengangguk, berjalan melintasi halaman rumput. ”Aha. Tebakanku tepat. Eh, Ra, kenapa dia ke sini?”

Aku menjawab pendek, ”Mengantarkan buku PR.” Aku mengangkat buku PR­ku, memperlihatkannya pada Seli.

”Buku PR? Memangnya kenapa dengan buku PR­mu?” Seli tidak mengerti, menatap buku PR­ku seperti sedang me­natap buku mantra 

sakti atau menatap buku diary penuh rahasia dalam drama Korea yang sering ditontonnya.

”Tidak tahu.”

”Ini sungguhan buku PR­mu, kan?”

”Ya iyalah.” Aku tertawa. ”Tidak usah di­pelototi. Nanti ter­bakar.” ”Dia tidak bicara sesuatu, kan? Maksudku, kamu tidak kenapa­

kenapa, kan? Seharusnya kan guru BP yang datang kalau kamu kenapa­ napa, kan ya? Eh?”

”Cuma mengantarkan buku PR, Seli.” Aku mengangkat bahu, mengembuskan napas. ”Tidak ada yang lain. Aku juga tidak tahu kenapa dia harus mengantarkannya langsung. Jangan­jangan habis dari rumahku, dia ke rumahmu, mengantarkan buku PR berikutnya.”

”Jangan bergurau, ah.” Seli masih melotot. ”Siapa yang bergurau?” Aku nyengir lebar.

”Aku serius nih, Ra, kenapa Miss Keriting ke sini? Jangan­jangan kamu merahasiakan sesuatu, ya?” Seli menyelidik, ingin tahu—sudah mirip kelakuan Ali.

”Kalian mau minum apa?” Suara Mama memotong bisik­bisik Seli. ”Mau Mama buatkan pisang cokelat dan jus buah?”

”Eh, selamat siang, Tante.” Seli menoleh, buru­buru meng­angguk, lupa belum menyapa tuan rumah, padahal sudah sejak tadi rusuh masuk ke ruang tamu. ”Apa saja, Tante, asal jangan me­repotkan.”

Mama tersenyum. ”Tidak merepotkan kok.”

”Apa saja, Ma. Asal yang banyak. Soalnya Seli suka makan.” Aku tertawa, menambahkan.

Seli menyikut lenganku. Sebal.

Mama ikut tertawa. ”Nah, selamat belajar ya. Mama ke bela­kang

dulu.” 

Kami berdua mengangguk.

Tetapi lima belas menit berlalu, jangankan mengerjakan PR, membuka buku bahasa Indonesia pun tidak. Seli lebih tertarik dan memaksa ingin tahu kenapa Miss Keriting datang ke ru­mahku. Aku mau jawab apa, coba? Seli bahkan memeriksa buku PR­ku, penasaran, apa istimewanya buku PR itu hingga diantar lang­sung Miss Keriting. Lima menit sibuk memeriksa, Seli menyerah­kan lagi buku itu sambil menghela napas kecewa. ”Tidak ada apa­apanya. Sama saja dengan buku PR­ku, malah nilainya lebih bagus punyaku. Kenapa sih Miss Keriting ke rumahmu, Ra?”

”Aku tidak tahu.” Aku melotot, bosan memegang buku bahasa Indonesia yang sejak tadi tidak kunjung dibuka. ”Atau begini saja, besok kamu tanyakan ke dia langsung. Kan jadi jelas. Nanti aku temani.”

Seli memajukan bibirnya, lagi­lagi hendak berkomentar sesuatu, tapi suara bel gerbang depan sudah berbunyi nyaring.

”Biar Mama yang buka, Ra.” Suara Mama terdengar dari dalam. ”Kalian belajar saja.”

Aku tertawa. Apanya yang belajar? Aku beranjak berdiri. Seli juga ikut berdiri, mengikutiku ke depan hendak membuka gerbang. Dua karyawan toko elektronik terlihat sedang repot menurunkan boks besar dari mobil. ”Ma, mesin cucinya datang!” aku berteriak dari halaman.

Sekitar lima belas menit kami menonton Mama mengomeli karyawan yang sibuk bolak­balik menukar mesin cuci baru, meng­uji coba mesin cucinya, memastikan kali ini tidak ada masa­lah. Mereka terlihat serbasalah, mengangguk­angguk mendengar omelan Mama.

”Ternyata mamamu sama seperti mamaku, Ra,” Seli berbisik. Karyawan toko elektornik itu untuk kesekian kali minta maaf, membungkuk, hendak berpamitan.

”Apanya yang sama?” Aku menoleh ke Seli. Kami masih berdiri menonton.

”Galak! Kasihan karyawan tokonya,” Seli bergumam pelan. 

Aku tertawa, tidak berkomentar, memperhatikan karyawan toko yang akhirnya bernapas lega, buru­buru menaiki mobil, lantas cepat mengemudikan mobil, hilang di kelokan jalan.

Setidaknya, selingan menonton mesin cuci baru ditukar mem­buat rasa penasaran Seli tentang Miss Keriting berkurang ba­nyak. Kami bisa mulai mengerjakan PR bahasa Indonesia, mem­buat karangan dengan jenis persuasif sebanyak dua ribu kata. Apalagi saat minuman dan makanan diantar Mama, Seli me­mutuskan melupakan Miss Keriting.

Sayangnya, baru pukul setengah empat, kami baru sepertiga jalan mengerjakan PR, bel gerbang depan berbunyi lagi. Nyaring. Aku mendongak, mengangkat kepala. Alangkah banyaknya orang yang bertamu ke rumah kami hari ini. Ini sudah keempat kali­nya. Seli di sebelahku masih asyik menuliskan karangannya.

”Biar Mama yang buka, Ra.” Mama yang sedang santai me­nonton di ruang tengah sudah beranjak lebih dulu ke depan. Aku kembali menatap buku PR­ku. Paling juga tetangga sebelah, perlu sesuatu. Atau tukang meteran listrik, PAM. Atau pedagang keliling.

”Selamat siang, Tante.”

Eh, aku mendongak lagi. Suara itu khas sekali terdengar—meski jaraknya masih sepuluh meter dari ruang tamu. Suara yang menyebalkan, aku kenal. Mama menjawab salam.

”Ra ada, Tante?”

Mama mengangguk, lalu bertanya, ”Ini siapa ya?”

”Saya teman sekelas Ra, mau ikutan mengerjakan PR bahasa Indonesia.”

Aku langsung meloncat dari posisi nyaman menulis. Seli yang kaget ikut meloncat, tanpa sengaja mencoret buku PR­nya, me­natapku sebal. ”Ada apa sih, Ra?”

Aku tidak menjawab. Aku sudah bergegas ke depan rumah. Seli ikutan keluar rumah. Sial! Lihatlah, Mama bersama tamu keempat sore ini, Ali si biang keerok, berjalan menuju kami. 

”Katanya hanya Seli yang datang, Ra?” Mama mengedipkan mata. ”Kamu tidak bilang­bilang akan ada teman sekelas yang lain?”

Aduh. Aku seketika mematung melihat Ali. Lihatlah, si biang kerok itu bersopan santun sempurna, berpakaian rapi. Ya ampun, rapi sekali dia. Berkemeja lengan panjang, bercelana kain, berikat pinggang, bersepatu, bahkan aku lupa kapan terakhir kali melihat rambutnya disisir rapi, terlihat lurus, hitam legam, dan tersenyum seperti remaja paling tahu etika sedunia. ”Selamat sore, Ra. Selamat sore, Seli. Maaf aku terlambat.”

Bahkan Seli, kali ini pun ikut mematung, menatap Ali yang seratus delapan puluh derajat berubah tampilan, di halaman rumput, di bawah cahaya matahari sore yang mulai lembut.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊