menu

Bumi Bab 11

Mode Malam
Bab 11
SELAMAT siang, Ra,” suara tegas dan disiplin itu me­nyapa.

”Miss Ke—” Aku buru­buru menelan ludah, menghentikan nama panggilan itu, hampir saja aku kelepasan menyebut Miss Keriting. ”Miss Selena? Eh, selamat siang, Bu.”

Aku bukan saja bingung karena ternyata bukan Seli yang datang, tapi lebih dari itu. Kepalaku segera dipenuhi banyak pertanyaan. Kenapa guru matematikaku ada di sini? Di depan gerbang rumahku? Kalau guru BP yang datang, masih dengan mudah dicerna. Kali­kali saja aku sudah melanggar peraturan sekolah tanpa sadar.

”Boleh Ibu masuk, Ra?” Miss Keriting tersenyum.

Eh? Aku buru­buru mengangguk, balas tersenyum sebaik mungkin. ”Silakan, Bun. Maaf, saya tadi kaget. Kirain siapa yang datang.”

Aku bergegas membuka gerendel gerbang, mendorongnya.

”Kamu sedang menunggu tamu lain, Ra?” Miss Keriting me­langkah masuk.

Aku menggeleng, kemudian mengangguk. ”Iya, Bu. Saya me­nunggu Seli. Kami mau belajar bareng.”

”Oh.” Miss Keriting tersenyum tipis. Wajahnya yang tegas dan disiplin terlihat mengesankan dari jarak sedekat ini.

Meskipun aku bingung, kenapa Miss Keriting tiba­tiba datang ke rumah, aku setengah kaku segera menyilakan Miss Keriting jalan duluan. Guru matematikaku itu berjalan dengan langkah teratur, berirama. Suara sepatunya yang mengentak tegel taman terdengar pelan. Masih dengan pakaian tadi pagi, kemeja lengan panjang berwarna cokelat, celana kain berwarna senada, dan sepatu hitam—bedanya, sekarang Miss Keriting membawa tas jinjing ber­ukuran sedang, bermotif simpel, berwarna gelap. Rambut ke­riting­nya bergerak lembut seiring gerakan tubuh tinggi 

ramping­nya. Dari jarak sedekat ini pula, aku baru me­nyadari postur Miss Keriting terlihat ber­beda. Dia tidak seperti wanita usia empat puluhan kebanyak­an. Dia berbeda sekali. Sepertinya aku—dan teman sekelas—tidak memperhati­kan Miss Keriting de­ngan baik di kelas, lebih dulu takut dengan rumus matematika di papan tulis.

Aku membukakan pintu depan. ”Eh, sepatunya boleh dipakai kok, Bu. Tidak apa­apa.” Di rumah, Papa biasa mengenakan sepatu hingga ruang depan, Mama juga tidak melarangku.

”Terima kasih, Ra.” Miss Keriting tetap melepas sepatunya, anggun dan cepat, tanpa sedikit pun membungkuk. ”Orangtuamu ada di rumah?”

”Seli sudah datang, Ra? Kalian mau dibuatkan minum apa sambil belajar?” Suara Mama lebih dulu terdengar sebelum aku menjawab. Mama melangkah dari ruang tengah, bergabung, sambil menyeka tangannya yang basah dengan handuk. ”Eh?” Mama terdiam sejenak, menatap ruang tamu, menatapku, pindah me­natap Miss Keriting.

”Ini guru Ra, Ma,” aku segera menjelaskan. ”Guru mate­matika. Nah, ini mama saya, Miss Selena. Kalau Papa masih di kantor, belum pulang.”

”Saya minta maaf karena tidak memberitahu lebih dulu akan bertamu.” Miss Keriting maju satu langkah, tangannya terulur, tersenyum.

Masih separuh bingung, Mama ikut tersenyum, menerima uluran tangan Miss keriting. ”Eh, tidak apa. Hanya saja, aduh, saya berpakaian seadanya, kotor pula.” Mama melirik pakaiannya yang basah habis mengurus dapur. Beberapa bercak minyak dan kotoran terlihat.

”Selena.” Miss Keriting menyebut nama.

”Selena?” Mata Mama membulat, mulai terbiasa. ”Aduh, Selena itu kan nama yang kami rencanakan untuk Ra sebelum dia lahir. Artinya bulan. Tapi orangtua kami tidak setuju, me­nyuruh menggantinya menjadi Raib. Mereka bilang itu nama leluhur yang harus dipakai bayi kami. Eh, maaf, jadi mem­bahas hal­hal yang tidak perlu.” Mama tertawa, segera menyebut namanya, balas memperkenalkan diri. 

Aku yang berdiri di antara mereka menatap lamat­lamat wajah Mama—aku tidak tahu cerita itu. Mama dan Papa tidak pernah bercerita bahwa aku dulu hampir diberi nama Selena.

”Ra tidak membuat masalah di sekolah, bukan?” Mama menoleh kepadaku, sedikit cemas.

Miss Keriting menggeleng. ”Ra murid yang baik. Kalian akan bangga memiliki anak dengan bakat hebat seperti dia. Satu­satunya masalah yang pernah Ra buat hanya lupa membawa buku PR­nya. Tapi siapa pula yang tidak pernah lupa?”

”Oh, syukurlah.” Mama memeluk bahuku. ”Saya pikir Ra mem­buat masalah. Oh iya, silakan duduk.” Mama menoleh lagi ke­pada­ku. ”Ra, tolong bikinkan minum, ya. Biar Mama yang menemani Ibu Selena.”

Aku mengangguk, tapi Miss Keriting menahan gerakan tangan­ku. ”Saya hanya sebentar. Waktu saya amat terbatas, dan tidak leluasa,

karena  itulah  dari  sekolah  saya  bergegas  menemui  Ra.”  Suara  Miss

Keriting terdengar lugas. Dia mengambil sebuah buku dari tas jinjing berwarna gelapnya. ”Nah, Ra, ini buku PR mate­matika­mu yang kamu kumpulkan tadi pagi. Sudah Ibu periksa. Meski lebih sering kesulitan, kamu selalu berusaha me­ngerjakan tugas dengan baik. Saran Ibu, apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawab­an dari tempat­tempat yang hilang. Kamu akan memper­oleh semua jawaban. Masa lalu, hari ini, juga masa depan.”

Aku menatap Miss Keriting dengan bingung. Bukan saja bingung dengan kalimat terakhirnya yang begitu misterius, tapi bingung kenapa Miss Keriting sendiri yang mengantarkan buku PR matematikaku ke rumah. Sore ini? Mendadak sekali? Kenapa tidak besok pagi? Di sekolah?

”Saya harus bergegas, Bu. Mengejar waktu dan dikejar waktu.” Miss Keriting mengulurkan tangan kepada Mama, hendak ber­pamitan. ”Sekali lagi, saya minta maaf kalau mengganggu. Saya sungguh merasa tersanjung Ibu dulu hampir memberikan nama itu kepada Ra. Selena. Ibu benar, itu artinya bulan. Bagi bangsa tertentu, artinya bahkan lebih dari 

sekadar ‘bulan yang indah’, tapi juga pemberi petunjuk, penjaga warisan, benteng terakhir.”

Eh? Mama menelan ludah, lebih bingung lagi menatap wajah Miss Keriting yang tersenyum cemerlang. Ragu­ragu, Mama ikut menerima uluran tangan Miss Keriting.

”Selamat sore, Bu.” Miss Keriting mengangguk, melepas jabat tangan. ”Dan kamu, Ra, jangan lupa baca buku PR­mu,” ujar Miss Keriting sambil mengedipkan mata, tersenyum. Sedetik, tubuh tinggi ramping Miss Keriting sudah melangkah ke pintu, mengenakan sepatu, tanpa membungkuk sedikit pun.

Aku seketika teringat sesuatu saat melihat gayanya membalik badan dan memakai sepatunya. Itu kan persis sekali dengan cara pemain drama Korea dengan latar belakang cerita bangsawan yang sering ditonton Seli bedanya tentu saja Miss Keriting tidak sedang berakting, dan dia melakukannya seperti memang dia adalah golongan itu. Terlihat anggun, cekatan.

Lima detik, Miss Keriting sudah berjalan cepat di sepanjang halaman rumput. Suara ketukan sepatunya terdengar pelan, ber­irama. Aku dan Mama ikut mengantar ke depan, masih belum mengerti—dan tidak sempat bertanya—menatap punggungnya. Miss Keriting menaiki mobil berwarna gelap yang terparkir rapi di depan gerbang, melambaikan tangan. Jendela kaca mobil lantas naik menutup. Mobil bergerak maju, dengan cepat hilang di kelokan jalan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊