menu

Bumi Bab 10

Mode Malam
Bab 10
AKU boleh mengerjakan PR bahasa Indonesia nanti sore di rumahmu ya, Ra?” Seli memegang lenganku. Kami dalam per­jalan­an pulang sekolah. Angkutan umum yang kami tumpangi penuh.

Aku menoleh. ”Di rumah­ku?”

”Kamu yang paling pandai di kelas soal bahasa, Ra. Meskipun Ali bisa membuat mobil terbang, tidak mungkin aku belajar mengarang dengannya. Aku belajar di rumahmu saja, ya? Boleh?” Seli memajukan bibirnya.

Aku berpikir sejenak. ”Oke deh.”

”Trims, Ra. Nanti sore jam setengah tiga, ya. Biar nggak ke­malaman pulang.” Seli tersenyum riang.

Angkutan umum terus mengambil jalur kiri, merangsek macet, membuat tambah macet—meski penumpang seperti kami senang­senang saja, jadi lebih cepat.

Aku tiba di rumah sesuai jadwal. Seli bilang dia saja yang traktir bayar ongkos. Aku menggeleng, tapi Seli duluan berseru ke sopir. ”Nanti saya yang bayar, Pak.” Aku tersenyum, turun dari angkot tanpa membayar.

Aku membuka gerbang pagar, melangkah di halaman rumput terpangkas rapi, mendorong pintu, berseru memanggil Mama. ”Ra sudah pulang, Ma!”

Lagi­lagi hanya si Putih yang riang berlari menuruni anak tangga menyambutku, mengeong­ngeong antusias. Aku melepas sepatu, melemparkannya sembarangan ke rak.

”Halo, Put.” Aku meraih kucingku, menggendongnya. Si Putih menyundul­nyundulkan wajah manja. Bulu tebalnya terasa lembut di lengan. 

”Si Hitam belum kembali juga, ya?” Aku menatap sekitar, me­meriksa. Si Putih mengeong pelan. Mata bulatnya bercahaya.

Aku berjalan melewati ruang keluarga, menuju dapur. Biasa­nya baru mendengar pintu didorong pun Mama sudah tahu aku yang pulang, menyuruh bergegas makan. Tapi kali ini tidak ada yang menyambutku. Aku tahu penyebabnya saat tiba di bela­kang rumah. Mama dengan tangan penuh busa dan rambut berantak­an sedang mencuci pakaian.

”Kamu sudah pulang, Ra? Tidak ada pertemuan Klub Me­nulis?” Mama bertanya, tangannya tetap sibuk mengucek pakaian di dalam ember besar.

”Eh, kenapa nggak pakai mesin cuci baru, Ma?” Aku tidak men­jawab, sebaliknya bertanya sambil menatap bingung.

”Mesin cuci baru itu rusak, Ra.” Suara Mama terdengar sebal. ”Dari tadi Mama utak­atik, tetap saja tidak menyala. Awas saja kalau mereka tidak datang sore ini, bakal Mama tulis ke semua koran bahwa toko elektronik itu tidak becus. Tega sekali mereka menjual barang rusak.”

Aku terdiam sejenak, berusaha mengerti kalimat Mama, lantas sejenak tersenyum kecil, menahan tawa. Lihatlah, wajah Mama yang menggelembung bete selalu lucu.

”Masa sudah rusak, Ma?”

”Kamu lihat saja, Ra. Tuh, sama rusaknya seperti mesin cuci yang lama. Malah lebih parah. Tidak mau dinyalakan sama sekali.” Mama menunjuk pojok belakang rumah dengan jari penuh busa. ”Mereka janji datang sebelum jam tiga, ditukar dengan mesin cuci yang baru. Tadi Mama sudah ancam, telat satu menit pun, Mama akan bikin konferensi pers. Tantemu kan wartawan televisi, bila perlu Mama masuk liputan berita.”

Aku benar­benar tertawa sekarang. Kalau lagi sebal, Mama suka berlebihan.

”Kenapa malah tertawa? Sana cepat ganti seragam. Makan siang.” Mama melotot. ”Aduh, masa tiba di rumah langsung main dengan kucing? 

Si Hitam atau si Putih itu kan bisa main sendiri, atau mainnya nanti­ nanti?”

Aku buru­buru melipat tawa, mengangguk. Kalau Mama sudah bete, memang lebih baik segera menyingkir. Kalau tidak, bakal ikutan kena semprot. Aku meletakkan si Putih di lantai, berlari kecil menaiki anak tangga, masuk ke kamar, melemparkan tas ke kursi, refleks melihat cermin, teringat tadi malam aku melihat bayangan si Hitam di sana. Tidak ada. Aku mengeluh dalam hati, kenapa aku jadi aneh sekali? Aku berharap menemukan si Hitam di dalam cermin. Itu mustahil, kan? Telanjur menatap cermin, aku sejenak menatap jidatku, menghela napas. Jerawatku terlihat seperti bintang terang di gelap malam—atau malah bulan saking besarnya. Hendak ku­pencet, tapi urung. Lebih baik segera menyibukkan diri, su­paya aku lupa ada jerawat batu sialan di jidat.

Mood Mama membaik saat aku duduk hampir menghabiskan makan siang setengah jam kemudian. Mama mengeringkan tangan dengan handuk, bergabung ke meja makan.

”Sudah selesai, Ma?”

”Sudah,” Mama menjawab pendek.

”Ma, nanti sore Seli mau main ke sini, mengerjakan PR bareng.

Boleh ya?” Aku teringat percakapan di angkot tadi, memberi­tahu.

Mama mengangguk, meraih piring, mendekati rice cooker. ”Setidaknya mencuci dengan tangan bikin Mama jadi berke­ringat,

olahraga.” Mama bergumam, beranjak membuka tutup mangkuk sup daging. ”Eh, kamu habisin semua sup dagingnya, Ra?”

Aku mengangkat bahu. ”Kirain Mama sudah makan.”

”Aduh, Ra, kan kamu bisa tanya Mama dulu.” Mama meng­omel, membuka mangkuk lainnya. ”Kamu seharusnya tahu, Mama butuh makan banyak setelah menaklukkan seember besar cucian.”

Aku menahan tawa, sebenarnya Mama selalu melampiaskan sebal dengan makan. Semakin bete, Mama semakin sering dan banyak makan. ”Setidaknya Mama tidak melampiaskannya dengan belanja, Ra. Itu 

berbahaya, bisa membuat bangkrut ke­luarga,” Papa dulu pernah berbisik saat Mama uring­uringan dua hari karena Papa lupa tanggal ulang tahun pernikahan. ”Untung­nya Mama hanya punya dua pelampiasan ya, Ra. Satu makan, satunya lagi kamu tahu sendiri deh apa.”

Mama mengambil apa pun masakan yang tersisa di atas meja, lalu duduk, mengembuskan napas, mulai makan. Aku tidak banyak komentar, ikut menghabiskan makanan di piringku.

”Eh, Ma, Ra boleh tanya sesuatu?” tanyaku setelah lima menit hanya terdengar suara sendok.

”Ya?” Mama mengangkat kepala.

”Mama dulu waktu remaja jerawatan nggak sih?”

Mama menyelidik wajahku, melihat jidatku. ”Jerawatan itu biasa,

Ra.”

”Tapi nggak sebesar ini, Ma. Lihat, besar banget, sudah kayak bisul.” Aku kecewa melihat ekspresi Mama—mengira Mama bakal bersimpati.

”Wajah kamu tetap manis bahkan dengan jerawat dua kali lebih besar dibanding itu. Percaya Mama deh.” Mama menunjuk jidatku dengan sendoknya.

Aku menyeringai. Tentu saja Mama akan bilang begitu, aku jelas­ jelas anak gadisnya—dalam situasi sebal sekalipun Mama pasti akan memilih menyemangatiku.

”Ada obatnya nggak sih, Ma?” aku bertanya lagi setelah diam sejenak.

”Nanti juga hilang sendiri.”

”Iya kalau hilang, kalau tambah banyak?”

Mama tertawa. ”Kamu ada­ada saja. Kalaupun tambah ba­nyak, wajahmu tetap manis. Eh, atau jangan­jangan kamu malu pu­nya jerawat, ya?” Aku menggeleng. Siapa pula yang malu, ini cuma menjengkel­kan. ”Atau jangan­jangan kamu malu dilihat teman laki­laki di se­kolah­,

ya?  Ada  yang  naksir,  Ra?  Atau  sebaliknya?  Kamu  naksir seseorang?”

Mama menyelidik. ”Siapa sih, Ra?”

Aku memonyongkan bibir. Mama itu tidak seru kalau lagi sebal. Hal kedua pelampiasan Mama yang dibilang Papa dulu, selain makan, apa lagi kalau bukan menggodaku.

”Papa pulang malam lagi, Ma?” aku buru­buru banting setir pembicaraan.

”Iya, tadi Papa telepon. Papa lagi punya banyak urusan di kantor.” Mama menghela napas prihatin, enggan bercerita lebih detail—meskipun sebenarnya aku sudah tahu dari me­nguping semalam. ”Bos Papa marah­ marah terus.” Mama mengedip­kan mata, tersenyum tipis. ”Nah, setidaknya, nanti malam kamu boleh makan lebih dulu, tidak perlu menunggu Papa pulang.”

Aku balas tersenyum tipis. Semoga Papa terus semangat.

Agar uring­uringan Mama tidak menjadi­jadi, aku menawar­kan diri mencuci piring, juga membersihkan meja dan peralatan masak. Mama membawa ember ke halaman belakang, menjemur pakaian basah. Tidak banyak yang kulakukan setelah itu, me­milih membawa buku pelajaran turun ke ruang tamu, menunggu Seli sambil membaca novel—seraya berkali­kali refleks me­megang jerawat di jidat, memencet­mencet gemas.

Pukul setengah tiga persis bel rumah berbunyi nyaring. ”Ra, ada tamu tuh!” Mama berteriak dari dalam.

Aku mengangguk, lalu berdiri hendak membuka gerbang pagar. Seli sepertinya sudah tiba. Si Putih berlari menemaniku melewati halaman rumput. Eh? Gerakan tanganku terhenti saat hendak membuka gerbang, menatap ke depan. Bukan Seli yang datang.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊