menu

Bumi Bab 08

Mode Malam
Bab 08
PAPA baru pulang lewat pukul sepuluh. Aku yang belum tidur, meski sudah mematikan lampu sejak tadi, bergegas turun saat mendengar mobil memasuki garasi. Aku menempelkan ke­dua telapak tangan ke wajah, mengintip dari sela jemari, berdiri di anak tangga.

”Papa minta maaf, Ma.” Suara Papa terdengar lelah, menyeka rambut di dahi. ”Hari ini di pabrik kacau sekali.

”Tadi pagi Papa buru­buru berangkat ke kantor, karena jadwal pengoperasian mesin yang dibeli enam bulan lalu itu ternyata dimajukan hari ini. Pemilik perusahaan mengajak beberapa mana­jer senior ke pabrik, melihat seberapa baik mesin itu bekerja.”

Papa mengembuskan napas, mengempaskan tubuh di sofa, me­lepas sepatu. ”Setengah jam pertama, mesin itu sepertinya tidak bermasalah, bahkan sangat prima, tapi entah kenapa, persis saat kami akan kembali ke kantor, salah satu sabuk mesin terlepas. Itu mesin pencacah raksasa, terbayang saat sabuk dengan lebar se­tengah meter, panjang tiga puluh meter, terlempar begitu saja ke udara. Sebelas karyawan luka parah seketika, dilarikan ke rumah sakit. Belasan lain luka ringan, terkena bahan mentah yang seperti peluru ditembakkan ke segala penjuru. Rombongan dari kantor beruntung ada di boks terlindung kaca, hanya dindingnya yang retak.”

”Tapi tidak ada yang meninggal, kan?” Mama bertanya pri­hatin, membantu membereskan sepatu dan kaus kaki Papa.

Papa menggeleng. ”Tetap saja itu kecelakaan paling serius yang pernah terjadi. Operasional pabrik terpaksa dihentikan hingga mesin itu diperbaiki, kemungkinan hingga seminggu ke depan. Dan itu otomatis berarti Papa harus berangkat pagi pu­lang malam seminggu ke depan. Semua ini benar­benar seperti di luar akal sehat. Itu mesin baru. Teknisi bule yang memasang­nya bahkan masih ada di pabrik. Sabuk setebal itu putus begitu saja, seperti ada yang memotongnya dengan benda tajam.” 

Mama tidak berkomentar lagi, hanya tatapan matanya yang lembut seolah berkata sebaiknya Papa mandi dulu, makan malam, istirahat, semua masalah pasti bisa diselesaikan.

”Belum lagi, pemilik perusahaan marah­marah, dan Papa­lah yang paling kena batunya. Papa yang menyarankan membeli mesin itu, memeriksa spesifikasinya, memilih vendornya, dia bahkan berteriak­teriak mengancam akan memecat siapa saja yang tidak becus. Hari ini melelahkan sekali, mengurus buruh yang terluka, juga mengurus bos besar yang mengamuk. Papa minta maaf lupa menelepon. Ponsel Papa ketinggalan di kantor, tidak tahu kalau Ra dan Mama sudah menelepon berkali­kali, cemas menunggu makan malam bersama.” Papa me­nyisir rambut­nya dengan jemari, menatap Mama, merasa ber­salah.

Mama tersenyum anggun. ”Ya sudah. Sekarang Papa cepat mandi, pasti jadi lebih segar.”

Aku yang mengintip dari balik jari tengah dan telunjuk di anak tangga menghela napas. Kalau sudah begini, pasti urusan di kantor besok­besok akan tambah rumit. Kalau sudah begini, siapa pula yang sedang berusaha memenangkan hati pemilik perusahaan dengan konser musik? Aku beranjak naik ke lantai atas, kembali ke kamar.

”Papa sudah makan?”

”Belum sempat. Tepatnya tidak kepikiran. Mama sudah?”

”Belum. Hanya Ra yang sudah. Dia pura­pura mau pingsan bahkan sejak pukul tujuh. Anak itu semakin susah disuruh makan malam bersama.”

Suara bergurau Mama terdengar lamat­lamat, juga tawa Papa yang lelah. Aku pelan mendorong pintu kamarku. Aku menatap kamarku yang gelap, menyisakan selarik cahaya dari lampu jalanan. Hujan deras terus turun di luar. Si Putih tidur me­ringkuk di pojokan kasur. Jam dinding berbunyi pelan detik demi detik. Aku menghela napas, melangkah ke ranjang sambil menatap cermin besar di meja belajar.

Eh? Bukankah itu...? Aku hampir berseru kaget. Remang cahaya lebih dari cukup untuk melihat pantulan cermin, dan lihatlah, ada si 

Hitam di cermin, tidur di dekat si Putih. Aku refleks menoleh ke atas ranjang. Tidak ada. Refleks kembali menoleh ke cermin. Tidak ada.

Aku menelan ludah, melangkah lebih dekat ke cermin besar persis di samping ranjangku, memasti­kan. Aku tidak mungkin salah lihat, aku tadi melihatnya di da­lam cermin, si Hitam tidur di sebelah si Putih. Ini benar­benar ganjil.

Aku menatap lamat­lamat cermin besar, yang sekarang hanya memantulkan apa yang ada di kamar. Hanya ada si Putih dan aku—yang merapikan rambut panjangku, sambil menatap sekitar dengan bingung.

Ini bukan hari terbaikku. Tadi pagi aku dihukum Miss Ke­riting, menunggu di lorong kelas selama pelajarannya, bertengkar de­ngan Ali. Siangnya, pulang sekolah, kucingku hilang satu. Malam ini, baru saja aku tahu Papa punya masalah di kantor, ditambah pula aku jadi susah tidur.

Aku sudah berbaring, menutup tubuh dengan selimut, me­meluk guling, tapi aku hanya menatap cermin di kamar. Aku mematut­matut, meletakkan tangan di wajah, menghilang, lantas meng­intip dari sela jari, menatap cermin besar itu, berharap melihat se­suatu. Tidak ada si Hitam di sana.

Suara hujan deras me­menuhi langit­langit kamar. Kelebat petir terlihat dari balik tirai jendela. Guntur menggelegar. Ca­haya remang kamarku terlihat memantul di cermin besar. Temaram. Tidak ada apa pun di sana.

Aku menghela napas kecewa. Aku yakin sekali tadi melihat si Hitam di dalam cermin.

Hingga satu jam berikutnya, tetap tidak ada apa pun dan siapa pun di cermin besar itu.

Aku kelelahan, dan jatuh tertidur.

***

Pagi sekali, jam beker alami rumah kami, Mama, sudah ber­teriak­ teriak membangunkan. ”Ra, bangun! Papa harus berangkat pagi, ayo bangun!” 

Aku menguap, menyingkap selimut. Si Putih masih malas meringkuk di ujung kakiku. Teringat percakapan orangtuaku tadi malam, aku bergegas loncat dari ranjang. Aku harus mem­bantu Papa, setidaknya dengan tidak merepotkan membuatnya menungguku. Aku mandi dengan cepat, berganti seragam, me­nyiapkan tas sekolah, memastikan buku PR matematika itu ku­bawa. Lantas bergabung turun.

”Pagi, Ra,” Papa menyapaku. Papa sedang sarapan—tidak me­nyentuh koran pagi.

”Pagi, Pa.” Aku langsung menyeret kursi. ”Kamu mau sarapan apa, Ra?”

”Nasi goreng saja, Ma.”

Mama menyendok nasi goreng dari atas wajan. ”Bagaimana sekolah kamu kemarin?” Papa bertanya. ”Seperti biasa, Pa.”

Papa mengangguk, tidak bertanya lagi. Aku bergegas meng­habiskan sarapanku. Mama sibuk membereskan peralatan masak kotor. Sarapan cepat, sepuluh menit aku sudah melangkah di belakang Papa menuju garasi. Kucium tangan Mama, dan tiga puluh detik kemudian, mobil yang dikemudikan Papa meluncur ke jalan raya.

Sepanjang perjalanan Papa lebih sering me­nelepon dan di­telepon. Aku bisa mendengar percakapan Papa karena ponsel Papa disetel menggunakan pengeras suara. Tentang buruh di ru­mah sakit, apakah keluarga mereka sudah datang, Papa ber­tanya memastikan. Juga tentang mesin pencacah raksasa, tadi malam teknisi bule itu pulang jam berapa. Papa mengangguk mendengar jawabannya.

Aku menatap ke luar jendela, tidak terlalu tertarik menguping pembicaraan.

Pagi ini cerah, wajah­wajah sibuk menyambut pagi disiram cahaya lembut matahari. Langit terlihat bersih, hanya sisa air hujan di ujung atap rumah, halte, pepohon­an, juga genangan kecil di jalan. 

”Bagaimana mesin cuci Mama? Oke, bukan?” ”Eh?” Aku menoleh ke depan.

”Kamu kemarin jadi menemani Mama ke toko elektronik?” Papa bertanya, tersenyum.

”Oh, jadi, Pa. Tapi Mama cuma beli model dan merek yang sama persis dengan yang lama kok. Kata Mama biar sama awetnya, lima tahun.” Aku nyengir lebar.

Papa mengangguk. ”Kamu hari ini pulang sore?”

Aku menggeleng. ”Tidak ada les, Pa. Pertemuan Klub Menulis juga ditiadakan.”

Mobil hampir tiba di sekolah. Dengan kesibukan baru Papa, hanya itu percakapan kami. Tidak sempat ada momen Papa mem­berikan petuah saktinya—meskipun kadang tidak nyam­bung. Aku bersiap­siap menyandang tas di punggung. Mobil merapat ke gerbang sekolah. Aku memajukan kepala, mendekat ke Papa. ”Semangat ya, Pa!”

”Eh?” Papa menoleh, tidak mengerti. ”Semangat buat apa?” ”Pokoknya semangat aja!” Aku tertawa. ”Semangat ya, Pa!”

Papa diam sejenak, menyelidik, akhirnya mengangguk. ”Iya, kamu juga semangat ya!”

”Dadah, Papa!” Aku membuka pintu mobil, beranjak turun. ”Dadah, Ra!”

Mobil segera meninggalkan gerbang sekolah. Aku menatapnya hingga hilang di kelokan jalan.

Sejak aku sudah mengerti, aku tahu bahwa di keluarga kami juga ada peraturan tidak tertulis—di luar peraturan Mama yang se­tebal novel itu. Papa tidak akan pernah mem­bicara­kan masalah kantor kepadaku. Juga Mama, tidak akan pernah membicarakan masalah apa pun di luar sana kepadaku. Mereka berjanji tidak akan melibatkanku yang masih 

kecil (sekarang sudah remaja), membuatku ikut memikirkan, cemas, meng­ganggu jam belajarku. Biarkan Ra menikmati masa­masa terbaiknya, demikian penjelas­an Mama yang aku tahu dari meng­intip di balik sela jemari. Biarkan masalah­masalah itu hanya ada pada Mama dan Papa.

Aku berlari kecil melewati lapangan sekolah yang masih sepi.

Sepertinya aku orang pertama yang tiba di sekolah pagi ini.

Aku menaiki anak tangga, berjalan di lorong lantai dua, masuk ke kelas. Lengang. Aku menuju meja, meletakkan tas, melihat se­kitar yang kosong, dan melangkah ke lorong depan kelas. Se­pertinya aku lebih baik menunggu teman­teman di sini, sambil menatap lapangan sekolah. Mungkin asyik menatap bangunan sekolah yang lengang.

”Pagi, Ra.” Suara khas itu membuatku menoleh.

Itu bukan suara Seli. Itu suara Ali. Tapi sejak kapan si biang kerok ini ramah menegur orang lain? Biasanya dia tidak peduli, jalan seradak­ seruduk, mencari masalah. Sejak kapan pula dia datang sepagi ini? Bukankah biasanya dia nyaris terlambat?

”Kamu tidak menjawab salamku, Ra?” Ali menatapku sambil cengar­cengir, tidak membawa tas, menepuk­nepukkan tangannya untuk membersihkan debu. Sepertinya dia habis melakukan se­suatu, habis memasang sesuatu, entahlah.

”Kamu sudah datang dari tadi?” aku menyelidik.

”Setengah jam lalu. Gerbang sekolah malah masih dikunci.” Ali tertawa. ”Kamu belum menjawab salamku, Ra? Tidak sopan lho, disapa baik­baik tapi malah dijawab dengan pertanyaan.”

”Bodo amat,” jawabku, lalu kembali menatap lapangan. ”Bagaimana kabar kucingmu? Si Hitam sudah ketemu?”

Aku refleks menoleh, mematung sejenak, menatap Ali tidak mengerti. 

Si biang kerok itu tertawa, melambaikan tangan, melangkah masuk ke kelas.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊