menu

Bumi Bab 07

Mode Malam
Bab 07
LIMA belas menit kemudian, setelah mengunci pintu dan menutup gerbang pagar, Mama memboncengkan aku dengan Vespa, melaju di jalanan pukul tiga sore. Belum terlalu macet, cahaya matahari mulai terasa lembut, meski udara pengap kota tetap terasa. Mama gesit menyalip kendaraan lain kalau saja aku lebih riang, aku akan menceletuk, ”Salip lagi yang di depan, Ma! Lebih cepat!” dan tertawa. Mama akan balas tertawa. ”Tapi jangan bilang papamu kalau kita ngebut.”

Mama ke mana­mana lebih suka mengendarai motor, jago sejak kuliah. Menurut cerita versi Papa, bahkan dulu waktu kuliah Mama pernah ikut balapan motor, tapi aku memutuskan tidak percaya.

Setengah jam acara salip­menyalip, Vespa Mama sudah ter­parkir rapi di basement pusat perbelanjaan besar. Aku ber­usaha menyejajari langkah Mama yang kalau jalan juga selalu super­cepat menuju tangga eskalator. Tujuan pertama kami adalah toko elektronik.

Aku sering ke toko ini, menemani Mama, tapi belum pernah ke bagian mesin cuci. Terhampar di bagian tersendiri, berpuluh­puluh model mesin cuci berjejer. Aku menatap terpesona seluruh mesin cuci itu sambil berpikir, ternyata tidak berbeda dengan ponsel, banyak model, banyak fitur, banyak spesifikasi, dan jelas banyak mereknya.

”Tergantung kebutuhannya, Bu,” petugas sales toko elektronik sudah melesat menyambut kami, tersenyum dua senti sesuai SOP, memulai strategi menjualnya. ”Kalau Ibu butuh mesin cuci yang bisa mencuci pakaian sekotor apa pun, kinerjanya kinclong, Ibu pilih saja yang front loading. Kapasitasnya besar, listriknya lebih hemat, dan efisien tempat. Meskipun kekurangannya, mesinnya lebih bergetar, suaranya lebih berisik, agak beraroma karena sering menyisakan air di dalam, dan lebih mahal.”

Aku tertawa dalam hati, melihat gaya petugas sales itu. Aku membayangkan Ali dalam versi lebih dewasa, sok tahu sedang 

menjelaskan teori menghilang, eh mesin cuci. Seli salah, apanya yang cute, Ali itu lebih mirip petugas sales ini, malah lebih rapi petugas sales­ nya.

”Atau kalau Ibu hanya mencuci pakaian yang tidak terlalu kotor, bujet terbatas, dan tidak punya masalah dengan tempat di rumah, pilih saja yang top loading. Kinerja mencucinya tidak sebaik front loading, tapi siapa pula yang hendak mencuci se­ragam penuh lumpur? Anak Ibu tidak suka pulang kotor­kotor, kan?” Petugas sales tertawa, menunjukku. ”Atau Ibu mau men­coba jenis mesin cuci terbaru kami, hybrid dua model yang saya jelaskan sebelumnya, high efficiency top loading? Ini paling mutakhir, meski paling mahal.” Sedetik tertawa dengan gurauan­nya, petugas sales sudah kembali lagi dengan jualannya.

Lima belas menit mendengarkan cuap­cuap petugas sales, Mama menunjuk pilihannya. Model mesin cuci yang sama persis dengan punya kami yang rusak di rumah.

Aku bingung menatap Mama.

”Setidaknya Mama tahu, yang ini bisa awet hingga lima tahun ke depan, Ra. Tidak perlu yang aneh­aneh,” Mama berbisik, menjelaskan alasannya.

”Terus kenapa Mama tadi sok mendengarkan penjelasan petugas sales kalau memang akan memilih yang ini?” balasku, juga dengan berbisik.

”Yah, setidaknya Mama jadi tahu model terbaru mesin cuci, kan?

Lagi pula, kasihan petugas sales­nya kalau dicuekin.”

Aku menepuk dahi, akhirnya tidak kuat menahan tawa. Betul, kan. Jalan­jalan bersama Mama selalu menyenangkan. Petugas sales yang sedang mengepak mesin cuci yang kami beli menoleh, tidak mengerti kenapa aku tiba­tiba tertawa, berbisik­bisik.

Setelah memastikan mesin cuci itu akan diantar sore ini juga ke rumah, paling telat tiba nanti malam, kami meninggalkan toko elektronik, pindah ke supermarket. Mama belanja keperluan bulanan. ”Kamu tidak 

mau ke toko buku?” Mama bertanya, men­dorong troli masuk ke lorong detergen dan teman­teman­nya.

”Buku yang kemarin­kemarin saja belum Ra baca. Lagian banyak PR dari guru, Ma. Nggak sempet baca novel.” Aku meng­geleng.

”Nah, lalu jatah uang bulanan buat beli bukumu kamu pakai buat apa?” Mama menunjuk dompetnya di saku. ”Buat nambahin beli keperluan Mama saja ya.” Mama mengedipkan mata.

”Nggak boleh. Curang,” aku buru­buru berseru, memotong. ”Sebentar, Ra punya ide lebih baik.”

Aku bergegas meninggalkan Mama, pindah ke lorong lain di supermarket. Aku kembali lima menit kemudian, saat Mama sudah mendorong troli di lorong minyak goreng dan teman­temannya. Aku ter­senyum, meletakkan satu kotak es krim batangan ke dalam troli. ”Ide bagus, kan?”

Mama menghela napas, tidak ber­komentar. Itu pula enaknya pergi bersama Mama, aku bebas belanja apa saja sepanjang itu memang jatahku.

Persis jam tangan menunjukkan pukul lima sore, aku dan Mama membawa kantong plastik belanjaan ke parkiran motor. Jalanan semakin padat, suara klakson dan asap knalpot ber­gabung dengan kesibukan orang pulang kantor dan aktivitas lainnya. Setelah hujan sepanjang pagi tadi, langit sore ini terlihat bersih, awan tipis tampak jingga oleh matahari senja. Mama gesit mengemudikan Vespa­nya, menaklukkan kemacetan. Satu tanganku memegangi belanjaan, satu tangan lagi berpegangan. Rambut panjangku berkibar keluar dari helm.

”Jangan bilang­bilang Papa kita ngebut, ya,” Mama berseru. Aku tertawa, tidak menimpali.

***

Tiba di rumah, tetap hanya si Putih yang berlari­lari me­nyambut­ku. Aku menelan ludah, hendak menggendong kucingku— namun urung, takut Mama mengomel. Aku membantu meletak­kan 

belanjaan di dapur, beres­beres sebentar, lantas buru­buru menyingkir sebelum Mama menyuruhku membantu memasak. ”Ra ke kamar ya, Ma, ada PR.” Aku meraih kotak es krim ba­tang­anku, dan sebelum Mama berkomentar, aku sudah menuju ruang tengah, diikuti si Putih.

Setelah lima belas menit mengerjakan PR matematika dari Miss Keriting, aku berpendapat bahwa yang menyusun jadwal pe­lajaran kelas X­9 pasti genius seperti Ali. Bayangkan, dua hari berturut­turut pelajaran pertamanya adalah matematika—mood­ku menyelesaikan PR langsung menguap. Mataku me­mang me­natap angka­angka di atas kertas, tetapi kepalaku me­mikirkan hal lain.

”Kira­kira si Hitam ke mana ya, Put?” Aku beranjak meraih si Putih yang melingkar anggun di ujung kaki, menemaniku me­ngerjakan PR.

Si Putih hanya mengeong. Mata bundarnya mengerjap ber­cahaya. ”Atau  jangan­jangan  tadi  dia  menemukan  kucing  betina ya, Put?

Jatuh cinta? Jadi minggat?” Aku nyengir dengan ide yang melintas jail itu.

Si Putih tetap mengeong seperti biasa, manja minta dielus dahinya. Aku tertawa sendiri. Itu ide buruk. Sepertinya aku harus membaca buku tentang kucing lagi, supaya tahu kenapa kucing minggat dari rumah. Iya kalau cuma minggat? Kalau kenapa­napa? Aku menelan ludah, buru­ buru mengusir jauh­jauh kemungkinan buruk itu. Atau jangan­jangan Mama benar? Memang hanya ada satu kucing di rumah ini sejak dulu. Si Hitam hanya imajinasiku. Teman ”lain”. Aku menelan ludah lagi, buru­ buru mengusir penjelasan itu.

Aku tahu persis ada dua kucing di rumah ini. Aku menamai yang satu si Hitam dan satunya lagi si Putih karena meski nyaris ter­lihat sama, dua kucing itu berbeda. Warna bulu yang me­ngelilingi bola mata mereka berbeda. Si Hitam seperti mengena­kan kacamata hitam tipis, dan si Putih sebaliknya.

Hingga Mama meneriakiku agar segera mandi, bergegas turun makan malam, aku lebih sibuk memikirkan kucing­kucing itu dibanding PR matematika. Sempat untuk kesekian kali aku berusaha mencari si Hitam, berkeliling rumah dengan kedua telapak tangan menutupi wajah, agar Mama tidak melihatku. Si Hitam tidak ada di mana­mana, di 

halaman depan maupun bela­kang. Kucingku itu sepertinya betulan minggat. Aku sementara menyerah.

Sudah pukul tujuh malam, setengah jam lewat dari jadwal biasa­nya Papa pulang. Setelah mandi, membantu Mama menyiap­kan makan malam di meja, membantu Mama mengurus mesin cuci yang diantar toko elektronik, aku dan Mama duduk di ruang keluarga, menunggu Papa pulang.

”Papa kenapa belum pulang juga ya, Ma?” aku bertanya.

”Mungkin macet.” Mama memencet remote, mengganti saluran stasiun televisi.

”Kita makan duluan yuk, Ma.”

”Tunggu Papa, Ra,” Mama menjawab pendek.

”Tapi Ra lapar, Ma.” Aku nyengir—memasang wajah seperti tidak makan tiga hari.

Mama tertawa, melambaikan tangan. ”Bukannya kamu sudah menghabiskan tiga batang es krim sore tadi? Dasar gembul.”

Aku memajukan bibir. Namanya lapar, ya tetap saja lapar.

Pukul delapan malam, Papa belum pulang juga. Gerimis turun membasuh rumah. Belum deras, tapi cukup mem­buat jendela terlihat basah, berembun.

”Tetap nggak diangkat, Ma,” aku berseru dari meja telepon. Baru saja, untuk yang keempat kali aku menelepon ponsel Papa.

Mama menghela napas.

”Kantor juga mulai kosong, sudah pada pulang.” Aku men­dekati sofa; aku juga barusan menelepon ke kantor. ”Kata sat­pam kantor yang menerima telepon, Papa dari tadi siang nggak ada di kantor. Ra makan duluan ya, lapar berat, hampir sem­poyongan jalannya nih.” 

Mama menatapku yang pura­pura melangkah gontai. ”Ya sudah, kamu makan duluan saja.”

”Terima kasih, Ma.” Aku tersenyum lebar, langsung sigap menuju meja makan.

Pukul sembilan malam, Papa belum pulang juga. Hujan turun semakin deras. Hari­hari ini musim hujan, cerah sejenak seperti sore tadi bukan berarti cuaca tidak akan berubah dalam hitung­an jam. Petir menyambar terlihat terang dari jendela dengan tirai tersingkap. Gelegar guntur mengikuti.

Aku bahkan sudah dua kali naik­turun kamar, ruang keluarga, mengerjakan PR matematika, mengecek Mama yang masih me­nunggu sambil menonton televisi. Urusan kucingku si Hitam se­dikit terlupakan— aku menghibur diri dengan meyakini si Hitam minggat ke rumah  tetangga, nanti­nanti juga pulang. ”Mungkin Papa tiba­tiba diajak pemilik perusahaan pergi ke luar negeri kali, Ma? Kayak enam bulan lalu.” Waktu itu, Papa malah baru pulang besok sorenya, mendadak diajak survei mesin pabrik yang baru. Tetapi setidaknya, waktu itu Papa menelepon, memberitahu, jadi tidak ada yang menunggunya.

Mama menoleh, terlihat mengantuk. ”Kamu tidur duluan saja, Ra.

Biar Mama yang menunggu Papa.”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, kasihan melihat Mama yang pasti keukeuh tidak akan tidur, tidak akan makan sebelum Papa pulang.

”Atau jangan­jangan Papa lagi berusaha memenangkan hati pemilik perusahaan, Ma? Eh, misalnya dengan bikin konser musik di rumahnya, ngasih hadiah kejutan, kali­kali saja pemilik perusahaan ulang tahun hari ini.”

Mama tertawa kecil. ”Kamu ada­ada saja. Sudah, kamu tidur duluan. Paling juga papamu pergi ke pabrik luar kota. Ponselnya ketinggalan di kantor. Lupa memberitahu.”

Pukul setengah sepuluh, setelah dipaksa Mama, aku akhirnya naik kembali ke kamar. Kucingku si Putih sudah malas­malasan meringkuk 

tidur di pojok ranjang. Hujan deras membungkus rumah kami. Aku mengintip dari sela tirai kamarku. Halaman basah, sejauh mata memandang hanya kerlip cahaya lampu di antara jutaan butir air. Aku menghela napas pelan, setidaknya Papa kan naik mobil, jadi kalau sekarang dalam perjalanan pulang tidak akan kehujanan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊