menu

Bulan Bab 27 (Tamat)

Mode Malam
Bab 27 (Tamat)
CAHAYA matahari pagi lembut menyiram perdu padang berduri. Tidak ada lagi lebah-lebah terbang di sana. Itulah pengorbanan besar Hana-tara-hata. Tapi masih ada lagi pengorbanan yang lebih besar.

Av akhirnya siuman. Dia bangkit duduk, meraih tongkatnya, kemudian berjalan. Pertama-tama dia mengobati Seli dengan sentuhan hangat tangannya. Seli siuman, menatap sekitar, tidak mengerti.

Aku sudah mampu berdiri, melangkah mendekati Av yang sekarang mengobati Miss Selena. Guru matematika kami memiliki daya tahan mengagumkan. Meski badannya remuk tersambar petir biru dua kali, dia tetap bertahan. Juga Ali, yang mengenaskan di balik selembar kain, masih bisa diobati Av. Hana meminjamkan pakaian peternak kepadanya. Kami terdiam lama sekali saat Av berusaha mengobati Ily.

Seli menangis terisak, juga Ali—yang selama ini tidak pernah peduli dengan apa pun. Aku menunduk, mencengkeram rumput, tidak percaya dengan yang kulihat. Ily meninggal. Pukulan petir biru terakhir yang dikirim Fala-taratana IV tidak sanggup ditahan olehnya.

Av terlihat terguncang, gemetar memeluk tubuh dingin Ily, berseru lirih memanggil cucu cucunya itu. Tapi Ily sudah pergi selama-lamanya. Sehebat apa pun kekuatan pengobatan Av, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Halaman rumah Hana lengang, menyisakan tangis Seli.

Ily menemani kami sembilan hari terakhir. Dia selalu menyemangati kami, selalu membantu. Banyak sekali pengorbanan yang dilakukan Ily untuk kami, termasuk saat di lorong tikus.

”Apa yang akan kami sampaikan kepada Ilo, Vey, dan Ou jika mereka bertanya?” tanyaku bergetar. Mereka pasti akan sedih sekali mendengar kabar kematian putra sulung mereka. Nama keluarga mereka indah sekali. Jika digabungkan, itu berarti I Love You, dan ILY menjadi inisial ketiganya.

Perpustakaan Sentral di Klan Bulan menyimpan catatan seluruh klan. Ada ratusan ribu bahasa. Av, pustakawan, penjaga, yang menguasai hal tersebut, mengetahui banyak cabang bahasa. Salah satunya, dia mengetahui kata I Love You sangat indah di Klan Bumi, hingga memberikan nama-nama tersebut untuk anak-anak dan cucu-cucunya.

”Aku yang akan menjelaskan soal ini, Ra,” Av berkata dengan suara serak.

Hana, yang juga pernah kehilangan anak tunggalnya, terdiam, berdiri menunduk, menyeka ujung matanya. Dia bergumam sedih, ”Satu lagi anak muda yang baik hati, tulus, dan setia kawan pergi lebih cepat.”

Mala-tara-tana II sudah pulih, beserta dua anggota Konsil yang berada di pihaknya. Beberapa jam kemudian, delapan kapsul terbang mendarat di peternakan lebah milik Hana. Ratusan anggota Pasukan Cahaya datang atas perintah Mala-tara-tana II. Empat anggota Konsil yang memihak Fala-tara-tana IV ditangkap atas tuduhan kejahatan serius. Ada banyak korban pertempuran pagi itu yang meninggal: dua kontingen penunggang salamander, termasuk kaptennya, satu anggota Konsil di pihak Malatara-tana II, dan tiga anggota Konsil yang memihak Falatara-tana IV.

”Ada banyak yang harus dilakukan di Kota Ilios, Av. Konsil Klan Matahari akan berubah banyak, termasuk kebijakan kami terhadap penduduk di perkampungan pedalaman. Kami akan memperbaikinya. Aku harus segera kembali, sekaligus memberikan upacara penghormatan kepada yang pergi selama-lamanya,” Mala-tara-tana II berkata prihatin.

Av mengangguk. ”Pagi ini dengan disaksikan banyak orang, aku meresmikan persekutuan sederajat yang saling menghormati dengan Klan Bulan. Aku akan membuka kembali portal antarklan secara terbatas, dan kita bisa belajar satu sama lain, termasuk menghadapi musuh bersama-sama. Kita sahabat lama sejak dua ribu tahun lalu.” Mala-tara-tana II menjabat tangan Av.

Dua kawan korespondensi itu tersenyum. Kapsul-kapsul terbang kembali ke Kota Ilios. Av membimbing Seli untuk bangkit berdiri.

”Kita akan menuju Klan Bulan sekarang, Seli, membawa Ily kembali ke Kota Tishri.”

Seli mengangguk, menyeka pipinya.

”Jika kamu sempat, mampirlah di peternakanku, Ra.” Hana memelukku.

Aku mengangguk. ”Maafkan kami yang telah membuat lebah-lebahmu hilang.”

Hana tersenyum. ”Jangan cemaskan itu, Nak. Masih banyak lebah-lebah lain di dunia ini. Mereka akan datang ke padang perdu ini, berkembang biak dengan cepat. Enam tahun lagi, di padang perdu ini akan terbang jutaan lebah baru, dan mereka bersinar dalam gelap, bekerlap-kerlip indah. Kamu bisa melihatnya suatu saat nanti. Selamat jalan, Nak.”

”Selamat tinggal, Hana.” Aku membalas pelukan Hana. ”Keluarkan buku PR matematikamu, Ra,” Miss Selena

menyuruhku. Aku mengambil buku tua berwarna kecokelatan itu dari ransel, mengangkatnya. Kami siap berangkat.

Buku cokelat dengan bulan sabit di sampulnya terlihat mengeluarkan cahaya indah. Seperti ada bulan purnama dalam genggamanku, menimpa wajah-wajah di halaman rumah Hana. Belum genap cahaya itu menimpa wajahwajah kami, buku itu seakan bicara padaku, merambat lewat telapak tanganku. Aku bisa mendengarnya. Ia bertanya lembut, ”Kali ini, wahai Putri Raib, kamu hendak ke mana?”

Aku menjawabnya dengan suara bergetar, ”Kota Tishri, rumah Ilo, Klan Bulan.”

”Perintah dilaksanakan, Putri.”

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊