menu

Bulan Bab 26

Mode Malam
Bab 26
TAPI aku melupakan nasihat itu. Kalimat Hana saat kami tiba pertama kali di peternakan lebahnya.

Kamu tidak membutuhkan kekuatan besar, atau senjatasenjata terbaik untuk menemukan bunga matahari pertama mekar. Kamu cukup memiliki keberanian, kehormatan, ketulusan, dan yang paling penting, mendengarkan alam liar tersebut. Dengarkanlah mereka. Hewan-hewan berlari di atas tanah. Burung-burung terbang. Suara dedaunan. Kelepak dahan-dahan. Dengarkanlah mereka, maka mereka akan menuntunmu dengan baik.

Masih ada kekuatan terakhir yang bisa mencegah Falatara-tana IV membebaskan si Tanpa Mahkota, kekuatan alam.

Lihatlah, Hana berdiri di beranda rumahnya. Tangannya terangkat mengepal. Matanya berkaca-kaca, seperti bersiap mengorbankan hal paling berharga miliknya. Tepat saat tangan Hana terbuka, jutaan lebah di atas padang perdu berduri tiba-tiba bergerak berkumpul. Hana bicara kepada lebah-lebahnya, memerintahkan mereka menyerang Falatara-tana IV.

Lebah itu mendengung kencang, berpilin seperti angin puting beliung. Itu bukan lebah biasa. Itu lebah berukuran sekepalan tangan, dan mereka masih mengeluarkan cahaya—dalam kekuatan penuh.

Fala-tara-tana IV mendongak. Wajahnya terkejut, menatap kerumunan lebah yang bergerak bagai badai. Sebelum Fala-tara-tana IV menyadarinya, jutaan lebah itu sudah terbang menyerbu. Fala-tara-tana IV berusaha melepas petir biru. Lebah-lebah meliuk lebih cepat daripada gerakan tangannya. Sekejap, mereka sudah membungkus tubuh Fala-tara-tana IV, mengangkat tubuhnya terbang. Seluruh tubuh Fala-tara-tana IV dikerumuni lebah. Hanya tangannya yang memegang bunga matahari teracung ke depan, seperti disengaja oleh lebah-lebah itu.

”Ambil bunganya!” Hana berseru kepada Ily—satusatunya yang masih bisa berdiri.

Seakan mengerti apa yang sedang direncanakan Hana, Ily berlari dengan sisa tenaga, merebut bunga dari tangan Falatara-tana IV. Berhasil! Bunga itu berhasil diambil. Fala-taratana IV tidak bisa bergerak. Dia dijepit jutaan lebah.

”Tutup portalnya, Nak!” Hana berseru sekali lagi sambil menunjuk portal berbentuk lingkaran. Ily mengangguk, mengangkat bunga matahari itu tinggitinggi, berseru, ”Aku menginginkan pintu itu ditutup dan tidak pernah bisa dibuka selama-lamanya!”

Fala-tara-tana IV, yang tahu apa yang sedang dilakukan Ily, meraung marah dari dalam kerumunan jutaan lebah. Tangannya yang masih terjulur keluar mengirim pukulan maut, petir biru, menghantam tubuh Ily.

Tubuh Ily terbanting. Bunga itu terlepas dari tangannya. Tapi Fala-tara-tana IV terlambat. Permintaan itu sudah diucapkan. Bunga matahari pertama mekar yang kupetik mematuhi siapa pun yang memegangnya. Pintu portal mulai mengecil. Fala-tara-tana IV berseru marah, hendak memukul lagi, tapi lebah-lebah sudah menyelimuti tangannya. Tubuhnya sempurna hilang dalam kerumunan lebah.

Lebah itu kemudian terbang membawa Fala-tara-tana IV menuju portal, melintasi lorong itu persis sebelum tertutup.

Hening. Halaman rumah Hana lengang seketika saat jutaan lebah menghilang dari balik portal, membawa Falatara-tana IV ke penjara Bayangan di Bawah Bayangan.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊