menu

Bulan Bab 25

Mode Malam
Bab 25
TUBUHKU menghilang, kemudian muncul di depan Miss Selena. Aku berdiri kokoh, membentuk tameng tidak terlihat, mengerahkan seluruh konsentrasiku.

Suara berdentum terdengar kencang. Kakiku melesak sepuluh senti ke dalam tanah, tapi tamengku tidak hancur, tetap kokoh, melindungiku dari petir biru. Fala-tara-tana IV berseru marah. Dia tidak pernah menduga ada yang menghalanginya, dan lebih marah lagi saat tahu petir birunya bisa ditahan. Tubuhku menghilang lagi, kemudian muncul di dapan Fala-tara-tana IV, tanganku teracung ke depan. Dentum kencang terdengar, guguran salju memenuhi udara. Tubuh Ketua Konsil terbanting tiga langkah.

Aku sudah berlari ke arah Miss Selena, memastikan apakah dia baik-baik saja.

”Itu hebat sekali, Ra!” Miss Selena bicara dengan napas tersengal, tersenyum, meski lebih mirip meringis. ”Kamu semakin kuat. Bahkan lebih kuat daripada petarung Klan Bulan mana pun.”

”Miss Selena baik-baik saja?” ”Jangan cemaskan aku, Ra.”

Aku tidak sempat memeriksa kondisi Miss Selena. Di belakangku, Fala-tara-tana IV kembali bangkit. Dia tidak luka sedikit pun. Dia terbanting hanya karena terkejut— tidak menyangka aku akan muncul di hadapannya, mengirim pukulan.

”Ini menarik sekali!” Fala-tara-tana IV berseru. Suaranya terdengar seperti bergema. ”Kau bisa menahan petirku, rakyat Klan Bulan. Tapi mari kita lihat, apakah kau bisa menahan kendali jarak jauhku.”

Aku tahu apa yang akan dilakukan Fala-tara-tana IV, tapi Ketua Konsil itu cepat sekali. Tangan kanannya terangkat sebelum aku sempat menghilang. Tubuhku sudah seperti dikunci jarak jauh, tidak bisa digerakkan. Itu sama seperti Seli yang suka menjaili Ali dari jauh, mengait kaki Ali. Bedanya, kekuatan Fala-tara-tana IV tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan Seli, dia bisa mengendalikan seluruh badanku.

”Kau akan memetik bunga itu untukku!” Fala-tara-tana IV membentak.

Tubuhku terangkat ke udara.

”Ra!” Miss Selena berseru tertahan melihatnya.

Tubuhku terseret, dibawa menuju bunga matahari di pojok halaman rumah Hana. Plop! Tubuh Miss Selena menghilang, kemudian muncul di hadapan Fala-tara-tana IV. Hanya saja, Ketua Konsil telah mempelajari pola serangan itu. Dia justru menunggu kemunculan Miss Selena. Persis saat guru matematikaku itu muncul, sebelum Miss Selena sempat memukul, tangan kiri Fala-tara-tana IV lebih dulu mengirim petir biru, menghantam telak tubuh Miss Selena.

Aku berteriak kencang, tapi suaraku tidak keluar. Kendali jarak jauh Fala-tara-tana IV sangat kuat mengunci mulutku. Tubuh Miss Selena terbanting ke rerumputan, dan untuk beberapa detik berikutnya tidak bergerak sama sekali.

Bangun, Miss Selena, bangun! aku berteriak dalam senyap.

Tubuh itu masih diam.

Ayolah, Miss Selena, bangun!

Situasi mulai berbalik. Di belakangku Ily, Ali, dan tiga penunggang salamander juga terjepit. Tanpa aku membantu mereka dengan tameng tidak terlihat, anggota Konsil leluasa menyerang. Mereka berhasil menjatuhkan dua penunggang salamander, sedangkan Ily sudah berkali-kali tersambar petir, dan Ali menjadi bulan-bulanan pukulan.

”Bukankah sudah kukatakan, kalian bukan tandinganku? Aku telah mengumpulkan empat ratus bunga matahari.” Fala-tara-tana IV tergelak melihat Miss Selena yang tetap meringkuk tidak berdaya. ”Dan hari ini, dengan bunga matahari terakhir, aku akan membuka pintu menuju kekuasaan besar itu, menjemput makhluk paling kuat di antara empat klan. Kami akan menjadi sekutu paling mematikan.”

Aku menatap Fala-tara-tana IV. Aku berusaha berontak, tapi tidak bisa.

”Kau mau bicara apa, Nak?” Fala-tara-tana IV menatapku sinis.

Aku berteriak—tapi tetap suaraku tidak keluar.

”Mari kita dengar, apa yang hendak kaukatakan.” Falatara-tana IV melepas kendali tubuh bagian atasku, membuatku bisa menggerakkan kepala—termasuk bicara.

”Makhluk itu tidak akan bersekutu dengan siapa pun!” aku berteriak. ”Si Tanpa Mahkota tidak akan peduli siapa dirimu. Dia tidak boleh dibiarkan keluar. Sekali dia berhasil keluar dari penjaranya, kau hanya akan menerima kemarahannya selama dua ribu tahun terakhir.”

”Oh ya?” Fala-tara-tana IV terkekeh. ”Apakah kau pernah bertemu dengannya? Aku rasa tidak pernah. Hanya aku yang pernah bertemu dengannya empat ratus tahun lalu. Apa hasil pertemuan itu? Dia menjanjikan kekuasaan kepadaku, memberikan dua klan kepadaku, Klan Matahari dan Klan Bumi. Sedangkan dia sendiri akan memimpin dua klan lainnya, Klan Bulan dan Klan Bintang.

”Itu seharusnya berjalan lancar, hingga anak si peternak lebah mengacaukan semuanya. Dia menghalangiku membebaskan makhluk itu, menyerangku. Juga tiga anggota kontingennya. Tiga kakakku, entah kenapa menjadi sangat sentimentil dan penakut, merusak kesepakatan. Hari ini, setelah empat ratus tahun berlalu, aku akan menemuinya kembali. Perjanjian kami harus diselesaikan. Kau akan memetik bunga itu untukku.”

Tubuhku diturunkan persis di depan bunga matahari, dalam posisi jongkok.

Aku berontak keras, berusaha konsentrasi memutus kendali jarak jauh, tapi sia-sia. Kami benar-benar terjepit sekarang. Ali dan Ily di belakangku telah kalah. Mereka terbanting, mengerang terluka. Tiga anggota Konsil yang memihak Fala-tara-tana IV berjaga-jaga, memastikan mereka tidak bangkit lagi. Semua teman terbaikku, guruku, Av, dan Mala-tara-tana II telah terkapar tidak berdaya di halaman rumah.

”Petik bunga itu untukku, wahai rakyat Klan Bulan.” Fala-tara-tana IV berseru sambil menjentikkan jarinya.

Sekuat apa pun aku menolaknya, tangan kananku bergerak sendiri, terjulur ke bunga matahari.

Aku tidak mau. Aku tidak mau memetiknya.

”Kau tidak bisa melawannya, Nak.” Fala-tara-tana IV menggeleng. ”Percuma dilawan, kau akan memetik bunga itu untukku.”

Tanganku semakin dekat dengan bunga itu. Aku memejamkan mata. Tidak ada lagi yang bisa menolongku.

***

Saat aku sudah kehabisan harapan, terdengar raungan keras dari belakang. Aku menoleh. Itu dari tempat Ali terkapar. Aku sepertinya tahu apa yang akan terjadi. Tubuh Ali dengan cepat membesar, setinggi rumah Hana. Tangan, kaki, dan seluruh tubuh Ali dipenuhi bulu tebal berwarna hitam. Ali berubah menjadi beruang, mekanisme pertahanan paling primitif yang dimiliki Klan Bumi, seperti ikan buntal yang berubah membesar dan berduri saat terdesak.

Beruang besar itu meraung, melompat ke arah Fala-taratana IV. Tangannya yang besar, dengan cakar tajam, memukul Fala-tara-tana IV yang sama sekali tidak menduga serangan itu. Tubuh Fala-tara-tana IV terpental jauh.

Tiga anggota Konsil yang memihak Fala-tara-tana IV bergegas membantu. Mereka menghadang beruang besar itu, mengirim petir. Beruang besar itu meraung saat tubuhnya terkena petir. Bulu tebalnya kebal petir, seperti gurita raksasa di Danau Teluk Jauh. Petir itu hanya membuatnya semakin marah. Ia mengibaskan tangannya. Satu anggota Konsil terpelanting.

Aku masih belum bisa bergerak. Kendali dari Fala-taratana IV masih mengunciku.

Beruang besar masih mengamuk. Dua anggota Konsil yang tersisa menatap jeri, melangkah mundur.

”Ini semakin menarik!” Fala-tara-tana IV sudah bangkit, kembali mengambang di udara. ”Aku tidak pernah tahu rakyat rendah Klan Bumi bisa berubah menjadi beruang. Kau sepertinya kebal petir, bukan? Mari kita berkelahi seperti orang Bumi kebanyakan, dengan tinju.”

Fala-tara-tana IV mengangkat kedua tangannya, menggeram. Tangan itu mulai diselimuti petir biru yang membentuk sarung tangan besar berbentuk bola petir.

”Kau akan suka ini.” Fala-tara-tana IV terkekeh, mendongak, menatap beruang besar di hadapannya, bersiap sambil memukul-mukulkan bola petir besar di kedua tangannya.

Tubuh Fala-tara-tana IV melesat ke depan, meninju.

Serangan pertama.

Beruang besar menyambut tinju itu dengan pukulan tangan. Suara berdentum terdengar. Beruang besar terbanting duduk. Tinju Fala-tara-tana IV jauh lebih kencang. Beruang itu tidak bisa menahannya. Sebelum beruang sempat bangkit, tinju berikutnya dari Fala-tara-tana IV datang, menghantam dadanya. Beruang besar itu terbanting berdebam ke tanah, meraung kesakitan.

”Bagaimana? Aku baru pemanasan.” Fala-tara-tana IV tertawa mengejek.

Beruang besar bangkit. Kali ini dia menyerang duluan. Tangan kanannya memukul, tapi Fala-tara-tana IV lincah menghindar. Beruang memukul lagi. Fala-tara-tana IV menghindar. Beruang meraung marah, memukul untuk ketiga kalinya. Fala-tara-tana IV tidak menghindar. Dia menyambutnya, balas memukulkan bola petirnya. Dua pukulan beradu di udara. Sekali lagi suara berdentum terdengar. Beruang itu lagi-lagi terbanting.

Aku menggigit bibir. Ketua Konsil Klan Matahari kuat sekali. Kekuatan beruang besar tidak ada apa-apanya. Bagaimana kami akan memenangi pertempuran ini? Aku mengeluh. Tubuhku masih terkunci duduk di depan bunga matahari.

”Kau sudah panas atau belum, hah?” Fala-tara-tana IV menatap beruang besar. ”Ini pertarungan menyenangkan. Aku suka gaya pertarungan Klan Bumi. Sayangnya waktuku terbatas. Jadi, kita selesaikan sekarang juga perkelahian ini.”

Fala-tara-tana IV menyerbu ke depan, mengirim tinjunya, kiri-kanan, cepat sekali sebelum beruang siap menerimanya. Satu jab tangan kiri menghantam dada beruang, membuat kaki-kaki beruang goyah, satu hook tangan kanan menghantam keras ke dagu. Beruang itu seperti petinju yang terkena pukulan KO, langsung terkapar di halaman rumah Hana.

Aku sudah kehilangan teriakan. Mataku berkaca-kaca melihat beruang besar itu tumbang. Ali, teman baikku, yang selalu kupanggil si biang kerok, telah kalah. Tubuh beruangnya mengecil. Bulu-bulu hitamnya menghilang. Ali terkapar dengan wajah dan badan lebam biru. Ily merangkak, mengambil kain dari ransel, menutupi tubuh telanjang Ali.

Fala-tara-tana IV mengibaskan tangan. Sarung tangan berbentuk bola petir besar menghilang. Dia mengambang kembali mendekatiku.

”Masih ada yang keberatan?” tanya Fala-tara-tana IV. ”Baik. Sepertinya tidak ada lagi.” Fala-tara-tana IV menatap sekitar. ”Saatnya kita menyelesaikan urusan ini. Kau akan memetik bunga itu untukku.”

Fala-tara-tana IV menjentikkan tangannya. Tanganku yang tadi terhenti karena Ali berubah menjadi beruang kembali bergerak meraih tangkai bunga matahari.

Mudah sekali memetiknya. Sekejap, bunga matahari itu telah terlepas dari batangnya.

Fala-tara-tana IV mengambil bunga itu dari tanganku, mengangkatnya ke udara, berseru dengan wajah gembira. ”Aku menginginkan kekuasaan mahabesar! Buka kembali pintu yang pernah kubuka empat ratus tahun lalu.”

Persis setelah kalimat itu diucapkan, dari bunga matahari di tangan Fala-tara-tana IV keluar cahaya. Tiba di rerumputan, cahaya itu mulai membentuk portal berbentuk lingkaran, semakin lama semakin besar, berbentuk lubang setinggi manusia dewasa.

Fala-tara-tana IV tertawa melihatnya. ”Akhirnya! Hari ini! Sekutu terbesarku akan dibebaskan.”

Kami telah kalah. Fala-tara-tana IV telah berhasil membuka portal menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Tidak lama lagi dia akan berhasil membebaskan si Tanpa Mahkota—dan kemungkinan juga membebaskan Tamus, sosok tinggi kurus itu.

Kendali atas tubuhku hilang. Tubuhku terjatuh ke tanah. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku sudah tidak bisa bertarung. Kekuatanku habis, sama seperti Seli yang terbaring di beranda rumah, Av dan Miss Selena yang terbaring di dekat anak tangga, dan Ali yang meringkuk di pojok taman. Hanya Ily yang masih berdiri, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa pun.

Kami telah kalah. Dunia paralel dalam bahaya besar.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊