menu

Bulan Bab 24

Mode Malam
Bab 24
SANA-TARA-BATA III, kapten kontingen penunggang salamander, membungkuk. Dia bersiap memetik bunga matahari itu, bersiap mempersembahkannya kepada Falatara-tana IV, Ketua Konsil yang melangkah mendekat. Tujuh anggota Konsil lain berjalan di belakang Fala-taratana IV—ternyata tidak semua anggota Konsil ikut kapsul terbang.

”Tahan tanganmu yang hina dari bunga sakral itu, anak muda. Jangan coba-coba menyentuhnya,” Fala-tara-tana IV berseru. Suaranya berat.

Kapten kontingen penunggang salamander terlihat bingung, mendongak. Mereka yang menemukan bunga ini, maka seharusnya merekalah yang memetiknya. Kenapa mereka bahkan dilarang menyentuhnya?

”Aku benar-benar tidak menyangka kalian yang akan memenangi kompetisi ini.” Fala-tara-tana IV terlihat gusar. ”Aku pikir, saat turun dari kapsul terbang, aku akan menemukan kontingen Klan Bulan, dan semua rencanaku berjalan sempurna. Di mana mereka?”

Salah satu anggota Konsil maju, berbisik.

Fala-tara-tana IV menoleh, menatap kami menuruni lembah.

Hana pemilik peternakan juga keluar dari rumahnya, terlihat bingung menatap keramaian di depannya. Hana masih mengenakan pakaian tidur, dengan penutup kepala dari anyaman rotan. Dia jelas tidak menyangka bunga matahari pertama itu akan mekar di taman bunganya.

”Jangan coba-coba, anak muda!” Fala-tara-tana IV membentak, mencegah kapten penunggang salamander yang sekali lagi hendak memetik bunga itu.

”Tapi... tapi kami yang menemukannya,” kapten itu akhirnya berani bicara, protes.

”Tidak. Seharusnya yang menemukan pertama kali adalah mereka. Dan yang memetik bunga itu adalah gadis remaja itu. Bukan kalian yang sepanjang kompetisi menyerang tim lain.” Fala-tara-tana IV menunjukku yang semakin dekat.

Aku akhirnya tiba di halaman rumah Hana.

Fala-tara-tana IV menyambutku, tersenyum—meski senyum itu terlihat dingin. ”Ah, kalian akhirnya tiba, wahai rakyat Klan Bulan yang dibesarkan di Klan Bumi. Tepat waktu.” Aku mengangguk untuk ”akhirnya tiba”, dan menggeleng untuk ”tepat waktu”. Kami terlambat dibanding kontingen penunggang salamander.

”Selamat. Kalianlah yang memenangi kompetisi ini.”

Aku menatap Ketua Konsil, bingung. Bukankah yang pertama kali menemukan bunga matahari mekar adalah kontingen penunggang salamander? Semua orang tahu itu. ”Mereka didiskualifikasi karena menyerang peserta lain,”

Fala-tara-tana IV berseru tegas.

”Nah, wahai rakyat Klan Bulan yang dibesarkan di Bumi, aku memberikan kehormatan besar agar kau memetik bunga matahari itu.”

Dua orang langsung bereaksi keberatan atas keputusan itu. Yang pertama, Sana-tara-bata III. Dia berseru tidak terima, bahkan hendak lompat tidak sopan di depan Ketua Konsil, berseru protes. Tiga rekannya memegangi kaptennya.

”Jangan petik, Ra. Jangan lakukan,” yang kedua berseru panik adalah Hana. Ibu tua itu berlari menuruni anak tangga rumahnya. Suara Hana terdengar amat cemas, bergetar serak.

Aku menatap bingung. Kenapa aku tidak boleh memetiknya?

”Petik bunganya sekarang,” Fala-tara-tana IV memaksa. ”Kalian pemenang kompetisi ini. Kau kaptennya. Kau berhak memetiknya.”

Aku perlahan melangkah ke arah bunga. Lihatlah, bunga ini amat indah, mengeluarkan cahaya, berpendar-pendar. ”Jangan, Nak. Dengarkan alam bicara padamu. Jangan petik bunga itu. Aku sungguh berdoa sejak kalian meninggalkan peternakanku, agar kalian tidak menang,” Hana berseru, turun dari beranda rumahnya, berusaha menahan langkahku, tapi dua anggota Konsil segera menangkap Hana, menariknya mundur.

Saat aku masih menatap Hana, bingung atas kejadian ini, menatap Ali dan Ily yang ada di belakangku, bertanya apa yang harus kulakukan, saat itulah kapten kontingen penunggang salamander meloncat. Tangannya bergerak cepat, hendak memetik bunga itu.

Sebuah kilat terang menyambar. Gerakan tangan kapten kontingen penunggang salamander kalah cepat. Sekejap tubuhnya terjengkang, lantas terkapar tidak bernyawa.

”Berani-beraninya kau mencoba memetiknya! Kau tidak akan merusak rencanaku yang sudah disusun empat ratus tahun!” Fala-tara-tana IV berseru marah. Wajahnya merah padam dan tampilannya berubah seketika. Di sekeliling tubuhnya seperti muncul kilatan listrik mengerikan, sambar-menyambar.

Aku menelan ludah. Ily dan Ali melangkah mundur. Aku belum pernah melihat petir sehebat itu. Sekarang tampilan Fala-tara-tana IV berubah menjadi begitu menakutkan. Pakaiannya mengembang. Tubuhnya terus diselimuti petir. ”Petik bunganya sekarang, wahai rakyat Klan Bulan!” Fala-tara-tana IV berseru. Matanya berkilat merah menatap-

ku. Wajah tirusnya terlihat kejam. Aku menggeleng. Aku tidak mau patuh begitu saja. Aku belum mengerti sama sekali apa yang terjadi. Melihat kapten kontingen penunggang salamander terkapar tak bernyawa, itu bukan pertanda baik. Bagaimana kalau Ketua Konsil juga menyerangku?

”Baik, aku sudah tahu akan seperti ini akhirnya. Kalau kau tidak mau melakukannya dengan sukarela, aku akan menggunakan cara lain.” Fala-tara-tana IV menoleh. Tangannya teracung ke salah satu harimau kami. Sebelum aku menyadari apa yang sedang dilakukannya, tubuh Seli yang terbaring lemas di pelana terangkat, dikendalikan dari jarak jauh. Tubuh Seli dibawa terbang mendekat, terduduk di depan Ketua Konsil, lantas lehernya dicengkeram.

Aku berseru tertahan. Ali dan Ily melangkah maju, bersiap dengan senjata masing-masing.

”Petik bunga itu atau aku patahkan leher temanmu,” Fala-tara-tana IV mengancam.

”Jangan lakukan, Nak,” Hana berseru. Dua anggota Konsil masih menahannya. ”Dia akan membuka lorong itu. Lorong yang empat ratus tahun lalu menewaskan anak semata wayangku, Mata-hana-tara. Lorong dengan makhluk menyeramkan.”

”Siapa kau, orang tua? Lancang bicara di depan Ketua Konsil?” Fala-tara-tana IV menyergah Hana.

”Kau mungkin lupa padaku, Fala. Tapi aku akan selalu ingat padamu. Aku Hana-tara-hata, pemilik peternakan lebah ini. Akulah ibu dari Mata, peserta Festival Bunga Matahari empat ratus tahun lalu. Kontingennya berkompetisi dengan kontingenmu.

”Tidak ada orang yang tahu kejadian sesungguhnya saat itu. Tapi aku tahu, Fala, beratus tahun aku mencari tahu penjelasannya, demi anakku yang tidak pernah kembali. Lebah-lebah ini mengajariku bicara dengan alam, dan alam membuka rahasia besarnya. Ada dua kontingen yang berhasil tiba bersamaan di tempat bunga matahari itu mekar. Kontingenmu—yang terdiri atas empat bersaudara kandung—dan kontingen anakku. Mata, anakku, peserta yang sama sekali tidak memiliki ambisi, tidak memiliki keinginan menang, berhasil memetik bunga itu. Dia terlalu polos dan naif. Dia tidak pernah tahu bunga matahari itu memiliki kekuatan.

”Jika dipetik oleh orang yang penuh ambisi, bunga matahari itu memberikan kekuasaan, senjata. Jika dipetik oleh orang yang penuh rasa ingin tahu, bunga matahari memberikan pengetahuan, teknologi, dan ilmu baru. Itulah yang kalian lakukan selama empat ratus tahun terakhir. Konsil selalu datang ke lokasi bunga matahari mekar dengan kapsul terbang menemui peserta, lantas peserta memetiknya. Konsil mendapatkan apa yang dia inginkan. Kekuatan yang kaumiliki, teknologi yang dimiliki Kota Ilios datang dari bunga-bunga matahari itu. Itulah yang membuat kekuasaanmu langgeng. Kau tahu rahasia itu. Kau dengan leluasa memperalat peserta untuk menemukan bunga demi keuntunganmu. ”Empat ratus tahun lalu, Mata, anakku, tidak memiliki ambisi, tidak memiliki keinginan berkuasa memetik bunga itu. Saat seorang peserta dengan kebaikan seperti itu memetik bunga, hal menakjubkan terjadi, sangat menakjubkan. Bunga itu memberikan hadiah paling besarnya, paling megah. Ia tidak memberikan buku pengetahuan, kekuatan, atau senjata, melainkan membukakan pintu apa saja di dunia ini.

”Mata, anakku, memutuskan tidak menggunakannya. Dia tidak menginginkan apa pun. Tapi kau memiliki rencana lain, Fala. Kau mengambil bunga matahari itu dari tangan Mata, menyebutkan keinginanmu, kekuasaan mahabesar. Maka bunga matahari membuka pintu yang sangat mengerikan, menuju lorong tempat makhluk itu berada. Seharusnya kau tidak membuka pintu itu. Seharusnya kalian tidak memetik bunga matahari itu. Anakku bisa pulang ke peternakan ini dengan selamat. Semua bisa berakhir bahagia. Tapi kau justru menyebutkan permintaan tidak waras itu.

”Karena rasa ingin tahu yang besar, kalian masuk ke dalam lorong terbuka. Kalian bertemu makhluk itu, yang menawarkan kekuasaan besar sepanjang dia dibebaskan. Mata, anakku, menyadari kesalahan yang dia lakukan, juga teman-teman kontingennya. Tambahkan tiga saudaramu, mereka juga tahu telah melangkah terlalu jauh. Tapi kau tidak, gelap mata atas ambisi, kau malah ingin membebaskan makhluk itu. Pertempuran terjadi. Anakku dan teman kontingennya tewas di tangan makhluk itu. Tiga saudaramu mengorbankan diri, juga tewas, untuk menyegel pintu. Hanya kau yang selamat, berhasil kembali.

”Saat kembali ke Kota Ilios, kau mengubah cerita itu, Fala, mengarang cerita mengharukan seolah tiga saudaramu tewas karena membantumu menang. Rakyat Kota Ilios percaya, ikut menangis dan bangga, menjadikanmu idola baru, memberikan kekuasaan. Berpuluh tahun kemudian, saat kau mengudeta Ketua Konsil, rakyat tidak keberatan. Mereka selalu berpikir kau mengorbankan hidupmu demi kemakmuran mereka, sama seperti tiga saudaramu yang tewas demi adiknya. Tapi itu semua dusta. Kau memiliki ambisi itu.

”Empat ratus tahun berlalu, hari ini kau punya kesempatan terbaik. Raib, peserta kontingen kesepuluh, adalah peserta yang sama baiknya seperti anakku Mata. Dia tulus, setia kawan, berani, semua sifat baik itu keluar dari wajahnya. Gadis remaja itu juga punya sesuatu yang menakjubkan. Aku tidak tahu bagaimana dia juga bisa bicara dengan alam liar. Dia mempunyai kekuatan di luar dunia kita. Itu akan ideal sekali bagi rencanamu. Saat anak ini memetik bunganya, bunga matahari itu akan kembali memberikan hadiah terbaik yang belum pernah ada. Ambisi kekuasaanmu akan tercapai,” Hana berseru parau menjelaskan, meronta dari pegangan dua anggota Konsil lain.

”Jangan petik bunganya, Ra. Jangan,” Hana memohon. Fala-tara-tana IV terdiam, menatap ke seberang, lantas tertawa. ”Ah, aku ingat sekarang, ternyata kau adalah ibu peserta kontingen penunggang kuda empat ratus tahun lalu. Sayangnya, kaulah yang mengarang cerita. Jangan dengarkan orang tua gila itu. Petik bunganya sekarang, wahai rakyat Klan Bulan. Atau kau kehilangan sahabatmu.”

Apa yang harus kulakukan sekarang? Posisiku serbasalah. Lihatlah, Seli di depanku tercekik lehernya. Situasi Hana juga buruk, dia hanya peternak lebah, tidak akan bisa lolos dari pegangan anggota Konsil. Kalaupun aku menolak memetik bunga ini, kami juga tidak bisa melawan. Kami dalam kondisi lelah, dan kekuatan Ketua Konsil terlihat sangat menakutkan. Aku membutuhkan pertolongan. Tapi dari siapa? Aku mengeluh.

Saat aku mendesis lirih berharap pertolongan itu, pintu rumah Hana tiba-tiba berdebam terbuka. Orang-orang yang sangat kukenali melangkah keluar.

Aku berseru, ”Av! Miss Selena!”

Di belakang mereka juga melangkah Mala-tara-tana II dan tiga anggota Konsil lainnya. Aku berseru tidak percaya. Bagaimana mereka tahu kami ada di sini? Dan bagaimana caranya mereka tiba di sini? Tidak ada kapsul terbang lainnya.

”Hana-tara-hata tidak mengarang cerita itu. Ceritanya akurat sekali,” Mala-tara-tana II berseru, melangkah maju. ”Aku sudah lama sekali bosan dengan ambisimu, Fala. Aku pikir, selama ini kau hanya penasaran ingin tahu lagi, lagi, dan lagi tentang pengetahuan, kekuatan, senjata, dan sebagainya. Tapi ternyata kau punya rencana lain.” ”Kau bicara apa, Mala!” Ketua Konsil menyergah.

”Aku bicara kebenaran, Fala. Aku baru menyadarinya saat kawan lamaku dari Klan Bulan mengirimiku surat lewat lorong perapian, menjelaskan kejadian besar di klan mereka, meminta agar dua klan kembali bersekutu. Kau awalnya menolak kedatangan mereka, karena kau punya rencana sendiri, tidak akan pernah mau bersekutu dengan siapa pun. Hingga kau tahu ada anak-anak yang ikut melakukan diplomasi. Anak-anak yang tidak tahu-menahu tentang kompetisi ini, dan tidak memiliki keinginan menang. Itu cocok sekali dengan ambisimu. Kau mendadak setuju, bahkan mengusulkan agar anak-anak ini menjadi peserta.

”Aku awalnya mengira kau hanya akan mengumpulkan bunga matahari pertama mekar untuk melanggengkan kekuasaan, mencari pengetahuan, teknologi, dan kekuatan. Itu masih bisa diterima, masih masuk akal. Tapi aku keliru, kau ternyata berambisi membuka pintu yang pernah kaubuka empat ratus tahun lalu. Kau menginginkan kekuasaan mahabesar. Setiap tahun kau menunggu kesempatan bunga itu dipetik peserta dengan keinginan tulus. Empat ratus tahun sia-sia, hingga hari ini ada peserta dari Klan Bulan. ”Kau kaget melihatku muncul tiba-tiba di sini pagi ini, bukan? Bukan hanya kau yang bisa memberikan gelang untuk mengetahui posisi peserta pada pagi terakhir. Anak itu, dari Klan Bumi, jauh lebih genius dibanding siapa pun di sini. Sejak dari dunianya dia telah membuat alat yang sama, berupa benda yang tidak mencolok. Benda itu dia bawa sepanjang petualangan di ranselnya. Itu alat yang memonitor posisinya. Alat itu dia serahkan ke guru matematikanya untuk berjaga-jaga.”

Aku menoleh kepada Ali. Itu pasti gadget-gadget aneh yang selalu dia bawa, yang pernah aku olok-olok di perjalanan.

”Dari benda kecil itu, pagi ini, kami tahu mereka menuju ladang perdu Hana. Kau juga mungkin tidak tahu, aku sebelumnya berkali-kali mengunjungi peternakan madu Hana, lewat lorong perapian. Aku datang mendengarkan ceritanya tentang kejadian empat ratus tahun lalu sambil menyeduh madu terbaik, paling lezat, dan bergizi di seluruh Klan Matahari di ladangnya. Pagi ini saat aku tahu posisi terakhir tujuan mereka, aku mengajak tiga anggota Konsil lain, Av, dan guru anak-anak ini lewat lorong perapian.

”Lepaskan anak itu, Fala-tara-tana IV. Mari sudahi semua kegilaan yang telah kaulakukan empat ratus tahun ini,” Mala-tara-tana II berseru dengan suara bergetar.

Fala-tara-tana IV tertawa. ”Kau akan melawanku dengan apa, Mala? Dengan bantuan pustakawan Klan Bulan dan guru matematika anak-anak itu ? Aku bukan tandingan mereka. Aku sudah mengumpulkan empat ratus bunga matahari. Kekuatanku tiada tanding. Kau seharusnya cemas.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Fala-tara-tana IV menggeram kencang. Tubuhnya mulai mengambang. Petir yang menyelimuti tubuhnya bergemeretuk. Besar sekali kekuatan yang dimilikinya. Aku belum pernah melihat petarung Klan Matahari yang bisa terbang. Ketua Konsil bisa melakukannya dengan mudah.

”Kau mungkin benar, kami memang bukan tandinganmu, tapi setidaknya kami bisa mencegah rencana berbahayamu.” Mala-tara-tana II menatap tidak gentar, menoleh padaku. ”Jangan petik bunganya, Nak. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan kamu memetiknya.”

”Itu benar, Ra, jangan petik bunga itu,” Av ikut bicara, tersenyum padaku—dalam situasi yang genting dan menegangkan, Av selalu tenang. ”Aku tahu kamu sudah mengerti arah percakapaan ini, Ra. Ketua Konsil Klan Matahari akan membuka pintu menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan dengan bunga yang kamu petik. Dia ingin melanjutkan kejadian empat ratus tahun lalu. Makhluk mengerikan itu adalah si Tanpa Mahkota, leluhur Klan Bulan yang terperangkap ribuan tahun di sana. Kita tidak bisa membiarkan makhluk itu lolos.”

Saat aku masih mencerna kalimat Av, dan yang lain masih memperhatikannya, Av telah memberi kode kepada Miss Selena. Tidak ada lagi waktu untuk bicara, saatnya bergerak cepat, mengambil keuntungan dengan menyerang pertama kali.

Plop! Tubuh Miss Selena menghilang, kemudian, muncul di hadapan Fala-tara-tana IV. Cepat sekali tangan Miss Selena mengirim pukulan, terdengar suara berdentum. Salju berguguran di sekitar kami. Aku mengeluh melihatnya. Pukulan kencang Miss Selena sama sekali tidak menyakiti Fala-tara-tana IV. Tubuh sang Ketua Konsil hanya terbanting kecil, tetap berdiri. Tapi bukan itu tujuan Miss Selena. Saat Fala-tara-tana IV masih kaget dengan serangan mendadak itu, Miss Selena meraih tubuh Seli. Plop! Miss Selena dan Seli menghilang, kemudian muncul di beranda rumah Hana. Seli aman dari cengkeraman tangan Fala-tara-tana IV.

Av juga sudah melangkah cepat, bersama Mala-tara-tana II, dan tiga Konsil lain. Mereka menyerang dua anggota Konsil yang memegangi Hana, sambaran petir terang terlihat. Dua Konsil yang memihak Fala-tara-tana IV terbanting. Hana bebas. Dia berlari mundur ke beranda rumahnya, membantu Seli yang terbaring di sana.

Kejadian itu berlangsung cepat.

”Aku akan menghukum kalian semua!” Fala-tara-tana IV berteriak marah. Dia terbang menyerang Av, Mala-tara-tana II, dan tiga anggota Konsil lainnya.

Tangannya teracung ke depan, petir menyalak terang. Aku harus memejamkan mata karena silau. Av membuat tameng berupa dinding tak terlihat. Av bukan petarung. Kekuatannya berbeda sekali. Dia hanya mahir mengobati dan bertahan. Tameng itu meletup. Av terpental. Aku menjerit melihatnya. Aku harus membantu Av. Tanganku bersiap maju.

Lima anggota Konsil yang berpihak kepada Fala-taratana IV lebih dulu berdiri menghadang di depanku. ”Jangan sakiti anak itu! Cukup lumpuhkan saja! Aku membutuhkannya untuk memetik bunga itu,” Fala-tara-tana IV berseru dari jauh. Dia sedang menangkis sambaran petir Mala-tara-tana II dan pukulan Miss Selena. Pertempuran jarak dekat telah dimulai di halaman rumah Hana.

Melihatku dihadang lima lawan, Ali dan Ily melompat ke sampingku. Tiga lawan lima. Sama sekali tidak imbang, tapi coba saja kalau mereka berani. Aku mengangkat tanganku, seketika di sekitar kami gelap total. Aku telah menyerap cahaya. Dalam gelap, tanganku bergerak cepat memukul salah satu anggota Konsil. Tubuhnya terpental. Empat yang lain melepas petir dalam gelap, dengan mudah aku menghindarinya.

”Anak itu mengenakan Sarung Tangan Bulan!” Fala-taratana IV yang meladeni Mala-tara-tana II dan Miss Selena berseru jengkel. ”Kalian harus bergerak lebih cepat daripada dia.”

Salah satu anggota Konsil sepertinya berhasil melihatku dalam gelap. Dia melepaskan petir kencang, menghantam tubuhku. Aku terpental ke belakang. Tubuhku disetrum listrik ribuan volt. Aku meringis. Cahaya kembali keluar dari sarung tanganku, sekitar kami kembali terang. Saat itu juga, empat anggota Konsil kembali menyerang serempak. Sambaran petir memenuhi langit-langit halaman rumah Hana.

Ily maju menahan mereka, menghunus tombak perak, juga Ali, dengan pemukul kasti. Tapi mudah saja mereka melewati Ali dan Ily. Ali terbanting di sebelahku, sementara Ily terkena sambaran petir di dadanya, terpelanting ke pagar rumah. Kami sepertinya cepat sekali dilumpuhkan empat anggota Konsil. Aku mengerang, beranjak berdiri. Terlambat, gerakan anggota Konsil lebih cepat, dua petir siap menyambarku.

Saat aku sudah bersiap menerima rasa sakit menyengat dari sambaran petir itu, tiba-tiba di belakang kami, menyalak lebih dulu tiga petir terang.

Aku menoleh. Tiga anggota kontingen penunggang salamander memutuskan membantu kami. Mereka tidak bisa dianggap remeh. Mereka petarung terbaik masa depan Klan Matahari.

Ali juga ikut menoleh, bertanya-tanya kenapa peserta curang ini malah membantu kami.

”Ketua Konsil membunuh kapten kami!” salah satu dari mereka berseru parau. ”Musuh dari musuh kami adalah teman kami.” Dua rekannya mengangguk, masuk dalam arena pertempuran.

”Bagus sekali.” Ali bangkit dari duduknya, kembali semangat, meraih pemukul kasti.

Aku juga sudah memasang kuda-kuda. Sekarang enam lawan empat, kami punya kesempatan.

Di dekat kami, Fala-tara-tana IV masih menghadapi serbuan gencar Mala-tara-tana II, Miss Selena, dan tiga anggota Konsil yang mendukung kami. Av masih terbaring di dekat beranda. Dia sepertinya terluka serius. Satu lawan lima, Ketua Konsil Klan Matahari itu tetap terlalu kuat. Dia dengan cepat berhasil memukul jatuh tiga anggota Konsil, menyisakan Mala-tara-tana II dan Miss Selena yang terus bertahan.

Tubuh Fala-tara-tana IV bisa terbang di udara, bergerak cepat ke sana kemari. Tubuhnya masih dibungkus selimut petir yang membuat tameng listrik. Hantaman telapak tangannya mematikan. Aku bisa menyaksikan berkali-kali Miss Selena terbanting. Hanya karena memiliki daya tahan tubuh tangguh, Miss Selena bisa kembali bangkit.

Tetapi aku tidak sempat mengkhawatirkan keadaan Miss Selena atau Mala-tara-tana II. Empat anggota Konsil sudah menyerang kami. Mereka serempak melepaskan petir. Aku segera membuat tameng tidak terlihat untuk Ali, kemudian melesat maju, menghantamkan tinjuku ke salah satu anggota Konsil terdekat. Dentuman keras terdengar. Guguran salju turun di sekitarku. Anggota Konsil itu tidak sempat mengelak. Di belakangku, Ily menghantamkan tongkat peraknya. Tiga sekutu baru kami juga ikut mengirim petir.

Halaman rumah Hana semakin dipenuhi kilatan petir yang menyambar ke sana kemari.

Plop! Tubuhku hilang, kemudian muncul di depan Ali. Salah satu petir siap menyambar Ali. Aku membuat tameng tidak terlihat kesekian kali untuknya. Ali merunduk. Petir itu menghantam tameng. Ali melompat, muncul dari balik tameng, mengayunkan pemukul kasti ke pengirim petir. Telak! Anggota Konsil itu terbanting ke tanah. Meski hanya terbuat dari kayu, pemukul kasti Ali keras seperti logam. Tinggal tiga anggota Konsil yang berdiri.

Aku mengepalkan tanganku. Kami bisa melawan mereka.

Tubuhku hilang lagi, kemudian muncul di tempat tidak terduga. Aku tidak tahu, tapi gerakanku semakin cepat, pukulanku semakin keras. Bahkan saat itu aku tidak menyadari kekuatanku sudah tumbuh berkali-kali lipat dibanding saat di Klan Bulan. Tubuhku meliuk di antara sambaran petir, muncul lalu balas memukul. Guguran salju semakin banyak turun di halaman rumah Hana, membuat sebagian rumput ditutupi butir-butir kristal.

Tiga sekutu baru kami juga tidak bisa dianggap remeh. Terlepas dari ambisi mereka untuk menang sehingga membuat mereka menghalalkan segala cara, mereka tetap saja kontingen terkuat. Gerakan mereka gesit. Petir mereka terang benderang. Mereka kompak, bahu-membahu membantu menyerang atau bertahan. Tiga anggota Konsil yang menyerang kami mulai kewalahan.

Sayangnya, saat kami sudah merasa di atas angin, terdengar dentuman kencang di seberang kami. Aku menoleh, selarik cahaya biru baru saja keluar dari tangan Fala-taratana IV dan Miss Selena terkapar di tanah. Itu untuk pertama kalinya Fala-tara-tana IV mengeluarkan petir berwarna biru. Petir paling kuat di Klan Matahari. ”Kalian bukan tandinganku,” Fala-tara-tana IV berseru jemawa, menatap merendahkan ke arah Miss Selena dan Mala-tara-tana II yang juga terbaring di halaman rumput.

Miss Selena bangkit dengan wajah meringis menahan sakit, menyeka mulutnya yang berdarah.

”Aku tahu, kalian rakyat Klan Bulan punya daya tahan tubuh luar biasa.” Fala-tara-tana IV yang mengambang di udara menatap Miss Selena. ”Tapi, mari kita lihat apakah kau bisa sekali lagi menahan petir biruku.”

Fala-tara-tana IV mengangkat tangannya, bahkan sebelum kuda-kuda Miss Selena kokoh. Tangannya menghantam ke depan, selarik cahaya biru terang menyambar Miss Selena. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊