menu

Bulan Bab 23

Mode Malam
Bab 23
CAHAYA pagi menyambut saat kami muncul di permukaan tanah. Cukup lama kami berada di dalam loronglorong tikus itu, tanpa menyadari matahari telah tinggi.

Kami masih berlari beberapa kilometer dari lubang tikus, memastikan tidak ada tikus yang membuntuti, baru kemudian berhenti di sebuah oasis padang sabana. Air oasis terlihat jernih dan segar. Kolamnya besar. Ada banyak hewan-hewan lain yang sedang minum. Beberapa berlari menjauh saat melihat kami. Sebagian lagi tetap berada di sana saat tahu harimau salju yang kami tunggangi tidak berbahaya.

Kami mencuci muka di oasis, membersihkan badan. ”Aku tidak akan pernah melupakan bau lorong tikus itu,”

Ali mengeluh. ”Itu akan menghabisi selera makanku jika teringat.”

Aku dan Seli tertawa, tidak akan ada yang bisa lupa setelah dikejar-kejar puluhan tikus raksasa sebesar sapi. Ily mengisi penuh tabung-tabung air minum.

Ini sudah hampir pukul sembilan, kami harus sarapan. Perbekalan kami habis. Seli memegang lenganku, menunjuk. Tidak jauh dari kami, di tepi oasis itu berdiri pohon besar, dengan dahan-dahan lebar. Pohon itu sedang berbuah. Buahnya seperti mangga di kota kami, lebat.

Kami mendongak, yang langsung disambut seruan-seruan marah. Pohon itu dikuasai kawanan monyet berwarna merah, berekor panjang. Mereka menguasai penuh pohon itu, bertengger di setiap dahan, dan selalu melawan jika ada burung, reptil, atau hewan lain yang hendak mengambil buah. Monyet-monyet itu tidak suka kami melihat pohon mereka. Mereka berseru-seru, membuat ramai oasis.

”Astaga!” Ali berseru, menepuk dahi seperti tidak percaya apa yang dilihatnya. ”Bahkan monyet pun tidak ramah di klan ini. Hei, kami hanya meminta sedikit saja untuk sarapan. Sisanya masih banyak sekali, dan bisa kalian habiskan berminggu-minggu.”

Monyet itu semakin berseru-seru. Wajah mereka galak. Tapi mereka tidak berani turun. Mereka takut melihat empat harimau, juga hewan-hewan lain, di atas tanah yang sedang minum—yang juga sejak lama menginginkan buah itu.

”Kamu bisa menghantam salah satu dahan, Ra? Agar buahnya berguguran,” Ily bertanya.

Aku tentu bisa melakukannya. Itu tidak susah. Pohon ini juga tidak setinggi pohon kelapa. Tapi monyet-monyet itu akan ikut terkena pukulan. Aku tidak mau melukainya.

”Hei! Ayolah, berbagi beberapa buah itu untuk kami,” Ali berseru.

Kawanan monyet berteriak-teriak, mengusir kami. ”Monyet-monyet ini sepertinya tidak pernah diajarkan

definisi berbagi. Mereka seharusnya belajar dengan kurikulum baru, tematik. Dengan tema berbagi kepada sesama makhluk hidup,” Ali mengomel.

Aku dan Seli tertawa. Sejak kapan monyet sekolah? Lagi pula, kurikulum baru juga dibatalkan. Si genius ini sepertinya sedang lapar, sehingga kalimatnya jadi aneh begini.

”Baik. Baiklah, kalian yang memintanya,” Ali mendengus marah, lantas mengeluarkan pemukul kasti, mengacungkannya ke atas, melangkah maju.

Kawanan monyet itu semakin marah melihat pemukul kasti. Entah monyet mana yang memulai, mereka mulai melempari Ali dengan buah, mengusir.

Bukannya mundur, Ali malah membalasnya dengan berseru-seru, terus memprovokasi monyet-monyet itu. ”Hanya itu saja kemampuan melempar kalian, hah? Ini sih tidak sakit.” Kawanan monyet itu marah besar, hampir semuanya meraih buah di pohon, lantas melemparkannya kepada Ali.

Kali ini Ali lari tunggang-langgang, menjauh. Tapi monyet itu tidak berhenti, mereka mengamuk, terus melempari Ali. Hujan buah mengejar Ali. Aku menatap Ali yang tersengal-sengal, sudah berdiri di samping kami, jauh dari sasaran tembak monyet.

”Nah, kita bisa sarapan sekarang. Monyet itu terlalu lama memonopoli pohon berbuah. Pagi ini mereka telah membayar lunas. Mereka telah melemparkan semua buah dari pohon saat mengusirku.” Ali nyengir.

Aku tertegun sejenak, saling tatap dengan Seli. Ternyata si genius tidak sedang error. Dia bahkan baru saja melakukan strategi terbaik menghadapi monyet itu. Lihatlah, tepi oasis penuh buah-buah matang, sedangkan di atas pohon tidak tersisa lagi. Ali sengaja membuat keributan ini, dan dia melakukannya seperti aktor kawakan, seolah ikutan mengamuk dan meracau.

Aku tertawa. Ily menepuk bahu Ali, memuji. Kami mengambil beberapa buah paling besar dan paling baik yang tergeletak di rumput.

Hewan-hewan yang sedang minum di tepi oasis terlihat senang. Mereka berlari-lari mendekat, semakin lama semakin ramai, berebut buah-buahan. Sementara kawanan monyet di atas sepertinya baru saja menyadari kesalahan yang mereka lakukan. Seruan-seruan mereka terhenti, digantikan uh-uh-uh pelan, saling tatap, menggaruk kepala, termangu menatap dahan-dahan yang kosong. Monyetmonyet itu tidak berani turun, hingga kelak siang hari hanya bisa melihat hewan-hewan berpesta buah di bawah mereka.

”Bagaimana kamu tahu harimau bisa lari di dinding lorong, Ily?” Ali bertanya. Kami sudah asyik duduk meluruskan kaki, sarapan. Buah ”mangga” ini lezat. Saat digigit, airnya banyak dan rasanya manis.

”Aku tidak sengaja tahu. Dua tikus yang kualihkan perhatian hampir menangkapku. Saat berpikir keras cara lolos dari mereka, aku tidak menyadari harimauku tidak lagi lari di lantai lorong, sudah miring, lari agak naik di dinding. Lantas aku mencoba lebih tinggi lagi, berhasil,” Ily menjelaskan.

Ali mengangguk-angguk.

Cahaya matahari menyiram lembut wajah kami. Sejauh mata memandang lagi-lagi hanya padang sabana. Dinding bebatuan tinggi itu persis membelahnya jadi dua. Satu sisi yang kami lewati kemarin dan satu sisi yang akan kami lewati hari ini.

”Apakah kamu sudah berhasil memecahkan petunjuk ketiga, Ra?” Ily bertanya.

Aku menggeleng. Aku tetap tidak tahu.

”Kita hanya punya waktu dua puluh jam sebelum bunga itu mekar, Ra,” Ily mengingatkan.

”Aku tahu, Ily. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tetap tidak mengerti apa maksudnya.” Kami sudah berada di arah yang benar, barat, semoga jutaan sesuatu yang bersinar dalam gelap itu kami temukan sebelum matahari terbit besok.

” Tidakkah tikus-tikus tadi bicara denganmu, Ra?

Mendengarkan alam,” Ali mencoba bergurau.

Seli menimpuk Ali dengan biji buah yang kami makan. Sarapan kami hampir habis. Dan meskipun bilang dia trauma dengan bau tikus, Ali tetap saja bisa menghabiskan dua buah ”mangga” dengan cepat.

”Kalian sadar tidak sih, kompetisi ini membuat kita hampir mengelilingi seluruh negeri.” Ali menyeka telapak tangannya.

”Mengelilingi?” Seli tidak mengerti.

Ali meraih ranting, membuat gambar di tanah. ”Delapan hari lalu kita berada di Kota Ilios, bukan? Nah, kita menuju ke utara, ke arah atas.” Ali menggambar Kota Ilios berupa bulatan kecil, lantas membuat tanda panah ke atas.

”Kita menemukan air terjun dengan dinding granit bercahaya di utara, itu petunjuk pertama, yang menyuruh kita pergi ke timur, ke arah kanan.” Ali menggambar air terjun berupa kotak kecil, lantas membuat tanda panah ke kanan.

”Si Pemburu dari Timur membantu kita menemukan Danau Teluk Jauh di timur, ikan-ikan bercahaya. Itu petunjuk kedua kita, yang menyuruh kita pergi ke selatan.” Ali menggambar Danau Teluk Jauh berupa segitiga, lantas membuat tanda panah ke bawah.

”Terakhir, tabib perkampungan sawah membantu kita menemukan jamur bercahaya di lembah kering berbatu, petunjuk ketiga sekaligus terakhir, yang menyuruh kita pergi ke barat, ke arah kiri.” Ali menggambar lembah itu berupa bintang, lantas membuat tanda panah ke kiri. ”Lihat, bukankah kita akhirnya kembali ke Kota Ilios?” Ali menunjuk peta yang digambarnya. ”Kita hanya berputar, mengelilingi seluruh negeri, untuk kembali ke Kota Ilios.”

Kami terdiam, menatap gambar Ali. ”Jangan-jangan,” Seli tiba-tiba berseru.

”Iya. Aku juga memikirkannya sejak kemarin malam. Jangan-jangan bunga matahari itu akan mekar besok pagi di Kota Ilios.”

”Ali benar. Bukankah jika malam hari, ketika lampu kota menyala, Kota Ilios terlihat bersinar dalam gelap, jutaan jumlahnya? Itu petunjuknya, Ra.” Seli menatapku.

Aku masih terdiam, mencerna, menatap gambar Ali di tanah. Penjelasan Ali sangat masuk akal. Kesimpulan Seli juga tidak terbantahkan. Kota Ilios kemungkinan adalah sesuatu yang bersinar dalam gelap. Jutaan lampu di bangunan kotak.

”Ini brilian, Ali,” Ily memuji. ”Bagaimana menurutmu, Ra?”

Aku akhirnya mengangguk, sepertinya memang itulah tujuan kami. Aku tetap tidak punya ide lain, dan penjelasan Ali tidak bisa kubantah.

”Baik. Kita tidak perlu membuang waktu. Mari berkemas. Dengan kecepatan penuh, kita baru tiba di Kota Ilios nanti malam. Aku tidak mau tiba terlambat. Penunggang salamander itu bisa jadi sudah duduk di depan bunga tersebut, sambil minum teh, menunggu matahari terbit.”

Kami segera bangkit. Empat harimau kami menggerung pelan, memberitahu kami bahwa mereka juga siap melanjutkan perjalanan. Ali sempat mengambil beberapa buah untuk bekal, sambil melambaikan tangan ke atas pohon. Kawanan monyet merah berekor panjang hanya bisa berseru-seru marah.

”Sampai ketemu lagi, Kawan.” Ali tertawa, melompat ke atas pelana.

Satu detik, empat harimau kami sudah berlari kencang, meninggalkan oasis padang sabana, menuju tempat bermula petualangan kami, Kota Ilios.

***

Kami tiba di tepi barat padang sabana saat hari hampir gelap.

Terlihat dari kejauhan hutan lebat yang mengelilingi Kota Ilios.

Harimau kami berlari menuju hutan tersebut. Aku menatap matahari tenggelam di pucuk pepohonan. Matahari itu terlihat bulat merah. Indah sekali senja terakhir petualangan ini. Di dekat kami, kawanan jerapah bertanduk berdiri memperhatikan, sedangkan jauh di sana kawanan zebra berlari membentuk debu mengepul. Burung-burung bangau terbang berkelompok. Warna putihnya terlihat kemerah-merahan ditimpa cahaya senja.

”Kita berhenti sebentar sebelum masuk hutan, Ily.” Aku menyejajari Ily yang memimpin. Ily mengangguk, mengurangi kecepatan harimaunya.

Di tepi padang sabana terlihat oasis terakhir sebelum masuk hutan. Perjalanan melintasi hutan tidak semudah padang rumput, akan lebih baik jika perut kami sudah kenyang. Kami juga tidak tahu apa yang menghadang di hutan, kemungkinan tidak bisa istirahat.

Ali membuka ransel, memberikan jatah empat buah ”mangga” terakhir, menu makan malam. Sekeliling kami mulai gelap. Langit dipenuhi bintang gemintang dan bulan bundar.

”Jika bunga matahari itu benar mekar di Kota Ilios, kita harus memikirkan di mana persisnya, Ra,” Ily yang duduk di sebelahku mengingatkan.

Aku mengangguk, sejak tadi aku sudah memikirkan soal itu. Kota Ilios luas sekali. Bunga itu bisa mekar di mana saja, di taman kota, di halaman rumah penduduk, atau malah mekar di tepi jalan—tidak disadari orang-orang yang melintas.

”Setidaknya kita tiba dulu di Kota Ilios. Sesampainya di sana, Ra pasti tahu di mana bunga itu mekar, saat melihat kerlap-kerlip cahaya lampu kota. Bukankah begitu, Ra?”

Aku mengangguk lagi. Seli benar, sejauh ini, begitulah caraku mengetahui petunjuk-petunjuk sebelumnya, dengan menatap cahaya yang bersinar dalam gelap, dan cahaya itu bicara padaku.

”Apakah kamu akan memetik bunga matahari itu, Ra?” Ali bertanya, menghabiskan buahnya. ”Harus dipetik, bukan?” Seli bertanya ragu-ragu.

”Tugas kita menemukan, bukan memetik, Sel.” Ali mengangkat bahu. ”Ketika kita sudah berhasil menemukannya, Ketua Konsil Klan Matahari akan muncul, menggunakan kapsul terbang. Itu yang diceritakan tabib di perkampungan sawah. Dan itulah gunanya gelang di lengan Raib, untuk mengetahui posisi kita pada pagi hari kesembilan.”

Apakah aku akan memetiknya? Entahlah. Hana, pemilik peternakan lebah pernah bilang agar aku tidak memetiknya.

”Apa sih yang akan terjadi saat bunga itu dipetik?” Seli menceletuk.

”Jika mendengar cerita orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan, sesuatu yang menarik akan terjadi. Mungkin bunga itu bisa memberi kekuatan tertentu. Atau mungkin tiba-tiba muncul butir uang Klan Matahari berkarung-karung, membuat kita kaya,” Ali menjawab asal. ”Perjalanan kita masih enam jam lagi. Sebaiknya kita tiba di Kota Ilios sesegera mungkin, menemukan bunga itu, baru bisa memastikan hal lainnya,” Ily mengingatkan, fokus.

”Kalian sudah selesai?”

Kami mengangguk. Menghabiskan buah ini hanya butuh lima menit. Kami kembali naik ke pelana harimau, melanjutkan perjalanan.

*** Kami mulai mendaki. Kota Ilios ada di lereng gunung.

Pendakian panjang yang lambat. Pepohonan berdiri rapat. Tanaman pakis dan semak membuat gerak kami tinggal separuh. Seli sudah menyalakan sarung tangannya saat memasuki hutan lebat, menyinari jalan yang kami lewati. Pukul delapan, langit cerah digantikan awan tebal, mendung. Aku mendongak. Perjalanan kami akan lebih sulit jika hujan turun. Baru saja aku membenak demikian, tetes air pertama jatuh, disusul tetes lainnya. Hujan deras.

Kami basah kuyup, berkali-kali mengusap wajah. Harimau kami juga basah. Bulu tebalnya yang halus terkulai. Tapi harimau ini seakan tahu kami harus tiba di Kota Ilios segera. Mereka tidak berhenti, terus menerobos hutan dan hujan. Aku memegang surai harimau lebih erat.

”Sedikit lagi, hanya beberapa jam,” Ily membesarkan semangat.

Seli sudah mulai lelah. Konsentrasinya berkurang. Ali juga sesekali mengeluh. Tubuhnya terkena dahan kayu, tunggul, dan rotan berduri. Tidak membuat terluka, karena kami menggunakan pakaian hitam-hitam Ilo, tapi menurut Ali, itu tetap menyebalkan.

Pukul sebelas malam, sudah sedikit lagi tiba di Kota Ilios, kami berhenti sejenak di bawah pohon besar dengan daun lebar-lebar. Saking lebarnya, satu daunnya bisa selebar ruangan kelas. Ali baru saja terjatuh dari harimau. Dia tidak memperhatikan pohon melintang. Aku yang berlari di depan Ali sudah berteriak agar dia menunduk, tapi Ali tidak mendengar. Pohon itu menghantam kepalanya. Ali terguling.

”Kamu tidak apa-apa, Ali?” Ily bertanya, memeriksa dahi Ali yang lebam.

Ali menggeleng. Dia sempat refleks menghindar—meski terlambat. Luka di dahinya tidak serius.

”Ada berapa jari di depanmu, Ali?” Seli mengacungkan dua jari di depan wajah Ali—mencontoh film-film drama Korea yang sering dia tonton, jika ada adegan pingsan.

”Aku baik-baik saja, Sel.” Ali berdiri, meringis, memegang dahinya. ”Aku masih bisa menjelaskan Teori Big Bang dengan baik saat ini, jika kamu ingin menanyakannya.”

Aku tertawa. Jika si genius ini masih bisa berkata seperti itu, berarti dia memang baik-baik saja.

Ily kembali naik ke atas pelana, berseru, ”Kota Ilios satu jam lagi. Ayo bergegas!”

Kami mengangguk. Empat harimau kembali menuju ke arah barat. Tangan Seli kembali terangkat, menyinari jalan di depan. Hujan deras terus turun mengungkung hutan lebat.

Satu jam berlalu, setelah melewati pendakian panjang tanpa henti, akhirnya kami tiba di lereng atas Kota Ilios. Dari sini, Kota Ilios terlihat bersinar terang, kerlap-kerlip lampunya.

”Berhenti sebentar, Ily,” Seli berseru.

Ily, yang sejak tadi tidak sabaran ingin tiba, segera menghentikan langkah harimau. ”Kakiku kebas. Aku harus duduk meluruskannya.” Aku turun dari pelana, membantu Seli duduk. ”Kamu baik-baik saja, Sel?”

Seli mengangguk. ”Tapi lututku seperti mati rasa. Boleh aku istirahat, Ra?”

Aku tahu masalah Seli, kami sudah lelah. Hampir sembilan hari kami melakukan perjalanan.

”Tentu saja boleh, Sel.” Aku tersenyum. ”Kita sudah hampir sampai. Lihat, Sel! Kota Ilios.”

Seli mengangguk, ikut tersenyum.

Kami hanya perlu menuruni lereng, berjalan dua kilometer lagi, maka kami tiba di gerbang kota. Penjaga akan menyambut kami, penduduk akan bersorak-sorai. Entah di mana besok pagi bunga matahari itu mekar, setidaknya kami berhasil menuntaskan perjalanan. 

Ily duduk di samping Seli, membantu mengurut lutut Seli yang mati rasa.

Aku berdiri, menatap ke bawah. Ali ikut berdiri di sebelahku.

”Jutaan kerlap-kerlip yang bersinar dalam gelap,” Ali bergumam.

Aku mengangguk, menyeka wajah yang basah. Inilah akhir perjalanan.

”Kamu masih punya air, Ali?”

Ali meraih ranselnya, merogoh-rogoh, menyerahkan tabung.

”Ini bukan tabung air, Ali. Ini botol madu dari Hana.” Aku menggeleng. ”Oh, maaf, Ra.” Ali nyengir, tangannya kembali masuk ke dalam tas.

Saat itulah, saat melihat botol madu dari Hana, aku tertegun. Aku menatap lautan cahaya lampu Kota Ilios di bawah hujan deras.

”Tidak,” aku berkata dengan suara bergetar. ”Tidak jadi minumnya, Ra?” Ali bingung.

”Tidak. Kota Ilios bukan tujuan kita.” Aku menghela napas berat. ”Bagaimana mungkin kita melupakan hal sesederhana itu, Ali?”

”Apa?” Ali tidak paham.

”Kamu ingat, kemarin malam saat kita mencari celah di dinding tinggi itu, kita memutuskan menuju selatan. Kita jauh sekali meninggalkan titik semula, hampir enam jam. Dan saat kita akhirnya menemukan lorong tikus, kita sudah tidak lagi sejajar dengan arah semula. Seharusnya kita kembali ke utara enam jam, maka baru sejajar dengan tujuan sebenarnya. Kita keliru, Ali. Bukan Kota Ilios tempat bunga itu mekar besok pagi.”

”Astaga.” Ali mengusap wajahnya. ”Kamu benar, Ra. Kita tidak menyesuaikan arah, seharusnya kita bergerak diagonal ke arah barat laut.”

Aku dan Ali terdiam. Ini benar-benar kekeliruan fatal, saat kami merasa sudah tiba di tujuan.

Itulah kenapa, saat aku menatap kerlap-kerlip jutaan cahaya lampu Kota Ilios, aku tidak merasakan apa pun. Cahaya lampu itu tidak bicara padaku. Hanya kerlap-kerlip kosong, tidak berarti apa pun. ”Jika Kota Ilios bukan tujuan kita, di mana sesuatu yang bercahaya dalam gelap itu, Ra?” Ali bertanya cemas. Waktu kami tinggal enam jam, bagaimana kami bisa menemukannya?

Aku mengangkat botol madu dari Hana.

”Bunga itu akan mekar di taman depan rumah Hana, padang perdu berduri. Itulah tempat yang sejajar dengan posisi saat kita tiba pertama kali di dinding raksasa.”

”Padang perdu berduri? Bukankah tidak ada sesuatu yang bersinar dalam gelap di tempat itu, Ra? Bukankah kita sudah melewatinya saat malam?”

Aku menggeleng. ”Saat kita berpisah, Hana sempat bilang padaku: Sayang sekali kalian tidak bisa tinggal lama. Jika kalian bisa mampir beberapa hari, aku akan menunjukkan banyak hal menarik, termasuk soal lebah-lebahku. Mereka istimewa sekali. Setiap enam tahun, dalam satu malam yang istimewa, lebah-lebah itu bisa mengeluarkan cahaya di ekornya, seperti kunang-kunang. Menurut perhitunganku, siklus itu akan datang tujuh hari lagi. Sayangnya, kalian harus pergi pagi ini, tidak bisa menyaksikan hal tersebut.”

Aku mengulang kalimat dari Hana sama persis—seperti aku bisa mengingatnya setiap kata.

”Di sanalah bunga itu akan mekar, Ali. Jutaan cahaya itu adalah lebah milik Hana yang mengeluarkan cahaya setiap enam tahun. Malam ini lebah-lebah itu bercahaya.”

”Ada apa, Ra, Ali?” Seli berdiri mendekati kami. Kakinya sudah baikan. Ily juga melangkah mendekat.

”Kita keliru arah, Sel. Kota Ilios bukan tujuan kita,” Ali yang menjawab.

”Tapi, bukankah kita sudah dekat sekali dengan Kota Ilios?”

”Maafkan aku, Sel.” Aku memegang lengan Seli. ”Kita harus melanjutkan perjalanan lagi.”

”Ke mana?” Ily bertanya cepat—wajahnya jelas sekali mengatakan, jika memang keliru, waktu kami tinggal enam jam, saatnya memperbaiki arah.

”Padang perdu berduri peternakan lebah Hana.”

Belum habis kalimatku, Ily sudah melangkah cepat ke harimaunya. ”Kita harus bergegas! Masih ada waktu. Kita bisa tiba di sana dalam waktu enam jam saja.”

”Kamu masih bisa meneruskan perjalanan, Sel?” Aku menatap wajah sahabat terbaikku.

Seli terdiam.

”Jika kamu sudah lelah, kamu bisa menuju Kota Ilios. Ali akan mengantamu. Biarkan aku dan Ily yang menyelesaikan kompetisi ini.” Aku tersenyum. Aku tahu, Seli sedih dan kecewa. Dia pasti sudah berharap kami tiba di ujung perjalanan ini, tapi ternyata masih harus berjalan enam jam lagi.

Seli mengusap ujung matanya yang berkaca-kaca. ”Aku tidak akan meninggalkanmu, Ra. Tidak akan. Aku akan ikut ke mana pun.”

”Terima kasih, Sel.” Aku menoleh ke arah Ali. ”Kamu terus ikut atau turun ke Kota Ilios, Ali?” ”Tentu saja aku ikut, Ra.” Ali mengangkat bahunya santai. ”Kalian membutuhkan orang yang bisa berpikir di tim ini. Meski aku hanya manusia rendah Klan Bumi yang tidak bisa menghilang apalagi mengirim petir.”

Aku tertawa penuh penghargaan, lalu mengangguk. Ali sangat penting dalam tim.

Kami bergegas naik pelana harimau, memutar balik, menuju ke utara, ke padang perdu berduri peternakan lebah milik Hana. Entah Hana menyadarinya atau tidak, bunga matahari itu akan mekar besok di taman bunga halaman rumahnya. Aku yakin sekali.

***

Itu enam jam penghabisan yang sangat mengharukan.

Ily memimpin di depan, penuh semangat. Fisik Ily yang terlatih di Akademi Klan Bulan mengagumkan. Dia terus menyemangati kami.

Seli dua kali terjatuh dari harimaunya. Kaki kirinya kembali mati rasa. Cahaya di tangannya semakin redup. Kaki kanannya juga terhantam tunggul, membiru. Tapi Seli tetap kembali menaiki pelana. Aku tahu, Seli menangis sepanjang sisa perjalanan menahan rasa sakit di kakinya. Air hujan membuat tangisan Seli tidak terlihat. Seli lelah, sudah hampir tiba di batas kekuatannya. Batas fisik dan emosinya hampir habis.

Ali menunjukkan ketangguhan yang tidak pernah kubayangkan. Dia dua kali membantu Seli yang terjatuh. Enam jam dia tidak lagi mengeluh, tidak banyak protes. Dia memberikan tabung air terakhir untuk Seli, ikut menghibur Seli, berkali-kali melontarkan gurauan agar Seli konsentrasi.

Fisikku juga lelah—meski tidak seserius Seli. Hanya karena harimau yang kutunggangi terus meyakinkanku agar tidak menyerah, teguh melanjutkan perjalanan, aku masih berdiri tegak di atas pelana. Bagian paling sulit adalah melewati tanjakan terakhir padang perdu. Seli akhirnya tidak kuat lagi. Dia jatuh pingsan di atas harimau. Ily menuntun harimaunya terus maju. Dari kaki bukit, tanjakan itu terlihat jauh sekali.

Hingga akhirnya kami tiba di puncaknya.

***

Kami telah berusaha segenap tenaga untuk tiba di peternakan Hana tepat waktu.

Tapi usaha kami sia-sia. Kami tetap datang terlambat. Cahaya matahari pagi telah menerabas pucuk pepohonan saat kami tiba di puncak bukit. Kami telah kalah. Di depan kami telah mendarat kapsul besar dari Kota Ilios. Anggota Konsil menuruni anak tangga.

Di halaman rumah Hana, empat penunggang salamander terlihat jemawa. Merekalah yang menemukan bunga itu mekar. Empat kontingen itu terlihat berdiri gagah, menyambut anggota Konsil. Kapten mereka menunjuk bunga matahari di sudut taman rumah Hana.

Bunga itu telah mekar.

”Kita kalah, Ra,” Ali berkata serak. Kami masih berdiri di puncak bukit.

Aku mengangguk.

”Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

”Kita turun ke rumah Hana,” aku berkata pelan.

”Buat apa? Mereka tidak membutuhkan kita lagi. Pemenang mengambil semuanya.”

Aku menggeleng. ”Seli butuh pertolongan. Hana mungkin punya obatnya. Lagi pula, setidaknya kita bisa mengucapkan selamat kepada kontingen penunggang salamander. Mereka telah memenangi kompetisi.”

”Mengucapkan selamat kepada tim curang itu?” Ali tidak percaya apa yang dia dengar.

Aku sudah menggebah harimauku, menuruni lembah. Mau bagaimanapun, tim lain telah menemukan bunga tersebut. Semua telah berakhir. Lebah-lebah sebesar kepalan tangan di padang perdu terbang di atas kepalaku saat aku turun, masih mengeluarkan cahaya redup. 
Tapi aku salah besar karena sebenarnya justru ”kompetisi” yang sesungguhnya baru saja dimulai.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊