menu

Bulan Bab 22

Mode Malam
Bab 22
ILY menyalakan api unggun, juga menyusun rumput kering sebagai alas tidur. Kami hanya punya waktu istirahat empat jam. Ily akan berjaga pertama kali malam ini, dan akan membangunkanku pukul dua, bergantian.

Aku meluruskan kaki, berusaha rileks—meski kepalaku tetap saja memikirkan bagaimana cara melewati dinding ini besok.

Ali dan Seli yang berbaring di sebelahku juga belum tidur. Mereka menatap ke arah dinding tinggi.

”Apa yang membuat dinding setinggi ini, Al?” Seli bertanya.

”Banyak penyebabnya, tapi kemungkinan besar karena tumbukan lempeng tektonik. Dua lempeng benua bertemu membuat batuan dan kerak bumi terangkat,” Ali menjawab. ”Tapi bagaimana ini bisa panjang sekali, sempurna berbentuk dinding?”

”Juga banyak penyebabnya, Sel. Bisa jadi karena kikisan angin atau kikisan air. Mungkin di sini dulu ada aliran sungai besar yang terus memahat pegunungan, hingga bentuknya seperti ini. Proses itu berjuta-juta tahun, sedikit demi sedikit, seperti pemahat.” Ali menguap lebar. ”Atau ada kemungkinan lainnya yang lebih masuk akal, Sel.”

”Apa?”

”Dulu, lokasi ini adalah tempat petarung Klan Matahari berlatih. Mereka terus menyambar gunung dengan petir. Ribuan tahun terus berlatih hingga bosan, akhirnya jadilah dinding menyebalkan ini,” Ali menjawab asal.

Seli tertawa. Aku yang belum memejamkan mata ikut tertawa. Tentu saja Ali mengarang jawaban. Seli boleh saja melepaskan pukulan petir ribuan kali, dinding batu ini dijamin bergeming. Termasuk pukulanku, tidak akan membuatnya rontok. Dinding ini tinggi dan kokoh. Kami seperti semut yang dibatasi barisan buku tebal, bedanya kami tidak bisa merayap memanjat.

Malam semakin larut. Setelah bercakap-cakap, kami akhirnya jatuh tertidur.

Rasanya baru sebentar aku memejamkan mata ketika Ily membangunkanku.

Aku membuka mata, bangkit duduk. ”Sudah pukul dua, Ra.”

Aku mengangguk, giliranku berjaga. Ily berbaring di tumpukan rumput, segera tidur. Setiap malam, Ily selalu berjaga paling lama, dan bangun paling pagi. Kehidupan di Akademi Klan Bulan telah membentuk daya tahannya.

Aku berdiri, mencari ranting kering. Api unggun hampir padam. Aku melemparkan beberapa dahan kayu, membuat nyala apinya kembali terang. Tidak ada kabut di padang sabana, tapi udara tetap dingin. Duduk di dekat api unggun membuat badan lebih hangat.

Setengah jam aku hanya menatap dinding tinggi di hadapan kami. Kepalaku memikirkan banyak hal, mulai dari Mama dan Papa di kota kami. Apakah mereka sudah menelepon mama Seli, bertanya bagaimana liburan kami? Memikirkan Av dan Miss Selena, apakah mereka baik-baik saja di Kota Ilios, apakah mereka berhasil membujuk Falatara-tana IV dan Konsil Klan Matahari untuk bekerja sama dalam situasi darurat? Tentang sekolahku, apakah nilai ujianku bagus? Apakah Ali naik kelas? Dan yang paling banyak kupikirkan tentang dinding ini, bagaimana kami melewatinya? Dinding, dinding, dan dinding.

Sudah lewat pukul empat, api unggun mulai redup, harus ditambah ranting agar tidak telanjur padam. Aku sudah siap beranjak berdiri, hendak memungut ranting kering di sekitar padang sabana, ketika telapak tanganku yang menyentuh tanah merasakan sesuatu. Apa itu? Suara bergetar pelan? Seperti ada yang sedang aktif bergerak di sekitar kami. Aku menoleh ke sana kemari. Tidak ada hewan apa pun yang mendekat. Aku terdiam, teringat kejadian beberapa hari lalu di tepi sungai. Bukankah waktu itu aku berhasil mendengarkan langkah kaki kepiting yang berlarian?

Apa salahnya mencoba lagi? Mungkin aku bisa mencari tahu jalan keluar dari dinding tinggi ini, menemukan hewan yang sedang melewati celah itu. Aku menatap lurus ke depan, mencoba mulai berkonsentrasi.

Getaran itu terasa semakin jelas, memantul ke manamana. Getaran itu tidak di atas permukaan tanah, tapi di bawah. Ada hewan yang sedang berlarian di bawah tanah. Aku menghela napas lembut, semakin konsentrasi.

Aku bisa menyaksikannya sekarang. Astaga! Aku bahkan seolah bisa melihat seluruh bawah tanah, seperti melihat tontonan tiga dimensi. Di bawah tanah ada lorong-lorong besar dan panjang. Lorong itu mengarah ke mana-mana, kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah, bertemu persilangan, persimpangan, berbelok, dan memutar. Di dalam lorong berlari-lari hewan pengerat berukuran besar, mungkin setinggi banteng dewasa. Ekornya panjang. Matanya kecil. Itu tikus tanah raksasa. Merekalah yang membuat lorong-lorong itu.

Dinding tinggi ini menghunjam ke bawah dalam sekali, tapi ada satu lorong tikus yang berhasil menembusnya, mungkin butuh bertahun-tahun bagi tikus untuk melubanginya. Lorong itu muncul di sisi lain dinding, jalan keluar yang kami butuhkan. Kami bisa melewati dinding tinggi ini, tidak lewat atas atau menembus dindingnya, tapi lewat bawah, lewat lorong yang dibuat tikus.

Itu dia jalan keluarnya.

Aku segera bangkit berdiri, bergegas membangunkan yang lain.

”Ily, bangun! Ali, Seli, bangun!” aku berseru tidak sabaran.

Ily segera bangun, refleksnya bekerja baik. Ali justru bergelung, menepis tanganku yang menggoyang-goyangkan bahunya. Seli menyipitkan mata, setengah terjaga.

”Ada apa, Ra?” tanya Ily.

”Aku tahu cara melewati dinding ini, Ily,” aku berseru riang.

Demi mendengar kalimatku, mata Seli membuka. ”Kamu menemukan celahnya?”

Aku menggeleng. Tidak ada celah itu, tapi ada jalan lain. Ali akhirnya bangun. Dia mengomel, tapi seperti yang lain, segera berkemas. Kami tidak bisa menunda waktu lagi. Toh sekarang sudah hampir pukul lima pagi, waktu biasanya kami melanjutkan perjalanan. Ily memadamkan api unggun, memastikan apinya benar-benar padam—karena berbahaya sekali jika api itu menyambar rumput padang sabana. Empat harimau kami menggerung, sudah terbangun

sejak seruan pertamaku.

Kami menaiki pelana harimau. Aku memimpin di depan, menggebah harimau kembali ke padang sabana, mundur beberapa kilometer. ”Hei, Ra? Kenapa kita malah ke sana?” Ali tidak mengerti, mematung di atas harimaunya.

”Ikuti aku, Ali!” aku berseru, tidak menghentikan harimau.

Ily tidak banyak tanya menyusulku, juga Seli.

”Ini pasti gara-gara terlalu banyak mendengarkan alam liar. Raib menjadi terganggu. Bagaimana kita akan melewati dinding itu jika kita justru menjauhinya?” Ali mengomel, tapi akhirnya menggebah harimaunya menyusul.

Dua kilometer menjauhi dinding, aku menghentikan harimau. Di sinilah bagian paling dekat dengan lorong di bawah tanah. Hanya dua meter, kami bisa menjebol tanahnya, masuk ke dalam lorong. Aku meloncat ke atas rerumputan, mengepalkan tanganku, lantas memukul tanah gembur.

Suara dentuman terdengar keras. Guguran salju turun di sekitarku. Aku memukul sekali lagi, tanah di depanku mulai terkelupas.

”Apa yang kamu lakukan?” Seli bertanya.

”Ini mengkhawatirkan, Sel. Raib mungkin jadi terganggu karena terlalu sering bicara pada alam,” Ali yang menjawab, berbisik.

”Kamu hantam tanah ini dengan sesuatu, Seli! Gunakan sarung tanganmu. Bantu aku melubanginya.” Aku tidak mendengarkan Ali. Aku sedang bekerja.

”Eh? Melubangi tanah?”

Meski ragu, Seli melompat turun. Di dekat kami ada batu besar, Seli mengarahkan tangannya ke atas. Batu itu terangkat ke udara, terbang ke atas tanah yang sedang kulubangi. Seli menggerakkan tangannya, batu besar menghantam tanah, melesak. Kami butuh dua-tiga kali lagi, hingga akhirnya tanah itu runtuh. Lubang besar menganga, dan persis di bawah lubang itu terlihatlah lorong besar yang kulihat sebelumnya.

”Ini apa?” Seli bertanya. Tangannya teracung ke depan. Sarung tangannya bercahaya terang, menyinari lorong yang diameternya lebih dari tiga meter, setinggi atap rumah. Lebih dari cukup untuk harimau kami berlari di dalamnya.

”Ini jalan kita untuk melewati dinding batu,” aku menjawab. ”Jika kita tidak bisa lewat atas, kita bisa lewat bawahnya.”

”Keren, Ra.” Ali mendekat. ”Aku awalnya mengira kamu sedikit terganggu tadi, maaf. Tapi ini keren sekali. Loronglorong bawah tanah. Bagaimana kamu mengetahuinya?”

Aku sebenarnya hendak menjawab dengan baik, menjelaskan aku bisa merasakan getaran hewan yang berlarian di bawah tanah lewat telapak tanganku yang terbungkus Sarung Tangan Bulan. Tapi karena Ali menyebutku ”sedikit terganggu”, aku jadi batal menjawabnya.

”Apakah lorong ini ada penghuninya, Ra?” Ily bertanya. Aku mengangguk. ”Tikus tanah. Merekalah yang mem-

buat lorong-lorong ini.”

”Seberapa besar tikusnya?” Suara Seli terdengar cemas. Kalau lorongnya saja sebesar ini, bagaimana dengan penghuninya? ”Lebih besar daripada harimau kita. Jumlah mereka banyak, ratusan. Tapi kita tidak punya alternatif lain, hanya lorong ini. Aku sudah mengingat jalurnya. Kita harus melewati lorong berkelok-kelok, bertemu beberapa persimpangan, terus ke arah barat, empat kilometer, hingga akhirnya berhasil melintasi dinding bebatuan. Ada ujung lorong yang keluar di seberang dinding. Sekali kita tiba di sana, kita berhasil melewati dinding.” Aku mengembuskan napas—itu bagian yang tidak menyenangkan dari rencana ini, tikus raksasa.

”Bagaimana kalau kita bertemu tikus-tikus itu?” ”Seminimal mungkin kita menghindar, Sel. Kita bergerak

dengan hati-hati. Tapi jika mereka tahu, kita terpaksa bertahan, membela diri. Atau kita bisa lari secepatnya. Semoga harimau kita berlari lebih cepat dibanding tikus tanah. Bagaimana, Sel? Kamu mau melintasi lorong ini?”

Keputusan diambil, kami akan melewati lorong ini. Harimau-harimau kami terlihat tidak nyaman saat me-

langkah turun, masuk ke dalam lorong. Aku mengelus surainya, berbisik semua akan baik-baik saja. Seli berjalan di sebelahku, dengan menyalakan redup sarung tangannya, agar cahaya di dalam lorong tidak terlalu mencolok. Kami maju dengan hati-hati. Ily di sebelahku meloloskan tombak perak, berjaga-jaga.

Lorong itu kering dan hangat, dindingnya tanah keras. Hanya satu masalah di lorong tersebut, aroma bau kotoran tikus yang menyengat. Ini rumah mereka. Dari kejauhan kami bisa mendengar suara mencicit, lorong terasa bergetar, tikus itu melintas.

Napas Seli lebih kencang saat tikus-tikus terdengar di dekat kami. Aku menyuruh Seli memadamkan cahaya dari sarung tangan. Kami berhenti, tidak bergerak. Kami berjalan sudah hampir dua ratus meter. Kami bertemu persimpangan pertama. Dua ekor tikus raksasa berlari di persimpangan. Aku menahan napas. Tikus itu lewat tanpa melihat kami. Ali memegang pemukul kastinya, terlihat tegang. Tikus itu bahkan lebih tinggi dibanding kami. Gerakannya cepat, ekornya panjang sekali, melenting ke sana kemari saat lari. 

Tikus itu terus bergerak menjauh, suaranya tidak terdengar lagi. Aku memberi kode. Seli menyalakan kembali sarung tangannya. Harimau kami kembali bergerak maju melewati persimpangan, berbelok ke kiri.

Kami berhasil maju dua ratus meter lagi, sejauh ini aman. Persimpangan berikutnya masih lima puluh meter di depan, ketika kami mendengar suara tikus mendekat. Awalnya masih samar, semakin lama semakin dekat, lorong terasa bergetar.

”Tikus itu ada di belakang! Menuju posisi kita,” aku berbisik tegang.

Wajah Seli pucat. Apa yang harus kami lakukan?

”Lari, Ra, Seli, Ali, ke persimpangan di depan.” Ily sudah menggebah harimaunya. Tanpa banyak bicara, kami ikut menyusul. Tikus di belakang semakin dekat. Dinding lorong bergetar dan berdebu.

Kami tersengal oleh perasaan tegang, tapi kami tiba tepat waktu, segera berbelok ke kanan. Seli memadamkan sarung tangannya, harimau kami berhenti, tidak bergerak, bersembunyi di balik gelap lorong. Tiga tikus besar muncul beberapa detik di belakang kami. Mereka berbelok ke kiri, arah berlawanan.

Aku mengembuskan napas lega. Tikus itu tidak tahu kami persis di dekatnya saat melintas.

Hingga separuh perjalanan, dengan suasana semakin tegang, kami berhasil maju tanpa diketahui tikus mana pun. Aku memutuskan berhenti setiap beberapa ratus meter, menghela napas. Tikus-tikus ini entah kenapa besar sekali. Mereka mungkin menyerang hewan-hewan di padang sabana. Tapi kami diuntungkan dengan badan tikus sebesar itu. Meski mereka bisa berlari lurus dengan cepat, tikus-tikus ini tidak selincah tikus rumahan yang kukenal. Kaki-kaki mereka pendek, untuk berdiri saja susah payah, apalagi menggapai benda, tidak bisa sama sekali. Senjata mereka hanya moncong dengan gigi-gigi tajam.

”Kalian baik-baik saja?” Ily memastikan.

Kami mengangguk. Kami sudah berhenti untuk yang kedua belas kali, menyeka keringat.

”Jika pengalaman melewati lorong tikus ini membuat trauma, sepulang ke kota kita, aku setiap malam bisa bermimpi buruk tentang tikus raksasa, Ra. Bayangkan tikustikus ini mengejar-ngejarku dalam mimpi, Ra. Dan aku berteriak-teriak dalam tidur,” Ali bergumam.

Jika situasinya normal, gurauan Ali itu lucu. Tapi dalam situasi ini, tidak ada yang tertawa.

Aku mencengkeram surai harimau, kembali maju melangkah. Tinggal separuh lagi, dengan bergerak sangat hatihati kami bisa melewati lorong-lorong ini tanpa diketahui tikus mana pun.

Kabar buruknya, setelah persimpangan berikutnya, ada dua tikus sedang menggigit-gigit sesuatu persis di lorong tujuan kami. Dua tikus besar itu asyik sendiri, tidak bergerak pindah di tengah lorong. Kami hanya bisa menatap tikus itu dari persimpangan. Gigi-giginya yang sebesar betis orang dewasa terlihat tajam berkilat di lorong yang remang.

”Kapan mereka akan pergi dari sana?” tanya Seli, setelah kami menunggu lima belas menit dengan tegang.

”Semua tikus senang menggigit-gigit sesuatu, Sel. Itu untuk mengikir gigi mereka yang terus tumbuh. Jika mereka tidak menggigit-gigit sesuatu, gigi mereka akan terus memanjang, menembus kepala mereka. Mereka bisa melakukannya berjam-jam,” Ali menjelaskan.

”Kita tidak bisa menunggu berjam-jam. Apakah ada lorong lain, Ra? Kita memutar?”

”Tidak ada. Inilah satu-satunya lorong yang melintasi dinding bebatuan di atas. Kita tidak bisa memutar.”

”Tapi bagaimana melewati mereka, Ra?” ”Kita menunggu.” Aku mengembuskan napas, berusaha rileks.

Lima belas menit berlalu, dua tikus itu masih asyik di sana. Tidak ada tanda-tanda mereka akan pindah.

”Bagaimana jika di belakang kita muncul tikus lain saat kita menunggu, Ra? Kita harus terus bergerak,” kata Ali.

”Bergerak ke mana?” Aku mulai kesal. ”Di depan ada dua tikus. Kamu mau menghadapi mereka?”

Ali menggaruk rambutnya yang acak-acakan, kembali diam, menunggu.

Masalahnya, Ali benar, lorong-lorong ini tidak pernah sepi, selalu saja ada tikus yang lewat. Jika kami berhenti, kemungkinan ditemukan tikus lain sangat besar. Dari jauh mulai terdengar gemeresik suara tikus, banyak jumlahnya.

”Aku punya ide, Ra,” Ily berbisik. Kami menoleh kepada Ily.

”Aku akan mengalihkan perhatian dua tikus itu. Aku akan memancing mereka ke persimpangan ini, berlari ke lorong lain, dan saat tikus itu mengejarku, kalian bisa meneruskan perjalanan.”

Aku segera menggeleng. ”Kita tidak boleh berpisah!

Apalagi di dalam lorong tikus ini.”

”Tidak ada jalan keluar lain, Ra. Kamu jangan khawatir. Aku hafal lorong yang telah kita lewati. Aku akan berputar, berusaha lolos dari dua tikus ini, kemudian menyusul kalian.”

Ide itu berbahaya. Aku menolaknya. Akan tetapi, suara gemeresik di belakang kami semakin kencang. Ada banyak tikus yang sedang berlari-lari mendekati persimpangan tempat kami menunggu.

”Kita akan terjepit di sini, Ra. Ada tikus yang datang dari belakang dan lorong kanan, dan kita tidak bisa maju. Biarkan aku mengalihkan perhatian dua tikus itu,” Ily mendesak.

Aku menggigit bibir. Kenapa ini jadi menyebalkan sekali?

Sebelum aku memutuskan, Ily sudah menggebah harimaunya. ”Maafkan aku, Kapten.”

Harimau Ily maju ke lorong. Ily memukulkan tongkatnya ke dinding lorong. Suara berdentang terdengar. Dua tikus itu langsung menoleh, melihat Ily di atas harimaunya. Tanpa menunggu, dua tikus itu langsung mengejar dengan suara mencicit, meninggalkan benda keras yang sedang mereka gigit-gigit.

Seli di sebelahku menutup mulut, hampir menjerit melihatnya. Ekor tikus melenting ke sana kemari saat melintasi persimpangan di depan kami. Lorong tujuan kami telah ditinggalkan dua tikus, kosong.

”Ayo, Ra. Kita maju,” Ali berseru.

”Tapi, Ily bagaimana?” aku berkata dengan suara bergetar.

”Ily akan baik-baik saja. Dia akan lolos.” Ali sudah menggebah harimaunya maju.

Aku tidak punya pilihan, di belakang dan lorong kanan kami, gemeresik tikus semakin dekat. Seli juga menyusul. Lepas dari lorong panjang itu, kami sudah berhasil melewati dinding tinggi itu. Di atas kami, tanah setebal sepuluh meter adalah padang sabana sisi lain dinding.

Aku menghentikan harimauku setelah beberapa puluh meter maju. ”Kita menunggu Ily di sini. Jika dia berhasil lolos dari kejaran, dia pasti akan muncul.”

”Kita harus terus bergerak, Ra.” Ali menggeleng.

Aku tidak akan meninggalkan Ily. Aku sudah mengambil keputusan itu. Seharusnya tadi akulah yang mengalihkan perhatian dua tikus, karena aku bisa menghilang. Ily mengambil alih tugas itu itu karena dia merasa bertanggung jawab memastikan kami aman. Bagaimana jika Ily tidak berhasil lolos? Akulah yang paling bersalah. Kami akan menunggu Ily di sini.

”Tikus-tikus itu semakin aktif di lorong, Ra. Mereka seperti mengetahui ada yang tidak beres dengan lorong mereka. Mereka sudah tahu ada yang menyelinap masuk. Kita harus keluar menuju pintu lorong. Setidaknya kita aman menunggu di padang sabana.”

”Kita menunggu di sini, Ali.” ”Ra, Ali...,” Seli berbisik.

Saat kami asyik bertengkar, tanpa kami sadari, seekor tikus besar merangkak mendekat dari depan. Moncongnya terlihat mengerikan, juga gigi-giginya yang tajam. Mata besarnya menatap kami.

Posisi kami telah diketahui. Tikus itu mencicit, memberitahu yang lain. ”LARI!” aku berseru, mencengkeram surai harimau.

Harimau-harimau kami segera berlari kencang. Tikus itu segera mengejar. Lorong-lorong yang kami lewati bergetar oleh kaki-kaki tikus raksasa. Di belakang tikus itu, ikut mengejar empat tikus lainnya, dan masalah kami semakin serius, karena dari depan, ada dua tikus yang berlari melawan arah, bersiap menghadang.

”CEPAT, SELI!” Aku menoleh ke belakang, Seli tertinggal. Kami harus tiba di persimpangan depan, atau kami akan terjepit di lorong ini.

Tikus di belakang kami sudah dekat, juga di depan. Aku memacu harimauku lebih cepat. Saat tikus di depan dan belakang itu meloncat bersamaan, hendak menangkap, kami persis tiba di persimpangan.

”BELOK KIRI!” aku berseru, berbelok tajam, harimauku gesit melakukannya.

Harimau Ali dan Seli ikut berbelok. Hanya sepersekian detik, tikus-tikus itu bertabrakan di persimpangan, berdebam jatuh, membuat debu-debu rontok. Tapi hanya sesaat, tikus-tikus berguling, kembali mengejar dengan marah.

Di depan kami ada lagi persimpangan. ”Belok ke mana, Ra?” Ali bertanya.

Aku menelan ludah. Dalam situasi panik seperti ini, ingatanku atas lorong-lorong tikus menjadi rancu. Aku lupa kami harus belok kiri atau kanan. Di belakang kami ada enam atau tujuh tikus raksasa mengejar. ”Belok kiri!” aku memutuskan.

Tiga harimau berbelok tajam, kaki-kakinya mencengkeram dasar lorong. Kami terus berlari. Tikus-tikus itu ikut berbelok ke kiri. Dua ratus meter berlari di lorong itu, Seli tiba-tiba berseru, ”Lorongnya buntu, Ra!” Tangannya yang menyala terang menyinari ujung lorong. Aku mengeluh tertahan. Aku keliru mengambil persimpangan, seharusnya aku belok kanan.

”Apa yang akan kita lakukan?”

Aku belum tahu. Tikus-tikus itu terus mengejar, dan beberapa meter di depan kami, kami tidak bisa maju lagi. Lorong itu mentok, menahan laju kami.

Napasku menderu kencang. Aku mengangkat tanganku, membalik posisi harimau, bersiap, juga Ali, mencengkeram pemukul kastinya. Kami tidak punya pilihan selain melawan.

Enam tikus mendekat, suara mereka mendecit-decit marah. Taringnya yang sebesar betis terlihat mengilat.

Saat aku bersiap memukul ke depan, memulai pertempuran, Seli punya solusi lebih baik. Entah dari mana Seli memikirkannya, tiba-tiba dia membuat cahaya sarung tangannya menjadi terang berkali-kali lipat, menyilaukan mata, seperti ada lampu sorot.

”Ikuti aku, Ra! Ali!” Seli berseru, dia menggebah harimaunya, belari menuju tikus-tikus itu.

Apa yang akan dilakukan Seli? Kenapa dia malah menyambut tikus-tikus itu? ”Tikus tanah tidak terbiasa dengan cahaya terang. Mereka tidak bisa melihat kita dengan cahaya seterang ini,” Ali yang mengerti rencana Seli menjelaskan, menyusul Seli.

Ali benar. Tikus-tikus mencicit marah, tapi mereka tidak bisa melihat kami. Kaki-kaki pendek mereka juga tidak bisa meraih. Badan mereka terlalu besar untuk melakukan manuver. Tikus ini dirugikan oleh bentuk badan yang terlalu jumbo. Harimau Seli dengan lincah berlari di selasela enam tikus yang buta sejenak, melompati ekor mereka yang panjang. Aku dan Ali menyusul.

Aku mengangkat tanganku, sambil terus berlari, memukul ke atas lorong. Terdengar suara berdentum. Atap lorong ambruk, tanah bertumpuk menutupi lorong. Enam tikus itu mencicit-cicit marah. Penglihatan mereka kembali, tapi gerakan mereka terhenti oleh tumpukan tanah. Itu lebih dari cukup memberi kami waktu meloloskan diri.

Kami tiba lagi di persimpangan semula, aku mengambil arah yang benar.

Hanya saja, semua tikus di lorong itu telah tahu apa yang terjadi. Semua tikus bergerak ke arah keributan. Secepat apa pun kami lari, kami terjepit di persimpangan besar terakhir sebelum keluar. Ada enam lorong bertemu. Dari semua lorong itu, tikus-tikus berlari menuju kami. Entah apa kabar Ily di tengah kekacauan ini. Dia sendirian. Bagaimana kalau Ily tersesat?

”Kita berbelok ke mana, Ra?” Seli memastikan.

Kami masih tertahan di persimpangan. Tikus-tikus itu semakin dekat. Seli bisa saja menggunakan cahaya terang sekali lagi, tapi itu hanya bisa menahan laju tikus beberapa detik. Dengan tikus dari semua arah, kami tidak akan bertahan lama.

”Kita ke lorong yang mana, Ra?” Ali berteriak. Situasi semakin genting.

Saat aku ragu-ragu mengambil keputusan, dari belakang kami muncul Ily. Harimaunya berlari cepat. Astaga! Apa yang Ily lakukan? Harimaunya tidak berlari di lantai lorong, melainkan di dinding lorong.

”Ambil lorong di kanan kalian!” Ily melintas di samping.

Kami menggebah harimau, menyusul Ily yang sudah melesat cepat.

”Suruh harimau kalian berlari di dinding lorong!” Ily berseru.

”Bagaimana melakukannya? Bagaimana jika terjatuh?” Seli ragu-ragu.

”Sepanjang dia berlari cukup cepat, dia bisa melakukannya.”

”Ily benar! Itu teori fisika sederhana. Kita bisa berlari di dinding lorong melengkung sepanjang kecepatannya lebih dari cukup dan bergerak stabil,” Ali berseru semangat. Dia memeluk leher harimaunya, menyuruh harimau itu naik ke dinding lorong. Berhasil! 

Melihat hal itu, aku dan Seli tanpa ragu-ragu juga menyusul. Kami melintasi dengan mudah tikus-tikus yang berlari di lantai lorong. Kaki-kaki tikus itu terlalu kecil, tidak proporsional dengan tubuhnya yang sangat besar. Jadi, meskipun berlari kencang, mereka tidak bisa lari di dinding, dan mereka tidak bisa menghentikan kami. Hanya ekor mereka yang bisa melenting, berusaha menggapai. Tapi itu mudah diatasi. Ily mengacungkan tongkat peraknya. Malam itu banyak sekali ekor tikus yang putus.

Kawanan tikus mencicit marah melihat kami melewati mereka. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya bisa melihat kami melintas di dinding sebelah mereka. Beberapa tikus berhasil memaksakan berdiri, tapi kaki-kaki mereka juga terlalu pendek untuk meraih kami. Aku dan Seli juga terus mengirim pukulan untuk membuat mereka terpelanting, bahkan Ali yang muncul keberaniannya, juga ikut memukul tikus itu dengan pemukul kasti, membuat tikus itu terbalik jatuh ke lantai lorong.

Aku memimpin di depan, kembali ke arah yang tepat, setelah melewati dua persimpangan besar, berbelok dua kali, melintasi lorong terakhir sepanjang dua ratus meter. Kami akhirnya tiba di pintu keluar, muncul kembali di permukaan tanah, yang berada di sisi lain dinding besar. Tikus-tikus berhenti mengejar. Mereka tidak tertarik muncul ke permukaan pada siang hari.

Dinding tinggi bebatuan telah berhasil kami lewati.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊