menu

Bulan Bab 21

Mode Malam
Bab 21
HARIMAU kami berhenti berlari setelah memastikan kami telah pergi jauh. Aku melompat turun dari pelana, dengan napas tersengal oleh perasaan tegang.

Seli masih memeluk harimaunya, sambil berseru-seru bahagia. Mata Seli terlihat berkaca-kaca, menangis. Harimau itu seakan tahu jika tuannya sedang senang. Dia bergerak rebah ke dasar hutan dengan Seli masih memeluknya. Harimau itu menggerung, berguling-guling, bermainmain.

Aku tersenyum melihatnya. Kami dilingkupi kegembiraan berhasil lolos dari jamur beracun, sekaligus bertemu lagi dengan harimau kami. Bahkan Ali ikut mengelus-elus tengkuk harimaunya. Empat harimau kami baik-baik saja. Bulu dan surai mereka terlihat kotor oleh lumpur, tapi mereka tidak terluka, tidak kurang satu apa pun. Harimauku menggerung, menyundulkan kepalanya ke kakiku. Aku mengusap surainya, berbisik, ”Terima kasih.” ”Kita bisa bermalam di sini, Ra.” Ily menatap sekitar. Kami berhenti di tepi parit hutan, sekitar kami kering, tempat yang baik untuk bermalam.

Aku mengangguk. Seli masih asyik bermain dengan harimaunya beberapa saat, bercakap-cakap, seolah hewan di depannya hanya seekor kucing rumahan yang imut menggemaskan.

”Sekali lagi aku bertemu penunggang salamander itu, aku tidak akan bicara sepatah pun. Aku langsung akan memukul mereka dengan pemukul kastiku,” Ali berseru galak.

”Mereka licik sekali. Aku berani bertaruh, merekalah yang mengganggu gorila di hutan, membuat gorila marah dan menyerang siapa pun yang melintas. Kawanan gorila tidak agresif. Mereka tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Juga kejadian di Danau Teluk Jauh. Mereka juga yang membuat penunggang kuda tenggelam. Mereka licik mengganggu gurita itu. Saat gurita menyerang kontingen lain, mereka pergi diam-diam.”

”Ali benar,” Seli sependapat dengan Ali, berdiri, harimaunya masih rebah. ”Mereka juga yang membuka pintu air bendungan raksasa, mengirim air bah untuk kita. Mereka telah melanggar peraturan paling penting kompetisi ini. Larangan menyerang peserta lain. Akan kubalas jika bertemu.”

Aku menghela napas. Aku juga setuju dengan Ali dan Seli. Aku melihat sendiri ketika salah satu penunggang salamander mengirim petir meletupkan jamur-jamur. Tapi kami sedang lelah, ini sudah lewat pukul dua malam, saatnya beristirahat. Ily sudah menyalakan api unggun, meletakkan daun-daun lebar sebagai alas tidur. Tempat bermalam kami telah siap.

”Kamu sudah memecahkan petunjuk ketiga tadi, Ra?” Ily bertanya.

Aku mengangguk. ”Kerlap-kerlip jamur bercahaya menyuruh kita pergi ke barat. Bunga matahari itu akan mekar di tempat sesuatu yang bersinar dalam gelap, sesuatu yang jumlahnya jutaan.”

Ily terlihat semangat. Itu kabar baik ketiga malam ini. Kami berhasil lolos dari lembah jamur, berkumpul lagi dengan harimau, dan sekarang telah sempurna memecahkan tiga petunjuk. Kami tinggal menuju titik terakhir, tempat bunga itu mekar.

”Tapi kita pikirkan hal itu besok pagi-pagi, Ily. Sekarang kita istirahat. Aku lelah sekali, bahkan kakiku terasa berat, nyaris tidak bisa digerakkan.”

Setelah delapan belas jam berjalan kaki, saatnya kami istirahat. Masih ada dua hari lagi sebelum bunga pertama itu mekar. Kami sudah di jalur yang benar.

***

Aku terbangun ketika cahaya matahari pagi melintas di sela-sela pohon, menerpa wajah. Burung pemakan nektar berkicau, hinggap di bunga-bunga liar. Mataku mengerjap-ngerjap, silau.

Empat harimau kami sedang minum air dari parit hutan yang jernih.

Ali masih tertidur. Seli sudah bangun, hampir bersamaan denganku.

”Pagi, Ra,” Ily menyapa. Dia sudah bangun sejak tadi, sedang menyiapkan sarapan.

”Kamu tidak membangunkan kami pukul lima pagi seperti biasanya?”

Ily tersenyum, menggeleng. ”Kalian lelah sekali. Aku tidak tega melakukannya.”

Seli menggerak-gerakkan kaki Ali agar bangun. Yang dibangunkan malah bergumam marah.

”Aku minta maaf jika selama ini terlalu keras pada kalian.” Ily menatapku. ”Aku selalu mendesak, selalu mengingatkan soal jadwal. Aku lupa, kompetisi ini bukan soal menang atau kalah, tapi tentang kita, tim kita, yang saling membantu, saling menolong, dan setia kawan. Kejadian tadi malam, ketika penunggang salamander meletupkan jamur, membuatku berpikir banyak. Dalam situasi tertentu, pola pikirku sama dengan mereka, menganggap kompetisi ini adalah segalanya.”

Aku ikut tersenyum, memperbaiki anak rambut di dahi. Ali di sebelahku bangun, matanya masih menyipit. Seli bangkit, mencuci muka di parit hutan.

”Kalau kamu bicara seperti itu, lama-lama kamu akan mirip Av, Ily.” ”Mirip Av?”

”Yeah, selalu bijaksana dalam setiap kesempatan.” Ily tertawa.

”Kamu mau sarapan?” Ily menunjuk perapian. Dia sedang membakar makanan. Aromanya lezat.

”Itu apa?” Aku menebak-nebak, apakah Ily berburu hewan?

”Ubi liar. Tadi aku sempat berkeliling, menemukan serumpun ubi liar. Tidak beracun, ada kawanan pelanduk yang juga makan ubi ini tadi. Kamu mau ubi bakar?”

”Boleh. Aku minta satu, Ily.” Ali yang baru bangun— yang tidak ditawari—malah maju ke depan, menjulurkan tangan.

Ily tertawa. ”Kamu sebaiknya cuci muka dulu, Ali.”

Pagi itu kami punya menu sarapan baru. Ubi kayu ini lezat. Setelah tidur lelap enam jam, kondisi kami segar, dan perut kami juga penuh.

Setelah sarapan, Seli sempat mencuci bulu dan surai harimau yang terkena lumpur.

”Penunggang salamander itu pasti sudah menuju ke barat sejak tadi malam,” Ali membahas lagi tentang kejadian semalam, saat kami berkemas-kemas, siap melanjutkan perjalanan.

”Jangan cemaskan mereka, Ali,” Ily berkata santai. ”Setidaknya, mereka tidak akan mengganggu kita lagi.”

”Tidak mengganggu apanya? Mereka akan terus berusaha mencelakakan pesaing.” ”Tidak. Mereka sepertinya berpikir tadi malam kita tidak bisa kabur dari padang jamur. Mereka sudah pergi sebelum harimau datang menyelamatkan kita. Mereka tidak tahu kalau kita selamat. Itu akan menjadi keunggulan kita.”

Ali mengangguk, senang dengan hal itu. ”Saat mereka merasa aman, sendirian, tidak punya pesaing lagi, kita bisa memukulnya dari belakang. Bukan begitu, Ily?”

Ily tertawa, tidak berkomentar.

”Menurutmu, Ra, apa sesuatu yang berjumlah jutaan dan bersinar dalam gelap?” Seli bertanya. Dia sudah melompat ke atas punggung harimau. Bulu tebalnya terlihat indah setelah bersih kembali.

”Aku belum tahu. Itu bisa di mana saja di wilayah barat. Tapi kita pasti menemukannya,” aku menjawab yakin. Percaya diriku kembali penuh pagi ini.

”Kalian sudah siap?” Ily memastikan. Kami mengangguk.

Ily memegang surai harimau, memimpin di depan. Harimau kami segera melesat berlari, menuju tujuan terakhir, tempat bunga matahari itu akan mekar.

Hari ketujuh, tinggal dua hari lagi.

***

Suasana riang juga melingkupi empat harimau. Mereka berlari lebih lincah dan lebih cepat, menembus hutan terus menuju barat. Keluar dari hutan dengan dasar berlumut dan penuh jamur itu, kami tiba di padang sabana, padang rumput dengan pepohonan besar di sana-sini. Berbeda dengan padang rumput di wilayah timur yang tingginya sepinggang, bertanah basah dan gembur, padang rumput ini ditumbuhi rumput hanya setinggi betis, bertanah lebih keras.

Dari kejauhan di depan kami terlihat barisan gununggunung terjal, menjadi tepi ujung padang sabana, sedangkan di sebelah kanan dibatasi hutan lebat.

Harimau-harimau kami berlari gagah. Kami memegang surai lebih erat.

Selama perjalanan melintasi padang sabana, kadang terlihat kawanan hewan seperti jerapah, sedang mengunyah dedaunan di atas pohon. Bedanya dengan jerapah di dunia kami, jerapah yang kami lihat memiliki tanduk melingkar. Juga kawanan zebra, berlarian menjauh saat melihat empat harimau salju melintas. Zebra-zebra itu memang berwarna hitam-putih, tapi coraknya bukan garis-garis, melainkan motif silang-menyilang.

Sejauh ini perjalanan kami lancar, tidak ada gangguan hewan buas mana pun. Pukul satu siang kami telah melewati separuh padang sabana. Ily memutuskan berhenti di salah satu oasis yang banyak terdapat di padang sabana. Hewan-hewan liar yang sedang asyik minum di oasis menjauh melihat kami mendekat. Kami membuka bungkus perbekalan, membagi jatah makanan.

”Tidak bisakah kamu mencari ubi liar seperti sarapan tadi pagi, Ily?” Ali mengeluh, melihat bagiannya yang sedikit. Aku menyikut lengan Ali. Ubi liar itu bukan rumput, yang tumbuh di mana-mana. Hanya ini sisa perbekalan dari perkampungan sawah, dan kami harus berhemat, agar perbekalan setidaknya cukup hingga nanti malam.

Kami melanjutkan perjalanan setelah istirahat setengah jam, menuju ke arah barat, ke arah pegunungan terjal yang menjulang kokoh. Semakin dekat, pegunungan itu semakin terlihat jelas, dan itu bukan kabar baik.

Matahari beranjak tumbang di hadapan kami. Warnanya merah, membuat langit yang dipenuhi gumpalan awan tipis terlihat memerah. Sebentar lagi matahari akan tenggelam di balik pegunungan terjal. Ily menggebah harimau lebih cepat. Dia ingin kami tiba sebelum gelap, agar kami bisa tahu seperti apa bentuk pegunungan yang harus kami lewati besok.

Seli dan Ali mengeluh tertahan saat kami akhirnya tiba. Ini di luar dugaan. Kami awalnya mengira pegunungan ini hanya gunung bebatuan yang terjal, curam, tapi tetap bisa didaki. Pengunungan di depan kami lebih mirip dinding raksasa yang terbuat dari batu-batu kokoh. Tidak ada sama sekali pijakan untuk mendaki, dan harimau kami tidak bisa merayap di dindingnya. Tingginya nyaris dua ratus meter, dengan dinding berwarna gelap.

”Apa kita bisa memutarinya, Ra?” Seli memberi usul— usul khas Seli sejak perjalanan ini dimulai, memutar.

”Dinding tinggi ini terbentang dari ujung utara sabana hingga ujung selatan. Butuh sehari-semalam hanya untuk tiba di ujungnya. Bunga matahari itu sudah layu saat kita tiba,” Ily menjelaskan sambil menatap sekitar. ”Kita tidak tahu seberapa tebal dindingnya, mungkin saja ratusan meter. Bentang alam dunia ini amat menakjubkan. Aku tidak pernah menemukan dinding bebatuan seperti ini di Klan Bulan.”

”Aku setuju dinding batu ini keren,” Ali bergumam. ”Tapi dalam situasi ini, aku lebih suka jika dinding ini tidak menghadang perjalanan kita.”

”Atau ada celah yang bisa kita lewati?” Seli memikirkan kemungkinan lain.

”Mungkin saja ada.” Ily mengangguk. ”Kita bisa mencoba memeriksanya.”

Matahari sudah tenggelam di balik dinding di hadapan kami. Sekitar mulai gelap.

”Kita memeriksa ke arah mana, Ra?” Ali menoleh kepadaku.

Aku menggeleng.

”Ayolah, Ra, hanya kamu yang bisa bicara dengan alam liar. Coba kamu bicara dengan dinding ini, agar menunjukkan di mana celah yang bisa kita lewati.”

Seli melotot. ”Kamu jangan bergurau, Ali.”

”Eh, aku serius sekali. Mungkin Raib bisa bicara dengan dinding batu ini.”

”Astaga, Ali. Tidak begitu cara kerjanya. Bukankah Raib sudah pernah bilang, kita tidak berbicara dengan alam liar seperti kita bercakap-cakap langsung. Hei, dinding, apa kabar? Oh, kabarku baik. Kalian mau ke mana? Kami mau lewat, bisa tolong beritahu jalannya?” Seli menirukan percakapan.

Aku sebenarnya hendak tertawa melihat Seli yang kembali bertengkar dengan Ali, tapi dinding ini mengambil separuh semangatku. Aku kira, setelah begitu banyak rintangan tujuh hari terakhir, perjalanan kami akan lebih mudah. Nyatanya tidak, malah semakin rumit. Bagaimana kalau kami tidak menemukan celah untuk lewat? Kami tidak akan tiba tepat waktu. Ini malam kedelapan, tinggal tiga puluh enam jam lagi. Di mana pun berada, bunga itu akan mekar persis saat matahari terbit.

”Baiklah, jika tidak tahu harus menuju ke arah mana, bagaimana kalau kita membagi tim? Dua orang menelusuri dinding ke selatan, dua orang lainnya ke utara.”

Aku menggeleng tegas. ”Tidak, Ali. Itu terlalu berisiko. Jika terjadi sesuatu, kita akan terpisah seperti kejadian air bah. Aku tidak mau satu pun di antara kita terpisah lagi.”

Suasana lengang sejenak, masing-masing berpikir.

”Kita menuju selatan,” Ily akhirnya bersuara, berkata yakin.

”Bagaimana kalau ternyata celah itu ada di dinding bagian utara? Atau kamu sekarang juga bisa bicara dengan dinding, Ily?” Ali menggeleng.

”Aku memang tidak bisa bicara dengan alam liar, Ali. Tapi aku yakin, jika celah itu memang ada, itu akan berada di selatan. Jika kita ke utara, terus hingga ujung dinding ini, itu berarti kita kembali ke arah pegunungan besar berkabut, tempat petunjuk pertama, air terjun itu. Rasa-rasanya kecil sekali kemungkinan kita harus ke utara.”

Kami saling tatap. Argumen Ily masuk akal. Aku mengangguk. ”Kita menuju selatan.”

Kami bersepakat, menggebah harimau. Ali, Seli, dan Ily di belakangku. Kali ini giliranku memimpin rombongan. Empat harimau salju berlari menelusuri dinding.

Mata kami awas menatap ke kanan. Seli menyalakan sarung tangannya, membuat cahaya terang, seperti senter, diarahkan ke dinding. Jika memang ada celah, kami pasti melihatnya.

Malam beranjak matang. Bintang gemintang dan bulan purnama tergantung di atas sana. Padang sabana di sebelah kiri kami gelap sejauh mata memandang. Hanya derik serangga tanah yang terdengar. Hewan-hewan padang beranjak istirahat. Juga burung-burung sabana, mereka tidur berbaris di atas dahan pohon. Satu jam berlalu, hanya dinding kokoh yang terus kami lihat. Jangankan celah, bahkan retak atau guguran batu pun tidak ada. Dinding itu menjulang seperti bayangan raksasa, dengan tinggi dua ratus meter.

Gerakan kami tidak seyakin sebelumnya.

Kami sempat istirahat sebentar, menghabiskan perbekalan, kemudian melanjutkan memeriksa dinding, terus ke selatan. Satu jam berlalu tidak terasa, tetap sia-sia. Kami sudah jauh sekali mengikuti alur dinding, tidak ada celah yang kami bayangkan. ”Seharusnya ada yang membuat tangga ke atas sana.” Ali mengeluh di atas punggung harimaunya, mulai putus asa.

”Tangga buat apa?” Seli bertanya.

”Ya, seperti jembatan penyeberangan di kota kita. Jadi siapa pun yang mau ke sisi dinding satunya, bisa naik tangga, kemudian turun. Sampai,” Ali menjawab sekenanya.

”Tidak ada perkampungan di dekat sini, Ali. Atau mungkin lebih tepatnya, orang-orang tidak mau tinggal di sini. Siapa pula yang mau punya pemandangan dinding tinggi di  depan  rumahnya.  Jadi, ‘jembatan  penyeberangan’  yang kita butuhkan tidak pernah dibangun,” Ily ikut berkomentar, sambil terus memperhatikan dengan saksama dinding di sebelah kanan. Harimau kami tidak mengurangi kecepatan.

Satu jam lagi berlalu sia-sia. Tetap tidak ada celah apa pun. Aku mendongak, menatap posisi bintang. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Mungkin sudah saatnya kami bermalam.

”Bagaimana dengan penunggang salamander? Apakah mereka bisa melewati dinding ini?” Seli bertanya.

”Salamander bisa merayap di dinding. Mereka melewati dinding ini seperti cecak disuruh memanjat tembok, sama sekali tidak ada masalah,” Ali menjawab kesal. ”Ini tidak adil. Hewan tunggangan mereka bisa melakukan banyak hal, seperti berenang dan merayap. Mungkin jika salamander itu bisa terbang, kontingen licik itu tidak perlu lagi susah payah melintasi seluruh negeri.” Kami terdiam memikirkan kalimat Ali, lengang sejenak. ”Jika kita tidak bisa melewati dinding ini, kita tidak akan pernah tiba tepat waktu di tempat bunga itu mekar, Ra,” Ily membuka suara. ”Aku tidak hendak mendesakmu, tapi mungkin sebaiknya kita lanjutkan satu jam lagi hingga tengah malam. Mungkin di menit-menit terakhir kita menemukan celah itu. Jika tetap tidak ada, kita akan ber-

istirahat.”

Baiklah. Kami sudah telanjur menelusuri dinding ini lima jam, tambahkan satu jam lagi mungkin tidak masalah. Kami bosan, kecewa, kesal, dan frustrasi menatap dinding ini. Tapi fisik kami masih segar, karena yang berlari sejak tadi adalah hewan tunggangan. Berbeda sehari sebelumnya, kami yang harus berjalan kaki. Harimau kami juga terlihat baik-baik saja. Aku bisa merasakannya dari surai yang kupegang, harimauku tidak keberatan terus berlari.

Satu jam berlalu, lagi-lagi hanya dinding kokoh yang ada.

Aku memutuskan bermalam. Ily kali ini langsung menyetujuinya.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊