menu

Bulan Bab 20

Mode Malam
Bab 20
DENGAN informasi dari Dena-tara-neda III, kami melanjutkan perjalanan, berjalan kaki.

Perut kami penuh, dan Ily membawa perbekalan makanan yang cukup hingga besok. Jadi kami bisa konsentrasi penuh ke langkah kaki kami. Selepas pematang sawah, kami kembali memasuki hutan. Masih sama, dasar hutan lembap, dipenuhi lumut dan jamur. Ily memimpin di depan, sambil memastikan arah kami benar, terus ke selatan.

”Kira-kira apa yang sedang dilakukan Av dan Miss Selena saat ini, Ra?” Seli memecah lengang. Kami sudah jauh meninggalkan persawahan.

”Mungkin sedang minum teh bersama anggota Konsil,” Ali menjawab, nyengir.

Kami tertawa mendengar celetukan Ali. ”Aku tidak terlalu menyukai anggota Konsil, kecuali Mala-tara-tana II, teman korespondensi Av,” Seli bicara terus terang.

”Bukan hanya kamu, Sel. Sepanjang perjalanan ini, mulai dari perkampungan nelayan hingga persawahan, sepertinya penduduk Klan Matahari juga tidak suka, terutama dengan Ketua Konsil. Tapi itu adil sih,” Ali menanggapi.

”Adil?”

”Iya, adil. Penduduk perkampungan tidak menyukai Konsil, sebaliknya Konsil juga tidak menyukai penduduk perkampungan. Adil, bukan?” Ali menjawab ringan. Kami terus mendaki bukit.

”Sebenarnya apa yang akan Av bicarakan dengan Konsil itu? Diplomasi apa?”

”Mana aku tahu.” Ali mengangkat bahu. ”Aku pikir Av terlalu mengkhawatirkan Tamus bisa lolos dari penjara.”

”Jangan sebut nama orang jahat itu, Ali,” Seli keberatan. ”Kenapa tidak? Si kurus tinggi itu sudah jauh dari kita.

Kalau si Tanpa Mahkota saja tidak bisa lolos dari penjara itu, apalagi dia.”

”Dia membawa buku satunya, pasangan buku PR matematika, Ali. Kalau tahu cara menggunakannya, dia bisa kembali kapan saja.”

”Tidak, Sel. Aduh, sepertinya hanya aku yang memperhatikan hal-hal kecil dalam petualangan ini. Kalian sama seperti pembaca novel yang kadang tidak memperhatikan detail, kemudian protes kenapa begini, kenapa begitu. Bukankah Tamus sendiri yang pernah bilang, Buku Kematian milik Ra isinya tentang kebijaksanaan hidup, mengembalikan yang telah pergi, menyembuhkan yang sakit, menjelaskan yang tidak dipahami. Sedangkan Buku Kematian, yang dibawa Tamus ke penjara, isinya tentang kabar buruk, kemurungan, mengusir, menyakiti, kebalikan buku sebelumnya. Jadi buku itu tidak akan bisa membawa dia kembali. Justru sebaliknya, jika digunakan, Tamus akan semakin jauh dari siapa pun. Hanya buku milik Ra yang bisa melakukannya.”

”Tapi jika begitu, kenapa Av harus cemas? Mendatangi Klan Matahari, mencari sekutu?”

”Itu karena Av memikirkan mungkin masih ada cara lain Tamus dan si Tanpa Mahkota bisa kembali. Av berjaga-jaga. Itu sudah tugasnya. Terus terang, aku sebenarnya lebih mengkhawatirkan Ketua Konsil Klan Matahari daripada Tamus. Tamus sudah tidak bisa ke mana-mana, tapi Ketua Konsil penuh misteri, penuh rencana, dan dia bebas ke mana-mana. Fala-tara-tana IV jelas sekali memiliki ambisi kekuasaan.”

”Bagaimana kamu tahu Ketua Konsil memiliki ambisi?” ”Seli, siapa pun yang sudah berkuasa ratusan tahun, dan masih ingin lagi, mudah disimpulkan dia masih berambisi

mengejar kekuasaan yang lebih besar.”

”Kekuasaan apa? Dia sudah menjadi pemimpin klan ini, kan? Atau dia hendak menguasai dunia paralel lainnya?”

”Mungkin. Tapi dia belum sekuat itu. Jadi, dia masih terus menyusun rencana. Festival Bunga Matahari ini misalnya, mungkin dia sedang mengumpulkan pemenang setiap tahun. Semua kontingen tinggal di Kota Ilios, memperoleh kekayaan dan kekuasan. Mungkin mereka dijadikan pasukan elite yang setia padanya.”

”Aku tidak mau tinggal di sini. Aku tidak suka,” Seli berkata tegas. ”Aku lebih suka kotaku di Bumi. Setelah kompetisi ini aku akan pulang ke kotaku.”

Ali nyengir. ”Hei, Sel, ini kan tanah leluhurmu. Kamu seharusnya menyukainya, bukan?”

Seli tidak menjawab.

Kami terus berjalan menuju selatan, yang semakin sulit. Hutan mulai berbukit-bukit. Kami mendaki, tersengal, berkali-kali mengusap peluh di leher, kemudian menuruni lembah panjang yang licin dan berbahaya. Tidak terhitung berapa kali kami terpeleset jatuh. Pakaian hitam-hitam memang mencegah kami terluka saat menghantam kayu, bebatuan, tapi tetap saja terasa sakit. Ily yang masih kokoh membantu kami berdiri, memastikan kami masih bisa melanjutkan perjalanan.

Kecepatan kami jauh berkurang, sudah hampir dua belas jam kami berjalan kaki. Untuk kami, remaja usia lima belas tahun yang ke mana-mana selalu naik angkutan umum, ini adalah rekor. Akan berbeda jika kami menunggang harimau salju, kami bisa maju dengan cepat. Tapi tidak ada yang mau membahas tentang harimau lagi, khawatir Seli akan kembali sedih. Harimau-harimau salju itu, kami bukan hanya kehilangan hewan tunggangan, tapi juga sahabat perjalanan yang setia.

Hingga matahari terbenam, kami belum menemukan lembah bebatuan. Hutan mulai gelap. Ily terus memaksa maju, tapi aku memutuskan agar istirahat sebentar untuk makan malam, juga meluruskan kaki yang pegal. Kami akhirnya berhenti di sembarang tempat, duduk di atas pohon tumbang. Ily mengeluarkan perbekalan yang diberikan istri tetua kampung. Di sekitar kami dipenuhi banyak jamur, di dasar hutan, di pohon, sepertinya semakin ke selatan, semakin banyak jamur. Tapi sejauh ini tidak ada jamur yang bercahaya.

”Seharusnya kamu tidak perlu memberikan obat penawar racun itu, Ra.” Ali sudah memilih topik percakapan—topik menyebalkan. Kenapa sih si biang kerok ini tidak memilih hal lain saja?

”Lebih baik botol itu dibawa pulang ke kota kita. Dijual akan mahal.” Ali nyengir.

Seli sudah menimpuknya dengan ranting kering, melotot.

”Eh, Sel, aku hanya bergurau.” Ali tertawa. ”Maksudku, jika kita bawa ke kota kita, itu bisa jadi obat hebat, demi menyelamatkan umat manusia. Ada tujuh miliar penduduk Bumi. Di Klan Matahari tidak sampai sepuluh persennya, apalagi persawahan tadi hanya beberapa ratus saja. Kita lebih membutuhkannya. Dan Seli, kenapa pula kamu jadi pemarah begini sejak air bah, dan hari...” ”Obat itu milik Klan Matahari, Ali. Kita tidak bisa membawanya pulang ke Bumi,” aku menjawab tegas, memotong kalimat Ali, mencegahnya mengucapkan kata ”harimau”.

Ali mengangkat bahu, menyadari dia hampir salah bicara. Ali tidak melanjutkan percakapan, kembali konsentrasi ke jatah makan malamnya.

Pukul delapan kami melanjutkan perjalanan. Kami masih berjalan kaki. Medan yang kami lalui semakin sulit, gelap dan licin, kombinasi yang merepotkan. Belum lagi kirikanan jalan kami jurang gelap. Setelah berjalan satu jam, Seli terpeleset lumut. Dia terguling jatuh menuju jurang terjal. Aku berseru panik, juga Ali. Beruntung Ily bergegas mengejarnya, menangkap tangannya sebelum jatuh lebih dalam, menarik Seli kembali ke jalan setapak.

”Kamu baik-baik saja?” aku bertanya khawatir.

Seli meringis. Betisnya menghantam batu lancip. Pakaian hitam-hitamnya memang tidak tergores sedikit pun, tapi Seli tetap kesakitan, berdiri dengan kaki agak terpincang.

”Kamu perlu istirahat, Sel?”

”Kita harus terus, Ra. Fokus,” Ily mengingatkan.

Aku menatap Ily kesal—untuk pertama kalinya. Aku tahu kami harus tiba di lembah kering berbatu itu sebelum tengah malam, tapi sekarang Seli butuh istirahat. Sejak tadi Ily selalu mendesak agar kami terus berjalan. Kami bukan lulusan Akademi Klan Bulan. Kami hanya anak SMA kelas satu di kota kami. Perjalanan hari keenam ini benar-benar menguras fisik dan emosi. Aku mengembuskan napas, berusaha lebih sabar. Cukup Ali dan Seli saja yang bertengkar, tidak perlu ditambahi aku dan Ily.

”Kita istirahat sebentar, Ily,” aku berkata dengan intonasi terkendali.

Ily menatapku, akhirnya mengangguk. ”Baik, kamu kaptennya.”

Aku menyerahkan tabung air kepada Seli. Ily sempat memeriksa betis Seli, lebam biru terlihat di balik pakaian hitam-hitam. Lima belas menit istirahat, Seli berdiri, mencoba berjalan. Rasa sakitnya sudah berkurang. Dia bisa melangkah normal. Kami bisa melanjutkan perjalanan.

Dua jam terus ke arah selatan, tetap tidak ditemukan tanda-tanda lembah kering berbatu itu. Kami memang menemukan lembah, hampir setiap satu jam, karena medan yang kami tempuh naik-turun gunung. Setiap kali selesai mendaki panjang, kami menemukan turunan. Itu pasti lembah, tapi bukan itu yang kami tuju. Berkali-kali kami berharap di balik bukit adalah lembah itu, berkali-kali pula kami kecewa.

”Bukankah Dena-tara-neda III bilang jaraknya tidak jauh? Kenapa kita belum sampai? Ini sudah jauh sekali,” Seli mengeluh. Cahaya dari sarung tangannya yang menerangi jalan redup.

”Itu karena jarak sifatnya relatif, Sel,” Ali menjawab datar, tersengal mendaki bukit. ”Sama dengan waktu yang sifatnya juga relatif.” Aku tahu waktu itu relatif, dalam pelajaran fisika dijelaskan begitu. Meski tidak terlalu suka, aku tahu konsep relativitas waktu. Tapi jarak? Sejak kapan jarak juga relatif? Jelas sekali absolut.

”Menurut penduduk perkampungan yang terbiasa berjalan kaki, jarak sepuluh kilometer itu dekat, Sel. Tapi menurut kita, yang jangankan berjalan kaki sepuluh kilometer, ke mana-mana justru naik angkot, maka jarak sepuluh kilometer itu terasa jauh sekali. Nah, relatif, kan? Dena-tara-neda III berpuluh-puluh tahun mengelilingi kawasan  selatan,  maka  ketika  dia  bilang ‘dekat’,  bagi  kita bisa  saja  artinya ‘amat  sangat  jauh’,” Ali  menjawab  ringan, masih sambil tersengal.

Aku menatap punggung Ali. Aku pikir dia akan menjelaskan secara ilmiah, ternyata hanya bergurau. Atau janganjangan, memang sesederhana itu penjelasan teori ”relativitas jarak”. Ali selalu terlihat main-main setiap menjelaskan sesuatu.

Dua jam lagi kami terus berjalan kaki. Kami sudah melalui empat pendakian panjang, berharap-harap cemas, tiba di atas bukit, ternyata bukan, hanya lembah hutan biasa. Ini sudah hampir tengah malam. Bagaimana jika kami datang terlambat? Atau lebih rumit lagi, bagaimana kalau kami salah jalan?

”Kita sudah di arah yang benar, Ra.” Ily mendongak, memperhatikan posisi bintang saat kami kembali istirahat sebentar. Ali duduk selonjor di dasar hutan, terlihat amat lelah. Seli di sebelahnya, meluruskan kaki. Air minum kami juga habis.

Saat tenaga kami nyaris terkuras, mendaki sebuah tanjakan panjang, aku bahkan sudah tidak lagi berharap di ujung pendakian akan melihat hamparan lembah kering berbatu itu. Akhirnya tempat yang kami tuju ditemukan.

Ily yang lebih dulu tiba di atas sana. Ily berseru riang, memanggil kami agar bergegas. Aku mempercepat langkah, menggunakan sisa tenaga, berdiri di sebelah Ily lima menit kemudian. Di hadapan kami terlihat hamparan kosong. Tidak ada pohon, tidak ada semak belukar, pun rumput tidak tumbuh. Hanya bebatuan kering. Lembah itu tidak seluas padang perdu berduri peternakan lebah Hana, tapi lembah di depan kami tidak bisa dibilang kecil, lebarnya sekitar enam ratus meter, panjangnya delapan ratus meter.

”Mana jamur bercahayanya?” Ali bertanya. Dia akhirnya tiba di puncak bukit bersama Seli.

Tidak ada satu pun cahaya di lembah berbatu ini. Seekor kunang-kunang pun tidak terlihat. Lembah itu gelap.

”Mungkin kita harus lebih dekat,” Seli memberi ide.

Saat itu kami dalam kondisi sangat lelah, baik secara fisik maupun emosi. Tanpa berpikir panjang, bahkan Ily yang biasanya terkendali, selalu berpikir matang, ikut mengangguk. Kami memutuskan menuruni lembah itu. Kami lupa Dena-tara-neda III pernah berpesan bahwa jamur bercahaya bisa meletup jika diinjak, dan asap letupannya bisa membuat buta. Kami terus melangkah menuju tengah lembah, bertanyatanya di mana jamur itu. Ali dan Seli memeriksa bebatuan, tidak ada satu pun jamur itu terlihat.

”Jangan-jangan ada beberapa lembah berbatu, dan yang ini bukan tujuan kita, Ra?” Seli mulai cemas. Sia-sia perjalanan jika lembah ini bukan tujuan kami.

Seli duduk di atas bebatuan, meluruskan kaki, disusul Ali.

Aku dan Ily masih menatap sekitar. Kami sudah berada di tengah-tengah hamparan batu. Jika jamur itu memang ada, seharusnya sudah terlihat sejak tadi. Atau kami masih harus menunggu beberapa saat lagi hingga jamur itu muncul.

Itulah jawabannya. Kami memang harus menunggu. Lima belas menit berlalu, ujung mataku menangkap sesuatu, terlihat titik-titik kecil di sekitar kami, seperti muncul begitu saja dari bebatuan.

”Berdiri, Ali, Seli!” aku berseru.

Titik-titik kecil itu semakin banyak, memenuhi seluruh hamparan bebatuan.

Aku menelan ludah. Ali dan Seli sudah berdiri. Titiktitik kecil itu juga ada di bawah kami. Aku menggeser pijakan, berusaha menghindari titik-titik menyala itu. Ali, Seli, dan Ily juga bergerak, mencari tempat pijakan yang tidak ada titik-titik menyalanya. Kami jadi terpisah satu sama lain.

Saat kami masih saling tatap, belum mengerti apa yang terjadi, titik-titik kecil itu mulai membesar, seperti gumpalan kapas bercahaya yang menggelembung. Lantas lima menit kemudian, gumpalan itu membuka, keluarlah dari dalamnya jamur bercahaya. Bentuknya persis seperti jamur yang kukenal, tapi jamur itu seperti mengandung fosfor atau zat tertentu yang membuatnya bisa mengeluarkan cahaya.

Kami sempurna berada di tengah lautan jamur bercahaya, berdiri di atasnya, tidak bisa bergerak, karena jamur itu tumbuh sangat rapat. Kami cemas menyentuh jamur dan membuatnya meletup.

”Ini indah sekali, Ra,” Seli yang terpisah sepuluh langkah dariku berseru. Wajahnya terlihat riang—meski tidak bisa ke mana-mana.

Ali dan Ily juga asyik menatap sekitar.

Seli benar. Ini indah sekali. Aku belum pernah menyaksikan jamur yang bisa bercahaya. Di sekitar kami, sejauh mata memandang, bebatuan ditumbuhi jamur menyala, ratusan ribu jumlahnya. Jamur-jamur itu bekerlap-kerlip, terang-redup-terang, seperti berirama, mengikuti pola tertentu. Aku menatap tidak berkedip, dan splash, jamur-jamur itu seakan bicara padaku.

”Pergilah ke barat, temukan sesuatu yang bersinar dalam gelap, jutaan jumlahnya. Di sanalah bunga matahari pertama mekar akan ditemukan.”

”Hei, Ra!” Ali berseru. Dia terpisah dua puluh langkah dariku. Aku tergagap, seperti tersadarkan dari sesuatu, menoleh.

”Kamu tidak apa-apa, Ra?” Seli bertanya cemas. ”Aku baik-baik saja. Ada apa?”

”Kamu sejak tadi dipanggil Ali, tetapi tidak menjawab. Kamu hanya termangu menatap lautan jamur,” Seli menjelaskan.

”Kita harus bagaimana sekarang, Ra?” tanya Ali. ”Kita tidak bisa bergerak. Apakah kita harus menunggu sampai matahari terbit? Hingga jamur-jamur ini layu sendiri?”

Itu masalah baru bagi kami. Ali benar. Kami bahkan duduk pun tidak bisa. Tapi menunggu sampai pagi sambil berdiri, itu bukan perkara mudah. Matahari baru terbit enam jam lagi. Kami lelah. Kami tidak bisa berdiri selama itu.

Lima belas menit, kami masih terkunci di padang jamur bercahaya. Aku mengeluh. Aku mungkin bisa menghilang dan muncul di manalah, tapi aku tidak bisa memastikan kakiku akan menginjak jamur saat muncul. Bagaimana jika aku menginjaknya? Jamur itu akan memicu letupan beruntun, jamur-jamur lain akan meletup, membuat lembah dipenuhi asap. Jarak tepi lembah dari kami ratusan meter lebih. Aku hanya bisa berpindah menghilang paling jauh lima puluh meter. Butuh setidaknya tiga-empat kali hingga tiba di luar padang jamur bercahaya.

”Bagaimana, Ra?” Seli bertanya. Kakinya mulai kebas berdiri. Lima belas menit lagi berlalu. Masalah yang benar-benar serius muncul di depan kami. Saat kami masih berpikir keras, terlihat ada sesuatu yang bergerak di puncak bukit. Dari balik pepohonan aku bisa melihat para penunggang salamander datang. Mereka memperhatikan kami dari kejauhan.

”Apakah mereka akan menolong kita?” Seli berharap.

Bukan pertolongan yang diberikan kontingen itu, entah apa yang mereka pikirkan. Salah satu dari mereka mengirim petir ke arah jamur-jamur bercahaya. Kilau terang menghantam sebuah jamur. Itu lebih dari cukup, jamur itu meletup, dan seketika memicu rantai letupan jamur lainnya, yang segera menjalar ke tengah lembah.

Aku berseru, tidak percaya dengan yang kulihat.

Ali, lebih-lebih. ”Hei! Hei! Apa yang kalian lakukan?” Wajah Ily terlihat tegang.

Seli berteriak panik, ”Apa yang harus kita lakukan, Ra?” Apa yang harus kami lakukan? Kami tidak bisa bergerak. Sekali kaki kami melangkah mengenai jamur, sekitar kami akan meletup. Tapi jika kami tidak bergerak lari, letupan jamur terus turun dari atas lembah, menuju kami. Sementara empat penunggang salamander itu balik kanan, menghilang dari pepohonan gelap, meninggalkan kami yang ter-

kepung ledakan jamur bercahaya.

Aku mengepalkan tangan. Ini situasi yang sulit sekali.

Seli berteriak semakin kencang. Ily menyuruhnya agar tenang atau Seli akan membuat jamur di sekitar kaki kami meletup tidak sengaja. Tapi bagaimana Seli akan tenang? Bergerak atau diam, hasilnya sama saja. Aku menggigit bibir. Mungkin aku bisa mengambil risiko, menghilang, menyambar Seli, kemudian pergi ke tepi lembah. Bagaimana dengan Ali dan Ily? Aku tidak bisa membawa mereka sekaligus.

Saat itulah, ketika kami benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, dari sebelah kanan terdengar auman kencang, seperti merobek langit malam.

Belum habis suara itu, lompat dengan gagahnya, keluar dari balik pepohonan gelap, empat harimau salju kami. Mereka seperti terbang. Kaki-kaki mereka menghantam jamur, yang langsung meletup mengeluarkan asap, tapi hewan tunggangan kami tidak berhenti, berlari semakin cepat terus ke tengah. Gerakan kaki mereka lebih cepat dibanding letupan jamur. Bulu-bulu tebal serta mata mereka kebal dengan asap itu.

Harimau itu datang menyelamatkan kami.

”Lompat ke atas harimau!” Ily berseru, tahu apa yang sedang dilakukan harimau salju.

Aku, Seli, dan Ali mengangguk. Persis harimau-harimau kami tiba, menjemput tuannya, aku menyambar pelana, langsung meloncat. Cepat sekali, harimau itu bahkan tidak berhenti sedetik pun, terus berlari. Ily, Ali, dan Seli juga cepat menyambar pelana, melompat ke punggung harimau salju.

Empat harimau putih berlari meninggalkan padang jamur bercahaya. Di belakang kami jamur-jamur itu meletup seperti mengejar, tapi kami lebih cepat. Hanya dalam hitungan detik, kami sudah meninggalkan lembah kering berbatu yang sekarang dipenuhi asap tebal, gelap. Tidak ada lagi cahaya kerlap-kerlip di atasnya.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊