menu

Bulan Bab 19

Mode Malam
Bab 19
PAKAIAN hitam-hitam yang kami kenakan kering dengan cepat.

Seli masih lebih banyak diam, tapi dia bisa berjalan dengan cepat. Ali yang dulu sewaktu di Klan Bulan selalu mengeluh disuruh berjalan kaki, sekarang juga bisa berjalan lebih mantap.

Setidaknya ada satu keuntungan dari air bah tadi: kami terseret cepat puluhan kilometer ke arah selatan. Jadi, kami sudah menghemat perjalanan.

Cahaya matahari pagi mulai menerpa pucuk-pucuk hutan, menyinari air sungai yang masih terlihat keruh. Dasar hutan terlihat lembap, dipenuhi lumut dan jamur. Gerakan kami dibantu banyak oleh sepatu buatan Ilo. Langkah kami terasa lebih ringan.

”Jika bertemu lagi dengan Ilo, aku akan mengusulkan agar dia memasang roket mini di sepatu ini,” Ali menceletuk, memecah keheningan pagi.

Dari tadi kami hanya berjalan diam, masih memikirkan harimau-harimau itu.

”Buat apa?” aku bertanya. Seli masih enggan bercakapcakap.

”Agar kita bisa terbang, Ra.” Ali nyengir. Aku tertawa. Mungkin itu ide bagus.

”Ayahku pernah bilang, dia memperoleh banyak inspirasi dari kedatangan kalian. Tren fashion yang dia buat sekarang diberi nama BUMI. Aku yakin, jika kalian bertemu lagi, dia akan senang mendengarkan ide-idemu, Ali,” Ily ikut bercakap-cakap, mengusir bosan terus berjalan kaki.

”Nah. Itu permulaan yang baik. Sepertinya aku besok lusa juga bisa jadi desainer di Klan Bulan.” Ali terlihat riang.

Aku kembali tertawa. Ali jadi desainer? Dia berkali-kali dihukum guru di sekolah karena pakaian tidak rapi, baju dikeluarkan, tidak memakai lambang sekolah, logo OSIS, nama, dan sebagainya.

”Hei, Ra! Di mana-mana desainer itu memang eksentrik. Mereka kreatif, jadi wajar tidak rapi,” Ali membela diri, seperti tahu kenapa aku tertawa.

Matahari semakin tinggi. Kami sudah berjalan kaki lebih dari dua jam tanpa henti. Aku memutuskan berhenti sebentar, meluruskan kaki. Ali mengeluarkan isi ransel, mencoba mengeringkan benda-benda di dalamnya. Aku juga melakukan hal yang sama, memeriksa buku PR matematikaku. Buku itu tetap kering, seperti tidak ada air yang habis menyentuhnya—padahal tabung minuman, kain dari Hana, dan benda lain yang kubawa basah kuyup.

Ily menatap peralatan yang dikeluarkan Ali dari ranselnya. Terhampar di depan Ali lima atau enam alat-alat kecil. Pemiliknya sedang mengeluh, khawatir alat-alatnya rusak.

Aku tahu maksud tatapan Ily. ”Dia memang suka membuat gadget-gadget kecil.”

”Ini apa, Ali?” Ily bertanya.

”Yang itu untuk mendeteksi jika ada manusia Klan Bulan yang mengintai di dekat kita. Aku tidak ingin ada yang mengendap-endap seperti Tamus dulu. Yang satunya lagi penangkal petir. Jika alat ini sudah sempurna, tidak ada manusia Klan Matahari yang bisa menyambarku dengan petir. Juga yang ini, untuk mengetahui posisi kita berada di mana, seperti GPS. Nah, yang satunya masih dalam percobaan, alat antigravitasi terbaruku. Aku masih harus menemukan rumus persamaan alat itu,” Ali menjelaskan selintas lalu, mengibaskan alatnya agar air keluar.

”Tapi ini semua untuk apa?”

”Hei, aku yang paling lemah di antara kalian. Aku tidak bisa menghilang atau mengeluarkan petir. Aku harus berjaga-jaga. Lagi pula, benda-benda ini pasti berguna, meski ada yang bahkan membantu pun tidak mau saat aku ingin melakukan uji coba,” Ali mengomel.

Aku tertawa, sambil memasukkan kembali peralatanku ke dalam ransel. Aku tahu maksud kalimat Ali. Dia menyindirku.

”Kita sama sekali tidak punya makanan, Ra,” Ily berkata padaku setelah Ali juga memasukkan alat-alatnya ke dalam ransel. Perbekalan yang diberikan penduduk perkampungan nelayan hilang, terseret air bah. Kami sejak tadi belum sarapan.

”Aku tidak lapar,” Seli berkata pelan. Itu kalimat pertamanya.

Sebenarnya aku juga tidak lapar. Dalam situasi ini, aku masih sedih kehilangan harimau. Selera makanku berkurang drastis. Tapi kami tetap harus makan. Tubuh kami memerlukannya agar kuat berjalan kaki. Mencari makanan cepat atau lambat akan menjadi prioritas penting.

Satu jam melanjutkan perjalanan, sungai yang kami ikuti sejak kemarin ternyata berbelok ke timur. Kami menatap permukaan air sungai, berpisah dengan sungai itu. Kami terus berjalan menuju selatan. Di sekitar kami masih hutan berbukit. Sesekali sambil berjalan, Ily mencari buah yang bisa dimakan. Nihil, Ily selalu kembali dengan tangan kosong.

Kami terus berjalan kaki hingga matahari berada di atas kepala. Kami sudah melewatkan sarapan, sepertinya juga harus melewatkan makan siang. Aku berusaha membujuk kakiku agar semangat melangkah dengan perut kosong. Kabar baiknya, air minum bisa ditemukan dengan mudah. Ada banyak parit hutan yang berisi air jernih dan bisa diminum. ”Ada pohon kelapa, Ra.” Ily tiba-tiba berhenti.

Pohon apa? Aku ikut berhenti di belakang Ily. Sejak tadi konsentrasiku menurun. Berjalan kaki lebih dari delapan jam, meski dengan sepatu buatan Ilo, tetap saja sangat melelahkan.

”Pohon kelapa! Lihat!” Ily menunjuk. Pohon kelapa tinggi itu berbuah lebat.

”Kamu ingin agar aku merontokkan buahnya?” aku bertanya kepada Ily.

”Bukan itu maksudku.” Ily tersenyum—hanya Ily yang fisiknya masih kokoh. ”Kita berada di tengah daratan, bukan di pantai yang lazim ditumbuhi pohon kelapa. Di daratan yang jauh dari laut, setiap kali ada pohon kelapa, itu berarti kita tidak jauh dari perkampungan penduduk.”

”Kamu serius?”

”Iya. Aku tahu soal itu di Akademi, pelajaran bertahan hidup di alam liar. Ayo, kita sudah dekat dengan perkampungan. Mungkin kita bisa menemukan makanan di sana.”

Itu kabar baik sejak kejadian air bah. Semangatku kembali. Apakah itu kampung nelayan? Atau peternakan? Atau malah kota kecil seperti kota di dekat Danau Teluk Jauh, yang punya restoran untuk umum—kami membawa sekantong uang Klan Matahari, hadiah dari perkampungan nelayan. Kami bisa membeli makanan.

Ily memimpin di depan. Dia mengikuti pohon kelapa berikutnya, yang semakin banyak tumbuh. Kami sepertinya sudah hampir tiba di tepi hutan. Di depan kami semak belukar dan pohon semakin renggang, hamparan terbuka terlihat dari kejauhan.

Persis di tepi hutan, saat kami melangkah keluar, menatap ke depan, aku akhirnya tahu itu hamparan persawahan yang membentang luas. Aku menelan ludah. Dengan segala kemajuan teknologinya, Klan Matahari ternyata memiliki persawahan seperti di dunia kami. Tanaman padi (jika itu memang padi) terlihat menghijau. Persawahan terbagi menjadi ratusan petak, terasering, berundak-undak. Persis di tengah persawahan luas itu terlihat perkampungan penduduk. Dari atap rumah-rumahnya mengepul asap, pertanda ada yang sedang memasak di dapur. Hamparan sawah ini terlihat indah.

Kami berempat saling tatap. Ali terlihat nyengir lebar. Tidak apalah meski bukan kota kecil dengan restoran, perkampungan di depan lebih dari cukup. Seli yang masih sedih tersenyum, meski masih tipis, ikut senang setelah berjalan kaki lama. Kami menemukan permukiman penduduk. Ily berjalan lebih dulu melewati pematang sawah. Kami mengiringinya, berbaris.

Beberapa penduduk yang sedang menyiangi rumput liar di sawah berhenti bekerja. Mereka berdiri, menatap kami. Anak-anak di perkampungan, yang asyik bermain saling berkejaran, saat melihat kami, juga berhenti bermain. Penampilan kami sangat mencolok dengan pakaian hitamhitam, sementara orang lain mengenakan pakain cerah warna-warni, dengan topi lebar melindungi wajah dari sengatan matahari saat bekerja di sawah.

Kami tiba di perkampungan disambut keramaian. Anakanak mengerubuti dan menyapa kami. Orangtua berusaha mengendalikan anak-anaknya, berseru agar jangan dekatdekat dengan orang asing.

”Kalian siapa? Dari mana?” Tetua kampung menemui kami. Tetua mengenakan kain selempang berwarna kuning dan topi kerucut berwarna hijau, selebihnya warna-warni cerah.

Aku memutuskan menjawab terus terang pada kesempatan pertama—meski dua hari lalu Mena-tara-nata II, sang pemburu, mengingatkan kami agar tidak terlalu mencolok di perkampungan, bisa mengundang masalah.

”Kami peserta Festival Bunga Matahari,” Seli menerjemahkan jawabanku.

Pecah sudah keributan di perkampungan itu. Reaksi yang tidak kubayangkan sama sekali.

Orang dewasa berseru-seru. Wajah mereka terlihat marah. Anak-anak melangkah mundur, bersembunyi di belakang orangtua mereka.

”Ada apa, Sel?” Ali yang tidak mengerti bahasa Klan Matahari bertanya. ”Apa mereka meminta kita bermain tebak-tebakan juga agar mengizinkan kita singgah?”

Seli menghela napas, menggeleng. ”Mereka tidak menyukai kita. Mereka berteriak-teriak mengusir kita. Mereka bilang kita akan membawa masalah besar.” Tetua kampung mengangkat tangannya. Teriakan penduduk terhenti.

”Kalian tidak diterima di sini. Segera tinggalkan perkampungan damai kami.”

Aku menggigit bibir mendengar terjemahan kalimat itu dari Seli.

”Kami hanya ingin membeli makanan. Perbekalan kami hilang. Kami tidak bermaksud jahat,” Seli menerjemahkan kalimatku.

”Tidak bisa. Kami tidak mau berurusan dengan festival, juga dengan orang-orang Kota Ilios.” Tetua menggeleng tegas.

”Ayolah, kami hanya ingin membeli makanan. Kami membutuhkannya untuk melanjutkan perjalanan. Kami akan pergi setelah itu,” Seli kali ini bicara langsung tanpa menunggu jawabanku. Seli mengeluarkan butir uang Klan Matahari.

Tetua menggeleng tegas. Beberapa orang dewasa bahkan maju ke depan, mengancam kami agar segera meninggalkan perkampungan mereka, atau mereka akan mengusir paksa. Kami berempat saling tatap. ”Bagaimana ini?” Seli ber-

tanya cemas.

”Orang-orang di klan ini kenapa sama sekali tidak ramah? Kita datang baik-baik, mereka malah marah-marah,” Ali mendengus kesal. ”Atau kita ambil paksa saja makanan dari dapur mereka, Ra?”

Usul Ali tidak masuk akal. Kami tidak akan mencuri. Entah apa pasalnya, penduduk persawahan ini menganggap kami akan membawa masalah. Di hadapan kami, satu-dua laki-laki dewasa meraih peralatan kerja, mulai mempersenjatai diri. Demi melihat itu, aku mengembuskan napas. Baiklah, kami tidak bisa memaksa. Jika tuan rumah tidak bersedia, kami lebih baik pergi. Aku balik kanan, meninggalkan perkampungan itu, disusul Seli, Ali, dan Ily.

Orang-orang di perkampungan bersorak-sorai senang melihat kami pergi. Kami kembali berjalan melewati pematang.

”Bisa kamu jaili beberapa dari mereka dari jarak jauh, Sel? Menggunakan sarung tanganmu? Terutama yang tertawa-tawa itu,” Ali bersungut-sungut tidak terima, masih menoleh ke belakang.

Seli menggeleng tidak mau.

”Ayolah, Sel. Mereka tega sekali mengusir kita tanpa penjelasan. Memangnya kita terlihat seram seperti gorila, atau menakutkan seperti gurita raksasa? Kita lebih mirip burung-burung pipit kecil yang lucu itu, tapi kita dalam versi berhati baik,” Ali masih mengomel.

Seli tidak menanggapi, juga aku dan Ily. Kami terus melangkah di pematang sawah, kembali melanjutkan perjalanan.

Tapi belum jauh kami pergi, terjadi sesuatu di salah satu petak sawah. Terdengar jeritan pilu, tidak jauh dari kami. Beberapa wanita yang sedang menyiangi rumput liar berseru-seru panik, lari ke atas pematang. Ada apa? Kami menoleh kepada Seli—yang mengerti bahasa Klan Matahari.

”Mereka meneriaki kita lagi, Sel?” Ali bertanya.

Seli menggeleng. ”Mereka berteriak, ada ular! Ular!”

Beberapa laki-laki dewasa dari perkampungan berlarian menuju petak sawah, sebagian membawa galah panjang, mengusir ular itu. Sebagian lagi bergegas menggendong seorang pekerja di sawah yang sepertinya telah digigit ular itu. Korban gigitan ular segera dibawa ke perkampungan.

Mereka berseru-seru panik.

”Ayo kita pergi! Itu bukan urusan kita,” Ali mendengus, melangkahkan kakinya.

Aku tetap berdiri di pematang sawah.

”Ayolah, Ra. Tinggalkan saja. Mungkin itu balasan atas ’keramahtamahan’  mereka.  Dibayar  lunas  oleh  alam  liar yang bisa bicara denganmu,” Ali berseru. Dia sudah sepuluh langkah menjauh.

Aku menggeleng. ”Mereka butuh bantuan, Ali.” ”Bagaimana kamu akan membantunya? Kita bukan Av,

yang bisa menyembuhkan orang lain.” Ali mengangkat bahu, tidak peduli.

”Kita memang bukan Av. Tapi kita punya obat penawar racun terbaik dari Mena-tara-nata II.” Aku mengeluarkan botol dari saku.

”Tetap saja. Aku tidak mau menolong mereka.” Ali meneruskan langkah.

”ALI!” Seli berseru kesal. ”Kenapa? Mereka pantas mendapatkannya.” Ali menoleh.

Wajahnya kesal.

”Kita kembali ke sana, dan kamu ikut! Atau kulempar kamu dari pematang ke kubangan sawah.” Seli melotot, mengangkat tangannya. Ali dan Seli jadi bertengkar garagara kejadian ini.

Aku mengabaikan pertengkaran Ali dan Seli. Aku sudah berlari ke perkampungan itu lagi. Ily menyusul di belakangku.

Pekerja yang digigit ular berbisa adalah putri satu-satunya tetua kampung, usianya tiga puluhan. Dia ditidurkan di salah satu balai-balai bambu. Orang-orang mengerumuninya dengan wajah cemas. Salah satu tabib perkampungan, ibu-ibu tua dengan rambut memutih berusaha memberikan pertolongan. Lima menit dia berusaha, akhirnya menggeleng, menyerah.

”Ularnya sangat berbisa. Racunnya cepat sekali menyebar ke seluruh tubuh,” tabib itu menjelaskan.

Tetua kampung pucat, berseru dengan suara bergetar. ”Kau harus menyelamatkan putriku!”

”Aku tidak punya penawarnya. Racunnya kuat sekali. Obat yang kumiliki tidak akan membantu.” Tabib menghela napas prihatin.

Kami tiba di kerumunan saat putri tetua kampung mulai kejang-kejang, dari mulutnya keluar busa. Penduduk berseru jeri. Mereka tidak menyadari kami menyibak kerumunan. Aku mendekat ke balai-balai bambu, segera membuka tutup botol. Aku harus menolongnya, tidak bisa ditunda lagi, atau akan terlambat.

”Hei! Apa yang kalian lakukan!” Akhirnya salah satu penduduk menyadari keberadaan kami, menyambar potongan kayu, hendak memukul. Perkampungan itu kembali riuh rendah oleh seruan marah.

”Mereka kembali lagi! Mereka hendak berbuat jahat!

Usir mereka!”

”Lihat! Gara-gara mereka, putri Tetua digigit ular. Ini pasti malapetaka yang dibawa orang-orang Kota Ilios! Mereka selalu membawa masalah.”

Aku menelan ludah. Aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Aku mengeluh, seharusnya Seli ikut denganku, membantu menjelaskan bahwa kami justru kembali hendak menolong. Lihatlah, di atas pematang, Seli malah bertengkar dengan Ali. Di sini ribut berteriak-teriak, di pematang sawah juga ribut bertengkar. Situasi ini kenapa rumit sekali?

”Usir mereka! Usir!” Dua orang dewasa sudah menarik paksa Ily. Dua yang lain bersiap memukulku yang sedang jongkok di depan balai-balai bambu.

”Tahan pukulan kalian!” ibu-ibu tua dengan rambut memutih, tabib perkampungan, berseru tegas.

Aku menoleh kepada tabib itu. Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Jangan-jangan malah menyuruh agar bergegas memukulku. Tabib itu meraih lembut botol obat dari tanganku, memeriksanya dengan cepat. ”Ini menakjubkan. Sangat menakjubkan. Bagaimana caranya kamu memiliki ekstrak jamur langka ini, Nak?”

Aku bingung harus bilang apa, tidak mengerti. ”Ambilkan air! Segera!” tabib itu berseru.

Salah seorang penduduk menyerahkan gelas kaleng berisi air. Seruan marah dan teriakan-teriakan terhenti sejenak, dan mereka kembali memperhatikan balai-balai bambu.

Setelah tabib menuangkan setetes cairan biru ke dalam gelas, terdengar suara seperti sebongkah es dingin dicemplungkan ke dalam cairan panas, mendesis. Dia menyuruh seseorang menegakkan tubuh putri tetua kampung yang sudah terkulai lemas. Tabib lantas beranjak membuka mulut korban gigitan ular, memasukkan campuran obat dan air, mengurut lehernya, dan air itu tertelan.

”Dia tidak berniat jahat! Dia kembali hanya untuk mengobati putrimu.” Tabib menghela napas lega, berseru kepada tetua kampung.

Gerakan orang yang masih hendak menyerangku terhenti. Mereka menurunkan kayu-kayu. Juga yang memegang Ily, mereka melepaskan pegangannya.

”Putrimu akan selamat. Anak ini memiliki obat penawar racun terbaik yang pernah kulihat.” Tabib menepuk bahu tetua kampung.

”Terima kasih, Nak.” Tabib menyerahkan kembali botol kecil itu kepadaku. Aku menerimanya, tetap bingung harus bilang apa. Seli! Seharusnya dia ada di sini, bukan malah adu mulut dengan Ali di pematang sawah.

***

Kejadian cepat itu mengubah situasi—meski tidak banyak. Putri tetua kampung membaik setengah jam kemudian.

Tubuh dan bibirnya yang biru berangsur normal. Dia kembali sadar, disambut tepuk tangan orang-orang yang berkerumun. Dua anaknya yang masih balita memeluk ibunya yang siuman. Juga tetua kampung, ayahnya, berseru penuh syukur berkali-kali.

”Kalian dari mana saja? Aku membutuhkan kalian di sini.” Aku mendelik ke arah Ali dan Seli yang akhirnya ikut bergabung denganku dan Ily.

Seli menunjuk si biang kerok sumber masalahnya. Ali balas melotot, menyalahkan Seli. Tetapi setidaknya mereka berdua tidak melanjutkan pertengkaran saat tahu aku sudah berhasil membantu korban gigitan ular berbisa.

Penduduk perkampungan tetap ingin mengusir kami. Mereka tidak peduli kalau kami baru saja menolong salah satu penduduk mereka. Tetapi tetua kampung, setelah didesak tabib, juga putrinya yang kami selamatkan, akhirnya memutuskan kami bisa singgah sebentar. Itu pun hanya di rumah tabib, selama satu jam, tidak lebih. Tabib akan menyediakan makanan untuk kami. Aku menghela napas lega. Itu lebih dari cukup.

”Siapa pula yang mau berlama-lama di perkampungan tidak ramah seperti ini. Mereka ge-er sekali,” Ali mendengus saat tahu kesepakatan tersebut.

Aku sebenarnya hendak tertawa melihat wajah kesal Ali. Tapi urung, nanti penduduk perkampungan salah paham, menyangka aku menertawakan mereka.

Tabib tersenyum kepada kami. ”Mari, anak-anak, kalian bisa ikut ke rumahku.” Dan di bawah tatapan penduduk yang masih masygul, tidak terima, kami melangkah mengikuti tabib.

”Namaku Dena-tara-neda III. Kalian bisa memanggilku Dena. Kerabat dekat, sahabat baik, atau orang yang kita hormati selalu bisa memanggil dengan nama pendek. Aku sangat menghormati keputusan kalian tadi untuk membantu,” tabib tua itu memperkenalkan diri setiba di rumahnya. Bau obat-obatan tercium di sekitar kami. Ada banyak tumbuh-tumbuhan, terutama jamur yang disusun rapi di lemari terbuka, juga alat penumbuk obat.

”Aku minta maaf atas sikap penduduk, tapi itu ada penjelasannya, Nak. Ah iya, kalian harus segera makan, akan kusiapkan. Kita bisa bicara sambil makan.”

Tubuh tua itu cekatan menghidangkan makanan di atas piring-piring. Aku menghela napas lega menatap meja. Menu makanannya sama persis seperti yang sering dihidangkan di rumah, nasi. Ali, yang sepertinya berhasil melupakan marahnya sejenak kepada penduduk, berbisik padaku, ”Ra, jauh sekali kita pergi ke dunia paralel hanya untuk makan nasi.” Aku nyengir, mengangguk. Setelah rasa sedih kehilangan harimau, selera makan kami pulih. Seli yang sejak pagi tidak lapar juga makan dengan lahap.

”Kenapa penduduk sini marah sekali saat mengetahui kami peserta festival?” aku bertanya, memecah keasyikan makan.

”Itu sederhana penyebabnya, Nak. Tapi penduduk kampung tidak bisa melupakannya.”

Aku menatap Dena-tara-neda III. ”Apa penyebabnya?” ”Itu karena sepuluh tahun lalu, bunga pertama itu mekar

persis di persawahan kami.”

Tanganku yang menyuap makanan terhenti. ”Sungguh?” Dena tertawa, mengangguk. ”Bunga matahari pertama mekar itu bisa ada di mana saja. Kita tidak pernah tahu. Tidak ada yang bisa menebaknya, Nak. Sepuluh tahun lalu, tumbuhan itu persis mekar pada pagi hari, saat matahari terbit, di sawah kami. Kontingen yang menunggang banteng yang pertama kali menemukannya. Kami bahkan masih sibuk di rumah masing-masing. Aku masih asyik menumbuk obat-obatan. Saat kami tahu, semua penduduk beramai-ramai ke petak sawah ingin menonton. Bunga itu indah sekali, berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi. Aku tidak akan pernah melupakan betapa memesona bentuk-

nya.

”Beberapa menit kemudian, sebuah kapsul terbang datang ke persawahan. Ketua dan anggota Konsil turun dari kapsul, lantas para penunggang banteng mencabut bunga tersebut, kembali ke Kota Ilios. Fakta bahwa bunga pertama itu mekar di sawah kami membuat kami sangat bangga. Negeri ini luas sekali, tapi bunga itu memilih mekar di sawah kami. Itu kabar baik.

”Hingga masalah baru datang, entah dari mana datangnya. Beberapa hari kemudian, puluhan kapsul terbang datang ke perkampungan ini, memenuhi langit-langit persawahan. Kapsul itu sembarangan mendarat di sawah kami. Mereka adalah turis dari Kota Ilios dan kota-kota besar seluruh negeri.

”Jumlah mereka banyak, semakin hari semakin bertambah. Siang-malam, tidak kenal waktu, hilir-mudik. Sebagian dari mereka hanya ingin melihat lokasi, sebagian lagi membawa segenggam tanah dari sawah kami, seperti suvenir. Negeri ini sudah lama sekali mengalami ketimpangan. Orang-orang yang tinggal di kota memiliki pengetahuan dan teknologi maju, sedangkan kami masih hidup dengan cara lama. Mereka tidak pernah menghormati penduduk perkampungan, menganggap kami terbelakang. Mereka tidak peduli jika kedatangan mereka mengganggu. Berbulan-bulan sawah kami rusak, berbulan-bulan kehidupan kami terganggu. Kebanggaan bahwa bunga itu tumbuh di sawah kami langsung musnah, digantikan kebencian.

”Itulah kenapa saat melihat kalian datang, mengaku peserta kompetisi Festival Bunga Matahari, penduduk langsung berseru-seru marah. Rasa-rasanya baru kemarin sore peristiwa itu terjadi. Kami butuh bertahun-tahun mengembalikan persawahan ini menjadi seperti sedia kala. Sederhana sekali bukan penyebabnya?”

Aku mengangguk perlahan, kembali menyendok makanan.

”Omong-omong, sejak tadi aku tidak melihat hewan tunggangan kalian.” Dena-tara-neda III bertanya.

Seli terdiam, wajahnya sejenak suram. Dia tidak semangat menerjemahkan percakapan.

”Aku ikut sedih mendengarnya, Nak. Tanpa hewan tunggangan, kalian akan mengalami kesulitan besar mengelilingi seluruh negeri.” Dena-tara-neda III menatap kami prihatin, setelah Seli menjelaskan apa yang terjadi dengan harimau kami.

Meja lengang sejenak. Kami menghabiskan makanan di atas piring.

”Bagaimana kalian memperoleh obat penawar racun tadi? Apakah kalian membuatnya sendiri?” Dena-tara-neda III memecah suasana kaku, bertanya lagi.

Aku menggeleng. ”Seorang pemburu memberikannya sebagai hadiah.”

”Jika demikian, itu hadiah yang amat spesial. Obat penawar itu dibuat dari esktrak jamur langka. Menemukan satu jamurnya saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Kamu butuh puluhan jamur untuk membuat cairan sebanyak itu. Belum lagi kesulitan dan kesabaran saat mengambil cairan dari jamur. Itu tidak mudah. Aku tahu sekali soal jamur, karena setiap hari aku membuat obat-obatan dari jamur.”

Aku mengangguk, sekitar ruangan kami menunjukkan hal itu. Rumah Dena-tara-neda III dipenuhi koleksi jamur kering.

”Aku sudah hampir lima puluh tahun menjadi tabib. Di persawahan kami ada banyak hewan berbisa. Satu-dua bisa diobati dengan racikan obatku, tapi lebih banyak yang tidak. Setiap tahun selalu ada penduduk yang digigit ular atau kalajengking, sebagian besar meninggal. Itu menyedihkan sekali, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa.” Denatara-neda III bercerita dengan suara sedih.

Waktu satu jam nyaris selesai. Makanan kami sudah habis. Pintu rumah Dena diketuk. Tabib tua itu melangkah, membukakan pintu.

”Jangan-jangan mereka hendak mengusir kita. Waktunya habis,” Ali berbisik.

Tapi itu bukan penduduk yang marah-marah. Istri tetua kampung dan anaknya yang terkena gigitan ular berbisa datang membawa bungkusan kain besar perbekalan, berisi makanan dan keperluan lain.

”Hanya ini yang bisa kami sediakan sebagai ucapan terima kasih telah menyelamatkan putri kami.” Istri tetua kampung menatap kami dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak bisa lama. Dia harus segera pamit, bilang bahwa dia diam-diam menyiapkan perbekalan itu. Aku menerima perbekalan itu, mengucapkan terima kasih. Kami juga sepertinya harus segera pergi sebelum waktu satu jam habis. Tapi ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku memikirkan cerita Dena-tara-neda III soal ular berbisa itu. Aku memutuskan mengeluarkan botol kecil dari saku.

”Untuk kalian.” Aku menyerahkannya kepada Dena-taraneda III.

”Astaga? Kamu serius?” Dena-tara-neda III berseru, tidak percaya.

Aku mengangguk. ”Kalian lebih membutuhkan obat ini, agar tidak ada yang meninggal setiap tahun. Kami tidak membutuhkannya karena pakaian yang kami kenakan melindungi kami dari gigitan ular atau hewan melata berbisa lainnya.”

Dena-tara-neda III gemetar menerima botol kecil itu. ”Ini benda berharga sekali, Nak. Setetes cairan biru ini cukup untuk mengobati bisa paling berbahaya.”

Aku tersenyum, mengangguk.

”Kalian sungguh mulia.” Dena-tara-neda III menyeka matanya yang berkaca-kaca. ”Penduduk kami mengusir kalian, meneriaki, memaki. Tapi lihatlah, kalian membalasnya dengan memberikan obat yang sangat kami butuhkan. Kalian berbeda sekali dengan orang-orang kota lainnya. Kalian seperti datang dari dunia lain.”

Aku terdiam, saling lirik dengan Ali—kami memang datang dari dunia lain.

Kami bersiap pergi. Ily membawa bungkusan perbekalan. ”Sebentar.” Dena-tara-neda III menahan langkah kami. ”Kalau orang tua ini boleh bertanya, apa petunjuk berikutnya yang kalian cari?”

”Petunjuk?”

”Iya, aku tahu kalian harus menemukan petunjuk sebelum menemukan bunga mekar itu. Kalian menuju area ini, itu berarti petunjuk tersebut ada di kawasan ini. Aku menghabiskan waktu berpuluh tahun mengelilingi daerah sini untuk mencari jamur bahan obat-obatan, mungkin aku bisa membantu kalian dengan pengetahuan terbatasku. Setidaknya, dengan begitu aku bisa membalas budi baik atas hadiah botol obat ini.”

Aku mengangguk. Itu mungkin amat membantu. ”Kami mencari sesuatu yang bersinar dalam gelap.”

”Sesuatu yang bersinar dalam gelap,” Dena-tara-neda III mengulang kalimatku, mulai berpikir.

”Sesuatu yang ganjil, unik, atau hanya muncul dalam periode tertentu,” aku menambahkan informasi.

”Dan dalam jumlah banyak?” Dena-tara-neda III bertanya.

”Iya, dalam jumlah banyak, mungkin ratusan ribu.” ”Aku sepertinya tahu.” Wajah Dena-tara-neda III terlihat

cerah. ”Tidak salah lagi, pasti itu petunjuk yang kalian cari.”

Aku menatap Dena, menunggu.

”Di wilayah selatan, tidak jauh dari persawahan ini, ada lembah yang luas. Lembah itu kosong, hanya rerumputan meranggas kering, bebatuan keras. Tapi setiap empat tahun sekali, lembah kosong itu berubah menjadi padang jamur, dari balik bebatuan tumbuh banyak sekali jamur. Itu bukan jamur yang kuperlukan untuk meracik obat-obatan, karena justru sebaliknya, jamur itu beracun. Tapi mungkin jamur itulah yang kalian cari. Jamur itu bercahaya saat malam. Ratusan ribu jumlahnya, memenuhi setiap jengkal lembah, kerlap-kerlip indah. Jamur-jamur itu hanya tumbuh beberapa jam saja, merekah di bebatuan persis tengah malam, kemudian layu sendiri saat pagi tiba. Pergilah ke sana malam ini. Aku yakin sekali, kalian akan melihatnya.”

Aku berseru riang. Itu petunjuk yang kami cari.

”Terima kasih, Dena.” Aku memegang lengan tabib tua itu.

”Tidak, Nak. Hadiah yang kamu berikan jauh lebih berharga dibanding pengetahuan terbatasku. Berhati-hatilah dengan jamur itu, karena jika tersentuh, jamur itu akan meletup mengeluarkan racun, kemudian seperti kartu berbaris yang dirobohkan, letupannya akan merambat ke jamur-jamur lain, merambat ke mana-mana dengan sangat cepat. Racunnya tidak membunuh, tapi jika terkena mata, bisa membuat buta. Hanya hewan tertentu yang kebal racun jamur itu. Selamat jalan.”

Aku sekali lagi mengucapkan terima kasih, lantas bersama yang lain keluar dari rumah Dena-tara-neda III. Penduduk masih beramai-ramai menonton kami melangkah di pematang sawah. Satu-dua masih berseru-seru marah, seperti mengusir kami. ”Iya. Kami pergi! Siapa pula yang mau tinggal di sini!” Ali balas berseru ketus, sama-sama berteriak dalam bahasa yang tidak dimengerti satu sama lain.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊