menu

Bulan Bab 18

Mode Malam
Bab 18
KAMI bergegas membawa anggota kontingen penunggang cerpelai yang masih pingsan ke perkampungan penduduk. Ily memberikan pertolongan pertama di atas perahu. Tiga anggota kontingen penunggang cerpelai yang lain mengayuh di belakang kami.

Penduduk perkampungan bersorak-sorai saat tahu kami berhasil mengalahkan monster itu. Mereka bisa melihat pertempuran dari jarak jauh, melihat petir-petir dan dentuman pukulan. Lampu-lampu kembali dinyalakan. Ketakutan segera menguap. Serangga malam mulai berderik, satudua terbang ke tepi danau.

Setelah dibantu nelayan perkampungan yang memiliki persediaan obat, anggota kontingen penunggang cerpelai siuman. Dia seorang wanita. Usianya dua puluh dua tahun. Dia mengenaliku, orang terakhir yang dilihatnya sebelum jatuh pingsan. Tiga temannya mengucapkan banyak terima kasih kepada kami. Hingga dini hari perkampungan itu masih ramai oleh kegembiraan penduduk. Kami diminta menginap di rumah paling baik, mereka menyanjung kami sebagai pahlawan. Mereka menyiapkan makanan lezat untuk kami, berpiringpiring ikan bumbu, kepiting, dan udang. Ali tertawa senang. ”Jangan-jangan ini sotong goreng, Ra? Bagaimana kalau kakek sotong ini kembali datang dari laut dalam sana? Mereka membalas dendam karena kita sudah memakan cucunya?” Aku ikut tertawa. Kadang kala meski berlebihan dan membuat bingung, gurauan Ali bisa lucu.

Perkampungan nelayan baru lengang setelah hampir pukul empat. Mereka jatuh tertidur setelah bergembira semalaman.

Pukul enam pagi, saat matahari terbit, Mena-tara-nata II membangunkan kami. Dia telah selesai berkemas-kemas. Rasa-rasanya baru sebentar sekali kami tidur, sudah harus bangun lagi.

”Kamu hendak pergi?” Seli bertanya kepada Mena.

”Tugasku sudah selesai. Aku telah mengantar kalian ke tengah danau. Monster itu juga telah membayar lunas utangnya. Delapan tahun lalu, gurita raksasa itulah yang menelan induk macan tutul saat minum di tepi danau.” Mena-tara-nata II menatap kami bergantian.

”Ayahku benar. Kalian berbeda dengan peserta kompetisi lain. Kalian tidak mementingkan diri sendiri, juga tidak memiliki ambisi kekuasaan dan kemenangan. Kalian tulus, bersedia mengorbankan diri untuk membantu orang lain. Tadi malam, saat kamu memutuskan menyelamatkan pesaing kalian, aku bisa melihat semua kebaikan itu. Semuda ini, masih remaja, kalian telah memiliki budi yang luhur.”

Perkampungan nelayan tepi danau itu masih lengang. Penduduknya masih tidur. Mena-tara-nata II mendongak menatap cahaya matahari pagi yang mulai menerpa pucukpucuk rumah.

”Aku punya hadiah untuk kalian.” Mena-tara-nata II mengeluarkan botol kecil dari saku, menyerahkannya padaku. ”Obat penawar racunku. Mungkin berguna buat kalian di perjalanan. Ada banyak hewan melata mematikan di alam liar.”

”Bukankah ini sangat berharga? Kamu menghabiskan bertahun-tahun berburu di hutan untuk mengumpulkan obat ini, bukan?” Aku berusaha menolak.

”Ambillah. Hanya itu hadiah yang pantas.” Mena menggeleng, tersenyum. ”Semua orang memanggilku si Pemburu dari Timur. Pagi ini, setelah menyaksikan pertempuran tadi malam, aku pikir kalianlah yang berhak dipanggil si Pemburu dari Timur. Aku belum pernah melihat petarung Matahari yang bisa menghilang dan mengeluarkan pukulan berdentum. Guguran salju turun di sekitar. Itu hebat sekali. Juga permainan tombak perak yang sangat mematikan. Sebuah kehormatan bisa membantu kalian. Semoga kalianlah yang menemukan bunga matahari itu, dan fraksi kalian, dari mana pun fraksi tersebut, besok lusa memimpin seluruh negeri. Itu akan menjadi kabar baik.” Aku menggeleng, berkata pelan sambil memasukkan botol kecil ke saku. ”Kami tidak akan memenangkan kompetisi ini, Mena. Aku tidak berhasil memecahkan petunjuknya.”

Mena-tara-nata II menatapku tidak mengerti. ”Bukankah kamu sudah melihatnya?”

”Tidak seperti itu petunjuk tersebut bekerja, tidak cukup hanya dilihat. Aku harus mendengarnya, memahaminya.”

Mena-tara-nata II menatapku, kemudian tertawa—ciri khasnya ketika mendengar kabar buruk atau sesuatu yang tidak diyakininya. ”Kamu tidak sedang bergurau, bukan? Aku tidak percaya, tidak mungkin.”

Aku menggeleng. Aku serius sekali.

Tawa Mena-tara-nata II tersumpal, berubah jadi tatapan prihatin. ”Kalaupun kamu tidak menemukannya tadi malam, aku yakin kalian tetap akan menemukan arah ke bunga matahari itu. Tidak ada yang mengalahkan ketulusan berbuat baik. Pertolongan akan selalu datang.”

Mena-tara-nata II bersiul panjang memanggil macan tutulnya. Hewan itu muncul, disusul empat harimau putih kami. Mena-tara-nata II meloncat menaiki macan tutulnya. ”Selamat tinggal, anak-anak.”

Aku dan Ily mengangguk. Seli melambaikan tangan.

Mena-tara-nata II menggebah macan tutulnya. Dalam sekejap, tubuh tinggi besarnya lenyap di balik padang rumput luas, menyisakan lengang perkampungan nelayan. ”Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ra?” Seli bertanya.

Kami berempat kembali ke rumah panggung nelayan. ”Kita berkemas,” aku menjawab pendek, menaiki anak

tangga.

”Tapi kita tidak tahu tujuan berikutnya,” Seli mengingatkan.

”Kita kembali ke Kota Ilios, Sel. Tanpa petunjuk berikutnya, kompetisi ini telah selesai. Negeri ini luas, kita tidak akan tahu di mana bunga matahari itu tumbuh.” Aku melangkah masuk.

Seli terlihat sedih. Ali juga mengusap wajahnya, tertunduk lesu. Kami mulai mengemasi ransel. Ily terlihat masygul. Dia yang paling kecewa.

”Aku benar-benar minta maaf, Ily. Aku gagal membacanya.”

”Itu bukan salahmu, Ra.” Ily menggeleng. ”Setidaknya kita bisa selamat dari gurita raksasa itu. Kita bisa kembali bergabung dengan Av dan Miss Selena.”

Kami sudah selesai berkemas, siap berangkat, ketika pintu rumah nelayan didorong dari luar.

”Kalian akan melanjutkan kompetisi.” Salah satu anggota kontingen penunggang cerpelai datang, kapten mereka.

Aku menoleh, tidak mengerti.

”Selatan. Petunjuk ketiga ada di selatan. Temukan sesuatu yang bercahaya dalam gelap di selatan negeri,” kapten kontingen penunggang cerpelai memberitahu.

Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimana mungkin? Bagaimana dia dengan sukarela memberitahukan informasi sangat berharga itu ke pesaingnya?

”Teman kami yang terjatuh di laut yang berhasil membaca pesan itu, sebelum dia pingsan. Pergilah ke selatan. Kalian akan menemukan petunjuk terakhir.”

”Bagaimana dengan kalian?”

”Kondisi kami buruk. Teman kami masih dalam pemulihan. Kami hanya punya tiga cerpelai, karena satu cerpelai kami mati saat melintasi padang rumput. Kami mungkin harus menunggu besok pagi baru melanjutkan perjalanan.”

Ruang depan rumah nelayan lengang.

”Terima kasih banyak telah membagi informasi lokasi petunjuk ketiga.”

Kapten kontingen penunggang cerpelai menggeleng. ”Kamilah yang harus berterima kasih. Kalian menyelamatkan nyawa kami semua.”

Aku tersenyum, menjabat tangannya.

”Selamat jalan. Jangan khawatir. Kami tetap tim yang tangguh. Kalian tidak bisa mencoret kami. Kami akan menyusul kalian setelah teman kami pulih.” Kapten itu balas tersenyum, kemudian melangkah, kembali ke rumah tempat mereka menginap.

Aku, Seli, Ali, dan Ily saling tatap.

Seli terlihat tertawa riang. Ali mengepalkan tangannya.

”Yes!”

”Mari menuju ke selatan,” aku berseru mantap. ***

Penduduk perkampungan nelayan menyiapkan perbekalan untuk kami. Perbekalan itu dibungkus dengan kain rapi, dikaitkan di pelana harimau. Ali tersenyum lebar, setidaknya hingga dua hari ke depan kami tidak perlu memikirkan bekal makanan.

”Kami memberikan persediaan terakhir kami. Sudah hampir seminggu kami tidak mencari ikan, tapi tidak masalah, siang ini kami sudah berani ke tengah danau.” Tetua nelayan melepas kami. Penduduk lain berkerumun. Satudua bersorak-sorai, bertepuk tangan. Penduduk juga memberikan sekantong uang Klan Matahari—itulah kenapa mereka menyebutnya dengan ”butir”. Uang di dunia ini bentuknya memang seperti kelereng, terbuat dari kristal berwarna pelangi.

” Terima kasih banyak. Semoga kaki-kaki hewan tunggangan kalian lebih ringan, berlari lebih cepat. Semoga pintu-pintu kesulitan terbuka, dan segala beban dilepaskan dari punggung kalian.”

Aku mengangguk, kemudian melompat ke atas pelana. Ali, Seli, dan Ily juga melompat ke harimau masing-masing. Kami memegang surai harimau. Sedetik kemudian harimau-harimau kami sudah berlari menuju selatan, meninggalkan perkampungan nelayan yang ramai.

Ini hari kelima, tinggal empat hari lagi bunga matahari itu akan mekar. Kondisi kami sebenarnya lelah, kurang tidur, tapi dengan petunjuk kedua didapatkan tanpa diduga-duga, semangat kami kembali. Seli kali ini yang memimpin rombongan, menelusuri tepi danau, sungai-sungai besar, dan terus menuju selatan.

***

Dua jam kami melintasi padang rumput. Waktu menunjukkan pukul sembilan, kami berhenti untuk istirahat sekaligus sarapan di tepi sungai besar. Kami duduk di atas batu-batu kerikil, membuka bungkus perbekalan. Empat harimau berbaring di dekat kami.

”Kalau saja Mena-tara-nata II tetap bersama kita, perjalanan pasti lebih menyenangkan,” Ali menceletuk, meluruskan kaki.

”Bukankah kamu kemarin mengeluh soal kentang gosong, Ali?” Seli tertawa.

”Maksudku di luar soal kentang gosong itu.” Ali mengangkat bahu. ”Dia tahu kawasan ini, jadi kita tinggal lari saja di belakang macan tutulnya.”

”Nah, kamu kemarin juga mengeluh Mena tidak kunjung berhenti setelah dua jam, kan?” Seli nyengir.

”Baiklah, maksudku di luar soal kentang gosong dan perjalanan tanpa henti.” Ali akhirnya ikut tertawa.

Kami hanya berhenti lima belas menit, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Pemandangan sepanjang sungai besar ini indah. Kami sesekali bertemu kawanan hewan yang sedang minum, seperti bison. Jumlahnya ratusan, memenuhi tepian sungai. Juga kawanan gajah bergading empat, dengan telinga lancip, mereka asyik main air, saling menyembur dengan belalai. Hewan-hewan itu tidak berbahaya. Kami melintas dengan aman. Kami juga bertemu hewan kecil seperti pelanduk, rusa, yang lari terbirit-birit melihat empat harimau melintas.

Selain tumbuhan rumput, semakin ke selatan, pohonpohon besar dengan dahan menjulur panjang seperti payung juga mulai banyak tumbuh di tepi sungai. Beberapa pohon itu terlihat memutih. Di setiap dahannya bertengger burung bangau, terbang ke sana kemari. Ali santai melihatnya. ”Burungnya besar, Sel. Aku bisa memukulnya kalau mereka berani dekat-dekat.” Kami mendongak menatap bangau-bangau itu sementara harimau kami terus berlari.

Pukul dua belas siang kami berhenti lagi, kembali membuka perbekalan. Kami masih di tepi sungai besar. Sungai ini sepertinya terus mengalir ke arah selatan.

”Kira-kira, akan berbentuk seperti apa petunjuk ketiga, Ra?” Seli memilih topik percakapan.

Aku menggeleng. Aku belum tahu.

”Apa pun itu, kita hanya bisa melihatnya saat malam,” Ily ikut bicara. ”Kita harus segera tiba di wilayah selatan sebelum malam. Agar ketika benda atau hewan itu bersinar dalam gelap, kita siap melihatnya. Kontingen penunggang salamander di depan kita.” Aku mengangguk, mengunyah jatah makan siangku. Kami menghabiskan makan siang sambil menikmati pemandangan arus sungai.

Nena-tara-neta, si nelayan yang mengantar kami menyeberang danau, benar. Tim kami satu-satunya tim yang berbeda. Kami tidak seperti tim lain yang seragam—bahkan tinggi dan postur tubuh mereka sama. Tim kami sangat berbeda. Ada Ali yang selalu santai dan merasa ini hanya petualangan seru. Seli yang selalu bertanya, terus memastikan dan cemas. Juga ada Ily yang disiplin, terkendali, dan menghitung setiap menit waktu berlalu. Dan aku, yang terus diliputi banyak pertanyaan, kebingungan, bahkan terkadang keraguan.

”Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan kontingen penunggang kuda putih dua malam sebelumnya.” Seli memecah lengang. ”Gurita raksasa itu pastilah menyerang mereka habis-habisan.”

”Nasib kontingen itu malang. Petir tidak bisa melukai lengan-lengan gurita itu, hanya membuatnya semakin marah,” Ali ikut bicara. ”Mereka mungkin sudah berusaha melawan, tapi sia-sia.”

” Tapi bagaimana dengan kontingen penunggang salamander? Bagaimana mereka bisa selamat?” Seli terlihat berpikir. ”Atau mungkin mereka tiba di tengah danau di waktu berbeda, dan kontingen penunggang salamander bisa meninggalkan danau dengan hati-hati, tidak mengganggu gurita.” ”Tidak mungkin, Sel. Ikan-ikan bercahaya itu hanya muncul persis tengah malam. Dua kontingen itu pasti berada di sana saat bersamaan. Sama seperti kita tadi malam yang tiba bersama penunggang cerpelai.” Ali menggeleng.

”Kemungkinan besar penunggang salamander memiliki senjata atau kekuatan tertentu yang bisa membuat mereka lolos,” Ily ikut berkomentar. ”Kontingen mereka selalu berada di depan yang lain, mereka pasti tim terkuat.”

Ali mengangguk. ”Itu lebih masuk akal. Lagi pula, salamander bisa berenang. Mereka bisa saja dibantu hewan tunggangan untuk meloloskan diri dari gurita raksasa. Hewan tunggangan mereka memiliki banyak sekali keunggulan, termasuk menumbuhkan bagian badan kembali jika terpotong atau rusak.”

”Aku tetap lebih suka harimau salju kita.” Seli mengangkat bahu.

Empat harimau kami tidur-tiduran di sebelah, menunggu kami selesai makan siang.

Percakapan kami berakhir tanpa kesimpulan. Kami hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi. Sayangnya, saat itu aku belum tahu, lolosnya kontingen penunggang salamander dari gurita raksasa itu bukan karena itu semua, melainkan karena sesuatu yang sangat licik. Peraturan paling penting dalam kompetisi itu telah dilanggar.

Setelah menghabiskan makanan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini giliran Ily yang memimpin di depan. ***

Satu jam meninggalkan lokasi istirahat makan siang, sungai besar yang kami ikuti bercabang, satu mengarah ke timur, cabang yang lebih kecil, satu tetap lurus mengalir ke selatan, cabang yang lebih besar. Lepas percabangan itu, padang rumput digantikan hutan, tapi tidak lebat. Harimau salju masih bisa bergerak cepat.

Kami terus mengikuti sungai yang menuju ke selatan.

Menjelang sore, anak cabang sungai yang kami ikuti tiba di sebuah bendungan raksasa. Tingginya hampir dua ratus meter. Panjangnya satu kilometer. Bendungan ini menghadang air sungai, membentuk danau buatan luas dikelilingi bukit-bukit. Butuh satu jam untuk melewati bendungan itu.

Empat harimau mengurangi kecepatan. Kami sedang mendongak, memperhatikan bendungan itu dari bawah. Di dinding bendungan, tempat air mengalir deras keluar, terpasang ratusan kincir air raksasa berbentuk kapsul, bertingkat-tingkat, dengan desain arsitektur yang rumit. Bendungan ini sepertinya berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik.

”Teknologi Klan Matahari ini maju sekali.” Ali menatap tidak berkedip. ”Dengan kincir air kapsul melingkar, setiap tetes air deras yang keluar dari bendungan bisa memutar turbin, kemudian menghasilkan listrik berkali-kali lipat. Sangat efisien. Sangat cerdas.” Aku melirik wajah Ali yang antusias—seperti sedang menatap laboratorium fisika kesukaannya.

”Seluruh listrik itu kemudian dialirkan ke pelosok Klan Matahari.” Ali masih bergumam. Harimau yang ditungganginya hampir berhenti.

”Aku tidak melihat kabel listrik.” Seli menatap sekitar. ”Mereka tidak memerlukannya. Mereka mengirimkan

listrik itu tanpa kabel.”

”Tanpa kabel? Bagaimana caranya?”

”Seperti teknologi telepon genggam di dunia kita. Suara dikirim melalui udara. Klan Matahari pasti sudah menguasai teknologi mengirim listrik lewat udara.”

”Bagaimana kalau listrik itu menabrak orang?” Seli tidak bisa membayangkannya.

Ali tertawa—tawa menyebalkan. ”Tidak seharfiah itu, Seli. Apakah di dunia kita, saat miliaran telepon, pesan dikirim setiap hari, kita pernah ditabraknya? Lalu lintas data melintas saja di ruang-ruang sekitar kita, masuk ke dalam telepon genggam dengan cepat dan aman. Padahal jumlahnya banyak sekali, suara-suara, pesan-pesan, berseliweran di sekitar kita. Sama dengan listrik, sekali mereka memahami teknologinya, mereka bisa mengirim listrik lewat udara tanpa harus menabrak atau menyetrum siapa pun.”

Seli terdiam. Aku juga ikut menyimak penjelasan Ali. ”Mungkin kamu benar.” Aku teringat sesuatu. ”Seingatku,

di Kota Ilios, di perkampungan yang kita lewati, tidak ada satu tiang listrik pun, juga kabel-kabel. Semua lampu digantungkan di tiang atau beranda rumah, dan langsung menyala.”

”Nah, akhirnya ada yang memperhatikan hal-hal seperti itu.” Ali berkata dengan intonasi menyebalkan. ”Aku kira hanya aku yang melakukannya di rombongan aneh ini. Dan terima kasih telah sependapat dengan manusia rendah Klan Bumi ini, Ra.”

Kami tidak lama berhenti di bawah bendungan, Ily mengingatkan agar kami kembali bergerak. Matahari semakin turun, sebentar lagi gelap.

Kami menggebah harimau, melanjutkan perjalanan. Air deras yang keluar dari dinding bendungan raksasa itu kembali membentuk sungai di bawahnya, dan sungai itu terus menuju ke selatan. Kami menelusuri sungai itu, melewati hutan hijau berbukit. Matahari mulai tenggelam.

***

Aku memutuskan istirahat setelah harimau berlari dua jam dari bendungan raksasa.

Malam datang dengan cepat, sekitar kami gelap. Seli sudah sejak tadi menggunakan sarung tangannya untuk menerangi jalan.

Walau kami masih semangat, kondisi fisik kami tidak bisa dibohongi. Ali semakin tertinggal di belakang, berkali-kali harus ditunggu. Sarung tangan Seli juga redup, Seli tidak bisa berkonsentrasi penuh dan aku sendiri pun kelelahan. ”Kita kurang tidur, Ily. Kemarin malam hanya tidur dua jam, dan sepanjang hari ini kita terus memacu harimau.” Aku menolak keberatan Ily. ”Kita bermalam di sini. Kalaupun kita terus memaksakan diri maju, kita juga tidak tahu akan seperti apa petunjuk ketiga. Mencarinya saat malam tetap tidak akan mudah. Besok siang kita bisa mencari tahu, mungkin ada perkampungan di dekat sini. Bunga matahari itu masih empat hari lagi mekar.”

” Tetapi bagaimana dengan kontingen penunggang salamander?”

”Mungkin mereka juga masih di wilayah selatan. Masih mencari petunjuk tersebut. Atau bahkan mungkin mereka masih di dekat kita.”

Tempat yang kami pilih cukup baik. Ada hamparan rumput kering di sebelah aliran sungai. Di sekitar kami dipenuhi batu kerikil. Jarak hutan dari sini masih jauh. Masih ada jarak pandang jika ada binatang buas datang menyerang saat malam. Saat itu aku benar-benar tidak menyadari bahaya paling besar bukan datang dari hutan, melainkan dari sungai persis di sebelah kami.

Ily menyalakan api unggun. Kabut tebal turun. Udara terasa dingin. Derik serangga malam terdengar bersahutan dengan suara kodok yang banyak berkeliaran di tepi sungai.

Kami makan malam, membuka bungkus perbekalan. Harimau kami minum di tepi sungai. Mereka masih kenyang. Harimau seperti ini makan dua-tiga hari sekali. Tadi pagi, nelayan di perkampungan Danau Teluk Jauh telah memberikan ikan-ikan besar.

Ily berjaga pertama kali malam ini, kemudian Ali, aku, dan terakhir Seli.

Aku beranjak segera tidur. Tubuhku lelah. Aku merebahkan badan di atas rumput kering, dengan cepat aku jatuh tertidur, lelap, baru bangun ketika Ali membangunkan.

”Ra, Ra....” Ali mengguncang bahuku. Sepertinya baru sebentar sekali aku tidur.

”Ayo bangun, Ra. Kamu jangan curang pura-pura masih tidur, sekarang giliranmu berjaga.”

Aku tidak akan curang. Yang sering curang itu Ali, membangunkan kami minta berganti berjaga, padahal belum jadwalnya. Aku membuka mata, duduk.

”Pukul berapa sekarang?”

”Pukul dua malam,” Ali menjawab cepat, menguap.

Aku beranjak berdiri, mendongak menatap bintang gemintang. Ily telah mengajari kami cara membaca jam dari melihat bayangan benda-benda, posisi matahari, dan bintang. Ini sudah larut, hampir pukul dua—Ali membangunkanku tepat waktu.

Aku menggeliat, menguap, menatap sekitar. Hamparan bebatuan lengang. Tidak ada hewan buas yang berani mendekati kami dengan empat harimau tidur lelap di sebelah. Tapi lebih baik berjaga-jaga, siapa tahu ada kawanan gorila atau hewan buas lain yang tidak takut dengan apa pun.

Nyala api unggun redup. Aku melangkah mengambil ranting dan dahan kering, melemparkannya. Aku duduk di dekat api unggun, sambil menatap aliran sungai deras di depan kami. Udara terasa hangat dan nyaman. Ali sudah mendengkur, cepat sekali dia tertidur.

Di sekitarku lengang, derik serangga malam dan suara kodok jauh berkurang, hanya sesekali. Suasana seperti ini bisa digunakan untuk berpikir, memikirkan petunjuk ketiga kami. Sesuatu yang bersinar dalam gelap di wilayah selatan. Apa yang bisa bercahaya dalam gelap? Aku memperbaiki anak rambut yang mengenai mata. Petunjuk pertama adalah dinding granit air terjun yang bercahaya oleh fosfor, kerlap-kerlip seperti ratusan lampu. Petunjuk kedua adalah ikan bercahaya di danau, kerlap-kerlip seperti ribuan lampu. Jika mengikuti pola tersebut, mungkin petunjuk ketiga adalah sesuatu yang lebih banyak lagi, kerlap-kerlip puluhan ribu atau ratusan ribu sesuatu yang bersinar dalam gelap.

Tapi apa yang ratusan ribu itu?

Aku menghela napas, memajukan posisi duduk lebih dekat ke api unggun, agar lebih hangat. Aku masih menatap aliran sungai deras di depanku.

Satu jam berlalu, aku tetap tidak bisa menebaknya. Tetapi setidaknya aku tidak terlalu kecewa. Satu jam terakhir aku melatih kemampuanku membaca alam sekitar. Siapa tahu petunjuk ketiga juga dijaga sesuatu seperti gurita raksasa. Aku harus membacanya dengan cepat dalam situasi genting, sebelum petunjuknya hilang. Kegagalan membaca ikan-ikan bercahaya hampir saja mengacaukan seluruh perjalanan kami.

Aku berusaha rileks, menatap lurus ke depan, berusaha mendengarkan alam liar, mendengar lamat-lamat suara hewan di kejauhan, dengung serangga terbang, kecipak air di sungai, dan langkah kepiting. Astaga! Aku seperti tidak percaya, bahkan aku bisa mendengar suara kaki kepiting, berlarian, dua ekor, masuk ke liang mereka. Hana, pemilik peternakan lebah di padang perdu berduri, benar. Aku bisa mendengarkan alam liar.

Ini keren. Aku tersenyum lebar, menambahkan ranting kering ke atas api unggun. Apinya yang membesar terlihat menyala-nyala hangat.

Aku konsentrasi lagi, memejamkan mata, mengulangi latihanku.

Lengang. Tidak ada suara apa pun. Hei! Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada suara hewan apa pun? Sepertinya hewan-hewan di sekitar sungai baru saja berlarian menjauh, menghindar. Aku semakin berkonsentrasi. Lamat-lamat terdengar suara bergemuruh. Itu apa? Aku membuka mataku, menatap kejauhan, ke arah utara asal suara itu, tempat bendungan besar di belakang kami. Suara itu semakin kencang, bahkan kali ini tidak perlu konsentrasi. Aku sudah bisa mendengarnya.

Tanah yang kupijak juga bergetar. Apa yang terjadi? Apakah ada kawanan hewan buas sedang berlari ke arah kami? Apa pun itu, kami harus segera menghindar. Aku melompat berdiri, segera membangunkan Ali, Seli, dan Ily.

Ily yang terbiasa dengan situasi darurat, langsung bangun, berkemas.

”Ada apa?” Seli menguap.

”Kamu jangan curang, Ra. Aku sudah berjaga tadi,” Ali mengomel, menolak bangun.

”BANGUN! ALI! SELI! CEPAT!” Aku menarik me-

reka.

Suara itu semakin dekat dan semakin mengerikan. Empat harimau kami juga loncat terbangun. Mereka terlihat gelisah.

”Naik ke atas harimau! SEKARANG!” Ily berseru. Kami bergegas menaiki harimau masing-masing.

Tapi itu sudah terlambat. Air bah setinggi pohon kelapa akhirnya terlihat di belakang kami. Seli menjerit panik, Ali terlihat pucat. Empat harimau kami berlari, berusaha kabur secepat kaki mereka bisa membawa pergi tuannya.

Air bah itu sudah tiba. Aku berbalik, menghantamkan tangan, berusaha memukul. Air bah itu tersibak, tapi hanya sepersekian detik, kembali mengalir deras ke arah kami, memorak-porandakan apa saja yang dilewati.

”Aktifkan pelampung di sepatu kalian!” Ily berteriak.

Suara Ily hilang ditelan gulungan air bah. Aku tidak tahu di mana Seli, Ali, dan Ily sekarang. Sekitarku penuh air. Harimau yang kutunggangi terlepas, terseret air. Tubuhku terhantam pohon, batu, apa saja yang dibawa air bah itu. Ily muncul di sebelahku. Dia sudah berhasil berdiri di atas air—seperti peselancar berdiri di atas papannya, di tengah ombak setinggi pohon kelapa. Ily menarikku, membantuku berdiri.

”Ikuti gerakan airnya, Ra. Jangan dilawan, terus berada di permukaan, seperti meniti ujung ombak. Kamu akan baik-baik saja.” Ily melesat ke arah lain. Dia melihat Seli yang terbanting ke sana kemari, berusaha muncul di permukaan dengan sepatu berteknologi pelampung.

Aku masih patah-patah menyeimbangkan badan, melihat Ali yang menggapai-gapai tidak jauh di depanku. Tubuhnya timbul-tenggelam. Dia susah payah menggunakan teknologi sepatu Ilo. Aku segera meluncur mendekat, mengikuti saran Ily, mengikuti gerakan air. Aku menarik badan Ali.

Ali terjatuh lagi sebelum aku berhasil meraih tangannya, terkena hantaman pohon besar. Aku meluncur cepat mengejarnya, memukul ke belakang. Ada pohon besar lainnya yang tercerabut mengarah ke kami. Suara berdentum terdengar. Pohon itu terlempar. Badanku juga terdorong, tapi itu yang kubutuhkan. Tubuhku terdorong ke arah Ali, tiba lebih cepat ke posisi Ali yang megap-megap. Aku menariknya.

”Berdiri, Ali! Kamu harus bisa berdiri seperti peselancar,” aku berseru kencang, berusaha mengalahkan suara gemuruh air di sekitar kami.

Ali mengangguk. Badannya basah kuyup. Dia minum air bah berkali-kali. Ily meluncur ke arahku. Dia memegang lengan Seli eraterat di sebelahnya.

”Kalian baik-baik saja?” Ily memastikan. Aku mengangguk.

Ali menggeleng. Wajahnya masih terlihat pucat. Dia berusaha terus menjaga keseimbangan di atas air bah yang terus menghunjam deras melewati sungai.

”Aku tidak menemukan harimau-harimau kita, Ra,” Ily berseru prihatin. ”Mereka terseret air bah, entah selamat atau tidak. Perbekalan kita juga hilang. Aku hanya sempat membawa tongkat perak dan dua ransel.”

Ily menyerahkan dua ransel. Itu milikku dan milik Ali. ”Setidaknya kita selamat, Ily.” Aku menyeka wajah.

”Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Seli bertanya dengan suara serak—dia masih kaget.

”Terus berada di permukaan air bah ini, meluncur mengikuti arusnya ke selatan hingga airnya habis mengecil kembali. Pegang tanganku. Jangan dilepaskan,” Ily berseru. Dia yang paling terbiasa dengan teknologi sepatu Ilo.

Hampir setengah jam kami berada di atas air, meniti air bah. Sebenarnya jika situasinya normal, ini asyik sekali. Ini jauh lebih asyik dibanding berlibur di pantai, berselancar, yang paling hanya bertahan di atas papan satu-dua menit. Tapi mengingat kami hampir celaka oleh air bah ini, aku tidak terlalu menikmati sensasinya. Sepatu Ilo ini telah menyelamatkan kami dua kali.

Air bah itu akhirnya mengecil. Volume airnya berkurang. Kami segera melompat ke rerumputan di tepi sungai. Ali langsung duduk. Napasnya masih tersengal. Seli juga duduk di sebelahnya.

Aku ikut duduk, menatap ke arah utara, belakang kami. Seluruh area yang dilewati air bah terlihat hancur. Pohonpohon tercerabut, bebatuan terpental, genangan lumpur di mana-mana.

”Dari mana air bah itu berasal? Apakah hujan deras di hulu sungai?” Seli bertanya.

”Air itu datang dari bendungan raksasa,” Ali menjawab. ”Bendungannya jebol?” Seli bertanya lagi.

”Tidak mungkin. Tidak ada yang bisa menjebol dinding bendungan sekokoh itu. Aku yakin ada yang telah membuka pintu air bendungan. Sekali pintunya dibuka, separuh volume air di bendungan langsung keluar seperti air bah.” Kerusakan yang ditimbulkan air itu tidak terkira, sepanjang sungai seperti baru saja ada yang membuatnya berserakan. Tepi sungai digenangi lumpur dan pepohonan

roboh.

”Tapi siapa yang melakukannya?”

”Kita tidak tahu, Seli,” kali ini aku yang menjawab. ”Mungkin saja sistem pintu bendungan itu sedang rusak, membuka sendiri. Dalam situasi seperti ini kita tidak perlu menambah beban pikiran dengan menebak-nebak hal seperti itu.”

Ily mengangguk, sependapat denganku.

”Apakah kita akan mencari harimau kita? Memastikan mereka selamat atau tidak?” aku bertanya pada Ily. ”Kita tidak tahu harus mencari ke mana, Ra. Ini pukul empat pagi. Kita juga terseret air bah satu jam lebih, kembali ke atas dengan berjalan kaki bisa menghabiskan waktu lebih dari tiga jam. Mereka juga mungkin tidak selamat. Air bah tadi besar sekali.” Ily terlihat sedih.

Seli mengusap ujung matanya, lebih sedih lagi. Empat harimau itu sudah menemani kami lima hari terakhir, melindungi kami dari serangan kawanan gorila, membawa kami meloloskan diri dari burung pemakan daging, juga membawa kami bertualang di wilayah timur, di padang rumput luas. Hewan itu setia pada kami.

”Harimau itu akan baik-baik saja, Sel,” Ali berkata pelan, mencoba menghibur.

”Mereka tidak bisa berenang, Ali.” Seli terisak. ”Mereka bukan seperti salamander.”

”Ya, aku tahu itu, tapi harimau-harimau itu, mereka lebih kuat, lebih tangguh dibanding hewan tunggangan mana pun. Mereka pasti selamat dari air bah tadi.”

Aku belum pernah menyaksikan Ali bisa bersimpati seperti ini. Biasanya dia tidak peduli.

”Ayolah, Seli. Kita sudah basah kuyup oleh air bah. Kamu tidak akan menambahinya lagi dengan air matamu, kan?” Ali tersenyum, mencoba bergurau.

Seli menyeka pipinya.

”Kita sudah telanjur bangun karena air bah ini, Ra. Mungkin sebaiknya kita meneruskan perjalanan sekarang. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali itu,” Ily bicara padaku. Aku mengangguk. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan di sini selain menatap sekitar yang porak-poranda. Mencari empat harimau itu juga tidak akan membantu banyak. Saatnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊