menu

Bulan Bab 17

Mode Malam
Bab 17
PUKUL satu siang. Matahari berada di atas kepala.

Sejak istirahat sarapan, kami sudah empat jam berlari tanpa henti, membelah padang rumput yang tidak ada habis-habisnya. Ali mulai mengeluh bosan. Sejauh mata memandang hanya rumput. Dia semakin sering tertinggal di belakang. Seli juga terlihat mulai lelah. Pinggang dan punggung kami terasa kebas. Kami belum pernah menunggang harimau salju dengan kecepatan tinggi tanpa henti selama ini. Biasanya kami berhenti setiap dua jam. Tapi karena Mena-tara-nata II tidak berhenti, kami terus mengikutinya.

Sebelum Ali protes, memaksa berhenti, kami melihat danau besar di kejauhan. Ali bersorak riang, menggebah harimaunya menyejajari kami di depan.

”Bukan danau ini.” Mena-tara-nata II seperti tahu apa yang Ali pikirkan. ”Danau Teluk Jauh masih empat-lima jam dari sini.”

Wajah Ali yang gembira melihat danau langsung terlipat.

Tapi setidak-tidaknya kami akhirnya berhenti. Ada kota kecil di tepi danau itu.

”Kita harus mampir ke kota. Kalian akan makan siang, istirahat sebentar. Aku harus menemui beberapa orang, memastikan tentang monster itu. Kenakan pakaian ini.” Mena-tara-nata II menyerahkan empat pakaian nelayan kepada kami. ”Empat harimau kalian terpaksa ditinggal di luar kota. Macan tutulku akan memastikan mereka baikbaik saja.”

Aku hendak protes, bagaimana kalau harimau kami pergi jauh? Dan tidak ada di sini saat kami kembali dari kota.

”Tenang saja. Harimau kalian tidak akan pergi. Aku menyukai mereka karena hewan itu setia pada penunggangnya. Kalian tidak bisa masuk kota dengan menunggang harimau dan pakaian mencolok hitam-hitam. Mereka akan tahu kalian kontingen Festival Bunga Matahari. Mereka akan mengerubuti. Itu bisa menghabiskan waktu atau bahkan menimbulkan masalah baru. Kita tidak bisa berhenti lama, perjalanan ke Danau Teluk Jauh masih jauh.”

Aku mengangguk, mengenakan pakaian yang terbuat dari kain kasar, menutup pakaian hitam-hitam.

”Sejak kapan warna gelap disebut mencolok, Ra?” Seli menceletuk di sebelahku. Aku tertawa. Di Klan Matahari, justru warna normal itu adalah merah, ungu, pink, dan sejenisnya. Sedangkan warna gelap masuk dalam definisi warna cerah, terang.

Kami melangkah beriringan memasuki kota kecil itu. Selain ada rumah-rumah panggung di tepi danau, juga terdapat bangunan-bangunan kotak seperti di Kota Ilios. Selintas, kota ini seperti perpaduan teknologi maju dengan perkampungan nelayan lama.

Kami melewati jalanan kota yang ramai oleh orang berlalu-lalang. Mungkin itu pedagang, atau orang-orang yang bekerja di kota ini. Mena-tara-nata II membawa kami ke salah satu tempat makan yang ramai. Bentuknya seperti restoran yang ada di kotaku. Mena menunjuk meja dan kursi di sudut ruangan, memanggil pelayan, memesankan makanan. ”Kalian makan dengan cepat. Aku harus menemui beberapa orang. Tidak lama, hanya memastikan kabar itu dan mengurus keperluan saat kita tiba di danau.” Mena-

tara-nata II beranjak bangkit.

Tampaknya Mena-tara-nata II dikenal di kota kecil ini, sejak tadi beberapa orang menyapanya, membungkuk. Menilik dari cara mereka menyapa, mereka menghormati Mena. ”Penduduk kota menyapanya si Pemburu dari Timur,” Seli berbisik memberitahu.

Pesanan makanan kami datang. Aku tidak mengenali masakannya, tapi rasanya lezat, terbuat dari ikan, dengan bumbu-bumbu. Juga minumannya, mungkin itu ekstrak buah-buahan. Sambil makan, aku menatap ke seberang. Di pojok ruangan satunya, tubuh tinggi gagah Mena-tara-nata II terlihat di antara pengunjung rumah makan. Dia sedang berbicara dengan dua orang. Salah satunya seorang nelayan tua, dengan rambut memutih, satunya lagi nelayan setempat seusia Mena-tara-nata II.

”Kita boleh memesan lagi?” Ali bertanya. Seli melotot.

”Ayolah, Sel. Sudah berhari-hari kita makan seadanya, roti, kentang gosong. Mumpung kita sedang ditraktir. Kamu juga masih mau nambah, kan?” Ali mengangkat bahu.

Si biang kerok ini kenapa pula bertanya hal tidak penting dalam situasi seperti ini. Dia kira ini masih di kantin sekolah kami, bisa minta tambah satu mangkuk ke abang penjual bakso.

”Kalian sudah selesai makan?” Mena-tara-nata II kembali, menarik kursi, ikut duduk.

Aku mengangguk. Juga Seli, Ali, dan Ily.

”Berita itu benar. Kemarin malam monster itu muncul. Dua kontingen di depan kalian sudah melihat petunjuk yang kalian cari. Tetua nelayan memberitahuku.” Menatara-nata II memperbaiki posisi anak panah di punggungnya—dia tidak pernah melepaskan senjatanya sejak tadi.

Ily terlihat kecewa. Kami tertinggal.

”Kabar buruk buat kalian, hanya satu kontingen yang selamat, penunggang salamander. Kontingen lain, para penunggang kuda putih tenggelam di tengah danau diserang monster.”

Meja makan kami lengang. Aku menelan ludah. Seli terlihat pucat.

”Kabar baiknya, tetua nelayan memberitahukan cara terbaik pergi ke tengah danau—melihat sesuatu yang bersinar dalam gelap—tanpa perlu memancing monster menyerang kita. Aku juga punya kenalan di perkampungan Danau Teluk Jauh yang bisa meminjamkan perahu. Apakah kalian masih hendak melanjutkan perjalanan?” Mena-tara-nata II memastikan.

”Jika kamu tetap bersedia mengantar, kami akan terus,” aku menjawab dengan suara bergetar.

”Kalau begitu, kita tidak perlu membuang waktu lagi. Mari kita berangkat. Kita harus tiba di perkampungan itu sebelum gelap.” Mena-tara-nata II berdiri.

”Kamu tidak makan dulu?” aku bertanya.

Mena-tara-nata II menggeleng. ”Aku pemburu, terbiasa tidak makan berhari-hari. Lagi pula, selera makanku hilang setiap kali memikirkan petualangan. Ini jelas petualangan paling menantang yang pernah kulakukan, terlepas apakah kita berhasil menemukan petunjuk yang kalian butuhkan atau tidak. Ayo, kita berangkat.”

Mena-tara-nata II membayar makanan kami, lantas melangkah cepat keluar dari rumah makan. Setiba di luar kota, Mena mengeluarkan suitan panjang dan melengking, memanggil macan tutulnya. Hewan tunggangan itu berlari cepat mendekat, juga empat harimau salju kami. Kami melompat naik ke atas pelana, menggebah hewan tunggangan, terus menuju timur, mendatangi monster Danau Teluk Jauh.

***

Lagi-lagi padang rumput setinggi pinggang yang kami lewati.

Sepertinya aku bisa membayangkan kontur daerah timur. Wilayah ini terdiri atas banyak danau yang dipisahkan padang rumput. Asal air danau datang dari pegunungan berkabut di utara. Hutan lebat mengirimkan banyak air melalui sungai-sungai besar, kemudian tiba di daerah landai, berkumpul menjadi danau-danau besar. Air melimpah membuat tanah gembur. Rumput-rumput tinggi dengan habitat basah tumbuh dengan subur.

Di depan kami Mena-tara-nata II menggebah macan tutulnya dengan kecepatan penuh. Lagi-lagi kami melaju berjam-jam tanpa henti, lebih lama dibanding tadi pagi. Mena hanya mengurangai kecepatan untuk memastikan kami tidak tertinggal jauh, dan segera menambah kecepatan saat melihat kami. Ali sudah dua kali meminta berhenti, mengeluh ingin minum. Aku menggeleng. Jika Mena-taranata II tidak berhenti, kami juga tidak. Dia pasti memiliki perhitungan matang atas perjalanan ini. Kami tidak bisa merusak rencananya hanya karena ingin berhenti sebentar. Mendengar keluhan Ali ketiga kalinya, Ily memberikan tabung air kepada Ali. Dia bisa minum sambil terus melesat cepat.

Aku bergumam, menebak seberapa tangguh fisik Menatara-nata II. Kami sudah dibantu dengan teknologi pakaian yang dibuatkan Ilo. Baju hitam-hitam ini membuat kami tidak mudah lelah. Sirkulasi udara berjalan optimal. Tubuh kami tidak lembap oleh keringat. Tapi Mena-tara-nata II yang hanya mengenakan pakaian kain kasar nelayan, kondisinya jauh lebih baik dibanding Ily. Mena tidak terlihat lelah, berkeringat pun tidak.

Matahari sudah tumbang di kaki langit. Cahaya senja menyiram padang rumput ketika Mena-tara-nata II mengurangi laju lari macan tutul. Kami sudah dekat dengan tujuan. Padang rumput lebih basah dan gembur. Dari kejauhan, ditimpa cahaya terakhir matahari, terlihat pucukpucuk perkampungan nelayan, di belakangnya terhampar danau besar. Ali terlihat senang. Penderitaannya di atas punggung harimau selama lima jam akan berakhir.

Saat kami benar-benar tiba, perkampungan itu sepi total, gelap, seperti perkampungan mati. Entah ke mana penduduknya.

Mena-tara-nata II mengelus punggung macan tutulnya, berbisik terima kasih, kemudian melepasnya pergi. Kami juga membiarkan harimau putih menyusul macan tutul. Kami tidak mungkin membawa hewan itu ke tengah danau dengan kemungkinan bertemu monster. Mena melangkah ke salah satu rumah penduduk, mengetuk pintu. Dengan wajah khawatir, seorang penduduk membukanya. Kepalanya mengintip dari balik pintu yang terbuka separuh, bertanya sambil berbisik—seolah takut ada yang mendengarnya bicara. ”Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”

”Aku Pemburu dari Timur, tetua nelayan di kota mengizinkanku meminjam salah satu kapal.”

”Anda tidak akan pergi ke danau, bukan?” Nelayan itu bertanya dengan suara bergetar.

”Aku justru akan pergi ke tengah-tengahnya.”

”Astaga!” nelayan itu berseru tertahan, memegang pintu erat-erat. ”Monster itu telah kembali. Bunuh diri jika Anda pergi ke sana.”

”Kalian tidak perlu mencemaskan itu.” Mena-tara-nata II melangkah masuk, menoleh kepada kami. ”Kita bersiap-siap di sini. Bawa yang hanya perlu kalian bawa.”

Mena-tara-nata II meletakkan perbekalan ke lantai rumah panggung, juga alat-alat lain. Dia hanya membawa busur dan anak panah yang tidak pernah dia lepaskan walau sedetik. Aku, Seli, Ali, dan Ily juga melakukan hal yang sama, meletakkan ransel-ransel kami. Ily hanya membawa tongkat perak. Ali menggenggam pemukul kasti. Aku dan Seli tidak membawa apa pun—kecuali sarung tangan kami.

Ada dua keluarga berkumpul di rumah yang kami datangi, termasuk anak-anak berusia lima tahun. Mereka meringkuk takut. Rumah itu gelap. Mena bertanya di mana dia bisa menemukan perahu kecil. Pemilik rumah memberitahu. Mena mengangguk, melangkah keluar.  ”Jangan menyalakan cahaya sedikit pun. Jangan mengeluarkan suara apa pun.” Mena-tara-nata II memberitahu kami sambil berjalan cepat di jembatan-jembatan tepi danau. ”Monster itu sangat sensitif. Ia menyerang benda yang bercahaya dan bersuara.”

Aku mengangguk. Ali yang biasanya cuek dengan peraturan juga mengangguk saat Seli menerjemahkan kalimat Mena-tara-nata II. Suasana tegang menyeruak di antara kami. Aku mengelap keringat di leher. Malam telah mengungkung danau. Aku mengerti kenapa perkampungan ini sepi total. Penduduknya sengaja masuk ke dalam rumah, tidak menyalakan lampu dan berhenti melakukan kegiatan. Bahkan serangga malam pun seakan tahu apa yang ada di dalam danau. Mereka juga tidak mau terbang dekat-dekat danau.

Kami menaiki perahu kecil. Mena-tara-nata II menyuruh Ily melepas tali di tiang dermaga.

”Kamu bisa menggunakan dayung?” Mena-tara-nata II bertanya pada Ily saat dia sudah duduk.

Ily mengangguk. ”Kami pernah berlatih mendayung di Akademi.”

”Bagus, kamu pegang dayung satunya.” Mena-tara-nata II menyerahkan dayung.

”Dayunglah selembut mungkin. Jangan menimbulkan riak sekecil apa pun.”

Ily mengangguk. Dia bisa melakukannya.

”Kalian siap?” Mena-tara-nata II bertanya padaku, Seli, dan Ali. Kami mengangguk. Tidak ada waktu lagi berpikir mundur.

Saat Mena dan Ily mulai mendayung, perahu kecil itu bergerak perlahan-lahan, dalam senyap, mulai melaju di permukaan danau.

***

Mena-tara-nata II tidak langsung menuju tengah danau. Dia memutari tepi danau perlahan-lahan. Mungkin itu saran yang diberikan tetua nelayan, agar perahu kami terlihat alami, seperti potongan kayu yang terseret ke tengah danau oleh riak normal permukaan air.

Danau itu berukuran besar, lebarnya enam-tujuh kilometer, panjangnya tidak terlihat. Langit cerah, dipenuhi bintang gemintang dan bulan yang semakin penuh. Angin bertiup pelan, sepoi-sepoi. Permukaan danau terlihat gelap. Kami tidak bersuara, duduk di tengah, memperhatikan Mena-tara-nata II dan Ily yang terus mengayuh perahu kecil di ujung-ujungnya.

Perlahan-lahan, dua jam berlalu, perahu kecil yang kami naiki terus menuju tengah danau. Napasku mulai menderu kencang oleh suasana tegang. Seli terlihat mengusap dahinya yang berkeringat. Ali menatap sekitar. Matanya awas mengamati permukaan laut.

Satu jam lagi berlalu, Mena-tara-nata II mengangkat tangannya, memberi kode agar Ily berhenti mendayung. Kami sudah persis berada di tengah danau. Ily menaikkan dayung ke atas perahu. Sekaranglah saatnya jika petunjuk itu akan datang. Ini persis tengah malam, saat cahaya yang bersinar dalam gelap muncul.

Ali menyentuh lenganku. Aku menoleh. Ali menunjuk ke samping kanan perahu. Kami serempak menatap ke arah yang sama.

Awalnya hanya kerlap-kerlip kecil, tapi lama-kelamaan, permukaan danau terlihat dipenuhi sesuatu yang bercahaya. Permukaan air di sekitar kami terlihat indah sekali. Aku menahan napas. Aku belum pernah melihat danau yang bisa bercahaya.

Ily menatapku. Aku tahu maksudnya. Sekaranglah saatnya aku memecahkan petunjuk kedua.

Tapi aku tidak bisa berkonsentrasi. Ini berbeda ketika di depan air terjun yang tenang. Sekarang aku tegang sekali, khawatir monster itu akan muncul kapan pun. Bagaimana aku akan membiarkan alam bicara padaku saat napasku seperti tersengal.

Saat aku masih belum juga mengerti apa maksud formasi cahaya yang bergerak-gerak di danau, dari kedalaman air, terlihat dari atas perahu kami, bergerak mengerikan monster itu. Tubuhnya besar, dengan delapan lengan panjang. Wajahku memucat, hampir tersedak. Mengerikan sekali melihat monster itu datang, berenang cepat menuju permukaan. Cahaya kerlap-kerlip di dalam danau meneranginya. Itu gurita! Itulah monster raksasa yang ditakuti penduduk Danau Teluk Jauh. Cahaya-cahaya yang kami lihat, itu adalah ikan-ikan yang bercahaya. Ikan-ikan ini bermigrasi dari lautan dalam, habitat asalnya, masuk ke perairan tawar lewat aliran sungai besar, tiba di danau ini, tempat mereka berkembang biak setiap delapan tahun sekali, sesuai siklus alam di Klan Matahari. Mereka sedang bertelur di tengah malam, ketika predator alami mereka juga datang. Kehadiran ikan-ikan bercahaya inilah yang mengundang gurita raksasa laut dalam ikut bermigrasi ke Danau Teluk Jauh.

Mulut besar gurita terbuka, mulai menyedot ribuan ikan bercahaya yang berenang di dekatnya. Aku menatap ke bawah air dengan jeri. Seli menutup mulutnya. Mulut gurita itu besar sekali, saking besarnya, gurita ini bisa menelan bulat-bulat perahu kami. Tetapi gurita itu tidak menyadari kehadiran kami, meski jaraknya dengan kami lima belas meter. Mena-tara-nata II benar. Sepanjang kami tidak bersuara, tidak mengeluarkan cahaya, perahu kecil kami hanya dianggap kayu yang hanyut di permukaan danau.

Gurita raksasa itu terus memburu ikan-ikan bercahaya. Lengan-lengannya bergerak ke sana kemari membuat riak besar di permukaan danau. Perahu kami terombangambing. Ily menatapku sekali lagi. Aku menelan ludah, menggeleng. Aku tahu maksud tatapan Ily. Dia mendesakku, apakah aku sudah menerjemahkan petunjuk kedua. Kepalaku buntu, bagaimana aku bisa memahami kerlapkerlip cahaya di permukaan danau? Petunjuk kami justru sedang dimakan gurita raksasa.

Permukaan danau beriak semakin kencang. Kami harus mencengkeram tepi perahu agar tidak terbanting. Mena-taranata II juga menatapku, sekarang atau tidak sama sekali, kami harus bergegas meninggalkan lokasi ini sebelum perahu kami terbalik, atau sebelum kehadiran kami diketahui. Aku mengeluh. Aku tidak bisa membaca petunjuk ini.

Saat aku masih memaksa kepalaku berkonsentrasi penuh, mendadak terdengar teriakan kencang empat puluh meter di dekat kami.

Kami tidak menyadari, karena terlalu berkonsentrasi menatap ke dalam air, jika ada kontingen lain yang juga tiba di tengah danau. Kontingen penunggang cerpelai—terlihat dari seragamnya. Mereka berempat juga naik perahu kecil, berusaha tenang dan tidak mengeluarkan cahaya. Tapi salah satu kontingen itu terlempar ke air karena riak besar yang dibuat gurita raksasa. Dia berteriak panik. Saat teriakan itu pecah di udara, akibatnya mengerikan sekali. Gurita raksasa berhenti mengejar ikan-ikan, berbalik, berenang cepat ke arah asal suara.

Aku menahan napas. Seli menutup mulutnya. Mulut gurita itu terbuka lebar, lengannya keluar dari air, bersiap menelan bulat-bulat anggota kontingen yang terlempar. Apa yang harus kulakukan? Anggota kontingen yang terjatuh di air berseru-seru panik, meminta tolong kepada temannya di atas perahu kecil. Tiga temannya berdiri, melepaskan petir raksasa, menyambar menyilaukan, menghantam lenganlengan gurita. Percuma, itu tidak menghentikan gerakan gurita.

Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin membiarkan anggota kontingen penunggang cerpelai ditelan gurita raksasa. Tanganku mengepal, dan sebelum Seli, Ali, dan yang lain menyadarinya, aku telah menghilang, dan sekejap kemudian muncul di atas permukaan air. Sepersekian detik kakiku menginjak permukaan air, aku menyambar tubuh anggota cerpelai, kemudian menghilang kembali, muncul di atas perahu kami. Aku berhasil menangkapnya.

Anggota kontingen penunggang cerpelai basah kuyup. Wajahnya pucat pasi. Dia tergeletak di lantai perahu. Dia masih panik dan tidak tahu apa yang menyelamatkannya.

Gurita raksasa menggerung marah mengetahui mangsanya lenyap. Delapan lengannya memukul permukaan air, menyerang perahu kontingen penunggang cerpelai.

”Kita tidak bisa membiarkan mereka dihabisi gurita itu,” aku berseru kepada Ily.

Lagi pula, posisi kami juga sudah diketahui gurita itu. Setelah monster itu berhasil menenggelamkan perahu penunggang cerpelai, monster itu pasti akan menyerang kami. Tepi danau empat kilometer jauhnya dari sini, tidak ada yang bisa melarikan diri dari gurita ini.

Ily mengangguk, meloloskan tombak peraknya, hendak meloncat ke permukaan air. ”Apa yang akan kamu lakukan?” Aku menatapnya tidak mengerti. Loncat ke dalam air sama saja bunuh diri. Kami harus tetap berada di atas perahu saat melawan gurita itu.

Ily menyeringai, menekan tombol di sepatu. ”Aku lupa memberitahu kalian, ayahku memberikan fungsi tambahan di sepatu kalian. Kita bisa berlari di atas air. Aktifkan pelampung kecilnya.”

Bahkan Ali yang sejak tadi duduk ketakutan, mendongak. Ekspresi bertanya-tanya tampak jelas di wajahnya.

Ily sudah meloncat ke atas permukaan air. Dalam sekejap dia berlari cepat menuju perahu kontingen penunggang cerpelai, mengetuk tombak peraknya. Tombak itu memanjang tiga kali.

Astaga? Itu keren sekali. Bagaimana caranya Ily bisa berlari di atas permukaan air?

Aku ikut meloncat ke atas permukaan danau setelah menekan tombol. Sepatu kami didesain Ilo persis seperti pelampung (yang berukuran kecil berbentuk sepatu). Itu yang membuat kami bisa berdiri di atas permukaan air. Tapi kami harus segera menjaga keseimbangan. Jika aku terjatuh ke air, badanku masuk ke dalam air, sepatu akan menggantung di atas. Ini bukan seperti papan selancar yang lebar. Ini hanya sepatu.

Aku menelan ludah, segera mempelajari cepat teknologi baru ini. Beberapa langkah masih terasa janggal, tidak terbiasa, tapi tidak ada waktu untuk berlatih, tiga anggota kontingen penunggang cerpelai terdesak.

Petir menyambar-nyambar dari perahu kontingen penunggang cerpelai. Setiap kali lengan gurita mendekat, mereka menahannya dengan sambaran petir. Tapi gurita itu sepertinya kebal dengan sambaran listrik. Hanya membuat gurita itu semakin marah. Satu lengannya lolos dari sambaran petir, siap menghantam perahu. Ily sudah dekat, berlari cepat, menebaskan tongkat peraknya. Satu lengan gurita raksasa putus, berdebam ke dalam air.

Gurita itu menggerung mengerikan. Dia tidak pernah menerima perlawanan seperti ini dari mangsanya. Dua lengannya melesat, siap menghantam Ily. Aku juga sudah tiba di tengah pertempuran, masih membiasakan diri dengan sepatuku. Tanganku terangkat, konsentrasi penuh, terdengar debum kencang. Itu pukulan paling keras yang pernah kubuat. Salju berguguran di sekitar kami. Dua lengan gurita yang hendak memukul Ily terbanting, salah satunya putus.

Tubuhku terpental ke belakang, karena kuda-kuda kakiku hanya ditopang permukaan air. Hampir saja aku terbalik saat mendarat, tapi aku segera berusaha menyeimbangkan badan. Sepatu ini memaksaku terus bergerak atau aku tenggelam. Aku kembali berlari mendekati perahu kontingen penunggang cerpelai.

Tapi gurita itu tidak kurang akal. Saat aku dan Ily siap menyerang, monster itu menyemburkan tinta hitam pekat ke arahku dan Ily. Kami menunduk menghindar, tapi terlambat, tinta itu mengenai wajah dan tubuh kami. Sesaat kami tidak bisa melihat apa pun, gelap. Gurita itu dengan buas membuka mulutnya, siap menelanku dan Ily.

”Aku tidak akan membiarkanmu lepas kali ini!” Terdengar teriakan kencang.

Itu suata Mena-tara-nata II. Dia berdiri gagah di atas perahu, memegang busur, anak panahnya teracung, sekaligus empat. Seli dan Ali mendorong perahu itu mendekat ke medan pertempuran. Mereka berlari di atas permukaan danau, juga mulai terbiasa dengan teknologi sepatu Ilo.

Persis saat mulut gurita terbuka lebar siap menelanku dan Ily, empat anak panah melesat cepat. Mena-tara-nata II adalah pemburu terbaik. Dia pemanah jitu. Empat anak panah menghunjam mengenai mata gurita, masing-masing dua. Gurita itu melenguh panjang, kehilangan penglihatan.

Aku dan Ily justru telah berhasil melihat kembali, menyeka wajah yang dipenuhi tinta gurita. Dengan cepat Ily berlari menghunjamkan tombak peraknya ke kepala gurita. Aku melepas pukulanku persis ke mulut gurita. Terdengar suara berdentum kencang, juga cabikan tongkat. Monster yang datang setiap delapan tahun, monster yang menjadi momok menakutkan seluruh Danau Teluk Jauh, berhasil dikalahkan.

Perlahan tubuhnya tenggelam di antara kerlap-kerlip ikan bercahaya, yang juga menyelam kembali ke dasar danau. Besok ikan-ikan itu akan kembali ke laut lepas, habitat asli mereka. Tidak ada lagi pertunjukan kerlap-kerlip yang bersinar dalam gelap di permukaan Danau Teluk Jauh.

Petunjuk kedua kami telah pergi, sebelum aku sempat memahaminya.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊