menu

Bulan Bab 16

Mode Malam
Bab 16
NAMA pemilik perahu itu adalah Nena-tara-neta V. Dia memperkenalkan diri setelah kami naik. ”Kalian bisa memanggilku Nena.” Dia tersenyum untuk pertama kali. Wajahnya yang seram karena matanya yang terpicing sebelah dan tidak simetris terlihat lebih bersahabat. Empat harimau kami meringkuk di bagian belakang perahu, mendengus. Harimau-harimau itu tidak suka berada di atas air. Sementara kami duduk di bagian depan yang memiliki atap. Perahu kayu ini meski usianya tua terlihat masih kokoh.

”Maafkan aku jika terlihat tidak mau mengalah dalam permainan tadi.” Nena tertawa, sambil mengendalikan perahu yang mulai melaju. ”Astaga, berpuluh tahun aku dikenal sebagai pemain tebak-tebakan nomor satu di sepanjang tepian danau. Malam ini aku dikalahkan anak remaja. Anak itu genius sekali.” Aku melirik Ali—aku pikir dia akan membusungkan dada, tapi Ali tidak terlalu memperhatikan percakapan. Dia sedang asyik mengamati bagaimana perahu kayu kami melaju.

Nena seperti tahu apa yang diperhatikan Ali. ”Kami nelayan generasi lama, sebenarnya tidak terlalu terbiasa dengan teknologi. Tapi kamu benar, aku memasang mesin di perahu kayu tua ini. Aku membelinya di kota. Bukan yang paling canggih, yang bisa membuatnya terbang di atas permukaan air, tapi mesin itu lebih dari cukup karena aku tidak perlu lagi mendayung atau menggunakan layar. Aku sudah terlalu tua melakukannya, tenagaku jauh berkurang.”

Ali mengangguk mendengar penjelasan.

”Dulu danau ini dipenuhi banyak perkampungan. Nelayan hilir-mudik. Orang-orang berdatangan untuk membeli ikan. Ada banyak dermaga, begitu hidup, amat menyenangkan. Waktu berjalan tidak terasa, kesibukan di mana-mana. Kemudian dunia berubah. Orang-orang menggunakan cara berbeda menangkap ikan. Orang kota menyebutnya teknologi. Mereka bahkan tidak perlu pergi ke danau. Ikan-ikan cukup diternakkan. Satu per satu perkampungan nelayan hilang, juga dermaga-dermaga.” Nena menatap kejauhan. Permukaan danau beriak tenang. Perahu kayu melaju stabil menuju kerlap-kerlip cahaya lampu di perkampungan.

”Kenapa kamu tidak ikut pindah ke kota? Malah tinggal di dermaga tua?” Seli bertanya.

Nena tertawa. ”Aku lahir dan dibesarkan di danau ini, Nak. Ratusan tahun aku menghabiskan waktu di sini. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Aku suka menunggu senja di dermaga, menatap matahari tenggelam, menunggu pagi, dan menatap matahari terbit. Aku tidak akan menukarnya dengan kehidupan kota.”

Lengang sejenak, hanya menyisakan suara perahu membelah permukaan danau.

”Aku tahu siapa kalian,” Nena bicara. Kami sudah sepertiga jalan.

Siapa kami? Seli menoleh kepadaku. Dia tahu kami datang dari Klan Bulan?

”Aku tahu kalian kontingen Festival Bunga Matahari.” Nena menatap kami satu per satu. ”Ada dua kontingen lain yang memintaku menyeberangkan mereka. Kabar baiknya, mereka punya uang banyak. Jadi, mereka tidak perlu harus bermain tebak-tebakan denganku.”

”Kapan mereka menyeberang?” Ily segera bertanya. ”Satu kontingen menunggang kuda putih, mereka menye-

berang tadi pagi-pagi buta, masih gelap, membangunkanku yang masih tidur. Satu lagi menunggang salamander raksasa, mereka menyeberang tadi siang. Mungkin mereka masih di perkampungan nelayan di seberang, atau sudah mengejar petunjuk kedua.”

”Kita tertinggal, Ra. Mereka di depan kita,” Ily berbisik padaku.

”Apakah ada kontingen yang menunggang cerpelai?” Seli teringat sesuatu, bertanya. Nena menggeleng. ”Aku tidak melihat mereka. Boleh jadi mereka lewat dermaga lain. Ada satu dermaga di arah utara, seingatku masih ada perahu di sana. Ada apa dengan penunggang cerpelai?”

Seli menghela napas. ”Aku mengkhawatirkan mereka, salah satu cerpelai mereka tewas diserang gorila sebelumnya. Semoga mereka baik-baik saja dan berhasil menyeberang.”

Nena menatap Seli lamat-lamat. ”Kalian benar-benar rombongan paling aneh yang pernah kuseberangkan. Pertama, kalian tidak membawa uang walau sebutir. Kedua, lihatlah, bagaimana mungkin kalian peserta Festival Bunga Matahari. Selain masih remaja, komposisi kalian ganjil, tidak seragam, sangat berbeda satu sama lain. Ketiga, kamu justru mencemaskan keselamatan kontingen lainnya. Ini kompetisi, Nak, seharusnya kamu senang jika mereka tidak bisa melanjutkan pertandingan.”

Seli menatap pemilik perahu, apa salahnya dengan mencemaskan peserta lain?

”Aku tahu, kalian anak-anak yang baik.” Nena akhirnya menghela napas panjang, menatap kami penuh penghargaan. ”Sudah lama sekali aku tidak melihat kompetisi ini diikuti peserta dengan ketulusan seperti kalian. Ribuan tahun Festival Bunga Matahari diadakan, semua peserta hanya berambisi menemukan bunga itu paling pertama. Demi kekuasaan, demi posisi sosial, hadiah, apa pun itu yang diperebutkan. Mereka bersedia saling menyerang, mencelakakan satu sama lain.” ”Apa yang kamu ketahui tentang festival ini, Nena?” aku bertanya—siapa tahu dia punya informasi bermanfaat.

”Tidak banyak. Hanya yang terlihat saja dari luar, dan memang diketahui orang-orang. Apakah kalian pernah bertemu dengan Fala-tara-tana IV, Ketua Konsil?” Nena bertanya balik.

Aku mengangguk. Aku pernah bertemu dengannya dalam jarak dekat saat pembukaan, wajah yang berkabut.

”Nah, dia peserta kompetisi empat ratus tahun lalu. Satu-satunya sepanjang sejarah pernah ada kontingen yang berisi empat saudara kandung. Fala-tara-tana I, II, III, dan IV.”

Akhirnya aku tahu apa arti angka-angka romawi pada nama orang Klan Matahari. Itu menunjukkan urutan lahir. Jadi, jika ada enam bersaudara, nama mereka akan sama baik laki-laki atau wanita, hanya dibedakan dengan angka romawi di belakangnya.

”Itu tahun kompetisi gelap. Tiga kakak Fala-tara-tana IV tewas dalam lorong-lorong. Menurut bisik-bisik seluruh Kota Ilios yang kudengar, ada dua kontingen yang tiba bersamaan di lokasi bunga. Mereka bertempur satu sama lain di lorong-lorong mengerikan, berebut bunga itu. Dari delapan peserta, hanya Fala-tara-tana IV yang selamat. Dia kembali membawa bunga itu seperti seorang pahlawan, bercerita tentang pengorbanan tiga kakaknya, dan dia menerima seluruh kekuasaan pada masa depan. Puluhan tahun kemudian dia menjadi anggota Konsil, untuk kemudian menjadi Ketua Konsil hingga hari ini.”

Aku mencerna penjelasan Nena, teringat cerita Hana di padang perdu berduri. Empat ratus tahun lalu? Janganjangan itu kejadian sama yang dimaksud Hana? Ketika Mata putra satu-satunya juga tewas dalam kompetisi, di lorong-lorong. Apakah Nena dan Hana menceritakan kejadian yang sama?

”Di luar itu aku tidak tahu banyak tentang kompetisi Festival Bunga Matahari. Tahun berganti, pemenang baru muncul, mereka bergabung ke Kota Ilios, menjadi orang penting. Jika kalian bertanya kepadaku apakah aku peduli dengan festival ini? Jawabannya, tidak lagi. Sebagian besar penduduk juga tidak peduli. Festival itu sekarang hanya jadi alat bagi Fala-tara-tana IV untuk terus berkuasa. Dia terlalu lama berkuasa, membuat ketimpangan di manamana. Kota Ilios bagaikan kota di atas langit, begitu canggih dan modern, sedangkan perkampungan di pedalaman tertinggal beberapa abad. Konsil telah lama dikuasai ambisi politik. Aku hanya peduli jika rute petunjuk melewati danau ini, seperti tahun ini. Kalian tahu, aku mendapatkan sekantong besar uang dengan menyeberangkan mereka.” Nena terkekeh, terus mengendalikan laju perahu. Aku menatap lamat-lamat permukaan danau yang gelap dan lengang. Ada banyak sekali potongan cerita kompetisi

ini yang kami tidak tahu.

Setelah hampir satu jam menyeberang, perkampungan nelayan semakin dekat. Lampu-lampu rumah panggung yang berdiri di atas tepian danau mulai terlihat jelas. Kampung itu cukup besar. Ada sekitar empat puluh rumah kayu. Beberapa perahu tertambat di kolong rumah. Jika kami datang saat senja, anak-anak mungkin sedang asyik berlarian di atas jembatan yang menghubungkan rumah-rumah. Orang-orang dewasa duduk berkumpul di bangkubangku, mengobrol, menghabiskan minuman hangat sambil menatap danau. Tapi ini sudah pukul sebelas malam, sudah sepi. Mereka sudah tidur.

”Aku tidak mengantar kalian ke dermaga. Aku akan mengantar kalian langsung ke rumah salah satu anakku, namanya Mena-tara-nata II. Kalian bisa memanggilnya Mena. Dia tidak pernah tertarik menjadi nelayan. Dia menghabiskan waktu berburu di alam liar. Dia hafal daerah timur. Jika ada hal ganjil yang ingin kalian cari, Mena pasti tahu. Dia bisa membantu kalian menemukan petunjuk kedua.”

Perahu kayu tua merapat perlahan di kolong salah satu rumah panggung. Nena menambatkan perahunya ke tiang rumah, lantas menaiki anak tangga yang menuju beranda rumah. Nena menyuruh kami ikut naik. Empat harimau kami ikut melompat naik, lincah meniti anak tangga, menggerung senang terbebas dari perahu yang bergoyang sepanjang perjalanan.

”Harimau kalian bisa beristirahat di tempat penyimpanan jaring.” Nena melangkah ke samping rumah. Ada bangunan kecil seperti gudang. Nena membuka pintu, empat harimau itu masuk ke dalam.

Nena kemudian melangkah mengetuk pintu depan rumah, menunggu sejenak.

Pintu dibuka, seorang laki-laki usia empat atau lima puluh tahun, dengan wajah tegas, perawakan tinggi gagah keluar. Sepertinya, orang inilah anak Nena.

”Ah, beruntung kau tidak sedang berburu.” Nena berseru riang. ”Aku sudah khawatir kau tidak ada di rumah. Ayo, mari masuk, anak-anak.”

”Mereka siapa?” Mena-tara-nata II menatap kami tajam. ”Kontingen Festival Bunga Matahari.”

”Kenapa Ayah membawanya kemari? Aku tidak ada urusan dengan mereka.” Mena-tara-nata II terlihat tidak suka.

Nena menggeleng. ”Mereka berbeda, Mena. Amat berbeda. Yang satu itu, yang rambutnya seperti tidak mandi berhari-hari, mengalahkanku dalam permainan tebak-tebakan. Dia menjawab pertanyaan paling sulit hanya dengan berpikir lima belas menit. Genius sekali.”

Mena ikut menatap Ali—apa spesialnya anak ini? Kurus, terlihat ringkih, kurang-lebih begitu arti tatapan Mena.

”Mereka anak-anak yang baik. Percaya atau tidak, mereka bahkan mencemaskan keselamatan peserta lain. Tidak pernah ada peserta festival seperti ini, dan asal kau tahu, baru kali ini aku mengantar penumpang menyeberangi danau secara gratis.”

”Ayah mengantar mereka gratis? Aku tidak percaya itu.” Nena mengangguk. ”Sungguh, Mena. Tidak sebutir uang pun.”

Wajah Mena-tara-nata II yang sejak tadi kaku terlihat mencair. Dia tertawa. ”Aku tetap tidak percaya. Ayah orang paling pelit sepanjang tepian danau. Aku ingat, bahkan waktu aku kecil dulu, Ayah memaksaku bermain tebaktebakan sepanjang hari hanya untuk mengantarku.”

Nena ikut tertawa, kemudian bertanya serius. ”Kau mau membantu mereka, Mena? Demi orang tua pelit ini.”

Mena-tara-nata II menatap ayahnya, lantas mengangguk. ”Akan aku lakukan.”

Nena mengangguk riang. Matanya semakin terpicing. ”Nah, jika demikian, urusanku sudah selesai. Aku harus kembali ke dermagaku. Perkampungan ini selalu saja membuatku pusing. Terlalu banyak hal baru di sini. Selamat tinggal, anak-anak. Dan kamu, besok lusa jika kamu kembali melewati dermaga tua itu, aku dengan senang hati akan melakukan permainan tebak-tebakan lagi.”

Ali mengangguk. ”Sebenarnya, aku juga punya tebaktebakan untukmu saat ini.”

”Oh ya?” Nena menyelidik antusias. ”Apa pertanyaannya, biar aku pikirkan jawabannya.”

”Ada sebuah lubang. Ganjil sekali tabiatnya. Jika terbuka lebar-lebar, yang di dalam justru tidak mau keluar, tapi jika terbuka sempit, yang di dalam keluar seperti terbang. Apakah lubang itu?”

Nena terdiam, mendongak, berpikir sebentar, lantas menatap Ali. ”Sepertinya itu pertanyaan yang sulit, anak muda. Akan aku pikirkan jawabannya sepanjang kembali ke dermaga. Ini sudah terlalu larut, dan kalian perlu istirahat. Selamat tinggal, anak-anak.”

Nena sekali lagi berpamitan, menuruni anak tangga, menuju perahu kayunya.

Setelah kepergian Nena, di rumah kayu, Mena-tara-nata II berbaik hati menyiapkan makan malam untuk kami. Aku tidak tahu ini apa, seperti kentang goreng—yang gosong. Juga ikan bakar yang rasanya hambar. Tapi itu lebih dari cukup untuk mengganjal perut kosong. Pemburu ini tidak banyak bicara, tapi tatapan mata dan gesture wajahnya ramah, tidak seperti saat kami tiba. Setelah makan dengan cepat, membereskan piring-piring, Mena-tara-nata II membentangkan tikar dari anyaman bambu di ruang tengah. Rumah panggung di atas tepian danau itu hanya memiliki satu kamar tidur.

”Apa pun yang kalian cari besok, sebaiknya kita berangkat pagi-pagi sekali. Itu akan memberi waktu lebih banyak,” Mena-tara-nata II mengingatkan, kemudian melangkah menuju kamarnya, meninggalkan kami berempat.

Perkampungan itu lengang. Ini sudah lewat tengah malam.

”Apakah kamu percaya kepadanya?” Seli bertanya kepadaku.

Aku tahu maksud pertanyaan Seli. Sejak tadi dia memperhatikan ruang tengah. Dinding ruangan itu penuh dengan kulit hewan yang dikeringkan, juga gading gajah, tanduk rusa, lebih banyak dibanding koleksi museum. Belum lagi senjata busur, anak panah, tombak, tertata rapi di sudut ruangan.

Dilihat dari isi ruangan depan rumahnya, Mena-taranata II jelas pemburu yang cakap seperti yang dikatakan ayahnya, tapi apakah dia bisa dipercaya atau tidak, aku tidak tahu.

”Setidaknya malam ini perutku kenyang, dan aku siap tidur.” Ali menguap.

Seli menoleh kepadanya. ”Tapi bagaimana kalau pemburu ini berniat buruk? Berubah pikiran?”

”Soal besok, kita urus besok, Sel. Aku butuh istirahat. Kamu tahu, menjawab tebak-tebakan orang tua itu tadi membuatku lelah. Berpikir satu menit itu jauh lebih melelahkan dibanding lari satu kilometer tanpa henti. Bayangkan, aku harus berpikir setengah jam tadi, itu sama seperti aku habis lari tiga puluh kilometer.” Ali menguap lagi, lebih lebar.

Aku hendak tertawa mendengar kalimat Ali. Entah dia sedang bergurau atau serius. Tapi Ali benar, kami harus segera istirahat. Besok perjalanan panjang telah menunggu.

***

Pukul lima pagi, Ily membangunkan kami.

Ini hari keempat perjalanan, lima hari lagi bunga matahari pertama itu akan mekar. Aku mulai terbiasa dengan ritme perjalanan. Jadi, saat Ily membangunkan, aku langsung bangkit. Ali masih harus digoyangkan berkali-kali, baru bangun. Itu pun dengan mata masih terpejam.

”Bisakah kami tidur sebentar lagi, Ily?” Ali bergelung. ”Bangun, Ali. Mena bahkan sudah bangun satu jam

lalu.”

”Ke mana Mena?” aku bertanya pada Ily.

”Sedang mengurus harimau-harimau kita, memberi mereka makan ikan-ikan segar.”

Mata Ali membuka. ”Itu kabar bagus. Dua hari ke depan kita bisa aman dari harimau-harimau itu.”

”Kalian bergegas bersiap-siap. Mena bilang kita segera berangkat,” Ily mengingatkan, fokus.

Mena-tara-nata II masuk ruang depan lima menit kemudian. Kami sudah mengenakan ransel, memastikan tidak ada yang tertinggal.

”Kalian sudah siap?” Mena bertanya.

Untuk pertama kalinya aku melihat Mena lengkap dengan pakaian berburunya. Dia membawa anak panah dan busur. Pakaiannya jauh dari warna-warni seperti yang kami lihat di Kota Ilios. Berpakaian cokelat gelap, Menatara-nata II terlihat seperti pemburu hebat yang kubayangkan.

Kami mengangguk. Tanpa membuang waktu, Mena berjalan lebih dulu keluar. Perkampungan nelayan masih gelap. Kabut putih mengambang. Permukaan danau terlihat lengang. Kami mengeluarkan harimau dari gudang. Empat harimau itu menggerung pelan, senang bertemu tuannya lagi—dengan perut kenyang.

”Aku suka dengan hewan tunggangan kalian.” Mena-taranata II tersenyum, memimpin kami melangkah di jembatan-jembatan kayu, menuju daratan rumput basah. ”Aku belum pernah melihat harimau putih. Hewan itu langka sekali.”

Setiba di luar perkampungan, aku hendak bertanya apakah Mena-tara-nata II akan berjalan kaki. Sebelum sempat bertanya, Mena-tara-nata II memasukkan dua jarinya ke mulut, membuat siulan panjang dan melengking, seperti memanggil sesuatu. Aku dan Ily saling toleh.

Satu menit berlalu, dari balik pepohonan dekat perkampungan nelayan, muncul seekor macan tutul. Ia berlari cepat mendekat. Warna kulitnya sama seperti macan tutul yang kuketahui, tapi yang satu ini lebih besar, setinggi harimau kami. Ekornya lebih panjang.

”Kemarilah, Kawan.” Mena-tara-nata II tertawa, melemparkan seekor ikan besar.

Macan tutul itu melompat-lompat riang, segera menyambar ikan besar. Mena mengelus-elus leher macan tutul saat hewan itu menghabiskan makanannya.

”Ini hewan tungganganku,” Mena-tara-nata II menjelaskan. ”Ia tidak memakai pelana apa pun. Aku tidak pernah memeliharanya di rumah. Ia tetap hewan liar. Kapan pun aku membutuhkannya, aku tinggal bersiul. Ia akan datang bagai angin puyuh. Hewan paling cepat di seluruh daratan sekitar sini. Sama dengan tunggangan kalian.”

Itu mengesankan sekali. Bahkan Seli yang sejak semalam cemas, wajahnya lebih semangat.

Ikan besar itu habis. Mena-tara-nata II masih mengusap punggung macan tutul beberapa saat, kemudian melompat naik. ”Kita pergi ke arah mana?”

”Timur,” Seli menjawab pendek.

”Baik. Ikuti aku,” Mena berseru, macan tutulnya mulai berlari.

***

Area yang kami lewati sekarang adalah padang rumput. Sejauh mata memandang, rumput setinggi pinggang, seperti ilalang, tapi ujung-ujung daunnya tidak tajam, dengan bunga seperti kapas, beterbangan ditiup angin, membuat langit-langit dipenuhi kapas putih. Mena-tara-nata II memimpin di depan. Dia hafal daerah ini, tahu harus melewati jalan mana. Hewan tunggangan kami mengikutinya, berlari cepat di antara rumput.

Satu jam berlalu, sinar pertama matahari tiba, menyiram lembut. Angin bertiup sepoi-sepoi, menerpa wajah-wajah kami, terasa segar. Meski tanpa pelana, dan macan tutul itu tidak berbulu tebal, Mena-tara-nata II tidak kesulitan menungganginya. Sesekali dia memperlambat gerakan, menunggu kami yang tertinggal di belakang. Saat matahari naik sepenggalah, Mena-tara-nata II menghentikan macan tutulnya.

”Kalian belum sarapan,” Mena menjelaskan pendek, sambil mengeluarkan perbekalan.

Ali menatap tidak selera ”kentang goreng” gosong dan potongan ikan bakar masam. ”Euh, sepertinya itu sisa tadi malam. Jangan-jangan sudah basi,” Ali berbisik. Seli balas menyikutnya, bilang seharusnya Ali berterima kasih sudah disiapkan makanan. Lagi pula perut kami sudah berbunyi. Kami duduk melingkar di antara rumput-rumput tinggi.

”Kalian dari fraksi mana?” Mena-tara-nata II bertanya, sambil menghabiskan makanan.

”Fraksi? Apa itu fraksi?” Seli bertanya balik.

”Kalian tidak tahu apa itu fraksi? Ada sembilan fraksi politik, masing-masing mengirimkan satu kontingen untuk festival. Aku tidak pernah melihat fraksi yang mengenakan baju hitam-hitam seperti yang kalian kenakan, juga tidak ada fraksi yang menggunakan harimau salju sebagai hewan tunggangan. Sejujurnya, berpuluh tahun menjadi pemburu, aku baru melihat hewan seperti ini.”

”Eh, kami tidak datang dari fraksi mana pun.” Seli menggeleng. ”Kami baru tiba di Kota Ilios, dan langsung disuruh ikut festival.”

”Baru tiba di kota? Dan langsung diminta ikut kompetisi?” Mena-tara-nata II menggeleng seperti tidak percaya apa yang dia dengar—sepertinya itu gaya khas Mena. ”Falatara-tana IV dan Konsil mungkin sudah gila. Entah apa yang mereka rencanakan kali ini dengan memasukkan kalian, yang bahkan belum lewat dua puluh tahun sebagai syarat penting ikut kompetisi.”

Aku tidak tahu harus berkomentar apa, hanya diam. Mena mungkin tidak tahu tentang dunia paralel, bahwa kami datang dari Klan Bulan. Di depan kami, di antara rumput-rumput yang rebah, harimau-harimau salju sedang bermain dengan macan tutul. Mereka melompat, berguling, berkejaran. Hewan ini akrab satu sama lain.

”Aku menemukan macan tutul itu saat masih bayi. Induknya diserang hewan buas saat minum di tepi danau. Aku merawatnya. Saat dia sudah bisa lari cepat, aku melepaskannya di hutan liar,” Mena-tara-nata II menjelaskan. ”Kenapa kamu melepaskannya kembali? Bukankah kamu

pemburu?” Seli bertanya.

”Aku bukan pemburu seperti yang kalian pikirkan.” Mena-tara-nata II tertawa. ”Kalian sepertinya salah paham setelah melihat seluruh kulit hewan, gading, dan tanduk di ruanganku. Aku tidak membunuh seekor hewan pun. Itu aku ambil dari hewan mati di alam liar. Aku tidak suka menjadi nelayan. Ayahku, si tua yang mengantar gratis kalian menyeberang, tahu soal itu. Sejak kecil aku lebih suka menghabiskan waktu di daratan, bukan di danau. Aku mengumpulkan duri-duri hewan liar yang terlepas, bulubulu indah burung yang rontok, juga gading dan tanduk. Aku mencintai hewan-hewan. Aku tidak pernah membunuh mereka, kecuali dalam situasi darurat, terpaksa.” Seli menghela napas lega.

”Kalian lihat ini.” Mena-tara-nata II mengeluarkan botol kecil dari sakunya. ”Aku juga menghabiskan waktu di alam liar untuk mencari obat-obatan. Terutama penawar racun ular, reptil, hewan berbisa. Botol ini berisi obat penawar racun terbaik di wilayah timur. Aku membutuhkan bertahun-tahun mencarinya di hutan, menyadap cairannya dari jamur-jamur langka.”

Kami memperhatikan botol kecil dengan cairan biru di tangan Mena-tara-nata II. Terutama Seli, dia sempat memegang botol itu. Wajahnya antusias. Seli sekarang bisa memercayai penuh Mena-tara-nata II.

Lima belas menit istirahat, kami sudah menghabiskan jatah sarapan masing-masing.

”Ada yang bisa menjelaskan kepadaku, petunjuk apa yang akan kita cari?” Mena-tara-nata II bertanya, merapikan perbekalan.

”Sesuatu yang bercahaya dalam gelap,” Seli menjawab cepat.

Mena-tara-nata II bergumam, mengulang kalimat itu, ”Sesuatu yang bercahaya dalam gelap.”

”Apakah itu seperti kunang-kunang? Atau cahaya lampu?”

”Tidak. Itu bukan sesuatu yang lazim. Ia hanya muncul saat-saat tertentu, atau sangat berbeda. Petunjuk yang saat kita melihatnya, kita akan tahu segera itulah petunjuknya.” Mena-tara-nata II terlihat berpikir. Wajahnya sedikit berubah.

”Apakah itu termasuk jika sesuatu itu sangat berbahaya dan tidak pernah ada orang yang berani mendekatinya?”

Aku mengangguk.

Mena-tara-nata II mengembuskan napas panjang.

Ekspresi Mena bukan pertanda baik.

”Aku sepertinya tahu apa yang kalian cari. Tapi ini berbahaya sekali. Beberapa hari lalu terbetik kabar dari nelayan Danau Teluk Jauh. Mereka berhenti mencari ikan karena ada sesuatu yang terjadi pada danau mereka. Mereka mengkhawatirkan monster danau kembali.”

”Monster?” Seli berseru dengan suara tercekat.

”Iya, monster. Nelayan Danau Teluk Jauh selalu menyebutnya monster. Aku tidak tahu persis itu makhluk apa. Ukurannya besar. Aku pernah melihatnya mengaduk danau delapan tahun lalu, terakhir kali monster itu muncul. Belasan perahu hancur lebur, juga perkampungan. Setiap kali dia kembali, permukaan Danau Teluk Jauh akan bercahaya dalam gelap, berpendar-pendar, seperti ada ribuan lampu di dalamnya. Kalian mencari sesuatu yang bercahaya dalam gelap, bukan? Hanya itu sesuatu yang tidak lazim, sesuatu yang muncul saat-saat tertentu di wilayah timur.”

Kami semua terdiam.

”Kita pergi ke sana, Ra?” Seli terlihat cemas.

”Kita tidak punya pilihan, Sel. Aku harus melihatnya agar tahu petunjuk berikut.” ”Tapi itu terdengar sangat berbahaya.”

”Kita bisa melewatinya bersama-sama, Sel.” Aku menggenggam tangan Seli.

”Lagi pula, monster yang mereka bilang itu mungkin saja hanya ikan raksasa, Seli,” Ali menceletuk, berkata santai. ”Atau hanya lobster atau kepiting berukuran besar. Di dunia ini hewan-hewan daratan terlihat lebih besar, apalagi hewan di dalam air. Itu bukan monster sungguhan. Nah, sepanjang dia bukan burung-burung kecil, aku tidak keberatan melihatnya.”

Aku menyikut lengan Ali, menyuruhnya berhenti bergurau dalam situasi seperti ini.

”Kita harus bergegas melihat danau itu, Ra. Dua kontingen lain mungkin sudah melihatnya tadi malam,” Ily mengingatkan.

Aku mengangguk, mendongak menatap Mena-tara-nata

II. ”Apakah kamu bersedia mengantar kami ke tempat berbahaya itu?”

Mena-tara-nata II mengangguk. ”Akan aku lakukan. Aku punya utang lama dengan monster itu.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊