menu

Bulan Bab 15

Mode Malam
Bab 15
ALI menyerahkan ranselnya kepadaku, juga pemukul kasti. ”Tolong dipegang, Ra.” Dia lantas menggeliat-geliatkan badan, seperti sedang melakukan pemanasan.

”Apa yang kamu lakukan? Kita tidak sedang di kelas olahraga.”

”Aku akan mengalahkan orang tua ini, Ra. Kamu tenang saja. Dia tidak bisa meremehkan manusia rendah Klan Bumi sepertiku,” Ali berkata santai, melangkah maju, menarik kursi kayu kecil, duduk di hadapan orang tua itu. Dia masih melemaskan badannya, sengaja benar dilebihlebihkan.

”Dia sudah siap?” Orang dengan mata terpicing menoleh kepada Seli, sedikit bingung melihat Ali yang justru kelewat santai.

”Bilang kepada dia, Sel, kapan saja dia akan mengeluarkan pertanyaan, aku sudah siap,” Ali menjawab tidak peduli. Seli bergantian menatap Ali dan orang tua pemilik perahu. Sepertinya aku lebih kasihan dengan posisi Seli sekarang, bertugas menerjemahkan percakapan dua orang menyebalkan.

”Pertanyaan pertama, semakin banyak kamu mendapatkannya, justru semakin kamu tidak bisa melihatnya.” Orang tua itu telah melepas pertanyaannya.

Persis Seli selesai menerjemahkan kalimat itu, Ali seketika terdiam. Gerakan tubuhnya terhenti. Suasana lengang, menyisakan angin yang menerpa wajah, membuat nyala api berkerlap-kerlip dan permukaan danau bergoyang.

”Kamu tahu jawabannya, Ali?” Seli bertanya, mendesak.

Sudah lima menit Ali terdiam.

”Biarkan aku berpikir,” Ali mendengus.

Orang dengan mata terpicing terlihat menyeringai lebar. Wajah itu seperti hendak bilang: Nah, rasakan sekarang, Silakan kamu cari jawabannya. Jika sudah menyerah, bilang padaku.

Lima menit lagi masih lengang. Aku mulai gemas, apakah Ali tahu jawabannya atau tidak.

”Tidak masalah.” Orang tua itu meluruskan kaki, seperti tahu apa yang kami cemaskan. ”Kita punya waktu semalaman hingga dia punya jawabannya. Kamu tahu, ketika dermaga ini masih ramah, butuh berminggu-minggu memecahkan pertanyaanku itu.”

Tapi kami jelas tidak akan menghabiskan waktu berharihari untuk bermain tebak-tebakan. Aku menoleh kepada Ily—yang juga menunggu tidak sabaran.

”Apakah...,” Seli berbisik lagi kepada Ali, tapi terpotong.

Ali mengangkat tangannya. ”Aku tahu jawabannya. Aku tahu.”

Kami menatap Ali, antusias. Apakah dia sungguhan tahu atau lagi-lagi bergurau?

Ali tertawa. ”Semakin banyak kamu mendapatkannya, justru semakin kamu tidak bisa melihatnya. Itu mudah sekali. Tebak-tebakan seperti ini selalu saja lurus secara harfiah, tidak pernah rumit. Dan selalu ada sisi ilmiah masuk akalnya. Jawabannya adalah: kegelapan. Semakin banyak kegelapan yang kamu dapat, semakin tidak bisa kamu melihatnya.”

Seli menerjemahkan jawaban Ali.

Orang dengan mata terpicing itu ternganga. Giginya yang tanggal dua terlihat. Wajahnya yang sebelumnya senang melihat Ali berpikir keras langsung padam. Jawaban Ali benar.

”Kamu hanya beruntung. Benar-benar keberuntungan pemula,” dia berseru tidak terima.

Ali kembali melemaskan tangan, seperti petinju yang sedang istirahat ronde kedua. Kembali seperti mengganggu lawan tandingnya dengan gerakan tidak perlu. Aku tersenyum lebar. Si genius ini, yang benci pelajaran bahasa, jika serius, juga bisa menaklukkan soal tebak-tebakan penuh rima. Ily juga terlihat senang. Kami sepertinya punya kesempatan. ”Baik, pertanyaan kedua,” orang dengan mata terpicing itu mendengus. Dia berdiri dari bangkunya.

Kami menatapnya. Dia mau ke mana?

Orang itu kembali ke perahu, mengomel, membongkar tumpukan, seperti mencari sesuatu, lantas keluar membawa sepotong kayu berbentuk pipa kecil. Kembali duduk di bangku kayu.

”Ada sepotong kayu. Panjangnya lima puluh sentimeter. Sama besar ujung-ujungnya, tiada berbeda. Kayu ini diambil dari sebatang pohon, dibentuk dan dihaluskan tukang kayu terbaik.” Orang tua itu mulai mengeluarkan pertanyaan dalam kalimat-kalimat sajak. ”Tapi malang, setelah jadi, si tukang kayu tidak tahu mana pangkal mana ujung kayu itu. Apakah kamu tahu dan bisa membantu?”

Pemilik perahu menyerahkan kayu berbentuk pipa itu.

Ali menerimanya, Seli menerjemahkan pertanyaan, sekali lagi gerakan tubuh Ali terhenti.

”Eh, sebentar, jadi apa sebenarnya yang hendak dia tanyakan soal kayu ini? Aku pusing mendengar kalimatkalimatnya barusan,” Ali protes.

”Beritahu padaku, mana bagian bawah dan mana bagian atas jika kayu ini masih ada di pohonnya,” orang tua itu sekarang bertanya lebih singkat dan jelas.

Aku yang memperhatikan permainan mengeluh dalam hati. Bagaimana Ali akan tahu? Kayu itu sudah sempurna seperti pipa, bagaimana kita tahu mana bagian bawahnya, dan mana yang di atas saat masih berupa batang pohon? Ily menahan napas. Dia tidak terlalu mengerti percakapan itu, tapi tahu arah pertanyaan.

Dermaga di tepi danau kembali lengang. Orang dengan mata terpicing kembali riang, sesekali dia tersenyum masam ke arah Ali.

Aku mengusap wajah. Ini pasti akan membutuhkan waktu lebih lama. Kami bersiap lebih sabar menunggu. Harimauharimau kami menggerung pelan, meringkuk di atas dermaga.

Tiba-tiba Ali melemparkan kayu itu ke atas permukaan danau.

”Hei! Apa yang kamu lakukan dengan kayuku?” pemilik perahu berseru marah, tidak terima.

”Kamu ingin tahu mana bagian bawah, mana bagian ujung, bukan?” Ali berseru santai. ”Lihat sendiri, bagian kayu yang terendam lebih dalam di atas permukaan air, maka itulah bagian bawahnya. Sedangkan yang terapung lebih tinggi, itulah bagian atasnya.”

Seli bergegas menerjemahkan jawaban Ali.

Pemilik perahu yang tadi teriak marah-marah terdiam, berdiri mematung, seperti tidak percaya mendengar penjelasan Ali.

”Kamu!” Tangannya mengacung kepada Ali. ”Kamu berhasil menjawab tebak-tebakan yang paling sulit di seluruh tepian danau ini hanya dalam waktu lima belas menit. Bagaimana kamu tahu, hah?”

”Ini mudah sekali. Hanya pengetahuan dasar fisika tentang berat jenis. Kayu bagian bawah memiliki kepadatan lebih tinggi, maka dia akan tenggelam lebih banyak. Semirip apa pun kayu yang kamu berikan ujung-ujungnya, air selalu bisa menunjukkan jawabannya.” Ali mengangkat bahu, bergaya—seperti habis memukul KO lawannya.

Pemilik perahu terdiam, membuat giginya yang tanggal terlihat.

Aku bertepuk tangan. Jawaban Ali mengesankan sekali. Seli tertawa lega. Seli sempat panik, mengira pemilik perahu akan memukul Ali karena marah kayunya dilemparkan ke danau.

”Baik. Baik. Lupakan kayu itu, aku masih punya kayu lain di dalam.” Pemilik perahu duduk kembali. ”Pertanyaan terakhir.”

Ali juga kembali duduk.

Pemilik perahu itu tersenyum licik, membuat matanya semakin terpicing. Dia mengeluarkan kotak kayu kecil dari sakunya, sebesar kotak pensil. ”Pertanyaan ketiganya adalah, apa yang ada di dalam kotak milikku ini?”

Tentu saja Ali tidak terima.

”Itu bukan tebak-tebakan,” Ali berseru ketus.

Seli juga ikut protes, ”Bagaimana mungkin kami bisa menebak apa yang ada di dalam kotak. Isinya bisa apa saja. Sama sekali tidak ada petunjuk. Tidak ada logika menebaknya. Tidak ada dasarnya. Kamu harus mengganti dengan pertanyaan lain.”

”Itu pertanyaan ketigaku. Aku tidak akan mengubahnya,” orang tua itu menjawab tidak kalah ketus. ”Terserah jika kalian tidak mau menjawabnya, silakan memutari danau besar ini.”

”Siapa yang bisa menebak isi kotak yang datang tiba-tiba? Aku bukan peramal, dan aku sama sekali tidak percaya pada peramal,” Ali berseru. ”Bahkan aku curiga, kamu sejak awal memang berniat curang. Kamu bisa mengganti isi kotak meskipun jawaban kami benar. Kamu hanya tidak mau dikalahkan, jadilah mengarang pertanyaan itu. Kamu sudah menyiapkannya untuk berjaga-jaga agar tidak kalah.”

Ali mendengus sebal, berdiri dari kursinya, melangkah mendekatiku, berbisik kepadaku tentang seharusnya aku membiarkan saja Seli melemparkan pemilik perahu ke danau sejak tadi. Harimau kami juga terlihat menggerung marah, seperti tahu apa yang sedang terjadi. Kami sedang dicurangi. Aku memegang surai harimauku, menenangkannya.

Saat itulah, saat memegang surai harimau, aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Harimau itu memberitahuku tentang pemahaman hidup yang baik.

Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali: cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika. Harimauku menggerung lembut. ”Aku tahu jawabannya,” aku berkata memotong perdebatan Seli, Ali, dan pemilik perahu.

Mereka menoleh padaku.

”Apakah aku boleh menjawabnya?” Aku menatap pemilik perahu.

Dia mengangguk. ”Kalian berempat, siapa pun, boleh menjawabnya.”

Aku melangkah, duduk di bangku yang ditinggalkan Ali, menatap kotak di tangan pemilik perahu lamat-lamat.

Semua orang menungguku sekarang.

”Isinya kosong.” Aku menatap wajah pemilik perahu, tersenyum. ”Tapi meskipun kosong, sesungguhnya isi kotak itu adalah kehormatan. Kehormatan semua orang yang pernah tinggal di sini. Kehormatan para pemain tebak-tebakan yang pernah ada. Mereka melakukannya untuk bersukacita, bukan soal menang-kalah. Mereka selalu menghormati setiap pertanyaan dan setiap jawaban. Itulah isi kotak tersebut.”

Dermaga kayu tidak terawat di tepi danau itu lengang.

Pemilik perahu terlihat menelan ludah. Wajah liciknya padam, juga seringai senang penuh kemenangan yang telah berhasil memperdaya Ali dengan pertanyaan ketiga. Dia perlahan memasukkan kotak itu ke dalam sakunya.

”Kamu benar, Nak. Isinya kosong.” Pemilik perahu berdiri, menatap lamat-lamat kepadaku. ”Aku akan mengantar kalian ke seberang. Naikkan harimau-harimau kalian.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊