menu

Bulan Bab 14

Mode Malam
Bab 14
Pergilah ke utara,
Temukan seruling tak berkesudahan. 
Singkap di belakangnya,
Petunjuk paling awal akan muncul.

SELI membaca tulisan di atas kertas kecil yang selalu dia bawa. Kami berempat telah berdiri di depan air terjun itu, mendongak. Wajah kami basah oleh butir air kecil yang terbang.

”Singkap belakangnya? Apa maksudnya, Ra? Apakah kita harus mencari sesuatu di balik airnya?” Seli menoleh padaku.

”Tidak ada apa-apa di balik airnya, Seli. Hanya batu granit keras,” Ali berseru, berusaha mengalahkan suara air terjun. Aku menggeleng. ”Kita tidak perlu mencarinya lagi. Aku sudah melihatnya tadi malam.”

Ali dan Seli menatapku, tidak mengerti.

”Tadi malam, aku berjam-jam menatap air terjun ini, memikirkan petunjuk itu. Dinding air terjun ini bercahaya.”

”Itu karena fosfor. Hal biasa,” Ali memotong kalimatku. ”Iya, itu karena fosfor, kamu sudah menjelaskannya, Ali. Tapi cahaya itu tidak biasa. Cahaya itu seperti menunjukkan sesuatu. Seperti saat kita melihat tanda di kota kita, penunjuk arah. Seperti kerlap-kerlip lampu yang sengaja dibuat sedemikian rupa.” Aku mengusap wajah yang basah.

Tadi malam aku tidak menyadarinya, tapi sekarang aku tahu apa maksudnya.

”Apakah tandanya seperti panah?” Ali memastikan.

”Tidak seperti itu, Ali. Tidak langsung berbentuk ramburambu jalan persis. Hana pernah bilang kalau kita harus mendengarkan alam. Aku sekarang yakin sekali, tadi malam saat menatap lama cahaya di dinding granit ngarai, itulah petunjuknya. Cahaya itu seperti menyuruh kita pergi ke arah...” Aku menelan ludah, kerlap-kerlip cahaya tadi malam masih terekam jelas di kepalaku. Cahaya itu seperti mengalir dari atas, terus mengarah ke kanan, terusmenerus.

”Ke arah mana, Ra?” Ily bertanya, tidak sabaran.

”Timur.” Tanganku menunjuk ke kanan, berkata mantap. ”Petunjuk pertama menyuruh kita pergi ke timur. Aku yakin sekali.” ”Lantas apa yang akan kita temukan di sana?” Seli bertanya.

”Petunjuk kedua. Aku tidak tahu seperti apa, tapi... jika itu benar-benar ada, ia akan seperti air terjun ini. Bersinar dalam gelap. Memberitahukan petunjuk berikutnya.”

Kami diam sejenak, menyisakan suara debum air terjun tak berkesudahan. Ali yang selalu berpikir rasional, sepertinya masih ragu-ragu. Bagaimana mungkin fosfor yang menyala dalam gelap bisa menjadi petunjuk di mana bunga matahari pertama mekar.

”Aku tidak tahu penjelasan logisnya, Ali,” aku berkata pelan. ”Tapi dinding granit ngarai ini seperti bicara padaku, memanggil lamat-lamat. Entahlah. Mungkin ketika bunga matahari pertama akan mekar, maka mulai terlihat satu per satu sesuatu yang bercahaya dalam gelap di seluruh tempat. Seperti pergantian musim di dunia kita, hewan-hewan melakukan migrasi, angin bertiup ke arah berbeda. Kamu pasti lebih tahu soal itu.”

Ali mengusap rambutnya yang berantakan. ”Kamu benar soal itu, Ra. Tapi bagian soal cahaya fosfor di batu granit seolah bicara denganmu itu sebenarnya horor. Air terjun ini benda mati, bagaimana ia bisa bicara. Berbeda dengan harimau, lebah, itu masuk akal.”

”Astaga, Ali.” Seli terlihat sebal. ”Beberapa hari lalu kita masih sekolah dengan seragam SMA, mengerjakan soal ulangan. Hari ini kita berada di dunia lain. Itu lebih tidak masuk akal.” ”Ya, tapi soal dunia paralel itu aku sudah tahu penjelasannya. Seperti gedung aula sekolah dengan banyak lapangan permainan di atasnya. Atau seperti layar komputer yang membuka empat aplikasi secara serempak. Itu hanya soal kapasitas. Tapi yang ini, bagaimana cahaya batu granit bisa memberi pesan ke Raib tujuan berikutnya? Bagaimana kalau Raib keliru?”

”Kalau kita tidak tahu penjelasannya, bukan berarti itu jadi salah, bukan?” Seli melotot. ”Bukankah kamu sendiri pernah bilang begitu.”

Ali nyengir, terdiam. ”Iya sih, tapi...”

”Aku percaya pada, Raib. Itu petunjuknya,” Ily akhirnya ikut bersuara.

”Aku juga percaya,” Seli berkata mantap. ”Apakah kamu akan ikut ke timur atau tetap menuju utara sendirian, Ali?”

Ali mengangkat bahu. ”Aku hanya memastikan, Seli. Sejak di Klan Bulan, adalah tugasku memastikan, berpikir. Tentu saja aku akan ikut ke mana pun teman-temanku pergi.”

”Baik! Kita menuju timur sekarang.” Ily mengangguk. ”Bergegas! Kemungkinan kontingen lain sudah sejak dua hari lalu menemukan petunjuk pertama ini dan mereka sudah melesat cepat ke timur.”

Kami segera balik kanan, lantas melompat ke atas pelana harimau masing-masing, menggebah harimau kami ke tujuan berikutnya, timur. ***

Jalur ke timur adalah area Klan Matahari dengan danaudanau besar yang kami lihat di kejauhan, dari atap bangunan Kota Ilios.

Dua jam dari ngarai besar, kami masih menuruni lereng pegunungan berkabut, melewati hutan lebat. Matahari terus beranjak naik. Ily bilang, jika perhitungannya tidak keliru, kami tidak lama lagi meninggalkan hutan lebat ini. Ali bergumam riang, ”Itu kabar baik.”

Sepanjang jalan, setiap kali melihat burung kecil melintas, Ali bergegas memegang pemukul kastinya. Kami tertawa, sepertinya Ali trauma dikejar burung pemakan daging kemarin sore.

Pukul sembilan, kami akhirnya keluar dari hutan lebat itu.

Aku memperlambat harimauku, menatap ke depan.

Area baru ini terlihat sangat berbeda, seperti masuk ke ruangan lain. Bukan hutan basah, bukan padang rumput, juga bukan lembah bebatuan. Entah bagaimana menyebutnya. Tanah di hadapan kami berwarna kemerah-merahan, kering, dan panas, tapi ini bukan gurun. Ada banyak tumbuhan, dengan bentuk aneh, berupa bonggol-bonggol kayu tinggi, dengan dahan, ranting, tapi tidak berdaun. Bonggol-bonggol kayu itu seperti bonsai, tapi dalam ukuran raksasa, menjulang tinggi. Juga terdapat rumpun semak belukar, dengan ranting-ranting tanpa daun, dan pohon kaktus. Semua yang tidak berdaun tumbuh di sini. Cahaya matahari terik terasa menyengat wajah.

Aku menoleh kepada Ily, bertanya.

”Terus maju, Ra. Kita di arah yang benar, menuju timur.” Kami sepertinya harus melewati area dengan tanah kemerah-merahan ini. Aku memegang surai harimauku eraterat. Seakan tahu perintah tuannya, kaki-kaki harimauku mulai berlari menginjak tanah kering, membuat debu beterbangan. Seli, Ily, dan Ali menyusul di belakang. Debu mengepul sepanjang jalan yang kami lewati. Empat harimau kami tidak kesulitan. Tumbuhan di sini renggang, membuat

harimau bisa bergerak lincah.

Kami membutuhkan waktu hampir enam jam melewati kawasan itu. Tidak ada hewan buas atau rintangan yang menghambat. Semakin masuk ke dalam, pohon-pohon bonggol raksasa semakin banyak dan semakin aneh bentuknya, dengan duri-duri. Kawasan ini dipenuhi reptil kecil, seperti bunglon, iguana, dan kadal. Mereka meringkuk, bersembunyi di sela-sela bonggol pohon saat kami melintas.

”Ilo seharusnya membuatkan kita juga topi hitam-hitam. Mungkin itu akan jadi tren fashion menarik di Klan Bulan,” Ali menceletuk saat kami berhenti untuk istirahat.

Aku dan Seli menoleh kepada Ali. Dia sedang bergurau?

Kenapa tiba-tiba bicara tentang pakaian?

”Itu ide serius, Ra.” Ali mengangkat bahu. ”Karena topi itu juga berguna untuk menghindari panas matahari seperti sekarang, bukan?” Tengah hari, cahaya matahari seperti membakar kepala. Seli mengangguk, seolah sependapat. ”Sepertinya menarik, Ali. Topi itu juga akan berguna untuk lari meng-

hindari burung-burung kecil.”

Ali tertawa, membalas, ”Kamu juga panik dan pingsan kemarin, Sel. Sama saja.”

Kami lebih sering berhenti karena cuaca panas, dan harus menghemat air dalam tabung. Entah hingga kapan area kering ini berakhir, sepanjang siang harimau kami berlari, tetap tidak bertemu tepinya. Ali sempat bergurau bahwa pandangannya mulai berkunang-kunang, berhalusinasi.

Setidaknya, meski kami gerah, haus, lemas, empat harimau kami tetap gagah, berlari cepat melintasi tanah kering merah. Empat harimau ini meski besar di lingkungan bersalju, bisa beradaptasi dengan cepat. Ily memastikan tidak ada yang tercecer terlalu jauh.

”Kenapa Ily jadi dua, sekarang? Ini aneh sekali.” Ali mengusap matanya saat Ily berlari sejajar.

”Kamu serius atau bergurau?” Ily bertanya.

Aku tertawa. ”Jangan dengarkan dia, Ily. Dia sedang sangat bosan melintasi wilayah ini.”

Untunglah, sebelum Ali berhalusinasi sungguhan, matahari mulai turun di kaki langit. Cahayanya tidak seterik siang. Dan kabar baiknya bertambah, saat matahari siap tenggelam di kaki barat, kami akhirnya tiba di ujung area itu. Tiba di tepi danau yang luas. Cahaya matahari senja menerpa wajah, terasa lembut. Empat harimau maju perlahan-lahan, menginjak rumput basah. Perjalanan kami terhenti oleh danau itu.

”Jika terus ke timur, kita harus menyeberangi danau ini, Ra,” Ily bicara padaku.

Tapi bagaimana caranya? Tidak ada perahu atau apalah yang bisa kami pergunakan. Danau ini luas, lebarnya lebih dari sepuluh kilometer, dan panjangnya berpuluh-puluh kilometer, membentang dari utara ke selatan, seperti sungai besar.

”Apakah kita bisa memutarinya?” Seli memberi usul.

Ily menggeleng. ”Kita tidak tahu seberapa panjang danau ini. Kira-kira memerlukan waktu lebih dari dua belas jam, itu pun baru tiba di ujungnya, tambahkan dua belas jam lagi menelusuri tepi danau untuk ke titik di seberang kita. Waktu kita akan terbuang banyak.”

Aku mengusap keringat di leher. Ily benar. Ini sudah senja hari ketiga. Tinggal enam hari lagi bunga matahari itu akan mekar, dan kami masih harus mencari dua petunjuk berikutnya.

”Aku pernah melihat harimau berenang di air. Apakah harimau kita bisa melakukannya?” Seli memberi usul lagi. Sebagai jawaban, harimau yang ditunggangi Seli meng-

gerung kencang.

”Sepertinya tidak, Sel.” Aku nyengir.

Setengah jam kami hanya berdiri termangu di sisi danau itu, menatap ke seberang yang terlihat samar-samar. Empat harimau kami menunggu, duduk di rumput basah. Matahari akhirnya sempurna tenggelam. Malam kembali tiba.

Aku menatap kejauhan. Ada kerlap-kerlip cahaya di seberang danau.

”Itu sepertinya perkampungan penduduk atau kota di tepi danau.” Ily mendongak, ikut menyipitkan mata. ”Tidak salah lagi, itu nyala lampu dari bangunan mereka.”

”Kalau begitu, di sekitar sini juga pasti ada perkampungan penduduk di tepi danau.” Ali bangkit berdiri. ”Kita bisa mencarinya. Mungkin mereka punya perahu yang bisa dipinjam untuk menyeberang.”

Ily mengangguk. ”Kamu benar. Ayo, naik ke harimau masing-masing.”

Kami bergerak menelusuri tepi danau, menuju ke selatan, melewati rumput basah.

Setengah jam berlalu, sudah jauh sekali harimau kami berlari, kami tidak menemukan perkampungan apa pun. Seli mulai ragu-ragu, berkata bahwa mungkin satu-satunya permukiman penduduk adalah yang kami lihat di seberang sana, tujuan kami.

”Apakah kita terus menelusuri tepi danau, Ra?” Seli bertanya.

Aku diam sejenak, menghentikan harimau. Sekitar kami semakin gelap.

”Kita sudah kepalang tanggung, Ra, sebaiknya terus maju.” Ily mengusulkan.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, berharap di depan sana akhirnya menemukan perkampungan nelayan. Sia-sia, setengah jam berlalu lagi, tetap tidak ada. Hanya tepi danau yang lengang. Bintang gemintang bersinar di langit, bulan sabit semakin besar. Bukan hanya Seli, Ali juga ikut ragu-ragu sekarang—padahal dia yang mengusulkan kami mencari perkampungan.

”Mungkin sebaiknya kita berhenti, Ily, bermalam di sini. Besok pagi kita pikirkan jalan keluarnya,” aku berdiskusi dengan Ily. Kami sejak tadi belum istirahat. Perut kami juga kosong. Roti terakhir dari Hana telah habis.

”Sedikit lagi, Ra. Beri waktu setengah jam. Jika tidak ada apa pun, kita berhenti untuk bermalam.” Ily mengusap rambut hitamnya. Dia jelas terlihat penasaran.

Baiklah. Tidak ada salahnya melanjutkan pencarian setengah jam lagi. Empat harimau kami kembali berlari di tepi danau.

Setengah jam berlalu dengan cepat. Ily menghentikan harimaunya, menghela napas kesal. Ini untuk pertama kalinya aku melihat Ily kecewa. Biasanya dia selalu terkendali. Tapi perjalanan ini memang tidak mudah. Kami sudah tiga hari di perjalanan, melewati padang perdu berduri, bertemu gorila dan burung pemakan daging, melewati area terik, dan sekarang buntu. Kami tidak tahu bagaimana menyeberangi danau ini. Kami akan kehilangan waktu berharga, sedangkan kontingen lain mungkin saja sudah menemukan petunjuk kedua.

Aku sudah bersiap memutuskan untuk berhenti, ketika Seli berseru, menunjuk ke depan, ”Itu apa?” Kami menatap arah yang ditunjuk Seli, ada kerlip cahaya di sana, di tepi danau, dua ratus meter dari kami. Kecil sekali, seperti cahaya lampu. Aku menggebah harimau ke arah cahaya, disusul yang lain.

Cahaya kecil itu datang dari lampu yang digantungkan di dermaga tua. Dermaga kayu itu menjorok ke danau, dan di ujung dermaga itu tertambat sebuah perahu, tidak besar, tapi lebih dari cukup untuk membawa kami ke seberang. Aku bersorak dalam hati. Tidak apalah tidak menemukan perkampungan, dermaga kayu dengan perahunya lebih dari cukup.

Kami membawa harimau melangkah ke atas dermaga, menyelidik hati-hati.

”Apa yang kalian cari malam-malam di sini?” suara serak berseru. Seseorang keluar dari perahu, membawa lampu lain di tangannya.

Aku tidak langsung menjawab, hanya memperhatikan. Cahaya lampu kecil menerangi wajah orang itu. Usianya sudah lanjut, mengenakan pakaian panjang seperti para nelayan, terbuat dari kain kasar. Rambutnya yang jarang terlihat acak-acakan. Giginya tanggal dua. Matanya terpicing satu. Wajah itu terlihat menakutkan, tapi intonasi suara dan eskpresi wajahnya tidak mengancam.

”Apa yang kalian cari di dermagaku?” orang itu bertanya lagi.

”Kami tersesat, hendak pulang, menyeberangi danau,” Seli yang menjawab—dalam bahasa Klan Matahari. ”Tersesat?” Orang itu menatap kami. ”Empat orang menunggang harimau putih mengaku tersesat di dermaga ini? Aku sudah sering melihat hal aneh, Nak. Kalian tidak bisa membohongiku.”

Seli bergumam. Hanya itu yang bisa dikarang-karang alasannya.

”Apakah kami bisa menumpang perahumu untuk menyeberangi danau?” Seli bertanya—menerjemahkan kalimatku.

”Tergantung. Seberapa besar bayaran kalian,” orang itu menjawab datar, separuh tidak peduli, separuh lagi hendak kembali ke perahunya.

Kami berempat saling tatap. Bayaran? Kami tidak punya uang Klan Matahari.

Ily melompat turun dari harimaunya, mengeluarkan sesuatu dari ransel. Dua keping emas uang Klan Bulan. Itu benda berharga di kotaku. Dua keping ini setara seratus gram emas.

”Apakah kamu bisa menerima ini?” Seli bertanya, Ily menjulurkan tangannya.

Orang itu mengambil dua koin, memeriksanya.

”Aku tidak mengenal uang ini.” Orang itu menggeleng. ”Benda ini tidak berharga.”

Aku mengeluh dalam hati. Bagaimana mungkin emas tidak berharga di sini?

Kami berempat saling tatap.

”Silakan pergi dari sini. Aku sibuk, harus memperbaiki jaringku.” Orang itu balik kanan, membawa lampu kecilnya masuk ke dalam perahu.

”Ayolah! Kami harus menyeberang danau malam ini,” Seli berseru, berusaha menahan. ”Apa saja yang kamu minta akan kami beri, sepanjang kami bisa menyeberang.”

Orang dengan mata terpicing itu kembali menatap kami. ”Bagaimana jika kalian memberikan satu ekor harimau putih itu. Aku tahu, itu hewan langka. Bisa mahal sekali

harganya di kota.”

Aku menggeleng tegas. Enak saja, kami tidak akan menukar hewan tunggangan dengan apa pun.

”Bagaimana kalau kita paksa saja? Kita rebut perahunya?” Ali berbisik.

Aku juga menggeleng. Kami tidak akan melakukan itu. Kami bukan orang jahat. Memenangkan kompetisi ini penting, tapi tidak berarti harus menggunakan semua cara.

”Hanya perahu miliknya kesempatan kita, Ra,” Ali mendesakku. ”Kamu pukul saja dia, atau suruh Seli mendorongnya ke danau dari jarak jauh, lantas kita lompat ke perahunya, segera lari.”

”Tidak, Ali.” Aku melotot.

”Kami tidak bisa memberikan harimau. Mereka bukan hanya hewan tunggangan, mereka sahabat kami. Ayolah, kamu bisa meminta yang lain,” Seli masih membujuk. Ily berdiri di sebelahnya.

Orang dengan mata terpicing itu diam sebentar, menyelidiki kami satu per satu. ”Apakah kalian pandai main tebak-tebakan?” orang itu akhirnya bersuara.

”Tebak-tebakan?” Seli tidak mengerti.

”Iya. Itu permainan yang menyenangkan. Aku dulu sering memainkannya waktu dermaga ini masih ramai, menghabiskan waktu sambil menunggu penumpang. Tapi tidak lagi sekarang. Bertahun-tahun dermaga ini mati, sejak tanahnya menjadi merah kering, tidak bisa ditanami. Penduduk pindah ke perkampungan seberang sana yang lebih subur. Dulu, kami biasa bermain tebak-tebakan sepanjang hari sambil menunggu penumpang, memikirkan jawabannya berminggu-minggu. Apakah kalian pandai main tebaktebakan?”

Seli menoleh kepadaku, menerjemahkan cepat maksud kalimat itu. ”Apakah kita bisa main tebak-tebakan, Ra? Orang ini bertanya.” Aku menggeleng, bermain tebak-tebakan? Pertanyaan yang ganjil sekali. Apa maunya sekarang pemilik perahu ini?

”Kami tidak terbiasa main tebak-tebakan,” Seli bicara lagi ke orang dengan mata terpicing itu.

Orang itu terkekeh. ”Jika demikian, itu kabar buruk buat kalian. Kalian tidak punya uang, tidak mau memberikan seekor harimau, sekarang pun tidak bisa main tebak-tebakan. Bagaimana aku akan mengantar kalian menyeberang? Kalahkan aku tiga kali dalam tebak-tebakan, maka aku akan membawa kalian menyeberang. Atau silakan mengelilingi danau, itu menghabiskan waktu sehari-semalam untuk tiba di perkampungan seberang. Aku sibuk harus memperbaiki jaring. Kalian bisa meninggalkan dermagaku sekarang.”

”Dia memaksa kita bermain tebak-tebakan, Ra.” Seli kembali menerjemahkan percakapan. ”Jika tidak, dia tidak bersedia lagi bicara, mengusir kita pergi.”

Aku meremas jemari tanganku, sebal. Bagaimana ini? ”Biar aku yang menghadapinya, bermain tebak-tebakan.”

Ali melompat turun dari harimaunya.

Kami menatap Ali. ”Kamu yakin, Ali?”

”Tidak ada salahnya mencoba, bukan? Sepanjang tebaktebakannya masuk akal, mungkin aku bisa menebaknya. Tapi jika hanya permainan kalimat, kita lempar orang ini ke danau.”

Aku dan Ily berdiskusi sebentar. Kesepakatan disetujui. Ali akan melawannya bermain tebak-tebakan, Seli yang membantu menerjemahkan.

Orang dengan mata terpicing itu tertawa riang. ”Ini akan menyenangkan, anak-anak. Ayolah, jangan tegang. Kalian tidak bisa berpikir jika tegang.” Dia mengambil dua kursi kayu dari perahunya, meletakkannya di ujung dermaga, duduk di salah satunya.

”Silakan duduk. Kita lakukan dengan cara lama. Aku mengajukan tiga pertanyaan. Jika kamu bisa menjawabnya, aku akan membawa kalian menyeberang. Astaga, ini menyenangkan sekali. Sudah berpuluh tahun aku tidak melakukannya. Kamu tahu, aku pemain tebak-tebakan nomor satu di seluruh danau ini. Kamu beruntung jika bisa menjawab pertanyaan pertamaku.”

Seli mengeluh mendengar kalimat itu. Lantas bagaimana kami bisa menang? 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊