menu

Bulan Bab 13

Mode Malam
Bab 13
ILY yang berjaga paling akhir, dia membangunkan kami pukul lima pagi.

Ily sudah mengingatkan tadi malam sebelum tidur, karena kami istirahat lebih awal, besoknya kami akan berangkat pagi buta. Semua harus bangun tepat waktu, tidak ada lagi malas-malasan. Ali saat bangun hendak protes, bilang masih gelap, tapi aku menarik tangannya agar berdiri.

Sekitar kami memang masih remang saat kami bersiapsiap, memasang ransel di punggung, memadamkan sisa api unggun, dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Semak belukar di dekat ceruk terlihat berembun. Udara terasa segar.

Aku naik ke atas pelana harimau. Giliranku berada di depan, menoleh memastikan yang lain sudah siap. Ily mengacungkan tangan, memberi kode. Aku mencengkeram surai harimau, dan sekejap kami sudah menuruni lereng, melanjutkan perjalanan ke utara. Ini hari kedua, masih tujuh hari lagi bunga matahari pertama itu mekar—di mana pun ia akan mekar.

Empat harimau kami beriringan melompat lincah menuruni lereng berbatu. Gerakannya gagah. Sejauh ini tidak ada masalah. Kami tiba di pangkal hutan lebat itu ketika matahari sudah naik sepenggalah. Sekitar kami sudah terang, persis seperti perhitungan Ily.

”Hutan lagi dan lebih lebat,” Ali bergumam tidak suka, menatapnya dengan masygul. Tapi kami tidak punya alternatif lain. Kami tidak mungkin memutari hutan ini.

Pohon-pohon raksasa berdiri gagah menyambut. Sulursulur panjangnya menjuntai dari dahan-dahan tinggi. Tumbuhan anggrek satu-dua terlihat di dahan, bunganya indah. Sesekali kami bertemu kawanan monyet. Riuhrendah berlarian di atas dahan pohon saat melihat kami— tepatnya saat melihat harimau yang kami tunggangi.

”Aku pikir itu gorila kemarin.” Seli mengusap wajahnya, sedikit kaget.

Ali tertawa kecil—meski sebenarnya dia juga pucat.

Harimau kami terus berlari di sela-sela pohon, sesekali lincah melompati kayu melintang. Dasar hutan terlihat lembap, dipenuhi tumpukan daun, lumut, dan pakis.

Sejauh ini tidak ada yang mengkhawatirkan. Ily sempat menunjuk beberapa hewan besar yang melintas, mungkin itu seekor babi hutan, atau sejenisnya. Kami melewatinya dengan aman. ”Kita tinggal dua jam lagi dari lereng gunung besar berkabut.” Ily memberitahu setelah kami istirahat makan siang. Persediaan roti dari Hana berkurang separuh. Kami harus memikirkan perbekalan tambahan dua hari lagi.

Bicara soal makanan, Ali sempat menawarkan kenapa kami tidak menangkap rusa atau kancil untuk dipanggang jika kehabisan makanan. Ide itu langsung mentah saat kami akhirnya memang berpapasan dengan seekor rusa. Hewan itu tinggi besar, dengan tanduk menjulang seperti mahkota, berlindung di balik pohon, takut dengan harimau yang kami naiki. Ide Ali langsung ditolak. Aku tidak ingin membunuh hewan mana pun, apalagi hewan seindah yang kulihat. Juga kancil, melihat mereka berlarian di tengah hutan, di antara kabut putih, begitu takzim, aku kembali menggeleng. Itu bukan ide yang bagus. Mungkin kalau kami punya waktu, menangkap beberapa ekor ikan di sungai sepertinya lebih masuk akal.

Semakin dekat dengan lereng itu kabut semakin tebal. Dan kami punya masalah baru, tabung air kami menipis, sejak tadi kami tidak menemukan sungai. Ily berkali-kali memeriksa genangan air di dasar hutan yang kami temukan, menggeleng, tidak layak diminum, beracun.

Empat harimau terus menuju utara dengan persediaan air habis total. Kami mulai mendaki, berharap segera tiba di lereng pegunungan berkabut itu, bermalam di sana.

Tapi entah kenapa, Seli yang sekarang memimpin di depan, tiba-tiba berhenti. ”Ada apa?” Aku juga menghentikan harimauku, berdiri di sebelahnya.

Seli ragu-ragu menunjuk ke depan.

Aku bersiap dengan kemungkinan terburuk. Terakhir kami terhenti karena sesuatu, ada sekawanan gorila mengamuk. Jika ada sesuatu yang berbahaya, dengan tetap berada di atas harimau, kami bisa meloloskan diri dengan cepat.

Di depan terlihat kerangka besar, seperti tulang-tulang gajah atau hewan sejenis itu. Tidak ada daging yang tersisa di kerangka itu, hanya tulang yang masih tersusun rapi. Seperti kerangka utuh yang pernah aku lihat di museummuseum kotaku.

Aku menelan ludah.

”Terus maju, Ra. Jangan berhenti,” Ily mengingatkanku. Aku mengangguk. Aku berusaha mengabaikan pemandangan seram barusan. Entah kenapa ada kerangka besar utuh di tengah hutan. Mungkin hewan itu tewas

normal, dan dagingnya dimakan ulat hingga habis.

Tapi kami tidak bisa mengabaikan tulang-tulang itu. Lima menit kemudian, Seli menunjuk kerangka berikutnya, berbentuk seperti banteng atau sapi liar. Sama persis kondisinya. Juga lima menit kemudian, semakin banyak kerangka utuh yang kami temukan sepanjang jalan. Hutan mulai terasa senyap. Seperti tidak ada hewan yang mau dekat-dekat areal itu.

”Apa yang memakan hewan itu?” Seli bertanya. Aku sejak tadi menyejajarinya di depan. Ily dan Ali di belakang. Kami bergerak lebih rapat, berjaga-jaga dari kemungkinan buruk.

Aku menggeleng. Tidak tahu. Ali juga tidak punya penjelasan.

Matahari mulai turun di kaki langit, sudah pukul empat sore. Setengah jam terakhir kami seperti melewati padang tulang-tulang. Ada banyak sekali. Ada di mana-mana, seperti tempat pembantaian hewan. Harimau yang kami naiki mulai gelisah.

”Kita terus maju, Ily?” aku bertanya, mulai ragu.

Ily mengangguk. ”Kita sudah tanggung, Ra. Kita tidak bisa kembali. Sebentar lagi lereng-lereng gunung berkabut, mungkin di sana ada padang rumput atau hamparan bebatuan untuk bermalam.”

”Bagaimana kalau kita berputar?” Seli memberi usul. Dia semakin cemas.

Ily menggeleng. ”Tidak ada waktu untuk berputar.” Tetapi bagaimana dengan kerangka hewan-hewan ini?

Pasti ada yang melakukannya. Menghabisi begitu banyak hewan besar. Bukan beruang atau gorila yang membuat kerangka hewan berserakan, apalagi monster atau raksasa, karena mereka pasti menyerang dengan melukai, mencabikcabik, tidak akan menyisakan kerangka utuh.

Saat kami masih bertanya-tanya satu sama lain, seekor burung kecil terlihat terbang rendah di atas kami. Besarnya hanya separuh burung pipit yang kukenal. Warnanya merah-hijau, dengan jambul oranye, seperti topi, terlihat menawan. Satu-dua berikutnya juga muncul, lebih berwarna-warni, kuning-biru dengan jambul lebih panjang. Mereka bersiul merdu, terus terbang, sesekali berani hinggap di pundak, di ransel, di tengkuk harimau, seolah genit menari-nari.

”Ini burung apa? Lucu sekali.” Seli menatapnya. Gerakan harimaunya melambat.

Burung itu terus bersiul-siul, saling menyahut, bergantian, seperti sedang bernyanyi kor. Nada rendah, nada tinggi. Terus menari-nari lincah. Aku tidak pernah tahu burung bisa bernyanyi dan menari seperti ini jika tidak melihatnya. Seli benar, burung ini amat menggemaskan.

Ali menepuk-nepuk atas kepalanya, mengusir burung itu pergi. Dia memang tidak suka hal-hal begini. Dia lebih suka meledakkan sesuatu di laboratorium dibanding ekskul paduan suara atau tari-menari.

Tapi ada yang ganjil. Aku mendadak menyadari sesuatu, burung-burung ini semakin ramai datang. Hei, aku menelan ludah. Ini bukan siulan biasa, mereka sedang memanggil teman-temannya. Sebelum aku menyadari apa yang sedang terjadi, harimau Seli di depan terhenti. Seli mencicit menunjuk ke depan. Saat itulah aku tahu penjelasan kenapa areal hutan ini dipenuhi kerangka hewan utuh. Di depan sana, ribuan burung kecil itu sedang berpesta pora menghabisi daging seekor banteng besar. Rakus dan mengerikan hingga tinggal kerangka tulang, seperti ikan piranha di duniaku—bedanya piranha tidak bisa terbang mengejar. ”Lari, Ra, Seli, Ali!” Ily berseru, membelokkan harimaunya ke kanan.

Tidak perlu diteriaki dua kali, kami segera mengikuti Ily.

Terlambat, burung-burung itu sudah mengetahui kehadiran kami. Mereka terbang ramai-ramai meninggalkan bangkai banteng besar, melesat cepat mengejar.

Aku menggigit bibir, mengangkat tangan, mulai melepas pukulan. Juga Seli, dia melepaskan petir. Tapi burungburung ini bukan gorila yang terlalu lambat untuk mengelak, burung-burung ini seperti jet temput kecil, melesat menghindari setiap pukulan yang kami kirim. Ily meloloskan tombak peraknya, ikut mengusir. Juga Ali, panik memukul-mukulkan pemukul kastinya ke atas.

Sia-sia, burung itu terus mengikuti kami, sambil terus bersiul, sahut-sahutan. Satu-dua mulai berani hinggap dan mematuk punggung, kepala, juga menyerang harimau yang kami tunggangi.

Bagaimana mengusir burung-burung ini? Aku berpikir cepat, sambil terus mencengkeram surai harimauku, dan terus mengirimkan pukulan. Burung inilah yang menyerang hewan-hewan besar yang melintas di bagian hutan ini, burung pemakan daging.

Belum muncul jawabannya, masalah baru datang. Entah dari mana asalnya, melesat bola-bola kecil di udara. Itu buah beri atau sejenisnya. Saat dipukul, buah-buah itu bukannya terlempar jauh, justru meledak, mengeluarkan asap berwarna ungu. Aroma pahit tercium pekat, bahkan sebelum asap itu tiba mengenai kami.

”Racun! Itu buah beracun! Jangan hirup asapnya,” Ily di sebelahku berseru kencang. ”Burung ini cerdas sekali. Mereka memetik buah-buah beracun dari pohonnya.”

”Beracun?” Seli bertanya.

”Ali, berhenti memukul buahnya! Itu akan membuatnya meledak.” Aku meneriaki Ali yang malah membabi buta memukul di atas kepalanya—entah ada atau tidak burung di sana, Ali terus memukul.

Lebih banyak lagi buah-buah kecil itu dilemparkan burung. Kami seperti dijatuhi ratusan bom kecil. Buah itu sensitif. Meskipun tidak dipukul, saat menghantam punggung kami atau mengenai benda keras, buah itu juga meledak. Kami berlari zig-zag ke sana kemari menghindarinya.

”Keluarkan kain yang diberikan Hana, Ily!” aku berseru, teringat sesuatu.

Ily mengerti apa yang kumaksud. Dia bergegas mengeluarkan kain-kain itu dari ranselnya.

Aku tidak mau bernasib sama seperti banteng yang kami lihat sebelumnya. Hewan malang itu pasti roboh karena menghirup asap ungu dari buah beri yang meledak, lantas tubuhnya dimakan ramai-ramai oleh burung kecil warna-warni ini. Cara itulah yang dipakai burungburung mungil ini untuk menaklukkan mangsanya yang jauh lebih besar. Aku memasang kain di wajah, masker darurat. Seli, Ily, dan Ali juga segera menutupi mulut dan hidung dengan kain.

”Bagaimana mengusir mereka?” Seli bertanya.

Aku tidak tahu. Pukulan kami percuma. Mereka bisa menghindar. Si genius Ali tidak bisa diharapkan sekarang. Dia sejak dulu benci burung, Ali sedang panik. Aku mungkin bisa menghilang untuk menghindari burung-burung pemakan daging. Tapi aku tidak bisa membuat yang lain ikut menghilang. Aku mencengkeram surai harimauku. Ayolah, pasti ada cara mengalahkan burung-burung ini.

”AWAS, ALI!” di belakang, Ily berseru kencang, masker Ali terlepas, dan buah beri persis menghantam wajahnya, meledak, terhirup oleh Ali. Racun itu cepat sekali bekerja. Tubuh Ali langsung lunglai di atas punggung harimau, dan terjatuh. Seli menjerit melihatnya.

Apa yang harus kulakukan? Aku menghentikan harimauku, kembali ke belakang, membantu Ali. Ily menarik tubuh Ali, bergegas memindahkannya ke harimaunya. Tapi kami punya masalah berikutnya. Harimau-harimau kami juga mulai menghirup asap ungu itu. Harimau Seli mulai bergerak lambat. Kami benar-benar terdesak. Harimau yang kunaiki mengaum. Suaranya menggelegar. Ia bisa merasakan aku yang semakin terdesak.

Tapi aumannya percuma. Burung-burung itu tidak takut, semakin ramai berkumpul di atas kepala, terus menghujani kami dengan buah beri. Di sekitar kami dipenuhi asap ungu. Apa yang harus kulakukan? Cepat atau lambat aku pasti akan menghirup asap beracun ini. Menghilang? Bagaimana membuat kami semua menghilang dari burungburung ini?

Saat kami sudah benar-benar terdesak, Seli juga sudah lunglai menghisap asap ungu. Aku terpikirkan sesuatu. Aku memang tidak bisa membuat kami menghilang serentak, tapi aku bisa membuat burung-burung itu tidak bisa menemukan kami. Tidak ada lagi waktu, aku mengangkat tangan kananku ke udara, berkonsentrasi penuh. Ini cara terakhir, semoga bekerja.

Splash!

Seperti ada yang menuangkan tinta gelap, sekitar kami menjadi gelap gulita. Seperti ada yang mematikan lampu. Radius hingga lima puluh meter di sekitar kami gelap total. Sarung Tangan Bulan-ku telah menyerap seluruh cahaya yang ada. Itu salah-satu kekuatan yang dimilikinya.

Burung-burung itu berhenti bersiul—digantikan cuitan panik. Mereka mulai terbang tidak terkendali, menabrak pohon, dahan-dahan. Yang lain malah melintas menghirup asap ungu yang mereka ciptakan, jatuh menggelepar di dasar hutan.

Ideku berhasil. Burung-burung yang terlihat indah tapi mematikan itu tidak bisa terbang dalam situasi gelap. Jangankan untuk menemukan kami, mereka seperti kehilangan kendali harus terbang ke mana. Hewan ini aktif di siang hari, tidak bisa terbang di malam hari. Tidak ada lagi nyanyian indah seperti kor, juga gerakan lincah seperti menari di atas pundak-pundak kami. Burung-burung pemakan daging itu kabur. Segera terbang menjauh menuju cahaya terang di kejauhan.

***

Setelah memastikan burung-burung mematikan itu telah benar-benar pergi, aku mengembalikan cahaya di sekitar kami. Aku menurunkan tanganku.

Situasi kami buruk. Ali dan Seli pingsan, meringkuk di atas rerumputan. Harimau mereka juga seperti kehilangan tenaga. Kedua harimau itu tetap bisa berdiri, tapi tidak sekokoh sebelumnya. Kedua harimau itu sempat menghirup asap ungu.

”Bagaimana kondisi mereka?” aku bertanya kepada Ily, melepas masker kain.

Ily baru saja memeriksa Ali dan Seli. Ily berpengalaman mengatasai situasi seperti ini. Dia pernah diajarkan pertolongan pertama dalam situasi darurat di Akademi Klan Bulan.

”Racun buah beri itu tidak mematikan, hanya membuat pingsan.”

”Sampai kapan mereka siuman?”

Ily menggeleng. ”Aku tidak bisa menebaknya, Ra. Mungkin beberapa jam. Jika ada Av di sini, dia bisa mengobati dengan sentuhan tangannya. Aku tidak memiliki kekuatan itu. Aku membutuhkan obat-obatan, yang sayangnya tidak tersedia. Air kita juga habis, tidak ada cara membangunkan Ali dan Seli. Kita hanya bisa menunggu mereka siuman sendiri.”

”Kita tidak bisa menunggu di sini, Ily. Kita harus terus bergerak.” Aku menatap langit-langit hutan. Matahari semakin turun. Bayangan pohon semakin panjang. Dua jam lagi malam akan tiba.

Ily mengangguk. Dia mengusulkan agar Seli diletakkan di harimauku, sedangkan Ali di harimau Ily. Kami bisa melanjutkan perjalanan sambil memegangi mereka berdua. Aku setuju.

Lima menit, setelah memastikan Seli dan Ali tidak akan terjatuh, aku memegang surai harimauku, menyuruhnya maju. Dua ekor harimau yang sempat menghirup asap beracun berlari di belakang dengan pelana kosong. Dua harimau itu masih bisa berlari cepat.

Ily memutuskan memutari area tumpukan kerangka utuh. Kami melaju dengan hati-hati. Aku sudah tahu cara mengatasi burung-burung lucu menggemaskan ini. Setiap kali ada satu-dua mendekati kami, mulai bersiul, loncat menari-nari, membuat pertunjukan menipu, aku mengangkat tangan kananku, splash, menyedot cahaya, tidak banyak, cukup membuat gelap gulita radius sepuluh meter. Burung-burung itu berhenti bersiul, mencuit pelan, terbang menjauh.

Satu jam berlalu, hingga kami benar-benar meninggalkan area itu, tidak ada lagi kerangka tulang hewan yang terlihat. Hutan mulai terdengar ramai. Beberapa rusa berlari melintas. Aku baru merasa aman dari kawanan burung pemakan daging.

Kami kembali menuju ke utara sebelum Ily tiba-tiba menghentikan harimaunya. Ada apa lagi?

”Kamu mendengar suara itu, Ra?”

”Suara apa?” Aku mendongak, sambil memperbaiki posisi tubuh Seli di depanku.

Hanya derik serangga yang terdengar. Aku tidak mendengar suara lain. Tapi tunggu sebentar, aku mendengarnya. Ily benar, ada suara lain di kejauhan.

”Itu suara apa?” aku bertanya cemas. Jangan-jangan masalah baru.

Ily tertawa, menggeleng. Wajahnya yang kotor karena serangan burung-burung pemakan daging terlihat riang. ”Aku berani bertaruh, Ra, tebakanku pasti benar. Itu suara air terjun. Ayo bergegas!”

Air terjun?

Ily sudah menggebah harimaunya ke arah suara. Aku mengikutinya. Kami sudah kehabisan air sejak tadi. Jika itu benar suara air terjun, itu kabar baik.

Semakin dekat, suara itu semakin lantang. Ily mempercepat gerakan harimau, berlari di sela-sela pohon talas raksasa. Dasar hutan yang lebih lembap dipenuhi jamur-jamur besar, satu-dua seperti payung sungguhan. Juga pakis-pakis bergelung tinggi. Aku tidak sempat memperhatikan. Aku konsentrasi menjaga agar tubuh Seli yang masih pingsan tidak terjatuh. Kawanan monyet terlihat berkejaran di dahan-dahan, riuh-rendah melihat kami. Juga burung-burung pemakan buah dengan paruh besar terbang pergi menjauh. Di sekitar kami ada banyak pohon yang sedang berbuah, mengundang banyak hewan berkumpul.

Lima belas menit terus menuju arah suara, kami akhirnya tiba.

Aku mendongak menatap tidak berkedip. Inilah sumber suara berdebam dari kejauhan.

Indah sekali.

Lihatlah, di depan kami, sebuah air terjun setinggi seratus meter lebih. Dari puncaknya menghunjam jutaan liter air terus-menerus, berdebam mengenai bebatuan besar di bawahnya. Ada kolam luas di depan kami, menampung air terjun, lantas mengalirkannya ke sungai besar. Butir-butir air kecil terbang memenuhi sekitar, membuat basah wajah. Larik cahaya matahari terakhir masih terlihat di atas air terjun. Kemilau senja menambah pesona ngarai.

Ily menurunkan Ali ke atas rerumputan di tepi kolam, mendudukkannya bersandarkan pohon talas besar. Lantas dia membantuku menurunkan Seli, mendudukkannya di sebelah Ali. Ily membasahi kain masker dengan air segar, meremas kain itu, kemudian mengusapkannya lembut ke wajah Seli, mengeluarkan bunga perdu dari peternakan lebah Hana, mendekatkannya ke hidung Seli.

Seli mulai siuman. Matanya mengerjap-ngerjap. Aku menghela napas lega. ”Berikan dia madu dicampur dengan air, Ra,” Ily berseru.

Tidak perlu diminta dua kali, aku bergegas mengambil tabungku, segera ke kolam air terjun. Mencampur madu dengan air, lantas meminumkannya kepada Seli.

”Kita ada di mana?” Seli bertanya pelan, menatapku.

Wajahnya yang pucat mulai berwarna. ”Di tempat yang aman, Sel.”

”Itu suara apa?”

”Air terjun. Indah sekali, bukan?” Aku menunjuk ke depan.

Mata Seli mengerjap-ngerjap melihatnya. Pancaindranya mulai bekerja normal.

Ali membutuhkan waktu lebih lama untuk siuman. Ily berkali-kali mengelap wajahnya, lehernya, mendekatkan bunga perdu yang beraroma tajam. Seli sudah bisa berdiri, sudah bisa ke tepi kolam, ketika akhirnya Ali siuman.

Ali langsung berteriak-teriak panik, ”Burung! Burung!” Tangannya memukul-mukul ke depan. Ali hampir memukul Ily. ”Pergi sana! Pergi!”

Ily memegang lengan Ali erat-erat, berseru, ”Kita sudah aman, Ali. Sudah aman.”

Aku sebenarnya mau tertawa melihatnya. Tapi melihat wajah pucat Ali, tersengal, berhenti memukul, aku batal tertawa. Aku berjongkok, membantunya minum air madu dari tabung.

”Bagaimana burung-burung itu akhirnya pergi, Ra?” Ali bertanya pelan—rasa ingin tahunya selalu tinggi, dalam kondisi apa pun.

”Kamu berhasil menakutinya dengan pemukul kasti itu, Ali.” Aku nyengir, menjawab asal.

”Kamu jangan bergurau, Ra.” Ali masih lemas, duduk bersandar pohon talas besar.

Aku menahan tawa. Besok-besok akan kujelaskan kalau kondisi Ali sudah membaik. Matahari sudah tenggelam, malam telah tiba. Sekitar kami dengan cepat gelap.

Kami memutuskan bermalam di depan air terjun. Ily mencari tempat yang lebih kering, jauh dari percikan butir air. Kami meletakkan daun talas raksasa sebagai alas tidur dan menyalakan api unggun agar terasa hangat, karena kabut kembali turun dengan cepat dan udara terasa dingin. Malam ini kami tidak hanya menghabiskan sepotong roti. Ali yang mulai segar, dan masih lapar, menunjuk pohon yang berbuah lebat di sekitar kami.

”Bagaimana kalau beracun?” Seli khawatir.

”Kawanan monyet tidak akan memakannya kalau beracun, Sel,” Ali menjelaskan.

Aku mengangguk. Pohon-pohon itu tinggi. Tugasku mengambilnya. Aku tidak memanjatnya. Aku lakukan seperti memetik buah kelapa untuk Ou di Klan Bulan. Aku hanya mengarahkan tanganku ke atas. Suara berdentum terdengar nyaring, membuat kawanan burung terbang menjauh. Buah itu berjatuhan terkena pukulan jarak jauh. Aku tidak tahu ini buah apa. Kulitnya tebal, harus direkahkan. Ily menggunakan tombak peraknya. Isi buah ini seperti jeruk, tapi berwarna merah. Airnya banyak, terasa manis, dan daging buahnya lembut. Kami sudah bosan makan roti, jadi ini selingan yang menyenangkan.

***

Saat makan malam, sekitar kami mulai beranjak gelap. Kami baru tahu ngarai ini memiliki sesuatu yang menakjubkan. Ngarai itu bercahaya, semakin malam semakin terang, indah sekali.

”Bagaimana ngarai itu bisa bersinar?” Seli menatap tak berkedip.

”Fosfor. Ada fosfor di dinding granit air terjun,” jawab Ali. Dia selalu punya jawaban atas pertanyaan seperti ini.

”Fosfor?” Seli tidak mengerti.

”Itu pelajaran fisika sederhana, Sel,” Ali menjawab dengan gaya khas menyebalkannya. ”Fosfor menyerap cahaya pada siang hari. Lantas saat gelap, cahaya yang tersimpan mulai bersinar. Kamu pernah tahu cat dinding yang bersinar dalam gelap? Saat lampu dipadamkan, dinding ruangan terlihat bersinar. Nah, konsep yang sama terjadi pada ngarai ini. Ada banyak fosfor di dinding granitnya, dan air membuatnya semakin berkilauan.”

Penjelasan Ali masuk akal. Seli mengangguk, menghabiskan jatah makan malam sambil terus menikmati pemandangan ngarai. Pukul delapan, Ily memutuskan kami segera tidur, agar besok bisa melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali. Aku dan Ily berbagi tugas jaga. Ali dan Seli beranjak ke atas daun talas. Mereka butuh istirahat penuh sepanjang malam setelah menghirup asap beracun.

Giliranku yang pertama berjaga. Aku duduk di dekat api unggun.

Empat harimau terlihat meringkuk di ujung kaki. Gerung napasnya teratur. Aku melemparkan ranting kering ke atas api unggun, menjaga agar api terus menyala tinggi.

Malam semakin larut, suara derik serangga terdengar. Aku mendongak menatap air terjun di depan. Ngarai itu semakin indah. Menatapnya membuai perasaan. Suara air terjun terdengar berirama, terus-menerus. Aku mulai termenung memikirkan banyak hal.

Baru beberapa hari lalu aku menyelesaikan ulangan semester di sekolah, berkutat dengan kertas jawaban. Malam ini, aku berada jauh sekali dari rumah, di dunia paralel, mengikuti kompetisi mencari bunga matahari pertama mekar. Apa kabar Mama dan Papa? Apakah mereka sudah menelepon mama Seli, bertanya bagaimana liburan kami di pantai? Apakah pesawat kami mendarat dengan baik? Penginapan kami juga bagus? Makanannya?

Terdengar suara gemeresik di dekatku, aku menoleh, mengangkat tangan, siaga dengan kemungkinan apa pun. Hanya seekor pelanduk, mendekat ke pinggir kolam hendak minum, dan hewan itu segera lari tunggang-langgang saat menyadari ada empat harimau besar tidur tidak jauh dari tempatnya minum selama ini. Aku menurunkan tanganku.

Bosan duduk melamun, aku bangkit berdiri, berjalan mendekati air terjun. Sekarang memikirkan petunjuk pertama yang harus kami cari. Kami sudah tiba di lereng pegunungan besar berselimutkan kabut. Seruling tak berkesudahan. Apa yang dimaksud kalimat itu? Aku mengusap wajah yang basah oleh percik air, mendongak menatap air terjun. Cahaya di dinding air terjun terlihat semakin terang, bergerak-gerak karena efek air terjun. Cahayanya seperti tarian lampu hias, atau seperti penunjuk arah, menunjuk secara konstan ke arah tertentu.

Empat jam berlalu dengan cepat, memikirkan pesan di gulungan kertas kecil itu, sambil menatap air terjun, aku tetap tidak tahu jawabannya.

Aku membangunkan Ily pukul satu malam, gantian berjaga. Ily sigap bangun. Dia terbiasa dengan kehidupan Akademi, jadi tidak banyak mengeluh seperti Ali saat dibangunkan. Aku naik ke atas tumpukan daun talas, meluruskan kaki, memejamkan mata. Badanku penat, butuh istirahat, dan segera jatuh tertidur.

Pukul lima pagi Ily membangunkan kami. Cahaya sekitar masih remang. Aku beranjak duduk, seperti baru sebentar sekali aku tidur, dan sekarang sudah harus bangun lagi. Empat harimau sudah bangun sejak tadi, minum di tepi kolam. Kawanan monyet berseru-seru gaduh, takut-takut mengambil buah di pohon. Beberapa ekor burung pemakan buah juga terbang hilir-mudik.

Seli dan Ali bangun dalam kondisi segar. Mereka tidur sepanjang malam. Setelah mencuci muka, kami segera berkemas. Ini hari ketiga perjalanan, waktu kami semakin sempit. Tinggal enam hari lagi bunga matahari itu akan mekar.

”Kita menuju ke mana, Ily?” aku bertanya.

”Terus ke utara, Ra. Hingga petunjuk itu kita temukan.”

”Bagaimana jika tetap tidak ditemukan?” Seli mengulang pertanyaannya dua hari lalu.

Aku diam, kali ini tidak langsung menjawab.

”Semoga kita menemukannya, Seli.” Kalimatku tidak begitu meyakinkan.

Sudah berhari-hari kami memikirkan maksud kalimat itu, tetap tidak ada ide sama sekali apa maksudnya. Ali yang biasanya selalu tahu jawaban setiap pertanyaan, juga belum tahu.

”Kalian sudah siap?” Ily bertanya. Kami sudah menaiki harimau masing-masing.

Ily menggebah harimaunya. Dia memimpin di depan, diikuti Ali dan Seli. Aku menoleh untuk terakhir kalinya ke ngarai besar. Tatapan selamat tinggal, besok lusa mungkin aku tidak akan pernah kembali ke tempat indah ini, menatap dindingnya yang bercahaya, mendengar irama air menghunjam yang tidak berkesudahan. Tiba-tiba aku terkesiap, menghentikan harimauku. Kami sudah beberapa puluh meter pergi.

”Ada apa, Ra?” Ali yang berada di belakangku ikut berhenti, juga Seli.

Ily menoleh. Dia sudah belasan meter di depan. ”Sepertinya... aku tahu maksud kalimat di gulungan

kertas kecil itu.” Aku mengusap wajah. Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?

Bukankah Hana pernah bilang, kompetisi ini adalah tentang mendengarkan alam. Kalimat itu sederhana sekali, tidak rumit. Pergi ke utara, temukan seruling tak berkesudahan. Kami sudah menuju ke utara, dan kami telah menemukan seruling itu.

”Kembali, Ily!” aku berseru. ”Kembali ke air terjun.” Itulah jawabannya. Air terjun itulah seruling tak ber-

kesudahan, terus mengeluarkan debum air, berirama seperti musik, terus-menerus.

Aku sudah menggebah harimauku kembali ke air terjun, disusul Ali, Seli, dan Ily.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊