menu

Bulan Bab 12

Mode Malam
Bab 12
HINGGA dua jam ke depan, sejauh mata memandang hanya perdu berduri yang kami lihat. Harimau kamu berlari hati-hati di antara tanaman itu.

Kami baru bisa melihat dengan jelas, ternyata perdu ini memiliki bunga yang besar-besar, dengan warna merah, kuning, dan ungu. Itulah sumber aroma rempah-rempah atau bunga kering yang tidak kami ketahui tadi malam. Ribuan lebah hinggap di bunga-bunga itu, sebagian lagi hilir-mudik terbang di atas kepala. Padang perdu ini adalah peternakan luas. Kami menemukan beberapa rumah yang sudah roboh, itu mungkin tetangga Hana dulu, yang kemudian pindah ke kampung atau kota lain. Juga kotakkotak rumah lebah yang berserakan tidak terawat. Aku tidak tahu persis usia Hana, mungkin sama tuanya dengan Av. Yang aku tahu persis, meski tinggal sendirian, Hana terlihat bahagia menghabiskan waktu bersama lebahlebahnya di sini. Cukup beberapa meter saja dari rumah Hana, Ali sudah bertanya, mendesak ingin tahu semua percakapan yang tidak dia mengerti. Bukan semata-mata karena aku sudah berjanji, tapi karena penting yang lain tahu, aku menjelaskan seluruhnya, termasuk soal Mata-hana-tara, putra satusatunya Hana yang meninggal.

Seli refleks menghentikan laju harimaunya, menatapku cemas.

”Itu kejadian empat ratus tahun lalu, Seli. Mereka sudah mengubah peraturannya.” Aku berusaha menghibur—meski suaraku tidak terdengar meyakinkan.

Kami terus melanjutkan perjalanan. Padang perdu itu semakin renggang, tidak serapat sebelumnya. Harimau kami bisa berlari lebih cepat.

”Sejak tiba, kamu dan Hana bicara dalam bahasa aneh. Kalian bicara dalam bahasa apa?” Ali bertanya lagi, menyejajari harimauku.

Aku juga tidak tahu. Aku berusaha menjelaskannya kepada Ali. Entah dia mengerti atau tidak.

”Menarik,” Ali bergumam setelah aku selesai menjelaskan. ”Itu masuk akal, Ra. Kita manusia selalu merasa memiliki kemampuan komunikasi terbaik di dunia ini, hingga kita lupa kalau lumba-lumba adalah pemilik radar bawah air terbaik seluruh dunia. Sehebat apa pun manusia menciptakan teknologinya, tetap tidak sebanding dengan cara berkomunikasi lumba-lumba. Juga kelelawar, mereka memiliki cara komunikasi rumit. Juga lebah, mereka punya sinyal, cara, atau tanda saat terbang untuk memberitahu yang lain di mana posisi bunga-bunga. Hanya karena kita punya kosakata lebih banyak, bukan berarti kita lebih baik.”

Aku menoleh, menatap Ali. Si genius ini sedang menjelaskan apa?

”Kamu tahu bagaimana komputer menerima dan menerjemahkan perintah, Ra? Tidak dengan kosakata, tapi lewat kode biner 0 dan 1. Dua angka itu merupakan cara komputer bekerja, termasuk menyelesaikan komputasi paling rumit sekalipun, perhitungan matematika paling sulit. Prosesnya tetap hanya dikerjakan dengan dua angka 0 dan 1, kode biner, tidak membutuhkan kosakata, apalagi percakapan. Hana dan kamu mungkin menguasai bahasa paling sederhana yang bisa dipahami makhluk mana pun, kode biner 0 dan 1 antar makhluk hidup.”

Aku memperhatikan Ali saat dia bicara. Entahlah, dia sedang serius atau bergurau. Dia menjelaskan hal itu sambil santai menggaruk rambutnya yang acak-acakan.

”Tapi sebenarnya saat kalian bicara, kamu dan Hana hanya menggerung, menggeram, terkadang berkicau, Ra. Aku bahkan khawatir kamu kenapa-napa, misalnya kerasukan, atau kena sihir,” Seli menambahkan, harimaunya bergerak lincah menyejajari aku dan Ali.

”Kerasukan? Kena sihir?” Ali menepuk dahi, seolah tidak percaya mendengar Seli menyebut kata itu. ”Ayolah, Seli! Setelah melihat dua dunia paralel, kamu masih percaya hal seperti itu? Semua ada penjelasannya. Jika kita tidak mengerti penjelasannya, bukan berarti itu menjadi hantu, sihir, dan sebagainya.”

Seli manyun, tapi tidak balas berkomentar. Seli tahu, tidak akan menang berdebat dengan Ali kalau sudah membahas tentang hal itu. Si genius ini selalu tahu jawabannya. ”Ra!” Ily berseru, membuat percakapan kami terhenti— sejak tadi Ily yang memimpin rombongan. Harimau Ily

berhenti di depan.

Kami juga sudah satu jam terakhir meninggalkan padang perdu berduri, kembali masuk ke dalam hutan lebat. Ini tengah hari, matahari persis di atas kepala.

”Ada apa?” aku bertanya, maju di sebelah Ily. ”Lihat!”

Seekor cerpelai raksasa terbaring di dasar hutan, di antara tumbuhan pakis. Aku lompat turun dari punggung harimau. Aku mengenali cerpelai itu, milik salah satu kontingen sebelumnya. Ada pelana yang robek di dekatnya. Kondisi cerpelai ini mengenaskan, tewas dengan luka robek di lambung.

”Ada hewan buas yang menyerangnya.” Ily berjongkok, memeriksa.

Aku mengangguk, menatap sekitar. Tidak ada tandatanda penunggangnya, apakah mereka selamat atau tidak. Hanya semak belukar rebah, seperti habis ada pertarungan di sana.

”Hewan apa yang menyerangnya?” Seli juga sudah turun dari harimaunya. ”Aku tidak tahu. Tapi itu pasti hewan buas,” jawabku. ”Kita harus bergegas pergi dari sini, Ra,” Ali yang masih

di atas harimaunya mengingatkan. ”Apa pun itu, bisa saja mereka masih berkeliaran di sini.”

Langit-langit hutan yang remang seketika terasa tegang.

Ali benar, kami harus pergi.

Tapi langkah kakiku terhenti. Seli memegang lenganku, mendongak.

Di atas dahan-dahan besar, dari balik daun-daun rimbun, bermunculan hewan yang kami khawatirkan. Jumlahnya banyak, ada puluhan. Kawanan penguasa pohon, gorila. Tubuh mereka tinggi besar, dengan tangan-tangan kekar, lebih besar dibanding gorila yang kukenal. Kawanan itu menatap kami tajam, mulai berseru-seru, menepuk dada, berteriak, membuat ramai. Hewan ini jelas tidak suka kami melewati teritorialnya, mungkin itulah yang membuat mereka menyerang kontingen sebelumnya.

”Kembali ke harimau, Ra, Seli!” Ily berseru, meloloskan tombak perak. Tombak itu diketukkan sekali ke bawah, langsung memanjang dua kali lipat.

Aku dan Seli bergegas hendak kembali ke atas harimau.

Baru setengah jalan, salah satu gorila, sepertinya pemimpin kawanan, melenguh nyaring, memberi tanda untuk menyerang. Gorila itu dengan buas melompat turun, puluhan gorila lain menyusul.

Seli berseru panik, seekor gorila menerkamnya. Aku sudah mengangkat tanganku, memukul. Suara dentum keras terdengar, gorila itu terpental.

”Bangun, Seli!” Aku menjulurkan tangan, membantu Seli.

Ily sudah sibuk menghadang tiga gorila dengan tombak perak. Gerakan Ily lincah, loncat ke sana kemari.

”Lindungi Ali!” Ily berseru padaku.

Aku baru tersadarkan, Ali yang masih di atas harimau, sendirian di sana. Gorila itu tertahan menyerangnya, karena harimau salju kami menggeram buas, ikut bertarung.

Empat gorila datang melompat ke arah kami. Kali ini Seli lebih siap, meski masih panik. Dia mengangkat tangannya, selarik petir menyambar ke depan. Tapi itu hanya mengenai seekor gorila. Tiga lainnya masih ganas bergerak maju. Aku memasang kuda-kuda, melepaskan pukulan, kali ini dentuman kencang diiringi guguran salju. Satu ekor terpental. Tersisa dua.

”Lari, Seli!” Aku menarik lengan Seli, lari ke tempat Ali, lebih baik kami berkumpul di sana, lebih mudah mengatur strategi.

Dua gorila masih mengejarku. Sambil berlari, tanganku kembali memukul ke belakang, juga tangan Seli. Dentuman dan cahaya terang merambat di udara, dua gorila itu terbanting ke bawah.

Belasan gorila lain sudah menyerang harimau kami. Ali berseru-seru memukulkan tongkatnya, tapi itu tidak membantu. Seekor gorila merampas tongkatnya, Ali jatuh dari punggung harimau. Gorila itu mengangkat kakinya siap menginjak Ali.

Suara dentuman berikutnya keluar dari tanganku, gorila itu terpental. Aku dan Seli sudah tiba.

”Kamu tidak apa-apa, Ali?” aku bertanya, memastikan. Wajah Ali pucat, tapi dia baik-baik saja dan segera ber-

diri.

Gorila ini banyak sekali. Mereka terus mengalir dari dahan-dahan pohon. Jatuh satu muncul dua. Empat harimau kami dengan gagah berani ikut melawan, mencakar, menggigit, mengaum.

”Ily! Dia dikepung banyak gorila di sana,” Seli berseru panik, sambil melepas sambaran petir kesekian kali, memukul mundur gorila yang maju mendesak kami.

Aku tahu, tapi bagaimana aku bisa membantu Ily sekarang? Berlari ke sana? Jarak Ily hampir tiga puluh meter, dan sepanjang itu ada banyak gorila marah.

Ily terbanting, satu pukulan gorila mengenai pundaknya. Ily segera berdiri, terus bertahan dari satu serangan ke serangan lainnya.

Aku mengeluh dalam hati. Ily tidak akan bisa bertahan lama, gorila ini semakin banyak dan buas. Seandainya aku sudah bisa melakukan gerakan menghilang Miss Selena, mungkin aku bisa membantu Ily. Tapi aku tidak pernah berhasil melatih gerakan sulit itu. Aku melepas dua pukulan beruntun, membantu Seli.

Ily di depan sana terbanting lagi. Seekor gorila berhasil menangkap kakinya, lantas melemparkannya ke pohon besar. Enam atau tujuh gorila mengepung Ily yang tersudut.

Aku menggigit bibir. Baiklah, aku akan mencoba sekali lagi. Aku berkonsentrasi penuh. Aku bisa melakukannya. Aku harus bisa atau Ily tidak bisa diselamatkan.

Seekor gorila mematahkan dahan besar, dengan dahan itu dia siap memukul Ily yang masih berusaha berdiri. Sedetik sebelum dahan itu menghantam Ily, tubuhku menghilang di sebelah Seli, kemudian muncul persis di depan Ily. Tanganku terarah ke depan. Dentuman kencang terdengar. Gorila yang membawa dahan besar terbanting tiga meter ke belakang.

Aku bisa melakukannya! Aku mengepalkan tangan, bersorak. Aku bisa menghilang dan muncul di tempat lain dengan cepat, seperti yang dilakukan Miss Selena atau Panglima Pasukan Bayangan saat bertempur. Tapi tidak ada waktu untuk merayakannya, ada banyak gorila marah di sekitar kami.

”Kamu baik-baik saja, Ily?” Aku menjulurkan tangan. Ily mengangguk.

”Pegang tanganku erat-erat,” aku berseru. Waktu kami sempit. Enam gorila lain sudah lompat serempak sambil berteriak kencang menyerang.

Enam gorila ini terlalu banyak untuk dilawan. Saatnya aku mencoba hal berikutnya, berlatih ke level berikutnya. Aku berkonsentrasi penuh. Plop! Tubuhku dan Ily menghilang, enam gorila itu menghantam tanah kosong. Plop! Aku dan Ily muncul di sebelah Seli dan Ali. Kami sudah berkumpul dengan harimau kami.

”Kita tidak bisa melawan mereka sebanyak ini, Ra,” Ily berseru.

Aku mengangguk.

”Naik ke atas harimau masing-masing. Segera pergi dari sini.”

”Ide bagus!” Ali berseru, dia yang paling terdesak dalam pertarungan jarak dekat seperti ini.

Aku memukul ke depan, suara berdentum terdengar, kemudian meloncat ke atas harimauku. Juga Seli, dia mengirim petir dari tangannya, sambil naik ke atas pelana. Gorila-gorila ini sepertinya memiliki bulu dan kulit yang kuat. Mereka bisa bangkit lagi meski tubuhnya sudah lebam biru karena pukulanku, atau terbakar hangus oleh petir Seli. Ali yang paling susah payah naik. Ily membantunya, berusaha menarik tangan Ali.

”Sebentar!” Ali berseru, lalu merangkak mengambil pemukul kastinya. Gorila yang merampas pemukul kastinya baru saja terbanting terkena hantamanku.

Ali masih sempat memukul kepala gorila itu—yang hendak bangkit. ”Rasakan ini!” Ali bersungut-sungut, kemudian naik ke atas harimaunya.

Tanpa menunggu lagi, kami menggebah harimau.

Kami melesat cepat meninggalkan lokasi pertarungan. Harimau yang kami tunggangi berlari lincah melewati tanaman pakis, sela-sela pohon, melompati parit-parit hutan. Gorila-gorila itu berteriak-teriak marah. Mereka mengejar. Sebagian berlarian di dasar hutan, sebagian lagi lompat dari dahan ke dahan. Suara teriakan mereka membuat langit-langit hutan ingar-bingar. Aku dan Seli bergantian mengirimkan pukulan. Itu cukup menahan laju kawanan gorila.

Lima belas menit kemudian barulah kami benar-benar berhasil meloloskan diri. Suara teriakan marah kawanan gorila semakin tertinggal di belakang—kemudian benarbenar hilang.

Kami berhenti di dekat sungai kecil, masih tersengal oleh perasaan tegang. Kami melompat turun dari harimau.

”Kalian baik-baik saja?” Ily bertanya.

Aku mengangguk, juga Seli. Ali terlihat memar di pipi, bersungut-sungut, ”Gorila sialan yang merampas pemukul kastiku itu sempat menampar pipiku.”

Aku menahan tawa, setidaknya Ali baik-baik saja, hanya memar. ”Itu akan jadi cerita hebat sepulang ke kota kita, Ali. Tidak setiap orang pernah ditampar gorila.”

Seli tertawa duluan—mungkin dia membayangkan drama Korea yang sering ditontonnya, ketika tokoh utama cowok ditampar pipinya oleh tokoh cewek. Itu adegan lazim.

”Semoga kontingen penunggang cerpelai tidak apa-apa.” Ily mengembuskan napas, meraih tabung air minumnya.

Aku mengangguk. Tapi jika melihat kondisi cerpelainya, kemungkinan itu kecil. Av benar, Hana juga benar, kompetisi ini berbahaya. ”Seharusnya gorila tidak menyerang buas. Mereka hewan yang pemalu dan menghindari kontak. Entah kenapa mereka menjadi buas begitu. Kemungkinan besar ada yang membuatnya marah.”

”Ada empat kontingen di depan kita. Apakah mereka melewati rute yang sama?” Seli bertanya.

”Sepertinya tidak. Hanya kita yang melewati padang perdu berduri dan bertemu areal hutan dengan gorila tadi.” Ily menggeleng. ”Atau mungkin kontingen penunggang cerpelai memutari padang itu, mereka lebih lincah dan cepat bergerak di hutan, tiba di tempat kawanan gorila malam-malam. Gelap, berkabut, itu yang membuat mereka tidak bisa segera meloloskan diri.”

”Semoga hanya kontingen penunggang cerpelai yang bertemu dengan gorila. Aku tidak bisa membayangkan jika yang lain terperangkap dalam situasi yang sama.” Seli duduk di atas bebatuan tepi sungai kecil, meluruskan kaki.

”Malah bagus, bukan?” Ali berkata santai. Dia beranjak ke sungai, hendak mencuci muka.

Bagus apanya? Kami menoleh ke arah si biang kerok itu.

”Yeah, pesaing kita jadi berkurang,” Ali menjawab singkat.

Seli melotot, melemparkan batu kecil ke sungai, kali ini Ali tidak sempat menghindar, percikan air telak mengenai wajahnya. Ali tertawa.

Ily memeriksa harimau kami—yang sedang minum air di tepi sungai. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang terluka. Kami bisa bertahan lama (terutama Ali) karena ada harimau-harimau ini yang ikut melawan, dan kami juga bisa meloloskan diri, karena harimau ini berlari lebih cepat dibanding gorila.

”Bagaimana jika gorila marah itu menyerang peternakan Hana? Jaraknya dekat sekali, kan?” Seli seperti teringat sesuatu.

”Tidak akan,” Ali menjawab. ”Tidak ada hewan yang nekat menyerang padang perdu itu. Ada jutaan lebah di sana. Gorila itu akan tewas disengat bahkan sebelum masuk padang perdu. Peternakan Hana jauh lebih aman dibanding benteng Kota Ilios sekalipun.”

Meski kadang menyebalkan, sok tahu, jawaban Ali selalu masuk akal. Termasuk yang satu ini. Seli yang baru saja melemparnya dengan batu kecil ikut mengangguk-angguk.

”Kamu mau minum, Ra?” Ily menjulurkan tabung. Aku menerimanya.

”Av dan Ilo pernah bercerita kepadaku bahwa kalian berdua adalah petarung tangguh, pada usia semuda ini. Hari ini aku menyaksikan sendiri, itu hebat sekali, Ra. Pukulanmu kuat, posisi kuda-kudamu mantap, dan gerakan menghilang untuk kemudian muncul di tempat lain itu hanya dikuasai beberapa orang saja di Klan Bulan. Jika kamu tidak menarikku dari kawanan gorila itu, mungkin aku tidak bisa bertahan lama. Terima kasih, Kapten.”

Aku mengangkat bahu, sedikit kikuk dipuji Ily. ”Itu hanya kebetulan, Ily. Aku bahkan baru menguasainya tadi, saat panik harus melakukan apa.”

”Tidak ada kebetulan, Ra. Di Akademi kami diajarkan, setiap petarung berlatih keras untuk mendapatkan setiap ‘kebetulan’.  Dan  Seli,  itu  petir  yang  menakjubkan. Tanpa itu, kita tidak akan lolos.” Ily menoleh ke arah Seli, berterima kasih.

”Mungkin kita sekaligus makan siang di sini, Ily.” Aku mengambil ransel Ali yang diletakkan di atas bebatuan, mengeluarkan roti bekal dari Hana.

Ily mengangguk, ikut duduk di dekat Seli dan Ali.

Kami masing-masing menghabiskan sepotong roti. Aku membaginya.

”Boleh tambah?” Ali menceletuk, mengelap tangannya ke baju hitam-hitam.

”Kamu pikir kita sedang wisata? Kita harus membaginya dengan disiplin, atau semua roti habis sebelum besok sore.” Aku melotot.

Ali nyengir. ”Aku kan hanya bertanya baik-baik, Ra.

Kenapa sih kamu harus marah.”

Benar juga sih, tapi berada dekat-dekat dengan Ali selalu saja membuatku sensitif.

Tepi sungai kecil itu lengang sejenak, gemercik air jernih terdengar menyenangkan. Kami asyik menghabiskan jatah roti masing-masing—kecuali Ali, dia menghabiskannya sekali telan. Seekor burung dengan bulu warna-warni terbang rendah, mendarat di sungai, mematuk-matuk. Mungkin sedang menangkap udang atau ikan kecil yang bersembunyi di balik batu.

”Bagaimana kalau kita tidak menemukan seruling tak berkesudahan itu, Ra?” Seli bertanya, teringat lagi petunjuk di kertas kecil.

”Kita akan menemukannya, Seli,” aku menjawab pendek.

Sebenarnya aku juga memikirkan hal itu. Bagaimana jika hingga batas terluar di utara, kami tetap tidak menemukan petunjuk pertama? Tapi pesimistis tidak akan membantu banyak, lebih baik berpikir positif. Empat harimau terlihat sedang tidur-tiduran di atas bebatuan, menggerung pelan, menunggu kami menghabiskan makan siang.

Sekarang pukul dua siang—itu menurut Ily, yang mengajarkan cara membaca arah dan jam dari posisi bayangan matahari. Kami melanjutkan perjalanan. Kami terpaksa memutar, karena saat dikejar gorila tadi kami mengarah ke barat, dan kembali ke tempat semula mengundang risiko. Gorila itu pasti mengamuk melihat kami. Masih Ily memimpin di depan. Harimaunya berlari mantap.

Hingga petang, tidak ada masalah serius yang kami temukan. Hutan lebat sudah berganti dengan lereng-lereng terjal dipenuhi batu-batu besar. Sejauh mata memandang hanya batu. Sesekali kami menemukan semak belukar kecil yang sedang berbunga. Empat harimau kami berlari lincah. Mereka menyukai bentang alam ini. Seli semakin terbiasa dengan harimaunya. Kadang kalau bosan, Seli sengaja menurunkan kecepatan, menyejajari Ali yang tertinggal di belakang, menjaili Ali dengan sarung tangannya dari jarak jauh. Ali berseru sebal, dan mereka berkejaran di antara batu-batu besar.

Kami berhenti beberapa kali untuk istirahat, termasuk saat matahari siap tenggelam. Kami berhenti di lerenglereng, masih menunggang harimau, menatap ke kaki langit. Matahari beranjak turun, ditelan pucuk-pucuk pohon kejauhan. Itu indah sekali. Aku menghela napas panjang. Klan Matahari adalah dunia yang indah. Bentang alamnya menakjubkan.

”Kita masih butuh setidaknya sepuluh jam untuk tiba di pegunungan besar dengan selimut kabut itu, Ra.” Ily mendongak, menatap langit yang mulai gelap, bintang gemintang bermunculan. ”Arah kita sudah benar, terus mengikuti lereng ini.”

”Apa yang ada di depan lereng bebatuan?” Aku menatap ke arah pegunungan besar itu.

”Kemungkinan besar hutan. Lebih lebat.”

”Kalau begitu, kita bermalam di sini, Ily. Aku tidak mau lagi masuk hutan malam hari. Itu terlalu berbahaya.”

”Tapi kita akan tertinggal semakin jauh, Ra,” Ily mengingatkan. ”Kita masih bisa melanjutkan perjalanan empatlima jam sebelum bermalam.”

Aku menggeleng tegas. Jauh lebih aman kami bermalam di hamparan bebatuan ini, setidaknya kami tahu jika ada hewan buas atau makhluk lain yang datang. Jarak pandangnya lebar. Tidak setiap malam kami beruntung menemukan rumah sehangat peternakan lebah milik Hana kemarin malam. Entah apa yang ada di hutan depan sana, kemungkinan lebih berbahaya. Lebih baik mengambil risiko paling ringan—lagi pula bunga matahari itu belum akan mekar hingga delapan hari ke depan.

”Baik, Kapten.” Ily mengangguk.

Ily mencari tempat bermalam. Dia menemukan cerukan besar di lereng dekat kami berhenti, tidak terlalu dalam, bukan gua, tapi cukup luas untuk kami dan empat harimau masuk ke dalamnya.

Malam dengan cepat beranjak naik. Ily menyalakan api unggun di depan ceruk. Kabut turun mengungkung lereng berbatu. Suhu udara turun dengan tajam. Api unggun itu membuat ceruk terasa lebih hangat. Setelah menghabiskan makan malam kami—sepotong roti—kami memutuskan bergantian beristirahat. Aku yang berjaga pertama kali, yang lain sudah beranjak tidur. Empat harimau kami meringkuk di sudut ceruk.

”Kamu belum mau tidur, Sel?” Aku menatap Seli yang masih duduk di sebelahku, menghadap api unggun.

”Sebentar lagi, Ra.”

Aku mengangguk, menatap ke depan, kosong, hanya kabut di depan kami. Semoga malam ini tidak turun hujan. Karena meski dilindungi ceruk, angin kencang bisa membawa tetes air. Tidak ada hewan liar di lereng bebatuan ini, jadi kami aman. Hanya sesekali terdengar lamat-lamat lolongan atau auman, mungkin dari hutan lebat yang akan kami lewati besok.

”Kamu berubah banyak, Ra,” Seli berkata pelan, memecah lengang.

”Eh, berubah?” Aku menoleh.

”Ya. Kamu jauh lebih dewasa dan berani.”

Aku menggeleng. ”Aku tidak seberani dan sedewasa itu, Sel.”

Aku melemparkan potongan ranting, menatap nyala api unggun. Entahlah, bisa jadi Seli benar. Sejak mengikuti kompetisi ini, aku sepertinya tidak terlalu mencemaskan banyak hal. Mungkin karena setiap menunggang harimau saljuku, hewan itu seolah selalu bicara tentang keberanian, ketulusan. Juga saat di padang perdu berduri, lebah-lebah itu seperti membesarkan hatiku.

”Aku tidur duluan, Ra. Bangunkan jika sudah tiba jadwalku berjaga.” Seli merangkak ke dalam ceruk.

Aku mengangguk. ”Selamat tidur, Sel.” Malam semakin larut.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊