menu

Bulan Bab 11

Mode Malam
Bab 11
SEBELUM kami tidur, Ily sebenarnya sudah mengingatkan agar kami tidak bangun kesiangan. Kami harus melanjutkan perjalanan pagi buta agar tidak tertinggal jauh dari kontingen lain. Tapi esoknya, aku, Seli, dan Ali baru terbangun saat cahaya matahari masuk melewati sela-sela jendela. Kami lelah, fisik kami butuh istirahat lebih panjang.

”Aku sudah membangunkan kalian berkali-kali, tapi kalian tidur seperti batu. Apalagi Ali, dia batu yang bisa mendengkur,” Ily bersungut-sungut. Ily akhirnya berhasil membangunkan kami.

Hana sedang menyiapkan sarapan saat kami turun. ”Selamat pagi, anak-anak.”

Kami berempat menjawab hampir serempak.

”Aku membuatkan roti lezat untuk kalian. Ayo, silakan duduk. Mari bergabung sarapan.” ”Kita sarapan dengan cepat, lantas berangkat,” Ily berbisik mengingatkan, lalu menarik kursi.

Sebagai jawaban, Ali menguap lebar. Aku menyikut lengannya. Perbuatan Ali tidak sopan. Ily bukan teman sekelas kami yang biasa diajak bergurau. Ily lulusan Akademi Klan Bulan, hidupnya terbiasa disiplin dan teratur.

Hana menghidangkan piring-piring berisi roti di atas meja, dengan selai madu. Sepertinya aku tahu kenapa rumah, makanan, dan sebagainya di sini lebih mirip dengan di Klan Bumi. Karena tadi malam Hana bilang dia tidak terbiasa dengan kemajuan teknologi Kota Ilios, jadi dia masih mewarisi cara hidup lama. Piring dan gelas ini, sama persis seperti piring dan gelas di kota kami. Ratusan tahun lalu, Klan Matahari mungkin mirip dengan kehidupan Bumi saat ini.

”Kalian sepertinya terburu-buru?” Hana menatap Ily yang makan cepat.

”Kami harus melanjutkan perjalanan, Hana,” aku menjawab.

”Perjalanan? Kalian hendak ke mana?” Hana bertanya. Beberapa lebah terbang di atas kepala Hana, hilir-mudik.

Aku menoleh kepada Ily. Apakah kami akan bercerita? Baiklah, kami sudah diberikan tumpangan tadi malam, tuan rumah juga menyambut ramah, kami mungkin bisa bercerita sedikit.

”Kami sedang mengikuti kompetisi Festival Bunga Matahari.” ”Astaga!” Hana terlihat amat terkejut, dia sampai meletakkan roti yang sedang dimakan. ”Kalian tidak bergurau, kan?”

Aku menggeleng.

”Itu kompetisi mengerikan, dan lihatlah, kalian masih remaja. Bagaimana mungkin orangtua kalian mengizinkan kalian ikut?” Hana berseru.

Aku menelan ludah. ”Mereka sudah mengubah banyak peraturannya, Hana. Mereka bilang sekarang jauh lebih aman. Dan kami sebenarnya...” Aku terdiam sebentar. Bagaimana aku akan menjelaskan bahwa kami awalnya tidak berencana ikut, kami datang dari Klan Bulan? Apakah Hana tahu apa itu Klan Bulan?

”Mengubah peraturan?” Hana terdiam. ”Aku sudah lama sekali tidak melihat dunia luar. Sejak suamiku meninggal, aku menghabiskan waktu bersama lebah-lebahku di padang perdu. Aku tidak tahu perkembangan Kota Ilios, apakah mereka masih bertikai memperebutkan Konsil. Kudeta. Perebutan kekuasaan. Tapi terlepas dari hal itu, mencari bunga matahari pertama mekar tetap saja kompetisi yang berbahaya bagi kalian.”

Ali, Seli, dan Ily menoleh kepadaku. Sejak tadi mereka tidak mengerti percakapan karena Hana menggunakan bahasa yang berbeda dari klan mana pun.

”Apakah pakaian hitam-hitam ini juga peraturan baru? Bukankah mereka selama ini mewajibkan peserta mengenakan kostum petarung Klan Matahari? Aku tidak pernah melihat kostum seperti ini sebelumnya,” Hana bertanya.

Aku bingung menjawabnya, tapi lalu memutuskan mengangguk.

”Apakah kamu tahu tentang kompetisi itu, Hana?” aku bertanya, sambil mengiris rotiku.

Hana tersenyum getir. ”Tentu saja aku tahu, Nak. Kompetisi itu sudah tua sekali, setua peradaban manusia di dunia ini. Awalnya itu hanya kompetisi untuk perayaan menyambut musim semi. Anak-anak, orang tua, berebut menemukan bunga matahari mekar pertama dalam artian sederhana. Kami cukup menemukan yang tumbuh di sekitar perkampungan atau kota, dan tidak penting apakah itu sungguhan mekar pertama kali atau tidak. Setiap kampung dan kota menggelar kompetisi, dipenuhi canda dan tawa. Pemenangnya pun hanya diberi sekerat roti atau minuman lezat.

”Tapi tahun-tahun berlalu, entah siapa yang memulainya, mereka benar-benar ingin menemukan bunga matahari yang pertama kali mekar di seluruh negeri. Bukan lagi bunga pertama di dekat desa. Kompetisi itu mulai berubah, menjadi simbol kekuatan setiap fraksi. Siapa pun yang berhasil menemukannya, maka fraksinya berhak memimpin. Politik, kekuasaan, merusak semangat kompetisi tersebut. Tahun demi tahun berlalu, kompetisi didesain semakin sulit dan berbahaya. Ada sembilan fraksi yang bertarung demi kekuasaan, mengirim empat anak muda paling kuat, paling berani.” Hana diam sejenak, wajahnya berkabut.

”Putraku, Mata-hana-tara, putra kami satu-satunya adalah peserta kompetisi itu empat ratus tahun lalu. Dia adalah anak muda yang santun, baik hatinya. Pandai memainkan pedang dan akurat melepaskan anak panah. Fraksi kami memutuskan mengirimnya. Mata tidak bisa menolak, itu kehormatan. Aku juga tidak bisa mencegahnya, sudah lama sekali fraksi kami tidak memperoleh hak berkuasa. Mata dan tiga temannya pergi menunggang kuda terbaik.

”Kamu bertanya padaku, Nak. Apakah aku tahu kompetisi itu? Aku tahu sekali, karena akulah salah seorang ibu yang kehilangan anaknya karena kompetisi itu. Mata meninggal dalam kompetisi. Dia tewas di lorong gelap mematikan melawan makhluk tidak terbayangkan.”

Aku seakan terenyak di kursiku, menatap Hana tidak percaya.

”Ada apa, Ra? Dia bilang apa?” Ali berbisik, penasaran. Hana memperbaiki penutup kepalanya yang pagi ini ber-

warna kuning cerah. ”Bunga matahari pertama mekar tidak hanya simbol kekuasaan dunia ini, bunga itu memiliki kekuatan. Jika ditemukan dalam kondisi terbaik, di tangan orang terpilih, bunga itu bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan. Ini benar-benar di luar dugaan. Aku kira kalian hanya tersesat, atau sedang dalam perjalanan melihat negeri, ternyata kalian peserta festival. Masih muda sekali. Bagaimanapun mereka mengubah peraturan kompetisi ini, tetap saja perjalanan kalian berbahaya.” Aku masih diam, tidak tahu harus berkomentar apa.

Hana tiba-tiba menepuk pelan dahinya. ”Aku seharusnya tidak menceritakan soal Mata kepadamu, Nak. Orang tua ini kadang terlambat sekali menyadari sesuatu. Itu akan memengaruhi perjalanan kalian. Maafkan aku.”

Aku menggeleng, berkata dengan suara sedikit serak, ”Tidak apa, Hana.”

”Baiklah. Kalian anak-anak yang baik, akan aku bantu kalian mempersiapkan perjalanan semampuku. Sepertinya kalian harus bergegas mengejar petunjuk.” Hana berdiri.

Kami semua sudah menghabiskan sarapan, ikut berdiri. ”Dia bilang apa saja?” Ali sekali lagi berbisik.

”Tidak sekarang. Nanti akan kuceritakan di perjalanan,” aku menjawab cepat.

Hana mengeluarkan beberapa potong roti dari lemari, juga tabung-tabung berisi madu. ”Roti ini cukup untuk perbekalan kalian di jalan jika tidak menemukan perkampungan atau kota. Kunyah satu potong, cukup untuk mengenyangkan seharian.”

Aku mengangguk, menyerahkan roti-roti dan tabung madu itu ke Ali, agar dimasukkan ke dalam tas ransel. Sepertinya masalah perbekalan makanan kami telah terselesaikan. Hana juga memberikan kami kain-kain seperti saputangan besar. ”Mungkin kalian akan membutuhkannya.”

Lima belas menit, perbekalan kami siap. Ily mendesak agar kami segera berangkat.

”Berhati-hatilah dalam perjalanan, Nak.” Hana memegang lembut lenganku. ”Sayang sekali kalian tidak bisa tinggal lama. Jika kalian bisa mampir beberapa hari, aku akan menunjukkan banyak hal menarik, termasuk soal lebah-lebahku. Mereka istimewa sekali. Setiap enam tahun, dalam satu malam yang istimewa, lebah-lebah itu bisa mengeluarkan cahaya di ekornya, seperti kunang-kunang. Menurut perhitunganku, siklus itu akan datang tujuh hari lagi. Sayangnya, kalian harus pergi pagi ini, tidak bisa menyaksikan hal tersebut.”

”Boleh aku bertanya sesuatu?” Aku teringat apa yang kupikirkan tadi malam.

”Tentu saja boleh.” Hana mengangguk.

”Hana, bahasa apa yang sedang kamu gunakan? Dan bagaimana aku bisa mengerti?”

Hana tersenyum—kali ini lebar dan sangat tulus. ”Dunia ini usianya tua sekali, Nak. Sebelum manusia

memiliki peradaban, telah ada makhluk lain yang menghuninya, yaitu hewan-hewan liar. Bahasa apa yang kita gunakan? Kita berbicara dengan bahasa pertama dunia ini. Aku mempelajarinya dari lebah-lebahku, butuh berpuluh tahun memahaminya. Tadi malam, ketika lebahku memberitahu, aku tahu kamu bisa mengerti bahasa itu. Apakah kamu seolah bisa berkomunikasi dengan hewan tungganganmu?”

Aku ragu-ragu mengangguk.

”Nah, itu telah menjelaskan banyak hal, meskipun aku tidak tahu bagaimana remaja seusiamu bisa tahu bahasa tersebut. Dunia ini dipenuhi banyak sekali hal menakjubkan. Satu-dua kita bisa menyingkap penjelasan, lebih banyak lagi yang tidak. Besok lusa mungkin kamu akan menyingkap beberapa hal yang tidak kuketahui.”

Hana melepas kami hingga depan pintu pagar rumahnya. Empat harimau kami terlihat segar—dan yang paling penting kenyang. ”Aku memberi mereka empat ember madu segar tadi pagi saat kalian masih tertidur. Harimau kalian menyukainya. Setidaknya hingga dua-tiga hari ke depan, harimau kalian kenyang.” Wajah Ali terlihat cerah sekali saat tahu soal itu.

Cahaya matahari pagi menerpa wajah-wajah kami. Cuaca yang baik untuk meneruskan perjalanan.

”Sebentar, Nak. Aku teringat sesuatu. Maafkan orang tua ini, sering lupa apa yang hendak dikatakan.” Hana menahanku yang siap melompat ke atas pelana.

Hana memperbaiki penutup kepalanya, terlihat berpikir. ”Ah iya, tentang kompetisi itu...”

Aku menunggu.

”Ketahuilah, mau seberapa maju teknologi dunia ini, mau bagaimanapun mereka mengubah peraturan kompetisi, maka sejatinya kompetisi ini tetap tentang alam liar. Kamu tidak membutuhkan kekuatan besar, atau senjata-senjata terbaik untuk menemukan bunga matahari pertama mekar. Kamu cukup memiliki keberanian, kehormatan, ketulusan, dan yang paling penting, mendengarkan alam liar tersebut. Dengarkanlah mereka. Hewan-hewan berlari di atas tanah. Burung-burung terbang. Suara dedaunan. Kelepak dahandahan. Dengarkanlah mereka, maka mereka akan menuntunmu dengan baik.

”Jika kamu akhirnya menemukan bunga itu, berhatihatilah, Nak. Boleh jadi, kebijakan terbaik adalah membiarkannya tetap mekar hingga layu. Dengarkanlah alam liar bicara kepadamu.”

Aku menelan ludah. Dengung lebah terbang di sekitar kami mengisi lengang sejenak. Aku tidak terlalu mengerti maksud kalimat Hana.

”Terima kasih, Hana. Akan kuingat pesan itu.” Aku mengangguk.

Kami berempat melompat ke atas harimau masingmasing, melambaikan tangan kepada Hana, dan berangkat. Kami melewati padang perdu berduri, meninggalkan rumah nyaman dan hangat Hana.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊