menu

Bulan Bab 10

Mode Malam
Bab 10
TIGA puluh menit sejak Fala-tara-tana IV mengeluarkan petir tanda pertandingan dimulai, kami dengan cepat telah melewati benteng Kota Ilios, pintu dibuka penjaga, yang bersorak-sorak menyemangati.

Persis melewati benteng kota, aku memperlambat gerakan harimauku. Tidak ada lagi pemandangan kota yang terang, nyaman, dan indah. Hutan bagai raksasa besar menyambut di depan. Beberapa ratus meter masih berupa semak belukar, mudah dilewati, tapi semakin ke dalam, hutan semakin lebat, pepohonan semakin tinggi dan rapat. Malam telah sempurna datang, sekitar kami gelap. Belum lagi kabut yang mengambang di lereng gunung, jarak pandang kami terbatas. Entah ada apa di depan sana yang menunggu kami. Suara serangga memenuhi langit-langit hutan, juga sesekali lolongan atau auman hewan liar di kejauhan. Aku menghentikan harimauku.

”Ada apa, Ra?” Ali bertanya, ikut menghentikan harimaunya.

”Aku tidak tahu harus menuju ke mana.”

Seli dan Ily ikut berhenti, empat harimau berdiri sejajar. ”Kita sudah di arah yang benar, Ra. Menuju utara.” Ily mendongak menatap langit. ”Aku bisa membaca bintang-

bintang. Arah utara adalah pegunungan besar itu.” ”Maksudku aku tidak tahu harus lewat mana, Ily. Gelap.

Kita tidak tahu ada jurang atau sesuatu yang berbahaya di depan sana. Tidak ada lagi jalan setapak.”

Seekor kunang-kunang melintas di sela-sela pohon.

Hanya itu cahaya yang ada.

”Atau kita lanjutkan perjalanan besok pagi?” Seli menatapku. ”Biar lebih aman, kita istirahat di sini?”

”Kita bahkan baru mulai, Seli. Baru tiga puluh menit. Tidak bisa. Empat kontingen lain yang memilih arah utara sudah jauh di depan kita. Kontingen yang menunggang salamander dan cerpelai raksasa sudah jauh di depan.” Ily menggeleng.

”Tentu saja mereka bisa melesat cepat dalam gelap. Itu karena salamander dan cerpelai hewan nokturnal, aktif pada malam hari. Hutan gelap dan berkabut bukan masalah besar,” Ali menjelaskan di sebelahku.

”Tapi kita tidak bisa memaksakan diri melintasi hutan gelap.” Aku menggeleng.

”Bisa,” Ali menjawab mantap. Kami serempak menoleh ke arah si genius itu.

”Seli bisa menggunakan sarung tangannya,” Ali menjawab santai.

Benar sekali. Aku menoleh ke arah Seli.

Seli mengangguk, mengangkat tangannya. Salah satu kekuatan yang dimiliki Sarung Tangan Matahari milik Seli adalah mengeluarkan cahaya. Seli terlihat berkonsentrasi. Sekejap, cahaya terang muncul dari sarung tangannya, menyinari sekitar hingga jarak belasan meter.

”Itu ide yang bagus sekali,” Ily memuji Ali.

”Yah, begitulah,” Ali mendengus bangga. ”Meski ada dari klan kalian yang tidak terlalu menghargai kepintaran makhluk rendah ini.”

Aku tertawa menatap wajah Ali yang disinari cahaya.

Aku tahu maksudnya.

”Kamu di depan, Sel,” aku berseru.

Seli mengangguk, satu tangannya mencengkeram surai harimau, satu lagi terangkat, mengacung ke atas. Harimau Seli segera melompat. Kami bisa meneruskan perjalanan.

Dengan bantuan cahaya seterang itu, gerakan kami kembali cepat. Harimau-harimau salju ini bisa diandalkan. Mereka lincah melompati bebatuan besar, gesit melintasi sela-sela sempit, tangkas merunduk melewati pohon melintang. Seli mulai terbiasa. Dia tidak takut lagi terjatuh dari punggung harimaunya, meski hanya berpegangan satu tangan. Kami terus masuk ke dalam hutan lebat. Jika kalian bisa melihatnya dari atas sana, gerakan kami berempat seperti kunang-kunang besar di sela-sela pepohonan di tengah hutan gelap.

Pengalaman masuk hutan lebat Klan Bulan beberapa waktu lalu banyak membantu. Hutan Klan Matahari tidak jauh berbeda. Hanya saja ukuran makhluk hidup di sini berbeda dengan dunia kami. Ali tidak banyak mengeluh— terakhir masuk hutan bersamanya dia mengomel sepanjang jalan.

Empat jam berlalu, kami terus bergerak mengarah ke utara. Kadang menuruni lembah panjang, kemudian mendaki lagi. Kami melewati tumbuhan pakis raksasa, barisan pohon bambu, dan berbagai jenis tumbuhan lain yang tidak kukenali. Pakaian hitam-hitam yang dibuat Ilo amat membantu. Pakaian ini melindungi kami dari goresan duri, terantuk tunggul, atau terhantam kayu. Ali yang tidak awas sempat menyenggol dahan pohon. Dia terbanting meski tidak sampai jatuh dari punggung harimau. Tapi dia tidak terluka, bahan pakaian meredam hantaman itu. Sejauh ini belum ada masalah, hewan liar menjauh ketika melihat cahaya terang dari tangan Seli.

Kami semakin dalam masuk ke hutan lebat. Setiap dua jam Ily meminta kami berhenti. Dia harus memeriksa posisi bintang, memastikan arah kami benar.

”Masih dua jam lagi sebelum tengah malam.” Ily memperbaiki posisi ransel, membungkuk mengambil air sungai. Kami berhenti lagi, di pinggir sungai kecil. Batu koral berserakan di bawah kaki. Langit di atas cerah, dipenuhi bintang gemintang dan bulan sabit. Aliran sungai yang jernih terlihat memantulkan bayangan bulan sabit. Empat harimau salju sedang istirahat, minum di tepi sungai. Suara dengusan mereka terdengar teratur, tubuh besar mereka bergerak-gerak.

”Kamu mau minum, Ra?” Ily menjulurkan tabung berisi air. ”Aku sudah memeriksanya, air ini bisa diminum.”

Aku mengangguk, menerima tabung dari Ily.

”Apakah tujuan kita masih jauh?” Seli bertanya. Dia sedang duduk di atas bebatuan, menjulurkan kaki. Empat jam di atas punggung harimau yang berlari cepat membuat pantat dan kaki kebas.

”Sejak kita meninggalkan kota, kamu sudah bertanya itu tiga kali, Sel. Kamu pikir kita sedang wisata?” Ali nyengir, ikut mengeluarkan tabung, mengambil air di sungai. Derik suara serangga malam terdengar di sekitar kami. Sesekali terbang melintas burung di atas kepala.

Atas jawaban Ali, Seli melempar kerikil kecil sungai persis di depan Ali, membuat airnya memercik ke wajah Ali. Si biang kerok itu tertawa, segera menghindar.

”Sejauh ini kita tidak tahu apa tujuan kita. Jadi aku tidak tahu jawabannya.” Ily menggeleng. ”Kertas kecil itu hanya menulis: pergi ke utara, temukan seruling tak berkesudahan. Aku tidak tahu maksudnya, yang pasti itu bukan seruling sungguhan. Tidak ada alat musik yang terus berbunyi.”

”Kamu mau minum, Sel?” Ali melangkah ke tempat Seli duduk, menjulurkan tabung berisi air. Seli menerimanya, melupakan kesal atas jawaban Ali tadi.

”Jika kita terus bergerak ke utara, besok sore atau besok malam paling telat, kita akan tiba di pegunungan besar dengan selimut kabut tebal. Jika seruling tak berkesudahan itu tidak ditemukan di sana, kita akan terus ke utara, hingga radius lima ratus kilometer. Semoga petunjuk itu kita temukan.” Ily menerima tabung air minum dariku, kembali mengisinya dengan air dari sungai.

”Kita harus bermalam di pemberhentian berikutnya, Ily,” aku berkata. ”Kita tidak bisa terus-menerus menunggang harimau sepanjang malam.”

Ily menggeleng. ”Tapi kita akan tertinggal, Ra. Kontingen salamander dan cerpelai itu mungkin sudah tiba di pegunungan besar itu besok siang.”

Aku ikut menggeleng. ”Kita istirahat, Ily. Masih ada sembilan hari lagi. Siapa pun yang menemukan petunjuk pertama, masih harus menunggu dan mencari petunjukpetunjuk berikutnya. Bunga itu tidak akan mekar sebelum hari kesembilan. Kita harus menyimpan tenaga.”

Ily diam sejenak, akhirnya mengangguk. ”Baik, Ra. Kita istirahat di pemberhentian berikutnya.”

”Apakah kalian sudah selesai?” Ily bertanya pada Seli dan Ali, sambil memasukkan tabung berisi penuh air ke dalam ransel.

Ali dan Seli mengangguk, beranjak berdiri.

Kami segera menaiki harimau masing-masing. Seli bergerak lebih dulu, menyalakan kembali sarung tangannya. Cahaya terang seperti lampu sorot besar menerangi jalan. Kaki-kaki harimau lincah menyeberangi sungai kecil, menginjak bebatuan, air tepercik.

Kami kembali melanjutkan perjalanan.

***

Sepanjang perjalanan berikutnya aku memikirkan tentang bermalam. Aku tidak tahu kami akan bermalam di mana, mungkin tidur di tempat terbuka. Di tengah kepungan hutan lebat.

Aku menghela napas pelan. Harimau yang kutunggangi sekarang sedang mendaki, sejak tadi kami mendaki. Bukitnya landai, tapi tidak berkesudahan. Terakhir kali aku tidur di tempat terbuka empat tahun lalu. Papa mengajakku kemping di halaman rumah. Kami memasang tenda ukuran dua orang. Aku membawa kucingku si Putih (dan si Hitam). Tapi itu tidak ada apa-apanya dibanding hutan lebat ini. Karena kemping di depan rumah, aku bisa bergegas pulang, mengambil makanan di dapur semaunya. Aku juga bisa kembali ke kamar jika hujan turun. Sekarang, di tengah hutan, kami hanya membawa bekal terbatas di ransel, hanya cukup untuk satu hari ke depan. Besok siang kami harus memikirkan soal itu, belum lagi kalimat Ali tentang jika harimau salju ini lapar. Sudah hampir enam jam kami meninggalkan Kota Ilios, sudah lewat tengah malam. Seli di depan terlihat mulai letih. Tangannya tidak lagi teracung tegak, sesekali sorot cahayanya berubah mengarah ke tempat lain, dan mulai redup. Konsentrasinya berkurang. Ali juga mulai bosan. Dia tertinggal di belakang. Hanya Ily yang terus fokus, memastikan kami tidak terpisah dan terus mengarah ke utara. Kami terbantu banyak oleh Ily. Dia mengajari kami membaca arah, mengetahui jam berapa sekarang dari memperhatikan posisi bintang gemintang.

Mungkin sudah saatnya kami berhenti. Aku menatap sekitar sementara harimau terus lari mendaki. Tempat ini sama sekali tidak bisa dijadikan tempat bermalam. Dipenuhi perdu berduri. Tidak ada lapangan rumput kosong. Belum lagi serangga besar yang terbang hilir-mudik, tidak terlihat jelas. Entah itu apa, dari tadi terus terbang rendah di atas kepala kami. Aroma menyengat juga tercium sejak kami memasuki areal perdu, seperti bau rempah-rempah atau bunga kering.

”Kita jadi bermalam, Ra?” Ily bergerak menyejajari harimauku, bertanya.

Aku belum tahu, masih berpikir.

”Sejauh ini tidak ada tempat untuk bermalam, Ra.” Perdu penuh duri semakin rapat. Harimau bergerak se-

makin lambat. Seli harus hati-hati memilih jalan di depan sana.

”Kita tunggu hingga ujung pendakian. Semoga ada tanah lapang di sana,” aku akhirnya bersuara, mengambil keputusan.

Ily mengangguk. ”Baik.” Dia kembali ke belakang rombongan, memastikan Ali tidak semakin jauh tertinggal. Kami masih mendaki setengah jam kemudian. Aku hampir mengeluh, kenapa bukit ini tidak ada ujungnya. Setidaknya jika kami sampai di puncak, mungkin kami bisa melihat ke bawah, menandai posisi. Kecepatan kami berkurang separuhnya. Harimau salju ini belum lelah, tapi

mereka kesulitan melewati perdu.

Dan masalah kami bertambah. Langit terlihat gelap. Awan hitam bergumpal-gumpal mulai menutup bintang gemintang dan bulan sabit. Angin bertiup kencang, membawa udara dingin, menerpa wajah. Aku mendongak. Ini akan semakin sulit jika akhirnya hujan turun. Pakaian hitam-hitam buatan Ilo bisa mengatasi angin dan hujan, tapi harimau salju yang kami naiki mungkin tidak.

Seli sejak tadi berkali-kali menoleh. Dia hendak bertanya apakah kami jadi berhenti. Aku menggeleng, terus menghela harimau salju. Serangga besar yang terbang di atas kepala kami semakin ramai. Mereka sepertinya tertarik dengan cahaya dari sarung tangan Seli.

Setengah jam lagi berlalu. Saat gerimis pertama turun menimpa wajah kami, akhirnya kami tiba di ujung pendakian. Dan sungguh mengejutkan, sejak tadi aku sudah bersiap dengan kabar buruk, hanya menemukan perduperdu di lembah bawah sana. Ternyata bukan. Lihatlah! Di bawah sana, berjarak dua ratus meter dari puncak, ada cahaya kerlap-kerlip. Cahaya itu datang dari lampu-lampu yang terpasang di depan sebuah rumah.

”Itu apa?” Seli menoleh kepadaku. Empat harimau kami berdiri sejajar.

”Rumah di tengah padang perdu berduri,” Ali bergumam. ”Itu bukan kabar baik.”

”Aku sepakat dengan Ali,” Ily berkata pelan. ”Bahkan terlihat ganjil. Kita jauh dari perkampungan atau kota mana pun. Bagaimana mungkin tiba-tiba ada rumah di tengah hutan.”

Tapi kami tidak punya pilihan. Harimau salju yang kami tunggangi mulai basah. Gerimis semakin deras. Mereka mengibaskan ekor, menggerak-gerakkan kepala. Tidak ada pohon besar yang bisa dijadikan tempat berteduh. Hanya rumah besar itu.

”Itu rumah siapa?” Seli bertanya lagi.

”Entahlah. Yang pasti bukan rumah monster,” Ali menjawab asal. ”Mereka tidak bisa membuat rumah sebagus itu. Dan kalaupun itu rumah raksasa, mereka butuh rumah yang lebih besar.”

Aku dan Seli melotot kepada Ali. Ini bukan waktunya bergurau.

”Apakah kita akan ke sana, Ra?” Seli menoleh ke arahku. ”Kita menuju ke sana,” aku memutuskan.

”Ra?” Ily langsung berseru. ”Mungkin saja itu berbahaya.” ”Aku tahu itu berbahaya, tapi aku punya rencana. Aku yang datang duluan. Aku bisa menghilang, jadi bisa mengintai lebih dekat. Jika ada yang mencurigakan, aku akan kembali ke sini. Kita bergegas pergi ke tempat lain. Jika rumah itu aman, aku akan memberikan tanda ke atas bukit. Kalian bisa menyusul,” aku menjawab, sambil menyeka wajah yang semakin basah oleh gerimis.

Ily dan Ali diam sejenak, mengangguk sepakat. Itu jalan tengah, meski berisiko mendatangi rumah tak dikenal. Kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bermalam di rumah besar yang tampak nyaman dan hangat itu.

”Hati-hati, Ra,” Seli berseru pelan.

Aku mengangguk, menggebah harimauku menuruni lembah, menuju rumah. Sebenarnya aku juga merasa tidak yakin. Situasi ini seharusnya menyeramkan. Bagaimana mungkin ada rumah di tengah hutan lebat. Tapi ada faktor lain yang kupertimbangkan, harimau yang kutunggangi tidak gelisah dengan rumah itu. Lewat genggaman tanganku di surai, harimauku justru menyuruhku ke sana. Sejak pertama kali bertemu dengan harimau ini, aku seolah bisa berkomunikasi dengannya.

Aku berhenti beberapa meter dari pagar rumah, melompat turun dari harimau, menoleh ke atas bukit. Dari kejauhan aku bisa melihat Seli, Ali, dan Ily. Cahaya dari sarung tangan Seli terlihat redup oleh tetes gerimis. Tanganku mengepal, konsentrasi sejenak, dan seiring suara gelembung air yang meletus, tubuhku menghilang.

Aku mendorong pintu pagar yang terbuat dari kayu. Terhenti sejenak. Rumah ini asri. Ada taman-taman bunga di depannya, lampu-lampu yang terpasang di depan menerangi taman yang luas. Juga ada kandang hewan di sudut pagar. Siapa pun pemilik rumah, dia pasti memiliki selera yang baik. Aku tidak mengenali jenis bunga-bunga di tamannya, tapi terlihat indah.

Aku melangkah mendekati beranda depan. Rumah ini terbuat dari kayu, berjendela-jendela besar, dan atapnya dari sirap. Rumah panggung, ada tiang-tiang setengah meter. Aku menaiki anak tangga, semakin dekat dengan pintu depan yang terbuat dari papan dengan ukiran bunga dan serangga terbang. Gagang pintunya dari logam, serasi dengan ukiran, dan di lantai depannya ada keset. Rumah ini tidak ubahnya dengan rumah-rumah pedesaan yang permai di dunia kami. Tidak mirip bangunan kotak supercanggih Kota Ilios.

Persis saat aku sedang bimbang apakah akan menyelinap masuk atau mengintip lewat jendela-jendela besar, pintu di depanku mendadak terbuka lebar.

”Kalian sepertinya membutuhkan tempat berteduh, Nak?” seseorang menyapa dari balik pintu—dalam bahasa yang ajaibnya aku kenali. Itu bukan bahasa Klan Bulan ataupun Klan Matahari. Bahasa yang berbeda.

Aku refleks melangkah mundur, segera mengangkat tanganku, berjaga-jaga dari kemungkinan buruk. Bagaimana mungkin! Bukankah aku sedang menghilang? Bagaimana orang yang menyapaku tahu aku berdiri di depan pintu rumahnya? Tapi orang yang muncul dari dalam rumah sama sekali jauh dari definisi bahaya atau ancaman. Dia seorang perempuan tua, entah berapa usianya. Kain penutup kepalanya tidak bisa menyembunyikan rambut-rambut putihnya. Dia mengenakan pakaian terusan bermotif bunga-bunga, berjalan dengan tongkat. Wajahnya terlihat ramah.

”Ayo, masuk. Harimau saljumu kasihan. Dia kehujanan di luar pagar. Dan tiga temanmu di atas bukit sana, mereka bisa segera turun.” Perempuan tua itu tersenyum padaku.

Aku menelan ludah.

”Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?” aku bertanya dengan suara bergetar.

”Itu bisa kita bahas nanti. Ayo, jangan sungkan. Rumah orang tua ini mungkin terlalu sederhana dibandingkan bangunan modern di Kota Ilios, tapi cukup nyaman. Aku punya beberapa kamar kosong dengan ranjang empuk dan selimut hangat. Kalian juga mungkin membutuhkan makanan setelah perjalanan jauh.” Perempuan tua itu kembali tersenyum.

Aku menoleh. Harimau saljuku sudah melangkah masuk ke halaman. Baiklah, jika harimauku sejak tadi tidak gelisah dengan rumah ini, mungkin memang tidak ada yang perlu dicemaskan. Plop! Terdengar suara pelan seperti gelembung air meletus dan aku muncul kembali.

”Ah, akhirnya kamu terlihat. Maafkan mata rabun orang tua ini, Nak. Sebelumnya aku kira kamu laki-laki. Ternyata perempuan. Masih muda sekali. Remaja putri usia lima belas, jika aku tidak keliru menebak.” Perempuan tua itu lamat-lamat menatapku yang menyeka ujung rambut.

Aku mengangguk.

”Kamu bisa membawa hewan tungganganmu ke kandang, di pojok taman. Ada tumpukan jerami, dia bisa beristirahat di sana. Ah iya, tiga temanmu masih menunggu di atas sana, kamu harus memberitahu mereka agar turun. Aku akan menyiapkan minuman hangat di dapur. Kalian mungkin memerlukannya sebelum tidur.” Perempuan tua itu balik kanan, melangkah masuk.

Aku masih terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Baiklah, aku meraih salah satu lampu di teras, membawanya ke halaman rumah, melambaikannya ke atas. Ily, Ali, atau Seli bisa melihat kode itu. Cahaya redup dari tangan Seli di puncak bukit terlihat bergerak. Mereka segera turun di antara sela perdu berduri, menyusul. Aku memasang kembali lampu, di bawah gerimis, bergegas membimbing harimauku menuju kandang di pojok halaman, melewati taman bunga.

”Aman, Ra?” Ali bertanya saat tiba di depan rumah. Aku mengangguk.

”Ini rumah siapa?” Seli masih cemas, bertanya.

Aku menggeleng, tepatnya aku belum kenal pemilik rumah. Aku menyuruh mereka memasukkan harimau ke kandang. Empat harimau itu bisa berteduh di tempat kering. Ada tumpukan jerami hangat di dalamnya. Persis saat kami menaiki anak tangga, tiba di depan pintu yang terbuka, perempuan tua pemilik rumah kembali dari dapur.

”Ayo masuk, anak-anak.”

Ily, Seli, dan Ali saling tatap. Mereka pasti juga tidak menduga siapa yang akan muncul. Aku melangkah lebih dulu, menyeka sepatuku di atas keset.

Perempuan tua itu menyerahkan empat handuk kering kepada kami. Aku menyeka rambut panjangku yang basah, karena hanya itu yang basah. Tubuh kami sudah kering. Pakaian yang diberikan Ilo punya teknologi itu, bisa cepat kering.

”Silakan duduk. Anggap saja rumah sendiri,” perempuan tua itu ramah menyuruh kami. ”Sebentar, minuman hangatnya hampir siap, akan kuambil.”

”Siapa dia?” Ali bertanya, berbisik, saat pemilik rumah kembali ke dapur.

”Entahlah. Tapi yang jelas dia bukan monster atau raksasa.” Aku mencoba bergurau—meniru Ali sebelumnya.

Ali nyengir, mengelap wajahnya.

Kami menatap sekitar, menyelidik. Ruangan ini hangat dan nyaman. Ada banyak hiasan kayu, rotan, manik-manik, dan rajutan di dinding. Semua tertata rapi. Meja dan kursi terbuat dari potongan kayu dan anyaman bambu. Ada vas besar di atas meja, dengan bunga berwarna kuning di dalamnya. Gemeletuk nyala perapian terdengar, dari sanalah rasa hangat datang. Aku baru menyadari serangga apa yang mengikuti kami sejak tiba di padang perdu: lebah. Ada beberapa lebah berukuran besar terbang di langit-langit ruangan.

Seli menatap jeri lebah besar hampir sekepalan tangan itu.

”Tidak usah takut.” Perempuan tua itu kembali dari dapur, membawa nampan berisi teko dan gelas. ”Lebahlebahku tidak menyerang—kecuali ada yang mengganggu mereka lebih dulu.”

Seli mengurungkan tangannya yang hendak mengusir lebah-lebah itu.

”Aku tahu kalian khawatir bermalam di sini. Rumah terpencil jauh dari mana pun. Dulu padang perdu ini ramai, tapi peternak lebah lain mulai pindah ke kota dengan teknologi peternakan canggih atau apalah mereka menyebutnya. Aku tidak pernah terbiasa dengan hal itu... Ah iya, terakhir kali ada penduduk di sini ketika suamiku meninggal, waktu itu masih banyak kerabat yang tinggal. Bertahun-tahun kemudian mereka mulai pindah, tinggal aku sendiri menghabiskan masa tua. Rumah-rumah lain lapuk, rusak. Aku pikir, tidak ada lagi yang tertarik menetap di padang perdu ini.” Perempuan tua itu menuangkan minuman hangat, memberikannya kepada kami.

”Ayo diminum, ini air madu hangat dari lebah terbaik seluruh negeri, sangat bergizi.” Perempuan tua itu ikut duduk di dekat meja, menatap kami satu per satu, terakhir menatapku. ”Ah iya, kamu tadi bertanya bagaimana aku tahu kamu ada di sana. Lebahku yang memberitahu, Nak. Orang tua ini sebenarnya ragu-ragu membuka pintu. Karena saat mengintip keluar, aku tidak melihat siapa-siapa. Itu seram sekali, bukan? Daerah ini bukan tempat yang aman. Aku khawatir ada hewan buas. Tapi lebahku tidak pernah keliru. Sudah seratus tahun aku memiliki peternakan ini. Lebah-lebahku bilang, ada empat orang menuju ke sini. Tiga berada di puncak bukit, satu di halaman rumah. Karena lebah-lebah itu tidak terganggu atas kedatangan kalian, jadi aku memutuskan membuka pintu, menebak di mana kamu berdiri... Ayo, diminum.”

Aku meneguk air di gelas, terasa lezat. Ali dan Ily sudah menghabiskan minuman mereka.

”Kalian masih muda sekali. Berada jauh dari mana pun.” Perempuan tua itu menatap kami lagi satu per satu, memperbaiki tutup rambutnya yang terbuat dari anyaman rotan. ”Baiklah, aku tidak akan banyak bertanya. Kalian terlihat lelah setelah perjalanan. Besok-besok bisa kita lanjutkan percakapan. Mari aku tunjukkan kamar kalian.”

Kami naik ke lantai dua. Pemilik rumah menunjukkan dua kamar besar. Aku dan Seli di satu kamar, Ali dan Ily di kamar berikutnya.

”Jika kalian lapar, ada makanan di dapur, ambil saja. Kamarku ada di bawah, kalian bisa mengetuk pintunya jika perlu hal lain. Selamat malam, selamat beristirahat.” Perempuan tua itu hendak balik kanan, membawa tongkatnya.

”Tunggu,” Seli berseru pelan—dengan bahasa Klan Matahari. ”Iya, ada apa?” Perempuan tua itu urung melangkah— kali ini dia menggunakan bahasa Klan Matahari.

”Eh, namaku Seli. Ini di sebelahku, Raib. Yang satu itu Ali, dan yang ini Ily.” Seli menunjuk kami. ”Apakah, aku boleh tahu nama Ibu?”

Perempuan tua itu tersenyum. ”Kalian bisa memanggilku Hana-tara-hata. Tapi untuk mudahnya, cukup panggil Hana.”

Seli mengangguk, mengulang menyebut nama itu—di Klan Matahari, sepertinya nama semua orang selalu dengan rima begitu, dan selalu langsung dipanggil nama.

”Terima kasih banyak telah mengizinkan kami menumpang bermalam.” Seli menatap tulus.

”Tidak perlu, Nak. Aku senang kalian bermalam di sini. Aku tahu kenapa lebah-lebahku menyukai kalian. Mereka selalu tahu orang-orang baik. Selamat beristirahat.”

Perempuan tua itu melangkah meninggalkan kami. Kami menatap punggungnya yang menuruni anak tangga. Ternyata malam ini kami tidak harus tidur di bawah guyuran hujan.

Aku masih punya pertanyaan—soal bahasa yang dia gunakan sebelumnya, dan hanya aku satu-satunya yang mengerti, tapi besok pagi bisa kusampaikan. Sekarang waktunya beristirahat, sudah hampir pukul satu malam.

Ali sudah melompat ke atas ranjang di kamarnya, senang menemukan tempat bergelung yang nyaman.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊