menu

Bulan Bab 09

Mode Malam
Bab 09
SABA-TARA-TABA masih menemani kami di kandang hewan itu hingga dua jam ke depan.

Setelah kami mulai akrab dengan harimau masingmasing, Saba-tara-taba menunjuk sebuah tiang di dekat istal bersalju itu. Ada empat pelana tersangkut di tiang.

Kami segera tahu maksudnya. Sudah tiba waktunya berlatih menunggangi harimau putih masing-masing. Pelana segera dipasang satu per satu. Kami mencoba menaiki harimau itu. Ily yang pertama melakukannya, dan Ily sekali lagi tidak mengalami kesulitan, berhasil pada kesempatan pertama. Ily sudah terbiasa di Akademi. Seli bertepuk tangan (hampir seperti gaya Saba-tara-taba) saat Ily dengan gagah di atas harimaunya berlari mengelilingi istal. Salju tepercik dari kaki-kaki harimau. Pakaian serbahitam yang dikenakan Ily terlihat kontras dengan warna putih harimau. Seli berikutnya. Dia membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri. Seli gagal dua kali saat harimau mulai berlari, tapi itu bukan masalah besar. Ily membantunya, menjelaskan cara-caranya. Seli masih terjatuh dua kali lagi, hingga akhirnya bisa duduk tegak di atas pelana, mencengkeram surai harimau. ”Kamu akan terbiasa, Seli.” Ily membesarkan semangat.

Ali yang membutuhkan waktu paling lama. Dia bersungut-sungut, berkali-kali jatuh dari atas punggung harimaunya. ”Kenapa kami tidak naik kapsul terbang saja? Kenapa harus hewan-hewan buas ini? Mereka tidak bisa dikendalikan.”

Saba-tara-taba menggeleng. ”Festival ini sudah berusia ratusan tahun, sejak teknologi belum semaju sekarang. Semua peserta harus menunggangi hewan. Ratusan tahun lalu, peserta bahkan harus memulainya dengan menaklukkan hewan buas di alam liar. Sekarang kami sudah mengubah peraturan itu, peserta boleh menggunakan hewan yang telah dijinakkan.”

”Atau aku boleh berjalan kaki saja?” Ali kembali komplain. Dia sekali lagi terjatuh meski telah dibantu Ily. Tangan, wajah, dan pakaian hitamnya dipenuhi butiran salju.

Saba-tara-taba tertawa, menggeleng. ”Kamu membutuhkan waktu berminggu-minggu mengelilingi Klan Matahari dengan berjalan kaki. Bunga matahari itu sudah telanjur layu.” ”Kamu harus santai, Ali,” Ily membujuk, menjulurkan tangan, membantunya berdiri. ”Rileks. Jika kamu nyaman, hewan yang kamu tunggangi juga akan nyaman. Tapi jika kamu bergerak-gerak, dia akan bereaksi sama, termasuk melemparkan tuannya hingga jatuh.”

”Aku sudah santai,” Ali mendengus. ”Hewan ini yang tidak mau kunaiki. Dia mungkin tidak suka denganku. Aku tidak seperti kalian yang bisa mengeluarkan petir atau menghilang. Nasibku menjadi makhluk rendah dari Klan Bumi. Kami lebih biasa naik angkot atau bus, bukan hewan.”

Aku menceletuk, ”Bukankah tadi di stadion kamu bilang ini akan menjadi petualangan seru, Ali? Kita bahkan belum mulai, tapi kamu sudah mengeluh?”

Ali pindah melotot kepadaku.

Setengah jam berlalu, Ali akhirnya berhasil menaiki harimau itu. Harimau salju itu berlari-lari di sekeliling istal, masih patah-patah. Sesekali terhenti karena Ali memeluk leher harimau, takut terjatuh. Tapi Ali mulai terlihat senang, wajah sebalnya sudah hilang.

Giliranku yang terakhir mencoba. Aku memasang pelana di atas punggung harimau, mengelus lembut tengkuk harimau besar itu. Hewan buas itu menggerung, seperti memberitahu bahwa dia sudah siap. Aku menahan napas, meloncat ke atasnya. Ajaib. Harimauku tidak berontak seperti milik Ali atau Seli. Dia menggerung lebih kencang, seolah sedang memastikan aku sudah kokoh di atas pelana. Aku membungkuk, memeluk lehernya. Jemariku memegang bulu-bulu lembutnya, dan harimau itu seakan bisa membaca kehendak tuannya. Harimau itu segera melompat ke depan, melesat di lorong-lorong istal.

Ini menakjubkan. Aku sama sekali tidak kesulitan. Tubuhku bergerak sesuai gerakan harimau. Aku menegakkan kepala lebih tinggi. Butir salju menerpa wajah, semilir udara melewati telinga, rambutku bergerak-gerak. Harimau yang kutunggangi melompati tumpukan salju, naik-turun, berkelok, melesat cepat dengan lincah. Ini menyenangkan sekali. Aku tertawa lebar. Kepalaku sempurna tegak. Aku cukup memegang surai harimau sekarang.

Saba-tara-taba bertepuk tangan melihatnya. ”Bravo!

Bravo!”

Hampir dua menit aku mencoba mengelilingi istal bersalju yang luas itu, untuk sementara cukup. Harimau yang kutunggangi lagi-lagi seperti bisa membaca pikiranku, tanpa perlu kusuruh telah berbelok. Harimau itu berlari kembali ke tempat Ily, Seli, dan Ali berdiri, lantas berhenti dengan amat gagah, menurunkan tubuhnya, dan menggerung. Aku melompat turun.

”Itu keren sekali, Ra,” Seli menyambutku. Aku tersenyum lebar, mengangguk. ”Bagaimana kamu melakukannya?”

”Aku tidak tahu,” jawabku sambil mengangkat bahu. ”Dia mengenali tuannya.” Ily menatapku. ”Av pernah bi-

lang kepadaku, kamu adalah Putri. Hewan-hewan di Klan Bulan selalu mengenali Putri.” Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan kalimat Ily. Seli sedang memegang lenganku, berseru-seru soal betapa serunya melihatku menunggangi harimau besar itu. Sedangkan Ali bersungut-sungut, ”Apanya yang seru? Kalau harimau ini lapar, bisa jadi hewan buas ini akan memakan kita. Ini menyebalkan. Kenapa mereka tidak memberikan ayam raksasa, atau bebek raksasa saja untuk ditunggangi. Itu jauh lebih aman.”

Pukul satu siang, setelah menjelaskan beberapa hal lagi, Saba-tara-taba meninggalkan kami. Dia hendak menuju Istana Kota Ilios, menyiapkan hal lain.

”Kalian sudah masuk masa karantina. Tidak ada lagi yang boleh menemui kalian hingga kompetisi dimulai nanti sore,” Saba-tara-taba mengingatkan.

”Bagaimana dengan Av dan Miss Selena?” Seli bertanya. ”Mereka juga dilarang. Aku pikir mereka juga sedang sibuk melakukan pembicaraan dengan Konsil. Pertemuanpertemuan penting. Ada banyak fraksi politik di Klan Matahari yang harus ditemui Av. Jadwal mereka padat selama di

sini.”

Aku dan Seli saling tatap.

”Persiapkan diri kalian, masih ada beberapa jam ke depan. Lima belas menit sebelum kompetisi dimulai, perapian di istal akan menyala. Kalian segera naik ke atas pelana harimau putih, masuk ke dalam nyala api! Kalian akan langsung muncul di halaman Istana, dengan menunggang harimau. Astaga, itu akan seru sekali ” Sabatara-taba terlihat riang. ”Kalian tahu, aku baru saja mengubah beberapa detail festival ini setelah menyaksikan kedatangan kalian tadi pagi di stadion. Nah, sampai bertemu nanti sore, anak-anak.”

Saba-tara-taba pergi menaiki kapsul terbang.

Kami berempat kembali ke ruang tengah bangunan, duduk di atas kursi-kursi rotan.

”Apa kabar Ilo dan Vey? Juga Ou?” aku bertanya kepada Ily tentang ayah, ibu, dan adik Ily. Sejak mendarat di Klan Matahari, aku hampir tidak sempat bicara dengan baik kepada Ily.

”Mereka baik. Ou apalagi, dia memaksa ingin ikut.” Ily tertawa.

Aku ikut tertawa, pasti menggemaskan melihat Ou, si kecil usia lima tahun merajuk. Dulu Ou cepat sekali akrab dengan kami yang tersesat di kamarnya.

”Ayahku seharusnya yang ikut, Ra. Tapi dia sibuk, ada banyak pekerjaan di Kota Tishri. Kamu pasti tahu, ayahku begitulah, amat terkenal di sana.” Ily sedikit malu-malu.

”Oh ya? Tentu saja dia amat sibuk, Ily.” Aku tertawa lebar. Ilo adalah perancang busana terkenal di Klan Bulan. Selebritas. Semua orang selalu menunggu desain terbarunya. Hampir semua tren fashion di Klan Bulan karya Ilo.

”Aku menawarkan diri menggantikannya. Av dan Tog menyetujuinya. Menyenangkan akhirnya bertemu langsung dengan kalian bertiga setelah hanya sempat bertemu lewat layar-layar kapsul kereta bawah tanah.” Aku mengangguk. Ily dulu yang menyelamatkan kami saat dikejar-kejar Pasukan Bayangan. Ily membajak sistem kereta bawah tanah untuk meloloskan kami.

”Bagaimana dengan sekolah kalian?” kali ini giliran Ily bertanya.

”Libur. Kami baru saja selesai ulangan semester.”

”Pasti menyenangkan setelah ulangan.” Ily tersenyum. ”Terus terang, aku tidak sabaran dua minggu terakhir, menunggu hari berangkat. Akademiku sudah selesai dua bulan lalu. Bosan hanya di rumah, menjaili Ou sepanjang hari. Aku masih belum memutuskan akan bekerja di mana.”

”Bekerja?” aku bertanya.

”Iya. Anak muda seusia kami di Klan Bulan sudah masuk dunia kerja, Ra. Tog menawariku menjadi anggota Pasukan Bayangan. Aku memenuhi kualifikasi untuk bergabung di Pasukan Elite mereka. Tapi aku pikir itu tidak sekeren yang dilihat. Aku tidak suka perang dan sejenisnya. Av menyuruhku bekerja di Komite Kota atau mungkin magang di perpustakaannya. Ibuku menyuruhku melakukan hal lain, bekerja di sistem kereta api bawah tanah, menjadi guru, entahlah. Aku lebih suka bertualang. Ada banyak hal baru yang bisa ditemukan.”

Aku mengangguk. Percakapan ringan ini membuatku bisa mengetahui karakter Ily. Dia seperti kakak kalian yang paling ideal, menyenangkan diajak bicara, dan baik hati. Kami berpindah-pindah topik pembicaraan secara acak, tentang sekolah di kotaku, tentang Akademi. Sesekali Ali ikut bertanya, terlibat dalam percakapan. Seli hanya mendengarkan. Dia tidak memahami bahasa yang kami gunakan—meski aku tahu, sejak tadi Seli ingin sekali bercakap-cakap dengan Ily.

Pukul satu siang, perut kami lapar. Aku mengajak Seli mencari makanan di bangunan itu. Kami sempat tersesat ke beberapa ruangan, keluar-masuk dari pintu di dinding, pintu di lantai, pintu di atap, banyak sekali pintu di setiap ruangan, akhirnya kami menemukan dapur. Ada makanan kering dan minuman dingin di dalam kotak mengambang, mungkin ini yang disebut lemari es di Klan Matahari. Aku dan Seli mengeduk tabung makanan dan minuman, membawanya ke ruang tengah.

Setelah makan siang, Ily mengajari Ali cara membela diri dengan ”pemukul kasti”—senjata yang dipilih Ali. Tumben si biang kerok itu terlihat belajar sungguh-sungguh. Bukankah selama ini dia tidak peduli dengan apa pun? Aku sempat menonton Ali dan Ily berlatih. Ali justru melotot. ”Pergi sana, Ra! Jangan ganggu.”

”Siapa yang ganggu? Aku hanya heran, kenapa kamu jadi semangat belajar?” aku menyelidik.

”Kenapa? Setidaknya aku bisa membela diri jika harimau itu kelaparan dan hendak memakan kita,” Ali mendengus sebal, mengacungkan ”pemukul kasti” miliknya.

Seli yang duduk di sebelahku ikut tertawa mendengar jawaban Ali. Aku berbisik kepada Seli. Dia mengangguk, lantas jail menggerakkan tangannya dari jauh, membuat Ali terjatuh saat memukul mengikuti gerakan Ily. Dengan memakai Sarung Tangan Matahari, kemampuan Seli menggerakkan benda dari jauh bertambah, tidak sulit untuk mengait kaki Ali dari jarak tiga meter.

”Hei! Kalian tidak bisa melakukan itu padaku!” Ali berusaha duduk, wajahnya merah padam.

”Kata siapa? Kamu dua kali memata-mataiku dengan benda-benda aneh itu,” aku balas berseru.

Ily menjulurkan tangan, membantu Ali berdiri, dan berkata bahwa Ali harus tetap fokus. Mereka melanjutkan pelajaran singkat bela diri.

Wajah Ali masih merah padam saat dia kembali menggenggam tongkat ”pemukul kasti”, kembali mengikuti gerakan Ily. ”Awas saja kalau kalian ulangi lagi!”

Aku dan Seli nyengir, kali ini membiarkan Ali berlatih dengan baik.

Waktu berjalan dengan cepat. Beberapa jam lagi kompetisi ini akan dimulai. Aku tidak tahu apa yang akan kami hadapi. Tapi sore ini aku tahu, meskipun sering bertengkar, sering berselisih, aku memiliki teman-teman yang baik, Seli dan Ali. Juga Ily, salah satu lulusan Akademi terbaik di Klan Bulan. Ily terlihat selalu tenang, amat dewasa dalam situasi apa pun. Meski usia Ily juga lebih muda dibanding kontingen lain, kemampuan Ily pasti berguna dalam kompetisi ini.

*** Matahari beranjak tumbang di kaki langit.

Bosan hanya menunggu di ruang depan, Ali dan Ily juga telah selesai berlatih, kami memutuskan mencari jalan ke atap bangunan. Lagi-lagi kami tersesat (kami bahkan menemukan kamar berisi buku-buku, sepertinya itu perpustakaan kecil), namun akhirnya berhasil tiba di pintu yang menuju atap. Secara logika, pintu menuju atap itu seharusnya ada di langit-langit ruangan, tapi ternyata pintu itu ada di lantai, dan saat melangkah melintasi pintunya, bangunan berputar, dan ajaib, kami sudah berdiri di atap. Dari atap bangunan kami bisa melihat matahari yang terus turun di pucuk pepohonan. Seluruh Kota Ilios terlihat, termasuk stadion tadi pagi. Kota ini berada persis di lereng gunung. Rakyat Klan Matahari menyukai bangunan berbentuk kotak—berbeda dengan Klan Bulan yang berbentuk bulat. Kotak-kotak tinggi, besar, kecil, terlihat di sekitar kami. Kapsul-kapsul terbang hilir-mudik. Aku baru menyadari, Kota Ilios dikelilingi benteng, mungkin untuk mencegah hewan liar dari hutan. Dunia ini amat terjaga.

Manusia tidak mengganggu hewan liar, membiarkan hutan lebat tumbuh alami.

Ali masih menggerak-gerakkan ”pemukul kasti” selama kami duduk di atap bangunan. Dia masih semangat mengulang pelajaran bela diri yang baru dia dapat. Ily berdiri dua langkah dari kami, menatap kejauhan, ke arah hutan lebat dengan selimut kabut putih yang beranjak memerah karena tertimpa cahaya matahari senja. Jauh di sana, di antara selimut kabut, terlihat menjulang barisan gunung yang lebih besar. Entah apa yang ada di balik selimut kabut tebal itu.

Kami menghabiskan waktu tiga puluh menit menikmati pemandangan Kota Ilios.

”Saatnya kita kembali ke istal, Ra. Perapian itu pasti sudah menyala,” Ily berseru pelan.

Aku bangkit, beranjak berdiri, juga Ali dan Seli. Matahari semakin rendah. Sebenarnya ini pemandangan yang indah. Tapi waktunya kami berangkat.

Kami melewati pintu-pintu ajaib bangunan kotak dengan cepat, tiba di istal bersalju tepat saat perapian di sana mulai menyala. Empat harimau putih menggerung, sepertinya mereka sudah tahu petualangan ini akan segera dimulai.

”Pastikan tidak ada yang tertinggal.” Ily memperbaiki posisi ransel di punggungnya, memasang tombak perak di pinggang. Lompat ke atas harimaunya.

Aku, Ali, dan Seli mengangguk. Sejak tadi kami sudah memindahkan peralatan yang harus dibawa ke dalam ransel kecil. Koper-koper besar kami tinggalkan. Ali dan Seli menyusul menaiki harimaunya. Aku melangkah mantap. Harimauku bergerak maju, menyundul-nyundulkan wajahnya ke tanganku. Aku mengelusnya sebentar, kemudian melompat ke atas pelana.

”Kamu maju duluan, Ra,” Ily berseru.

Aku mengangguk. Harimauku bersiap masuk ke dalam nyala perapian. ***

Di halaman Istana Kota Ilios, Saba-tara-taba sudah sejak tadi memulai acara.

Halaman luas dengan rumput terpotong rapi itu terlihat dikelilingi nyala api tinggi berbentuk lingkaran, dengan empat pintu gerbang keluar. Ada panggung kecil tempat para tetua dan tamu undangan duduk. Tamu undangan tidak seramai saat di stadion, tapi acara sore itu tetap menakjubkan. Di tengah-tengah halaman, di depan panggung itu, sebuah api unggun menyala-nyala.

”Hadirin, kontingen kesembilan!” Saba-tara-taba berseru memegang mikrofon, tangannya menunjuk ke arah api unggun.

Api unggun itu meletup, membesar, dan dalam hitungan detik, satu per satu empat anggota kontingen kesembilan yang menunggang serigala muncul. Inilah perubahan kecil yang dilakukan Saba-tara-taba. Dia memanggil seluruh kontingen melalui lorong perapian. Atmosfer kompetisi menyengat langit-langit. Benda-benda kecil terbang hilirmudik, mungkin itu berguna menyiarkan acara ini ke seluruh Klan Matahari.

”Dan kontingen terakhir! Dari Klan Bulan!” Saba-tarataba berseru hingga suaranya serak.

Di istal bersalju, api unggun meletup lebih tinggi. Itu tanda yang diberikan agar kami segera masuk. Aku menggenggam surai harimauku. Mengerti apa yang kuperintahkan, harimau itu loncat ke dalam nyala api. Mataku silau. Terang di sekitarku. Kemudian nyala api kembali normal, dan aku telah muncul persis di tengah lapangan Istana Kota Ilios.

Tamu undangan bertepuk tangan. Saba-tara-taba terkekeh riang. ”Ini menakjubkan! Bravo!” Dia berseru berkalikali lewat mikrofonnya.

Ali dan Seli muncul di belakangku, dan terakhir Ily.

Harimau yang kami tunggangi melangkah gagah menuju barisan kontingen. Sembilan kontingen lain sudah lebih dulu ada di depan panggung kecil.

Aku mendongak. Av dan Miss Selena ada di antara bangku-bangku undangan, di dekat anggota Konsil Klan Matahari. Av menatapku, jarak kami tidak terlalu jauh. Av berusaha tersenyum sambil melambaikan tangan, tapi tampak jelas ia mencemaskan kami. Miss Selena mengepalkan tangannya ke udara, menyemangati.

Semua orang menatap tengah lapangan sekarang, ke arah sepuluh kontingen. Seli di sebelahku berkali-kali memastikan pegangan di leher harimau, takut terjatuh saat harimaunya bergerak. Wajahnya sedikit pucat. Suasana kompetisi ini pasti memengaruhi Seli. Terus terang, aku juga gentar melihat sembilan kontingen lain yang terlihat begitu gagah, percaya diri, dan pasti memiliki persiapan panjang. Kami peserta paling muda, paling tidak berpengalaman. Tapi aku sudah memutuskan sukarela mengikuti kompetisi ini. Maka aku harus terlihat kuat, setidaknya terlihat kuat demi teman-temanku. Aku mencengkeram surai harimauku, dan seakan mengerti apa yang aku pikirkan, harimau salju besar yang kutunggangi tiba-tiba membungkuk, mengambil posisi, lantas mengaum kencang sekali.

Suara auman yang mengejutkan, membelah langit-langit Istana Kota Ilios, membuat nyala api bergoyang. Seperti hendak mengirim pesan kepada siapa pun, dia akan melindungi tuannya.

”Astaga! Astaga!” Saba-tara-taba bahkan hampir jatuh terjengkang. Dia bergegas meraih mikrofonnya yang terjatuh ke tanah.

Lapangan rumput Istana Kota Ilios lengang. Semua kaget dengan auman harimauku. Satu-dua mencengkeram pegangan kursi. Beberapa hewan yang ditunggangi peserta lain bergerak tidak terkendali.

”Itu hebat sekali!” Saba-tara-taba yang pulih dari kagetnya berseru serak. ”Itu hebat sekali! Belum pernah aku menyaksikannya. Salut!”

Tamu undangan di panggung berdiri, bertepuk tangan. ”Bagaimana kamu melakukannya, Ra?” Ali berbisik di

belakangku. Seli yang pucat juga menatapku. Seli kaget sekali melihat harimauku mengaum.

Aku menggeleng. Aku juga tidak tahu.

”Kapten setiap kontingen harap maju,” Saba-tara-taba berseru, meneruskan acara. ”Kalian akan menerima gelang pelacak, agar kami tahu posisi setiap kontingen, sekaligus simbol peserta.”

Aku menoleh ke arah Ali, Seli, dan Ily. Kapten? Siapa yang akan jadi kapten kami? Ily? Dia yang lebih dewasa dibanding kami.

”Kamu yang jadi kapten, Ra.” Ily menggeleng. ”Aku?”

”Iya. Kami akan mengikutimu ke mana pun kamu pergi, Ra,” Seli menyemangatiku.

Sembilan kapten kontingen lain sudah maju. Aku menelan ludah. Tidak ada yang bilang bahwa setiap kontingen harus memilih kapten. Dan kenapa harus aku? Av dan Miss Selena di atas panggung mengangguk. Harimauku membungkuk. Aku melompat turun, melangkah ke depan, ikut berbaris di samping sembilan kapten lainnya.

Fala-tara-tana IV, Ketua Konsil Klan Matahari turun dari atas panggung. Untuk pertama kalinya aku berada dekat dengannya. Dia terlihat lebih muda dibanding Malatara-tana II, meski rambutnya juga sudah memutih. Tatapan matanya penuh misteri, gesture wajahnya seperti diselimuti kabut. Tubuhnya yang kurus tinggi sedikit bungkuk. Pipinya tirus dan ada bekas luka di pelipis. Falatara-tana IV memasangkan gelang di tangan kami.

”Kamu ditakdirkan mengikuti festival ini, wahai rakyat Klan Bulan yang dibesarkan di Klan Bumi. Selamat jalan,” Fala-tara-tana IV berkata datar saat memasangkan gelang terakhir kepadaku.

Aku menatapnya, tidak mengerti. Ditakdirkan? Sebelum aku sempat mengeluarkan satu kata pun, Fala-

tara-tana IV sudah melangkah ke api unggun di tengah lapangan Istana Ilios. Sembilan kapten lain kembali ke hewan tunggangan masing-masing. Aku masih menatap Fala-tara-tana IV, tapi karena kontingen lain telah bersiap, aku ikut melangkah cepat kembali ke harimauku.

Matahari hampir tenggelam di kaki langit. Cahaya terakhirnya tipis menerabas halaman Istana. Dan saat cahaya itu hilang, Fala-tara-tana IV menghantamkan tangannya ke api unggun, petir besar melesat cepat dari ujung jemarinya. Api unggun itu meletup, berkobar tinggi. Itu tanda kompetisi telah dimulai. Tamu undangan di panggung berdiri, bertepuk tangan.

Persis saat petir itu menghantam api unggun, sembilan kontingen lain berderap meninggalkan halaman Istana Ilios, menuju salah satu dari empat gerbang api yang mengelilingi lapangan. Cepat sekali gerakan mereka. Apalagi kontingen dengan kuda putih. Kaki-kaki kuda mereka seakan tidak menginjak rumput, berderap menuju gerbang di depan kami. Kontingen dengan hewan banteng membuat tanah seperti bergetar, juga melewati gerbang di depan kami. Kontingen dengan kelinci melompat lincah melewati gerbang di samping kiri. Semuanya terlihat yakin harus menuju ke mana.

Aku menoleh ke arah Ily. ”Kita harus lewat gerbang mana?”

”Utara, Ra!” Ily berseru, berusaha mengalahkan ingarbingar sorak-sorai penonton—terutama suara teriakan Saba-tara-taba dengan mikrofonnya. ”Hadirin, empat kontingen memilih gerbang yang sama! Kontingen penunggang kuda putih, banteng, cerpelai, dan salamander, sama-sama menuju gerbang utara. Kontingen penunggang serigala dan angsa putih memilih gerbang timur.”

”Ke mana arah utara?”

”Kontingen penunggang kelinci dan kambing memilih gerbang barat! Dua peserta memilih pintu itu. Hewan tunggangan mereka melesat cepat!” Saba-tara-taba berteriak. ”Kontingen penunggang kucing, satu-satunya yang menuju gerbang selatan. Dan kini... tersisa kontingen sepuluh masih di tengah lapangan. Mereka sepertinya masih berdiskusi.”

Kontingen sepuluh, itu berarti kami.

”Ke mana arah utara, Ily?” aku mengulangi pertanyaan, berseru kencang.

”Gerbang api di depanmu, Ra!” Ily menunjuk.

Aku mengangguk, mencengkeram surai harimauku, dan sekejap hewan tungganganku melompat ke arah depan, menuju gerbang utara. Seli dan Ali mengikutiku dari belakang. Ily yang terakhir hilang di balik gerbang. Aku sempat melihat Miss Selena mengacungkan kepalan tangan, memberikan semangat sekali lagi. Seluruh peserta kompetisi sudah meninggalkan halaman Istana Kota Ilios.

”Akhirnya! Kontingen kesepuluh menuju utara. Lima tim memilih pintu yang sama, gerbang utara!” Suara Saba-tarataba mulai lamat-lamat terdengar di belakang.

Kami melewati jalanan kota, harimau bergerak lincah, meninggalkan Istana Ilios. Hampir semua jendela bangunan kotak di sepanjang jalan terbuka, rakyat Klan Matahari melambaikan tangan, beberapa berdiri di halaman rumah atau tepi trotoar. Kapsul-kapsul terbang melintas di atas. Aku tidak sempat memperhatikan, terus melesat menuju utara.

Kompetisi mencari bunga matahari pertama mekar telah dimulai.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊