menu

Bulan Bab 08

Mode Malam
Bab 08
SEREMONIAL pembukaan Festival Bunga Matahari selesai setelah defile sembilan kontingen di lapangan. Dengan menunggang hewan-hewan yang tidak pernah kulihat, tiga puluh enam peserta mengelilingi lapangan, melambaikan tangan ke seluruh pengunjung. Setidaknya, kami tidak perlu turun ke lapangan stadion, cukup berdiri di tribun utama.

Setelah seremonial, Saba-tara-taba membawa kami ke salah satu bangunan tidak jauh dari stadion untuk mempersiapkan diri. Kami menaiki kapsul terbang, duduk di sofa bundar, dengan meja kayu di tengah. Kapsul ini sepertinya bergerak tanpa pilot. Ribuan pengunjung berangsur meninggalkan stadion. Kapsul terbang terlihat hilirmudik di langit-langit Kota Ilios.

Av dan Miss Selena tidak diizinkan ikut. Mereka berdua langsung melakukan pertemuan dengan Konsil, dan akan menginap di tempat yang telah disediakan.

”Kompetisi akan dimulai sore ini, persis saat matahari tenggelam,” Saba-tara-taba menjelaskan dengan antusias. ”Seluruh kontingen akan dilepas dari Istana Kota Ilios.”

Seli menerjemahkan kalimat Saba-tara-taba.

”Karena kalian tidak memiliki waktu persiapan yang memadai, Mala-tara-tana II mengusulkan kepada Konsil agar kalian diberikan beberapa kemudahan. Konsil kami menyetujuinya. Mari lihat.” Saba-tara-taba mengetuk meja di depan kami. Kapsul masih terbang dua puluh meter dari pucuk-pucuk pohon.

Aku pernah melihat peta interaktif yang sekarang muncul di atas meja. Itu peta tiga dimensi, persis seperti milik Av di perpustakaan. Bedanya, peta yang ini jauh lebih detail dan akurat, dengan bangunan-bangunan sama persis seperti aslinya.

”Kita sekarang berada di Kota Ilios.” Saba-tara-taba menunjuk sebuah kota di lereng gunung besar, dipenuhi bangunan-bangunan megah. Stadion besar itu berada di lereng paling bawah. Hutan lebat mengelilingi kota, juga kelok sungai dan danau-danau biru.

”Sedangkan Kota Ilios sendiri berada persis di jantung negeri ini. Mari kita lihat peta Klan Matahari radius lima ratus kilometer dari Kota Ilios.” Saba-tara-taba mengetuk meja, skala peta langsung membesar. Kota Ilios sebelumnya yang memenuhi satu meja terlihat mengecil dengan cepat, di sekitarnya muncul gunung-gunung lain, kelokan sungai semakin panjang, gurun pasir, sabana, stepa, danau-danau, hutan lebat diselimuti kabut putih. Juga kota-kota lain, perkampungan, padang penggembalaan.

”Tidak ada yang tahu di mana bunga matahari pertama mekar. Jadi sepuluh kontingen bebas bergerak ke mana pun untuk mulai mencarinya. Tapi lazimnya, akan selalu muncul beberapa petunjuk. Persis seperti datangnya hujan, petunjuknya adalah mendung, petir, dan guntur. Atau musim semi, petunjuknya adalah pohon-pohon berbunga. Atau seperti datangnya berita kesedihan, kematian, petunjuknya adalah gagak-gagak terbang ke arah sana. Semakin dekat kalian dengan bunga matahari itu, petunjuknya akan semakin pekat. Juga semakin dekat waktunya bunga itu mekar, petunjuknya semakin banyak. Kalian harus bergerak cepat mencari petunjuk itu, menerjemahkan maksudnya, sebelum didahului kontingen lain.

”Kadang kala petunjuk terletak jauh di hutan lebat, yang sulit ditemukan, dipenuhi rintangan. Kadang kala petunjuk terletak di perkampungan, perkotaan, mudah didapat. Inilah area kompetisi kalian, seluruh negeri. Akan ada tiga petunjuk yang muncul mengarahkan di mana bunga itu akan mekar. Kalian ikuti tiga petunjuk itu, dan sebagai limit waktunya, menurut perhitungan Konsil, bunga matahari akan mekar sembilan hari dari sekarang, saat sinar matahari pagi tiba.”

”Ini peta yang luas sekali,” Ily mengeluarkan komentar pertama. ”Lima ratus kilometer dari Kota Ilios ke seluruh arah. Bagaimana kami harus memulainya? Kami bahkan tidak mengenal dunia ini.”

Saba-tara-taba tersenyum simpul. ”Nah, inilah kemudahan yang aku maksud. Kalian satu-satunya kontingen yang diberitahu di mana menemukan petunjuk awal. Fala-taratana IV, Ketua Konsil, adalah satu-satunya yang mengetahui petunjuk awal. Dia memberikan informasi itu sebagai hadiah. Terimalah.”

Saba-tara-taba menyerahkan gulungan kertas kecil. Seli yang menerimanya—karena sejak tadi Seli yang membantu menerjemahkan percakapan ini.

Aku, Ali, dan Ily menatap gulungan kertas itu. Seli membukanya perlahan. Ada empat baris kalimat di dalamnya, dengan huruf yang tidak kukenali. Seli membacakannya dalam bahasa yang kami mengerti.

Pergilah ke utara,

Temukan seruling tak berkesudahan. Singkap di belakangnya,

Petunjuk paling awal akan muncul.

Apa maksudnya? Kami berempat menatap Saba-tarataba.

Lelaki dengan topi kerucut itu menggeleng. ”Aku tidak tahu maksudnya. Aku hanya pemandu festival. Kalianlah yang harus memecahkannya. Pesan itu diberikan Ketua Konsil. Itu pastilah sesuatu yang sangat penting. Ketua Konsil memiliki pengetahuan yang tidak diketahui orang banyak, juga kekuatan besar tiada tanding.”

Seli menggulung kembali kertas itu, menyimpannya hatihati.

”Sekali kompetisi dimulai sore ini, kalian hanya berempat saja di luar sana. Hutan lebat adalah tempat liar yang jarang disentuh rakyat Klan Matahari. Orang-orang yang kalian temui boleh jadi berbahaya. Juga padang-padang rumput, pegunungan terjal, dan tempat terbuka lainnya. Ada banyak hewan buas, tumbuhan beracun, juga makhluk lainnya. Berhati-hatilah. Aku percaya kalian adalah kontingen yang sama kuatnya dengan sembilan peserta lain. Kamu bisa mengeluarkan petir besar, bukan?” Saba-tarataba bertanya kepada Seli.

Seli mengangguk. ”Besar petirnya?”

Seli mengangguk lagi.

Saba-tara-taba bertepuk tangan antuasias. ”Bagus sekali. Kamu membutuhkan petir itu di sana. Dan juga kekuatan lainnya dari tempat kalian berasal. Aku tahu, petarung Klan Bulan bisa menghilang sekaligus mengeluarkan pukulan maut berdentum dengan guguran salju. Petarung terbaik Klan Bulan juga memiliki daya tahan mengagumkan. Itu pasti berguna. Bukankah demikian?” Saba-tara-taba menoleh ke arahku dan Ily.

Aku dan Ily mengangguk. Ali di sebelahku menceletuk pelan, ”Yeah, kalian memang hebat semua. Hanya aku makhluk rendah yang tidak memiliki kekuatan, selain menjadi beruang raksasa di luar kesadaran.”

Sebenarnya, jika situasinya lebih baik, aku hampir tertawa mendengar celetukan Ali. Tapi wajah-wajah di dalam kapsul terbang itu terlihat serius.

”Bravo! Ini akan jadi Festival Bunga Matahari paling seru. Seluruh rakyat Klan Matahari akan menunggu tidak sabaran siapa pemenangnya pada hari kesembilan. Nah, kita sepertinya hampir sampai di bangunan. Aku akan memberikan bantuan kemudahan berikutnya bagi kalian saat kita mendarat.” Saba-tara-taba menoleh ke luar jendela. Kapsul terbang yang kami naiki bergetar lembut dan mulai turun.

Kami mendarat di halaman bangunan berbentuk gedung dua lantai, seperti kotak, dengan dinding kaca. Bangunan itu besar sekali. Entah apa saja isinya.

Saat memasukinya, aku segera tahu, bangunan Klan Matahari berbeda dengan Klan Bulan yang setiap ruangan dihubungkan dengan lorong-lorong. Di sini, saat membuka pintu kita langsung menemukan ruangan baru, sama seperti di kotaku. Hanya saja pintu menuju ruangan lain tidak selalu tegak di dinding. Juga ada pintu yang menuju ke bawah, ke atas, dan entah bagaimana mereka membuatnya, saat pintu itu dibuka, misalnya pintu yang terletak di lantai, aku pikir kami akan menuruni tangga, ternyata kami langsung melangkah masuk ke lantai baru. Seperti permainan puzzle kotak-kotak, ruangan yang kami tuju bisa berputar 360 derajat menyesuaikan dengan segera ketika ada orang lain masuk. Setiap ruangan, seperti kubus, bisa punya enam pintu di setiap sisinya.

Ali memperhatikan sekitar dengan saksama. Dia jelas sekali tertarik memikirkan teknologi itu.

”Kostum! Aku akan mengurus pakaian kompetisi kalian.” Saba-tara-taba mengajak kami ke ruangan pertama berisi pakaian ganti.

”Kalian bisa memilih pakaian apa pun yang kalian inginkan.” Saba-tara-taba menunjuk lemari-lemari yang berbaris. ”Ini pakaian terbaik bagi petarung Klan Matahari.”

Aku menatap pakaian yang tersusun rapi di lemari dan gantungan. Klan ini suka sekali warna cerah. Kalau pergi berlibur di pantai memakai pakaian seperti ini, mungkin akan menarik. Tapi kalau untuk pergi ke hutan lebat? Alam liar? Bertarung? Seli menoleh kepadaku, sepertinya untuk pertama kali dia tidak terkesan dengan selera tanah leluhurnya ini.

”Ayo, kalian bisa memilih yang mana pun kalian suka. Lihat, ini pakaian pemanah terbaik. Dibuat dari serat kuat, berwarna kuning pucat, cocok sekali. Atau ini untuk kamu yang berbadan tinggi gagah. Pakaian petarung pedang, lengkap dengan tameng berwarna pink. Bagus, bukan?” Saba-tara-taba menoleh ke arah Ily. ”Aku tidak mau memakai pakaian-pakaian ini.” Ali yang berdiri di belakang menceletuk.

Aku tertawa mendengarnya. Bahkan si biang kerok yang selama ini tidak peduli dengan tampilannya juga tahu pakaian ini terlalu mencolok, cerah, dan nyaris berlebihan.

Saba-tara-taba menoleh, tidak mengerti apa yang diucapkan Ali.

”Aku punya sesuatu yang lebih menarik, Ra,” Ily berbicara.

Dia menurunkan tas punggungnya. Kami menatap Ily. Ily mengeluarkan tiga helai pakaian hitam-hitam.

”Ayahku membuatkan ini khusus untuk kalian. Dia selalu yakin suatu saat kalian pasti kembali ke Klan Bulan untuk bertualang, maka dia membuatnya selama enam bulan terakhir. Didesain ulang, mahakarya pakaian yang pernah dia buat.”

Mataku membesar. Sungguh?

Ily menyerahkan baju-baju itu kepadaku, Seli, dan Ali. ”Dibuat dari bahan yang lebih kuat, elastis, fleksibel.

Dilengkapi berbagai kelebihan lainnya, seperti kedap air, sirkulasi udara, membersihkan sendiri, kebal terhadap goresan, senjata tajam, dan gigitan hewan. Ah iya, juga sepatu terbaru untuk kalian.” Ily mengeluarkan tiga sepatu dari ransel, juga berwarna hitam-hitam.

”Kamu suka?” Ily bertanya.

Aku mengangguk, tentu saja aku suka. Model pakaian ini sama dengan yang kami kenakan selama di Klan Bulan beberapa waktu lalu. Ali juga terlihat semangat menerima pakaian itu. Seli sudah menoleh ke Saba-tara-taba. ”Di mana ruang gantinya?”

”Eh, kalian tidak akan mengenakan pakaian yang kami sediakan?” Saba-tara-taba sedikit bingung.

Kami menggeleng serempak. Tidak mau.

Saba-tara-taba terdiam sejenak, kemudian menangkupkan tangannya. ”Baiklah! Keputusan kalian adalah perintah bagiku. Ini semakin seru dan menarik. Bravo! Kalian berempat akan mengenakan pakaian Klan Bulan. Silakan berganti pakaian.”

Kami menuju kamar ganti yang ditunjuk Saba-tara-taba, dan keluar lima menit kemudian.

Aku tersenyum puas. Ily benar, pakaian ini lebih ringan dan lebih lentur dibandingkan yang dulu. Saat dikenakan, pakaian itu menempel erat dengan kulit, seperti menyatu dengan badan. Aku mengikat rambut panjangku agar tidak mengganggu gerakan. Sepatunya juga lebih kokoh. Kami bisa berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi. Aku dan Seli saling tatap saat keluar dari ruang ganti, tertawa serempak. Ali juga mematut penampilannya, mendesis pelan, ”Keren!”

Kami berempat sudah mengenakan pakaian yang sama sekarang. Hitam-hitam. Ily tersenyum ke arahku. ”Bola matamu yang hitam cemerlang cocok sekali dengan pakaian itu, Ra.”

”Apakah juga cocok denganku?” Seli bertanya kepada Ily. Aku menyikutnya. Sejak kapan Seli jadi cari-cari perhatian begini. Tapi Ily tetap menanggapinya dengan baik, tersenyum mengangguk.

”Baik. Sepertinya masalah pakaian sudah selesai. Kita menuju ruang berikutnya.” Saba-tara-taba bertepuk tangan, memberi kode agar kami mengikutinya. Dia sekarang membuka pintu di lantai. Kami melangkah di belakang pemandu festival itu.

Lagi-lagi bukan tangga turun yang kami temukan. Ruangan berikutnya telah berputar dengan cepat, dan kami melangkah langsung di atas lantai. Itu sensasi yang ganjil sekali. Aku tidak tahu teknologi apa yang mereka gunakan.

Ruangan yang kami tuju dipenuhi senjata.

”Semua peserta kompetisi diperbolehkan membawa satu senjata yang paling dikuasai. Panah jika kamu adalah pemanah. Pedang jika kamu terlatih menggunakannya. Tapi kami tidak menyediakan senjata canggih, hanya senjata dasar untuk bertahan dan berjaga-jaga. Kalian tidak tahu akan menemui apa di luar sana.” Saba-tara-taba menunjuk sekeliling ruangan.

Dengan memasuki ruangan senjata ini, atmosfer kompetisi mulai terasa nyata. Ini bukan sekadar menemukan bunga matahari pertama mekar. Wajah Seli di sebelahku terlihat tidak nyaman, tegang.

Ily bergerak cepat. Dia segera melangkah mengitari ruangan, mencari senjata yang paling dia suka. Ily lulusan Akademi Klan Bulan, bertarung adalah salah satu pelajaran penting di Akademi, termasuk melatih kekuatan yang dimiliki. Ali juga melangkah, mencoba melihat-ihat. Ily kembali dengan cepat. Dia membawa tombak pendek berwarna perak—bentuknya kurang-lebih sama seperti tombak Pasukan Bayangan Klan Bulan.

”Pilihan yang bagus,” Saba-tara-taba bertepuk tangan, berseru riang. ”Ringan, kokoh, dan bisa digunakan dalam situasi apa pun.”

”Ayo, kalian belum memilih.” Saba-tara-taba menatapku dan Seli.

Seli menoleh padaku, bertanya, ”Kita harus membawa senjata apa, Ra?”

Aku menatap sekitar. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah menggunakan senjata seumur hidup. Jika gunting kertas, cutter, atau pisau dapur termasuk senjata, mungkin aku akan memilih itu. Tapi di ruangan ini tidak ada barangbarang itu. Yang ada malah benda lain yang tidak bisa kugunakan, seperti panah dan pedang.

Aku menatap lamat-lamat telapak tanganku, menghela napas. Sejak kami berangkat, di tanganku sudah terpasang Sarung Tangan Bulan. Seli masih menunggu keputusanku. Ali kembali dari lorong-lorong senjata. Dia membawa sebuah pemukul terbuat dari kayu yang lebih mirip tongkat

untuk bermain kasti.

”Ini senjata yang paling aku kuasai.” Ali nyengir. ”Jangan menertawakan pilihanku, setidaknya aku pernah memukul wajah Tamus dengan senjata seperti ini. Pemukul bola kasti.” Ali terlihat santai. Dulu waktu kami melarikan diri dari aula sekolah lewat portal yang diciptakan Miss Keriting, Tamus hampir saja berhasil menarik kami keluar. Untung Ali bisa menebak Tamus akan muncul di mana, dan segera menghantamkan pemukul kasti. Sama sekali tidak melukai Tamus, tapi lebih dari cukup untuk membuatnya kaget, memberi kami waktu beberapa detik untuk kabur, dan portal itu menutup.

”Ah, kamu memilih yang itu. Jangan anggap sepele benda itu, karena terbuat dari kayu paling kuat di seluruh hutan Klan Matahari. Celupkan pemukul itu ke dalam air, maka seketika berubah menjadi lebih kuat berkali lipat. Lebih kuat dari logam mana pun. Pilihan yang brilian.” Saba-tarataba sekali lagi bertepuk tangan riang.

”Ayo, tinggal dua lagi. Kalian akan memilih senjata mana?” Saba-tara-taba menunggu.

Aku menggeleng. ”Aku tidak akan bawa.”

”Eh?” Saba-tara-taba menatapku tidak mengerti.

”Aku memilih tidak membawa senjata apa pun,” aku menjawab lebih jelas.

”Kamu serius?”

Aku mengangguk mantap. Sarung tangan yang kukenakan adalah senjata terbaik.

Saba-tara-taba terdiam. Ruangan senjata lengang sebentar.

”Astaga! Belum pernah ada peserta kompetisi yang berangkat mencari bunga matahari tanpa membawa senjata. Tapi baiklah, keputusan kalian adalah perintah bagiku. Aku tidak berhak mengomentari. Dan kamu, rakyat Klan Matahari yang dibesarkan di dunia Bumi, apakah kamu akan membawa senjata?”

Seli ikut menggeleng. Dia juga memutuskan tidak membawa senjata apa pun.

”Kamu yakin?” Saba-tara-taba memastikan.

”Aku juga tidak akan membawa senjata apa pun.” ”Bukan main. Ini semakin menarik saja. Baiklah, urusan

senjata telah diselesaikan. Mari kita menuju ruangan berikutnya. Keperluan terakhir yang harus kalian miliki.”

Saba-tara-taba melangkah menuju pintu di dinding depan kami—pintu yang terlihat normal. Tapi saat pintu itu terbuka, bukan ruangan dengan dinding cerah dan lampu terang yang kami temukan, melainkan istal, kandang kuda, dengan ukuran sangat luas, hampir sebesar lapangan basket. Tapi lantainya bukan terbuat dari tanah, melainkan salju, bertumpuk-tumpuk salju. Udara dingin segera menerpa wajah. Butir-butir salju lembut jatuh dari langitlangit ruangan.

Bagaimana mungkin ada ruangan bersalju di bangunan ini? Sementara di luar sana matahari terik menerpa seluruh kota? Buat apa salju-salju ini?

Ada empat kandang hewan berukuran besar di hadapan kami, tapi bukan kuda yang ada di dalamnya. Aku menelan ludah, menatap gentar. Hewan itu menggeram panjang saat melihat kami.

”Inilah kemudahan terakhir yang diberikan Konsil. Hadiah dari Mala-tara-tana II. Kalian akan menunggang hewan paling cocok untuk Klan Bulan. Harimau putih dari pegunungan salju.”

Lihatlah. Langkah kakiku refleks terhenti, juga Seli, dan Ali. Di dalam empat kandang itu, masing-masing berisi seekor harimau putih. Tubuhnya besar, matanya mengilat, taring dan cakarnya tajam. Hewan ini memiliki surai panjang di tengkuk.

”Bagaimana... bagaimana aku akan menaikinya?” Seli bertanya cemas, suaranya tercekat. Hewan di depan kami ini terlihat buas, menggerung mengerikan. Lebih buas dibanding serigala milik kontingen kesembilan yang aku lihat tadi di stadion.

”Aku tahu hewan ini.” Ily justru melangkah maju, suaranya riang, menatap ke dalam kandang. Demi melihat Ily mendekat, gerung harimau putih semakin keras, ekornya terangkat.

”Tentu saja kamu mengenalinya.” Saba-tara-taba tertawa. ”Asal hewan ini dari Klan Bulan, induknya dibawa ketika perang besar dua ribu tahun lalu. Terus berkembang biak di sini. Empat harimau ini adalah keturunan terakhirnya, dirawat dan dibesarkan Mala-tara-tana II. Jangan khawatir, hewan ini jinak dan sangat setia pada tuannya.”

Apanya yang jinak? Seli bergidik. Jelas sekali hewan ini mengerikan.

Tapi Ily terus melangkah lebih dekat. Dia sekarang hendak membuka pintu kandang. ”Eh, bagaimana kalau dia melompat menerkam kita saat pintu kandangnya terbuka?” Seli melangkah mundur.

Aku juga berusaha menahan langkah Ily. Itu berbahaya. Ily menggeleng. ”Kami pernah diajarkan bagaimana menangani hewan buas di Akademi, Ra. Aku tahu caranya.

Jangan khawatir.”

Ily membuka pintu kandang. Dia berjongkok, menjulurkan tangannya perlahan-lahan. Harimau putih di hadapannya menggerung, memasang posisi siaga, siap menerkam kapan pun jika merasa terdesak. Tiga ekor harimau di kandang lainnya juga ikut menggerung.

”Tidak apa-apa. Aku tidak berniat buruk.” Ily tersenyum, matanya terus menatap mata berkilat harimau di depannya. Dia maju lagi satu langkah, perlahan-lahan, rileks. Lima menit, Ily sudah berada di dalam kandang, persis berhadaphadapan dengan harimau putih.

Aku menahan napas. Seli di sebelahku sudah memejamkan mata.

Lima menit yang menegangkan.

Ily perlahan menyentuh tengkuk harimau di depannya, menyentuh bulu lebat putih itu, kemudian mengelus-elusnya lembut. Sekejap, hewan itu berhenti menggerung. Badannya yang siap menerkam kembali ke posisi semula, bahkan harimau itu menurunkan kepalanya, rebah di lantai salju. Seperti seekor kucing, yang suka dielus-elus tengkuknya.

”Bravo!” Saba-tara-taba bersorak senang. ”Cepat sekali kamu memperoleh kepercayaan dari hewan tunggangan kalian. Aku sepertinya harus bergegas ikut bertaruh untuk tim kalian.”

”Kalian bisa mencobanya. Jangan cemas.” Ily tersenyum, keluar dari kandang.

”Bagaimana?” Seli masih tercekat.

”Akan aku bantu. Ayo, Seli.” Ily tersenyum.

Demi menatap senyum menawan Ily, Seli akhirnya melangkah maju.

Saba-tara-taba benar, hewan-hewan ini sudah jinak. Mereka hanya belum terbiasa dengan kami, tuan barunya selama beberapa hari ke depan. Dengan bantuan Ily, hewan-hewan ini segera menyesuaikan diri. ”Tatap matanya, Seli. Jangan berkedip. Penting sekali menjaga kontak mata ketika pertama kali bertemu. Ya, bagus sekali. Kamu berhasil membuatnya tenang.” Harimau berikutnya berhasil ditaklukkan Seli, rebah, membiarkan Seli yang masih takuttakut mengelus surainya.

Ily berpindah ke kandang berikutnya. Kali ini lebih sulit, Ily sampai berseru, menarik tangan Ali. ”Jangan terlalu cepat, Ali. Sebentar. Tahan. Kamu harus menjaga jarak dengannya. Dia butuh waktu menerima tuan barunya.”

Ali melangkah mundur, wajahnya sedikit pucat. Salah satu cakar harimau di depannya hampir saja menyambar lengannya.

Aku membuka sendiri pintu kandang terakhir. Itu harimau paling besar dan paling buas. Ily masih membantu Ali, sedangkan Seli mengelus-elus bulu harimau di hadapannya.

Aku menatap harimau salju yang juga balas menatapku tajam. Aku akan meniru cara yang dicontohkan Ali. Aku berjongkok, maju perlahan-lahan, bersiap menjulurkan tangan. Tapi sebelum tanganku terangkat, memulai berkenalan dengannya, harimau itu sudah merebahkan tubuhnya ke lantai salju lebih dulu. Eh? Aku refleks melangkah mundur. Ada apa?

Hewan buas di depanku itu sekarang menggeliat di atas tumpukan salju, seperti mengajakku bermain. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kuberanikan diri mendekat, menyentuh tengkuknya. Bulu-bulu tebal itu terasa lembut di jemariku. Harimau salju itu menggerung pelan, tapi bukan gerungan marah, itu lebih mirip seperti suara si Putih, kucingku yang senang meringkuk di ujung kakiku.

Aku tersenyum lebar, ternyata mudah.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊