menu

Bulan Bab 07

Mode Malam
Bab 07
TERJADI sedikit perdebatan di tribun utama saat Av segera berdiri, meminta waktu berbicara dengan anggota Konsil Klan Matahari, membuat seremonial pembukaan festival terhenti sejenak. Seluruh pengunjung stadion menatap tribun utama, menebak-nebak apa yang sedang terjadi.

”Kami tidak datang untuk ikut festival. Anak-anak kami tidak disiapkan untuk berkompetisi,” Av berseru dengan intonasi tetap terkendali.

”Ini sebuah kehormatan, Av. Jangan keliru memahaminya.” Mala-tara-tana II, kawan korespondensi Av, berusaha membujuk.

”Tapi seharusnya hal ini dijelaskan sebelum kami datang.”

”Sayangnya, keputusan ini baru saja diambil beberapa menit lalu.” Mala-tara-tana II menghela napas perlahan. ”Aku juga tidak setuju, tiga anggota Konsil lain juga tidak. Tapi Ketua Konsil dan tujuh anggota Konsil lain menyetujuinya. Empat lawan delapan. Kami kalah suara.”

”Mereka seharusnya bicara dengan kami sebelum memutuskan.”

Menilik wajah Av, aku tahu, dia amat kesal dengan situasi ini.

”Kau benar, seharusnya kami bicara denganmu. Tapi semua sudah diputuskan. Ini sungguh sebuah kehormatan, Av. Lagi pula ini hanya sebuah kompetisi festival.”

”Aku tahu kompetisi ini, Mala-tara-tana. Berhentilah bicara ini hanya sebuah festival. Aku membaca gulungan sejarah Klan Matahari di perpustakaan kami. Kompetisi menemukan bunga matahari pertama yang mekar adalah kompetisi paling mematikan Klan Matahari. Kontingen harus melewati hewan-hewan buas, lembah-lembah berbahaya, saling menyerang, saling membunuh, belum lagi ujian-ujian lainnya.”

”Tidak. Tidak lagi, Av.” Mala-tara-tana II menggeleng. ”Kami sudah mengubah aturan permainannya sejak ratusan tahun silam. Termasuk yang paling penting, peserta tidak boleh menyerang kontingen lainnya. Itu terlarang.”

”Tapi tetap saja kompetisi ini berbahaya. Sembilan kontingen kalian adalah pemuda-pemudi terbaik Klan Matahari. Mereka terlatih. Sedangkan anak-anak kami, kau lihat sendiri, tiga di antaranya remaja usia lima belas tahun. Hanya satu anak yang telah lulus dari Akademi yang boleh jadi layak ikut, tapi dia ikut serta ke Klan Matahari karena menggantikan posisi orangtuanya.”

Mala-tara-tana II tersenyum. ”Kau justru memiliki tim terbaik, Av. Mereka saling melengkapi. Aku pikir, tidak ada satu pun lagi rakyat Klan Matahari yang memiliki Sarung Tangan Matahari, bukan? Aku tahu anak klan kami yang dibesarkan di Bumi itu sedang mengenakannya sekarang. Kemungkinan pula, anak satunya, keturunan Klan Bulan yang dibesarkan di Bumi, juga mengenakan Sarung Tangan Bulan. Tim kalian memiliki dua perlengkapan paling legendaris milik petarung sejati.”

”Astaga, Mala-tara-tana!” Av seolah tidak percaya, menepuk dahinya, janggut putihnya bergoyang. ”Ini bukan soal mereka punya benda legendaris dua dunia atau tidak... Ini soal, kalian tiba-tiba meminta anak-anak kami ikut berkompetisi, tanpa mengajakku bicara. Itu tetap kompetisi berbahaya meski kalian mengubah seluruh peraturannya. Kami datang untuk melakukan diplomasi damai, mengingatkan klan kalian tentang bahaya kembalinya perang dua ribu tahun lalu.”

”Aku tidak punya pilihan, Av.” Mala-tara-tana II menatap Av prihatin. ”Kau jelas sudah tahu, untuk meminta anggota Konsil lainnya menerima kedatangan kalian, aku menghabiskan waktu berbulan-bulan membujuknya. Pagi ini tangan mereka telah terbuka, menyambut rombongan kalian pada waktu dan hari terbaik. Aku pikir, ini pula cara terbaik menunjukkan dua sekutu lama bisa kembali saling percaya. Kompetisi ini bisa menjadi alat diplomasi terbaik antar dunia paralel. Jadilah peserta kontingen kesepuluh, Av, aku mohon.

”Kau lihat, seluruh pengunjung stadion mengelu-elukan kalian. Segera kalian menjadi peserta, berita itu akan menyebar ke seluruh negeri. Semua orang akan membicarakannya. Wajah anak-anak kalian akan dikenali sebagai sekutu terhormat dan membanggakan. Itu propaganda luar biasa bagi rakyat Klan Matahari, bahkan aku sendiri tidak pernah membayangkan akan semudah itu, mengingat kenangan sejarah buruk dua ribu tahun lalu.” Mala-taratana II membujuk Av dengan lembut. Seluruh tetua lain ikut menyaksikan percakapan itu, menunggu.

Av kehabisan kalimat. Dia mengembuskan napas perlahan.

”Baik. Izinkan aku bicara sebentar dengan empat anak kami. Keputusan ini bukan semata-mata keputusanku. Aku bertanggung jawab atas keselamatan mereka.”

Mala-tara-tana II tersenyum, mengangguk. ”Tentu saja.

Kau sebaiknya bicara kepada mereka.”

”Apa yang mereka inginkan?” Miss Selena yang pertama bicara ketika Av kembali ke barisan bangku kami.

Av mengusap janggut putihnya, menjelaskan, ”Mereka menginginkan kalian menjadi kontingen kesepuluh kompetisi Festival Bunga Matahari.”

”Aku tidak keberatan ikut kompetisi itu,” Ali bahkan sudah menyatakan pendapatnya sebelum diminta. Av menghela napas, menatap Ali. ”Aku tahu kamu akan menjawab demikian, Ali. Tapi ini sebuah perjalanan yang tidak mudah, Nak. Berbahaya. Kalian butuh berhari-hari menemukan bunga matahari pertama yang mekar. Kita tidak tahu apa yang akan kalian temui sepanjang perjalanan.”

Ali mengangguk mantap. ”Maka itu akan jadi petualangan yang seru.”

Aku menoleh menatap Ali. Apakah dia tidak mendengarkan penjelasan Av? Itu bukan perjalanan mudah. Itu perjalanan berbahaya.

”Baik, karena Ali sudah menjawab, tinggal kalian bertiga yang belum bersuara. Izinkan aku bertanya hal ini, anakanak, apakah kalian bersedia ikut atau tidak?” Av bertanya kepadaku, Seli, dan Ily.

Lengang sejenak. Aku menatap Seli.

Ily akhirnya mengangguk. ”Menunggang hewan-hewan menakjubkan, pergi mencari bunga matahari pertama mekar, itu petualangan tidak ternilai dibanding pengalaman di Akademi selama dua belas tahun. Aku ikut, Av.”

Ali mengepalkan tangan, senang memperoleh teman yang sependapat.

”Seli? Ra?” Av menatap kami.

Seli menoleh padaku, menunggu pendapatku.

”Apakah kami punya pilihan untuk tidak ikut?” aku menelan ludah, bertanya cemas.

”Sayangnya, pilihan kita terbatas sekali, Ra. Kalian ikut atau seluruh diplomasi gagal total. Aku benar-benar menyesal kalian harus terlibat dalam kompetisi ini. Aku pikir diplomasi kita akan berjalan mudah, atau kalaupun sulit, setidaknya tidak perlu melibatkan kalian dalam perjalanan berbahaya,” Av berkata pelan, mengusap rambutnya yang memutih.

Aku mendongak menatap Miss Selena.

”Kamu berhak memutuskan apa pun, Ra. Jika kamu bilang tidak, aku akan berdiri di belakangmu. Termasuk jika harus bertarung menghadapi tetua Klan Matahari. Itu harga yang harus dibayar atas setiap keputusan.” Miss Selena tersenyum, kalimatnya selalu anggun dan meyakinkan.

”Ayolah, Ra. Ini akan seru,” Ali berbisik. Aku melotot kepada Ali.

”Mereka menunggu keputusan kita sekarang juga, Ra,” Av mendesak.

Baiklah. Dua minggu lalu saat Miss Selena menyampaikan rencana ini, aku tahu, perjalanan ini tidak akan pernah mudah. Kami tidak punya pilihan. Diplomasi Av akan kacau-balau jika kami menolak ikut. Klan Matahari bisa jadi akan menolak bersekutu selamanya. Mereka akan tersinggung, dan Miss Selena tidak bisa bertempur di tribun utama membela kami. Lagi pula, Ily dan Ali mungkin benar. Menunggang hewan-hewan menakjubkan, pergi mencari bunga matahari pertama mekar, itu mungkin petualangan yang menarik. 

”Aku ikut,” aku menjawab pendek.

Yes! Ali mengepalkan tangan. ”Seli?” Av bertanya.

”Aku ikut apa pun keputusan, Ra. Dia teman terbaikku. Aku akan pergi ke mana pun dia pergi.” Seli memegang lenganku.

Aku menoleh. ”Terima kasih, Sel.”

Seli tersenyum kecut, berbisik, ”Sebenarnya aku takut sekali, Ra.”

”Tidak apa, Sel. Kita akan menghadapinya bersamasama.”

Av sudah melangkah menuju bangku tetua Klan Matahari. Bicara sebentar dengan Mala-tara-tana II. Keputusan telah disetujui.

”Hadirin, rakyat Klan Matahari,” Saba-tara-taba berseru kencang. Wajahnya memerah saking antusiasnya.

”Maaf membuat kalian menunggu sebentar. Astaga! Aku tidak bisa menahan rasa riang atas keputusan ini. Sungguh tidak bisa dikatakan. Ini luar biasa. Hadirin, aku persembahkan sekali lagi kepada seluruh rakyat Klan Matahari yang bercahaya! Inilah kontingen kesepuluh kita! Dari Klan Bulan!”

Stadion bergemuruh oleh suara tepuk tangan dan sorakan.

Resmi sudah kami ikut kompetisi itu. Semua mata memandang kami berempat yang berdiri. Seli memegang lenganku, menatap cemas. Aku menoleh, mencoba tersenyum, membesarkan hati bahwa semua akan baik-baik saja.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊