menu

Bad Boys Bab 09 (Tamat)

Mode Malam
Bab 09 (Tamat)

SOPHIE tidak langsung pulang setelah mengantarku. Dia menuntutku untuk menceritakan yang kukatakan pada Austin. Ketika aku bilang bahwa aku minta maaf pada Austin atas apa yang dilakukan Troy, Sophie mengemukakan ketidaksetujuannya. Dia juga tidak setuju aku minta maaf pada Natasha. Menurutnya, bukan aku yang harus minta maaf. Tapi aku tidak menyesalinya. Aku justru merasa lega sudah minta maaf pada Austin dan Natasha.

Setelah puas mendengar ceritaku, Sophie mulai membicarakan Natasha. Dia memuji kecantikan Natasha, tapi tetap tidak menyukainya. Sepertinya dia merasa terancam karena Natasha masih mengharapkan Troy. Dia takut Troy tahu dan memutuskan untuk kembali pada Natasha.

Troy pulang di tengah-tengah pembicaraan kami. Dia sama sekali tidak menatapku, bahkan tidak juga menyapa Sophie. Dia ngeloyor begitu saja ke pintu gerbang seakanakan aku dan Sophie tidak ada.

”Kak Troy,” panggil Sophie tiba-tiba.

Troy langsung berhenti di ambang pintu gerbang, sementara aku menatap Sophie dengan kaget. Untuk apa dia memanggil Troy?

”Sampai kapan sih lo mau diam-diaman terus sama Ivy?” tanya Sophie.

Troy tidak menyahut, tapi dia tetap diam di tempat. Dia mendengarkan Sophie tanpa menghadap ke arahnya.

”Ivy kan adik lo,” kata Sophie. ”Meskipun bertengkar, kalian harus segera baikan. Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Jangan ada gengsi-gengsian.”

Kalaupun ada yang harus mengalah, orang itu seharusnya bukan aku. Aku kan masih marah pada Troy.

”Ivy bahkan udah mewakili lo minta maaf pada Kak Austin dan Natasha,” Sophie memberitahu Troy. ”Padahal itu bukan kesalahannya.”

Sebenarnya aku berharap Sophie tidak mengungkit itu.

Troy pasti tidak akan suka mendengar itu.

”Kalau lo emang salah, lo harus berani mengakui,” kata Sophie. ”Mengaku salah bukan berarti kalah kok.”

Dengan kata-kata bijak dari Sophie itu, Troy melanjutkan langkah ke dalam rumah. Sophie tiba-tiba limbung sehingga aku cepat-cepat menangkapnya.

”Kenapa lo?” tanyaku. ”Kok jadi lemas habis ceramah?” ”Gue barusan nekat banget, ya,” cetus Sophie. Dia menatapku dengan ngeri. ”Kalau Kak Troy jadi marah sama gue,

gimana dong?”

”Nggak lah,” kataku. ”Lagian yang lo bilang tadi kan emang benar.”

”Tetap aja gue takut,” sergah Sophie. ”Aduuhhh... gue emang suka nggak pikir panjang lagi kalau ngomong.”

”Emangnya lo kenapa sih? Kok tiba-tiba kepikiran buat ceramah?” tanyaku. ”Gue aja sampai kaget tadi.”

”Habis dengan apa yang dilakukan Kak Troy ke Kak Austin, gue jadi kecewa,” jelas Sophie. ”Kesannya dia jahat banget. Gue nggak ingin Kak Troy jadi orang kayak gitu.” Seandainya Troy dan Sophie pacaran, Sophie pasti akan menjadi pengaruh yang baik untuk Troy. Aku berusaha menenangkan  Sophie,  tapi  sampai  dia  pulang  pun,  dia

masih saja ketakutan.

Aku penasaran apakah Troy akan menuruti Sophie dan berinisiatif untuk baikan denganku. Seperti biasa aku duduk di seberangnya saat makan malam, tapi tidak ada tanda-tanda dia mau mengajakku berbicara.

Justru Papa yang tiba-tiba bersuara. Beliau berdeham untuk menarik perhatianku dan Troy.

”Selama ini Papa diam saja, tapi bukan berarti Papa nggak tahu kalian sedang bertengkar,” kata Papa. ”Papa harap, nggak peduli masalah apa pun yang ada di antara kalian, kalian akan segera membereskannya. Mengerti?”

”Mengerti,  Pa,”  sahutku  dan  Troy  bebarengan.  Kami sempat beradu pandang selama beberapa detik, kemudian sama-sama membuang muka. Entah kapan kami akan membereskan masalah di antara kami.

Mama menghidangkan makanan ke atas meja makan. Begitu beliau meletakkan sepiring sate ayam tepat di hadapanku, aku langsung tercekat. Tentu saja Mama tidak tahu efek yang ditimbulkan sate ayam itu untukku. Hanya aku dan Austin yang tahu.

Sate ayam adalah makanan yang kumakan saat kencan pertamaku dengan Austin, juga saat Austin memintaku jadi pacarnya. Makanan itu bagaikan simbol untuk kami berdua, dan karena itulah aku tidak mampu melihat itu saat ini— apalagi memakannya. Aku jadi teringat pada Austin dan itu membuatku sedih.

Aku menunduk dalam-dalam ketika merasa mataku mulai memanas. Tidak. Aku tidak boleh menangis di sini. Aku berusaha sekuat tenaga menahannya, tapi air mataku tidak terbendung lagi. Tetes air mata pertama mengalir, dan Mama melihatnya.

”Ivy?” panggil Mama heran. ”Kenapa kamu nangis?” Pertanyaan Mama membuat Papa dan Troy ikut melihat-

ku. Aku tidak tahan lagi. Aku segera berdiri dan berlari ke kamar. Setelah mengunci pintu, aku langsung membanting diri ke ranjang dan menangis sesenggukan. Aku memang payah. Bahkan makanan pun bisa membuatku sedih. Austin akan menertawakanku jika dia tahu.

Lagi pula, kenapa Mama harus menghidangkan sate ayam pada saat seperti ini? Begitu banyak makanan yang ada di dunia ini, tapi Mama malah memilih sate ayam.

Aku memeluk bantal guling. Mungkin aku tidak akan makan sate ayam lagi seumur hidupku. Meskipun sate ayam salah satu makanan kesukaanku, tapi kalau hubunganku dengan Austin terus memburuk, aku berjanji tidak akan menyentuhnya lagi.

Sungguh janji yang konyol, membuatku tidak tahan untuk tidak tertawa di tengah tangisanku. Aku memikirkan kejadian di ruang makan tadi. Troy pasti bisa menebak kenapa aku menangis, tapi Mama dan Papa pasti kebingungan. Sepertinya aku harus segera mencari alasan yang bisa kuberitahukan pada mereka.

***

Ketika Austin sudah masuk sekolah, sikapnya padaku tetap tidak berubah. Selain menolak berbicara denganku, dia juga sepertinya berusaha menganggapku tak kasatmata. Jadi setiap kali aku mencoba bicara padanya, aku merasa seperti sedang bicara pada tembok. Aku jadi sering menangis. Kadang-kadang, sebelum tidur, aku memikirkan Austin yang membuatku menangis semalaman. Bahkan aku pernah menangis di kamar mandi. Saat itu Troy menggedor-gedor pintu kamar mandi karena aku menggunakannya terlalu lama. Ketika aku keluar, dia sampai terpana melihat wajahku yang sembap.

Sophie juga mengkhawatirkanku. Aku sering curhat padanya mengenai Austin, jadi dialah yang paling mengerti masalahku.

”Mata lo bengkak,” komentar Sophie ketika aku baru duduk di sebelahnya di kelas. ”Lo nangis semalaman lagi?”

Aku tersenyum kecil dan mengangguk.

”Jangan nangis terus dong, Vy,” kata Sophie. ”Gue tahu lo lagi patah hati, tapi lo nggak bisa terus-menerus begini.”

”Gue masih butuh waktu, Soph,” kataku beralasan. Kalau Sophie bertanya berapa lama waktu yang kubu-

tuhkan, aku tidak bisa menjawab. Aku tidak bisa menebak sampai kapan aku akan memikirkan Austin.

Aku juga tidak tahu kenapa patah hatiku jadi parah begini. Tentu saja, ini memang pertama kali aku mengalaminya. Tapi apakah aku saja yang lebay atau semua cewek pernah begini?

Aku bahkan tidak bersemangat saat tiba waktunya pulang sekolah. Di rumah hanya ada Mama dan Papa yang tidak tahu-menahu tentang Austin, dan Troy yang masih perang dingin denganku. Sedangkan di sekolah, aku bisa bersama Sophie dan berkesempatan untuk melihat Austin.

Jadi, Sophie bahkan sampai harus memaksaku pulang ketika kelas sudah kosong. Aku mencoba tetap bertahan di bangku sambil memeluk tas.

”Ivy, ayo kita pulang,” ajak Sophie. ”Sebentar lagi deh,” kataku.

”Nggak pakai acara sebentar lagi,” sergah Sophie. ”Kemarin aja gue ngabisin waktu sekitar satu jam untuk nungguin lo bertapa di kelas. Kita sampai diusir penjaga sekolah segala.”

Aku menggerutu sambil malas-malasan berdiri. Mungkin aku bisa memintanya menghabiskan waktu di rumahku sampai malam.

Ketika tiba-tiba seseorang masuk ke kelas kami, aku sempat mengira orang itu adalah penjaga sekolah. Aku sudah siap untuk diusir lagi, tapi ternyata Greta yang masuk.

Aku dan Sophie langsung memasang sikap defensif, apalagi ketika Greta menghampiri kami dengan napas terengah-engah.

”Ternyata lo masih di kelas, Vy,” katanya padaku. ”Gue nyariin lo ke mana-mana.”

”Ngapain lo nyariin Ivy?” semprot Sophie. ”Mau nyari masalah lagi? Belum puas udah bikin Kak Austin babak belur waktu itu?” Greta cemberut. ”Gue nggak mau nyari masalah lagi kok,” bantahnya. ”Dan soal Austin, gue akuin gue salah. Tapi gue ke sini buat ngasih tahu sesuatu sama Ivy.” Dia berpaling dari Sophie ke arahku. ”Vy, kakak lo datang. Dia nemuin Austin di lapangan.”

Aku tidak langsung bereaksi. Selama beberapa detik tubuhku terpaku, sementara otakku berusaha mencerna kata-kata Greta. Lalu, begitu kesadaranku pulih, rasanya seperti ada yang menyundut bokongku dengan api— membuatku langsung lari tunggang-langgang keluar kelas. Aku tidak sempat memperhatikan lagi, tapi sepertinya Sophie dan Greta mengikutiku.

Untuk apa Troy menemui Austin? Apa dia benar-benar akan menghajarnya lagi? Tapi dia kan sedang berada di wilayah kekuasaan Austin. Seluruh anggota geng Austin ada di sini. Kalau dia nekat menghajarnya, bisa-bisa malah dia yang balas dikeroyok.

Banyak orang yang berkumpul di sekitar lapangan sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di sana. Aku harus menyeruak kerumunan orang yang menghalangiku, barulah aku bisa melihat Troy dan Austin.

Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang agak jauh. Troy hanya sendiri, sedangkan Austin dikelilingi beberapa anggota gengnya. Bisik-bisik menyelimuti mereka sementara mereka hanya saling memandang dengan tatapan waswas, tanpa mengatakan apa pun. Meskipun aku berdiri di barisan terdepan, mereka begitu fokus pada satu sama lain sehingga tidak menyadari kehadiranku. Aku juga memutuskan untuk diam dan menunggu.

Troy yang lebih dahulu bersuara. ”Kalau lo berpikir gue ke sini untuk minta maaf, lo salah,” katanya pada Austin. ”Gue ke sini bukan untuk minta maaf atas apa yang telah gue lakukan ke lo—ataupun ke Natasha. Tapi gue ke sini untuk meminta satu hal sama lo.”

Austin mengerutkan kening. Mungkin dia heran mendengar kata-kata Troy—sama seperti yang kurasakan.

Troy diam sejenak, lalu tiba-tiba saja, dia berlutut di hadapan Austin dan berkata, ”Tolong lakukan sesuatu... supaya adik gue nggak nangis lagi.”

Bukan hanya Austin, tapi seluruh orang yang ada di sekitar lapangan—termasuk aku—terkesiap melihat aksi Troy. Kami menjadi saksi Troy, ketua geng SMA Vilmaris menjatuhkan harga diri di hadapan musuh bebuyutannya, ketua geng SMA Emerald. Dia melakukan itu demi aku, adiknya yang bahkan sudah mencaci makinya.

Aku menggeleng tanpa sadar. Troy tidak boleh begitu. Aku memang mencintai Austin, tapi Troy lebih penting bagiku. Aku tidak mau dia mempermalukan diri sendiri. Aku bahkan rela kehilangan Austin, asalkan Troy tidak perlu berlutut lagi.

Aku segera berlari ke lapangan dan menghampiri Troy.

Dia mendongak dan tampak terkejut ketika melihatku. ”Troy!” seruku. ”Lo itu apa-apaan sih? Berdiri nggak?!” Troy hanya mendengus dan berpaling dariku. Aku me-

narik tangannya untuk memaksanya berdiri, tapi dia malah menepis tanganku.

”Troy, lo harus berdiri!” perintahku. ”Ayo berdiri!”

Troy tetap menolak untuk berdiri. Akhirnya, justru akulah yang ikut berlutut di sebelahnya. Bersamaan dengan itu, air mataku mulai jatuh.

”Troy, please,” isakku. Aku mencengkeram lengan kemejanya erat-erat. ”Gue mau lo berdiri. Lo nggak boleh berlutut begini gara-gara gue.”

Troy hanya diam dan aku memeluknya sambil sesenggukan. Aku tidak peduli meskipun saat ini kami sedang menjadi tontonan.

”G-gue janji nggak akan n-nangis lagi,” kataku sambil berlinangan air mata. ”Gue akan menjadi a-adik yang baik buat lo. Gue akan menuruti apa pun kata lo. Jadi please, Troy, berdiri. Ya? Please?”

Masih tidak ada reaksi dari Troy. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana harus membujuknya. Tangisanku jelas tidak mempan.

”Jangan bikin drama di sini.” Mendadak terdengar suara Austin. Aku dan Troy langsung menoleh ke arahnya secara bersamaan. Austin terlihat tidak nyaman. ”Berdiri, Troy.”

Barulah Troy mau berdiri sambil menarikku untuk bangkit bersama. Aku tetap memeluk Troy. Untuk pertama kalinya, gantian aku yang bersikap protektif padanya. Aku bahkan sampai memelototi Austin dan anggota gengnya. Kalau mereka sampai berani menyentuh Troy, akan kutinju mereka.

”Sebenarnya tanpa lo meminta pun, gue udah berniat memperbaiki hubungan gue dengan Ivy,” kata Austin pada Troy. ”Dan sepertinya sekaranglah waktu yang tepat.”

Perlahan aku melepaskan pelukanku dari Troy ketika menyadari Austin tidak berniat untuk menyerangnya. Austin berpaling padaku. Dia menatapku sambil tersenyum. Awalnya aku ragu, tapi akhirnya aku membalas senyumnya. Betapa aku merindukan senyumnya...

Di sebelahku Troy mendengus. Aku langsung menoleh padanya. Dia menatapku dan Austin secara bergantian dengan ekspresi tersiksa.

”Bisa gila gue kalau begini caranya,” sungutnya, dan setelah itu, dia langsung membalikkan badan dan berjalan pergi tanpa pamit lagi.

Dengan perginya Troy, kini semua mata terfokus padaku. Aku berdiri dengan salah tingkah, sementara Austin juga masih menatapku. Aku ingin sekali bicara padanya, tapi ada yang harus kuselesaikan dengan Troy terlebih dahulu.

”Mmm... kamu bisa tunggu aku sebentar?” tanyaku. ”Aku nggak bisa membiarkan Troy pergi begitu aja.”

”Tentu,” sahut Austin. Untuk lebih meyakinkannya agar mau menungguku, aku berkata, ”Aku akan segera kembali.”

Austin mengangguk. Aku pun segera berlari menyusul Troy. Dari suara-suara yang mengiringi kepergianku, sepertinya orang-orang mulai membubarkan diri.

Troy berjalan cepat sekali. Aku menangkap sosoknya sudah hampir sampai ke pintu gerbang. Ketika aku memanggilnya, dia berhenti dan menoleh ke arahku.

Hal pertama yang kulakukan, begitu aku tiba di hadapannya, adalah langsung memeluknya tanpa memberinya kesempatan untuk bicara. Dia memprotes dan berusaha melepaskan diri dariku, tapi aku tidak membiarkannya.

Karena akhir-akhir ini aku sedang cengeng, tidak mengherankan air mataku kembali mengalir. Troy langsung berhenti memberontak begitu menyadari aku menangis.

”Gue mau minta maaf sama lo, Troy,” isakku di dekat telinganya. ”Gue udah ngatain lo macam-macam. Waktu itu gue lagi marah banget, jadi gue sembarangan ngomong.”

”Tapi yang lo bilang ada benarnya kok,” kata Troy. ”Gue emang pengecut. Gue udah pakai HP lo untuk memancing Austin datang sendirian, tapi tetap aja, gue nggak berani menghadapinya satu lawan satu. Gue malah ngajak anggota geng gue untuk ngeroyok dia.”

”Lo kan udah membayarnya hari ini,” sergahku. ”Lo datang ke sini sendirian, bahkan sampai berlutut di depan Austin. Itu membuktikan lo bukan pengecut.” ”Sebenarnya gue melakukannya bukan untuk membuktikan apa-apa,” kilah Troy. ”Gue cuma nggak pengen ngelihat lo sedih terus.”

Tangisanku semakin menjadi-jadi mendengarnya. Aku berusaha menguasai diri sementara air mata terus berjatuhan membasahi kemejanya.

”Lo emang kakak yang baik, Troy,” pujiku. ”Lo sangat perhatian, dan selalu menjaga gue dari hal-hal yang mungkin bisa melukai gue. Guenya aja yang nggak menyadarinya dan malah mengira lo mau mengekang gue. Gue bahkan bilang kalau gue benci lo. Itu nggak benar. Gue menyesal udah bilang begitu. Lo harus tahu, Troy, gue sayaaang banget sama lo.”

Troy melepaskan pelukanku dan mengusap air mataku. ”Kalau lo emang benar sayang sama gue, berarti lo nggak boleh nangis lagi,” katanya. ”Udah nggak kehitung berapa kali gue lewat depan kamar lo dan dengar lo menangis. Terus terang, gue jadi tertekan karena itu.”

Troy pasti begitu tertekan sampai-sampai dia rela memohon pada Austin. Untuk membuat perasaannya lebih baik, aku menunjukkan cengiranku yang paling lebar padanya.

Troy berjengit. ”Kenapa tiba-tiba lo nyengir begitu?” ”Kan lo bilang gue nggak boleh nangis lagi,” sahutku. ”Ya tapi nggak perlu nyengir kayak begitu juga,” sungut

Troy. Dia bersiap melanjutkan langkahnya. ”Gue mau pulang. Lo mau sekalian ngikut, nggak?” ”Lo duluan aja,” kataku. ”Gue mau ngomong dulu sama Austin.”

Troy menggeleng-geleng sambil mendesah. ”Entah kapan gue bisa membiasakan diri melihat lo sama Austin,” keluhnya. ”Asal lo tahu ya, gue belum bisa sepenuhnya merestui hubungan kalian.”

”Nggak apa-apa,” tanggapku. ”Pelan-pelan aja.” Kemudian aku menggandeng tangannya. ”Ayo, gue antar lo sampai ke mobil.”

Kami berjalan bersama-sama meskipun Troy berulang kali berusaha melepaskan tangan dari gandenganku. Di depan pintu gerbang, aku melihat Lionel sedang duduk di atas motornya.

”Kak Lionel!” seruku senang. Aku berlari ke arahnya sambil menyeret Troy, lalu bertanya, ”Kenapa kamu ke sini?”

”Troy yang mengajakku,” sahut Lionel.

Aku berpaling pada Troy. ”Lo sengaja nyuruh dia berjagajaga di sini, ya?” tuduhku.

Bukannya malu karena ketahuan, Troy malah nyolot. ”Apa salahnya? Gue kan butuh seseorang untuk membantu gue seandainya geng Austin memutuskan untuk mengeroyok gue.”

Aku melepaskan gandenganku dan memukul pelan lengannya. ”Dasar lo! Gue pikir lo berani datang sendirian.” ”Lionel kan nggak ikut masuk,” kata Troy membela diri. ”Jadi sama aja.”

Aku baru mau membuka mulut untuk membalas, tapi tiba-tiba aku mendengar suara Sophie yang memanggil namaku. Dia berlari melewati pintu gerbang dan mendekati kami.

”Kak Austin nyuruh gue buat nyampein ke lo kalau dia nunggu lo di perpus,” katanya padaku. Lalu dia menoleh pada Troy seraya mengacungkan dua jempolnya. ”Kak Troy benar-benar keren tadi.”

”Semua itu untuk Ivy,” kata Troy. ”Seperti yang lo bilang, salah satu dari kami harus ada yang mengalah, supaya kami bisa baikan.”

Wajah Sophie memerah. ”Ternyata lo mendengarkan kata-kata gue,” katanya. ”Padahal gue udah takut aja lo marah sama gue.”

Karena aku sedang senang, sekaligus gemas melihat interaksi mereka, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka lebih dekat. Aku menarik Sophie dan mendekatkan mulutku ke telinganya, agar Troy dan Lionel tidak bisa mendengar kata-kataku.

”Suruh Jason untuk ambil motor lo,” bisikku. ”Hah?” ceplos Sophie bingung.

Aku tidak menanggapi kebingungan Sophie dan malah mendorongnya ke arah Troy. ”Troy, lo bisa antar Sophie pulang? Hari ini dia nggak bawa motor.” Tadi pagi Troy berangkat duluan ke sekolah sehingga dia tidak melihat Sophie menjemputku. Dia tidak akan tahu kalau aku bohong.

”Tentu,” sahut Troy. Kepada Sophie, dia bertanya, ”Mau pulang sekarang?”

Sophie buru-buru mengangguk. Ketika dia berjalan bersama Troy ke tempat parkir sekolah, dia menyempatkan diri untuk menengok ke arahku dan memberiku tatapan ”lo-emang-teman-gue-yang-paling-baik-nanti-gue-kecuplo”.

Sophie pasti tidak menyangka akhirnya datang juga hari dia diantar pulang oleh Troy. Aku masih senyam-senyum memandangi mereka ketika mendengar Lionel bicara padaku.

”Sepertinya semua udah baik-baik aja, ya?” tanyanya. ”Ya, akhirnya,” jawabku. ”Apa kamu yang memberi ide

pada Troy untuk datang menemui Kak Austin?”

Lionel menggeleng. ”Itu sepenuhnya keputusan Troy sendiri,” katanya. ”Menurutnya, satu-satunya cara supaya kamu bisa bahagia adalah dengan membiarkanmu bersama Austin.”

”Selama ini Troy selalu mendiamkanku,” gumamku. ”Jadi kupikir dia nggak peduli.”

”Dia sangat peduli padamu,” kata Lionel. ”Dia bahkan sampai mengabaikan fakta bahwa Austin musuh bebuyutannya.” ”Semoga aja dia bisa berteman dengan Austin,” harapku.

”Agak sulit untuk menjadi kenyataan sih, tapi bukannya nggak  mungkin,”  kata  Lionel.  ”Ngomong-ngomong,  apa sekarang kamu udah pacaran lagi sama Austin?”

”Itu yang mau aku pastikan,” sahutku. ”Aku akan bicara pada Austin setelah ini.”

”Kalau gitu jangan sampai aku menghalangimu,” kata Lionel. ”Pergilah menemuinya.”

Sebelum aku menurutinya, aku berkata, ”Meskipun nanti aku pacaran lagi dengan Austin, kamu harus tetap berteman denganku.”

”Pasti, Vy,” kata Lionel sambil tersenyum. ”Aku pasti akan terus berteman denganmu.”

Aku berpamitan padanya sambil melambaikan tangan.

Dalam perjalanan menuju perpustakaan, aku melawan arus para siswa yang berbondong-bondong pulang. Sepertinya mereka yang tadi menjadi penonton di lapangan. Mereka melirikku dan berbisik-bisik satu sama lain.

Tanpa memedulikan para penggosip itu, aku tetap meneruskan langkah. Setibanya di perpustakaan, aku melewati Bu Lisa—yang seperti biasa sedang tertidur pulas. Sepertinya Austin berada di bagian belakang perpustakaan, jadi ke sanalah aku berjalan.

Aku melihat Austin sedang duduk di meja paling kanan sambil membaca buku. Ketika mendengar suara langkahku, dia meletakkan buku ke atas meja dan berdiri. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela di belakangnya membuatnya tampak bersinar. Dia memang memesona.

”Yang terjadi tadi benar-benar mengagetkan, ya?” komentarnya.

”Ya,” kataku menyetujuinya.

Setelah itu hening. Aku berdiri agak jauh dari Austin, tapi dia berusaha merapatkan jarak di antara kami.

”Seperti yang tadi kubilang ke Troy, aku ingin memperbaiki hubunganku denganmu, Vy,” kata Austin akhirnya. ”Aku udah berniat melakukannya sejak datang ke taman waktu itu, karena mengira kamu yang memintanya. Begitu aku tahu itu hanya ulah Troy, aku jadi ragu. Aku tahu dia nggak akan menyetujui hubungan kita. Tapi ternyata hari ini dia yang mendatangiku, jadi kebetulan sekali.”

”Apa kamu udah nggak membenci Troy?” tanyaku. ”Aku masih membencinya,” jawab Austin. ”Tapi lalu aku

sadar, kamu nggak ada sangkut pautnya dengan apa yang Troy lakukan ke Natasha. Kalau aku mencampakkanmu hanya karena kamu adiknya, berarti aku nggak ada bedanya dengan dia, bukan?”

”Untunglah kamu berpikir begitu,” kataku.

Austin mendesah. ”Maafin aku ya, Vy,” katanya menyesal. ”Aku nggak bermaksud membuatmu menangis. Lihat aja, mata kamu sampai bengkak begini. Aku tahu ini udah sering terjadi. Meskipun aku menolak bicara denganmu, bukan berarti aku nggak memperhatikanmu.” Austin pasti memperhatikanku diam-diam, karena aku tidak menyadarinya. Atau mungkin aku saja yang terlalu larut dalam kesedihanku.

”Aku emang menangis karena kamu,” aku mengakui. ”Hanya aja, pada dasarnya aku emang cengeng. Tapi jangan khawatir, aku udah berjanji pada Troy untuk nggak menangis lagi.”

”Sepertinya kamu harus membuat janji yang sama padaku,” kata Austin.

”Asal kamu juga janji nggak akan membuatku menangis lagi,” kataku membalikkan.

”Deal!” cetus Austin.

Aku tahu janji kami akan terlanggar juga nantinya, sebab pasti ada saja perbuatan Austin yang secara tidak sengaja membuatku menangis. Tapi untuk saat ini, biar sajalah.

”Waktu kamu ke rumahku dulu, dan bicara di depan pintu kamarku, aku mendengar semua yang kamu katakan,” kata Austin. ”Kamu bilang kamu merindukan hubungan kita, aku pun merasa begitu. Jadi, untuk mengobati rasa rindu kita, apa kamu mau kembali jadi pacarku?”

Aku tidak tahan untuk tidak menggodanya. ”Apa nggak ada sate ayam untuk menjawabnya?”

Austin tergelak. ”Sayangnya aku nggak sempat menyiapkannya,” katanya. ”Jadi kamu boleh menjawab dengan kata-kata.”

Tapi aku memiliki cara sendiri untuk menjawab. Dengan tanganku, aku membuat gerakan seolah-olah sedang makan sate. Austin tersenyum. Dia tahu aku sudah mengiyakan pertanyaannya.

”Aku masih memikirkan kata-kata terakhirmu di depan pintu kamarku,” kata Austin.

Kata-kata terakhirku? Oh, maksudnya pernyataan cintaku.

”Aku belum sempat membalas,” lanjut Austin. ”Jadi sekarang aku ingin bilang aku juga mencintaimu.”

Aku terharu mendengarnya. Nyaris saja air mataku mengucur bak air mancur, kalau aku tidak teringat janjiku pada Troy dan Austin.

Tapi Austin melihat mataku yang berkaca-kaca. Dia mengelus pipiku, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sepertinya tidak ada salahnya aku menutup mata, sebab kali ini aku yakin dia melakukannya bukan karena ada benang di kemejaku.

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊