menu

Bad Boys Bab 08

Mode Malam
Bab 08

BUKAN hanya hubunganku dengan Austin, tapi hubunganku dengan Troy tidak juga membaik. Dia masih tidak mau berbicara denganku, tidak peduli sekeras apa pun usahaku.

Aku jadi sering mengurung diri di kamar. Sore itu, ketika Mama tiba-tiba masuk ke kamarku, aku sedang tidurtiduran di ranjang.

”Ivy, ada Lionel tuh di depan,” kata Mama, membuatku langsung melompat turun dari ranjang.

Sudah lama aku tidak bertemu Lionel, aku baru sadar betapa aku merindukannya. Aku merapikan penampilanku dan segera keluar ke teras. Di sana Lionel sedang duduk sambil setengah melamun.

Mengingat pertemuan terakhir kami yang berakhir dengan kesedihan, aku jadi agak kikuk harus berhadapan dengannya. Tapi aku berusaha menghilangkan perasaan itu.

”Kak Lionel,” panggilku.

Lionel menoleh, dan tersenyum saat melihatku. Senyumnya menenangkanku—seolah segala kegundahan hatiku belakangan ini lenyap tak berbekas. Andai saja dia datang lebih cepat...

”Hai, Ivy,” sapa Lionel. ”Udah lama ya kita nggak ketemu.

Gimana kabarmu?”

Aku duduk dan menggelengkan kepala. ”Nggak begitu baik,” aku mengakui.

”Gara-gara ribut sama Troy?” tebak Lionel. ”Salah satunya itu,” kataku membenarkan.

”Troy juga lagi kacau banget,” cerita Lionel. ”Dia suka marah-marah nggak jelas dan anggota geng kami yang jadi korbannya. Ada aja tindakan mereka yang bikin dia darah tinggi.”

Aku jadi kasihan pada anggota geng Troy. ”Apa Troy mukulin mereka?” tanyaku.

”Nggak benar-benar mukulin sih,” sahut Lionel. ”Paling cuma kena getok. Tapi digetok sama Troy ya berasa juga sakitnya.” Mau tak mau aku tergelak. Lionel tampak senang karena berhasil menghiburku.

”Ngomong-ngomong,” katanya, ”aku dengar tentang kamu dan Austin.”

Itu tidak mengejutkan. Tentunya dia tahu alasan di balik perubahan sikap Troy. Mungkin Troy sendiri yang memberitahunya.

”Jadi, apa itu benar?” tanya Lionel. ”Kamu dan Austin pacaran?”

”Kami memang sempat pacaran,” sahutku. ”Tapi hubungan kami berakhir begitu cepat sampai-sampai aku nggak yakin apakah itu nyata.”

”Hubungan kalian berakhir karena Austin tahu kamu adik Troy?”

”Ya,” anggukku. ”Hal yang terjadi pada Natasha terjadi juga padaku.”

Lionel diam sejenak sebelum bertanya, ”Apakah kalian berdua... benar-benar saling mencintai?”

Aku tahu Lionel bertanya begitu mungkin karena mengira Austin memaksaku untuk berpacaran dengannya. Sepertinya aku harus memberinya penjelasan.

”Aku mencintai Austin,” tegasku. ”Dan dulu dia juga mencintaiku. Tapi kalau sekarang, aku nggak yakin.”

Lionel mendesah. ”Ketika kamu menolakku, aku tahu aku harus merelakanmu dengan cowok lain,” katanya. ”Tapi nggak kusangka kalau cowok itu Austin. Maksudku, dia tentulah cowok terakhir di muka bumi ini yang bisa kurelakan denganmu.”

Sama seperti Troy, Lionel juga pasti tidak setuju aku berpacaran  dengan  Austin.  Mereka  memang  tidak  punya dendam pribadi, tapi tetap saja mereka saling membenci.

”Hanya saja, yang terpenting adalah kebahagiaanmu,” lanjut Lionel. ”Kamu udah memilihnya, jadi aku juga harus bisa menerimanya.”

Aku tersenyum. ”Aku senang jika bisa mendapat dukungan darimu,” kataku. ”Sayangnya aku dan Austin udah nggak bersama lagi. Cinta kami ternyata nggak cukup untuk membuatnya mau memaafkan kebohonganku.”

”Jangan menyerah,” kata Lionel. ”Nggak bersama dengan orang yang kita cintai itu rasanya menyakitkan. Aku tahu— aku pernah mengalaminya.”

Aku jadi tidak enak karena tahu akulah orang yang telah membuatnya mengalami hal itu. ”Tapi kamu menyerah sama aku,” aku mengingatkannya.

”Itu karena aku tahu kamu nggak mencintaiku,” kata Lionel. ”Sebenarnya aku ingin memperjuangkanmu, tapi aku juga nggak ingin memaksamu. Tapi kamu dan Austin kan berbeda, kalian saling mencintai. Meskipun sekarang kamu nggak yakin dengan perasaan Austin, dia juga pasti nggak akan melupakanmu begitu aja.”

”Jadi aku harus tetap berjuang?” tanyaku meminta saran. ”Tentu,” jawab Lionel. ”Mungkin akan butuh waktu, karena Troy dan Austin sama-sama keras kepala. Tapi pada akhirnya nanti, semua perjuanganmu akan terbayar.”

Kata-kata Lionel melecut kembali semangatku. Aku tidak boleh menyerah. Mungkin sekarang memang banyak kesedihan, tapi aku harus percaya kalau kesedihan itu akan berubah kembali menjadi kebahagiaan.

Sebelum Lionel berpamitan, aku memintanya untuk sering-sering menemuiku. Aku memang tidak bisa membalas perasaannya, tapi aku ingin menjadi teman yang baik untuknya.

Troy pulang ketika aku sedang di kamar mandi. Kami sempat berpapasan, tapi dia malah pura-pura tidak melihatku. Dia sempat menghabiskan waktunya di kamar sebelum akhirnya pergi lagi.

Aku mencari-cari ponsel yang tadi kuletakkan di ranjang. Aku ingin melihat apakah Austin menghubungiku. Memang menyedihkan, tapi itulah yang sering kulakukan akhir-akhir ini.

Ponselku tidak ada. Aku sudah mengacak-acak ranjangku ketika kulihat ponselku ternyata ada di atas meja rias.

Kenapa ponselku bisa ada di sana? Bukankah tadi aku meletakkannya di ranjang? Ataukah kesedihanku ternyata sudah membuatku pikun?

Aku melihat layar ponsel, dan menyadari Austin tidak menghubungiku. Tikaman kekecewaan yang sudah biasa kurasakan kini mulai muncul lagi. Sampai kapan Austin akan bersikap begini padaku?

Aku terus mengecek ponsel sampai malam tiba. Isengiseng, aku bahkan membaca kembali SMS-ku dengan Austin—dan saat itulah aku menemukan keanehan.

Ada satu SMS yang rasanya tidak pernah kukirimkan. SMS itu ditujukan untuk Austin dan baru dikirim beberapa jam yang lalu. Isinya seolah-olah aku mengajaknya untuk bertemu di taman dekat SMA Emerald pukul delapan malam ini. Siapa yang mengirim SMS itu dan mengaku-aku sebagai aku? Aku memikirkan kemungkinannya, dan mendadak tersentak.

Troy! Pasti dia pelakunya. Hanya dialah yang memiliki kesempatan untuk menyentuh ponselku. Dilihat dari waktu pengirimannya, sepertinya dia mengirim SMS ini ketika aku sedang di kamar mandi.

Pantas saja tadi ponselku berpindah tempat. Itu bukan karena aku sudah pikun, tapi karena Troy tidak sengaja memindahkannya setelah menggunakannya.

Awalnya aku bingung kenapa Troy harus mengaku-aku sebagai aku dalam SMS itu, tapi setelah membaca isinya lagi, aku jadi mengerti. Dia ingin Austin datang sendirian ke taman itu. Kalau Troy sendiri yang memintanya, tentu Austin akan datang bersama seluruh anggota gengnya. Troy tidak bisa membiarkan itu terjadi, karena mungkin dia ingin memberi pelajaran pada Austin. Oh, tidak. Apa yang harus kulakukan? Kalau Troy sudah merencanakan sampai sejauh itu, dia jelas tidak mainmain.

Tapi Austin tidak akan menuruti isi SMS itu, bukan? Dia kan masih marah padaku. Dia tidak akan pergi ke taman itu hanya karena aku memintanya. Tapi sebelum bisa memastikan itu, aku tidak bisa tenang.

Sekarang sudah pukul delapan lewat sepuluh. Aku berusaha menghubungi Austin, tapi tetap tidak ada respons. Ketika aku mencoba menghubungi Troy, ternyata ponselnya dimatikan.

Aku semakin gelisah. Aku tidak bisa terus-menerus di kamar ini dan menerka-nerka apa yang terjadi. Aku harus datang ke taman itu. Aku menelepon Sophie dan dia langsung mengangkat pada deringan pertama.

”Kenapa, Vy?”

”Soph!” seruku. ”Lo bisa ngantar gue ke taman dekat sekolah kita sekarang, nggak?”

”Hah?” Sophie terdengar bingung. ”Ngapain?”

”Troy ngirim SMS ke Austin pakai HP gue,” jelasku. ”Sepertinya dia mau mukulin Austin.”

”Serius lo?” tanggap Sophie kaget.

”Nggak tahu juga,” kataku. ”Yang penting gue harus ke taman itu dulu.”

”Waduh!” seru Sophie. ”Tapi gue nggak bisa ngantar lo.

Motor gue lagi dipakai Jason.” Aku mengerang. Baru kali ini aku menyayangkan kenapa Jason tidak punya motor sendiri. Aku buru-buru menyudahi pembicaraan dengan Sophie dan berlari keluar kamar. Mungkin aku bisa naik ojek saja.

Tapi ketika aku baru sampai di teras rumah, aku melihat sebuah motor berhenti di depan pintu gerbang. Kelegaan langsung menyergap ketika aku menyadari itu motor Lionel.

Tentu saja. Kenapa aku tidak teringat untuk menghubungi Lionel?

Aku membuka pintu gerbang dan Lionel tampak kaget ketika melihatku. Mungkin karena dia tidak menyangka aku akan tiba-tiba keluar.

”Vy, kamu udah tahu?” tanyanya.

Aku tahu yang dia maksud adalah tentang Troy dan Austin, jadi aku mengangguk. ”Apa... apa yang sebenarnya direncanakan oleh Troy?”

Lionel terlihat ragu sejenak, sebelum akhirnya menjawab, ”Troy berencana untuk memberi pelajaran pada Austin karena berani memacari kamu.”

Tepat seperti dugaanku. Ternyata memang itu rencana Troy. Tapi ada hal penting lainnya yang harus kuketahui.

”Apa Austin datang?” tanyaku.

Perlahan Lionel mengangguk, hatiku pun terasa remuk. Aku tidak percaya. Kenapa Austin datang? Seharusnya dia mengabaikan SMS itu. Kalau begini, aku jadi berharap dia mau memaafkanku. Apakah itu mungkin? Apakah Austin memang mau memaafkanku, sekaligus memperbaiki hubungan kami?

”Itulah sebabnya aku ke sini,” kata Lionel. ”Aku ingin membawamu ke taman itu. Tadinya aku memang ragu, tapi lalu aku sadar cuma kamu yang bisa menghentikan Troy. Ada beberapa anggota geng kami bersamanya. Aku melakukan ini bukan untuk Austin, tapi untukmu. Aku tahu kamu akan sedih kalau sampai terjadi sesuatu sama Austin.”

”Kamu udah melakukan hal yang benar,” kataku. ”Aku juga mau ke taman itu. Bahkan tadi aku meminta Sophie mengantarku, tapi dia nggak bisa.”

”Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang,” ajak Lionel. Aku memakai helm yang diserahkan Lionel padaku.

Setelah aku naik ke atas motor, dia langsung memacunya dengan cepat.

Mendekati taman di dekat SMA Emerald, aku bisa melihat mobil Troy dan Austin—juga beberapa mobil lain— terparkir di depannya. Lionel menghentikan motor di antara mobil-mobil itu. Tanpa menunggunya lagi, aku langsung berlari menembus taman.

Taman itu sangat luas, banyaknya pepohonan menghalangi pandanganku. Ditambah lagi, suasana yang remang menyulitkanku mencari Troy dan anggota gengnya.... juga Austin.

Tapi akhirnya aku menemukan mereka di bagian tengah taman. Anggota geng Troy ada lebih dari sepuluh, mereka memberi semangat pada Troy yang sedang memukuli Austin. Austin meringkuk di tanah, sama sekali tidak bisa melawan.

Aku langsung menjerit. Kuhampiri mereka, kudorong tubuh Troy menjauh dari Austin. Terdengar seruan kaget Troy dan anggota gengnya, tapi aku tidak memedulikan mereka. Yang terpenting bagiku saat ini adalah Austin. Aku berjongkok di sebelahnya. Air mataku secara otomatis mengalir ketika melihat keadaannya yang sudah babak belur.

Aku tidak pernah melihat Austin dalam keadaan tidak berdaya seperti ini. Dia biasanya kuat dan selalu percaya diri pada kemampuannya. Separah apa Troy melukainya, sampai-sampai dia bahkan tidak mampu untuk berdiri?

”Austin,” isakku, sambil mengusap darah yang mengalir di bibirnya. ”Kamu nggak apa-apa?”

Austin menepiskan tanganku dengan sisa-sisa tenaganya. ”Aku nggak butuh bantuan kamu,” katanya dengan suara serak.

”Jangan sok kuat begitu,” tukasku, masih sambil terisak. Sekujur tubuh Austin penuh luka. Aku berusaha meme-

riksanya, tapi Troy menarikku berdiri. ”Kenapa lo bisa ada di sini?” tuntutnya.

Aku berusaha melepaskan diri dari Troy, tapi dia memegangiku erat-erat. Bukannya menjawab pertanyaan Troy, aku malah terus terisak-isak sambil memandangi Austin. ”Gue yang bawa dia ke sini.” Terdengar suara Lionel, yang muncul tiba-tiba di dekat kami. Dia melirik Austin, lalu berpaling kepadaku dengan iba.

”Lo harus pulang,” perintah Troy padaku. Dia mulai menarikku menjauh dari Austin.

”Nggak!” seruku. Aku kembali memberontak. ”Gue nggak mau pulang. Gue mau sama Austin.”

Perlawananku membuat Troy murka. Dia menyeretku tanpa ampun. Tubuhku sampai terasa sakit karena mencoba bertahan.

”Nggak mau!” jeritku histeris. Aku mengulurkan tanganku pada Austin. ”Austin! Austin!”

Lionel jadi tidak tega melihatku. ”Troy, jangan begitu,” pintanya pada Troy.

”Diam lo!” bentak Troy. ”Lo nggak seharusnya bawa Ivy ke sini.”

Aku tahu aku tidak akan bisa melawan Troy. Tenaganya terlalu kuat. Jadi aku memandangi Lionel, berusaha memohon padanya lewat tatapanku, agar dia mau menolong Austin.

Lionel berhasil menangkap permohonanku. Dia mengangguk paham dan tersenyum untuk menenangkanku. Aku pun yakin Austin akan baik-baik saja. Lionel memang membenci Austin, tapi demi aku, dia pasti akan menolongnya. Troy menyeretku sampai ke mobil. Dia memaksaku untuk masuk. Tangisku semakin kencang sementara dia menge-

mudikan mobil ke rumah. ”Berhenti menangis, Ivy!” desis Troy. ”Dia emang pantas dihajar.”

”Kenapa dia pantas dihajar?” balasku. ”Karena dia macarin gue? Dia kan udah mengakhiri hubungannya dengan gue.”

”Dia nggak seharusnya mendekati lo sejak awal,” sergah Troy. ”Lo itu adik gue, itu berarti lo terlarang buat dia.”

”Apa lo nggak dengar yang waktu itu Sophie bilang ke lo?” tuntutku. ”Austin nggak tahu kalau gue adik lo sampai dia datang ke rumah kita. Jadi dia macarin gue bukan untuk membalas lo. Lagi pula, dulu lo juga nggak tahu Natasha itu adik Austin ketika lo memacarinya.”

”Jangan bawa-bawa Natasha dalam hal ini,” Troy memperingatkan.

”Kenapa? Karena lo tahu lo salah?” tebakku. ”Lo campakin Natasha begitu aja waktu lo tahu dia adik Austin. Wajar kalau Austin membenci lo karena itu.”

”Oh, jadi lo di pihak Austin sekarang?”

”Gue nggak di pihak siapa-siapa,” kataku. ”Gue cuma ingin lo tahu nggak seharusnya lo menghajar dia karena gue.”

Troy tidak mengatakan apa-apa lagi sampai dia menghentikan mobil di depan rumah. Dia tidak langsung turun dari mobil, begitu pun aku.

”Gue nggak menyesal telah menghajar pengecut itu,” katanya. Aku mendengus. ”Pengecut?” ulangku. ”Atas dasar apa lo ngatain dia pengecut? Bukannya pengecut itu yang pakai HP adiknya buat memancing musuh bebuyutannya ke taman, supaya dia bisa mengeroyoknya bersama anggota gengnya?”

”Nggak usah nyindir gue, Vy,” balas Troy. ”Asal lo tahu aja, urusan gue dengan Austin belum selesai. Gue akan membuatnya lebih babak belur lagi dari malam ini.”

Kemarahanku menggelegak mendengarnya. Bukan hanya tidak menyesal, Troy bahkan ingin mengulanginya.

”Lo tahu,” kataku, dengan air mata yang mengalir deras. ”Kalau boleh memilih, gue nggak pengen dilahirkan sebagai adik lo. Gara-gara itu, gue jadi nggak bisa bersama dengan cowok yang gue cintai. Gue benci sama lo. Gue benci punya kakak kayak lo. Lo itu pengecut, tahu nggak?! Pengecut!!!”

Aku sempat melihat wajah Troy yang terperangah sebelum aku turun dari mobil dan membanting pintu. Aku berlari hingga kamar. Di sana, aku melanjutkan tangisku sambil meringkuk di ranjang.

Ada setitik penyesalan yang kurasakan atas kata-kata kasarku pada Troy, tapi kemarahanku segera menghapusnya. Aku berharap dia menyadari kesalahannya setelah kucaci maki.

*** Meskipun tadi malam Lionel sudah mengabariku tentang Austin, tetap saja aku khawatir. Lionel mengantar Austin pulang dengan bantuan anggota geng Troy yang lain. Tadinya dia ingin membawa Austin ke rumah sakit, tapi Austin dengan keras kepalanya menolak.

Begitu tiba di sekolah bersama Sophie, aku berniat untuk langsung ke kelas Austin, tapi setengah jalan aku bertemu David.

”Apa Kak Austin masuk hari ini?” tanyaku.

David menggeleng. ”Tadi dia nelepon gue, katanya dia sakit,” jawabnya.

Sakit? Apa Austin tidak memberitahu David bahwa tadi malam dia dikeroyok geng Troy?

”Austin sakit?” Tiba-tiba saja Greta muncul dan nimbrung. Dia tampak khawatir. ”Sakit apa?”

David hanya mengangkat bahu dan meninggalkan kami. Greta baru akan mengikutinya, tapi Sophie menahannya. ”Tadi malam Kak Austin dikeroyok geng Kak Troy sampai

babak belur,” Sophie memberitahu Greta.

Greta terpana. ”Bagaimana bisa?”

”Itu semua gara-gara lo,” tuduh Sophie. ”Andai aja lo nggak ngasih tahu Kak Austin kalau Ivy adik Kak Troy, hal itu nggak akan terjadi.”

”T-tapi kan gue nggak tahu kalau akibatnya akan separah ini,” gagap Greta.

Sophie mendengus. ”Harusnya lo tahu, karena Kak Troy dan Kak Austin musuh bebuyutan,” tandasnya. ”Kalau sampai terjadi sesuatu sama Kak Austin, berarti lo juga ikut bertanggung jawab.”

Greta terlihat sangat ketakutan sampai-sampai hampir menangis. Aku segera mengajak Sophie pergi darinya.

”Lo kan nggak perlu sampai nakut-nakutin dia segala,” kataku.

”Biarin aja,” kata Sophie. ”Siapa suruh dia berusaha ngerebut Kak Austin dari lo dengan cara kotor begitu. Lagian tumben lo ngebelain dia.”

”Gue bukannya ngebelain dia,” tukasku. ”Gue cuma sangat mengkhawatirkan Austin sampai-sampai gue nggak mau dipusingin sama hal lain.”

”Kalau lo emang khawatir begitu sama Kak Austin, kenapa lo nggak datang ke rumahnya?” tanya Sophie. ”Lo kan pernah ke sana.”

Benar juga. Kenapa aku tidak terpikir untuk datang ke rumahnya? Dengan begitu aku bisa melihat sendiri bagaimana keadaan Austin.

”Apa lo mau nganterin gue ke rumah Austin sepulang sekolah nanti?” tanyaku penuh harap.

”Tentu,” sahut Sophie. ”Lo masih ingat jalan ke rumahnya, kan?”

Aku bilang pada Sophie bahwa aku masih ingat, tapi nyatanya, kami justru tersesat. Makan waktu sekitar dua jam sampai akhirnya kami bisa menemukan rumah Austin. Sophie sibuk mengomel-omel, sementara aku memencet bel. Seorang satpam yang membukakan pintu gerbang. Begitu aku bilang bahwa aku dan Sophie teman Austin, dia langsung mempersilakan kami masuk.

Mobil Austin dan mobil Natasha terparkir bersebelahan. Ternyata keduanya ada di rumah. Bahkan Natasha sendiri yang membukakan pintu ganda untuk kami. Dia tidak tampak terlalu terkejut melihatku.

”Hai, Natasha,” sapaku kikuk. Natasha tersenyum. ”Hai,” balasnya.

Aku mengenalkannya dengan Sophie. Sophie tampak ogah-ogahan ketika menyalami Natasha. Mungkin dia bersikap jutek pada Natasha karena dia menganggap Natasha sebagai saingan dalam memperebutkan cinta Troy.

Natasha mempersilakan kami duduk di ruang tamu. Setelah seorang asisten rumah tangga membawakan minuman, baru Natasha mulai berbicara.

”Jadi lo benar-benar adik Troy?” tanyanya.

Aku tahu dia pasti menanyakan itu. Austin pasti sudah memberitahu dia.

”Ya,” anggukku. Aku menatapnya dengan tidak enak. ”Sori gue nggak ngasih tahu lo sebelumnya. Gue menyembunyikan ini dari Kak Austin, jadi otomatis gue harus menyembunyikan dari lo juga.”

”Nggak  apa-apa,”  kata  Natasha.  ”Gue  ngerti  alasannya.” Untunglah Natasha begitu pengertian. Tapi sepertinya dia belum ingin menyudahi topik tentang Troy.

”Bagaimana kabar Troy  sekarang?” tanyanya.

Aku mendesah. ”Entahlah,” kataku. ”Gue lagi nggak ngomong sama dia.”

”Kabar Kak Troy baik kok,” kata Sophie tiba-tiba. ”Biasalah, dia lagi sibuk sama cewek-ceweknya.”

Aku menendang kaki Sophie diam-diam untuk memperingatkan, tapi dia tetap cuek. Pasti dia sengaja mengatakan itu untuk membuat Natasha berpikir dia tidak ada kesempatan lagi dengan Troy.

”Oh,” tanggap Natasha singkat.

Sambil dalam hati merutuki Sophie yang membuat Natasha mulai sedih, aku mengalihkan topik ke Austin.

”Sebenarnya gue ke sini untuk menjenguk Kak Austin,” kataku. ”Apa luka-lukanya udah membaik?”

”Cuma memar-memar sih,” kata Natasha. ”Tapi itu udah biasa. Austin emang sering berantem.”

”Apa gue boleh menemuinya?” tanyaku meminta izin. ”Gue tanya Austin dulu, ya,” kata Natasha. ”Dia udah

ngewanti-wanti gue supaya nggak ngizinin siapa pun menemuinya. Tapi siapa tahu lo pengecualian.”

Natasha meninggalkanku dan Sophie beberapa menit, sementara aku menanti dengan penuh harap. Namun begitu kembali, Natasha hanya menggeleng—tanda Austin tidak mau menemuiku. Melihat kekecewaan di wajahku, akhirnya Natasha membawaku ke depan kamar Austin. Kalaupun aku tidak bisa melihat Austin, setidaknya aku bisa bicara padanya. Natasha meninggalkanku di sana dan kembali ke ruang tamu untuk menemani Sophie.

Aku mengetuk pintu kamar Austin yang berwarna putih. ”Austin,” panggilku. ”Apa kamu mau membuka pintu ini untukku?”

Tak ada sahutan dari Austin.

”Oke, nggak apa-apa kalau kamu nggak mau membukanya,” kataku. ”Yang penting aku mau kamu mendengarkanku.”

Aku menarik napas dalam-dalam—bersiap mengeluarkan segala unek-unek yang akan kusampaikan padanya.

”Aku minta maaf atas perbuatan Troy tadi malam,” kataku. ”Nggak seharusnya dia memukulimu seperti itu. Aku udah marahin dia.”

Aku diam sejenak. Betapa aku ingin mengetahui reaksi Austin saat mendengar aku memarahi Troy.

”Kuakui akulah penyebabnya,” lanjutku. ”Karena itulah aku merasa bersalah sama kamu. Tapi aku ingin kamu tahu, aku nggak pernah bermaksud membuatmu celaka. Andai aku tahu rencana Troy sejak awal, aku pasti akan menghentikannya. Sayangnya aku terlambat.” 

Diam lagi. Kuharap Austin memercayai kata-kataku. ”Aku nanyain kamu ke Kak David tadi,” kataku. ”Dia

bilang kamu sakit. Apa kamu nggak ngasih tahu dia kalau kamu dikeroyok geng Troy? Apa kamu sengaja menyembunyikannya, supaya anggota gengmu nggak membalas Troy? Apa kamu melakukan itu untuk melindungi Troy, karena dia kakakku? Nggak peduli apa yang udah dilakukannya ke kamu?”

Sampai di situ, air mataku mulai mengalir. Sial. Padahal aku sudah bertekad untuk tidak menangis.

”Kalau emang benar begitu, aku sangat berterima kasih sama kamu,” isakku. ”Padahal kamu bisa menyuruh anggota gengmu untuk membuatnya babak belur sepertimu, tapi kamu nggak melakukannya—dan semua itu demi aku.”

Aku menutup mata dan menyandarkan kening ke pintu kamar Austin.

”Aku juga berterima kasih karena kamu mau datang ke taman itu tadi malam,” kataku. ”Memang bukan aku yang mengirim SMS itu dan kamu jadi babak belur karena itu. Tapi mengetahui kamu mau datang karena mengira aku yang meminta, itu sudah cukup membuatku senang.”

Aku tetap bertahan dengan posisiku, sambil membiarkan air mata terus mengalir.

”Aku merindukan hubungan kita,” desahku. ”Bahkan aku merindukan saat-saat kamu menjadikanku pesuruhmu. Itu jauh lebih baik daripada didiamkan olehmu seperti ini.”

Aku membuka mata dan memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun Austin tidak bisa melihat.

”Semoga memar-memarmu cepat sembuh,” doaku. ”Kita ketemu lagi di sekolah. Dan, Austin”—jantungku berdebar keras saat aku berjuang untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya—”aku mencintaimu.”

Aku segera beranjak dari depan kamarnya dengan senyum bercampur air mata. Ketika aku kembali ke ruang tamu, Sophie dan Natasha langsung berdiri dan menghampiriku.

”Udah selesai bicaranya?” tanya Natasha.

Aku mengangguk. Dengan didorong keinginan yang sangat kuat, aku meraihnya ke dalam pelukanku. Natasha sempat terkejut, tapi membiarkanku memeluknya.

”Gue minta maaf karena Troy menyakiti hati lo,” kataku. ”Lo cewek yang baik, nggak pantas diperlakukan seperti itu olehnya.”

Natasha tidak menyahut, tapi tak lama aku bisa mendengar isakannya. Kami pun menangis bersama-sama, disaksikan oleh Sophie dengan mata berkaca-kaca. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊