menu

Bad Boys Bab 07

Mode Malam
Bab 07

KUTEBAK murid-murid di sekolahku tidak akan terlalu terkejut mendengar aku berpacaran dengan Austin. Gosip tentang kami memang sudah santer beredar beberapa hari ini. Apalagi mereka memang sudah sering melihat kami bersama. Karena itu aku tidak terlalu khawatir ketika tiba di sekolah keesokan harinya.

Austin seperti biasa duduk menungguku di bangku panjang yang berada di dekat pintu gerbang sekolah. Namun bedanya, kali ini wajahnya dipenuhi senyum ketika menghampiriku. Dia menggenggam tanganku dan mulai mengajakku berjalan ke arah kelasku. Ini memang bukan pertama kalinya dia memegang tanganku, tapi tetap saja rasanya berbeda. Genggamannya terasa begitu melindungi, tidak memaksa seperti sebelumnya. Aku balas menggenggamnya, dalam hati berharap tidak harus melepaskannya lagi.

”Ih, bikin ngiri aja.” Tiba-tiba terdengar suara Sophie. Aku lupa kalau sedari tadi dia berjalan di belakang kami. ”Gue jalan duluan deh. Nggak mau jadi obat nyamuk.”

Aku tersenyum sembari memperhatikannya menjauh. Dia pasti tidak terbiasa melihatku punya pacar. Aku kembali melanjutkan langkah bersama Austin, kali ini Greta yang menghadang kami.

Awalnya dia hanya ingin menyapa Austin. Namun ketika dilihatnya tangan kami bergandengan, dia malah tidak bisa mengeluarkan suara dan hanya berdiri sambil melongo.

”Kenapa... kenapa lo megang tangannya?” tanyanya pada Austin akhirnya.

”Emangnya kenapa?” Austin balik bertanya. ”Wajar kan, kalau gue megang tangan pacar gue?”

Wajah Greta sudah seperti orang yang tersedak bakso saking pucatnya. Dia mengeluarkan pekikan yang merupakan perpaduan antara kaget dan tidak percaya. Sebelum kami berlalu dari hadapannya, aku sempat panen sumpah serapah darinya.

Memang inilah salah satu risiko pacaran dengan cowok populer. Aku yakin bukan hanya Greta yang tidak suka melihat hubunganku dengan Austin. Melihat banyaknya penggemar  Austin,  kalau  setiap  sumpah  serapah  yang keluar dari mulut mereka menghasilkan uang, aku pasti sudah jadi triliuner.

Tapi aku mendapat dukungan penuh dari anggota geng Austin. Mereka tidak henti-hentinya memberi selamat ketika aku sedang di kantin. Karena kini aku pacar ketua mereka, sikap mereka menjadi sangat hormat padaku—jauh berbeda dengan saat aku masih menjadi pesuruh mereka.

”Bos, kita bakal ditraktir nggak nih?” tanya David, diikuti tatapan penuh harap seluruh anggota geng yang lain.

”Tentu dong!” sahut Austin. ”Beli aja apa yang kalian mau di kantin ini, nanti gue yang bayar. Bahkan...,” dia mulai mengeraskan suaranya, agar bisa didengar seluruh kantin, ”...semua orang yang ada di kantin ini gue traktir!”

Terdengar tepuk tangan meriah dari orang-orang yang berada di kantin. Beberapa dari mereka bahkan menyerukan nama Austin dengan penuh pemujaan.

”Kak Austin emang royal banget,” komentar Sophie. Lalu, dengan lirikan penuh arti padaku, dia menambahkan, ”Nggak kayak pacarnya, yang cuma ngebeliin es krim.”

Aku memukul lengan Sophie. ”Gue kan udah beliin lo dan Jason pizza juga,” protesku.

”Itu juga setelah dipaksa-paksa selama hampir satu jam,” kata Sophie.

”Dasar nggak tahu terima kasih!” umpatku. ”Besok-besok gue nggak bakal ngebeliin lo apa-apa lagi.” ”Biarin!” sahut Sophie. ”Gue bisa minta ke Kak Austin.”

Aku semakin seru memukulinya, membuatnya sampai harus berdiri untuk menghindari pukulanku. Beberapa menit sebelum jam istirahat berakhir, kami menyempatkan diri ke toilet.

”Vy,”  panggil  Sophie  tiba-tiba,  ketika  kami  sedang mencuci tangan di wastafel. ”Sebenarnya gue ragu mau bertanya ke lo, tapi gue benar-benar penasaran.”

Aku memandangnya lewat cermin di atas wastafel, menunggunya melanjutkan kata-katanya.

”Sampai kapan lo mau nyembunyiin hal ini dari Kak Troy dan Kak Austin?” tanya Sophie hati-hati. ”Bagaimanapun, suatu saat Kak Troy akan tahu kalau lo pacaran sama Kak Austin, dan Kak Austin juga akan tahu kalau lo itu adik Kak Troy.”

Aku mendesah. Selama ini aku sudah berusaha keras untuk tidak memikirkan itu, meskipun hal itu terus bergelayut di benakku dan membuatku tidak tenang.

”Gue tahu gue nggak bisa selamanya menyembunyikan hal ini dari Troy dan Kak Austin,” kataku. ”Tapi saat ini gue nggak mau memikirkannya dulu. Gue masih ingin menikmati kebahagiaan gue dengan Kak Austin.”

Sophie mengangguk-angguk mengerti.

”Gue sadar apa yang terjadi pada Natasha bisa sewaktuwaktu terjadi sama gue,” kataku. ”Dan sejujurnya itu membuat gue takut.” ”Lo berharap aja itu nggak terjadi,” kata Sophie. ”Mungkin Kak Troy dan Kak Austin mau melupakan masalah di antara mereka kalau itu menyangkut kebahagiaan lo.”

Nyaris mustahil Troy dan Austin mau berdamai. Tapi kalau itu menyangkut kebahagiaanku, apa mereka akan setega itu?

Sewaktu bel pulang sekolah berbunyi, aku keluar dari kelas dan berharap akan melihat Austin. Tapi ternyata David-lah yang menungguku.

”Austin bilang dia nggak bisa ngantar lo pulang hari ini,” katanya memberi pesan. ”Ada sesuatu yang harus diurusnya.”

”Sesuatu apa?” tanyaku.

David mengangkat bahu. ”Nggak tahu,” sahutnya. ”Dia nggak bilang.”

Aku berterima kasih padanya meskipun merasa aneh. Kenapa Austin tidak meneleponku atau mengirimiku SMS, tapi malah menyuruh David menemuiku?

Sophie mengantarku pulang. Dia berharap Troy ada di rumah, tapi mobil Troy tidak tampak di mana pun.

”Lo mau mampir dulu?” tawarku.

”Nggak, ah,” kata Sophie tidak semangat. ”Ntar Jason nyariin gue, lagi.”

”Jangan bawa-bawa Jason deh,” gerutuku. ”Dia kan pasti tahu lo ada di rumah gue. Lo itu emang cuma mau mampir kalau ada Troy.” Sophie hanya nyengir. Dia bersiap menjalankan motornya, tapi langsung berhenti begitu melihat mobil Troy di kejauhan.

”Kak Troy pulang!” serunya girang.

Troy memarkir mobilnya di dekat motor Sophie dan segera turun. Dia memberikan sapaannya yang biasa pada Sophie.

”Hai, Sophie.”

”Hai, Kak Troy,” balas Sophie. Tidak lupa dia menyertakan senyum penuh cinta. Kali ini dia bahkan sampai menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan gaya yang dipikirnya seksi.

”Kok tumben lo udah pulang, Troy?” tanyaku, mengalihkan perhatian Troy dari aksi sok genit Sophie.

”Gue cuma pulang buat mandi,” kata Troy. ”Habis ini gue mau pergi lagi.” Dia berpaling kembali pada Sophie dan berkata, ”Gue masuk dulu, ya.”

”Iya,” kata Sophie dengan nada ceria. Senyum masih tercetak di bibirnya, dan terus bertahan sampai Troy menghilang ke dalam rumah.

”Bukannya lo mau pulang, Soph?” ledekku. ”Kan lo takut Jason nyariin lo.”

”Biarin aja dia nyariin gue,” kata Sophie cuek. ”Lo temenin gue ngobrol di sini sampai Kak Troy keluar lagi ya, Vy. Kan dia cuma masuk buat mandi. Sebenarnya sih gue mau nunggu di dalam aja. Siapa tahu bisa ngelihat Kak Troy nggak pakai baju lagi.” ”Aduh, otak lo itu!” seruku gemas. ”Ngeres banget, tahu nggak? Sini gue sapu biar bersih!”

Sophie hanya cengengesan. Dia benar-benar melarangku masuk ke rumah dan mengajakku mengobrol tentang berbagai hal untuk tetap menahanku di luar.

”Udah ah, Soph,” kataku setelah beberapa menit. ”Gue mau masuk.”

”Jangan!” larang Sophie. ”Paling sebentar lagi, kan?” ”Tapi gue udah lapar,” keluhku. ”Gue pengen buru-buru

makan.”

”Lo mah lebih peduli sama perut lo daripada sama gue,” kata Sophie sambil cemberut.

”Ya bukan begitu,” sergahku. ”Lo tunggu sendiri aja deh.”

Sophie mulai merengek, tapi tanpa aku sempat memprotes pun, rengekannya sudah berhenti dengan sendirinya. Tampaknya ada sesuatu yang membuatnya kaget. Matanya membesar dan terpaku ke belakangku.

Aku jadi heran. Kutolehkan kepala ke belakang, dan apa yang kulihat membuatku bereaksi sama seperti Sophie. Efeknya bahkan lebih besar kepadaku, karena aku mulai merasa sesak napas.

Tidak. Aku tidak memercayai apa yang kulihat. Tidak mungkin  itu  mobil  Austin.  Tapi  ketika  pintu  mobil  itu terbuka dan Austin keluar dari dalamnya, aku tahu hal yang paling kutakutkan telah terjadi. Yang semakin membuatku syok, pintu penumpang mobil itu juga terbuka, Greta keluar sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku tidak tahu kenapa Greta bisa bersama Austin, aku bahkan tidak bisa bertanya.

Austin berhenti agak jauh dariku. Sepertinya dia tidak mau dekat-dekat denganku. Dia menatapku tajam.

”Apa Troy Cornelius kakakmu, Ivy?”

Aku menelan ludah. Dari caranya mengucapkan nama Troy saja aku sudah bisa merasakan betapa bencinya dia pada Troy. Dia pasti sudah tahu jawaban atas pertanyaannya itu, tapi mungkin dia hanya ingin memastikan.

”Lo jangan coba-coba berbohong, Vy,” kata Greta. Dia berdiri dengan gaya sok di sebelah Austin. ”Gue dengar pembicaraan lo dan Sophie di toilet. Kalian tadi membicarakan Troy dan Austin, dan Sophie menyatakan dengan jelas kalau lo adik Troy.”

Ternyata dia biang keladinya. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya ketika melihatnya turun dari mobil Austin. Dia menguping pembicaraanku dengan Sophie, lalu melaporkannya pada Austin. Itulah sebabnya Austin tidak bisa mengantarku pulang hari ini. Dia dan Greta sudah merencanakan untuk menangkap basah aku.

Aku melirik Sophie, kulihat dia sedang menatapku dengan pandangan meminta maaf. Aku menggelengkan kepala padanya—sebagai tanda aku tidak menyalahkannya.

”Makanya,  kalau  mau  ngomongin  rahasia  lihat-lihat tempat dong,” ucap Greta. ”Gue ada di dalam bilik toilet, kalian bahkan nggak tahu.”

Aku tidak menanggapinya. Fokusku saat ini hanya pada Austin. Dia tahu aku sudah membenarkan pertanyaannya tanpa harus menjawab.

”Jadi, di sini rumahmu yang sebenarnya,” kata Austin sambil mengamati rumahku. ”Lalu ke rumah siapa selama ini aku mengantarmu? Sophie?”

Aku dan Sophie sama-sama langsung menunduk.

”Dan Jason itu juga bukan adik kamu? Tapi adik Sophie?” kejar Austin.

Aku dan Sophie tetap menunduk. Aku benar-benar merasa tidak enak pada Sophie. Bagaimanapun, aku yang sudah melibatkannya dalam hal ini.

”Ivy, sebenarnya ada berapa banyak kebohongan yang kamu katakan padaku?” tanya Austin. Aku bisa mendengar nada sakit hati dalam suaranya.

Aku mengangkat kepalaku. ”Austin...,” gumamku—suaraku bergetar hebat. ”Maafin aku.”

Dan seakan keadaan belum cukup buruk, Troy melangkah keluar dari dalam rumah. Awalnya perhatiannya hanya tercurah padaku dan Sophie, lalu begitu dia mengikuti arah pandangan kami, akhirnya dia menyadari kehadiran Austin.

Rahang Troy langsung mengeras. Dia memelototi Austin, dan aku bisa mendengar napasnya memburu—seakan untuk memperlihatkan betapa marah dirinya. Austin pun bereaksi sama. Sesaat mereka tidak saling bicara, hanya saling memelototi dengan tangan terkepal erat. Kalau mereka sampai baku hantam di sini, aku, Sophie, dan Greta pasti tidak akan bisa melerai mereka. Bisa-bisa kami malah akan ikut-ikutan bonyok.

”Lo ngapain ke sini?” desis Troy akhirnya.

Austin mendengus. ”Soal itu, lo tanya aja sama adik kesayangan lo itu,” katanya sambil melirikku sekilas. Setelah itu dia langsung berbalik, lalu memasuki mobilnya bersama Greta.

Aku lega dia tidak berkelahi dengan Troy, tapi aku juga tidak ingin dia pergi tanpa aku sempat memberi penjelasan.

”Austin!” panggilku. Aku ingin berlari ke arah mobilnya, tapi sebelum aku sempat melakukannya, Troy sudah mencengkeram lenganku.

”Dia ngomong apa sih?” tuntutnya padaku. ”Kenapa dia bawa-bawa lo?”

Aku tidak bisa menjawabnya. Dari sudut mataku kulihat mobil Austin sudah berlalu.

”Ivy, jawab!” bentak Troy.

Aku memfokuskan pandanganku pada Troy. Dia terlihat sangat marah, bahkan belum mendengar jawabanku.

”Ada hubungan apa antara lo dan Austin?” tanya Troy.

Tubuhku gemetaran. Inilah saatnya pengakuan. Tidak akan seburuk itu, bukan? Setidaknya aku tidak perlu lagi menyembunyikannya dari Troy. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, ”Gue pacaran sama Austin.”

Cengkeraman tangan Troy pada lenganku menguat— membuatku meringis kesakitan. ”Pacaran? Lo sama Austin?” ulangnya tidak percaya.

Dengan takut-takut aku mengangguk.

”Apa lo udah gila?!” seru Troy marah. Dia sampai mengguncang-guncang tubuhku. ”Nggak punya otak lo, ya? Lo kan tahu Austin itu musuh gue. Kenapa lo masih mau pacaran sama dia?”

Sophie melepaskan tangan Troy dariku. ”Jangan salahkan Ivy atas perasaan yang dimilikinya,” katanya. ”Dia mencintai Kak Austin, Kak Austin juga mencintainya. Kak Austin juga baru tahu hari ini kalau Ivy itu adik lo.”

Troy menatap Sophie selama beberapa saat, lalu kembali berpaling padaku. ”Perasaan apa pun yang lo miliki untuk Austin,  lupakan!  Gue  nggak  akan  pernah  menyetujui hubungan kalian,” tandasnya. Sebelum melangkah ke mobil, dia menambahkan, ”Gue benar-benar kecewa sama lo.”

Sophie mendekatiku setelah Troy berlalu bersama mobilnya. Dia memelukku, dan tangisku langsung pecah. Dia terus membelai-belai punggungku selama aku menggerung.

Aku tidak menyangka kebahagiaanku akan berakhir secepat ini. Setelah berada sendirian dalam kamar, aku berusaha menghubungi Austin, tapi dia tidak mengindahkanku. Bagaimana aku bisa memberi penjelasan padanya jika dia bahkan tidak mau berbicara denganku?

Aku bertekad, di sekolah besok, aku harus membuat Austin mau mendengarkanku. Dengan Troy aku akan menyelesaikannya malam ini. Jadi aku menunggu hingga dia pulang, lalu aku akan masuk ke kamarnya untuk menemuinya.

”Troy,” panggilku. Dia sedang berganti baju, dan hanya melirikku sekilas ketika aku masuk. ”Gue mau ngomong sama lo.”

”Gue nggak mau mendengar apa pun kata lo,” balas Troy. ”Keluarlah.”

”Tapi, Troy—”

”Keluar, Ivy,” potong Troy. ”Gue serius.” ”Troy, please, sebentar aja,” pintaku.

Tapi Troy benar-benar tidak mau mendengarkanku. Dia mendorongku hingga keluar dari kamarnya, lalu membanting pintu di depan mukaku. Aku berusaha membuka pintu lagi, tapi ternyata dia sudah menguncinya.

Dengan sedih aku kembali ke kamar. Jika dengan Troy saja sudah sesulit ini, apalagi dengan Austin? Tapi aku tidak boleh menyerah sebelum mencoba.

Bangku panjang tempat Austin biasa menungguku berada dalam keadaan kosong ketika aku tiba di sekolah keesokan hari. Aku menyuruh Sophie ke kelas terlebih dahulu, sementara aku berjalan ke kelas Austin.

Austin sedang duduk di kursi yang berada di deretan paling belakang. Tanpa mengindahkan tatapan ingin tahu teman-teman sekelasnya, aku berjalan menghampirinya.

”Bisa kita bicara sebentar?” tanyaku penuh harap. Austin membuang muka. ”Nggak,” jawabnya.

”Kasih aku waktu lima menit aja,” kataku. ”Aku nggak akan berhenti mengganggumu sebelum kamu mendengarkan penjelasanku.”

Austin mendesah. ”Tiga menit,” katanya akhirnya.

Aku terpaksa setuju. Lebih baik dia memberiku waktu tiga menit daripada tidak sama sekali.

Austin menoleh pada David yang duduk di sebelahnya. ”Suruh anak-anak yang lain untuk keluar dari sini,” perintahnya.

David segera melaksanakan perintah. Dalam waktu singkat, yang tersisa di kelas hanya aku dan Austin. Dia bersandar di bangku sementara aku tetap berdiri dengan tidak nyaman.

”Ayo bicara,” katanya mempersilakan.

Semalaman aku berusaha menyusun kata-kata yang tepat, tapi sekarang rasanya kata-kata itu buyar semua. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai.

”Kenapa diam?” tanya Austin. ”Katanya mau bicara.” Aku berusaha membersihkan tenggorokanku. ”Mmm...

aku mau menjelaskan kebohonganku sama kamu,” mulaiku akhirnya.

”Teruskan,” kata Austin. ”Aku dan Troy memang nggak ingin kamu tahu kalau kami adik-kakak,” kataku. ”Kami berusaha menutupinya, dulu aku bahkan sampai harus berpura-pura pacaran dengan Lionel.”

Austin menatapku. ”Oh, jadi itu termasuk kebohonganmu juga?”

Aku mengangguk. ”Troy dan Lionel hanya ingin melindungiku,” kataku.

”Tentu aja mereka ingin melindungimu,” tandas Austin. ”Apa kamu tahu apa yang udah dilakukan Troy pada Natasha?”

”Aku tahu,” gumamku.

”Jadi kamu tahu betapa brengseknya kakakmu itu,” kata Austin. ”Aku benci Troy karena telah menyakiti hati Natasha.”

”Aku nggak menyalahkanmu karena membenci Troy,” kataku. ”Itu hakmu, aku bisa mengerti alasannya.”

”Kalau kamu bisa mengerti alasannya, berarti kamu juga bisa mengerti kenapa aku nggak bisa memaafkan kebohonganmu, kan?”

”Tapi aku terpaksa berbohong,” kataku membela diri. ”Kalau kamu tahu aku adik Troy, kamu pasti akan menggunakanku untuk membalasnya. Jadi aku berusaha mati-matian supaya kamu nggak tahu, dengan mengaku-aku rumah Sophie sebagai rumahku dan mengenalkan Jason kepadamu sebagai adikku.” ”Dan selamanya kamu nggak akan memberitahukan padaku kenyataannya?” tanya Austin.

”Aku berencana akan memberitahukannya padamu suatu saat nanti,” kataku. ”Aku hanya nggak ingin merusak hubungan kita yang masih baru.”

”Soal hubungan kita, Ivy, aku ingin kamu menganggapnya nggak pernah ada,” kata Austin.

Hatiku terasa perih saat mendengarnya. ”Austin...” ”Itu suatu kesalahan,” tegas Austin.

”Jangan bilang itu kesalahan,” sergahku. ”Hubungan kita mungkin bisa berhasil. Kita bisa mencoba dulu.”

”Tapi aku nggak ingin mencoba,” kata Austin.

Aku langsung terdiam. Tadinya aku mengira Austin akan memaafkanku, dan demi cintanya padaku, dia mau melupakan perselisihannya dengan Troy. Dengan begitu, kami bisa bersama-sama meyakinkan Troy agar mau menyetujui hubungan kami. Tapi kalau dia bahkan tidak ingin mencoba, semua akan sia-sia. Aku toh tidak bisa mengusahakan hubungan kami sendirian.

”Apa ada lagi yang ingin kamu bicarakan?” tanya Austin. ”Kalau nggak ada, lebih baik kamu keluar. Waktu tiga menitmu hampir habis.”

Aku berusaha tetap kuat, meskipun air mataku rasanya sudah mendesak ingin keluar. Hubungan kami tidak boleh berakhir begini saja. Tidak boleh...

”Austin,” kataku, dengan suara bergetar menahan tangis. ”Waktu dulu aku berbohong padamu, aku nggak tahu kalau akhirnya aku akan jatuh cinta sama kamu.”

Austin tidak menanggapiku. Perlahan-lahan aku berjalan meninggalkan kelasnya. Aku berharap dia akan memanggilku dan menyuruhku kembali, tapi dia tidak melakukan itu.

Aku masuk ke kelasku dan disambut oleh Sophie. Dia bertanya apakah aku berhasil berbaikan dengan Austin, aku hanya menjawabnya dengan gelengan.

Apakah aku harus menyerah sekarang? Bukankah setidaknya aku harus mencobanya lagi? Mungkin Austin akan memikirkan kata-kataku dan memutuskan untuk memberi kesempatan lagi pada hubungan kami.

Aku menghampiri Austin di kantin pada jam istirahat. Bangku yang biasa kududuki masih kosong, tapi ketika aku mencoba mendudukinya, dia melarangku.

”Bangku itu udah ada yang nempatin,” katanya.

Aku sedang bertanya-tanya siapa yang menempati bangku itu, ketika Greta muncul sambil membawa makanan.

”Minggir dong!” katanya padaku, karena aku menghalangi jalannya. Aku menyingkir dan dia segera duduk di bangku itu.

Jadi sekarang Greta yang menggantikanku? Apa dia sendiri yang berinisiatif duduk di bangku itu, atau Austin yang  menyuruhnya?  Aku  memandang  Austin,  berusaha menemukan jawaban, tapi dia malah sengaja mengajak Greta mengobrol.

Aku berpaling pada anggota geng Austin. Mereka berpura-pura sibuk dengan makanan mereka, meskipun sesekali melirikku. Mungkin Austin sudah memberitahu mereka bahwa aku adik Troy, karena itu menyangkut masalah geng.

”Vy, udahlah.” Sophie menarik tanganku. Sedari tadi dia memang mengikuti di belakangku.

Aku tidak ingin bergerak, tapi Sophie berhasil menarikku hingga ke meja yang lain.

”Mau makan apa?” tanya Sophie padaku.

Aku menggeleng. ”Gue nggak mau makan,” kataku lesu.

”Tapi nanti lo lapar,” kata Sophie. ”Gue beliin roti aja deh, ya.” Tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung menuju konter makanan. Tak lama dia sudah kembali sambil membawa roti sosis untukku.

Untuk menghargai Sophie, aku mulai memakan roti sosis itu. Aku memaksakan diri menelannya meskipun lidahku mati rasa—mungkin karena kesedihanku melihat Austin dengan Greta. Aku memang dapat melihat mereka dengan jelas dari meja ini. Mereka masih saja mengobrol.

Namun ketika aku melihat Greta mengambil makanan dari piring Austin dan Austin membiarkannya, aku tidak bisa lagi menahan tangisku. Tanpa memedulikan Sophie yang memanggilku, aku segera berlari pergi dari kantin. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊