menu

Bad Boys Bab 06

Mode Malam
Bab 06

MESKIPUN aku sudah berdandan habis-habisan untuk Austin, dia sama sekali tidak berkomentar. Mungkin dia tidak menyadarinya. Tapi rasanya agak keterlaluan kalau memang benar begitu.

Dia mengajakku ke suatu daerah yang berada agak jauh dari rumah Sophie. Di sana—nyaris dari ujung ke ujung— berjajar berbagai macam kafe dan restoran. Suasananya sangat ramai, apalagi ditambah dengan banyaknya mobil yang parkir di sepanjang jalan. Pemiliknya ada yang menghilang untuk makan, ada juga yang setia nongkrong bersama mobilnya. ”Gue sering ke sini,” kata Austin tiba-tiba, ketika aku sedang asyik mengamati keadaan di luar melalui kaca mobil.

Aku berpaling pada Austin. ”Sama cewek?” pancingku. Austin mendengus. ”Bukan,” katanya, membuatku diam-

diam menarik napas lega, ”sama anggota geng gue.” ”Oh,” tanggapku singkat.

”Gue nggak akan ngajak sembarang cewek pergi,” lanjut Austin.

Baguslah. Ternyata dia bukan playboy seperti Troy—yang bahkan akan mengajak cewek yang tidak dia ketahui namanya untuk berkencan dengannya.

Austin memarkir mobil di depan sebuah restoran Jepang. Aku langsung mengernyit ketika menyadari dia mengajakku makan sushi. Aku menahan tangannya untuk mencegah dia keluar dari mobil.

”Gue nggak suka sushi,” aku memberitahunya.

Austin melepaskan tangan dariku. ”Kenapa nggak suka?”

”Ya nggak suka aja,” jawabku. ”Gue akan makan apa pun, asalkan bukan sushi. Dari dulu gue paling benci sushi.”

”Tapi gue mau makan sushi,” kata Austin tidak peduli.

Dia pun langsung keluar dari mobil.

Aku tidak percaya. Ini kencan pertama kami, tapi dia akan membuatku kelaparan. Aku mengikutinya keluar dari mobil dan memasuki restoran Jepang itu. Austin benar-benar tidak memedulikanku. Dia enakenakan makan sushi, sedangkan aku hanya minum ocha sambil menahan lapar. Dia sempat menawarkan sushi-nya padaku, tapi aku langsung membuat tanda silang dengan kedua tanganku.

”Nggak mau!” tolakku tegas. ”Sampai kapan pun gue nggak mau.”

Austin tampak ingin tertawa, tapi dia menahannya. Mungkin dia merasa aku hanya ingin melucu, padahal aku serius tidak ingin menyentuh sushi-nya—tidak peduli betapa laparnya aku.

Begitu keluar dari restoran Jepang itu, aku langsung memandang ke sekeliling untuk mencari-cari makanan. Kulihat ada sebuah restoran yang khusus menjual sate. Dengan semangat aku langsung berlari ke sana.

”Ivy!” seru Austin, karena aku meninggalkannya begitu saja. ”Mau ke mana?”

”Mau beli sate,” jawabku dari jauh. ”Lapar, tau!”

Austin mengejarku dan mengikutiku masuk ke restoran yang kutuju. ”Dibawa pulang aja,” katanya ketika aku sedang memesan sate ayam. ”Gue nggak mau nungguin lo makan.”

”Tapi tadi gue nungguin lo makan,” protesku.

”Gue nggak nyuruh lo nungguin gue,” balas Austin menyebalkan.

Ketika pesananku sudah datang dan aku harus membayar, Austin mencegahku mengeluarkan dompet. ”Biar gue yang bayar,” katanya sambil mengeluarkan dompetnya sendiri.

”Nggak usah,” kataku. ”Gue bisa bayar sendiri kok.” ”Gue akan bayar semuanya karena gue yang ngajak lo

jalan malam ini,” kata Austin. ”Jadi lo nurut aja dan jangan banyak omong.”

Akhirnya aku membiarkannya membayar pesananku. Dia memimpinku keluar restoran itu sementara aku mengendusendus sateku dengan perasaan tidak sabar untuk segera menyantapnya.

Di mobil, Austin tidak langsung mengajakku pulang. Dia hanya menyetir sebentar dan memarkir mobil di antara sekelompok mobil yang sedang parkir di pinggir jalan. Aku baru sadar mobil yang lain adalah milik anggota geng Austin.  Aku  senang  melihat  wajah-wajah  yang  kukenal, meskipun agak kecewa karena sebenarnya aku ingin melewatkan malam ini hanya berdua dengan Austin. Mungkin Austin memang tidak memaksudkan kencan ini sebagai kencan yang romantis. Sepertinya dia hanya ingin mengajakku makan dan berkumpul dengan anggota gengnya.

”Yo, Bos!” sapa David pada Austin begitu kami keluar dari mobil. Dia—sama seperti anggota geng Austin yang lainnya—agak kaget ketika melihatku. ”Eh, ada Ivy juga.”

”Halo,” sapaku.

Sapaanku langsung dibalas oleh semua anggota geng Austin. Mereka berbisik-bisik satu sama lain dan tampak sedang menggosipkan aku dengan ketua mereka. Aku membiarkan Austin mengobrol dengan mereka. Perutku sudah tidak bisa lagi menahan lapar, jadi aku mengeluarkan sate ayamku. Aromanya yang lezat segera tercium oleh hidung serigala-serigala lapar alias anggota geng Austin.

”Wah, ada sate!” seru Ruben bersemangat. ”Bagi dong, Vy!”

”Iya, bagi dong!” timpal Dennis. Dalam waktu singkat, dia dan Ruben sudah tiba di dekatku. Serigala-serigala yang lain juga mulai mengerubungiku.

Austin-lah yang membubarkan kawanan itu. ”Kalau ada yang berani menyentuh sate Ivy, tusuk sate itu akan berakhir di jidat kalian,” ancamnya.

Untuk kali ini aku setuju dengan Austin. Enak saja mereka mau mengambil sateku, padahal aku sudah kelaparan begini. Tapi khusus untuk Austin, sepertinya aku harus menawarinya karena tadi toh dia sudah berbaik hati menawarkan sushi-nya—meskipun aku tidak menginginkannya.

”Lo mau?” tanyaku pada Austin sambil berbisik-bisik agar tidak didengar anggota gengnya. Kuacungkan satu tusuk sate padanya dengan gaya bersekongkol.

Bukannya mengambil, Austin malah menggenggam tanganku yang sedang memegang tusuk sate itu dan mendekatkannya ke mulutnya. Selama menggigit sate itu—lalu menjilat bumbu sate yang tertinggal di sekitar bibirnya—dia terus menatapku, bagiku itu sangat seksi. Nyaris saja aku terkapar di jalanan karena lututku mendadak lemas. Aku tidak tahu apakah anggota geng Austin ada yang melihatnya, tapi aku tidak peduli. Tanganku rasanya jadi susah digerakkan setelah Austin melepaskan genggamannya.

Lama setelah sate ayamku habis, akhirnya Austin mengajakku pulang. Sepanjang perjalanan ke rumah Sophie, kami saling berbicara—kebanyakan mengenai anggota gengnya. Aku merasa itulah topik teraman yang bisa kami bicarakan.

Ketika kami sampai di rumah Sophie, kupikir Austin akan langsung pulang. Tapi ternyata dia menyempatkan diri untuk turun dari mobil dan berdiri bersamaku di depan rumah Sophie.

Aduh, gawat. Apa dia akan memintaku untuk mengundangnya masuk? Tapi tidak sopan kan, kalau aku tidak melakukannya?

”Mmm... apa lo mau mampir dulu?” tanyaku, meskipun dalam hati aku berharap dia menolaknya. Ini kan bukan rumahku.

”Nggak usah,” tolak Austin, membuatku lega. ”Udah malam.”

Sepertinya dia ingin menungguku masuk, tapi masalahnya aku tidak memiliki kunci rumah Sophie dan aku ragu-ragu untuk memencet bel. Kemungkinan besar Sophie yang akan membukakanku pintu dan Austin pasti akan heran melihatnya. Saat aku masih kebingungan apa yang harus kulakukan, mendadak Jason muncul. Dilihat dari kantong kresek yang dibawanya, sepertinya dia habis dari minimarket.

”Ivy, kok lo balik ke sini lagi?” tanyanya heran ketika melihatku. Ketika dia melihat siapa yang berdiri di sebelahku, dia langsung berseru, ”Kak Austin!”

Anak itu! Tadi dia menyerukan nama Troy begitu saja, dan sekarang Austin. Dari mana sih dia tahu mereka?

Tapi ada yang lebih penting lagi daripada itu. Dia tidak boleh membuka mulut kalau ini bukan rumahku. Jadi aku segera menghampirinya dan pura-pura marah padanya.

”Ya jelas lah gue balik ke sini. Ini kan rumah gue,” kataku, sambil berusaha membuat isyarat dengan mataku agar dia ikut bersandiwara denganku. Jason tampak bingung, tapi juga tidak membuka mulut lagi. Kepada Austin, aku berkata, ”Austin, kenalin, ini Jason—adik gue.”

Austin hanya mengedikkan kepala pada Jason. Untuk mencegah mereka saling bicara lebih lanjut, aku buru-buru berterima kasih pada Austin dan menyuruh Jason membuka pintu gerbang. Aku melambaikan tangan untuk terakhir kali pada Austin sebelum Jason mengunciku dari dalam. Segera kuseret Jason memasuki rumah.

”Oh,  kalian  berdua  baliknya  barengan,”  kata  Sophie begitu aku dan Jason tiba di ruang tamu. Dia mengulurkan tangan pada Jason seraya bertanya, ”Mana es krim titipan gue?” ”Ada yang lebih penting lagi dari es krim,” kataku pada Sophie.

”Oh iya,” kata Sophie, seakan mendadak teringat sesuatu. ”Kencan lo, ya? Lo mau cerita soal kencan lo? Tapi kan gue bisa dengerin sambil makan es krim.”

”Bukaaannn,” sergahku bete. ”Ini bukan soal kencan gue.

Dan lupain dulu kek es krim lo.”

”Tapi nanti keburu mencair,” kata Sophie, tapi begitu melihat pelototanku, dia langsung bungkam soal es krimnya. ”Iya deh. Ada apa?”

”Ini soal kunyuk yang satu ini,” kataku sambil menunjuk Jason. ”Dia ngelihat gue bareng Austin tadi, gue memperkenalkannya pada Austin sebagai adik gue. Sekarang kita harus mastiin kalau dia nggak akan buka mulut pada siapa pun.”

Sophie langsung menyuruh Jason duduk di sofa. Jason tampak ngeri melihatku dan Sophie berdiri menjulang di depannya dengan tatapan mengancam. Dia memeluk kantong kresek belanjaan seakan itu bisa melindunginya.

”Lo,” kata Sophie pada Jason. ”Apa lo berjanji akan merahasiakan apa yang lo lihat hari ini?”

Jason buru-buru mengangguk. ”Iya, gue janji.”

”Kalau lo sampai ngebocorin rahasia itu, gue akan nyuruh lo cuci piring selama sebulan penuh,” ancam Sophie.

”Setahun penuh aja,” usulku.

”Iya, setahun penuh,” ralat Sophie.

Wajah Jason menyiratkan dia lebih memilih membawa rahasia itu hingga ke liang kubur daripada harus mencuci piring selama setahun penuh. Tapi dia masih terlihat penasaran.

”Emang Kak Austin itu siapa lo sih?” tanyanya padaku.

Sophie yang menyahutinya. ”Sama seperti Kak Troy calon yayang gue, Kak Austin juga calon yayang Ivy.”

Aku langsung menyikutnya. ”Apanya yang calon yayang sih,” protesku.

”Masih mau mangkir?” ledek Sophie.

”Wah, keren amat,” tanggap Jason tiba-tiba. Dia memandangku dengan kagum. ”Kakak lo ketua geng SMA Vilmaris dan calon pacar lo ketua geng SMA Emerald.”

”Itu nggak keren kok,” tukasku.

”Kalau lo bilang itu nggak keren, berarti secara nggak langsung lo juga ngatain Kak Troy nggak keren,” omel Sophie. ”Kak Troy itu cowok terkeren yang pernah gue kenal. Bahkan Kak Austin juga nggak bisa dibandingin sama dia.”

”Kok lo jadi ngejelek-jelekin Kak Austin,” kataku tidak suka.

Sementara aku meributkan Troy dan Austin dengan Sophie, Jason memilih untuk menonton kami sambil memakan es krim. Perhatian Sophie langsung teralih begitu melihat es krim di tangan Jason. Dia segera mengambil es krimnya sendiri.

”Sori buat lo nggak ada, Vy,” kata Sophie sambil membuka bungkus es krimnya. ”Mending sekarang lo cerita soal kencan lo.”

Tidak banyak yang bisa kuceritakan, jadi ceritaku hanya berlangsung dalam waktu singkat. Sadar hari sudah semakin malam, aku menelepon Troy untuk memintanya menjemputku. Tapi ternyata kencan Troy belum selesai. Karena aku tidak mungkin meminta Sophie mengantarku pulang malam-malam begini, akhirnya Jason-lah yang mendapat tugas itu.

Tidak lupa aku berterima kasih dan memberi pesan pada Jason agar berhati-hati setelah dia mengantarkanku dengan selamat sampai ke rumah. Aku masuk ke kamar dan berbaring di ranjang dengan senyum yang tercetak di wajah. Sepertinya aku akan bermimpi indah malam ini.

***

Austin kembali mengantarku ke kelas dan mengajak aku serta Sophie makan bersama di kantin pada keesokan harinya. Pada jam pulang sekolah, dia juga menunggu di depan kelas dan menyuruh Sophie tidak perlu mengantarku pulang.

”Biar gue yang ngantar lo pulang,” kata Austin padaku. ”Tapi sebelumnya, gue mau ngajak lo ke suatu tempat dulu.”

Akhirnya Sophie melepasku pergi bersama Austin. Aku penasaran ke mana Austin akan membawaku. Ketika akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah berlantai dua, rasa penasaranku langsung berubah menjadi rasa heran.

”Ini rumah siapa?” tanyaku. ”Rumah gue,” sahut Austin.

Aku terpana. ”Kenapa lo ngajak gue ke rumah lo?” tanyaku lagi.

Berbagai kemungkinan tercetus di benakku. Tapi yang paling membuatku ngeri, apa dia mau mengenalkanku pada orangtuanya? Kami kan belum pacaran.

”Jangan mikir yang aneh-aneh,” kata Austin saat melihat wajahku. Mungkin dia bisa membaca pikiranku. ”Bokapnyokap gue lagi ke luar negeri, jadi lo nggak usah takut ketemu mereka.”

Oh. Untunglah. Bukannya aku tidak mau bertemu orangtua Austin. Bahkan, jika misalnya kami pacaran nanti, aku justru berharap dia mau mengenalkanku pada orangtuanya— untuk membuktikan dia memang berniat serius denganku.

Aduh, pikiranku kok malah ke mana-mana begini? Padahal Austin juga belum menjelaskan tujuannya mengajakku ke rumahnya.

”Menurut gue,” lanjut Austin, ”karena tadi malam gue udah ketemu adik lo, gue juga mau ngenalin lo sama adik gue.”

Adik? Memangnya aku punya adik? Lalu aku teringat pada Jason. Oh iya, aku kan mengenalkannya pada Austin sebagai adikku. Sekarang Austin mau mengenalkanku pada adiknya? Itu berarti dia akan mengenalkanku pada...

Natasha—mantan pacar Troy! Cewek yang sudah menyebabkan Austin memiliki dendam pribadi pada kakakku!

Ya ampun, rasanya aku belum siap. Tapi seharusnya aku tidak perlu panik. Natasha toh tidak mengenalku, dia juga tidak tahu aku adik Troy. Jadi, aku hanya perlu bersikap seolah-olah aku tidak pernah tahu tentang dia.

Aku mengikuti Austin memasuki halaman rumahnya yang sangat luas. Sebuah Honda Jazz pink terparkir di sana— kutebak itu mobil Natasha. Kami melewati mobil itu menuju teras yang disangga empat pilar raksasa. Austin membuka pintu ganda di depan kami dan mempersilakanku masuk. Aku tiba di ruang tamu yang bernuansa serbaputih.

Mataku sampai silau melihat betapa mengilapnya semua perabotan yang ada. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah sebuah foto keluarga yang terpajang di dinding.

Dalam foto itu, Austin terlihat tidak terlalu berbeda dari saat ini. Mungkin foto itu diambil belum terlalu lama. Seorang gadis cantik—yang kutebak adalah Natasha—berdiri di sebelahnya. Di depan mereka duduk orangtua mereka. Kini aku tahu dari mana Austin mewarisi tatapan mata yang tajam menusuk. Dia mirip sekali dengan ayahnya. Sedangkan Natasha, kecantikannya menurun dari ibunya. Mereka sama-sama memiliki mata berbentuk oval. Rambut mereka juga sama-sama panjang bergelombang. Senyum mereka manis sekali, membuatku tidak bosan melihatnya.

”Serius banget sih,” komentar Austin saat melihatku tidak berhenti memandangi foto keluarganya.

”Adik lo cantik banget, ya?” pujiku.

”Nggak usah ngelihatin fotonya,” kata Austin. ”Sini, biar gue kenalin sama orangnya langsung.”

Austin memimpinku ke ruang makan. Di sana tercium aroma masakan yang lezat—berasal dari dapur di belakangnya. Aku tidak bisa melihat keseluruhan dapur karena terhalang tembok, tapi aku sempat melihat seorang cewek sedang sibuk memasak.

”Natasha,” panggil Austin. Dia berhenti di dekat meja makan dan aku berdiri di sebelahnya. ”Ke sini dulu sebentar. Ivy udah datang.”

”Sebentar.” Terdengar sahutan Natasha dari arah dapur. Suaranya begitu lembut dan berirama, seolah sedang bernyanyi.

Ternyata Austin sudah memberitahu Natasha tentangku. Natasha juga sepertinya sudah tahu aku akan datang hari ini.

Tidak lama, Natasha keluar dari dapur. Di foto dia terlihat sangat cantik, tapi ternyata aslinya jauh lebih cantik. Dia bahkan lebih menyilaukan dibandingkan perabotan serbaputih di ruang tamu tadi.

Austin mengenalkan kami. Kami bersalaman sambil mengucapkan nama kami masing-masing.

”Senang bisa ketemu lo,” kata Natasha sambil tersenyum manis.

”Gue juga senang,” balasku.

”Waktu Austin bilang mau ngajak lo ke sini, gue berencana untuk menghidangkan masakan gue,” cerita Natasha. ”Tapi kalian datang terlalu cepat. Gue belum selesai masak.”

”Nggak apa-apa kok,” kataku. ”Gue juga nggak mau ngerepotin.”

”Dia malah senang kalau direpotin,” Austin yang menanggapi. ”Apalagi kalau soal masak. Itu emang hobinya.”

Natasha mengangguk-angguk setuju. ”Pagi-pagi sebelum sekolah gue udah nyiapin bahan-bahan. Tadi begitu pulang sekolah gue langsung masak, tapi ternyata masih nggak keburu juga.”

”Ya udah, sekarang lo balik masak sana,” kata Austin pada Natasha. ”Jangan bikin Ivy menunggu terlalu lama. Dia suka nyomot-nyomot makanan di piring orang kalau lagi kelaparan.”

Kenapa hal itu masih disebut-sebut juga? Aku cemberut pada Austin. Natasha pun tertawa melihat sikapku.

”Oke deh, kalian tunggu di sini dulu ya. Sebentar lagi juga selesai kok,” ujar Natasha sambil kembali masuk ke dapur.

Austin duduk di bangku terdekat dan menyuruhku duduk di sebelahnya. Dia mengamati wajahku setelah bertemu dengan adiknya.

”Gimana pendapat lo tentang Natasha?” tanyanya penasaran.

”Dia cantik, baik, dan pintar memasak,” kataku langsung. ”Dia bahkan bikin gue minder.”

Austin tampak heran. ”Minder kenapa?” tanyanya. ”Karena dia bisa masak dan lo cuma bisa makan?”

Sialan dia. Aku jadi terlihat tidak keren begitu.

”Bukan cuma itu,” sergahku. ”Sebagai cewek, dia sempurna banget, sedangkan gue nggak begitu.”

”Aneh,” tanggap Austin. ”Gue baru tahu, cewek secantik lo juga bisa minder.”

Aku menoleh ke Austin begitu cepat sampai-sampai aku khawatir otot leherku terkilir. ”Apa? Lo bilang gue cantik?”

Austin terlihat seolah dia ingin melakban mulutnya agar tidak asal bicara. Dia menggunakan tangan untuk menutupi wajahnya dari pandanganku.

”Nggak,” tukasnya. ”Lupain aja.”

Bagaimana mungkin aku melupakannya? Ini pertama kali dia memujiku. Aku pun tidak bisa menahan senyum.

”Jangan senyam-senyum!” Austin memperingatkan. Dia tahu aku sedang tersenyum padahal dia tidak sedang menatapku.

Aku berusaha menghilangkan senyum, tapi tidak bisa.

Jadi, aku mengajaknya bicara lagi. ”Kenapa lo nanyain pendapat gue tentang Natasha?” tanyaku. ”Bukankah seharusnya lo nanyain pendapat Natasha tentang gue?”

Austin menurunkan tangannya. ”Nanti juga gue akan tanya sama Natasha,” katanya. ”Sepertinya dia juga suka sama lo. Baguslah kalau kalian cocok.”

”Bagus kenapa?” tanyaku ingin tahu.

Kali ini mulut Austin tampaknya sudah terlakban. Dia menolak untuk menjawab, tidak peduli bagaimanapun aku memaksanya.

Setelah selesai memasak, Natasha menghidangkan masakan dengan dibantu dua asisten rumah tangga. Aku nyaris meneteskan air liurku ketika melihat berbagai jenis makanan yang sudah disiapkan olehnya—ada cap cai, fu yung hai, dan cumi goreng tepung. Dia bahkan menyiapkan puding cokelat untuk makanan penutup.

Natasha duduk di seberangku. ”Maaf ya, gue cuma bisa nyiapin seadanya,” katanya.

”Ini udah banyak banget kok,” sahutku.

”Ayo dimakan,” Natasha mempersilakan. Dia bahkan sampai menyendokkan nasi ke piringku.

Austin tiba-tiba berdiri. ”Gue mau mandi dulu,” katanya.

”Makan dulu aja,” saran Natasha. ”Nanti keburu dingin lho.”

”Nggak apa-apa,” kata Austin. ”Kalian ngobrol aja.” Tanpa bisa dicegah lagi oleh Natasha, Austin segera meninggalkan ruang makan.

Kupikir, selain benar-benar ingin mandi, Austin juga ingin aku dan Natasha bisa mengobrol berdua tanpa gangguan darinya. Ini salah satu cara yang dia lakukan supaya aku bisa semakin dekat dengan adiknya.

Aku mengambil cap cai dan mencobanya. Natasha terus memandangiku seakan ingin melihat reaksiku.

”Gimana?” tanyanya. ”Enak, nggak?”

Aku mengangguk. ”Iya,” kataku. ”Ini enak banget.”

Natasha tampak puas mendengar jawabanku. Meskipun kebanyakan orang akan menjawab sepertiku jika ditanyakan hal yang sama oleh orang yang sudah capek-capek memasak untuk mereka, tapi aku benar-benar bicara jujur. Cap cai yang dimasak Natasha memang enak. Aku mencoba makanan yang lain dan semua memang tak bercela.

”Lo benar-benar pintar masak, ya!” pujiku pada Natasha.

”Oh ya?” tanggap Natasha. ”Terima kasih.”

”Sekali-sekali lo harus ngajarin gue masak,” pintaku. ”Gue benar-benar nggak bisa masak.”

”Boleh,” kata Natasha. ”Makanya lo sering-sering datang ke sini. Nanti gue ajarin masak deh.”

Aku malu-malu. ”Gue mau-mau aja sering datang ke sini,” kataku, ”asal Kak Austin ngajak gue.”

”Dia pasti akan ngajak lo lagi,” kata Natasha yakin. Lalu dia merendahkan suaranya seakan-akan sedang memberitahukan rahasia penting. ”Lo tahu, lo satu-satunya cewek yang pernah diajak Austin ke rumah. Bukan cuma itu, lo juga satu-satunya cewek yang pernah dia kenalin ke gue. Sepertinya lo cewek yang spesial untuknya.”

Aku terpana. ”Gue benar-benar... satu-satunya? Dia nggak pernah ngenalin cewek mana pun ke lo sebelumnya?”

”Nggak pernah,” jawab Natasha. ”Makanya gue tahu, cewek yang mau dia kenalin ke gue ini pasti cewak yang benar-benar dia cintai.”

Bahkan Natasha pun tahu kalau Austin mencintaiku. Kini aku hanya tinggal mendengar pengakuan langsung dari Austin. Lalu apa yang akan terjadi setelah itu? Apa akhirnya aku bisa bahagia dengan pacar pertamaku?

”Lo juga mencintai Austin kan, Vy?” tanya Natasha tibatiba.

Aku langsung menutupi salah tingkahku dengan memasukkan nasi banyak-banyak ke mulutku. Pipiku menggembung dan aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab.

Natasha tertawa melihat tingkahku. ”Austin benar,” katanya. ”Lo emang lucu.”

Ternyata tanpa harus mengeluarkan bakat lawakku, Austin sudah menganggapku lucu. Aku berusaha menelan gumpalan nasi yang ada di mulut dengan susah payah. ”Lo  nggak  usah  nyembunyiin  perasaan  lo,  Vy,”  kata Natasha. ”Gue tahu kok. Gue bisa melihatnya dari cara lo memandang dia.”

Setelah mulutku kosong, aku mulai meneguk air dengan cepat—sampai-sampai menetes ke dagu. Kuusap daguku dan berharap Natasha sudah melupakan pertanyaannya, tapi ternyata dia belum menyerah.

”Bagaimana?” kejarnya. ”Gue benar, nggak? Lo emang mencintai dia, kan?” Nadanya berkomplot dan dia bahkan sampai mengedipkan mata untuk menggodaku.

Aku tidak bisa berbohong padanya. Lagi pula, untuk apa aku menyembunyikan perasaanku darinya? Toh dia sudah tahu dan sepertinya dia tidak keberatan.

”Mmm... emang benar sih,” gumamku, lalu aku mulai cengengesan sendiri. Memang memalukan, tapi mau bagaimana lagi? Aku kan tidak terbiasa memberitahukan perasaanku pada orang yang baru kukenal—apalagi orang ini adik cowok yang kusukai.

Natasha bertepuk tangan gembira. ”Waaahhh!” serunya. ”Kalian berdua pasti akan jadi pasangan yang menggemaskan.”

”Lo setuju kan kalau gue sama Kak Austin?” tanyaku memastikan. Memang Austin belum memintaku jadi pacarnya, tapi tidak ada salahnya jika meminta persetujuan dari adiknya terlebih dahulu.

”Tentu,” sahut Natasha cepat. ”Lo cewek yang tepat untuk Austin. Rasanya nggak ada cewek yang lebih baik lagi daripada lo.”

Pujiannya agak berlebihan, tapi aku senang karena dia begitu mendukung hubunganku dengan Austin. Aku jadi mulai penasaran dengan kehidupan cinta Natasha.

”Lo sendiri bagaimana? Udah punya pacar?” tanyaku.

Raut wajah Natasha perlahan berubah sedih. Aku jadi menyesal karena telah seenaknya bertanya seperti itu. Apa dia sedih begitu karena Troy, atau adakah cowok lain?

”Gue nggak punya pacar,” jawabnya. ”Seenggaknya, udah nggak lagi.”

”Emang apa yang terjadi?” tanyaku. Lalu, sadar kalau aku sudah semakin keterlaluan, aku buru-buru menambahkan, ”Tapi itu juga kalau lo nggak keberatan untuk cerita.”

”Nggak apa-apa,” kata Natasha. ”Lagi pula sebenarnya bukan rahasia kok. Banyak orang yang tahu gue masih patah hati sama mantan pacar gue yang terakhir. Sama seperti Austin, dia juga ketua geng di sekolahnya.”

Sepertinya memang Troy—kecuali kalau Natasha memiliki mantan pacar lain yang juga seorang ketua geng. Sebenarnya aku ingin menanyakan nama mantan pacarnya untuk memastikan, tapi aku tidak ingin membuatnya curiga.

”Gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia,” cerita  Natasha.  ”Dia  sangat  menyenangkan  dan  dapat mengerti apa yang gue inginkan. Gue merasa cocok sama dia. Tapi ternyata dia musuh terbesar Austin. Begitu dia tahu gue adik Austin, dia langsung mencampakkan gue begitu aja.”

Tanpa perlu menanyakan namanya lagi, aku yakin mantan pacar yang dimaksud Natasha adalah Troy. Kalau bukan Troy, siapa lagi musuh terbesar Austin?

”Gue berusaha menghubunginya setelah itu,” lanjut Natasha. ”Tapi dia nggak pernah mengangkat telepon gue atau membalas SMS gue. Kalau gue mendatanginya, dia pura-pura nggak mengenal gue. Dia bahkan sengaja mesramesraan sama cewek lain di depan gue.”

Aku menggelengkan kepalaku tanpa sadar. Sungguh aku tidak mengerti kenapa Troy bisa sekejam itu pada cewek sebaik Natasha.

”Hubungan kami cuma bertahan satu bulan,” kata Natasha. ”Tapi itu satu bulan terbaik dalam hidup gue.”

”Apa lo masih mencintainya sampai sekarang?” tanyaku ingin tahu.

Natasha mendesah. ”Ya,” katanya. Dia menatapku sambil tersenyum sedih. ”Gue bodoh banget, kan?”

”Katanya, orang yang sedang jatuh cinta kan memang bodoh.”

Natasha mengeluarkan tawa seperti orang tersedak. Melihat matanya yang berkaca-kaca, sepertinya dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis. Aku tidak pernah peduli pada hubungan percintaan Troy sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah mengenal satu pun cewek yang dia pacari atau hanya sekadar dia ajak berkencan. Bagiku mereka hanya akan singgah sebentar dalam kehidupan Troy sebelum akhirnya akan digantikan dengan yang lain. Tapi kini aku jadi bertanya-tanya, ada berapa banyak cewek yang telah Troy sakiti?

Mungkin dia tidak sadar, atau kalaupun dia sadar, dia tidak akan peduli. Dia memperlakukan cewek-cewek itu seolah merekalah yang terpenting dalam hidupnya, kemudian dia akan mencampakkan mereka seolah mereka tidak punya perasaan. Aku tidak ingin percaya kakakku sekejam itu, tapi itulah kenyataannya.

Lihat saja, Natasha masih menangisi Troy, sementara Troy sudah berganti cewek entah untuk yang keberapa kali. Aku tidak tahan lagi. Ingin rasanya aku mengonfrontasi Troy dan memintanya untuk berubah.

Tapi jika aku melakukan itu dengan membawa nama Natasha, Troy akan tahu aku sudah pernah bertemu dengannya. Dia akan menghubungkannya dengan Austin, bisa-bisa hubungan kami ketahuan. Aku tidak bisa mengambil risiko itu.

Ketika Austin kembali ke ruang makan, aku dan Natasha berusaha  bersikap  biasa.  Kesedihan  di  wajah  Natasha, meski masih terlihat, mulai menghilang sedikit demi sedikit. ”Lo kelamaan mandinya,” katanya pada Austin ketika Austin duduk di sebelahku. ”Ivy aja udah mau selesai makan.”

”Dia udah biasa kok nungguin gue makan,” kata Austin enteng. Dia menyendok nasi dan mulai makan. ”Jadi apa yang kalian berdua bicarain?”

”Mau tahu aja,” sahut Natasha. ”Itu urusan cewek.”

Austin tampak penasaran. Dia menatapku dan Natasha secara bergantian, tapi kami sama-sama tutup mulut dan bertukar senyum penuh rahasia.

Untungnya percakapan kami setelah itu tidak lagi bernuansa sedih. Aku bisa menikmati puding cokelat sambil tertawa. Setelah berjanji pada Natasha untuk datang lagi, aku diantar pulang oleh Austin.

Aku ingin mengeluarkan unek-unekku tentang Troy, tapi karena aku tidak bisa bercerita pada Austin, aku menunggu sampai dia menurunkanku di rumah Sophie. Kalau sudah menyangkut Troy, Sophie akan menjadi pendengar terbaik.

”Apa? Ada apa? Kenapa dengan Kak Troy?” Baru mengucapkan nama Troy saja, aku sudah diserbu rentetan pertanyaan oleh Sophie.

”Dia benar-benar nggak punya hati,” sahutku.

”Lo berantem sama Kak Troy?” tanya Sophie salah sangka.

”Nggak,”  gelengku.  ”Tadi  Kak  Austin  ngajak  gue  ke rumahnya dan dia ngenalin gue sama adiknya. Adiknya ini cerita sama gue tentang Troy, dari situ gue tahu kalau Troy ternyata sangat kejam sama dia.”

Sophie tampak tidak mengerti. ”Kenapa adiknya bisa cerita sama lo tentang Kak Troy?”

Aku memang sengaja merahasiakan soal Natasha pada Sophie,  karena  dulu  Lionel  memberitahuku  diam-diam. Tapi sepertinya sudah saatnya dia tahu.

”Adiknya itu... mantan pacar Troy,” kataku hati-hati. ”APA??? PACAR TROY???” Nyaris pecah kaca di rumah

ini karena teriakan Sophie.

”Aduh, lo budek amat sih,” gerutuku. ”Makanya jangan kebanyakan teriak-teriak. Itu kuping lo aja sampai capek sendiri dengarnya. Gue bilang mantan pacar Troy, bukan pacarnya.”

”Oh,” kata Sophie. Akhirnya dia mulai tenang. ”Kaget gue. Gue kira Kak Troy beneran udah punya pacar. Kalau cuma mantan sih nggak apa-apa. Jadi, siapa nama cewek itu?”

”Natasha,”  jawabku.  ”Mereka  pacaran  selama  sebulan.”

”Cih, cuma sebulan,” tanggap Sophie meremehkan. ”Kalau buat Troy, sebulan itu termasuk lama,” kataku. ”Whatever,” sahut Sophie tidak peduli. ”Terus? Kok bisa

sih, Kak Troy pacaran sama adik Kak Austin?”

”Awalnya dia nggak tahu kalau Natasha itu adik Kak Austin,” jelasku. ”Dan begitu dia tahu—” ”Natasha langsung ditendang jauh-jauh,” sambung Sophie.

Aku mengernyit. ”Lo kayaknya nggak bersimpati banget sama Natasha,” kataku.

”Emang nggak,” aku Sophie. ”Justru gue senang Kak Troy mutusin dia. Kalau nggak, gue kan nggak ada kesempatan untuk bisa pacaran sama Kak Troy.”

”Tapi sampai sekarang Natasha masih suka sama Troy,” kataku.

”Salah sendiri dia nggak bisa move on,” sambar Sophie. ”Jadi lo nggak bisa bilang Kak Troy nggak punya hati. Dia kan punya hak untuk memutuskan apakah dia mau melanjutkan hubungannya dengan Natasha atau nggak.”

Percuma saja. Tidak peduli apa pun yang kukatakan, Sophie akan selalu memihak Troy. Tapi aku masih ingin mengetahui pendapatnya tentang satu hal.

”Gimana kalau itu terjadi sama lo?”

”Nggak akan,” sahut Sophie yakin. ”Gue nggak sebodoh Natasha. Gue akan membuat Kak Troy sangat mencintai gue sampai-sampai dia bahkan nggak terpikir untuk meninggalkan gue.”

Aku ragu Troy bisa mencintai seseorang sampai sedalam itu. Benar-benar ajaib kalau itu sampai terjadi.

”Mungkin sekarang hubungan gue dan Kak Troy masih begini-begini aja,” lanjut Sophie. ”Tapi gue janji, suatu saat nanti, gue akan melangkah ke tahap lebih lanjut.” Sophie terlihat begitu bertekad, sehingga aku tidak tega menggodanya. Mungkin saja dia memang akan memenuhi janjinya. Tapi aku takut dia malah akan menjadi salah satu korban Troy.

Kalau dia bisa mengubah Troy, berarti dia memang hebat. Dia akan menjadi cewek pertama yang sungguhsungguh dicintai Troy. Aku berharap, kalau suatu saat Troy memutuskan untuk serius pada seorang cewek, dia akan memilih Sophie.

***

Austin semakin sering mengajakku berkencan. Kami tidak lagi hanya makan lalu berkumpul bersama anggota gengnya—seperti yang kami lakukan pada kencan pertama kami—tapi juga mulai jalan-jalan di mal dan menonton di bioskop layaknya orang berpacaran.

Saat kami sedang bersiap pulang pada salah satu kencan kami, tiba-tiba saja dia menyuruhku menunggu di mobil sementara dia pergi untuk membeli sesuatu. Dia kembali dengan membawa dua kantong kresek yang kutahu berisi makanan.

”Buat apa beli makanan lagi?” tanyaku heran ketika dia meletakkan kedua kantong kresek itu di pangkuanku. ”Tadi kan kita udah makan.”

”Pegang dulu aja,” kata Austin tanpa menjawab pertanyaanku. Dia mengarahkan mobil ke jalanan. Selama beberapa saat Austin tampak berkonsentrasi menyetir. Lalu tiba-tiba saja dia mulai mengatakan sesuatu yang membuat jantungku langsung kebat-kebit.

”Gue ingin menjadi lebih dari sekadar teman buat lo.”

Aku langsung menoleh padanya, tapi pandangannya tetap tertuju pada jalanan di depan kami. Sepertinya dia sengaja mengatakannya pada saat dia sedang menyetir, sehingga dia punya alasan untuk tidak menatapku.

”A-apa maksud lo?” tanyaku pura-pura bodoh.

”Gue yakin lo tahu apa maksud gue,” kata Austin, yang memang tidak bisa dibodohi. ”Lo pasti tahu perasaan gue ke lo. Selama ini gue nggak pernah berusaha menyembunyikan itu.”

Tentu saja aku tahu, tapi aku tetap ingin mendengar langsung darinya. Jadi, aku memutuskan untuk tetap bertahan dengan sikap pura-pura bodohku.

”Gue nggak ngerti maksud lo,” kilahku. ”Emangnya bagaimana perasaan lo ke gue?”

Austin mendengus. ”Jangan mancing gue,” geramnya. ”Mancing apa?” balasku. ”Gue emang nggak tahu pera-

saan lo ke gue. Jadi wajar dong kalau gue nanya.” ”Lo kan udah tahu,” tandas Austin.

”Nggak, gue nggak tahu,” kataku keras kepala. ”Ivy,” Austin memperingatkan.

”Terserah lo sih, kalau lo emang nggak mau bilang,” kataku dengan nada cuek. ”Tapi berarti sampai kapan pun gue nggak akan tahu perasaan lo ke gue.” Austin tampak berusaha setengah mati untuk mempertahankan kesabarannya. ”Gue suka sama lo, ampun deh!” serunya keki.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya aku bisa mendengar pernyataan cinta Austin langsung dari orangnya, meskipun dengan cara tidak romantis begitu.

”Gue mau lo jadi pacar gue dan lo nggak boleh nolak,” kata Austin. ”Tapi karena nggak etis kalau gue ngejadiin lo pacar gue begitu aja, gue akan ngasih lo kesempatan untuk menjawab.”

Aku baru akan membuka mulutku, tapi Austin mengangkat tangan ke arahku—membuatku menutup mulutku kembali.

”Gue nggak ingin lo menjawab dengan kata-kata,” kata Austin. ”Gue udah menyiapkan sesuatu. Coba lo buka kantong kresek di pangkuan lo itu.”

Aku menurutinya. Begitu kubuka, aku melihat sate ayam di kantong kresek pertama dan sushi di kantong kresek kedua. Aku berpaling kembali pada Austin dengan tatapan tidak mengerti.

”Kalau lo menerima gue, gue mau lo makan sate ayam itu,” jelas Austin. ”Dan kalau lo menolak, lo harus makan sushi itu.”

Kini giliranku yang mendengus. Dasar licik. Dia tahu aku pasti memilih sate ayam, karena aku membenci sushi dan sampai kapan pun tidak mau memakannya—yang berarti aku tidak akan pernah menolaknya. Senyum bermain di bibirnya ketika dari sudut mata dia melihatku mengambil setusuk sate ayam dan mulai memakannya.

Sambil mengunyah, aku pun ikut tersenyum. Resmi sudah aku menjadi pacar Austin. Sate yang kumakan rasanya menjadi lebih enak berkali lipat karena hatiku sedang bahagia.

Austin  menghentikan  mobil  di  depan  rumah  Sophie. Akhirnya, dia berpaling ke arahku. Tatapannya turun dari wajahku ke kantong kresek yang ada di pangkuanku, dan dia langsung tercengang.

”Ivy,” katanya. ”Aku nggak nyuruh kamu buat habisin satenya.”

Dua puluh tusuk sate yang tadi dibelinya memang sudah lenyap ke perutku. Tapi aku tidak sempat merasa malu karena perhatianku teralih pada kata-katanya. Ini pertama kalinya dia menggunakan ”aku-kamu” ketika berbicara denganku. Sepertinya aku juga harus mulai membiasakan diri untuk mengikutinya.

”Aku nggak sadar udah makan semuanya,” kataku. ”Habis satenya enak sih.”

Austin tertawa. ”Inilah kenapa aku suka kamu,” katanya.

”Karena aku rakus?” tebakku bingung.

Tawa Austin berlanjut. ”Bukan,” katanya. ”Tapi karena tingkah kamu itu lucu dan selalu bisa membuatku tertawa. Aku jadi nggak bosan-bosan kalau lagi bareng kamu.” Untungnya dia menganggap tingkahku lucu, bukan memalukan. Aku menunduk untuk menyembunyikan wajah yang memerah. Saat itu juga aku menyadari keberadaan sushi yang masih utuh. Aku mengambil satu sushi dan mengulurkannya pada Austin.

”Kamu harus makan ini kalau memang kamu serius ingin menjadikanku pacarmu,” kataku. ”Nggak ada pilihan untuk menolak.”

Austin tersenyum. Segera dia melahap sushi itu langsung dari tanganku. Aku mengambil satu sushi lagi dan memasukkannya ke dalam mulutnya meskipun dia belum menelan yang sebelumnya—membuat pipinya menggembung. Dia berusaha menelannya sementara aku menertawakannya. Ya Tuhan... aku bahagia sekali! Bahkan rasanya aku tidak ingin keluar dari mobil dan berpisah dengannya. Aku sadar

aku sudah bersikap norak, tapi aku tidak peduli.

Ketika akhirnya aku sudah berada di dalam rumah Sophie, aku tidak tahan untuk tidak memeluk Sophie dan memberitahunya bahwa aku sudah berpacaran dengan Austin.  Jason  juga  menjadi  korban  kebahagiaanku.  Dia bahkan sampai harus lari-lari mengitari rumah karena aku mengejarnya untuk memeluknya.

Mereka berdua memberiku selamat, meskipun dengan cara masing-masing.

”Cie,  yang  baru  jadian,  mukanya  berseri-seri  begitu,” ledek Sophie. ”Nggak sadar kalau temannya udah ditinggalin jomblo sendirian.” Aku cengengesan. ”Makanya cepat cari pacar dong.” ”Bilang sana sama Kak Troy biar cepat-cepat nembak

gue,” kata Sophie.

”Eh, Vy, jangan lupa traktir gue ya,” timbrung Jason, yang baru beberapa menit sebelumnya berhasil kupeluk dengan kekuatan super.

”Beres!” kataku berbaik hati. ”Nanti kalian berdua gue traktir es krim.”

”Masa cuma es krim sih?” protes Sophie dan Jason bebarengan.

Meskipun harus menghadapi todongan traktiran dari kakak-beradik mengerikan itu, aku masih bisa tetap tersenyum. Rasanya tidak ada yang bisa merusak kebahagiaanku saat ini. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊