menu

Bad Boys Bab 05

Mode Malam
Bab 05

BARU tadi aku bilang pada Sophie, setahu Austin aku adalah pacar Lionel. Sekarang Austin ingin aku mengakhiri hubunganku dengan Lionel. Aku tidak tahu kenapa dia ingin aku melakukannya, tapi mungkin dia tidak ingin aku punya pacar supaya bisa memilikiku untuk dirinya sendiri.

Gila memang! Aku sangat ingin dia menyukaiku sampaisampai aku bisa berpikir seperti itu.

”Gimana?” tanya Austin, setelah lama aku tidak berkata apa-apa.  ”Adil,  bukan?  Lo  dihukum  karena  berpacaran dengan Lionel. Kalau lo ingin terbebas dari hukuman, lo harus putus dari dia.” ”Tapi gue nggak bisa minta putus begitu aja,” kataku. ”Kenapa nggak bisa?” tantang Austin.

Ya, kenapa tidak bisa? Bukankah Lionel bukan pacar sungguhanku? Akan mudah bagiku untuk mengatakan padanya agar mengakhiri hubungan pura-pura kami. Dengan begitu, aku akan bisa semakin dekat dengan Austin.

Tapi, itu terlalu kejam untuk Lionel. Jika aku mengakhirinya sekarang, dia pasti akan menghubungkannya dengan kejadian di kedai bakso tadi malam. Dia akan berpikir aku ingin menjauhinya karena telah mengetahui perasaannya. Kalau begitu caranya, bisa-bisa aku akan kehilangannya sebagai temanku.

”Gue akan membicarakannya dengan Lionel,” kataku akhirnya.

”Apa lagi yang harus dibicarakan,” sergah Austin. ”Lo yang pegang kendali. Akhiri hubungan kalian dan jangan pedulikan dia.”

Tidak mungkin aku tidak memedulikan Lionel. Meskipun aku setengah mati ingin terbebas dari hukuman, aku ingin melakukan itu tanpa menyakiti hati Lionel.

Sepertinya tidak ada cara lain selain berbohong pada Austin. Maka, aku mengatakan pada Austin, aku akan memenuhi permintaannya, walaupun diam-diam aku tetap mempertahankan hubungan pura-puraku dengan Lionel. Mereka akan sama-sama tidak tahu dan aku akan aman. Tapi memang sulit membohongi Austin. Dia tidak langsung membebaskanku dari hukuman setelah kubilang hubunganku dengan Lionel sudah berakhir. Dia tetap saja memata-mataiku dan dari situlah dia tahu bahwa Lionel masih mengantar-jemputku ke sekolah.

Memang di situlah kelemahan rencanaku. Lionel tentunya tetap mengantar-jemputku ke sekolah karena yang dia tahu hubungan pura-pura kami masih berjalan. Kalau aku menyuruhnya untuk tidak lagi mengantar-jemputku, dia akan mempertanyakan alasannya.

Aku berusaha menjelaskan pada Austin, Lionel tetap ingin mengantar-jemputku ke sekolah untuk menghargai hubungan pertemanan kami. Kupikir dia akan mengerti, tapi ternyata dia malah menghampiriku dan Lionel pada jam pulang sekolah.

”Kenapa lo masih mengantar-jemput Ivy?” tuntut Austin pada Lionel.

Ditanya begitu, jelas Lionel bingung. Dia menatapku— meminta penjelasan dariku. Aku hanya bisa menunduk dan pura-pura tertarik pada helm yang kupegang. Memang salahku karena telah berbohong. Sebagai akibatnya, kini aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi mereka berdua.

Mendadak terdengar dengusan Austin. ”Udah gue duga,” cetusnya. ”Lo belum bilang apa-apa sama Lionel kan, Vy?” Aku menunduk semakin dalam. Kebisuanku seolah membenarkan tuduhan Austin. Dia mulai mendesakku untuk memastikan kali ini permintaannya dipenuhi.

”Gue akan kasih satu kesempatan lagi,” katanya. ”Bilang ke dia sekarang supaya gue bisa mendengarnya.”

Aku tetap bungkam. Lionel tidak boleh tahu dengan cara seperti ini. Aku ingin menjelaskan secara pribadi dan memberi pengertian. Tapi sepertinya sudah terlambat untuk itu.

”Ayo, Vy, bilang ke dia!” paksa Austin.

Lionel mendekatiku dan membuat perhatianku teralih dari helm di tanganku. ”Ivy,” panggilnya lembut. ”Ada apa?”

Aku menatap Lionel sambil menggigit bibir. Aku berusaha bertahan, meskipun Austin terus mendesakku untuk membuka mulut.

”Oke,” kata Austin akhirnya—menyerah dengan kegigihanku. ”Kalau lo emang nggak mau bilang, biar gue yang bilang.”

”Jangan!” larangku tiba-tiba.

Tapi tentu saja Austin tidak mau mendengar kata-kataku. Dengan gampang dia berkata pada Lionel, ”Ivy bilang dia mau putus dari lo.”

Sembarangan. Dialah yang memaksaku untuk melakukannya, tapi kenapa dia berkata seolah-olah aku yang menginginkannya? Lionel tidak percaya begitu saja pada kata-kata Austin. Dia bahkan tidak menanggapi, dan bertanya padaku. Sepertinya dia ingin mendengarnya langsung dari mulutku.

”Ivy, apa itu benar?” tanyanya.

Aku masih saja tidak bisa menjawab. Lionel menganggap diamnya diriku sebagai tanda aku kesulitan berbicara jujur padanya.

”Apa ini karena kejadian di kedai bakso itu?” tanyanya dengan suara pelan agar Austin tidak bisa mendengarnya.

Tepat sesuai dugaanku. Aku tahu dia memang akan mengungkit soal kejadian di kedai bakso itu.

”Bukan,” sanggahku. ”Bukan karena itu.”

”Sekarang lo udah tahu kan, Lionel,” Austin menginterupsi. ”Ivy nggak menginginkan lo lagi. Jadi, terima aja nasib lo dan jauhi dia.” Lalu kepadaku, dia berkata, ”Ayo, Ivy, gue antar lo pulang!”

Sulit bagiku untuk bergerak, tapi aku tahu aku harus menuruti Austin. Jadi kukembalikan helm di tanganku pada Lionel seraya berbisik, ”Datang ke rumahku nanti, akan kujelaskan semuanya.”

Lionel mengangguk samar. Dia membiarkanku berjalan bersama Austin dan meninggalkannya, tapi bisa kulihat kepedihan di wajahnya dan itu melukai hatiku.

Aku hanya diam selama berada di mobil Austin. Austin

pun kali ini tampaknya cukup tahu diri untuk tidak mengganggu. Mungkin dia tahu aku sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah apa yang terjadi pada Lionel.

Dia menurunkanku di depan rumah Sophie dan langsung pergi. Sophie tidak lagi bingung melihatku muncul tiba-tiba di rumahnya, tapi dia tahu ada yang tidak beres begitu melihat wajahku.

”Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya.

”Austin menemui Kak Lionel dan mengatakan padanya kalau gue ingin mengakhiri hubungan gue dengannya,” ceritaku.

”Wah, kacau!” tanggap Sophie. ”Terus, apa mereka berantem?”

Aku menggeleng. ”Kak Lionel sepertinya terlalu sedih untuk berantem,” kataku. Terbayang kembali kepedihan di wajah Lionel ketika aku pergi meninggalkannya tadi.

”Apa lo nggak memberikan penjelasan pada Kak Lionel?” tanya Sophie.

”Gue udah menyuruhnya datang ke rumah gue,” kataku. Aku pun teringat untuk segera pulang, karena mungkin Lionel langsung datang ke rumahku. ”Soph, lo bisa antar gue pulang?”

”Tentu,” sahut Sophie. ”Sebentar, gue keluarin motor gue dulu.”

Lionel memang sudah menunggu ketika aku tiba di rumahku. Dia sedang duduk di atas motor sambil setengah melamun. Sophie sempat bertegur sapa dengannya sebelum pulang.

”Masuk yuk, Kak,” ajakku, sambil membuka pintu gerbang rumah.

Dia mengikutiku masuk dan aku mempersilakannya duduk di teras. Sejenak kami duduk dalam diam. Aku sibuk memikirkan cara untuk memulai penjelasanku.

”Austin menawarkan untuk membebaskanku dari hukumanku,” kataku akhirnya. ”Tapi syaratnya, aku harus mengakhiri hubunganku denganmu.”

”Dia benar-benar akan membebaskanmu?” tanya Lionel.

”Dia bilang begitu,” jawabku. ”Entahlah. Kuharap dia memang serius dengan kata-katanya.”

”Baguslah kalau dia serius,” gumam Lionel.

Aku menoleh pada Lionel. ”Jadi aku ingin kamu tahu,” kataku, ”aku melakukan ini bukan karena kejadian di kedai bakso itu. Sungguh, sama sekali nggak ada hubungannya dengan kejadian itu.”

Lionel mengangguk sambil tersenyum kecil. ”Aku percaya sama kamu,” katanya.

Aku mendesah lega. ”Aku benar-benar khawatir kamu akan salah paham,” lanjutku. ”Timing antara kejadian di kedai bakso itu dan tawaran Austin memang tepat sekali.” ”Tapi, Vy,” kata Lionel tiba-tiba, ”ada satu hal yang ingin kutanyakan sama kamu. Aku ingin kamu menjawabnya dengan jujur.”

Wah, apa yang ingin dia tanyakan?

”Kalau saat itu aku memintamu untuk jadi pacarku, apa kamu akan menerimaku?”

Oh. My. God. Kenapa dia menanyakan itu? Justru itu pertanyaan yang paling ingin kuhindari.

Aku mulai gelagapan. ”A-apa pertanyaan itu h-harus dijawab?”

”Ya,” tegas Lionel. ”Aku ingin mendengar jawabanmu.”

Aku sudah tahu jawaban atas pertanyaan itu, tapi aku kesulitan menemukan cara yang tepat untuk menyampaikannya.

”Aku...” Kata-kataku mengambang begitu saja di udara.

Lionel mengerti dengan sendirinya. ”Sepertinya kamu akan menolak, ya?” tebaknya.

Aku menatapnya dengan tidak enak. ”Sebenarnya aku juga suka sama kamu, Kak,” akuku. ”Tapi—”

”Hanya sebatas teman?” sambung Lionel.

Aku mengangguk pelan. ”Iya,” sahutku. ”Hanya sebatas teman.”

Lionel menunduk. Senyum kekalahan tersungging di bibirnya. Wajahnya tampak begitu sayu, hatiku semakin terluka karena menyadari akulah penyebabnya.

Ya ampun... kok aku jadi ingin menangis, ya? Aku memang cewek jahat. Aku tidak layak disukai cowok sebaik Lionel.

”Maaf ya, Kak,” gumamku. ”Aku benar-benar berharap aku bisa membalas perasaanmu.”

Lionel kembali mengangkat kepala. ”Nggak apa-apa, Vy,” katanya menenangkanku. ”Kamu kan nggak bisa memaksakan perasaanmu.”

”Jangan sedih karena aku ya,” pintaku.

”Mungkin aku akan sedih selama beberapa hari,” kata Lionel setengah bercanda. ”Tapi setelah itu aku akan baikbaik aja. Kamu nggak perlu khawatir.”

Suara mesin mobil yang mendekat membuat kami serentak menoleh ke luar pintu gerbang. Terlihat Troy sedang memarkir mobil.

”Kebetulan,” cetus Lionel. ”Kita jadi bisa sekalian memberitahu Troy.”

”Memberitahukan apa?”

”Soal kita harus mengakhiri hubungan pura-pura kita,” jawab Lionel.

Oh. Kupikir dia mau memberitahu Troy soal aku yang telah menolaknya. Aku tidak mau Troy tahu soal itu. Meskipun aku tahu Troy pasti memihakku, siapa tahu dia akan marah karena aku telah menyakiti hati temannya.

Troy melangkah masuk dan mengedikkan kepala pada Lionel. ”Ngapain lo di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.

”Gue lagi membicarakan sesuatu dengan Ivy,” jawab Lionel. ”Dan sepertinya lo juga harus tahu.” ”Kalau ini soal cinta-cintaan, gue nggak kepingin tahu,” kata Troy sambil bersiap-siap ngeloyor pergi.

Lionel menahan langkah Troy. ”Bukan, ini bukan soal itu,” katanya. ”Ini berkaitan dengan Austin.”

Nama Austin cukup untuk membuat Troy waspada bagai elang yang siap menerkam mangsa. Dia menarik tanganku secara tiba-tiba dan memeriksaku dari atas ke bawah.

”Apa Austin nyakitin lo?” tanyanya padaku. ”Bilang sama gue. Karena kalau dia berani menyentuh lo sedikit aja, gue bersumpah akan mengulitinya hidup-hidup!”

Aku langsung membayangkan Austin yang dikuliti dan jadi ngeri sendiri. Si Troy ini memang kadang-kadang mengingatkanku pada psikopat.

”Nggak kok,” gelengku. Austin memang menjadikanku sebagai pesuruhnya, tapi dia tidak pernah menyakitiku secara fisik. ”Dia malah berjanji nggak akan mengganggu gue lagi.”

”Kenapa dia bisa berjanji begitu?” tanya Troy heran.

Aku bertukar pandang dengan Lionel. Aku memberi isyarat dengan mataku bahwa aku ingin dia yang menyampaikannya pada Troy.

”Dia menyuruh Ivy untuk mengakhiri hubungan dengan gue,” jawab Lionel, menggantikanku.

Troy pun langsung murka. ”Apa haknya nyuruh-nyuruh Ivy seperti itu?!” raungnya marah.

”Tapi itu kesempatan yang bagus buat Ivy,” sahut Lionel. ”Jadi, kami memutuskan untuk menurutinya dan mengakhiri hubungan pura-pura kami.”

”Kalau begitu kalian berdua tolol!” bentak Troy. ”Seharusnya kalian nggak membiarkan Austin menguasai keadaan. Dia akan merasa menang karena telah berhasil membuat kalian nurut sama dia.”

”Nggak apa-apa kalau dia merasa menang,” kata Lionel. ”Yang penting dia menepati janjinya pada Ivy untuk nggak menganggunya lagi.”

Butuh waktu sampai akhirnya Troy bisa mengerti alasan kami menuruti Austin. Setelah kemarahan Troy reda, barulah Lionel pamit pulang padanya. Aku mengantar Lionel keluar pintu gerbang. Setelah memberiku satu senyuman terakhir, dia segera melaju pergi dengan motornya.

Aku terkejut ketika berbalik dan mendapati Troy masih berdiri di teras. Kupikir dia sudah masuk ke dalam rumah.

”Apa lo ada masalah sama Lionel?” tanya Troy curiga.

Aku buru-buru menggeleng. ”Gue nggak ada masalah apa-apa kok sama dia,” jawabku. ”Kenapa lo nanya begitu?”

”Habis muka kalian berdua kelihatan sedih,” kata Troy. Ternyata kesedihan itu tidak hanya terlihat di wajah Lionel, tetapi juga di wajahku. Aku berusaha untuk tidak

menatap Troy, tapi dia malah semakin mendekatiku. ”Dengar,” katanya. ”Kalian nggak usah berpisah hanya karena  Austin.  Lanjutin  aja  hubungan  pura-pura  kalian kalau kalian mau. Atau kalau kalian mau membuat hubungan kalian menjadi sungguhan juga nggak apa-apa. Gue oke-oke aja.”

Aku menggeleng. ”Lebih baik begini,” gumamku.

”Gue sebenarnya nggak mau ikut campur dalam masalah beginian,” kata Troy. Memang terlihat jelas dia tersiksa membicarakan hal ini denganku—sama tersiksanya seperti aku sedang mengeluhkan PMS-ku padanya. ”Tapi gue tahu Lionel suka sama lo dan gue pikir lo pun memiliki perasaan yang sama. Makanya, tanpa ragu dulu gue menyuruh kalian pacaran, karena gue pikir kalian bakalan senang.”

Karena Troy mengatakan hal itu, aku memutuskan untuk jujur padanya. Lebih baik dia tahu apa yang terjadi antara aku dan Lionel.

”Gue tahu Kak Lionel emang suka sama gue,” akuku. ”Dia udah menyatakannya secara langsung sama gue. Tapi... gue nggak bisa membalas perasaannya.”

Troy terpana. ”Gue nggak ngerti,” tanggapnya. ”Kalau melihat sikap lo selama ini, gue pikir...”

”Ya,” potongku. ”Kalau melihat sikap gue ke Kak Lionel, lo pasti akan berpikir gue suka sama dia. Sejujurnya, selama ini pun gue masih belum bisa memastikan perasaan gue—sampai kemarin pagi, ketika gue sedang bicara dengan Sophie. Akhirnya gue pun tahu, gue hanya menyukainya sebagai teman.” ”Lo benar-benar bikin orang salah paham,” komentar Troy. ”Bahkan sepertinya Lionel pun menyangka perasaannya berbalas.”

”Karena itu gue merasa bersalah sama dia,” kataku. ”Gue sedih karena harus menyakiti hatinya.”

Troy mendesah. ”Padahal gue udah setuju kalau lo sama Lionel,” katanya. ”Gue udah kenal dia sekian lama dan gue tahu dia akan menjaga lo dengan baik. Tapi kalau lo emang nggak suka dia, ya apa boleh buat. Berarti gue harus merelakan lo dengan cowok yang bahkan nggak gue kenal.”

Lo kenal kok dengan cowok itu, Troy, batinku. Tapi lo nggak akan senang kalau tahu siapa dia.

”Apa ada cowok yang lo suka?” tanya Troy tiba-tiba, sambil menatap wajahku lekat-lekat.

Aku langsung mundur. ”N-nggak ada kok,” dustaku. ”Karena kalau misalnya sampai ada,” kata Troy, tanpa

mendengar kata-kataku, ”lo harus memastikan dia bakalan hormat sama gue.”

”Jadi syarat dari lo cuma itu?” tanyaku. ”Nggak peduli dia suka sama gue atau nggak?”

”Ah, ya,” kata Troy, seakan baru teringat. ”Tentu aja dia juga harus suka sama lo. Yang terpenting, dia harus bisa membuat gue merelakan lo dengannya. Karena kalau nggak, jangan harap dia bisa ambil lo dari gue.”

Sikap overprotektif Troy padaku memang terkadang bisa lebih parah daripada Papa. Tapi aku tahu itu karena dia sayang padaku.

”Soal Lionel, lo nggak usah khawatir,” kata Troy. ”Gue akan memastikan tuh anak segera pulih dari patah hatinya. Jadi...,” Troy mencubit kedua pipiku keras-keras, ”...jangan pasang tampang sedih begini terus.”

”Aduhhh... sakit!” omelku.

Troy hanya tertawa dan berjalan masuk ke rumah, sementara aku tetap di teras sambil merutukinya. Kuusapusap kedua pipiku yang terasa perih—sepertinya semua rasa sakit di hatiku sudah berpindah ke pipiku. Pasti sekarang pipiku terlihat sangat merah.

Di luar masalah pipiku, aku senang karena Troy berjanji akan membantu Lionel mengatasi patah hatinya. Tidak ada yang bisa melakukannya lebih baik daripada Troy, karena Lionel selalu mendengarkan perkataannya. Lionel begitu menghormati Troy dan dia pasti tidak akan mengecewakannya dengan selalu bersedih karena aku.

Meskipun menyedihkan, setidaknya masalahku dengan Lionel sudah beres. Kini yang tersisa tinggal masalahku dengan Austin, dan aku tidak tahu bagaimana masalah itu akan berakhir.

***

Lagi-lagi Troy yang mengatakan pada Mama dan Papa soal hubunganku dengan Lionel. Kali ini dia menyampaikan aku sudah putus dengan Lionel. Mereka memang sempat heran karena Lionel tidak lagi mengantar-jemputku. Dengan penjelasan Troy, akhirnya mereka mendapatkan jawaban. Tapi Troy tetap tidak bisa mengantar-jemputku karena Austin pasti masih memata-mataiku. Jadi, untuk sementara aku meminta Sophie yang melakukannya. Untung saja Mama dan Papa tidak menanyakan alasannya. Mungkin mereka menganggap aku sedang sangat membutuhkan

teman karena baru patah hati.

Tentu saja Sophie dengan senang hati menerima tugas itu. Kesempatannya untuk bertemu Troy akan menjadi lebih besar, dan itu membuatnya bersemangat. Dia bahkan memintaku untuk tetap memberikan tugas itu padanya meski Austin tidak lagi memata-mataiku.

Pagi itu aku tetap di meja makan bersama Papa sementara Mama membukakan pintu gerbang untuk Troy. Tidak lama Mama masuk dan memberitahu bahwa Sophie sudah menunggu di luar. Aku segera pamit pada Mama dan Papa, kemudian berjalan keluar untuk menyambut Sophie.

Sophie sama sekali tidak menoleh ke arahku, bahkan ketika aku sudah berdiri di sebelahnya. Tatapannya terpaku pada mobil Troy. Rupanya Troy belum berangkat. Dia malah keluar dari mobil dan menghampiri kami.

”Hai, Sophie,” sapanya pada Sophie.

”Hai, Kak Troy,” balas Sophie—lengkap dengan senyum memuja. ”Maaf ya, lo jadi harus repot mengantar-jemput Ivy,” kata Troy. Tangannya dengan iseng mengacak-acak rambutku.

Aku menggerutu sambil berusaha merapikan kembali rambutku.

”Nggak apa-apa,” tanggap Sophie. Senyum masih memenuhi wajahnya. ”Gue nggak keberatan kok. Malah gue senang karena bisa membantu Ivy.”

”Lo memang yang terbaik,” puji Troy. Sebelum berbalik, dia berkata, ”Hati-hati, ya!” sambil lagi-lagi mengacak-acak rambutku.

Sementara aku ditinggal Troy dengan perasaan gondok luar biasa, Sophie malah terlihat berbinar-binar seolah baru menang lotre. Aku harus menahannya agar tidak berjingkrak-jingkrak setelah mobil Troy melaju.

”Dia masih bisa ngelihat lo dari kaca spion,” aku memperingatkannya.

Sophie tampak tidak peduli. Dia malah memelukku. ”Lo dengar nggak, Vy?” serunya girang. ”Dia bilang gue yang terbaik.”

Dengan susah payah aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. ”Iya, gue dengar,” sahutku.

”Ya ampun, Vy,” kata Sophie. ”Gue senang banget!” ”Gue tahu,” tanggapku. ”Tapi lebih baik kita berangkat

sekarang kalau nggak mau telat.”

Aku memaksa Sophie untuk segera naik ke motor. Perasaan senangnya terus bertahan hingga kami tiba di sekolah. Setelah memarkir motor, kami berjalan memasuki pintu gerbang sekolah. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Austin sedang duduk di bangku panjang yang biasa didudukinya jika sedang menungguku. Dia berdiri begitu menyadari kehadiranku dan langsung menghampiriku.

”Bukannya hukuman gue udah selesai?” tanyaku begitu dia tiba di dekatku.

”Memang,” sahut Austin. ”Gue cuma mau mengantar lo ke kelas lo.”

Aku tidak langsung mencerna kata-katanya. Bagiku sangat aneh dia mau mengantarku ke kelas, bukan seperti biasa menyuruhku membawakan tasnya.

”Ayo!” ajaknya, ketika dilihatnya aku tidak juga berjalan.

Aku melirik Sophie dan kelihatannya dia pun merasa aneh. Tapi ketika melihat Austin sudah melangkah, kami memutuskan untuk mengikutinya.

Austin benar-benar mengantarku ke kelas—tepatnya ke depan pintu kelas. Aku dan Sophie tidak langsung masuk karena dia mulai berbicara.

”Meskipun sekarang hukuman lo udah selesai, gue mau lo tetap ke kantin saat jam istirahat,” katanya. ”Bukan untuk membelikan gue dan anggota geng gue makanan, tapi untuk makan bareng.”

”T-tapi...” Aku kembali melirik Sophie. Meskipun senang dengan ajakan Austin, aku tidak ingin meninggalkan Sophie sendirian lagi pada jam istirahat. ”Tentu lo boleh ajak teman lo,” kata Austin. Dia menoleh pada Sophie dan bertanya, ”Lo Sophie Wyna, kan?”

Sophie terlihat terkejut karena Austin tahu namanya. ”Iya, saya Sophie Wyna, Kak,” jawabnya.

”Ikut kami untuk makan bareng nanti,” undang Austin. Tanpa berpikir panjang Sophie langsung mengangguk.

”Tentu,” katanya. ”Saya dan Ivy pasti datang ke kantin pada jam istirahat nanti.”

Austin tampak puas mendengarnya. Dia bahkan tidak membutuhkan jawabanku lagi dan langsung berjalan pergi. Aku tidak percaya dia masih mau bersamaku meskipun hukumanku sudah berakhir.

”Sepertinya ada yang perasaannya berbalas nih,” komentar Sophie.

Aku langsung menoleh padanya. ”Kenapa lo bisa menyimpulkan begitu?” tanyaku.

”Astaga, Vy!” seru Sophie putus asa. ”Apa lo masih nggak menyadarinya? Jelas dia suka sama lo, makanya dia mau tetap bersama lo.”

Austin seakan membuktikan kata-kata Sophie ketika kami berada di kantin. Saat itu Sophie sedang membelikanku makanan, sementara aku tetap duduk bersama Austin. Beberapa anggota geng Austin memprotes karena aku tidak lagi melayani mereka, tapi cukup dengan satu lirikan maut dari Austin, mereka langsung mingkem.

Aku hanya memperhatikan Austin memakan siomay. Ketika dia menyadari pandanganku, dia menunjuk ke piringnya. ”Mau?” tawarnya.

Aku sampai tercengang. Austin yang biasanya paling anti jika ada orang yang menyentuh makanan di piringnya, kini malah menawariku siomaynya? Apa bumi sudah berubah menjadi jajaran genjang?

”Kenapa?” tanyanya begitu dilihatnya aku hanya diam. ”Gue benar-benar boleh makan siomay lo?” aku balik

bertanya dengan ragu.

Austin menyodorkan piringnya ke arahku. ”Ambil aja,” katanya.

Aku mengambil satu siomay dengan sendok yang ada di meja. Sebenarnya aku melakukan itu untuk mengecek reaksinya, karena siapa tahu dia hanya membohongiku. Tapi dia malah menawariku lagi setelah aku menelan siomay yang ada di mulutku.

”Nggak usah,” tolakku dengan halus. ”Sophie kan lagi beliin gue makanan.”

Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang dia izinkan menyentuh makanan di piringnya. Itu berarti dia menyukaiku, kan? Bahkan Greta saja sampai heran dengan tindakan Austin itu. Dia mencegatku dan Sophie yang sedang berjalan kembali ke kelas.

”Kok bisa sih Austin ngizinin lo ngambil makanan di piringnya?” tanyanya. Memang wajar dia bertanya begitu karena dia sendiri pernah diamuk Austin karena menyentuh makanan cowok itu. Aku mengangkat bahu. ”Tanya sendiri sama Kak Austin dong.”

”Mungkin Kak Austin begitu karena dia suka sama Ivy,” kata Sophie tiba-tiba.

Mata Greta langsung membesar karena syok. Aku buruburu menyeret Sophie pergi sebelum dia mengatakan hal yang lainnya. Dia hanya cekikikan sementara aku mengomelinya.

Aku semakin diyakinkan akan perasaan Austin padaku ketika melihat dia menungguku di depan kelas pada jam pulang sekolah. Sophie membiarkan kami bicara berdua dan menunggu tidak jauh dari kami.

”Malam ini gue mau ngajak lo jalan,” kata Austin. ”Jadi kalau lo punya rencana lain, batalkan. Gue jemput lo jam tujuh.” Dan tanpa menunggu jawabanku, dia langsung pergi begitu saja—meninggalkanku terbengong-bengong karena ajakan itu.

Sophie langsung menghampiriku. ”Kok ngobrolnya cepat amat?”

Aku tidak bisa menyahut. Bahkan sepertinya aku sudah kehilangan kemampuan untuk bicara.

”Ivy,” panggil Sophie, seraya menyenggolku. ”Kenapa lo diam aja? Emang dia ngomong apa sama lo?”

Aku menatap Sophie. ”Soph,” kataku akhirnya. ”Gimana nih? Dia ngajak gue nge-date.”

Teriakan Sophie yang terdengar kemudian sepertinya bisa meruntuhkan gedung sekolah. Dia begitu heboh sampai-sampai tubuhku pun dia guncang-guncangkan.

”Beneran, Vy?” serunya.

Aku mengangguk. Aku sangat senang dengan ajakan kencan Austin, tapi kesulitan untuk mengekspresikannya. Sungguh tidak disangka hubunganku dengan Austin akan berkembang secepat ini.

”Dia bakal jemput lo atau ngajak lo ketemuan di suatu tempat?”

”Dia bilang dia bakal jemput gue,” sahutku, lalu tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Austin pasti akan menjemputku di rumah Sophie karena setahunya di situlah rumahku. ”Gue mesti ke rumah lo sebelum jam tujuh malam ini.”

Mata Sophie berkilat licik. ”Boleh aja,” katanya. ”Tapi ada syaratnya. Lo harus datang diantar Kak Troy. Lo juga harus bisa membuatnya masuk ke rumah gue.”

Aku menjitak kepala Sophie. ”Tega-teganya lo ngasih syarat kayak begitu padahal gue lagi kepepet,” omelku.

”Ya terserah sih,” kata Sophie enteng. ”Kalau nggak mau juga nggak apa-apa, tapi lo nggak boleh minjam rumah gue.”

Ingin rasanya aku menarik lidahnya saat melihatnya menjulurkan lidah padaku. Dia sengaja menggodaku. Dia tahu aku pasti akan mengusahakannya karena aku benar-benar membutuhkan rumahnya.

”Kalau Troy nggak mau gimana?” ”Itu sih derita lo,” kata Sophie kejam.

Aku memelototi Sophie yang sedang cengar-cengir penuh kemenangan. Untung saja aku sayang padanya sehingga bisa menahan hasratku untuk menyambitnya dengan sepatu.

Tidak seperti saat berkencan dengan Lionel, kali ini aku tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Belum lagi aku juga harus membujuk Troy agar mau mengantarku ke rumah Sophie.

”Ayolah, Troy,” bujukku. ”Anterin gue dong.” ”Gue mau nge-date malam ini,” tolak Troy.

”Nggak akan makan waktu lama kok,” kataku. ”Rumah Sophie kan dekat.”

”Karena dekat, lo pergi aja sendiri,” kata Troy. ”Nanti gue pinjemin komik gue deh,” sogokku.

”Ogah!” tukas Troy. ”Komik lo kan komik cewek semua.”

”Ada kok yang nggak terlalu cewek banget,” kataku. ”Gue akan pilihin khusus buat lo.”

Troy masih juga berkeras menolak. Aku pun mulai mengeluarkan senjata andalanku—tampang memelas ala Puss in Boots yang kutahu selalu berhasil meluluhkan hati Troy.

Benar saja. Troy mulai jengah melihat tampangku. Dia berusaha bertahan, tapi akhirnya menyerah juga.

”Ya udah,” katanya jengkel. ”Bilang gue aja kalau lo udah mau berangkat. Jangan pasang tampang begitu lagi! Nanti gue siram air lo.” Setelah misi dengan Troy berhasil, aku kembali disibukkan dengan dandananku. Tadi aku sudah memilih pakaian yang akan kukenakan malam ini: tank top putih dengan hiasan bunga berwarna pink di bagian dada dan rok pink berenda yang tidak kalah cantik. Kini aku hanya tinggal merias wajah. Troy sampai terpana ketika aku masuk ke kamarnya untuk memberitahunya bahwa aku sudah siap berangkat.

”Lo bukannya cuma mau ke rumah Sophie?” tanyanya. ”Kenapa sampai dandan heboh begitu?”

”Gue  kan  mau  jalan-jalan  sama  Sophie,”  kataku  beralasan.

Mata Troy menyipit curiga. ”Lo mau double date, ya?” tuduhnya.

”Nggak kok,” sahutku. Memang benar sih aku ada kencan, tapi kan Sophie tidak ikut.

Troy tidak percaya. ”Siapa cowok yang jadi pasangan lo?”

Kalau sampai nama Austin keluar dari mulutku, pasti akan terjadi gempa bumi dadakan di rumah ini. Lagi pula, kenapa sikap overprotektif Troy harus muncul di saat seperti ini sih?

”Gue bilang, gue nggak mau double date, Troy, kakakku sayang,” tukasku dengan nada pura-pura gemas untuk menutupi kegugupanku.

”Kalau lo sama Sophie emang mau jalan-jalan, biar gue antar kalian,” kata Troy. Sepertinya dia ingin membuktikan kata-kataku dengan menguntitku dan Sophie.

”Lo kan ada kencan,” aku mengingatkannya. ”Biar gue batalin kencan gue,” kata Troy.

Aku langsung menggeleng-geleng dengan panik. Kalau Troy sampai melakukan itu, bisa rusak kencanku malam ini.

”Sophie pasti ngerasa nggak nyaman kalau lo ikut,” kataku. Padahal kenyataannya, kalau kami benar-benar jalan-jalan dan Troy ikut, Sophie pasti akan kegirangan sampai-sampai dia kayang sepanjang jalan. ”Lagi pula nanti kami mau shopping. Bukannya lo bilang lo paling anti nemenin cewek shopping? Apalagi gue sama Sophie kalau shopping tuh bisa berjam-jam.”

Troy tampak ngeri mendengarnya. Sepertinya dia berpikir ulang untuk membatalkan kencannya. Aku mendesah lega ketika akhirnya dia memutuskan untuk sekadar mengantarku ke rumah Sophie saja.

Lagi-lagi aku mengalami kesulitan ketika Troy sudah menghentikan mobil di depan rumah Sophie. Syarat dari Sophie yang lain: aku harus bisa membuat Troy masuk ke rumahnya.

”Lo harus mampir dulu,” kataku.

Troy menggeleng. ”Gue mau langsung balik,” katanya. ”Sebentar aja,” kataku. ”Nggak sopan kalau lo langsung

balik tanpa mampir dulu.” Untung saja, Sophie keluar di saat yang tepat dan dia sendiri yang mengundang Troy untuk masuk. Aku tersenyum geli melihat penampilan Sophie. Jelas dia berdandan untuk bertemu Troy. Tapi ada untungnya buatku—kami jadi benarbenar terlihat seperti ingin jalan-jalan.

Karena Sophie sudah turun tangan, Troy akhirnya menerima undangannya. Kami masuk dan duduk di ruang tamu.

”Mau minum apa, Kak Troy?” tanya Sophie, seakan-akan tamunya hanya Troy. Dia bahkan tidak menawariku. ”Gue ada beberapa jenis minuman, tapi kalau yang lo mau nggak ada, gue bisa pergi beli.”

”Nggak usah repot-repot,” kata Troy. ”Gue cuma sebentar kok.”

”Iya, Soph, nggak usah repot-repot,” ulangku. Aku memberinya lirikan penuh peringatan agar dia tidak bersikap berlebihan.

Troy  mengamati  rumah  Sophie.  ”Rumah  lo  rapi,  ya,” komentarnya. ”Nggak berantakan kayak rumah gue.”

”Kan lo sendiri yang bikin berantakan,” kataku.

”Kalau tahu gue bikin berantakan, kan seenggaknya lo harus ngebersihin,” kata Troy tidak mau kalah.

Sophie melerai pertengkaran kami. ”Biasanya adik gue juga suka bikin berantakan kok,” katanya.

”Oh, lo punya adik, Soph?” tanya Troy.

Sophie mengangguk. ”Gue punya satu adik cowok, namanya Jason,” sahutnya. Baru saja dibicarakan, Jason langsung muncul. Dia baru menuruni tangga dan terkesiap saat melihat Troy.

”Kak Troy!” serunya kaget. Lalu, lebih kaget lagi karena tiba-tiba nama Troy tercetus begitu saja, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan.

Troy menatap Jason dengan heran. ”Lo tahu gue?” Jason menurunkan tangannya. ”Jelas gue tahu lo,” kata-

nya. ”Lo kan ngetop banget. Sophie juga sering ngomongin lo.”

Sophie tiba-tiba tertawa dengan suara sekeras mungkin— mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu. Dia merangkul Jason dan sepertinya diam-diam memberikan cubitan padanya.

”Si Jason ini ada-ada aja,” kata Sophie. ”Gue emang pernah ngomongin lo sama dia, Troy. Tapi nggak sesering itu kok.”

”Apanya yang nggak—” Jason sudah mau protes, tapi Sophie mencubitnya lagi untuk membuatnya berhenti bicara.

”Lo kelas berapa?” tanya Troy pada Jason. ”Kelas sembilan,” jawab Jason.

Troy mengangguk-angguk. ”Apa lo berniat masuk ke SMA Vilmaris?” tanyanya lagi. ”Karena kalau ya, gue bisa memberi pesan pada penerus gue nanti supaya merekrut lo jadi anggota geng.” ”Troy!” Aku memukul lengannya. ”Jangan ngajarin anak orang jadi nggak bener kayak lo, ah.”

Troy tampak keki karena kubilang begitu. ”Siapa bilang gue nggak bener?” sungutnya.

”Si Jason ini nasibnya bakal sama kayak gue,” kata Sophie. ”Kami diharuskan masuk ke SMA Emerald oleh ortu kami.”

”Tapi gue nggak mau kok,” kata Jason. ”Gue lagi berusaha membujuk Mama dan Papa supaya ngizinin gue nggak sekolah di sana.”

”Emangnya lo mau sekolah di mana?” tanya Sophie.

Jason mengangkat bahu. ”Nggak tahu,” katanya. ”Yang jelas, gue nggak mau satu sekolah sama lo.”

Sophie segera mencubitnya lagi, membuat Jason mengaduh-aduh meminta ampun. Jason hanya sebentar mengobrol dengan kami sebelum akhirnya kembali naik untuk menghindari siksaan Sophie.

”Sepertinya gue udah harus balik,” kata Troy setelah beberapa saat.

Sophie tampak kecewa. ”Secepat itu?”

”Gue udah hampir telat untuk kencan gue,” kata Troy, membuat wajah Sophie semakin sayu. ”Rumahnya jauh, jadi gue harus berangkat lebih awal.”

Aku merasa tidak perlu menghibur Sophie sebab dia sudah tahu kebiasaan Troy yang berkencan dengan banyak cewek. Asalkan dari banyak cewek itu tidak ada yang dianggap serius oleh Troy, Sophie akan baik-baik saja. Aku membiarkan Sophie yang mengantar Troy keluar.

Sekembalinya ke ruang tamu, dia tampak kebingungan. ”Kak Troy  ngucapin selamat bersenang-senang untuk

kita berdua,” katanya. ”Emangnya lo pakai alasan apa sama dia?”

”Gue bilang kita mau jalan-jalan,” jawabku.

”Oh, pantas aja,” kata Sophie. Dia duduk di sofa yang tadinya diduduki Troy. Wajahnya sudah kembali cerah. ”Gue nggak percaya Kak Troy ada di dalam rumah gue. Seharusnya tadi gue foto buat kenang-kenangan.”

”Mulai deh lebaynya,” gerutuku. ”Lo lupa ya kalau sekarang dia lagi pergi kencan?”

Habis sudah aku menjadi korban cubitan Sophie yang selanjutnya. ”Jangan ingetin gue soal itu,” omelnya. ”Mending sekarang lo pikirin kencan lo sendiri. Gimana? Udah siap?”

”Gue mulai deg-degan,” akuku.

Ya, semakin dekat waktu kencan, aku jadi semakin tegang. Aku tidak merasakan ini ketika kencan dengan Lionel dulu. Rasanya perutku mulai melilit dan aku memikirkan segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di kencanku dengan Austin.

”Dia beneran bakal datang nggak, ya?” tanyaku, takut kalau dia hanya membohongiku atau mendadak dia berubah pikiran.

”Lo harus berpikir positif,” Sophie memberi saran. ”Tapi gue takut semuanya jadi kacau,” kataku. ”Gue takut gue berbuat kesalahan, dan Austin nggak suka lagi sama gue.”

”Nah,” kata Sophie tiba-tiba. ”Lo yang bilang sendiri kalau Austin suka sama lo. Berarti sekarang lo udah yakin kan, sama perasaannya ke lo?”

Aku juga baru sadar aku mengatakan itu. ”Tadinya gue juga nggak mau semakin meninggikan harapan gue,” kataku. ”Tapi melihat sikapnya ke gue, rasanya sulit untuk mengingkarinya.”

”Terus kalau tiba-tiba dia ngajak lo jadian gimana?” ”Cepat banget!” protesku.

”Yeee... lo nggak sadar, ya? Segala sesuatu yang terjadi sama kalian berdua kan emang berlangsung dengan cepat,” jelas Sophie.

Ah...  benar  juga  katanya.  Tapi  kalau  tiba-tiba  Austin mengajakku jadian, aku akan... aku akan...

Aaahhh... bisa gila aku memikirkannya! Lebih baik aku fokus pada kencanku malam ini, tidak usah berpikir yang macam-macam dulu. Abaikan saja pertanyaan bodoh Sophie.

Ketika terdengar suara klakson mobil, aku mengintip lewat jendela dan melihat mobil Austin sudah terparkir di luar. Perasaanku langsung campur aduk—lega, senang, dan tegang bercampur menjadi satu, dan aku tidak tahu mana yang porsinya lebih besar. ”Good luck, ya!” Sophie menyemangati.

Aku memang berharap aku akan beruntung malam ini. Dengan dukungan dari Sophie, aku pun keluar dari rumah untuk menyambut Austin. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊