menu

Bad Boys Bab 04

Mode Malam
Bab 04

AUSTIN terlihat begitu menyeramkan. Aku saja sampai takut, padahal dia tidak sedang marah padaku.

”Berani-beraninya kalian gangguin Ivy!” gertak Austin dengan suara pelan tapi berbahaya.

”M-maaf,” kata si Rambut Kribo dengan takut-takut. ”Kami cuma iseng,” tambah si Kulit Hitam.

”Dan apa kalian pikir gue ngizinin kalian godain dia?” balas Austin.

Si Rambut Kribo dan si Kulit Hitam semakin mengkeret, apalagi ketika Austin mulai maju menghampiri mereka. Tinjunya sudah terangkat, siap mematahkan hidung dua cowok itu, tapi aku segera menahannya.

Austin langsung mengalihkan tatapannya padaku—tepatnya pada tanganku yang sedang memegang tangannya. Aku tahu dia tidak suka disentuh. Greta saja sudah diperingatkan berkali-kali olehnya. Tapi aku tidak menarik tanganku. Anehnya, dia juga tidak langsung mencampakkannya.

Tatapan Austin berpindah ke mataku. Baru kali ini aku menatapnya dalam jarak sedekat ini. Ohhh... dia ganteng sekali! Kenapa cowok seganteng dia harus sebrengsek ini?

Mungkin kami akan terus bertatapan kalau tidak sadar ada dua cowok tengil yang menjadi penonton kami. Aku melepaskan tanganku perlahan-lahan, dia pun kembali mengalihkan perhatiannya pada si Rambut Kribo dan si Kulit Hitam.

”Minta maaf sama Ivy!” perintahnya.

Si Rambut Kribo dan si Kulit Hitam langsung melakukannya. Setelah Austin mengizinkan mereka pergi, mereka langsung angkat kaki.

Austin menatapku. ”Seharusnya lo nggak membiarkan mereka gangguin lo kayak begitu.”

”Gue juga nggak pengen mereka gangguin gue,” kataku. ”Tapi kenapa lo peduli? Biasanya kan lo yang selalu gangguin gue.” ”Itu beda,” kata Austin. ”Cuma gue yang boleh gangguin lo. Lo kan milik gue.”

Apa? Miliknya, katanya?

”Gue bukan milik lo,” kilahku.

”Tapi gue menganggapnya begitu,” tandas Austin. Dia melihat ke sekeliling perpustakaan seakan baru sadar kami sedang berada di sini. ”Lo kenapa bisa ada di sini? Kenapa nggak ke kantin?”

”Gue lagi mau cari buku,” kataku beralasan. ”Lo sendiri kenapa ke sini?”

”Ada anggota geng gue yang ngelapor kalau dia ngelihat lo masuk ke sini,” jawab Austin. ”Jadi gue pikir lo mau sembunyi di sini.”

Tebakan yang tepat. Memang sulit kalau ingin melarikan diri dari Austin. Ada saja anggota gengnya yang berkeliaran dan menjadi mata-mata.

”Tapi apa lo benar-benar mau cari buku?” tanya Austin sambil melirik tanganku yang kosong. ”Gue lihat lo belum megang buku apa-apa.”’

”Bukunya nggak ada,” kataku, meskipun tidak ada buku yang sedang kucari. Semoga saja dia tidak bertanya dengan lebih mendetail tentang buku yang keberadaannya fiktif itu.

Austin menyipitkan mata ke arahku, lalu mendadak melangkah maju hingga tubuhnya berada sangat dekat denganku. Aku sampai bisa mencium aroma tubuhnya yang sangat maskulin. Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dengan refleks, aku pun menutup mataku.

Kukira dia ingin menciumku. Aku sudah menanti bibirnya mendarat di bibirku. Ketika tidak ada apa pun yang terjadi, aku kembali membuka mata. Kulihat Austin sedang menatapku dengan bingung.

”Kenapa lo tutup mata?” tanyanya heran.

Aku tidak bisa menjawab, tapi malah balik bertanya, ”K-kenapa lo mendekati gue begini?”

”Gue cuma mau ngambil benang di kemeja lo,” kata Austin. Dia menunjukkan sehelai benang kepadaku. ”Gue nggak suka melihat penampilan lo berantakan begitu.”

Ternyata dia bukan ingin menciumku. Aku hanya salah paham. Tapi kenapa aku jadi kecewa?

”Apa lo menutup mata karena menyangka gue akan mencium lo?” tanya Austin lagi.

Ya ampun, malu sekali! Aku mendorong tubuh Austin menjauh dariku dan segera berlari pergi. Tidak kupedulikan seruannya yang memintaku kembali.

Aku berlari sampai ke kelas, lalu duduk di sebelah Sophie. Aku menundukkan kepala dan memukul-mukulkan kening ke meja. Sophie sampai keheranan melihatku.

”Lo kenapa, Vy?” tanyanya. ”Gue malu banget,” gumamku.

”Malu kenapa?” tanya Sophie tidak mengerti. ”Kak Austin gangguin lo lagi ya? Lo gagal sembunyi di perpus?” ”Dia emang berhasil nemuin gue di perpus,” kataku. ”Tapi gue malu bukan karena itu.”

”Lantas?”

Aku mengangkat kepalaku. ”Tadi Kak Austin nyelametin gue dari dua cowok yang ngegangguin gue,” ceritaku. ”Terus dia ngedeketin gue. Gue pikir dia mau nyium gue. Gue sampai tutup mata, padahal dia cuma mau ngambil benang di kemeja gue.”

Sophie seperti ingin tertawa, tapi menahannya. ”Terus Kak Austin gimana?”

”Dia tahu gue nyangka dia mau nyium gue,” kataku. ”Makanya gue malu banget. Gue langsung lari tadi.”

”Kok lo bisa-bisanya sih nutup mata lo?” tanya Sophie. ”Itu kan berarti lo bersedia dicium dia.”

”Nggak tahu, gue nggak tahu,” kataku frustrasi. ”Kayaknya otak gue udah nggak beres.”

”Ya udah,” kata Sophie. ”Kalau lo ketemu dia lagi, lo pura-pura aja hal itu nggak pernah terjadi.”

”Tapi gimana caranya?”

”Lo bersikap cuek aja kayak biasanya,” saran Sophie.

Entah aku bisa melakukannya atau tidak, tapi sepertinya aku harus mencobanya. Aku tidak ingin Austin tahu betapa malunya diriku.

*** ”Ivy, kita sudah sampai.” Suara Lionel sayup-sayup masuk ke pendengaranku. Sedari tadi aku melamun di atas motor. Aku baru sadar motornya sudah berhenti di depan rumah.

Aku turun dari atas motor. Tadi aku sedang melamunkan Austin dan kejadian memalukan yang kualami bersamanya.

”Kenapa kamu diam aja?” tanya Lionel perhatian. ”Nggak apa-apa,” dustaku.

Sepertinya Lionel tahu aku sedang berbohong. Dia tersenyum, lalu menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Sebuah tindakan kecil dari Lionel itu langsung membuat jantungku jungkir balik. Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini?

”Kamu bisa cerita sama aku kalau memang sedang ada masalah,” kata Lionel lembut. ”Aku akan membantumu sebisaku.”

”B-benar, n-nggak apa-apa,” gagapku. Aku buru-buru berterima kasih padanya dan pamit masuk ke rumah.

Aduuuhhh... belum selesai masalahku dengan Austin, kini ditambah dengan Lionel. Kenapa dua cowok itu sepertinya sengaja membuat perasaanku kalang kabut begini? Mereka terus ada di pikiranku sampai waktu makan malam tiba. Aku hanya makan berdua Troy karena Mama dan Papa sedang pergi. Aku mengaduk-aduk nasiku dengan tidak bersemangat. Sepertinya aku sedang kehilangan

nafsu makan yang biasanya membludak. ”Woi, itu nasi dimakan dong, jangan cuma diaduk-aduk,” ucap Troy.

Aku menghela napas. ”Lagi nggak kepingin makan,” gumamku.

”Kenapa? Lagi diet?” tebak Troy.

Aku tidak menanggapinya. Sebenarnya Austin dan Lionel-lah yang telah menyita perhatianku dari makanan. Tapi dibanding Lionel, porsi Austin di pikiranku lebih banyak.

”Troy,” panggilku. Aku memutuskan untuk meminta sarannya, tapi tanpa menyebut-nyebut nama Austin. ”Pernah nggak ada cewek yang salah paham mengira lo mau nyium dia?”

Troy berpikir sejenak. ”Nggak ada,” sahutnya. ”Karena kalau gue mau nyium mereka, ya pasti gue cium. Kalau nggak, gue bahkan nggak akan mau dekat-dekat mereka. Habis mereka itu rata-rata hobinya nempel ke gue kayak magnet.”

Austin tadi mendekatiku, kan? Berarti bukan salahku kan kalau aku menyangka dia mau menciumku?

”Tapi kenapa lo nanya soal ciuman?” tanya Troy tiba-tiba. Pandangannya menyelidik. ”Apa ada cowok yang berniat nyium lo?”

”Nggak ada kok,” jawabku buru-buru.

”Beneran?” kejar Troy. ”Kalau sampai ada, lo bilang aja ke gue, biar nanti gue gunting bibirnya.”

Bagaimana mungkin aku bilang padanya kalau belum apa-apa dia sudah mengancam akan menggunting bibir anak orang? Lebih baik aku tidak usah mengungkit-ungkit soal ciuman lagi.

Meskipun Sophie menyarankan agar aku bersikap cuek di depan Austin, pada kenyataannya sangat sulit bagiku bisa melakukan itu. Ketika bertemu Austin, wajahku menjadi merah padam dengan sendirinya.

Austin pun terlihat tidak nyaman. Di kantin, dia bahkan tidak menyentuh makanannya, padahal makanan itu sudah berada di depannya cukup lama. Dia hanya mengamatiku, sementara aku hanya menunduk memandangi tanganku.

”Ivy,” katanya akhirnya. ”Gue mau ngomong sama lo.” Aku mengangkat kepalaku. ”Ngomong aja,” kataku. ”Gue nggak mau kejadian di perpus kemarin terulang

lagi,” kata Austin. ”Gue nggak mau lo berpikir kalau gue memiliki perasaan sama lo sampai-sampai gue akan mencium lo.”

Lagi-lagi wajahku memerah. ”Gue nggak berpikir begitu kok,” elakku. ”Jangan khawatir, hal itu nggak akan terulang lagi.”

Austin masih belum terlihat puas. ”Apa lo benar-benar berpikir gue akan mencium lo kemarin?” tanyanya penasaran. Sejak kemarin aku belum menjawab pertanyaannya itu.

Aku memutuskan untuk jujur. ”Sejujurnya emang iya,” aku mengakui. ”Habis lo tiba-tiba ngedeketin gue. Gue mana tahu kalau itu ternyata karena ada benang di kemeja gue.”

”Seandainya gue benar-benar nyium lo, apa lo akan balas nyium gue?”

Pertanyaan macam apa itu? Mulutku hanya menganga karena aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

”Gue nanya begitu karena kemarin lo nutup mata lo,” jelas Austin. ”Lo pasti nggak akan melakukannya kan, kalau lo nggak mau gue cium?”

Terbakar sudah mukaku ini. Rasanya yang ingin kulakukan sekarang hanyalah ngumpet di kolong meja saking malunya. Untung saja David datang dan menginterupsi kami.

”Dennis sama Ruben berantem di kelas,” lapornya.

Austin mengangguk. Kepadaku dia berkata, ”Tunggu di sini.”

Aku memperhatikan dia pergi dari kantin bersama David. Sebenarnya aku juga ingin kabur, tapi aku memutuskan tetap menunggu dan menyelesaikan pembicaraanku dengannya.

Greta tiba-tiba saja muncul dan duduk di bangku Austin. ”Kelihatannya lo lagi terlibat pembicaraan serius dengan Austin,” katanya.

”Emang,” tanggapku. ”Tapi gue nggak akan kasih tahu lo.”

Greta terlihat sangat penasaran dan itu membuatku puas. Biar saja dia menebak-nebak sendiri apa yang sedang kubicarakan dengan Austin.

”Kayaknya lo nggak keberatan dijadiin pesuruh sama Austin,” komentarnya. ”Jangan-jangan lo malah keasyikan.” ”Emangnya lo pikir asyik apa dijadiin pesuruh?” gerutu-

ku.

”Tapi seenggaknya kan lo bisa dekat-dekat Austin terus,” kata Greta.

”Lo gantiin aja tempat gue kalau lo mau,” kataku. ”Gue dengan senang hati kok akan menyerahkannya ke lo.”

Greta tertarik. ”Lo pikir, Austin bakalan ngizinin nggak?” Aku mengernyit. Ternyata ada juga yang rela menjadi pesuruh Austin hanya supaya bisa terus berdekatan de-

ngannya.

Sembari berbicara, tangan Greta dengan iseng mengaduk-aduk soto ayam Austin. Aku sengaja mendiamkannya. Dia tidak tahu dia akan berada dalam masalah kalau Austin sampai melihatnya.

Benar saja. Austin kembali lebih cepat dan dia sampai terpana ketika melihat makanannya disentuh Greta.

”SIAPA YANG NGIZININ LO NYENTUH MAKANAN

GUE?!” raungnya marah.

Greta kaget sekali. Dia sampai terlompat berdiri dari bangku dan dengan wajah takut menatap Austin.

”G-gue pikir lo nggak mau makan,” katanya. Lalu dia menunjukku. ”Ivy nggak bilang kalau makanan lo nggak boleh disentuh.” Lho, kenapa dia malah membawa-bawa namaku? Austin segera mengusir Greta dan menyuruhku membeli makanan yang baru. Aku pun menurutinya. Setelah aku menghidangkan makanan kembali, barulah dia mulai makan.

Dia tidak lagi mengungkit soal kejadian di perpustakaan kemarin. Mungkin dia menganggap pembicaraan kami itu sudah selesai. Ada bagusnya juga, aku tidak perlu ngumpet di kolong meja lagi.

”Kak Dennis sama Kak Ruben berantem kenapa?” tanyaku memulai topik baru.

Austin berhenti mengunyah. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan bertanya soal itu.

”Dennis dapat sontekan pas ulangan, tapi dia nggak ngasih Ruben,” jawabnya. ”Ruben nggak senang, jadi dia mengonfrontasi Dennis dan mereka malah berantem.”

Aku berdecak. ”Kirain kenapa,” gumamku. ”Kenapa lo nanyain mereka?” tanya Austin.

”Sekarang kan mereka teman-teman gue juga,” jawabku. ”Gue selalu memesankan makanan untuk mereka saat istirahat, sampai-sampai gue hafal kalau Kak Dennis suka roti cokelat dan Kak Ruben suka batagor. Mereka nggak pernah ganti menu.”

”Gue nggak tahu lo menganggap anggota geng gue sebagai teman,” kata Austin.

Aku menoleh ke anggota geng Austin yang sedang asyik makan. ”Beberapa dari mereka lumayan menyenangkan,” kataku. ”Mereka memang menyenangkan,” Austin menyetujuinya.

Aku kembali berpaling pada Austin. ”Udah berapa lama lo temenan sama mereka?” tanyaku.

”Dari kelas sepuluh,” jawab Austin. ”Kami sama-sama dilatih untuk jadi anggota geng sekolah ini.”

”Gue kurang begitu ngerti sistemnya,” kataku. ”Jadi kalian baru boleh jadi anggota geng pada saat kelas dua belas?”

”Ada juga yang dari kelas sebelas,” kata Austin. ”Contohnya ya gue sama David. Tapi saat itu posisi kami baru sebagai anggota. Waktu kami naik ke kelas dua belas, baru kami diangkat jadi ketua dan wakil ketua karena yang sebelumnya udah lulus.”

Sepertinya sistemnya sama seperti di SMA Vilmaris. Troy dan Lionel juga sudah bergabung sebagai anggota geng sejak mereka kelas sebelas. Mereka juga baru diangkat sebagai ketua dan wakil ketua di kelas dua belas.

”Apa sih yang bikin lo tertarik bergabung dalam geng seperti ini?”

”Karena gue bisa melindungi sekolah ini,” jawab Austin, ”dan gue juga suka kalau punya kekuasaan.”

Aku bisa melihat itu. Aku tidak tahu apakah dia memang benar-benar melindungi sekolah ini, tapi yang jelas dia memang suka pamer kekuasaan.

”Apa mereka ngeganggu lo lagi?” tanya Austin tibatiba. Mulanya aku tidak menangkap siapa yang dia maksud, tapi lalu aku tahu. ”Maksud lo si Rambut Kribo dan si Kulit Hitam?”

Austin tercengang, kemudian tertawa—benar-benar tertawa lepas. Baru kali ini aku melihatnya tertawa seperti itu. Giliran diriku yang dibuat tercengang olehnya.

Austin tampaknya sadar dia telah melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Dia berdeham dan berusaha menetralkan wajah.

”Kenapa lo manggil mereka begitu?”

”Habis gue nggak tahu nama mereka,” kataku. ”Dan untuk menjawab pertanyaan lo tadi—nggak—mereka nggak pernah gangguin gue lagi. Mungkin mereka takut sama lo.”

”Ya jelas lah...,” kata Austin menyombong.

Aku mendengus. ”Apa hobi lo emang membuat orang takut?”

”Yup,” sahut Austin. ”Itu menguntungkan gue, karena dengan begitu mereka jadi hormat sama gue.”

Dia memang gila hormat, tapi sayangnya dia memakai cara yang salah untuk membuat orang hormat padanya.

Melihat mood Austin yang sedang bagus, aku berpikir mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya padanya kapan hukumanku akan berakhir. Dia mungkin akan berbaik hati padaku.

”Mmm... Kak Austin,” mulaiku. ”Sebenarnya sampai kapan lo mau menjadikan gue sebagai pesuruh?” Austin tidak langsung menjawab. ”Belum tahu,” katanya akhirnya. ”Kenapa? Lo udah nggak betah bareng gue terus?”

”Bukan soal nggak betah,” kataku. ”Tapi kan gue nggak mungkin terus-terusan begini. Bisa suram dong masa SMA gue.”

”Kalau gue udah lulus, kan lo juga bakal bebas.” ”Tetap aja, itu kan masih lama,” tukasku.

”Kalau lo mau bebas dari hukuman, tentu aja akan ada konsekuensinya,” kata Austin.

”Konsekuensi apa?” tanyaku takut-takut.

”Itu yang masih gue pikirin,” jawab Austin. ”Akan gue kasih tahu secepatnya setelah gue dapat jawabannya.”

Aku curiga dia tidak akan benar-benar membebaskanku. Mungkin dia tidak akan menjadikanku sebagai pesuruhnya lagi, tapi sebagai gantinya, pasti ada sesuatu tidak menyenangkan yang direncanakannya.

***

Untuk kencan kami yang kedua, Lionel mengajakku ke kedai bakso yang terkenal. Kedai itu selalu ramai karena rasa baksonya yang enak. Meskipun harus makan di tempat yang panas dan sesak, kami tidak terlalu keberatan.

Untungnya kami berhasil mendapatkan meja yang berada di dekat kipas angin, sehingga kami tidak terlalu kepanasan. Suara bising orang-orang mengobrol terdengar di sekitar kami, sementara kami duduk sambil menikmati bakso.

Aku yang dengan soknya memasukkan banyak sambal ke baksoku akhirnya mulai kepedasan. Hidungku berair dan air mataku juga sampai keluar.

”Vy, kok nangis?” tanya Lionel tiba-tiba. Entah dia meledekku atau menyangka aku sungguh-sungguh menangis.

”Pedes banget,” keluhku sambil menghapus air mataku.

”Mau aku pesenin minum lagi?” tawar Lionel saat melihat es tehku tinggal sedikit.

Aku mengangguk. Lionel pun memanggil pelayan. Berbeda denganku yang sedang megap-megap karena lidahku terbakar sambal, Lionel justru tetap terlihat tenang.

”Kamu nggak pakai sambal, ya?” tuduhku. Aku memang tidak memperhatikannya tadi.

”Pakai kok,” sahut Lionel. ”Tapi ya nggak sebanyak kamu.

Hati-hati lho, nanti sakit perut.”

”Telat kamu ngomongnya,” gerutuku.

Lionel tertawa. ”Kamu lucu kalau lagi makan,” komentarnya. ”Dari tadi aku ngelihatin kamu, kayaknya kamu seru sendiri.”

”Aku emang nggak bisa diganggu kalau lagi makan,” kataku.

Selama beberapa saat kami kembali sibuk berkutat untuk menghabiskan bakso kami. Namun tiba-tiba saja, Lionel mengatakan sesuatu yang membuatku nyaris tersedak.

”Rasanya aku ingin begini terus sama kamu,” gumamnya.

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, jadi kuminum saja es tehku untuk menutupi salah tingkah. Tapi sepertinya Lionel tidak menyadarinya karena dia terus saja berbicara.

”Aku benar-benar menikmati setiap waktu yang kita lalui bersama,” lanjutnya. ”Aku nggak ingin ini berakhir.”

Oke, es teh di gelas pertama sudah habis kuminum. Saatnya minum gelas kedua. Kuharap sebelum es tehku yang kedua habis, dia sudah berhenti membuatku salah tingkah.

”Vy, mungkin sebenarnya aku suka sama kamu.”

Dari mulutku, menyemburlah es teh yang sedang kuminum. Semburannya memang tidak mengenai Lionel, tapi tetap saja membuatnya kaget.

”Vy, kamu nggak apa-apa?” tanyanya.

Aku buru-buru mengambil tisu dan mengelap mulut. ”Ng-nggak apa-apa kok,” sahutku. ”C-cuma kaget.”

”Sori,” kata Lionel sungkan. ”Aku nggak ada maksud apaapa. Aku cuma ingin mengutarakan perasaanku aja.”

Aku mengangguk-angguk tidak jelas dan berdiri. ”Aku mau ke toilet dulu,” gumamku sambil kabur dari hadapannya. Di toilet, aku mencuci mukaku—berharap air juga bisa menyegarkan otakku. Apa yang baru saja terjadi? Apa Lionel benar-benar mengutarakan perasaannya padaku? Aku tidak pernah tahu kalau Lionel menyukaiku. Menduganya, mungkin, tapi aku tidak menyangka itu sungguhan.

Aku berusaha meredakan debaran jantungku. Jika aku memang menyukainya, bukankah seharusnya aku senang karena dia juga memiliki perasaan yang sama padaku? Tapi kenapa aku justru merasa takut dan ingin mundur?

Aku benar-benar tidak mengerti. Baru pertama kali aku mengalami hal ini. Ingin rasanya aku menelepon Sophie untuk meminta saran, tapi aku tidak ingin membuat Lionel menunggu terlalu lama.

Aku kembali pada Lionel dan melihat sikapnya sudah tidak setenang tadi. Jelas dia gugup karena kini aku sudah mengetahui perasaannya. Aku berusaha tersenyum padanya, meskipun sebenarnya aku sama gugupnya dengannya.

”Ayo kita habisin baksonya,” ajakku.

Bakso yang kumakan rasanya sudah tidak seenak tadi. Lidahku juga seakan mati rasa. Setelah menghabiskan bakso, kami pun langsung pulang.

Aku memutuskan untuk menunggu hingga pagi tiba agar bisa berbicara pada Sophie secara langsung. Lionel masih mengantarku ke sekolah, tapi kami hanya bicara seperlunya. Aku masih sempat membawakan tas Austin sebelum masuk ke kelas. Untung Sophie sudah datang. Aku pun langsung mengeluarkan seluruh unek-unekku padanya.

”Nggak heran sih mendengar Kak Lionel suka sama lo,” kata Sophie. ”Gue udah menduganya dari dulu. Meskipun gue jarang ketemu dia, gue bisa lihat ada cinta di matanya setiap kali dia memandang lo.”

”Kok lo nggak bilang sama gue?” protesku.

”Gue nggak mau bikin lo ge-er sebelum gue tahu pasti,” kata Sophie. ”Lagi pula gue kira lo juga udah tahu.”

”Gue cuma menebak-nebak aja sih,” gumamku.

”Nah, sekarang masalahnya, gimana dengan lo sendiri?” tanya Sophie. ”Apa lo juga suka sama dia?”

Aku mendesah. ”Itu yang bikin gue bingung,” keluhku. ”Gue masih belum yakin sama perasaan gue ke dia.”

”Apa yang lo rasain saat tahu dia suka sama lo?” ”Takut,” aku mengakui.

”Takut karena lo belum siap pacaran dengannya, atau takut karena lo harus nolak dia?”

Aku  memikirkan  pertanyaan  Sophie.  Mendadak,  aku tahu jawabannya. Ya, sekarang aku mengerti alasan di balik rasa takutku. Itu bukan karena aku belum siap pacaran dengan Lionel. Aku memang menyukainya, tapi sepertinya perasaanku padanya hanyalah sebatas teman. Jadi, sebenarnya aku takut karena aku tidak tahu bagaimana harus menolak tanpa kehilangan dia sebagai teman. ”Sepertinya lo udah bisa menyimpulkan sendiri,” komentar Sophie saat melihat ekspresi wajahku.

”Gue ingin terus berteman dengan dia,” kataku. ”Tapi gimana dengan perasaannya ke gue?”

”Biar Kak Lionel yang memikirkan perasaannya sendiri,” kata Sophie. ”Lagi pula kan lo nggak bisa mengatur perasaannya.”

”Gue cuma nggak mau menyakiti hatinya,” gumamku. ”Gue tahu,” kata Sophie mengerti. ”Tapi itu bukan berarti

lo harus memaksakan diri untuk menyukainya, kan?” Sophie benar. Betapa pun aku tidak ingin menyakiti hati

Lionel, aku juga tidak bisa memaksakan perasaanku sendiri.

”Lalu apa yang harus gue lakukan sekarang?”

”Ya tetap berteman dengannya,” jawab Sophie. ”Dia juga nggak meminta lo jadi pacarnya, kan? Cuma nyatain perasaannya, kan?”

Aku mengangguk.

”Jadi gampang lah,” kata Sophie. ”Lo juga nggak perlu capek-capek mikir gimana harus nolak dia. Selama lo tetap bersikap layaknya seorang teman dan nggak ngasih dia harapan, dia bakal menyadarinya sendiri kok.”

Kuharap aku memang tidak perlu menolaknya. Kalau Lionel bisa menyadari sendiri bahwa aku hanya ingin berteman dengannya, itu akan lebih bagus.

”Tapi gue penasaran, Vy,” kata Sophie tiba-tiba. ”Apa nggak ada alasan lain kenapa lo nggak bisa nerima Lionel, selain karena lo hanya menganggapnya sebagai teman?”

”Apa memang perlu ada alasan lain?” aku balik bertanya.

”Siapa tahu aja ada,” kata Sophie. ”Misalnya, ada cowok lain yang lo suka, gitu?”

Pada detik yang sama Sophie menanyakan itu, pikiranku langsung lari ke sosok Austin. Aku sampai harus menggeleng untuk mengusir bayangannya.

”Benar ada, ya?” tanya Sophie kaget begitu melihatku terdiam.

Aku ragu apakah aku harus jujur pada Sophie atau tidak. Tapi mungkin aku bisa meminta saran Sophie terkait Austin juga.

”Sejujurnya,” mulaiku, ”memang ada cowok lain yang akhir-akhir ini selalu mengisi pikiran gue.”

Sophie langsung memasang telinga lebar-lebar. ”Siapa?”

Aku mulai memainkan ritsleting tas dengan gugup—membuka, menutup, kemudian membukanya kembali. Sophie sampai jengah dan menarik tas dari pangkuanku.

”Siapa?” ulangnya.

Sulit sekali untuk menjawabnya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, ”Kak Austin.”

”APA?! KAK AUSTIN?!” Suara Sophie menggelegar di seantero kelas. Beberapa teman sekelas kami mengira Austin datang, dan mereka sampai berpaling ke arah pintu. Para cewek memasang tampang berharap, sedangkan para cowok memasang tampang siap kabur seakan mereka telah berbuat kesalahan dan takut Austin datang untuk mengebiri mereka.

Aku memelototi Sophie untuk memperingatkannya. Dia justru hanya cengengesan tanpa rasa bersalah.

”Bukan Kak Austin Allen kok,” dustanya pada temanteman sekelas kami.

Desahan kecewa dari cewek-cewek terdengar bercampur dengan desahan lega dari cowok-cowok. Aku menunggu hingga perhatian mereka telah teralih dari kami, baru kemudian melanjutkan pembicaraanku dengan Sophie.

”Ntar gue suruh Troy buat gunting bibir lo nih,” kataku kesal pada Sophie. ”Kebetulan dia lagi gatal mau gunting bibir orang.”

”Bibir gue mah bukan buat digunting, tapi buat dicium Kak Troy,” kata Sophie sambil sengaja memonyongmonyongkan bibir.

Aku menarik bibirnya dan membuatnya mengaduh, lalu kami tertawa bersama-sama. Memang sulit marah berlamalama pada Sophie.

”Tapi serius deh, Vy,” kata Sophie setelah kami selesai tertawa. ”Kak Austin? Lo suka sama dia?”

”Bukannya suka sih,” elakku. ”Tapi nggak tahu deh. Gue cuma sering mikirin dia aja akhir-akhir ini.” ”Sejak kejadian di perpus itu?” tebak Sophie.

”Iya,” anggukku. ”Gue berpikir, aneh aja waktu itu gue merasa kecewa karena ternyata dia nggak mau nyium gue.”

”Menurut gue nggak aneh,” kata Sophie. ”Lo kecewa karena berharap dia beneran nyium lo. Kenapa lo berharap begitu? Ya jelas karena lo suka sama dia.”

”Tapi kalau benar begitu, berarti gue udah suka dia dari sebelumnya,” kataku. ”Saat itu kan gue lagi benci-bencinya sama dia karena udah menjadikan gue pesuruhnya.”

”Apa lo pikir perasaan benci itu nggak bisa berubah jadi cinta?”

”Memang bisa,” kataku. ”Tapi nggak secepat itu juga.” ”Justru karena perubahan itu berlangsung dengan cepat,

lo nggak tahu kapan perasaan benci lo berakhir, dan kapan perasaan cinta lo dimulai,” kata Sophie. ”Mungkin karena lo sering bareng dia, lo jadi lebih mengenal dia dan itu membuat lo jadi suka sama dia.”

Benarkah itu? Benarkah aku menyukai Austin? Dia kan cowok yang sangat kubenci, yang tega menjadikanku pesuruhnya dan memperlakukanku seenaknya. Masa sih aku lebih memilih untuk menyukainya dibandingkan Lionel?

Aku mengenal Lionel sejak aku kelas lima, karena dia juga satu SMP dengan Troy dan sering main ke rumah. Walaupun bertahun-tahun mengenalnya, aku tidak bisa menyukainya lebih dari sekadar teman. Sedangkan aku baru mengenal Austin sekitar dua minggu ini, tapi aku justru menyukainya. Itu benar-benar tidak masuk akal.

Aku menoleh pada Sophie dengan gamang. ”Gue nggak boleh suka sama Kak Austin,” kataku. ”Itu nggak boleh terjadi.”

”Kenapa nggak boleh?” tanya Sophie.

Aku tidak percaya Sophie menanyakan itu. Mungkin dia hanya pura-pura bodoh karena aku yakin dia tahu jelas alasannya.

”Dia kan nggak suka sama gue,” jawabku. ”Dia cuma menganggap gue sebagai pesuruhnya. Ditambah lagi, setahu dia, gue ini pacar Kak Lionel.”

”Jadi lo merasa nggak boleh suka sama dia karena lo tahu lo cuma akan patah hati?” tebak Sophie.

”Jelas, kan?” balasku. ”Kalaupun gue beneran suka sama dia, perasaan gue itu nggak akan berbalas.”

”Jangan sok tahu, ah,” tukas Sophie. ”Dari mana lo tahu perasaan lo nggak akan berbalas? Emangnya lo yakin dia nggak suka sama lo? Itu kan tebakan lo aja.”

”Tapi  itu  kan  jelas  terlihat,  Soph,”  kataku  membela diri.

”Kata siapa? Gue nggak melihatnya seperti itu tuh,” kata Sophie santai. ”Lo aja bisa suka sama dia meskipun dia jahat sama lo. Apa lo pikir hal yang sama nggak bisa terjadi sama dia?”

Kemungkinan Austin menyukaiku membuat harapanku membubung tinggi. Hal itu membuatku tidak bisa lagi menyangkal perasaan sukaku padanya. Perasaanku memang tumbuh dengan cepat, sekaligus dalam kondisi yang aneh, tapi itu terjadi.

”Selamat ya, Vy,” kata Sophie menggodaku, karena tanpa sadar aku senyam-senyum sendiri.

Aku jadi malu. ”Kenapa lo kasih selamat ke gue?” ”Habis akhirnya ada juga cowok yang lo suka,” kata So-

phie. ”Selama ini kan cuma gue yang heboh sama perasaan gue ke Kak Troy.”

Aduh... Troy. Apa yang akan dilakukannya kalau dia tahu aku menyukai Austin? Bodo, ah. Biar kupikirkan nanti saja.

Ketika aku mendatangi Austin di kantin pada jam istirahat, tidak seperti biasa jantungku berdebar-debar dengan keras. Semoga saja Austin tidak menyadari perubahan sikapku.

”Ivy,” kata Austin tiba-tiba setelah aku meletakkan makanan pesanannya di hadapannya. ”Gue udah memikirkan soal konsekuensi yang gue omongin ke lo kemarin.”

Barulah aku benar-benar menatapnya, setelah sebelumnya aku hanya melirik-lirik dengan muka bersemu merah. Dia memang bilang akan memberitahuku secepatnya soal konsekuensi itu, tapi tidak kusangka secepat ini.

”Kalau lo emang mau terbebas dari hukuman lo, lo harus melakukan satu hal,” ujar Austin. ”Melakukan apa?” tanyaku waswas.

Austin diam sejenak, kemudian berkata, ”Gue mau lo mengakhiri hubungan lo sama Lionel.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊