menu

Bad Boys Bab 03

Mode Malam
Bab 03

ANCAMAN Austin sedikit membuatku keder, sebab aku tahu dia selalu serius dengan kata-katanya. Buktinya, dia benar-benar mengawasiku setelah dia mengatakan akan melakukannya.

Tapi bagaimana dia akan membuatku menyesal? Apa dia akan terus menggunakanku sebagai tamengnya setiap kali dia berhadapan dengan Lionel?

Sophie membukakan pintu gerbang setelah aku memencet bel. Dia mengundangku masuk meskipun kebingungan melihatku datang. Aku harus menjelaskan padanya apa yang sudah terjadi. ”Kak Austin menggunakan gue untuk mengancam Kak Lionel,” kataku begitu kami sudah di ruang tamu. ”Gue terpaksa ke sini karena dia ngotot pengen ngantar gue pulang.”

”Emangnya dia tahu di mana rumah Kak Troy?”

Aku mengangkat bahu. ”Gue tetap harus berjaga-jaga,” kataku. ”Kan bisa gawat kalau ternyata dia tahu dan dia ngantar gue ke sana. Sia-sia aja kebohongan gue sama Kak Lionel.”

Adik Sophie yang bernama Jason tiba-tiba menuruni tangga. Dia hanya setahun lebih muda dari kami, tapi wajahnya imut-imut seperti bayi. Dia selalu marah setiap kali disebut imut, tapi kami sangat suka mengganggunya. Dia menyapaku sekilas dan segera bergegas ke dapur.

Terdengar suara kompor dinyalakan. Dia dan Sophie memang biasa memasak sendiri karena kedua orangtua mereka selalu bekerja sampai malam sehingga di rumah mereka sering tidak ada makanan.

”Eh, Vy,” kata Sophie tiba-tiba. Matanya berbinar-binar seakan baru mendapatkan ide bagus. ”Lo mau pulang sekarang?”

”Kenapa? Lo mau ngusir gue?” tanyaku keki. ”Bukaaan,” jawab Sophie. ”Kalau lo mau pulang, biar gue

yang ngantar. Kasihan kalau lo pulang sendirian.”

Aku tahu apa tujuannya yang sebenarnya. ”Lo mau ke rumah gue supaya bisa lihat Troy, kan?” tebakku.

Sophie nyengir. ”Tahu aja lo.” Aku menggetok pelan kepalanya. ”Pakai acara bilang kasihan sama gue, lagi,” gerutuku.

”Gue emang kasihan sama lo kok,” kata Sophie tidak meyakinkan. ”Tapi, Troy ada di rumah kan sekarang?”

”Mana gue tahu,” sahutku. ”Mungkin dia ada di rumah, mungkin juga nggak. Tuh anak kan kalau kelayapan suka nggak jelas waktunya.”

”Semoga dia ada di rumah,” harap Sophie. ”Ayo, Vy, gue antar lo pulang sekarang.”

”Ogah ah. Gue mau istirahat dulu,” protesku.

Sophie tetap menyeretku dari sofa. ”Kalau mau istirahat, di rumah lo aja,” katanya. Kepada Jason, dia berseru, ”Jason, gue antar Ivy pulang dulu ya!”

”Lama, nggak?” Jason balas berseru dari dapur. ”Tergantung ada Kak Troy atau nggak,” sahut Sophie.

Dia mengajakku ke luar rumah dan menyerahkan sebuah helm padaku, sementara dia sibuk mengeluarkan Yamaha Mio pink dari carport.

Aku naik ke motor, dan Sophie segera mengemudikannya ke rumahku. Sepanjang perjalanan dia terus berceloteh, terutama mengenai Troy. Aku hanya menanggapinya sesekali.

Betapa senangnya Sophie saat melihat mobil Troy terparkir di depan rumah. Dia menghentikan motor di dekat mobil Troy. Aku membuka pintu gerbang dan mengajaknya masuk.

Mungkin ini memang hari keberuntungan Sophie. Kami   cewek-cewek untuk menggambarkan Troy. Tapi karena aku adiknya, tentu saja aku tidak pernah menganggapnya begitu.

Sophie pertama kali bertemu Troy ketika kami masih kelas tujuh. Saat itu aku mengajaknya main ke rumah. Dia pun jatuh cinta pada pandangan pertama pada Troy. Tapi malang bagi Sophie, sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan. Troy sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia memiliki perasaan yang sama dengannya.

Ketika Sophie mendengar suara mobil Troy dinyalakan, dia bertanya, ”Troy mau pergi ke mana?”

”Nggak tahu,” jawabku. ”Mungkin mau nge-gym.”

Sophie mengangguk-angguk setuju. ”Dia memang harus mempertahankan keseksiannya,” katanya, lagi-lagi membuatku bergidik. ”Ya udah deh, gue mau pulang. Kasihan Jason sendirian di rumah.”

Sekarang Jason yang dikasihaninya. Aku melempar bantal ke mukanya dengan gemas. ”Giliran Troy pergi, lo langsung buru-buru mau pulang.”

”Habis nggak seru kalau nggak ada Kak Troy,” kata Sophie.

Aku mengantarnya kembali ke pintu gerbang. Dia naik ke motor dan melambaikan tangan padaku sebelum berlalu dari rumahku. Ketika aku masuk kembali ke kamar, SHINee sedang bernyanyi. Aku mengambil ponsel dan melihat Lionel yang meneleponku. ”Ivy?” serunya begitu aku mengangkat telepon. ”Kamu di mana?”

”Aku udah di rumah kok,” jawabku.

Lionel mendesah lega. ”Austin nggak ngapa-ngapain kamu, kan?” tanyanya.

Aku tersenyum mendengar nada khawatir dalam suaranya. Dia benar-benar peduli padaku. Kalau tidak, dia tidak akan meneleponku sekarang.

”Dia nggak ngapa-ngapain aku kok,” aku menenangkannya. ”Dia juga nggak tahu aku serumah dengan Troy. Dia mengantarku ke rumah Sophie.”

”Jadi dia taunya rumah Sophie itu rumah kamu?” ”Iya,” jawabku.

”Ide kamu bagus,” pujinya. ”Pastikan aja Sophie tahu tentang itu, jadi kalau sewaktu-waktu Austin datang ke sana, dia bisa bersiap-siap.”

”Sophie udah tahu kok,” kataku. Lalu aku teringat, aku belum meminta maaf padanya atas apa yang terjadi hari ini. ”Kak, maaf ya, aku terpaksa menyuruhmu datang ke Kafe Pandora.”

”Nggak usah dipikirin,” kata Lionel. ”Aku ngerti kamu melakukannya karena disuruh Austin.”

”Dia benar-benar membuatku kesal,” gerutuku.

Lionel mengembuskan napas. ”Aku tahu,” katanya. ”Aku juga sudah lama dibuat kesal olehnya. Aku sangat ingin melindungimu darinya selama di sekolah.” ”Kamu udah melakukan sebisamu,” kataku. ”Lagi pula itu kan emang bukan tugas kamu.”

”Aku kan pacar pura-puramu sekarang,” kata Lionel. ”Jadi itu tugasku. Aku juga udah berjanji pada Troy kalau aku akan membantunya menjagamu.”

Hatiku menghangat mendengar kata-katanya. Rasanya seperti dia pacar sungguhan. Kami masih berbicara selama beberapa menit setelahnya, lalu aku pun menutup telepon. Aku bagaikan berada di awang-awang. Lionel memang selalu tahu bagaimana membuatku senang.

Tapi kesenanganku diganggu oleh suara perut yang keroncongan. Aku baru ingat bahwa aku sudah kelaparan sedari tadi. Segera kutinggalkan kamar untuk berburu makanan di dapur.

***

Aku berpamitan pada Lionel dan berjalan memasuki gerbang sekolah. Mulanya aku mengira aku sudah terbebas dari gangguan Austin. Tapi aku sadar dugaan itu salah ketika kulihat Austin sedang duduk di bangku panjang yang berada tidak jauh dari pintu gerbang. Lagaknya seolah-olah dia pemilik sekolah.

Dia memberi isyarat padaku agar mendatanginya. Sambil berpikir apa lagi yang diinginkannya, aku pun berjalan ke arahnya. Dia segera berdiri begitu aku tiba di hadapannya dan melempar tas padaku. ”Bawain itu ke kelas gue,” katanya dengan nada memerintah.

Aku hanya bisa bengong karena tiba-tiba ditimpuk tas. Apa-apaan sih dia? Kenapa seenaknya menyuruhku membawakan tasnya?

”Cepat jalan!” perintahnya. ”Atau lo mau, gue pukulin tuh pacar lo?”

Selalu saja itu ancamannya. Aku melotot dan mulai berjalan.

”Hei!” seru Austin. ”Lo melototin gue ya?”

Ya jelas aku memelototinya. Tapi kalau aku mengakuinya, sama saja aku cari mati.

”Nggak kok. Mata gue kelilipan,” ujarku ketus. Austin udah kelewatan. Tidak ada deh panggilan ”Kak” untuknya. Aku ber-”gue-elo” aja padanya. Bodo amat kalau dia menganggapku tak menghormati kakak kelas.

”Mana ada orang yang kelilipan malah melotot begitu,” sergah Austin.

Aku memutuskan untuk tidak menimpalinya lagi. Tidak akan ada habisnya kalau aku terus meladeninya. Dia benarbenar orang yang tidak mau kalah.

”Austin!” Tiba-tiba aku mendengar suara genit Greta. Cewek itu muncul dari antah berantah dan langsung menghampiri Austin.

”Awas tangan lo!” kata Austin memperingatkan sebelum Greta menyentuhnya. ”Sentuh gue sedikit aja, gue akan ngelempar lo sampai ke kelas.” Untuk hal ini aku setuju. Aku bahkan akan membantu Austin melempar Greta. Tapi Greta tidak menyerah. Dia memang tidak berani menyentuh Austin, tapi mulutnya tetap saja mencerocos.

”Lo udah sarapan? Mau makan sandwich? Gue buat sendiri lho,” kata Greta dengan senyum semanis madu.

Austin tidak menyahut. Sepertinya dia berusaha menulikan telinga dari kata-kata Greta. Aku saja bisa melihat kalau dia merasa terganggu dengan kehadiran Greta, tapi kenapa Greta sendiri tidak menyadarinya?

Di luar masalah Greta, aku merutuki nasibku yang malang. Meskipun aku bisa saja melempar tas Austin dan berlari ke kelasku, aku tidak bisa melakukannya. Aku takut sebagai balasannya Austin akan menyakiti Lionel. Aku tahu Lionel akan bisa menghadapinya, hanya saja aku tidak ingin mereka berkelahi karena aku.

Begitu sampai di kelas XII IPS 1, aku menyerahkan tas Austin kembali. Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih.

”Bersiap-siaplah,” kata Austin dengan senyum kejam. ”Ini hanya awal dari kemalangan lo yang lain.”

Apa maksudnya itu? Aku tidak sempat bertanya karena dia keburu mengusirku. Aku keluar dari kelas Austin tanpa menyadari Greta mengikutiku.

”Kasihan banget lo, Vy,” katanya. Dia tidak bisa menyembunyikan nada senang dalam suaranya. ”Lo cari-cari masalah dengan ketua geng sekolah ini karena memacari anggota geng sekolah musuh. Tapi jangan khawatir, gue akan membantu Austin untuk membalas lo.”

Aku bahkan tidak mau repot-repot bertanya dari mana Greta tahu soal itu. Hubunganku dengan Lionel pasti sudah diketahui seluruh murid sekolah ini. Selain karena Lionel memang selalu mengantar-jemputku sampai pintu gerbang sekolah, Austin juga pasti sudah menyebarkan berita bahwa aku ini pengkhianat.

Dengan kesal aku memperhatikan Greta pergi. Ingin sekali aku menendang bokongnya yang sedang berlenggaklenggok di depanku. Kalau memang ini yang diinginkan Austin dan Greta, baiklah! Aku pasti bisa menghadapi mereka.

***

David datang ke kelasku pada jam istirahat untuk menyampaikan bahwa Austin sedang menungguku di kantin. Aku mengeluh dalam hati. Padahal aku sudah sengaja tidak ke kantin untuk menghindari Austin.

Sophie memandangku penuh rasa iba. Dia memberiku semangat dengan menepuk bahuku. Aku tersenyum lemah padanya dan dengan malas-malasan mengikuti David ke kantin.

Austin duduk di meja paling besar di kantin, dengan seluruh anggota gengnya. Bangku yang berada di hadapannya kosong, maka David menyuruhku duduk di sana. Aku menunggu Austin bicara. Tapi dia malah menunjuk ke arah meja. Aku menatap meja, kemudian kembali menatapnya. Aku tidak mengerti maksudnya.

”Lo lihat meja ini kosong, kan?” kata Austin akhirnya. ”Gue mau lo beliin makanan buat gue dan semua anggota geng gue.”

Mataku membesar. ”Semua?” ulangku.

”Ya, semua,” tegas Austin. Dia mengeluarkan dompetnya dan melemparkan beberapa lembar uang ke hadapanku. ”Jangan khawatir. Gue nggak nyuruh lo untuk traktir kami.”

Yang jadi masalah itu sebenarnya bukan sekadar uang. Anggota geng Austin berjumlah enam belas orang, termasuk dirinya sendiri. Masa aku harus bolak-balik mengantarkan makanan pada mereka?

Aku baru akan membuka mulut untuk menyampaikan keberatan, tapi aku teringat pada Lionel. Austin pasti akan kembali mengancam untuk memukul Lionel kalau aku sampai menolak. Jadi, aku mengambil uang Austin dan menanyakan apa yang harus kubeli.

”Gue mau nasi goreng,” kata Austin. ”Untuk anggota geng gue, lo harus tanya mereka satu per satu apa yang mereka inginkan. Jangan sampai ada pesanan yang salah.”

Aku berdiri dan menghampiri anggota geng Austin, mulai dari yang terdekat. Aku mencatat pesanan mereka di ponsel. Beberapa dari mereka sengaja mengerjaiku dengan menggonta-ganti pesanan mereka. Aku tahu aku melakukan ini untuk Lionel, tapi ini sudah keterlaluan. Apa hak Austin hingga dia menjadikanku sebagai pesuruh gengnya? Mungkin menurutnya ini hukuman yang pantas untukku, karena aku dianggap telah mengkhianati sekolah dan berarti aku juga mengkhianati gengnya. Tapi kukira aku hanya akan berurusan dengannya, bukan dijadikan bulan-bulanan oleh anggota gengnya.

Butuh waktu lama bagiku untuk memenuhi meja yang kosong itu dengan makanan. Namun setelah selesai, Austin tidak mengizinkanku pergi. Aku diharuskan untuk tetap duduk di hadapannya.

”Kenapa lo nggak makan?” tanyanya. ”Gue nggak lapar,” jawabku.

”Yakin? Nanti lo malah nyomot-nyomot makanan di piring gue, lagi.”

Dia masih saja mengingat perbuatanku yang memalukan itu, padahal aku setengah mati ingin melupakannya. Aku menanti dengan tidak sabar sampai bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Tanpa pamit, aku langsung berlari menuju kelasku—kelas X-5.

”Gue benci banget sama Kak Austin!” seruku pada Sophie begitu aku sudah duduk di sebelahnya.

”Emang apa lagi yang dilakukannya?” tanya Sophie penasaran.

”Dia ngejadiin gue sebagai pesuruh gengnya,” jawabku kesal. ”Tadi dia nyuruh gue pesenin makanan buat semua anggota gengnya. Keterlaluan banget, kan?” ”Lo tolak aja lagi, Vy,” saran Sophie. ”Atau lo bilang sama Kak Lionel. Lebih ekstrem lagi, lo bilang aja sama Kak Troy. Dia pasti langsung bawa tank untuk ngegilas Kak Austin kalau dia tahu adiknya dijadiin pesuruh begitu.”

Aku menggeleng. ”Mereka nggak bisa berbuat apa-apa,” kataku. ”Gue sama Kak Lionel tuh dijadikan Kak Austin sebagai ancaman untuk satu sama lain. Sama seperti gue yang menuruti Kak Austin untuk melindungi Kak Lionel, Kak Lionel pun melakukan hal yang sama. Kalau dia sampai ngelabrak Kak Austin yang ganggu gue, Kak Austin pasti akan semakin ngerjain gue. Sedangkan Troy, dia nggak bisa ngelabrak Kak Austin karena itu akan membongkar statusnya sebagai kakak gue. Nasib gue bakal lebih parah kalau itu sampai terjadi.”

”Berarti sekarang lo nggak bisa ngelakuin apa-apa selain terus nurutin Kak Austin?” kata Sophie.

”Begitulah,” sahutku.

Sophie menepuk-nepuk kepalaku. ”Yang sabar ya, Vy,” katanya. ”Mungkin Kak Austin lagi ngejadiin lo contoh ke murid lain agar nggak ada yang berani melakukan hal yang sama dengan lo.”

”Emang sebelumnya nggak ada ya, anak sekolah ini yang pacaran sama anak SMA Vilmaris?”

”Setau gue sih nggak ada,” jawab Sophie. ”Kalaupun ada, mereka pasti melakukannya secara diam-diam.”’

Aku mendesah. ”Padahal gue sama Kak Lionel bukan pacaran beneran,” gumamku. ”Makanya, kenapa nggak sekalian pacaran beneran aja?” goda Sophie. ”Toh anak sekolah ini juga udah tahu tentang hubungan kalian. Bukannya lo emang suka sama Kak Lionel?”

Aku jadi salah tingkah. ”Nggak! Siapa bilang gue suka sama dia?” elakku.

”Udah, ngaku aja, Vy,” Sophie terus menggodaku.

Untung saja guru matematika kami sudah memasuki kelas sehingga aku tidak perlu mendengar godaan Sophie lagi. Entah bagaimana dia bisa menyimpulkan perasaanku pada Lionel. Aku memang sering membicarakan Lionel, tapi aku tidak pernah bilang aku menyukainya. 

Atau, sungguhkah perasaan sukaku pada Lionel memang lebih dari sekadar teman?

***

Sesampainya di rumahku, Lionel tidak langsung pulang. Dia bilang dia ingin bicara denganku. Jadi, aku mengundangnya masuk dan mempersilakannya duduk di bangku yang ada di teras.

”Apa besok malam kamu ada waktu, Vy?” tanyanya. ”Emangnya kenapa?” aku balik bertanya.

Lionel terlihat agak gugup ketika melanjutkan ucapannya. ”Aku mau ngajak kamu jalan, kalau kamu mau,” katanya. Kini gantian aku yang jadi gugup. Apa dia sedang mengajakku kencan?

”Aku nggak enak karena telah ngelibatin kamu dengan Austin,” kata Lionel beralasan. ”Jadi sebagai gantinya, aku mau ngajak kamu bersenang-senang.”

Aku harus jawab apa? Tentu saja aku mau pergi dengannya, tapi bagaimana caraku menjawabnya? Aku tidak pernah menerima ajakan kencan sebelumnya. Karena dengan kehadirannya saja, Troy sudah memastikan para cowok keder sebelum sempat mengajakku kencan.

”Mmm... Troy bilang apa?” tanyaku akhirnya.

Lionel tersenyum, seakan tahu bahwa pendapat Troy sangat penting untukku. ”Aku udah minta izin sama Troy,” katanya. ”Dan dia bilang terserah kamu aja.”

Sepertinya hanya Lionel satu-satunya cowok yang mendapatkan persetujuan Troy. Tentu saja, karena dia orang kepercayaan Troy.

”Kalau Troy ngizinin, ya udah, aku mau,” kataku. Kelegaan terpancar dari wajah Lionel, bercampur de-

ngan kesenangan. ”Besok malam aku akan jemput kamu jam tujuh,” katanya.

Aku sangat bersemangat menantikan kencan pertamaku. Aku bahkan bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan baju yang akan kupakai. Tidak lupa aku juga menyempatkan diri untuk maskeran dan luluran. Troy sampai menertawaiku habis-habisan. Untung saja sorenya dia sudah disibukkan dengan kencannya sendiri. Pukul tujuh kurang sepuluh Lionel sudah tiba di rumahku. Dia sempat bertemu dengan Mama dan Papa untuk meminta izin. Mama dan Papa sudah mengenal Lionel sejak lama, jadi mereka merasa aman membiarkanku pergi dengannya.

Lionel mengajakku ke mal. Kami sempat berjalan-jalan sebentar, kemudian memutuskan untuk bermain ice skating. Sebenarnya aku tidak bisa bermain ice skating. Aku bahkan lebih sering jatuh daripada berseluncur. Rasanya aku jadi seperti Bambi di atas es.

Suatu kali, ketika Lionel sedang memegangiku, aku terpeleset dan menyeretnya jatuh bersamaku. Untuk beberapa detik—yang rasanya seperti jutaan tahun—dia menindihku dan wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Mata kami bertatapan dan jantungku berdetak tidak keruan.

Lionel buru-buru bangun dan membantuku berdiri. Wajahnya sama merahnya denganku—entah karena malu atau kedinginan. Setelah menyudahi permainan kami, kami memasuki salah satu restoran untuk makan.

Untuk melupakan kejadian di ice rink tadi, aku berusaha membicarakan hal lain dengan Lionel.

”Apa permusuhan antara geng SMA Vilmaris dan geng SMA Emerald terjadi hanya karena tradisi?” tanyaku ingin tahu.

”Salah satunya itu,” jawab Lionel. ”Tapi Austin memang punya dendam pribadi pada Troy.” Oh, itu hal baru untukku. Ternyata ada alasan lain yang membuat mereka saling membenci.

”Dendam pribadi yang kayak gimana?” tanyaku.

Lionel tidak langsung menjawab. Sepertinya dia ragu menceritakan hal itu padaku. Tapi melihat wajah penasaranku, akhirnya dia menjadi tidak tega.

”Austin punya adik cewek,” cerita Lionel. ”Namanya Natasha. Dia seumuran denganmu, sama-sama kelas sepuluh.”

Austin memiliki adik cewek yang seumuran denganku, tapi masih saja memperlakukanku dengan seenaknya.

”Beberapa bulan yang lalu, Troy ketemu sama Natasha,” lanjut Lionel. ”Mereka saling jatuh cinta dan pacaran.”

Aku benar-benar kaget. ”Troy pacaran sama adik Austin?!” pekikku. Hampir saja nasi yang sedang kukunyah muncrat dari mulutku.

”Saat itu dia nggak tahu kalau Natasha itu adik Austin,” kata Lionel. ”Ketika akhirnya tahu, dia langsung mencampakkan Natasha begitu aja. Natasha jadi patah hati karena dia benar-benar mencintai Troy.”

Troy dan kebiasaannya mencampakkan cewek. Sekalisekali aku harus menasihatinya soal itu.

”Austin benar-benar marah karena adiknya diperlakukan begitu,” kata Lionel. ”Dia semakin membenci Troy. Akhirnya, hal itu mengakibatkan permusuhan yang semakin dalam antara kedua geng.” Sekarang aku mengerti. Inilah alasan identitasku sebagai adik Troy harus dirahasiakan rapat-rapat dari Austin. Kalau Austin sampai tahu, bukan tidak mungkin dia akan balas dendam pada Troy melalui aku.

Pantas saja Troy mengatakan akan lebih aman kalau Austin mengira aku adalah pacar Lionel, karena di antara Austin dan Lionel tidak ada dendam pribadi. Lionel juga pasti menerima usul Troy untuk pacaran denganku karena dia tahu itu yang terbaik untukku.

Aku melihat mobil Troy sudah terparkir di carport setelah kencanku dengan Lionel berakhir. Aku langsung masuk ke kamarnya dan mendapati dia sedang membaca komik sambil mendengarkan musik di atas ranjang.

Aku duduk di tepi ranjang dan memberi isyarat padanya agar melepas headphone yang sedang dia pakai. Dia menurutiku dan menatapku dengan ekspresi bertanya.

”Kok lo nggak pernah cerita sama gue soal Natasha?” tembakku langsung.

Muka Troy langsung berubah bete. Dia berusaha memasang headphone kembali, tapi aku menahan tangannya.

”Jawab pertanyaan gue dong!” paksaku.

Troy mendengus. ”Si Lionel itu emang ember bocor,” rutuknya.

”Gue yang maksa dia cerita,” kataku, agar Troy tidak menyalahkan Lionel.

”Apa yang terjadi antara gue dan Natasha udah cerita basi,” kata Troy. ”Gue nggak mau mengingat-ingatnya lagi.”

”Tapi kan gue belum tahu,” kataku. ”Lo itu tega banget sih, nyakitin hati cewek yang benar-benar cinta sama lo.” ”Gue nggak peduli dia cinta sama gue atau nggak,” kata

Troy. ”Gue cuma nggak mau pacaran sama adik musuh.” ”Makanya, kalau mau pacaran, lihat-lihat dulu dong latar

belakang calon pacar lo,” saranku. ”Jangan main nyosor begitu aja.”

Troy langsung bertambah bete mendengar kata-kataku. Dia mendorongku dengan kakinya hingga membuatku hampir jatuh dari ranjang.

”Keluar sana!” usirnya. Dia memasang headphone kembali dan melanjutkan kesibukannya membaca komik.

Aku berdiri dan keluar dari kamarnya, kemudian memasuki kamarku sendiri. Sambil membersihkan wajah, aku mulai memikirkan Austin. Dia memiliki alasan yang tepat untuk membenci Troy. Tapi tetap saja aku tidak bisa membenarkan perlakuannya padaku.

Aku bertanya-tanya, sampai kapan dia mau menghukumku. Semoga saja dia cepat bosan dan berhenti menggangguku. Aku bisa gila kalau harus terus-menerus meladeninya.

***

Sudah hampir seminggu Austin menjadikanku pesuruhnya. Setiap pagi aku membawakan tasnya, pada jam istirahat aku akan memesankan makanan untuknya dan seluruh anggota gengnya.

Ada kalanya sikap Austin menjadi semakin keterlaluan. Seperti yang terjadi saat ini. Cuaca sedang sangat panas dan membuat mood-nya bertambah jelek. Jika sudah begitu, dia akan menjadi super menyebalkan.

”Gerah banget sih,” keluhnya sambil mengipas-ngipas dengan tangannya. Dia melihat ke belakangku dan berkata, ”Ivy, ambil kipas itu dari cewek yang duduk di sana!”

Aku menoleh ke belakang. ”Cewek yang mana?” tanyaku.

Ada banyak murid cewek yang memenuhi kantin.

”Ya yang lagi megang kipas lah!” sahut Austin tidak sabar, seolah-olah aku ini bodoh.

Aku terus mencari dan akhirnya menemukan cewek yang dimaksud. Cewek itu adalah Saskia—murid kelas X-2. Kebetulan aku kenal dengannya.

”Kipasnya cuma dipinjam aja, kan?” tanyaku memastikan. ”Bukannya diambil terus nggak dibalikin?”

”Terserah lo mau pinjam atau mau ambil,” gerutu Austin. ”Pokoknya bawa kipas itu ke sini.”

Aku menghampiri Saskia yang duduk tiga meja dari kami. Dia sedang sibuk mengipas sambil mengobrol dengan teman-temannya.

”Saskia,” panggilku begitu aku tiba di mejanya. ”Boleh pinjam kipas lo?”

Saskia menoleh dan menatapku dengan tatapan ”enakaja-lo-mau-minjam-kipas-gue-emang-lo-nggak-lihat-gue-jugalagi-kepanasan”. Aku pun berusaha menjelaskan padanya bahwa bukan aku yang bermaksud untuk meminjam.

”Kak Austin yang nyuruh gue ke sini,” kataku. ”Dia mau minjam kipas lo.”

Tatapan Saskia langsung berubah. Dia menoleh pada Austin, memastikan aku tidak berbohong, lalu menyerahkan kipasnya padaku.

”Ambil aja,” katanya. ”Nggak usah dibalikin juga nggak apa-apa.”

”Pasti gue balikin kok,” tegasku sambil menerima kipas itu. Aku berbalik meninggalkan meja.

Wah, enak sekali menjadi Austin. Hanya dengan bermodal nama dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Coba kalau tadi aku bilang aku yang ingin meminjam, pasti aku sudah disiram kuah bakso oleh Saskia.

Aku memperhatikan kipas yang kini berada di tanganku dengan lebih saksama dan baru menyadari bahwa kipas itu bergambar SHINee. Kalau tahu begitu, tadi kuterima saja tawaran Saskia untuk mengambilnya. Apa tidak usah kukembalikan saja, ya? Kubilang saja Austin itu fanboy SHINee dan dia ingin memilikinya. Tapi kalau berita itu sampai tersebar, aku pasti akan dibunuh Austin.

Aku kembali ke meja Austin dan mengulurkan kipas itu padanya. Dia tidak menerimanya dan hanya menatapku sambil mengangkat alis. ”Lo nggak mau?” tanyaku.

”Buat apa gue capek-capek ngipas sendiri kalau ada lo,” balas Austin. ”Kipasin gue.”

Dengan setengah hati, aku pun mulai mengipasinya. Kasihan SHINee, harus mengipasi cowok menyebalkan macam Austin.

”Ngipasnya pakai tenaga dong!” omel Austin. ”Nggak berasa, tahu!”

Ingin sekali aku menyahuti, ”Kalau mau berasa, kipas aja sendiri!” Tapi aku masih ingin hidup. Jadi, aku menelan kembali kata-kata yang ingin kukeluarkan itu dan mengipasinya dengan lebih kencang.

Sejak itu, aku jadi semakin malas menemuinya di kantin. Aku memikirkan tempat yang bisa kudatangi untuk menghindarinya. Aku tidak bisa tetap di kelas karena Austin pasti akan menyuruh David mendatangiku.

Tentu saja aku tidak akan bersembunyi di toilet cewek seperti yang pernah kulakukan. Daripada menyiksa diriku dan akhirnya tetap ketahuan, lebih baik kucari tempat yang lain. Pilihanku kemudian jatuh pada perpustakaan. Suasananya yang selalu sepi cocok menjadi tempat persembunyian. Lagi pula aku yakin anggota geng Austin alergi pada perpustakaan sehingga mereka pasti tidak akan mencariku ke sana.

Jadi, pada salah satu jam istirahat aku memasuki perpustakaan dan menyelinap melewati Bu Lisa—pustakawati sekolah yang lebih sering tidur daripada melaksanakan tugas. Aku menuju bagian belakang perpustakaan.

Ada beberapa meja di sana. Di meja yang paling kanan bertengger dua orang cowok kelas sebelas yang tidak kuketahui namanya. Aku mendesah kecewa melihat mereka. Padahal tadinya aku berharap perpustakaan dalam keadaan kosong sehingga aku bisa tidur-tiduran di sini, tapi mereka malah mengambil kenikmatan itu dariku. Apalagi ternyata mereka tidak sedang membaca buku, melainkan mengobrol dengan suara keras. Sayang, Bu Lisa sedang tidur sehingga tidak ada yang menegur mereka.

Salah satu dari mereka—yang berambut kribo—tampak terkejut ketika melihatku. ”Eh, ada Ivy,” serunya girang.

Ternyata aku cukup terkenal karena cowok yang tidak kuketahui namanya pun tahu namaku. Tapi lalu aku sadar dia tahu namaku pasti karena aku pesuruh Austin.

”Kok lo nggak bareng Austin sih?” tanya cowok yang satu lagi. Kulitnya yang hitam terlihat begitu kontras dengan kemejanya yang putih bersih.

Benar dugaanku. Aku memilih untuk tidak menanggapi mereka dan mencari meja yang bisa kutempati.

”Ivy,” panggil si Rambut Kribo. ”Beliin kami makanan dong.”

”Iya, Vy,” dukung si Kulit Hitam. ”Kami kelaparan nih.” Aku memelototi mereka. Apa tidak salah mereka menyu-

ruhku? Memangnya pangkat mereka apa? ”Beli aja sendiri!” sahutku bete.

”Jangan begitu dong, Vy,” kata si Kulit Hitam. ”Masa cuma Austin sih yang lo layanin? Kami kan juga mau punya pesuruh secantik lo.”

Aku agak ge-er dibilang cantik, tapi juga tidak suka dijadikan pesuruh oleh mereka. Dilihat dari sikap mereka yang menyebalkan, aku heran kenapa mereka bukan anggota geng Austin.

”Ayo cepat beli!” paksa si Rambut Kribo. ”Pilih makanan yang paling mahal, ya. Sekali-sekali boleh lah lo nraktir kami.”

”Udah gue bilang, kalau kalian mau makan, ya beli sendiri!” bentakku marah.

Si Rambut Kribo dan si Kulit Hitam langsung terdiam. Mulanya kupikir itu karena mereka takut mendengar bentakanku. Tapi ketika tatapan mereka justru terpaku ke belakangku, aku tahu tebakanku salah. Perlahan, aku berbalik dan melihat Austin sedang berdiri di belakangku sambil memasang tatapan membunuh pada kedua cowok tadi. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊