menu

Bad Boys Bab 02

Mode Malam


Bab 02

ENTAH berapa lama Austin dan Lionel akan saling memelototi seperti itu. Pandanganku berpindah-pindah antara mereka berdua. Aku takut mereka akan saling menyerang, sementara aku terjebak di tengah-tengah mereka.

”Ivy,” kata Lionel akhirnya. Suaranya penuh kewaspadaan. ”Cepat naik ke motor!”

Aku langsung menurutinya. Aku berusaha tidak menatap Austin ketika duduk di atas motor.

”Bagus!” komentar Austin sinis. ”Cepat lo lindungi pacar lo itu. Gue nggak bisa menjamin keselamatannya kalau dia ada di dekat gue.” Aku ingin memprotes kata-kata Austin yang sok tahu itu. Seenaknya saja dia mengatakan aku pacar Lionel. Tapi karena Lionel diam saja, aku tidak berani buka mulut.

”Karena ada Ivy, untuk kali ini gue mengalah,” kata Lionel. ”Tapi gue akan menghadapi lo lain kali.”

”Silakan aja,” kata Austin santai, lalu berbalik. Sebelum masuk ke mobil, dia menyempatkan diri untuk memberi kami satu tatapan merendahkan. Lionel membiarkan mobil itu menderu pergi terlebih dahulu.

”Salah satu anggota geng Austin melihat kamu mengantarku tadi pagi,” jelasku dari belakang Lionel. ”Aku ingin memperingatkanmu agar nggak menjemputku. Tapi aku nggak bisa menghubungimu karena aku nggak tahu nomor HP-mu. Troy juga mematikan HP.”

”Nggak apa-apa,” kata Lionel. Meskipun aku tidak bisa melihatnya, aku tahu dia sedang tersenyum. ”Pegangan erat-erat, Ivy. Aku akan membawamu ke Troy.”

Aku tidak sempat bertanya kenapa Lionel ingin membawaku ke Troy karena dia sudah memacu motor dengan cepat. Sekitar lima belas menit kemudian, dia menghentikan motor di depan sebuah tempat bermain biliar.

Aku turun dari motor dan mengikuti Lionel masuk. Asap rokok yang menyesakkan segera menyambutku, membuatku langsung terbatuk-batuk. Aku benci sekali asap rokok.

Lionel mengarahkanku ke meja biliar paling ujung. Kulihat Troy di sana dengan beberapa anggota gengnya. Aku mencibir. Jadi, itu yang dia maksud dengan sibuk? Dia malah asyik bermain biliar seperti itu.

Anggota geng Troy langsung memberikan tatapan penuh cinta begitu melihatku. Bukannya aku sombong, tapi sebagian besar dari mereka memang suka padaku. Aku tidak tertarik pada mereka, aku bahkan tidak tahu nama mereka. Mereka juga tidak berani mendekatiku karena aku adik bos mereka. Sedikit saja mereka berusaha merayuku, bisa dipastikan bogem mentah Troy melayang ke wajah mereka.

Aku melihat ada mumi duduk di salah satu bangku, tidak jauh dari meja biliar. Setelah kulihat baik-baik, ternyata itu bukan mumi, melainkan anggota geng Troy yang tubuhnya dililit perban. Sepertinya dia yang tadi pagi diurus oleh Troy. Bisa-bisanya sekarang dia nongkrong di sini padahal keadaannya sudah babak belur begitu. Parahnya lagi, begitu melihatku, dia malah nyengir memperlihatkan gigi ompongnya. Semoga saja dia tidak benar-benar menginap di rumahku, dan Troy akan mengantarnya pulang.

Aku mengalihkan perhatian kembali pada Troy. Kugelengkan kepala tanda tak setuju ketika melihat rokok yang diisapnya. Segera kudekati dia dan kuambil rokok itu, kemudian kubuang ke asbak. Troy bahkan tidak sempat memprotes. Dia malah menatapku dengan heran.

”Ngapain lo ke sini?” tanyanya.

”Lo bilang lo lagi sibuk,” kataku, tanpa menjawab pertanyaannya. ”Kenapa lo malah main biliar di sini?” ”Urusan gue udah selesai,” jawab Troy. Sebenarnya aku sudah tahu. Mumi itu buktinya. ”Lo bolos sekolah ya tadi?” selidikku.

Troy hanya mengangkat bahu. Dia menoleh ke Lionel. ”Kenapa lo bawa Ivy ke sini?”

”Austin lihat gue bereng Ivy,” lapor Lionel.

Ekspresi Troy langsung berubah. Otot-otot di wajahnya menjadi kaku. ”Austin?” ulangnya. ”Austin Allen?”

”Ya,” jawab Lionel.

Troy langsung membanting stik biliar yang sedang dipegangnya. ”Bego lo!” umpatnya. ”Kenapa lo sampai lengah begitu?”

”Gue minta maaf,” sesal Lionel.

Aku kasihan pada Lionel. Troy kalau sedang marah memang suka seenak udel.

”Kak Lionel nggak salah kok,” belaku. ”Dia mengantarjemput gue di tempat biasa. Tapi mungkin kali ini kami sedang sial sehingga ada yang melihat kami.”

Troy mengabaikanku. ”Terus, Austin bilang apa?” tanyanya, tetap pada Lionel.

”Dia nyangka gue pacar Ivy,” kata Lionel.

Aduh, kenapa dia menyebut­nyebut soal itu? Aku kan jadi malu.

Troy tampak berpikir keras. Dia mulai mondar-mandir dengan kening berkerut. Ketika akhirnya berhenti, dia mengamatiku dan Lionel secara bergantian. ”Oke,” katanya akhirnya. ”Itu bagus. Mulai sekarang, kalian pacaran aja.”

”APA???” seruku dan Lionel bersamaan. Bukan hanya kami, bahkan anggota geng Troy yang lain juga berseru kaget. Mereka memang tidak bisa mendekatiku, tapi juga tidak ingin aku punya pacar.

”Jangan teriak-teriak gitu!” seru Troy. Dia mengambil stik biliar—yang untungnya tidak patah—dari lantai, dan kembali berkonsentrasi pada permainan biliarnya.

”Troy!” protesku dan Lionel, lagi-lagi secara bersamaan.

Troy tetap tidak peduli. ”Ivy akan lebih aman kalau Austin mengira dia pacar lo,” katanya pada Lionel. ”Kalau kalian menyangkal, dia akan curiga. Dia pasti akan mencari tahu tentang Ivy dan itu akan membongkar identitasnya sebagai adik gue. Itu akan lebih berbahaya. Lo ngerti, kan?”

Lionel mengangguk. Sebuah pemahaman memasuki benaknya. ”Lo benar,” katanya. ”Gue akan menuruti perintah lo, asalkan Ivy nggak keberatan.”

Keduanya kini menghadap ke arahku. Aku salah tingkah, wajahku memerah. Apalagi anggota geng Troy juga ikut memandangku dengan tatapan yang seakan-akan menyuruhku menolak.

”T-tapi kan nggak perlu sampai pacaran sungguhan segala,” gagapku. Aku heran. Bagaimana ide sebodoh itu bisa muncul di benak Troy? Dia kan tahu aku belum pernah pacaran.

”Terserah,” kata Troy sambil mengangkat bahu. ”Kalau kalian cuma mau pura-pura pacaran juga nggak apa-apa.” Aku mendesah lega bersama anggota geng Troy. Kalau hanya sekadar pura-pura, mungkin aku masih bisa menja-

laninya. Kulirik Lionel sekilas, tampaknya dia juga setuju.

***

Keesokan paginya, Lionel menurunkanku di depan pintu gerbang sekolah. Karena kini kami pura-pura pacaran, dia juga yang bertugas mengantar-jemputku ke sekolah setiap hari. Sikap kami kini menjadi canggung. Ini semua gara-gara Troy keparat!

Troy berbohong pada Mama dan Papa bahwa aku pacaran dengan Lionel. Dia sengaja mengatakan itu supaya Mama-Papa tidak mengira Troy tidak mau mengantarjemputku ke sekolah lagi. Dengan licik dia mengorbankanku supaya tidak kehilangan mobil.

Lionel berdeham. ”Sepertinya kita harus tukeran nomor HP,” cetusnya.

Kami pun saling memberitahukan nomor ponsel. Akhirnya, aku mengetahui nomor ponsel Lionel. Aku jadi tidak memerlukan Troy kalau sedang ingin menghubungi Lionel. Seharusnya sudah sejak dulu aku menanyakan nomor ponselnya. ”Kamu bisa meneleponku kalau Austin mengganggumu,” kata Lionel.

Aku mengangguk, meski tidak yakin akan meneleponnya kalau itu menyangkut Austin.

”Maaf ya, aku jadi merepotkanmu,” kataku tidak enak. ”Nggak masalah,” tanggap Lionel. Dia tersenyum untuk

meyakinkanku. ”Udah, kamu masuk sana. Belajar yang rajin, ya!”

Dia menungguku hingga aku sampai ke pintu gerbang sebelum dia pergi. Aku mengendap-endap menuju kelas. Mataku bergerak-gerak dengan gelisah ke seluruh penjuru sekolah. Aku takut Austin tiba-tiba muncul dan melihatku. Tapi sepertinya Austin tidak ada. Syukurlah. Aku berjalan ke kelas dengan lebih santai. Tapi tunggu! Siapa itu yang sedang bersandar di dinding dekat pintu kelasku? Bukan-

kah itu David?

Benar, itu memang David. Dia pasti disuruh Austin untuk menungguku. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Pelan-pelan, aku berbalik. Aku harus mencari tempat persembunyian dulu. Ke mana aku harus pergi? Oh, ke toilet saja! David tidak akan bisa masuk ke toilet cewek, jadi itu adalah tempat teraman.

Aku segera kabur ke toilet terdekat. Ada beberapa cewek yang sedang berdandan sambil cekikikan di depan wastafel. Aku segera bersembunyi di dalam salah satu bilik. Nah, sekarang aku sudah di sini, lalu apa? Masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Masa aku harus menunggu di sini selama itu? Mana toilet ini bau sekali.

Suara cekikikan yang tadi memenuhi toilet mendadak menghilang, digantikan oleh suara bisik-bisik. Aku heran, ada apa di luar?

”Ivy.”  Mendadak  terdengar  suara  Austin.  Lho,  kok suaranya terdengar dekat sekali? Apa dia ada di dalam toilet? ”Keluar lo. Gue tahu lo di dalem.”

Suaranya terdengar tepat di balik pintu bilik. Sial, ternyata aku tetap tidak aman berada di sini. David pasti melihatku tadi dan melapor pada Austin, atau mungkin Austin sendiri yang melihatku. Aku tidak menyangka dia tidak segan-segan masuk ke toilet cewek. Apa sebegitu niat dia memburuku?

”Keluar sekarang juga, atau gue dobrak pintu ini!” ancam Austin.

Aku mendesah kalah. Akhirnya kubuka pintu bilik. Tubuh Austin terlihat menjulang di baliknya. Dia menatapku sambil menyeringai.

”Berusaha sembunyi, heh?”

”Nggak kok,” dustaku. ”Saya cuma pengen pipis.” Kuedarkan pandangan ke sekeliling toilet, ternyata hanya ada kami berdua saat ini. Ke mana cewek-cewek tadi?

”Jadi, diam-diam lo pacaran sama Lionel.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan.

Aku diam. Memang tidak seharusnya aku membantah. ”Dasar pengkhianat,” desis Austin. ”Berani-beraninya lo

pacaran sama musuh.”

Aku tetap diam, meskipun mulutku sudah gatal ingin membalas.

”Telepon dia,” perintah Austin. ”Bilang lo mau dia nemuin lo di Kafe Pandora jam lima nanti.”

Barulah aku bersuara. ”Untuk apa saya melakukan itu?”

”Lakukan aja,” kata Austin tidak sabar.

”Nggak mau,” gelengku. ”Pasti Kak Austin mau mukulin dia.”

”Gue nggak akan mukul dia,” kata Austin. ”Kapan-kapan gue akan melakukan itu, tapi yang jelas nggak sekarang. Cepat telepon dia!”

”Saya nggak bawa HP,” kataku beralasan. Tentu aku cuma berbohong. Aku hanya tidak ingin menjebak Lionel.

Mendadak Austin mengeluarkan ponsel dari saku celana, menekan beberapa tombol, lalu diam sambil menatapku. Mulanya aku tidak mengerti, tapi tak lama kemudian terdengar SHINee bernyanyi-nyanyi riang dari dalam tasku.

Aaahhh... itu bunyi ponselku! Jadi dia meneleponku?

Dari mana dia tahu nomor ponselku?

”Jelas-jelas lo bawa HP,” kata Austin dengan senyum penuh kemenangan. Kenapa SHINee harus mengkhianatiku seperti ini? Kenapaaa? Dengan berat hati, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas.

”Telepon dia dan pasang loudspeaker,” perintah Austin.

Aku tidak bisa mengelak lagi. Untung saja tadi aku sudah bertukar nomor ponsel dengan Lionel. Akan mencurigakan kalau aku sampai tidak tahu nomor ponsel pacar sendiri.

Aku melakukan yang diperintahkan Austin. Terdengar bunyi nada sambung.

Jangan diangkat, mantraku dalam hati. Jangan diangkat.

Jangan diangkat.

”Halo?” Sial. Diangkat juga rupanya.

”Halo, Kak Lionel,” sapaku. Austin mengamatiku selama aku  berbicara.  ”Mmm...  kamu  nggak  usah  jemput  aku nanti.”

”Kenapa?” tanya Lionel heran.

”Kamu nemuin aku di Kafe Pandora aja,” kataku. ”Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Kita ketemu di sana jam lima nanti.”

Tolak aja! Bilang kamu nggak bisa! kataku dalam hati. ”Oke,” kata Lionel. ”Aku akan menemuimu nanti.”

Aku mengeluh dalam hati. Aku benar-benar merasa tidak enak padanya. Kumatikan telepon dan terdiam seperti orang baru kalah perang.

Mendadak Austin mengambil ponselku.

”Hei!” protesku. ”Kenapa Kak Austin ngambil HP saya?” ”Gue nggak mau ngambil risiko. Lo mungkin akan menghubungi dia lagi,” kata Austin. ”Dan jangan coba-coba menghubunginya dengan HP teman lo, karena gue akan tahu.”

”Saya nggak akan menghubunginya,” kataku lemas. Lagi pula, aku juga tidak hafal nomor ponsel Lionel.

”Pulang sekolah nanti lo ikut gue ke Kafe Pandora,” kata Austin. ”Jangan melarikan diri, atau pacar lo yang akan kena batunya. Ngerti?”

Aku mengangguk pasrah.

Austin tersenyum puas, lalu berlalu dari toilet. Aku menatap bayangan diriku di cermin atas wastafel. Apa yang sudah kulakukan pada Lionel?

***

”Lo ke mana aja, Vy?” bisik Sophie ketika aku baru duduk di sebelahnya. Gara-gara Austin, aku jadi terlambat masuk kelas. Bu Gloria, guru sejarahku, sudah asyik bercuap-cuap di depan kelas.

”Gue ditahan Kak Austin di toilet,” sahutku, juga sambil berbisik.

Sophie melongo. ”Kok bisa?”

”Tadi gue lagi sembunyi di toilet,” jelasku. ”Habis, gue lihat Kak David lagi berdiri di depan kelas kita. Lo lihat dia juga nggak?” Sophie mengangguk. ”Kak David bahkan sempat masuk ke kelas,” katanya. ”Dia nyamperin gue dan nanyain nomor HP lo.”

”Pantas aja Kak Austin tahu nomor HP gue.” Tanpa sadar aku meninggikan suara. Sebuah pelototan dari Bu Gloria segera melayang ke arahku, aku pun langsung memasang tampang malaikat. ”Seenaknya aja lo nyebarin nomor HP gue,” omelku pada Sophie begitu Bu Gloria sudah berpaling.

Sophie nyengir. ”Maaf deh,” katanya tanpa rasa bersalah. ”Habis gue nggak mungkin bilang kalau gue nggak tahu nomor HP lo. Ketahuan banget bohongnya.”

”Tapi gara-gara lo, gue jadi nggak bisa bohong sama Kak Austin kalau gue nggak bawa HP,” gerutuku.

”Emangnya kenapa lo mesti bohong?” tanya Sophie tidak mengerti.

”Dia nyuruh gue nelepon Kak Lionel dan mengajaknya ketemuan di Kafe Pandora jam lima nanti,” ceritaku. ”Gue takut dia berbuat sesuatu sama Kak Lionel, apalagi setahu dia, gue ini pacar Kak Lionel.”

”Sejak kapan lo pacaran sama Kak Lionel?!” seru Sophie kaget. Suaranya menggelegar di seantero kelas dan membuatnya mendapat pelototan juga dari Bu Gloria.

”Sekali lagi kamu dan Ivy ribut, saya akan keluarkan kalian dari kelas!” ancam Bu Gloria.

Aku dan Sophie langsung menunduk dan pura-pura bertobat. Kami melanjutkan acara bisik-bisik kami setelah yakin Bu Gloria tidak lagi melirik-lirik ke arah kami.

”Gue sama Kak Lionel cuma pura-pura pacaran,” aku memberitahu Sophie. ”Itu usul Troy. Dia bilang lebih baik Kak Austin mengira gue pacar Kak Lionel daripada dia tahu kalau gue adik Troy.”

”Gue setuju sama Kak Troy,” dukung Sophie.

”Lo mah emang selalu setuju apa pun kata Troy,” gerutuku.

”Tentu dong,” celetuk Sophie. ”Gue kan harus selalu mendukung calon yayang gue.”

Aku mencubit lengannya. ”Jangan bilang calon yayang, ah,” protesku. ”Geli tahu dengarnya.”

”Yeee... geli kenapa?” balas Sophie. ”Lo tuh harus mulai merelakan Kak Troy buat gue, Vy. Gue nggak bakal menyerah sebelum berhasil ngejadiin dia yayang gue.”

Aku mengernyit. ”Lo kok mau sih sama dia?” tanyaku heran. ”Dia kan playboy.”

”Gue nggak peduli dia playboy,” kata Sophie. ”Gue udah telanjur cinta sama dia. Siapa tahu gue bisa mengubah dia menjadi cowok setia.”

Aku meragukannya. Aku tahu sekali bagaimana Troy sulit untuk mengubah kebiasaan bergonta-ganti cewek. Aku bukannya tidak mendukung Sophie untuk berpacaran dengan Troy. Aku hanya tidak mau dia sakit hati nantinya.

”Jadi, sekarang yang ngantar-jemput lo ke sekolah Kak Troy atau Kak Lionel?” tanya Sophie. ”Kak Lionel,” jawabku. ”Biar Kak Austin tambah yakin kalau gue emang pacar Kak Lionel. Lagi pula, bahaya kalau Troy yang mengantar-jemput gue. Siapa tahu Kak Austin dan anggota gengnya masih mengawasi gue.”

Sophie tampak kecewa. ”Yah... gue nggak bisa mencuricuri kesempatan untuk melihat Kak Troy saat ngantarjemput lo lagi dong,” keluhnya.

”Sayang banget ya,” godaku.

”Tapi nggak apa-apa.” Sophie pulih tiba-tiba. ”Gue akan sering-sering main ke rumah lo.”

”Kayak selama ini lo kurang sering aja main ke rumah gue,” cerocosku.

Kami cekikikan dan baru berhenti ketika mendengar suara Bu Gloria. Sepertinya kesabaran beliau sudah habis.

”Sophie, Ivy, cepat keluar dari kelas!” perintahnya.

Aku dan Sophie langsung menurut. Kami berjalan dengan lemas seakan-akan menyesali perbuatan kami, padahal begitu tiba di luar kelas kami kembali cekikikan.

Aku tak lagi ingat masalah dengan Austin sampai jam pulang sekolah tiba. Namun sialnya, aku harus teringat kembali ketika melihat David menunggu di depan kelas. Dia segera memisahkanku dari Sophie dan menggiringku ke tempat parkir sekolah, tempat Austin menanti.

David mengetuk kaca mobil Austin. Setelah Austin membukanya, dia berkata, ”Bos, ini Ivy-nya.” ”Masuk,” perintah Austin padaku.

Aku masuk ke mobil. Setelah David menutup pintu mobil, Austin langsung tancap gas meninggalkan David di tempat parkir.

Perjalanan menuju Kafe Pandora sungguh menyiksaku. Aku tidak nyaman berduaan dengan Austin. Dia sama sekali tidak mengajakku berbicara, bahkan seperti menganggapku tidak ada. Hanya suara musik ingar-bingar yang mengisi kekosongan di antara kami.

Sesekali kulirik dia. Aku tidak ingin mengakui ini, tapi profilnya saat menyetir terlihat begitu keren. Dia begitu serius dengan tatapan yang hanya terpaku ke jalanan.

Mungkin aku terlalu asyik mengamatinya, sehingga ketika tiba-tiba dia berpaling kepadaku, aku langsung gelagapan.

”Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?” tanya Austin.

”S-saya nggak ngelihatin Kakak kok,” kilahku, meskipun aku sudah tertangkap basah. ”Saya cuma lagi ngelihat pemandangan di balik kaca.”

”Lo pikir gue percaya omongan lo itu?” sergah Austin. ”Pasti otak licik lo itu sedang merencanakan sesuatu.”

”Yang licik tuh Kak Austin,” kataku kesal. ”Nyuruh saya nelepon Kak Lionel kayak gitu.”

Austin menyeringai. ”Lo mengkhawatirin pacar lo, ya?

Tenang aja, hari ini gue nggak akan ngapa-ngapain dia.” Semoga saja dia menepati ucapannya.

Kami sampai di Kafe Pandora sepuluh menit kemudian. Austin memimpinku ke salah satu meja yang terletak di sebelah jendela.

”Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum jam lima,” kata Austin setelah melihat jam tangannya. ”Kita makan dulu. Lo mau makan apa?”

Wah, apa dia mau mentraktirku? Kalau benar begitu, pasti ada alasan di balik kebaikannya. Aku tidak boleh sampai terjebak.

Tapi... aku lapar sekali. Kalau sudah menyangkut makanan, rasanya perutku tidak bisa diajak kompromi. Mungkin aku bisa pesan jus saja untuk menahan lapar.

”Saya nggak mau makan,” kataku, mengabaikan perutku yang sedang berdemo. ”Saya mau minum jus melon aja.” Austin memanggil pelayan dan memesankan jus melon, beserta beef tenderloin steak dan Coca-Cola untuk dirinya sendiri. Setelah pelayan berlalu, Austin mengeluarkan pon-

sel dan mulai sibuk sendiri.

”Mmm... Kak Austin,” panggilku. ”Kapan Kakak balikin HP saya?”

”Ntar, kalo Lionel udah datang,” jawabnya tanpa mengangkat wajah dari layar ponsel.

Aku menunggu dengan bosan. Pesanan kami datang tidak lama kemudian dan aku langsung menyeruput jus melonku. Rasanya menderita sekali. Mana bisa aku ke­ nyang hanya dengan minum ini?

Aku hanya bisa menyaksikan dengan air liur nyaris menetes ketika Austin mulai memotong beef tenderloin steak-nya. Daging itu terlihat empuk dan gurih, bahkan kentang gorengnya begitu menggugah selera. Seharusnya tadi aku tidak perlu mencurigai niatnya dan pesan makanan yang sama. Lagi pula, tidak ada bedanya meski aku hanya pesan minuman.

Tanpa sadar tanganku bergerak mendekati piring Austin. Rasanya aku ingin mencicipi makanan lezat di piringnya. Karena aku tidak bisa mengambil daging yang sedang dinikmatinya, kentang goreng saja pun tidak apa-apa. Namun, satu senti sebelum tanganku sempat menyentuh kentang goreng, Austin membanting pisau dan garpu yang sedang dipegangnya ke piring sehingga membuatku tersadar.

”Jangan. Pernah. Menyentuh. Makanan. Di. Piring. Gue,” desisnya dengan penekanan pada setiap kata.

”T-tangan saya bergerak sendiri,” kataku beralasan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Mungkin aku sangat kelaparan sehingga otakku menjadi korslet.

”Makanya jangan jaim,” sergah Austin. ”Kalau lapar, ya makan.”

Aku hanya bisa pasrah dibilang jaim. Aku memang bersikap memalukan dengan berusaha mencomot makanan di piringnya.

”Bagus,” kata Austin tiba-tiba. Mulanya aku tidak tahu kenapa dia berkata begitu, sampai aku menyadari dia tidak sedang menatapku, melainkan menatap ke belakangku. ”Itu pacar lo datang.”

Aku langsung menoleh ke belakang dan melihat Lionel baru memasuki kafe. Dia mengedarkan pandangan, pencariannya baru berhenti begitu melihatku. Dia tersenyum padaku, tapi senyumnya langsung lenyap begitu dia melihat orang yang duduk di seberangku. Aku berdiri dan menunggu hingga dia sampai di dekatku.

”Kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Lionel padaku sambil melirik Austin sekilas.

”Kejutan, bukan?” Austin yang menanggapi. Dia berdiri dan berjalan ke sebelahku. ”Pacar lo sebenarnya nggak ingin ketemuan sama lo. Dia cuma melakukan apa yang gue suruh.”

Aku memberikan tatapan minta maaf pada Lionel. Tapi fokus Lionel saat ini sudah berpindah ke Austin.

”Kenapa lo nyuruh Ivy melakukan ini?” tanyanya pada Austin.

”Karena gue ingin menunjukkan sama lo kalau dia sangat nurut sama gue,” kata Austin. ”Gue bisa menguasainya dengan mudah.”

Sembarangan saja dia bicara! Menguasai apa? gerutuku dalam hati.

”Salah sendiri lo udah pacaran sama anak sekolah gue,” lanjut Austin. ”Jadi lo nggak boleh memprotes apa pun yang gue lakukan sama dia.” ”Jangan macam-macam!” Lionel memperingatkan.

”Lo yang jangan macam-macam sama gue,” balas Austin. ”Sedikit aja lo melakukan hal yang nggak menyenangkan, pacar lo yang akan mendapatkan akibatnya.”

Jadi, ini tujuan Austin menyuruhku meminta Lionel datang ke sini. Dia tidak hanya ingin memamerkan otoritasnya padaku, tetapi juga mengancam Lionel dengan menggunakan diriku. Aku memang tidak salah telah menyebutnya licik. Dia memang pandai bermain kotor.

”Sekarang gue mau lo balik badan dan pergi dari sini,” kata Austin pada Lionel. ”Gue mau melanjutkan kencan gue sama pacar lo.”

Ekspresi Lionel mengeras. ”Gue akan mengantar Ivy pulang,” katanya. Dia meraih tanganku, tapi aku tidak bisa mengikutinya pergi karena Austin menahan tanganku yang lain.

Di film, aku selalu menganggap hal seperti ini—dua cowok cakep memperebutkan seorang cewek—keren. Namun, setelah aku mengalami sendiri, rasanya sama sekali tidak keren. Aku malah takut Austin dan Lionel tidak mau saling mengalah dan mereka akan menarik tanganku sampai putus. Hiii!

Austin memelototi Lionel. ”Apa lo nggak dengar apa yang gue bilang?” sergahnya. ”Jangan ganggu kencan gue! Pergi sekarang!”

Melihat kengototan mereka, aku takut akan terjadi perkelahian di sini. Jadi, dengan berat hati aku melepaskan tanganku dari genggaman Lionel.

”Aku akan pulang sama Austin nanti,” kataku padanya.

Lionel menatapku dengan pandangan kecewa bercampur bingung. ”Tapi, Ivy, dia kan nggak bisa—” Dia berhenti, tapi aku tahu apa yang ingin diucapkannya—Austin tidak bisa mengantarku pulang karena dia tidak boleh tahu kalau aku serumah dengan Troy.

”Aku akan membereskannya,” janjiku.

Lionel masih terlihat keberatan, tapi akhirnya mengalah. ”Gue akan pergi,” katanya pada Austin. ”Lepasin tangan Ivy.”

”Iya, gue akan ngelepas kok. Dah, lo sono pergi!” kata Austin.

Lionel terpaksa menurut. Dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Melihat punggungnya yang menjauh membuatku ingin berlari mengejarnya. Sebenarnya aku lebih ingin pulang bersama Lionel, tapi aku tahu Austin tidak akan membiarkan itu terjadi.

Austin langsung melepaskan tanganku begitu Lionel sudah keluar dari kafe. Dia kembali duduk dan melanjutkan makannya.

”Kak Austin, saya mau pulang sekarang,” putusku. ”Kakak nggak usah ngantar saya. Saya bisa pulang sendiri.”

”Gue udah bilang kalau gue akan ngantar lo,” kata Austin. ”Sekarang duduk dan tunggu sampai gue selesai makan.” ”Saya akan bilang sama Lionel kalau Kak Austin yang ngantar saya pulang,” kataku, mencoba bernegosiasi.

”Duduk, Ivy!” tegas Austin. Omongannya jelas tidak bisa dibantah.

Aku pun membanting bokongku ke bangku. Sepertinya dia sengaja berlama-lama karena makannya tidak selesaiselesai. Ketika akhirnya makanan di piringnya sudah tandas, dia tidak langsung mengajakku pulang dan malah kembali memainkan ponsel. Aku sampai harus memohon-mohon padanya, barulah dia membayar makanannya—termasuk jus melonku.

Di mobil, aku mengarahkannya ke rumah Sophie. Aku akan mengaku-aku rumah Sophie sebagai rumahku. Semoga saja Sophie tidak tiba-tiba keluar dan menanyakan apa yang kulakukan di rumahnya.

Mobil berhenti di depan rumah Sophie. Sebelum aku sempat membuka pintu, Austin melemparkan sesuatu ke pangkuanku. Ternyata ponselku. Aku bahkan lupa memintanya lagi. Kasihan ponselku, sudah disandera Austin selama setengah hari.

”Lo ingat, Ivy,” kata Austin dari balik kaca mobilnya yang terbuka ketika aku sudah turun. ”Gue akan membuat lo menyesali hari ketika lo memilih Lionel sebagai pacar lo.” Setelah itu dia menutup kaca dan mobilnya segera menderu pergi. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊