menu

Bad Boys Bab 01

Mode Malam

Bab 01

SAAT aku membuka mata dan melihat wajah Troy, tak ada yang lebih kuinginkan daripada memukul kepalanya dengan panci. Untung baginya, saat ini di dekat kami sedang tidak ada panci. Jadi, aku menahan hasrat untuk memukulnya. Aku berbalik, bersiap kembali ke alam mimpi. Tapi Troy pantang menyerah. Dia berpindah ke kaki ranjang dan mulai menggelitiki telapak kakiku, membuatku hampir menendang mukanya. Ketika usahanya tidak membuahkan hasil, dia berjalan ke arah jendela dan membuka gorden.

Cahaya matahari pagi pun segera menerangi kamar.

Aku mengerang dalam hati. Aku berusaha menarik selimut untuk menutupi kepala, tapi dengan kejam Troy mengambil dan membuangnya ke lantai agar tidak bisa terjangkau olehku.

”Ivy!” serunya tidak sabar. ”Cepat bangun!”

Bersamaan dengan itu beker berbunyi. Aku mengeluarkan jerit frustrasi. Tanpa membuka mata, aku meraba-raba nakas untuk mematikan beker. Hebat. Aku bahkan bangun lebih pagi dari bekerku.

Sejenak suasana hening. Namun tiba-tiba, aku merasa tubuhku terangkat ke udara. Aku membuka mata dan segera menyadari sedang berada dalam gendongan Troy.

Aku memberontak. ”Troy!” seruku. ”Turunin nggak?!”

Troy tidak memedulikanku. Dia terus saja berjalan ke kamar mandi dan melemparku ke sana.

”Aduh!” keluhku begitu kakiku menyentuh lantai kamar mandi yang dingin.

”Mandi sekarang!” perintah Troy. ”Gue bunuh lo kalau sampai bikin gue telat!”

Astaga! Pagi-pagi begini aku sudah mendapatkan ancaman pembunuhan. Dari kakakku sendiri pula. Tapi aku segera menurutinya untuk cepat-cepat mandi. Aku tidak ingin membuatnya marah.

Selesai mandi, aku sibuk berdandan. Aku menatap cermin, terpantullah bayangan seorang cewek cantik berusia enam belas tahun berkulit putih dan memiliki wajah berbentuk hati. Aku menyisir rambut lurusku yang panjang melewati bahu. Aku sedang berpikir untuk mengucirnya ketika tiba-tiba pintu kamarku digedor dengan keras. Memang hanya sekali, tapi nyaris membuat jantung melompat keluar dari rongga dada.

Pasti itu ulah Troy.

Karena gedoran tadi, aku jadi terburu-buru menyelesaikan dandananku sebelum keluar menuju ruang makan. Di sekeliling meja makan sudah duduk Mama, Papa, dan Troy. Troy sudah nyaris menghabiskan sarapan ketika aku duduk di seberangnya. Dengan perlahan, aku pun mulai menyendok bubur ayam yang sudah disajikan Mama. Mata Troy kontan melotot.

”Kalau lo makan kayak siput begitu, lo bakal bikin gue telat,” raungnya.

”Gue kan nggak bisa makan cepat-cepat kayak lo,” balasku.

Untung ada Mama yang menengahi. ”Sudah, Troy. Biarkan adikmu makan,” katanya. ”Lagi pula, biasanya kamu juga nggak peduli kalau telat.”

”Iya,” dukungku. ”Lo kan rajanya telat.”

”Ada yang mesti gue urus pagi ini,” gumam Troy, tanpa bersedia menjelaskan lebih lanjut.

Akhirnya, aku bisa makan dengan tenang. Aku hanya sesekali mendengarkan ketika Mama memarahi Troy karena tidak memakai seragam dengan rapi.

Troy memang selalu tampil urakan. Kemejanya tidak per-

nah dimasukkan dan dua kancing teratasnya selalu dibiarkan terbuka. Di bagian lengan ada bekas coretan spidol yang membentuk tanda tangan. Mungkin itu tanda tangannya sendiri. Dia kan memang narsis.

Banyak cewek yang suka Troy. Hal itu jelas menguntungkan karena dia memang playboy. Entah sudah berapa banyak cewek yang dia pacari kemudian dia campakkan begitu saja.

Sama sepertiku, Troy juga dianugerahi fisik yang menarik. Tubuhnya tinggi besar dengan potongan rambut cepak. Dia rajin nge-gym untuk melatih otot. Tidak heran kalau cewek-cewek sampai harus membawa ember untuk menampung air liur ketika melihatnya.

Begitu aku selesai sarapan, Troy langsung menyeretku dari meja makan. Mama mengikuti kami untuk membuka pintu gerbang.

Aku dan Troy segera memasuki Nissan Juke putih yang terparkir di carport. Mobil itu diberikan Papa pada Troy dengan syarat dia harus mau mengantar-jemputku ke sekolah. Kalau dia sampai menolak, Papa pasti akan mengambilnya kembali.

Aku membuka kaca mobil untuk melambaikan tangan pada Mama, sedangkan Troy dengan cuek melajukan mobil meninggalkan rumah. Mungkin dia masih keki karena dimarahi Mama.

Setengah perjalanan, Troy menepikan mobil. Dia berhenti di dekat sebuah Kawasaki Ninja hijau yang familier. Troy membuka kaca mobil ketika pengemudi motor itu berjalan mendekati mobil kami.

”Troy,” sapanya pada Troy yang hanya menganggukkan kepala.

Pengemudi motor itu adalah Lionel—salah satu teman Troy. Dia berambut jabrik dan memiliki senyum yang menawan. Aku tahu itu karena dia sering tersenyum padaku.

”Turun dari mobil,” perintah Troy padaku. ”Hah? Kenapa?” tanyaku bingung.

”Pindah ke motor Lionel,” perintah Troy lagi. ”Dia yang akan mengantar lo ke sekolah hari ini.”

”Emang lo mau ke mana?” tanyaku.

”Udah gue bilang, ada yang harus gue urus,” kata Troy dengan tidak sabar. ”Cepat pindah, atau gue lempar lo dari mobil!”

Aku segera turun begitu mendengar ancaman Troy. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia segera memacu mobil.

Aku kesal sekali dengan sikap Troy itu. Tapi kekesalanku sedikit terobati karena setidaknya aku bisa bersama Lionel. Aku memang menyukainya, meskipun aku tidak tahu itu perasaan suka sebagai seorang teman atau lebih dari itu. Lionel menyerahkan helm padaku. ”Ayo berangkat seka-

rang!” ajaknya sambil tersenyum padaku.

Lututku terasa lemas karena pagi-pagi begini sudah diberi senyum maut. Aku membalas senyum Lionel dan menerima helm itu, lalu mengikutinya naik ke motor. Rasanya cepat sekali kami tiba. Dia menurunkanku di tempat biasa Troy menurunkanku—agak jauh dari sekolahku. Tentu saja mereka punya alasan kenapa harus menurunkanku di sana.

Aku membuka helm dan menyerahkannya kembali pada Lionel. Aku tidak ingin dia segera pergi, jadi aku berusaha mencari bahan obrolan untuk menahannya.

”Mmm... Kak Lionel,” panggilku. ”Apa kamu tahu urusan yang dimaksud Troy?”

”Tentu,” jawab Lionel. ”Ada anggota geng kami yang dipukuli dan dia nggak pulang semalaman karena takut dimarahi bokap-nyokapnya. Jadi, Troy bantu mengurusnya.”

Aku mengerutkan keningku. ”Gimana cara Troy mengurusnya?”

”Troy akan berbohong kalau anggota geng kami itu menginap di rumahnya,” jelas Lionel. ”Dia juga mengurus pengobatan dan mencari orang yang memukul teman kami itu. Sebagai ketua geng, itu memang tugas Troy.”

Pantas saja uang jajan Troy selalu tergerus habis. Ternyata dia menggunakannya untuk membantu anggota gengnya.

Aku tidak pernah mengerti hobi Troy yang satu itu. Dia selalu membanggakan statusnya sebagai ketua geng. Mungkin dia merasa status itu keren dan bisa membantunya mendapatkan lebih banyak cewek. Sayangnya, Lionel juga anggota geng Troy. Lebih tepatnya, dia wakil Troy. Itulah sebabnya Troy begitu memercayainya. Troy bahkan bisa dengan mudah menyuruh Lionel untuk menggantikannya mengantarku ke sekolah seperti sekarang ini.

Aku berterima kasih pada Lionel dan segera berjalan ke arah pintu gerbang. Entah kenapa, bulu kudukku mendadak meremang, seakan-akan ada yang sedang mengawasiku. Tapi mungkin itu hanya perasaanku.

”Ivy!” Aku mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh dan melihat temanku, Sophie, sedang berlari mendekatiku dari arah berlawanan.

”Pagi, Sophie,” sapaku begitu dia tiba di dekatku. ”Pagi,” balas Sophie sambil merapikan rambut ikal pen-

deknya yang berantakan karena tertiup angin. Dia melongok-longok jauh ke belakangku. ”Apa Kak Troy udah pergi?”

Aku langsung memasang tampang bete. Kami baru bertemu dan dia langsung menanyakan Troy. Dia memang termasuk salah satu dari banyak cewek yang suka Troy. Kami sudah berteman lebih dari tiga tahun, itu berarti sudah selama itu juga dia menyimpan perasaan pada Troy.

”Bukan Troy yang ngantar gue tadi,” aku memberitahunya.

Mata Sophie langsung membesar. ”Kenapa? Apa dia sakit?” tanyanya khawatir. ”Bukan,” jawabku. ”Dia cuma mau mengurus masalah gengnya.”

Kekhawatiran Sophie langsung lenyap, digantikan oleh rasa kagum. ”Oh, dia cool banget ya,” pujinya.

”Sophie, gue lagi nggak mau dengar lo memuji-muji Troy,” protesku.

Kami memasuki sekolah yang bergedung tiga lantai. Sekolahku, SMA Emerald, termasuk salah satu sekolah terbaik di Jakarta. Aku beruntung bisa bersekolah di sini meskipun otakku tidak terlalu pintar.

Awalnya orangtuaku ingin mendaftarkanku ke SMA Vilmaris—sekolah Troy—tapi aku menolak. Aku memilih SMA Emerald karena tidak ingin terpisah dari Sophie yang didaftarkan orangtuanya ke sini. Berkebalikan denganku, Sophie sebenarnya ingin masuk ke SMA Vilmaris karena dia ingin satu sekolah dengan Troy. Namun orangtua Sophie memaksa dengan alasan mereka adalah alumni SMA Emerald.

Troy marah sekali dengan keputusanku. Itu wajar, sebab SMA Emerald dan SMA Vilmaris adalah musuh bebuyutan. Keduanya memiliki tradisi saling membenci selama bertahun-tahun.

Itulah sebabnya Troy dan Lionel tidak bisa menurunkanku di pintu gerbang. Mereka bukan hanya murid SMA Vilmaris, tapi juga ketua dan wakil ketua geng dari sekolah itu. Jika sampai ada anggota geng sekolahku yang melihat mereka, pasti akan terjadi perkelahian. Tragis memang, karena adik dari ketua geng SMA Vilmaris justru bersekolah di SMA Emerald. Tentu saja Troy sudah berkali-kali meminta pada orangtua kami untuk memindahkanku  ke  SMA  Vilmaris,  tapi  mereka  tidak mengabulkannya. Untung saja, sebab sampai kapan pun aku tidak akan mau disuruh pindah dari SMA Emerald.

***

Pada jam istirahat, aku dikejutkan oleh kehadiran wakil ketua geng sekolahku di kantin. Sebelumnya aku tidak pernah berbicara dengannya, makanya aku sangat terkejut ketika dia menghampiri mejaku dan Sophie. Aku hanya tahu dia bernama David. Dia cowok berbibir tebal yang hobi cengengesan, tapi saat ini dia sedang bersikap sangat serius.

”Bos pengen bicara sama lo,” katanya. ”Ayo ikut gue!”

Aku langsung menghentikan keasyikanku memakan siomay dan bertanya dengan heran, ”Kalau dia emang mau bicara sama gue, kenapa bukan dia yang datang ke sini?” David menampilkan wajah ngeri. ”Lo nyuruh si Bos datang ke sini untuk bicara sama lo?!” serunya tidak percaya.

”Emangnya lo pikir lo itu siapa?”

Aku agak tersinggung mendengar ucapannya itu. Memangnya pangkat ketua geng di sekolah ini setinggi apa sampai-sampai aku harus begitu hormat padanya?

Aku mengingat-ingat. Kalau tidak salah, ketua geng sekolahku adalah anak kelas dua belas bernama Austin. Aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang kutahu, dia itu cowok tajir dan—sama seperti Troy—punya banyak penggemar. Aku tidak tertarik padanya karena dia sedikit-banyak mengingatkanku pada Troy dan kehidupan gengnya. Aku tidak pernah berurusan dengan Austin sebelum ini.

Jadi, aku tidak tahu apa yang diinginkannya dariku. David juga tidak mau memberitahuku, sehingga dengan terpaksa aku meninggalkan Sophie untuk mengikuti David ke salah satu ruang kelas. Awalnya kupikir kelas itu kosong, tapi ternyata ada seorang cowok yang duduk di kursi guru dengan gaya sok. Kakinya yang panjang disilangkan di atas meja.

David segera melapor, ”Bos, gue udah bawa Ivy Cornelia ke sini.”

Cowok di meja guru itu hanya menggerakkan sebelah tangannya dengan gaya mengusir. David pun langsung pergi dari kelas.

Aku berdiri di tengah kelas sambil memperhatikan cowok itu. Ya, dia memang Austin. Aku bisa mengenalinya karena hanya dia satu-satunya murid di sekolah ini yang berani mengecat rambut. Sedikit bagian di sisi kiri rambutnya—yang memanjang hingga mencapai poni—berwarna merah. Dia memiliki rahang tegas, hidung mancung, dan bulu mata panjang. Gaya berpakaiannya benar-benar sama dengan Troy—begitu urakan dengan kemeja yang tidak dimasukkan dan dua kancing teratas dibiarkan terbuka. Ada apa sih dengan dua cowok itu? Kenapa mereka hobi sekali memamerkan dada?

Tapi kuakui dia memang ganteng. Tidak heran banyak cewek yang suka dia. Dia sangat arogan dan memiliki darah pemberontak di dalam dirinya, tapi entah kenapa hal itu justru menambah daya tariknya.

Untung, aku sudah kebal dengan tipe cowok seperti itu. Aku sudah cukup direpotkan dengan kehadiran Troy di rumah.

Austin tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memandangku dengan meremehkan. Aku tidak suka ditatap seperti itu. Tatapan itu begitu mengintimidasiku.

”Ada apa, Kak?” Akhirnya aku memberanikan diri bertanya.

Austin tetap diam selama beberapa detik, kemudian dia menurunkan kakinya dari meja dan berdiri. Aku terpana melihat betapa tinggi dia. Sepertinya dia sedikit lebih tinggi dari Troy, padahal tinggi Troy sudah mencapai 183 senti.

”Ivy,” kata Austin akhirnya. ”Salah satu anggota geng gue melihat lo diantar Lionel anak Vilmaris ke sekolah tadi pagi. Apa itu benar?”

Aku langsung tercengang. Aku sudah begitu berhati-hati, tapi masih ada yang melihat? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Mungkin ini karena Lionel naik motor, sedangkan Troy selalu terlindung di balik gelapnya kaca mobil. Pantas saja tadi aku merasa ada yang mengawasiku. Ternyata memang benar, ada anggota geng sekolahku yang melihatku bersama Lionel.

”Gimana?” tanya Austin lagi. Dia terlihat tidak sabar menanti jawabanku.

”Mmm...” Aku jadi bingung harus menjawab apa. Kalau aku jujur, geng Troy bisa berada dalam masalah. Ya sudah deh, aku bohong saja.

”B-bukan. Itu bukan Lionel.”

”BOHONG!!!” seru Austin sambil menggebrak meja.

Untuk kedua kalinya hari ini, jantungku hampir melompat keluar dari rongga dada. Sialan, aku kaget sekali! Kenapa sih dia harus menggebrak-gebrak meja seperti itu?!

”Saya nggak bo—”

”Anggota geng gue nggak mungkin memberikan info yang salah,” potong Austin. ”Jadi itu pasti Lionel anak Vilmaris.” Kalau dia sudah begitu yakin, kenapa dia masih mena-

nyakan itu padaku?

”Apa lo mata-mata?” Pertanyaan Austin itu langsung membuatku melotot.

”Bukan,” jawabku cepat. ”Saya bukan mata-mata, Kak.” ”Terus kenapa lo berteman dengan musuh?” tuntut Aus-

tin tidak senang.

”Saya nggak berteman dengannya,” dustaku. ”Saya nggak kenal dia kok. Sungguh.”

Austin mulai berjalan mendekatiku, tanpa melepaskan tatapan mengintimidasi itu dariku. Aku ngeri melihatnya. ”Lo lihat aja, Ivy,” desisnya tajam. ”Mulai saat ini, gue akan mengawasi lo.”

Aku langsung gemetaran. Apa dia serius? ”Sekarang keluar!” perintahnya.

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung ngacir dari ruangan. Di luar, aku hampir menabrak Greta. Dia sedang berdiri di depan pintu kelas—jelas sekali sedang berusaha menguping.

Kami saling mengernyit. Greta yang cantik ini teman sekelas Austin. Sudah bukan rahasia lagi kalau dia jatuh cinta mati-matian pada Austin.

Sifat Greta sangat buruk, bahkan dia sering membuatku kesal. Perseteruan kami disebabkan oleh suatu hal yang sepele. Waktu itu aku sedang bercanda dengan Sophie. Ketika tertawa, tanpa sengaja aku menatap Greta. Dia malah mengira aku sedang menertawakannya. Sejak kejadian itu dia selalu mencari-cari masalah denganku.

Greta mengibaskan rambut bak cewek-cewek di iklan sampo. Untung saja rambutnya yang panjangnya hampir sepinggang itu tidak sampai menampar mukaku.

”Apa yang lo bicarain sama Austin?” tanya Greta dengan nada cuek, padahal aku tahu dia sangat penasaran.

”Bukan urusan lo,” jawabku ketus.

Greta menyipitkan mata. ”Pasti lo sedang berusaha mendekati Austin,” tuduhnya. ”Lo sengaja ngajak ketemuan di ruang kelas yang sepi untuk menggoda dia, kan?” ”Jangan asal menuduh!” bentakku. ”Dia yang ngajak gue ketemuan.”

Greta langsung tertawa—jelas sekali dibuat-buat. Tawanya mengingatkanku pada suara hyena. ”Austin ngajak lo ketemuan? Lo ngimpi, ya?”

”Terserah kalau lo nggak percaya,” kataku tidak peduli.

Tepat pada saat itu Austin keluar dari dalam kelas. Dia berhenti saat melihatku dan Greta.

”Austin...,” seru Greta dengan suara manja.

Aku menatap Greta tidak percaya. Dasar hyena bermuka dua! Bisa-bisanya dia mengubah nada suara dalam waktu sesingkat itu.

”Jangan sentuh gue!” Austin memperingatkan ketika Greta akan meletakkan tangan di lengan cowok itu.

Gerakan Greta langsung berhenti seketika. Dia terbengong-bengong karena dibentak Austin. Nyaris saja aku tertawa melihat itu.

Austin melirikku sekilas, lalu segera berjalan melewatiku. Greta langsung mengikutinya. Aku lega dengan kepergian dua orang menyebalkan itu. Tapi rasa legaku hanya bertahan sebentar. Aku teringat pada ancaman Austin tadi. Apa dia benar-benar akan mengawasiku?

Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan. Jika Austin memang mengawasiku, Troy tidak boleh menjemputku nanti. Aku pun langsung mengeluarkan ponsel dari saku rok untuk menelepon Troy. ”Ya?” jawab Troy pada dering kelima. ”Troy!” seruku. ”Lo jemput gue nanti?” ”Nggak,” jawab Troy.

Seketika aku lega. Aku tidak perlu khawatir meskipun Austin mengawasiku nanti.

”Lionel yang jemput lo nanti,” lanjut Troy.

”Apa?!” seruku kaget. ”Nggak! Batalkan itu! Jangan sampai dia—”

”Jangan bicara lagi, gue lagi sibuk,” potong Troy. ”Udah, ya.” Dan tanpa menunggu jawabanku lagi, dia langsung menutup telepon.

Huaaa... kenapa ditutuuuppp? Dengan panik aku berusaha menelepon Troy lagi, tapi dia sudah mematikan ponsel. Dasar Troy keparat! Kenapa di saat sepenting ini dia justru mematikan ponsel?!

Aduh,  bagaimana  ini?  Aku  tidak  tahu  nomor  ponsel Lionel atau teman Troy yang lain. Tidak ada cara untuk memperingatkan Lionel agar tidak menjemputku.

Aku tidak bisa berkonsentrasi sepanjang sisa pelajaran hari itu. Sebentar-sebentar aku menelepon Troy untuk mengecek apakah dia sudah menyalakan ponsel, tapi hasilnya nihil.

Saat tiba waktu pulang, aku menunggu di tempat aku biasa dijemput dengan perasaan gelisah luar biasa. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat apakah Austin atau salah satu anggota gengnya mengawasiku, tapi sejauh ini tidak ada siapa-siapa. Mungkin tadi dia hanya menggertak.

Ketika Lionel akhirnya datang, aku langsung terburuburu memakai helm. Aku baru akan naik ke motor ketika tiba-tiba sebuah Toyota 86 merah berhenti di dekat kami. Pintu pengemudi terbuka dan kulihat Austin melangkah keluar dari mobil itu.

Mendadak tubuhku terasa kaku. Aku tidak bisa bergerak meski yang kuinginkan saat ini adalah melompat ke motor dan berteriak menyuruh Lionel segera memacunya kencang.  Namun,  Lionel  pun  tampaknya  terkejut  dengan kehadiran Austin. Dia pasti tidak menyangka kami akan ketahuan.

Ini benar-benar gawat! Bukan hanya Austin mengetahui kebohonganku, tapi dia memergoki sendiri. Ternyata dia memang tidak main-main dengan ucapannya.

Austin memamerkan senyum sinis. ”Jadi lo benar-benar nggak kenal Lionel, Ivy?” sindirnya.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Untung aku dibebaskan dari keharusan menjawab karena Lionel sudah bersuara.

”Austin,” katanya dingin.

Aku tidak pernah mendengar Lionel berbicara dengan suara sedingin itu. Sama sekali tidak ada senyum di wajahnya. Dia hanya menatap Austin dengan kebencian yang tampak begitu jelas. Austin balik menatap Lionel dengan tatapan setajam laser. Atmosfer di sekitar kami mendadak mencekam. Aku berdiri dengan canggung di antara mereka, sementara mereka tampak sedang berencana untuk saling membunuh.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊