menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 14 (Tamat)

Mode Malam
BAB 14 (Tamat)
AUSTIN ALLEN

MENURUT Austin, dibanding sebelum mereka berpacaran, Ivy sedikit berubah. Bukan perubahan jelek. Yang jelas, mereka jadi sering bertengkar gara-gara itu.

Sebenarnya ”dibanding sebelum mereka berpacaran” yang dimaksud Austin, secara lebih spesifiknya, mengacu pada waktu Ivy masih menjadi pesuruh gengnya. Austin tidak percaya betapa kejamnya dia dulu, menjadikan Ivy pesuruh geng, tapi juga tidak terlalu menyesalinya, karena bisa dibilang itulah yang membuat mereka berpacaran.

Dulu Ivy sangat penurut. Apa pun yang diperintahkan Austin, sampai ke hal-hal konyol seperti membawakan tasnya ke kelas, memesankan makanan di kantin, dan mengipasinya saat dia kepanasan, pasti diturutinya—meski dengan tampang cemberut. Austin tahu itu karena dia mengancam akan melukai Lionel kalau Ivy tidak menurutinya. Kini Ivy tidak sepenurut itu lagi. Sifat aslinya mulai keluar saat dia sudah berpacaran dengan Austin, yang membuat Austin menyadari ternyata Ivy sangat keras kepala. Kebetulan sifat Austin pun seperti itu. Dua orang yang sama-sama keras kepala menjadi sepasang kekasih, dan akibatnya bisa ditebak: pertengkaran-pertengkaran yang tidak ada habis-habisnya.

Tapi di antara semua pertengkaran, pada dasarnya mereka saling menyayangi. Itulah yang membuat mereka mudah untuk saling memaafkan. Tidak ada pertengkaran mereka yang bertahan lama, karena yang satu—kebanyakan Austin—rela menurunkan egonya demi berbaikan kembali.

Austin sudah tertarik pada Ivy dari awal dia melihatnya, saat David membawanya ke kelasnya, karena Ivy dicurigai menjalin hubungan dengan Lionel, yang notabene murid sekolah musuh. Biasanya dia jarang tertarik pada cewek semudah itu, tapi Ivy berbeda.

Ivy cantik, itu satu hal. Yang lebih penting, dia tidak agresif pada Austin seperti cewek-cewek kebanyakan. Austin paling benci cewek seperti itu, yang suka mengejar-ngejar cowok, dan bahkan menyatakan cinta duluan.

Yang paling Austin sukai dari Ivy adalah gadis itu bisa membuatnya tertawa, bahkan saat dia tidak bermaksud begitu. Bukannya Austin menganggap Ivy pelawak atau apa, tapi baginya, itu nilai plus.

Hari ini, tepat setahun Austin dan Ivy berpacaran. Austin berencana mengajak Ivy makan malam di Warung Satai Bu Nunung. Itu bukan restoran mewah tempat dia seharusnya mengajak Ivy, tapi warung itu menyajikan satai ayam terlezat yang pernah dicobanya. Satai ayam bagaikan simbol untuk pasangan itu karena makanan itulah yang mereka makan saat kencan pertama maupun saat Austin menyatakan cinta pada Ivy.

Tepat pukul setengah tujuh malam, setelah memasukkan hadiah untuk Ivy ke mobil, Austin berkendara ke rumah Ivy. Gadis itu, seperti biasa, cantik dengan kemeja putih yang dilapisi denim skirtalls hitam, sneakers cokelat dengan tali hitam, dan tas cokelat, mengimbangi Austin yang mengenakan polo shirt putih, celana jins hitam, dan sneakers hitam.

Warung itu luas dan bersih. Austin dan Ivy menempati salah satu meja yang terletak di bagian luar samping. Mereka memesan dua lontong dan dua puluh satai ayam. Karena Ivy sangat menyukai satai itu maka Austin memesan sepuluh tusuk lagi. Sembari makan, mereka mengobrolkan banyak hal.

Sewaktu mengantar Ivy pulang, Austin menahan Ivy sebelum cewek itu sempat masuk ke rumah, karena ingin menyerahkan hadiah padanya. Dia membuka bagasi mobil dan mengeluarkan hadiah: boneka beruang putih seukuran manusia dewasa. Ivy memekik kegirangan melihat boneka itu, lalu melompat untuk memeluknya, membuat Austin yang memegang boneka itu nyaris terjungkal.

”Lucu banget!” pekik Ivy. ”Makasih ya, Tin.”

”Sama-sama, Vy,” kata Austin, senang karena Ivy menyukai hadiahnya.

Ivy mengambil boneka itu dari Austin, tapi ketika dia mencoba berjalan, langkahnya malah limbung dan nyaris terjatuh. Mungkin karena boneka itu terlalu besar. Takut Ivy akan benar-benar terjatuh, Austin mengambil kembali boneka itu dari Ivy.

”Biar aku aja yang bawain ke dalam,” tawar Austin.

Ivy setuju. Austin mengikutinya masuk ke rumah. Dalam hati, Austin berharap orangtua Ivy dan Troy sudah tidur sehingga tidak melihatnya membawa-bawa boneka begitu.

Harapannya tidak terkabul. Orangtua Ivy sepertinya memang tidur karena tidak terlihat, tapi Troy ada di ruang keluarga, menonton televisi. Troy menoleh ketika mendengar langkah Austin dan Ivy, lalu terbengong-bengong melihat boneka di tangan Austin.

Berusaha tidak mengacuhkan Troy, Austin terus mengikuti Ivy, yang akan masuk ke kamarnya. Sebelum Austin masuk ke kamar Ivy, dia mendengar Troy berkata, ”Jangan tutup pintunya, Vy,” membuatnya langsung memutar bola mata.

Baru kali ini Austin masuk ke kamar Ivy. Semua yang ada di kamar itu terlihat normal-normal saja: ranjang queen-size dan nakas dengan beker, meja rias dekat kaki ranjang, lemari pakaian, serta dua kabinet yang berdampingan di sisi kanan.

Tidak ada yang aneh, kecuali kenyataan bahwa hampir seluruh temboknya ditutupi poster SHINee. Hanya langit-langit yang bersih. Kalau Ivy bisa menempelkan poster SHINee di sana, dia pasti sudah melakukannya. Ego Austin sebagai laki-laki sedikit terusik, karena Ivy tidak memajang fotonya di manapun.

Austin meletakkan boneka di ranjang, dan boneka itu langsung menutupi sebagian ranjang. Ivy tidak keberatan boneka itu membuat ranjangnya makin sempit karena saat ini dia sudah memeluk boneka itu.

Puas memeluk boneka, Ivy mengeluarkan sesuatu dari tas, kemudian menyerahkannya pada Austin: scrapbook. Meski Ivy tidak mengatakan apa-apa, Austin tahu scrapbook adalah hadiah Ivy untuknya.

Scrapbook itu cukup tebal, dengan kertas berwarna-warni. Di setiap halamannya terdapat foto-foto Austin dan Ivy yang sudah digunting-gunting, dan dihiasi stiker berbagai bentuk, seperti bentuk hati, bintang, bunga, dan lain-lain. Terdapat beberapa kata, ada yang ditulis tangan dalam berbagai warna tinta, dan ada juga yang dibuat dari guntingan huruf-huruf dari majalah.

Austin asyik membalik-balik halaman scrapbook, tapi gerakan tangannya terhenti saat tiba di halaman tengah, yang menampilkan foto Ivy bersama gambar SHINee.

”Kok ada SHINee juga di sini?” protes Austin.

”Halaman itu nunjukin apa yang kita suka,” jelas Ivy. ”Aku kan suka SHINee, jadi aku tempel gambarnya di sana, bareng sama fotoku.”

”Tapi aku nggak pernah bilang aku suka Freddy Krueger,” kata Austin, merujuk fotonya yang ditempel bersama gambar Freddy Krueger, di halaman yang sama.

”Tapi kamu kan udah nonton A Nightmare on Elm Street

berkali-kali?” kata Ivy.

Austin tidak tega menjelaskan pada Ivy bahwa meski dia sudah menonton A Nightmare on Elm Street berkali-kali, bukan berarti dia menyukai Freddy Krueger. Ada beberapa film yang memang suka ditontonnya berulang-ulang, itu saja. Jadi dia terpaksa menerima foto Ivy yang seperti sedang selfie dengan cowok-cowok cantik Korea sementara fotonya sendiri seperti sedang selfie dengan wajah penuh luka bakar Freddy Krueger. Selesai melihat seluruh halaman scrapbook, Austin menutupnya sambil tersenyum. ”Ini bagus banget, Vy,” pujinya, dan berusaha menahan diri untuk menambahkan, ”Andai nggak ada

SHINee-nya,” lalu menggantinya dengan, ”Makasih, ya.” Ivy juga tersenyum. ”Sama-sama, Tin.”

Troy tiba-tiba saja muncul di ambang pintu kamar Ivy. ”Udah malam,” katanya, Austin merasa itu ditujukan padanya.

”Aku pulang dulu deh, Vy,” kata Austin, karena toh sudah diusir secara tidak langsung oleh Troy.

Ivy mengantar pacarnya sampai ke pintu pagar. Belum sempat Austin masuk ke mobil, Ivy memanggilnya. Ketika cowok itu menoleh, dia merasakan bibir Ivy mengecup pipinya sekilas. Austin terbengong-bengong sementara Ivy, dengan wajah memerah, melesat masuk ke rumah.

Wajar saja Austin terkejut, karena sejak mereka berpacaran, ini pertama kali Ivy menciumnya—atau dalam hal ini, mengecupnya—duluan. Apa Ivy begitu senangnya karena hari ini perayaan satu tahun jadian mereka, atau karena boneka yang diberikan Austin? 

Sembari masuk ke mobil, dengan senyum yang terbit di bibirnya, Austin berpikir, dia harus lebih sering memberi hadiah pada Ivy.... 

TROY CORNELIUS

TROY tahu Sophie pencemburu, tapi tidak tahu Sophie sepencemburu itu. Dia tidak bisa memprotes soal itu karena sama cemburunya.

Sudah enam bulan Troy dan Sophie berpacaran, dan itu rekor terlamanya, melampaui hubungannya dengan Kiran. Biasanya dia mudah bosan dengan cewek yang dipacarinya atau hanya sekadar dikencaninya. Dengan Sophie, dia belum pernah bosan, dan semoga saja tidak akan pernah.

Sophie bukan cewek tercantik yang pernah dipacari Troy, tapi jelas terunik. Apa yang akan dikatakan atau dilakukan Sophie, sulit ditebak. Mungkin itu yang membuat Troy betah bersamanya, meski kecerewetan Sophie kadang-kadang bikin telinganya sakit.

Sejak bertemu Sophie lebih dari empat tahun lalu, saat Ivy mengajaknya ke rumah, Troy tahu suatu saat Sophie akan merebut hatinya. Sebenarnya Troy sudah tertarik pada Sophie saat itu. Troy sempat memiliki prinsip tidak akan memacari teman Ivy, supaya kalau mereka putus, tidak memengaruhi persahabatan Ivy dengan Sophie. Jadilah Troy mati-matian berusaha menghilangkan rasa tertariknya. Tidak pernah benar-benar hilang, tentu saja, karena dia mendapati rasa tertariknya hanya mengendap di dasar hati, dan perlahan-lahan berjuang untuk keluar kembali.

Meski merasa tidak boleh menyukai Sophie, Troy menikmati kehadiran cewek itu di dekatnya. Sophie banyak menghabiskan waktu bersama Ivy, membuat Troy sering bertemu dengannya. Sebagaimana rasa tertarik Troy pada Sophie, Sophie pun terpikat padanya. Sophie tidak pintar menyembunyikan perasaannya, siapa pun yang mengamatinya pasti tahu. Troy berpura-pura tidak tahu, menyangka dengan begitu Sophie akan melupakan perasaan khususnya. Siapa sangka, rasa itu berkembang menjadi rasa suka, yang kemudian bertahan hingga bertahun-tahun

kemudian?

Sophie sempat mengungkapkan perasaannya pada Troy, tapi Troy terpaksa menolaknya. Ternyata cowok itu bukan hanya menyakiti Sophie, juga menyakiti dirinya sendiri. Dia tidak bisa lagi mengelak rasa tertariknya pada Sophie yang sudah berkembang menjadi rasa suka, meski sedikit terlambat. Butuh kehilangan Sophie untuk membuat lelaki itu menyadari dirinya tidak bisa hidup tanpa cewek itu. Kedengarannya berlebihan, tapi yah... segala sesuatu yang menyangkut Sophie, memang berlebihan kok.

Troy meminta Sophie menjadi pacarnya di wahana bianglala Dunia Fantasi, dan cewek itu menerimanya. Sophie sempat menangis setelahnya—air mata bahagia, katanya—dan setelah mereka pulang dari Dufan pun, dia berkali-kali bertanya apa mereka benar-benar sudah pacaran, seakan takut Troy hanya mengerjainya.

Keuntungan menjadi pacar Sophie adalah cewek itu luar biasa perhatian padanya, bahkan sampai hal-hal terkecil. Rasanya Troy jadi tidak pernah ”lupa makan, lupa istirahat, lupa tidur, atau lupa apa pun” sejak berpacaran dengan Sophie, karena Sophie selalu mengingatkannya. Dia bahkan hafal jadwal kuliah Troy, yang Troy sendiri sering abai.

Pria itu kuliah di fakultas ekonomi di universitas swasta di Jakarta, dan Sophie suka datang ke kampusnya, terutama kalau Troy kuliah sore. Bahkan, cewek itu pernah membolos sekolah hanya demi memata-matai Troy di kampus. Troy tentu melarangnya untuk membolos lagi, yang hanya dibalas Sophie dengan, ”Orang yang pas SMA juga suka bolos nggak usah ngelaranglarang orang lain bolos.”

Seharusnya waktu SMA Troy tidak sering membolos.

Hari ini kebetulan Troy ada kuliah sore, dan tidak heran Sophie datang ke kampusnya. Cewek itu mengenakan pakaian dan aksesori ala mahasiswi gayanya sendiri: kemeja putih, celana jins biru, flat shoes hitam, dan tas selempang cokelat.

Sophie menemani Troy hingga ke ruang 707, yang merupakan kelas Pengantar Ekonomi Mikro, membuat Troy merasa seperti anak TK yang ditemani ibunya ke sekolah. Baru beberapa mahasiswa yang datang, dan Bu Rossa, dosennya, justru belum datang. Karena di kelas Pengantar Ekonomi Mikro dan di sebagian besar kelas kursi-kursi di deretan paling belakang menjadi yang paling cepat penuh. Troy tidak ingin sampai kehabisan kursi. Dia meninggalkan Sophie sejenak untuk meletakkan tasnya di salah satu kursi tersebut.

Baru saja lelaki itu meletakkan tasnya, seseorang memanggilnya sambil menjawil bahu. Sherly. Teman sekelas Troy di mata kuliah ini.

Sherly berniat meminjam catatan Troy karena minggu lalu dia tidak masuk. Jelas itu hanya modus, Troy juga tahu. Karena sedang ingin bersikap baik, dikeluarkan juga catatannya. Baru sepersekian detik catatan itu berada di tangan Sherly, seseorang langsung merebutnya—yang kemudian disadari Troy adalah Sophie.

Uh-oh, ini pasti akan menjadi masalah.

”Bisa minjam sama yang lain aja, kan?” kata Sophie pada Sherly, dengan nada berbahaya. Tatapan yang diarahkannya pada Sherly begitu menusuk, dan siapa pun pasti setuju Sophie terlihat begitu menyeramkan.

”Kenapa harus minjam sama yang lain?” balas Sherly, sambil melirik Troy dengan bingung. Jelas dia tidak tahu dengan siapa dia sedang berhadapan, dan masalah apa yang akan menantinya. ”Gue kan mau minjam sama Troy.”

Sophie mendengus. ”Gue nggak sudi catatan cowok gue dipinjam cewek gatal kayak lo,” katanya tajam.

Sherly, yang tidak menyangka akan diserang secara verbal begitu, hanya bisa ternganga. Sementara itu, sadar Sophie sudah keterlaluan, Troy turun tangan menyelamatkan Sherly.

”Sori ya, Sher,” gumam Troy pada Sherly sementara dia menarik Sophie dari hadapan Sherly, dan membawanya ke luar kelas. Meski tampaknya Sophie belum puas menyerang Sherly, dia menurut saja.

Di luar kelas, tahu Troy akan mengonfrontasinya seputar sikapnya pada Sherly, Sophie memasang tampang tidak bersalah.

”Kamu apa-apaan sih, Soph?” tuntut Troy. ”Kenapa kamu bersikap begitu sama Sherly?”

”Sherly?” ulang Sophie, mengucapkan nama Sherly seolah itu nama binatang menjijikkan. ”Apa waktu aku nggak lihat, kamu udah melakukan perkenalan yang manis sama cewek itu?”

”Jangan konyol,” tukas Troy. ”Lagian, ini bukan tentang aku dan Sherly, tapi tentang kamu. Tentang sikapmu, lebih tepatnya.”

”Aku nggak ngerasa ada yang salah dengan sikapku,” kata Sophie enteng. ”Cewek itu emang pantas dikasarin. Seenaknya aja ngegoda cowok orang.”

”Dia bukan ngegoda aku,” tukas Troy lagi. ”Dia cuma minjam catatan aku.”

”Itu kan cuma modus, masa kamu nggak tahu sih?” cetus Sophie gemas. ”Kalau dia emang mau minjam catatan, nggak mungkin minjam sama kamu.”

”Kenapa nggak mungkin?” tuntut Troy.

Sophie mendesah. ”Mr. Cornelius,” katanya. ”Kamu gantengnya emang kebangetan, tapi tulisan kamu juga jeleknya kebangetan.”

Troy jadi keki. Sophie memang paling hobi menghina tulisannya, yang dibilang mirip cakar bebek. Bahkan, suatu kali, dia pernah berkata, ”Kalau kamu mau kirimin aku surat cinta, kamu ketik pakai komputer aja ya. Soalnya kalau baca tulisanmu, bisabisa aku kena migrain mendadak, terus mati.”

Memang kurang ajar si Sophie.

”Okelah, anggap aja itu emang modus,” kata Troy, mengabaikan hinaan Sophie. ”So what? Aku cuma minjemin catatan, nggak lebih. Terserah dia mau nganggap gimana. Aku kan udah punya kamu, jadi buat apa aku peduli sama cewek lain?”

Tampaknya Troy sudah mengucapkan kata-kata yang tepat, karena wajah Sophie langsung kembali cerah. Kali selanjutnya Sophie berbicara, nada suaranya melunak.

”Aku nggak suka kamu minjemin catatan ke cewek,” kata Sophie. ”Beneran. Semakin banyak aku harus ngadepin cewek kayak tadi, bisa-bisa aku hibernasi.”

”Hipertensi, kali, maksudmu,” ralat Troy, sedikit geli. ”Kamu kan bukan beruang, yang butuh hibernasi segala.” Meski dia tidak heran bila Sophie berubah menjadi beruang, dan mencabik-cabik cewek-cewek seperti Sherly, seperti beruang mencabik-cabik Leonardo DiCaprio di film The Revenant.

Sophie tercenung sejenak. Kepalanya sibuk memikirkan perbedaan kata ”hibernasi” dan ”hipertensi”. Dia menggeleng, seakan berusaha mengusir kedua kata itu ke luar.

”Pokoknya,” tegas Sophie, ”aku nggak mau kamu minjemin catatan ke cewek. Cowok boleh, tapi cewek nggak. Oke?”

Di balik sikap pencemburunya, Sophie merasa tidak aman. Dia tipe cewek yang penuh percaya diri, tapi kalau sudah menyangkut cewek-cewek di sekeliling Troy, apalagi yang dia tahu lebih cantik darinya, rasa percaya dirinya pasti luntur. Dia akan menanggulanginya dengan menyatakan kepemilikannya atas Troy atau menyerang cewek-cewek di sekeliling Troy itu secara langsung.

Tidak ingin memperparah rasa tidak aman Sophie, Troy berkata, ”Oke. Lagian, kalau cewek-cewek itu baca tulisanku, mungkin mereka bakal mati.”

Sophie tergelak. Dia tidak lagi mempermasalahkan siapa yang boleh dan tidak boleh meminjam catatan Troy, karena Bu Rossa muncul di ujung koridor. Troy menyuruh Sophie menunggu di aula tengah seperti biasa sementara dia sendiri kembali ke kelas.

Saat Troy mengira Sophie sudah dalam perjalanan ke aula tengah, tanpa disangka-sangka cewek itu malah muncul di ambang pintu kelasnya, memanggilnya, dan menekuk kedua tangan di atas kepala membentuk tanda hati, sambil berseru, ”Hwaiting!” ala cewek-cewek Korea, sebelum akhirnya pergi.

Teman sekelasnya terkikik-kikik geli melihat aksi Sophie, Troy secara otomatis malah merosot di kursinya, berharap dia bisa terus merosot hingga lenyap ditelan lantai dan di bawahnya lagi, dan di bawahnya lagi, terus hingga ke dasar bumi yang terdalam, saking malunya dia. Dia harus mengingatkan Sophie untuk tidak mengumbar cinta padanya begitu.

Troy langsung keluar begitu kuliah selesai, dan menuju aula tengah. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari Sophie tidak sendirian, melainkan bersama cowok brengsek yang mendadak menggantikan Austin sebagai orang yang paling dibencinya.

Edgar.

Memang sial, di antara sekian banyak orang yang bisa sekampus dengannya, Troy malah sekampus dengan Edgar. Dia masih belum bisa memaafkan Edgar karena telah melibatkan geng Cebol dalam masalah antara geng mereka, yang akhirnya menyeret Ivy, Sophie, dan Natasha, membuat ketiga cewek itu terluka.

Bukan cuma itu. Cowok brengsek itu berani-beraninya menyukai Sophie. Sophie sendiri yang tidak sengaja mengungkapkan hal itu pada Troy. Ketika Troy berusaha mengorek-ngoreknya, dia tahu Edgar pernah mengungkapkan perasaannya pada Sophie pada malam yang sama dengannya.

Dan kini, Troy melihat Edgar memojokkan Sophie di kursi paling ujung. Sebelah tangan Edgar diletakkan di dinding sebelah Sophie, memerangkap Sophie yang hanya bisa mengerut di kursinya sementara dia menunduk mepet ke Sophie.

Apa cowok brengsek itu berniat mencium Sophie?

Troy paling tidak suka jika apa—dalam hal ini, siapa—yang menjadi miliknya diutak-atik, dan Edgar jelas tengah melakukannya. Mungkin Edgar sengaja menantangnya, dan Troy selalu mengambil setiap tantangan yang disodorkan ke mukanya.

Jadi, dengan amarah yang membesar di setiap langkahnya, Troy berjalan mendekati Edgar dan Sophie.... 

EDGAR JULIAN

MENGAMATI Sophie menjadi kegiatan favorit Edgar. Dia tahu hal itu membuatnya terkesan seperti penguntit dan dia tidak terlalu keberatan.

Edgar bukanlah tipe cowok yang mudah jatuh cinta. Lagi pula, bagaimana mungkin dia memikirkan soal cinta, dengan kehilangan demi kehilangan yang senantiasa menghiasi hidupnya?

Ketika orangtuanya meninggal, dia sempat terpuruk dalam kesedihan, tapi setidaknya dulu dia masih punya Roger. Tentu, masih ada om dan tantenya, yang berbaik hati menampung dirinya dan Roger. Namun tetap saja tidak sama. Dia tidak membenci om dan tantenya, hanya tidak menyukai mereka. Mereka berusaha terlalu keras menggantikan peran orangtuanya. Mereka juga terlalu baik, dan kebaikan seperti itu cukup mengganggu Edgar. Edgar sangat mengagumi Roger, dan sering kali menjadikannya sebagai pegangan hidup. Ternyata Roger menyusul orangtua mereka, dan Edgar pun kehilangan pegangannya. Dia bukan hanya terpuruk, tapi juga tenggelam dalam kesedihan, begitu dalam hingga dia tak mampu keluar lagi.

Sampai kemudian Sophie datang.

Awalnya, Edgar merasa Sophie sama saja dengan cewekcewek lain, yang tertarik padanya dan berusaha mendekatinya. Dia selalu bersikap kasar pada Sophie, seperti dia bersikap kasar pada cewek lain, berharap dengan begitu Sophie akan takut padanya dan pergi. Ternyata tidak seperti cewek-cewek lain yang memang pergi, Sophie selalu kembali, membuat Edgar penasaran.

Sebelumnya, cewek yang bisa membuat Edgar penasaran hanya satu: Natasha. Tapi dia tahu Natasha tidak memiliki perasaan apa pun padanya, karena saat itu Natasha sedang dalam fase patah hati dengan Troy. Edgar tidak terlalu mempermasalahkannya, dan malah berteman dengannya.

Dengan Sophie, rasanya berbeda. Kecantikan, kelucuan, dan kecerewetan Sophie seakan menjadi tali yang membantu Edgar keluar dari kesedihannya. Dia senang menghabiskan waktu berdua dengan Sophie, mendengarkan celotehan yang seakan tidak habis-habisnya keluar dari mulutnya.

Tapi tali itu dengan cepat putus, ketika Edgar menyadari tujuan Sophie mendekatinya hanya untuk mengorek informasi darinya, demi membantu geng Troy. Kekecewaan Edgar pada Sophie membuatnya sempat menyanderanya dalam pertempuran antara gengnya, geng Troy, geng Austin, dan geng Cebol; yang disesalinya kemudian. Tadinya Edgar sudah berniat menyerah atas Sophie karena tahu Sophie menyukai Troy, tapi niat itu langsung pupus ketika dia melihat sendiri Troy jalan dengan cewek lain. Natasha memang sempat memberitahunya bahwa cewek lain itu adalah mantan pacar Troy, yang bernama Kiran atau Karin atau siapalah, yang masih bergantung pada Troy, tapi dia tidak serta-merta memercayainya. Troy cowok brengsek dan akan selalu menjadi cowok brengsek.

Seperti  yang  pernah  dikatakannya  pada  Natasha,  Edgar berniat merebut Sophie dari Troy. Niat itu seakan dipermudah karena ternyata dia sekampus dengan Troy. Di satu sisi, itu menyebalkan. Di sisi lain, itu menguntungkan karena dia jadi sering melihat Sophie, yang sering ke kampus untuk menemui Troy.

Seperti saat ini.

Edgar melihat Sophie duduk di kursi aula tengah di lantai tujuh gedung kampusnya sambil memainkan ponsel. Sophie hanya sendiri, mungkin menunggui Troy yang sedang kuliah. Ini kesempatan Edgar, karena dia jarang mendapati Sophie sendirian. Kalau kebetulan Sophie tidak sedang bersama Troy, malah Edgar yang sedang ada kelas. Mungkin Edgar harus berterima kasih pada Bu Myrna, dosen Pengantar Bisnis, yang tidak masuk hari ini, karena secara tidak langsung telah menciptakan kesempatan ini.

Edgar berjalan mendekati Sophie. Sekalipun banyak kursi kosong, cowok itu malah memilih duduk di kursi sebelah Sophie. Sophie sama sekali tidak menyadari kehadirannya karena asyik memainkan ponsel.

Selama beberapa saat, Edgar hanya diam di kursinya sambil memandangi  Sophie.  Dia  merasakan  dorongan  ganjil  untuk memeluk Sophie, yang membuatnya berpikir dirinya merindukan Sophie lebih dari yang disadarinya. Dia sering melihat Sophie, tapi terakhir kali berbicara padanya adalah ketika dia mengungkapkan perasaannya dulu.

Merasa dipandangi terus-menerus, Sophie akhirnya menoleh. Perubahan di wajah Sophie sangat kentara, dari yang awalnya biasa-biasa saja, sampai bola matanya membesar terkejut.

”E-edgar...?” cetus Sophie.

”Hai, Sophie,” sapa Edgar hangat. ”Udah lama ya kita nggak ketemu.”

Sophie hanya mengangguk gugup, dan Edgar menikmati bagaimana dia bisa membuat Sophie menjadi segugup itu. Sophie bahkan sampai menggeser duduknya ke kursi di sebelahnya, menyisakan kursi sebagai pembatas antara dirinya dan si cowok. Edgar, yang bertekad tidak akan membiarkan Sophie menjauhinya, ikut-ikutan menggeser duduknya, menempati kursi yang tadinya diduduki Sophie itu.

”Lagi nungguin Troy?” tanya Edgar berbasa-basi.

Lagi-lagi Sophie hanya mengangguk dan kembali menggeser duduknya ke kursi di sebelahnya sementara Edgar juga ikutikutan menggeser duduknya.

”Setia amat sih lo,” komentar Edgar. ”Padahal Troy-nya sendiri juga belum tentu setia sama lo.”

Barulah Sophie mau menatap Edgar. ”M-maksud lo apa sih?” Edgar mendesah. ”Ayolah, Sophie,” katanya. ”Lo kan tahu betapa playboy-nya Troy. Playboy macam dia, nggak akan ber-

ubah hanya dalam semalam.”

”Dia udah berubah,” tandas Sophie. ”Cuma ada gue di hatinya sekarang.” ”Yakin?” pancing Edgar. ”Yakin!” tandas Sophie lagi.

”Gue sih nggak seyakin itu, tapi okelah kalau menurut lo begitu,” kata Edgar. ”Cukup dengan Troy. Gue mau ngomongin tentang kita sekarang.”

Sophie berubah gugup lagi, disertai geser-geseran yang kembali terjadi. ”K-kayaknya nggak ada yang perlu diomongin tentang kita.”

”Tentu aja ada,” sergah Edgar. ”Lo ingat, apa yang kita bicarain terakhir kali kita ketemu?”

Sophie ingat, tapi berpura-pura hilang ingatan. ”N-nggak ingat tuh.”

”Gue bilang gue suka lo,” kata Edgar, ”Masalahnya, gue berubah pikiran.”

”K-kenapa?” tuntut Sophie, mulai panik. ”Itu udah b-bagus kok.”

Edgar mengabaikannya. ”Gue emang masih suka lo, tapi nggak cuma pengin lo tahu,” katanya. ”Gue pengin lo jadi milik gue.”

Sophie begitu terkejut sampai-sampai menggeser duduknya hingga dua kursi, dan Edgar pun melakukan hal serupa.

”Edgar, jangan ngaco ah,” pinta Sophie. ”Gue kan udah sama Troy.”

”Nggak untuk waktu lama,” kata Edgar santai.

”Jelas untuk waktu lama,” sergah Sophie. ”Lagian, lo kenapa sih? Biasanya lo nggak kayak gini.”

”Emang biasanya gue kayak gimana?” pancing Edgar. ”Biasanya lo cenderung cuek dan nggak suka diganggu,” kata

Sophie. ”Tapi sekarang, malah lo yang ngeganggu gue dan bersikap seolah lo mau buru-buru ngelamar gue.” Sophie benar. Edgar bersikap di luar kebiasaannya, tapi hanya di depan Sophie. Dia ingin menggoda cewek itu sedikit, menyenangkan melihat reaksinya.

Edgar berdecak. ”Baru gue bilang gue masih suka lo, dan lo langsung minta dilamar,” katanya.

Sophie terlihat malu. ”I-itu kan cuma pengandaian,” sergahnya buru-buru.

”Nggak apa-apa kok meski bukan pengandaian, tapi sesukasukanya gue sama lo, gue belum ada rencana ngelamar lo,” kata Edgar, membuat Sophie tidak hanya terlihat malu, tapi juga seperti ingin menggigit putus lidahnya, saking menyesalnya dia telah menyebut-nyebut soal lamar-melamar itu. ”Gue tersanjung lo begitu mengenal gue. Apa jangan-jangan, diam-diam lo tertarik sama gue?”

Sophie langsung melotot. ”J-jangan GR!” sergahnya. ”Gue nggak pernah tertarik sama lo kok. Sedikit pun.”

”Kalau begitu, kenapa muka lo merah banget?”

Sophie tanpa sadar menyentuh wajahnya. ”H-habisnya posisi lo dekat banget sih.” Dia bergumam sembari menggeser ke kursi di sebelahnya lagi. Malang baginya, itu kursi terakhir sebelum dinding, sehingga kalaupun dia mau, dia tidak akan bisa menggeser duduknya ke mana-mana lagi, dan kenyataan itu membuatnya semakin panik. Satu-satunya pilihan hanyalah berdiri, tapi sebelum dia sempat melakukannya, Edgar sudah meletakkan sebelah tangannya di dinding di sebelah Sophie sehingga Sophie terperangkap.

”Yang tadi sih belum dekat,” kata Edgar. ”Yang sekarang, baru dekat.” Dan dia pun mendekatkan wajahnya ke Sophie.

Cewek itu, berkebalikan dengan Edgar, menjauhkan wajah darinya, yang cukup sulit karena dinding yang membatasinya. Edgar tergoda untuk mencium Sophie, tapi dia belum segila itu, mencium Sophie di kampusnya, di depan banyak orang begini. Tapi dibiarkannya Sophie menyangka begitu, karena Edgar masih ingin bersenang-senang dengannya.

Sayangnya, kesenangan itu tidak bertahan lama. Mendadak ada yang menepis tangan Edgar menjauhi Sophie. Ketika menoleh, Edgar menyadari orang itu adalah Troy. Sophie yang sangat lega dengan kedatangan Troy, melompat berdiri lalu setengah bersembunyi di balik tubuh pacarnya. Edgar berdiri dengan malas-malasan, seolah kedatangan Troy sungguh mengganggunya, yang mana memang benar.

”Apa-apaan lo?!” tuntut Troy pada Edgar, dengan nada benci luar biasa.

Edgar mengangkat bahu. ”Cuma ngobrol-ngobrol sedikit sama Sophie,” katanya santai.

”Siapa yang ngasih lo izin ngobrol sama cewek gue?” tuntut Troy, masih dengan nada benci yang luar biasa.

”Cewek lo nggak keberatan ngobrol sama gue,” kata Edgar, membuat Sophie melotot.

Troy melirik Sophie. Sophie menggeleng-geleng panik seraya berkata, ”A-aku mau nyuruh dia p-pergi kok tadi,” meski Edgar tidak merasa Sophie melakukan seperti apa yang dikatakannya itu. Belum, mungkin.

Troy kembali fokus pada Edgar. ”Ini terakhir kalinya lo ngeganggu cewek gue,” Troy memperingatkan. ”Sekali lagi lo berani ganggu cewek gue, gue bikin lo babak belur, lebih parah dibanding dulu, sampai tampang tolol lo nggak bisa dikenalin lagi.” Edgar mendesah. ”Sayangnya gue bisa melakukannya,” katanya. ”Apalagi setelah cewek lo tahu keinginan gue.”

”Keinginan?” ulang Troy. ”Keinginan apa?”

”Soal itu, lo tanya aja sama cewek lo nanti,” kata Edgar, menimpakan tugas itu pada Sophie, yang jelas tidak senang menerimanya. ”Sekarang gue akan ninggalin lo berdua.” Dan kepada Sophie, dia menambahkan, ”Sampai ketemu lagi ya, Miss Wyna.”

Edgar tahu”Miss Wyna” adalah nama panggilan kesayangan Troy untuk Sophie karena pernah mendengar Troy memanggilnya begitu. Dia juga tahu, kalau dia mencoba-coba memanggil Sophie dengan nama itu, dia berhasil memancing amarah Troy.

Benar saja. Bagai banteng mengamuk, Troy menghambur mendekati Edgar dengan tinju terangkat seraya berseru, ”Dasar brengsek!” Sebelum tinjunya berhasil mengenai Edgar, Sophie sudah menahannya sekuat tenaganya, yang jauh lebih lemah daripada Troy. Sementara suara ribut-ribut Troy dan Sophie menjadi latar belakangnya, Edgar melenggang santai meninggalkan mereka berdua dengan seringaian.

Permainan baru saja dimulai. 

LIONEL ORLANDO

HIDUP di London tidak semudah yang dibayangkan Lionel.

Cowok itu sebenarnya sudah mempersiapkan diri, tahu apa yang akan dihadapinya dengan memilih keluar dari zona nyaman. Segala perbedaan bahasa, cuaca, dan budaya masih bisa diatasinya, tidak demikian dengan rasa kesepian.

Lionel memang memiliki Om John—teman ayahnya yang tinggal di London, yang menjemputnya di bandara, mengantar ke flatnya, dan menemaninya berkeliling London dalam mingguminggu pertamanya di sana. Dia juga memiliki Howard—teman se-flat berkewarganegaraan Inggris, yang sangat baik meski agak aneh. Selain itu, ada teman-teman sekampus dari berbagai negara. Tetap saja, semua tidak sama. Dia merindukan ayahnya. Dia merindukan teman-temannya di Jakarta. Dia bahkan merindukan Bi Melati. Yang terutama, mmm... Lionel merindukan Natasha.

Ketika menyukai Ivy, Lionel pikir dia tidak akan pernah menyukai cewek lain, tapi kemudian Natasha datang dan mengubah pemikiran itu. Tentu, awalnya Natasha datang sebagai pacar Troy. Setelah kejadian demi kejadian, dia mendapati dirinya dekat dengan cewek itu. Rasa sukanya pada Natasha tumbuh perlahan, dan betapa senangnya dia begitu menyadari perasaannya berbalas.

Natasha sangat baik. Itu tidak perlu diragukan lagi, dan Lionel bersyukur sempat mengenalkan Natasha pada omanya. Oma juga sangat menyukai Natasha, bahkan sempat berpesan agar cucunya tidak menyia-nyiakannya.

Kepindahan ke London membuat Lionel belum bisa meresmikan hubungannya dengan Natasha. Memang bisa berhubungan jarak jauh dengan Natasha, tapi dia takut itu justru merusak hubungan mereka. Dia menjaga hatinya untuk Natasha dan tahu Natasha pun melakukan hal sama, meski mungkin menghabiskan waktu bertahun-tahun sampai mereka bisa bersama.

Karena SMA Vilmaris bukan sekolah internasional, sebelum kuliah—Lionel mengambil jurusan Mathematics with Economics, omong-omong—Lionel harus mengambil program foundation dulu selama setahun. Kalau dia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam tiga tahun, berarti butuh empat tahun sampai bisa kembali ke Jakarta. Itu pun dengan catatan dia tidak mengambil program pascasarjana di London, yang akan memakan waktu setahun lagi. Betul dia akan kembali ke Jakarta sesekali untuk liburan, tapi tetap harus pergi lagi.

Yang bisa dilakukan lelaki itu dalam tahun-tahun panjang itu adalah menghubungi Natasha sesering mungkin. Sore ini dia berjanji menghubungi Natasha via Skype. Itulah sebabnya, dia pulang dari kampus terburu-buru karena tidak ingin membuat Natasha menunggu lama. Perbedaan waktu London dan Jakarta, berdasarkan British Summer Time, enam jam. Kalau dia menghubungi Natasha pukul lima sore nanti, berarti di Jakarta sudah pukul sebelas malam.

Lionel pulang naik tube, dan selama di tube, dia gelisah. Berkali-kali dia melihat ke jam tangannya, sebagai selingan kegelapan yang tampak dari kaca tube. Begitu tube berhenti di stasiun tujuannya, dia melompat turun, menempelkan 18+ student oyster photocard-nya di mesin pemindai, melewati koridor dengan atap dan dinding lengkung, menaiki eskalator, dan muncul di atas tanah London.

Saat ini awal September, yang berarti awal musim gugur. Masih ada sisa-sisa kehangatan musim panas, namun cuaca yang sangat berangin membuat Lionel merapatkan jaket yang dikenakannya sementara melewati berbagai kafe, pub, minimarket, dan toko yang berjajar di sepanjang jalan. Dia bersyukur hari masih sore, karena daerah tempat tinggalnya tidak bisa dibilang aman. Semakin malam semakin banyak pemabuk yang berkeliaran di jalan, dan dia tidak ingin berurusan dengan mereka.

Bangunan flat yang terdiri atas empat lantai, dengan dinding putih di lantai paling bawah dan dinding bata merah di tiga lantai sisanya, mulai tampak. Lionel masuk, menaiki tangga ke lantai tiga, dan masuk ke flatnya.

Flatnya dalam keadaan kosong, tanpa kehadiran Howard. Teman Lionel itu jarang pulang sebelum malam. Dengan mengabaikan keadaan flatnya yang berantakan—Lionel rajin merapikannya, kebalikan dengan Howard yang rajin membuat kamar Lionel—Lionel masuk ke kamarnya.

Tidak seperti bagian flat lain, kamar Lionel rapi. Seprai di ranjang queen-size di tengah kamar yang berseberangan dengan jendela begitu licin, dengan bantal-bantal tersusun rapi dan selimut terlipat di kaki ranjang. Beker dan bingkai perak berisi fotonya dengan Oma terletak berdampingan di nakas, di kiri ranjang. Di sebelah kirinya lagi, pintu lemari pakaiannya tertutup rapat, tanpa ada sehelai pun pakaian yang mencuat ke luar. Di sebelah kanan ranjang, laptop bertengger di meja belajar, dan ke sanalah sekarang dia melangkah.

Setelah menyalakan laptop, lelaki itu membuka akun Skype, lalu melihat Natasha sedang online. Dia mengeklik tombol video call di bawah foto profil Natasha, dan Natasha langsung mengangkatnya, menampilkan wajahnya di layar laptop Lionel. Gadis itu terlihat mengantuk tapi tersenyum, dan senyum itu sedikit mengobati rasa rindu Lionel padanya.

”Hai, Natasha,” sapa Lionel. ”Sori, kemalaman ya?”

”Nggak kok,” kata Natasha. ”Gue juga belum mau tidur.” Dan itu diucapkan dengan wajah mengantuk, membuat Lionel sedikit tersentuh, karena Natasha lebih memilih tetap terjaga demi berbicara dengannya.

”Oh,” kata Lionel. ”Tapi bilang ya kalau udah ngantuk.” Natasha hanya mengangguk, meski jelas tidak akan mela-

kukannya. Yang lebih mungkin adalah dia akan tetap berbicara dengan Lionel sampai tertidur di depan laptop.

”Lo lagi baca buku?” tanya Lionel, merujuk ke buku yang terlihat di latar belakang Natasha, tepatnya di ranjang, sedikit tertutup tubuhnya. Natasha menoleh ke belakang sekilas. ”Itu buku masak dari lo,” katanya. ”Gue lagi lihat-lihat resep buat gue coba besok.”

Membicarakan soal buku masak pemberiannya itu membuat Lionel teringat pesan yang ditulisnya di halaman terakhir. Sudahkah Natasha membaca pesan itu? Dia tidak pernah menyebut-nyebutnya.

”Udah nyoba masak berapa resep?” tanya Lionel. ”Lebih dari setengah,” jawab Natasha.

Lionel melongo. ”Cepat banget,” komentarnya. ”Resep di buku itu kan ada puluhan.”

”Gue nyoba masak resep-resepnya hampir setiap hari,” kata Natasha. ”Jadi nanti pas lo balik ke sini, gue bisa masak buat lo. Atau kayak yang lo bilang, kita bisa masak bareng lagi. Lo jadi kan, balik ke sini libur Natal?”

Setiap kali mereka berbicara, Natasha pasti menanyakan hal itu. Pertanyaan pertama Natasha begitu Lionel menghubunginya setelah tiba di London bukanlah bagaimana kehidupannya di kota itu, melainkan kapan dia akan kembali ke Jakarta.

”Kayaknya gue nggak jadi balik ke sana pas libur Natal deh,” kata Lionel, membuat wajah Natasha berubah sendu.

”Kenapa?”  tanya  Natasha,  dengan  suara  pelan  dan  sarat kekecewaan.

”Bokap gue nggak ngizinin,” kata Lionel. ”Menurutnya, terlalu cepat kalau gue balik pas libur Natal. Kan gue baru beberapa bulan di sini.”

”Terus kapan dong lo bakal balik ke sini?” tanya Natasha. ”Libur Paskah, mungkin,” kata Lionel.

Natasha mendesah. ”Berarti makin lama lagi ya...” gumamnya. ”Nggak bakal terasa kok, Nat,” kata Lionel, berusaha menghibur.

”Sekarang aja, berasanya kayak udah bertahun-tahun gue nggak ketemu lo,” kata Natasha. ”Gue kan k-ka—”

”Gue juga kangen sama lo, Nat,” potong Lionel, tidak mengizinkan Natasha mengucapkannya lebih dulu. ”Lo nggak tahu betapa gue pengin banget bisa balik ke sana pas libur Natal. Tapi bokap gue—”

”Gue ngerti,” giliran Natasha yang memotong ucapan Lionel. ”Sori, tadi gue terlalu mendesak lo. Mungkin sekarang gue harus belajar lebih giat lagi.”

Lionel jadi bingung. ”Apa hubungannya?”

”Bokap gue janji bakal ngajak gue liburan ke London kalau nilai gue di kelas sebelas bagus,” kata Natasha. Lalu, dia malah jadi salah tingkah sendiri. ”B-bukan berarti gue minta liburan ke London cuma buat ketemu lo lho. Gue emang udah lama kok pengin ke sana. Beneran.”

Lionel tersenyum, tahu sebenarnya Natasha hanya berbohong dan alasa meminta ayahnya liburan ke London memang hanya untuk bertemu dirinya.

”Kalau begitu, bilang ya kapan lo bakal liburan ke sini,” kata Lionel. ”Jangan sampai pas lo liburan ke sini, gue malah liburan ke sana.”

Natasha tertawa, mungkin sependapat dengan Lionel yang menganggap betapa ironisnya kalau hal itu sampai terjadi. Karena sibuk dengan tawanya, dia tidak menyadari ketika Austin masuk ke kamarnya, dan malah Lionel yang melihatnya. Austin menatap sinis pada Lionel, ketika Natasha yang menyadari perhatian Lionel tidak lagi tertuju padanya, akhirnya menoleh ke belakang.

”Ngapain lo ke kamar gue?” tanya Natasha.

”Mau minjam charger,” jawab Austin. ”Charger gue hilang, nggak tahu ke mana.”

Austin mendekat ke arah laptop Natasha, dan Lionel melihat sebagian tubuhnya ketika dia mengambil charger Natasha, yang sepertinya diletakkan Natasha di dekat laptop. Setelah itu dia duduk di ranjang Natasha dan kembali menatap sinis pada Lionel.

”Itu kan udah lo ambil charger-nya,” kata Natasha. ”Terus kenapa lo masih di sini?”

”Mau ngadem bentar,” kata Austin.

Lionel tidak bisa melihat wajah Natasha, tapi bisa menebak Natasha sedang menatap sinis pada Austin ketika berkata, ”Kenapa? AC di kamar lo hilang nggak tahu ke mana juga?”

”Nggak sih. Tapi kayaknya lebih asyik ngadem sambil nonton orang pacaran,” kata Austin.

Jelas, pembicaraan Lionel dan Natasha harus segera diakhiri, kecuali mereka bersedia ditonton Austin. Lagi pula Natasha juga sudah mau tidur.

”Kita udahan dulu deh, Nat,” kata Lionel. ”Besok gue hubungin lo lagi.”

Dengan berat hati, Natasha mengangguk sementara wajahnya menunjukkan kekesalan—jelas ditujukan pada Austin. ”Meski di sini udah malam banget, nggak apa-apa kok kalau lo mau hubungin gue,” katanya.

”Malam waktunya buat tidur, Nat,” celetuk Austin.

Natasha mengabaikan komentar kakaknya. ”Serius, meski di sini udah jam dua belas malam juga nggak apa-apa,” tambahnya. ”Jam satu atau dua pagi juga masih oke.”

”Gue usahain hubungin lo lebih cepat,” kata Lionel, tidak tega kalau harus membuat Natasha terjaga sampai pagi begitu.

Lambaian Natasha dan tatapan sinis Austin adalah hal terakhir yang dilihat Lionel di layar laptop sebelum mematikan video call. Jika sedang berbicara dengan Natasha tadi hatinya terasa penuh, kini hatinya kembali hampa. Kesepian yang akrab dengannya akhir-akhir ini sering mengusiknya.

Selain itu, rasa bersalah mengusik Lionel saat teringat kesenduan di wajah Natasha tadi, saat dia mengatakan bahwa dia batal kembali ke Jakarta saat libur Natal. Padahal, itu bohong. Ya, Lionel akan tetap kembali ke Jakarta saat libur Natal, seperti yang pertama dikatakannya pada Natasha. Dia sengaja mengatakan yang sebaliknya karena ingin membuat kejutan untuk Natasha. Gadis itu pasti tidak menyangka, jika libur Natal

nanti, Lionel tiba-tiba muncul di depan rumahnya.

Ayah Lionel memang mengatakan terlalu cepat kalau dia kembali ke Jakarta Desember ini, tapi dia setengah memaksa pulang dan berjanji pada ayahnya untuk mengganti biaya tiket pesawat. Mungkin dia akan terpaksa bekerja sambilan di tengahtengah jadwal kuliahnya, kalau itu memungkinkan, dengan semua jurnal yang harus dibaca dan paper yang harus dikerjakan. Yang penting, dia bisa bertemu Natasha.

Saat ini pun Lionel sudah tidak sabar menunggu libur Natal tiba
T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊