menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 13

Mode Malam
Bab 13
LIONEL memutuskan menerima beasiswa di London. Entah kapan tepatnya keputusan itu, yang jelas, dia tidak bisa terusmenerus menunda, karena kampus tersebut tidak akan menunggunya.

Seharusnya aku senang karena berhasil memenuhi janjiku pada Oma untuk membujuk Lionel menerima beasiswa itu. Tak urung aku sedih. Sebagian kecil diriku berharap Lionel menolak beasiswa itu supaya tidak pergi. Aku tahu betapa egoisnya harapanku itu, menahannya di sisiku, hanya supaya aku tidak kehilangan dia.

Lionel juga sudah memberitahu teman-temannya soal beasiswa itu. Aku membayangkan kagetnya mereka, karena tiba-tiba Lionel akan kuliah di London.

Kuliah Lionel akan dimulai September, jadi dia akan pindah ke London Agustus. Seminggu sebelum keberangkatannya, Ivy memutuskan untuk mengadakan acara perpisahan untuk Lionel dengan pergi ke pantai dan menginap satu malam di hotel. Selain Sophie dan Troy—untuk kali ini saja, demi Lionel, ayah Troy mengizinkan Troy berlibur—Ivy juga mengajakku. Dia tentu mengajak Austin, tapi Austin menolak dan mereka bertengkar.

Austin sudah tidak memiliki masalah dengan Troy. Austin juga mulai melunak pada Lionel karena Lionel sudah menolongku saat pertempuran, dan membawanya ke rumah sakit sehingga dia terhindar dari polisi. Kalau harus pergi bersama mereka, pastilah Austin merasa canggung. Rupanya Ivy tidak mau mengerti dan menganggap Austin sebagai perusak rencana.

Kami ke pantai naik mobil Troy, dan sepanjang perjalanan, Ivy terus cemberut. Penyebabnya jelas Austin.

”Vy, jangan cemberut terus dong,” kata Troy dari jok pengemudi, melirik Ivy dari kaca spion tengah. ”Katanya mau senangsenang.”

Ivy, yang duduk di antara aku dan Sophie, malah semakin cemberut. ”Habis gue kesal banget sama cowok nyebelin itu,” sungutnya.

”Weits, ada adiknya lho di sini,” kata Troy mengingatkan.

Ivy tidak perlu diingatkan, karena bukannya merasa tidak enak padaku. Dia malah berkata, ”Sori ya, Nat, tapi kakak lo emang benar-benar cowok nyebelin.”

Aku tersenyum mafhum. ”Banyak kok yang bilang begitu,” kataku, karena aku sendiri pun sering dibuat kesal oleh Austin.

”Mendingan untuk sementara lo lupain dulu masalah lo sama Austin,” saran Troy pada Ivy. ”Lo kan ngadain acara ini buat Lionel, jadi fokus sama dia. Minggu depan dia ke London lho.” Ivy mendesah. ”Bisa nggak sih, Nel, kamu nggak usah ke London?” gumamnya pada Lionel, yang duduk di jok penumpang depan.

Betapa inginnya aku mengucapkan hal serupa pada Lionel. Kalau Ivy berkata dengan begitu entengnya, aku bakal bercucuran air mata duluan.

Lionel menoleh ke belakang sekilas, tepatnya pada Ivy, dan berkata, ”Aku bakal berusaha sering-sering balik kok.”

”Tetap aja itu nggak sama,” sergah Ivy. ”Aku bakal kehilangan salah satu teman curhatku.”

”Lo kan bisa curhat sama gue,” timbrung Sophie.

”Halah, lo mah pacaran mulu sama Troy,” sungut Ivy. ”Lagian gue bosan lihat tampang lo.”

Sophie pun mencubiti Ivy sementara Ivy heboh mengaduhaduh. Sakitnya cubitan Sophie, anehnya, malah sedikit memperbaiki suasana hati Ivy.

Seolah tidak mau membuang waktu, setelah meletakkan barang-barang bawaan kami di bungalo—kami menempati dua bungalo bersebelahan, cowok dan cewek di bungalo berbeda— kami, kecuali Ivy, bermain air di pantai.

Troy membopong Sophie yang melingkarkan sebelah tangannya di tengkuk Troy sambil menjerit-jerit senang campur ketakutan, lalu melemparkannya ke laut. Sophie tercebur dengan suara keras. Begitu dia bangkit dan mencoba menarik Troy ke laut, tangannya malah tergelincir dari tangan Troy, lalu dia sendiri terpelanting sekali lagi ke sana, diiringi tawa Troy.

Sedangkan aku dan Lionel, awalnya hanya saling mencipratkan air, tapi lama-kelamaan cipratan yang kami hasilkan bertambah besar, sampai pakaian kami basah kuyup. Kami berkejaran di sepanjang pantai, mengancam akan saling menceburkan, dan satu kali, aku sempat membuat tim dengan Sophie untuk melawan Lionel dan Troy. Tapi tim kami bubar hanya dalam waktu lima menit, ketika cipratan air yang dimaksudkan Troy untuk mengenai Sophie malah mengenaiku, dan Sophie yang tidak senang aku menerima apa pun dari Troy, termasuk cipratan air, bergegas membawa Troy ke bagian pantai yang lain.

Aku tidak tertawa-tawa lagi begitu mendapati Ivy hanya duduk melamun di tepi pantai sambil mengorek-ngorek pasir. Dia begitu sedih. Hal pertama yang kulakukan begitu kembali ke bungalo adalah me-LINE Austin, memberitahunya nama dan nomor bungalo kami, menyuruhnya datang. Aku mengancam tidak akan mengakuinya sebagai kakak lagi kalau dia tidak datang. Austin membacanya, tapi tidak membalasnya.

Malam harinya, setelah mandi dan berbelanja bahan makanan, kami barbeque-an di serambi belakang bungalo cewek yang terbuka ke pantai. Aku, Ivy, dan Sophie sibuk memasukkan cumi, udang, sosis ayam, dan daging sapi ke tusuk satai, lalu membalurnya dengan saus lada hitam, sementara Lionel juga Troy menyiapkan panggangan yang kubawa dari rumah, dan mengurus arangnya.

Setelah semuanya siap, kami mulai membakar. Ivy yang sedang sedih, malah makan paling banyak. Sepertinya dia melampiaskan rasa sedihnya dengan makan sebanyak-banyaknya. Kami makan sambil ngobrol, dan berjaga-jaga agar Ivy tidak menghabiskan jatah kami.

Selesai barbeque, Troy mengajak Sophie berjalan-jalan di pantai. ”Pacaran mulu!” begitu sungut Ivy sementara Sophie hanya menjulurkan lidah padanya. Aku, Ivy, dan Lionel kembali ke bungalo masing-masing. Aku tidur sendiri di ranjang single-size, sedangkan Ivy dan Sophie tidur berdua di ranjang queen-size. Ketika aku dan Ivy bersiap-siap tidur, pintu depan bungalo diketuk. Mungkin Sophie sudah pulang, meski seharusnya dia masuk melalui pintu belakang bungalo, yang sengaja tidak kami kunci, supaya Sophie tidak membangunkan kami saat dia pulang. Karena posisiku lebih dekat dengan pintu depan, maka aku membuka pintu.

Kejutan.

Ternyata yang berdiri di balik pintu bukanlah Sophie, melainkan Austin. Wajahnya terlihat sama sedihnya seperti wajah Ivy tadi. Aku menggeleng-geleng sambil tersenyum, lega Austin melakukan hal yang benar dengan datang ke sini. Tanpa mengatakan apa-apa, aku berbalik, berniat memberitahu Ivy perihal kedatangan Austin. Rupanya itu tidak perlu, karena Ivy sudah berdiri di koridor di belakangku, menatap Austin dengan mata berkaca-kaca. Dan seolah tidak ingat tadi dia mengatai Austin cowok laknat, Ivy melewatiku begitu saja untuk menghambur ke pelukan Austin.

”Maaf,” gumam Austin di telinga Ivy sementara Ivy tersedusedu.

Untuk memberi Austin dan Ivy privasi, sekaligus jengah melihat mereka berpelukan seperti itu—untung Troy tidak ada di sini untuk melihatnya, kalau tidak, mungkin Austin sudah dismackdown olehnya karena berani-beraninya memeluk Ivy—aku menyingkir dari koridor, keluar melalui pintu belakang.

Lionel duduk di salah satu bangku di serambi belakang bungalonya ketika aku keluar, dan merasa senang mendapatkan teman mengobrol. Tampaknya dia sedang melamun, karena baru menyadari kehadiranku setelah aku duduk di bangku yang satunya lagi.

”Nggak bisa tidur?” tebak Lionel.

Aku mengangguk. ”Nggak cuma itu sih,” kataku. ”Ada Austin di bungalo gue. Akhirnya dia datang juga.”

Lionel melirik ke arah pintu belakang bungaloku, seolah bisa melihat Austin dari sini. ”Ivy pasti senang dong?” komentarnya.

”Yang jelas, kalau tadinya mereka marahan, sekarang udah baikan,” kataku. Untuk memancingnya, aku bertanya, ”Apa lo nggak apa-apa ngelihat Austin dan Ivy sama-sama? Mungkin lo mau ngelewatin dua hari ini sama Ivy aja. ”

Senyum terpasang di wajah Lionel sementara dia menggeleng. ”Gue nggak pernah mikirin Ivy lagi kok,” katanya. ”Seenggaknya, nggak secara romantis. Gue nganggap dia kayak adik gue aja.” ”Lo udah move on dari Ivy?” tanyaku, berusaha tidak ter-

dengar terlalu bersemangat, tapi gagal.

”Bisa dibilang begitu,” kata Lionel, dan aku harus menahan diri untuk berjingkrak-jingkrak di depannya, saking senangnya. ”Lagian, ada cewek lain yang akhir-akhir ini gue pikirin.”

Rasa senangku menyurut sedikit, digantikan rasa waspada. ”S-siapa?”

”Lo tahu siapa,” kata Lionel, menatapku penuh arti.

Pikiran gilaku menebak cewek lain yang dimaksud Lionel adalah aku, tapi bagaimana kalau aku hanya ke-GR-an? Tapi memangnya siapa lagi cewek yang akhir-akhir ini dekat dengan Lionel? Sepertinya hanya aku.

”Lo sendiri, gimana perasaan lo sama Troy sekarang?” tanya Lionel tiba-tiba, membuatku melupakan sejenak soal cewek lain yang dimaksudnya itu.

”Gue udah move on dari Troy,” kataku. ”Butuh waktu, tapi bisa juga.”

”Bagus deh,” komentar Lionel. ”Gue bisa ke London tanpa perlu khawatir soal lo belum bisa move on dari Troy.”

Lionel khawatir karena tahu keadaanku setelah Troy meninggalkanku. Meski kekhawatirannya tidak mengejutkan, tetap saja aku terharu.

”Nggak terasa ya, minggu depan lo udah ke London,” gumamku. ”Gue tahu Troy, Ivy, dan Sophie janji ngantar lo ke airport, kayaknya gue nggak ikut.”

”Kenapa?” tanya Lionel lembut.

”Gue paling nggak jago dalam hal perpisahan,” kataku. ”Emangnya siapa yang jago dalam hal perpisahan?” Lionel

membalikkan. ”Lagian ini kan cuma perpisahan sementara.” ”Tetap aja,” sergahku. ”Kalau gue ikut, gue cuma akan malu-

maluin lo, dengan nangis-nangis nggak jelas. Mending gue doain lo dari rumah aja.”

Lionel tersenyum. ”Oke, gue ngerti.”

Dari arah pantai, terdengar suara orang bercakap-cakap. Ketika aku menoleh, terlihat Troy dan Sophie berjalan bergandengan ke arah kami.

”Ivy udah tidur?” tanya Troy padaku.

Aku menggeleng. ”Austin datang,” kataku.

”Mereka berduaan doang di dalam?” Troy bertanya sambil menunjuk ke arah bungaloku.

Kali ini, dengan hati-hati aku mengangguk. Troy yang tidak ingin adiknya hanya berduaan dengan seorang cowok di dalam bungalo, bergerak cepat ke arah bungaloku. Setelah ragu sejenak, Sophie pun mengikutinya.

Aku berpaling pada Lionel. ”Untung gue nggak tambahin Austin meluk Ivy tadi,” kataku, membuat Lionel tergelak.

Tidak lagi mengobrol, aku dan Lionel menikmati kebersamaan kami dalam diam, sambil memandangi laut yang gelap.

***

Pada hari keberangkatan Lionel ke London, aku mengurung diri di kamar, begitu sedih sehingga tidak mampu melakukan apa pun. Ellen dan Portia sempat datang, memaksaku ikut Troy, Ivy, dan Sophie mengantar Lionel ke bandara. Sampai mereka pulang—mereka tidak bisa lama-lama karena Portia diajak kakaknya pergi—aku tetap kukuh tidak mau. Kupikir tidak akan ada lagi yang memaksaku, tapi tanpa disangka-sangka, Austin masuk ke kamarku dan memaksa lebih keras daripada Ellen dan Portia.

”Ngapain sih lo di kamar aja?” tuntut Austin. ”Sana, mending lo ke bandara sekarang. Nanti Lionel keburu boarding lho.”

Aku menggeleng. ”Gue mau tidur-tiduran aja sampai malam.” ”Lo bisa tidur-tiduran nanti, setelah pulang dari bandara,”

kata Austin.

Lagi-lagi aku menggeleng. ”Pokoknya gue nggak akan keluar selangkah pun dari kamar.”

”Keras kepala banget sih?” sungut Austin.

”Lo sendiri, kok tumben-tumbenan maksa gue untuk ke bandara?” Aku balik bersangut. ”Bukannya biasanya lo nggak suka gue ketemu Lionel?” ”Ini beda,” kata Austin. ”Lionel kan mau ke London, jadi mungkin lo akan lama nggak ketemu dia lagi.”

Kata-kata Austin serasa menikamku, membuatku menyadari bahwa untuk beberapa waktu, aku memang tidak akan bertemu Lionel. Setelah hari-hari yang kami lalui bersama, apa aku sanggup berpisah dari Lionel meski untuk sementara?

”Gue cuma nggak mau lo nyesal, Nat,” lanjut Austin, melembut. ”Lihat aja sekarang, belum apa-apa, lo udah ngurung diri di kamar.”

Aku meremas-remas kedua tanganku dengan gelisah. ”T-tapi gue udah bilang sama Lionel gue nggak akan ke bandara,” kataku, masih saja mencari-cari alasan. ”Lagian, kayaknya udah telat kalau ke bandara sekarang. Gue kan nggak mau lari-larian di sana buat nyariin Lionel. Itu drama banget.”

”Lo nggak akan lari-larian di bandara,” tukas Austin. ”Ivy ada di sana sekarang, sama Troy dan Sophie. Kalau lo mau ke bandara, gue akan bilang sama Ivy, biar dia nyuruh Lionel nunggu.”

”N-nggak usah deh, Tin,” kataku. ”Biar gue—”

”Nggak ada alasan lagi!” potong Austin, lalu meraupku dari ranjang, membopongku keluar kamar.

”Austin!” jeritku. ”Turunin! Gue nggak mau ke bandara.” Tentu Austin tidak mau mendengarkanku. Dia malah mem-

bawaku ke mobilnya, lalu melemparkanku ke dalamnya. Sepertinya dia sudah berencana membawaku secara paksa ke bandara karena mengantongi kunci mobil. Aku tidak membawa apa-apa. Tidak dompet, tidak juga ponsel, hanya pakaian yang kukenakan. Aku bahkan tidak mengenakan alas kaki.

Austin tidak peduli dengan keadaanku yang mengenaskan, karena begitu masuk ke mobil, dia sibuk dengan ponselnya. Menghubungi Ivy.

”Tin, kita balik aja yuk,” rengekku, begitu mobil melaju menuju bandara. ”Gue nggak siap ketemu Lionel.”

”Terus kapan lo akan siap?” balas Austin. ”Sampai dia udah ke London?”

Aku bungkam. Memang benar sih, aku tidak memiliki waktu untuk merasa siap. Sepanjang perjalanan, aku sibuk memikirkan apa yang akan kukatakan pada Lionel.

Sampailah kami di Bandar Udara Internasional SoekarnoHatta. Biarpun Austin sudah menepikan mobil di terminal keberangkatan, aku tidak juga turun.

”Sana, lo turun duluan,” kata Austin. ”Gue mau parkir dulu.” Aku ragu lagi. ”T-tapi, Tin—”

”Natasha,” potong Austin. ”Kita udah di sini. Jarak lo sama Lionel hanya tinggal beberapa meter. Jangan mikir macammacam lagi, temuin aja Lionel. Waktunya juga nggak banyak. Lagian, Ivy toh udah bilang sama dia bahwa lo akan datang.”

Takut Austin akan membopongku keluar mobil, yang mungkin saja dilakukannya karena dia mulai tidak sabar menghadapiku, aku akhirnya turun. Mobil Austin segera melaju menuju tempat parkir, seolah takut aku akan berubah pikiran dan naik lagi.

Dengan bertelanjang kaki, aku berjalan menuju bagian tengah terminal keberangkatan. Bisa kurasakan tatapan orang-orang yang memandangiku—memandangi kakiku, dengan heran, tapi aku bersikap secuek mungkin.

Belum jauh aku melangkah, aku melihatnya: Lionel. Lelaki itu berdiri mengenakan tas ransel, dengan koper raksasa di dekatnya, dikelilingi Troy, Ivy, dan Sophie. Bahu Ivy dirangkul Troy sementara cewek itu berbicara pada Lionel sambil menangis.

Melihat koper Lionel, aku merasa koper itu seperti menghantamkan dirinya ke kepalaku, membuat kepergian Lionel terasa nyata. Hanya tinggal beberapa menit, dan setelah dia masuk ke pintu yang ada di dekatnya itu, entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi.

Kakiku enggan melangkah, mungkin merasa dengan cara itu bisa menunda perpisahan sementaraku dengan Lionel. Jarak yang masih cukup jauh di antara diriku dengan Lionel, ditambah banyaknya orang yang berlalu-lalang, membuat mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku menikmati saat itu. Saat aku bebas memandangi Lionel tanpa dia sadari. Aku mungkin akan berdiri sambil memandangi Lionel seperti itu terus sampai dia pergi kalau tidak mendengar suara Austin di dekatku.

”Kok lo masih di sini aja?” Tanpa menunggu jawabanku, Austin setengah menyeretku mendekati Lionel. Dengan berkurangnya jarak di antara kami, akhirnya satu per satu dari mereka menyadari kehadiranku.

Kehadiran Austin menambah kuantitas air mata Ivy, dan setelah berbicara untuk terakhir kalinya pada Lionel—mungkin memberi salam perpisahan terakhir, entahlah, aku tidak bisa mendengarnya—Ivy berbalik dan berjalan ke arahku dan Austin. Sementara Austin, yang melihat Ivy banjir air mata seperti itu, langsung melupakanku. Dia melepaskan pegangannya dariku, dan segera menyambut Ivy untuk mengajaknya menjauh dari area kami berada.

Tanpa Austin, aku melangkah sendirian mendekati Lionel. Troy dan Sophie ingin memberi privasi untukku dan Lionel, karena aku mendengar mereka memberi salam perpisahan terakhir padanya begitu aku tiba di dekat mereka.

”Take care, bro.” Troy berkata sembari saling memukulkan tinjunya dengan tinju Lionel.

Sophie selanjutnya. ”Tenang aja,” katanya. ”Gue bakal jagain sahabat lo ini baik-baik, biar nggak berantem mulu.”

Lionel hanya tertawa sementara Troy mengacak-acak rambut Sophie. Sewaktu Troy dan Sophie berlalu, aku menangkap tatapan yang tidak biasa dari Sophie. Tatapan iba. Mungkin dia iba padaku karena aku akan berpisah dengan cowok yang kusukai, meski seharusnya dia tidak tahu aku menyukai Lionel, karena aku tidak pernah memberitahunya maupun Ivy soal itu.

Ditinggal berdua dengan Lionel, kata-kata yang sudah kususun saat di mobil buyar semua. Kalau tadi aku terus memandangi Lionel, kini aku malah hanya bisa menunduk.

”Kayaknya lo keburu-buru banget ke sininya,” komentar Lionel, merujuk pada kakiku yang telanjang.

Suara Lionel, yang dipaksakan terdengar biasa padahal kami jelas dalam kondisi tidak biasa, berhasil menyalakan sakelar air mataku. Aku menangis, mulanya pelan, tapi semakin lama semakin kencang.

Lionel meletakkan tangan di pundakku, lalu dengan perlahan dan sedikit ragu, dia menarikku ke pelukannya. Aku melanjutkan tangisan di dadanya sementara dia membelai punggungku, berusaha menenangkanku.

”Maaf,” isakku, berhasil berbicara di tengah-tengah tangisan. ”Gue udah p-peringatin lo sebelumnya kan, bahwa gue pasti nangis-nangis begini?”

Di atas kepalaku, aku bisa merasakan Lionel tersenyum, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia terus membelai punggungku.

”S-sebenarnya banyaaakkk banget yang pengin gue bilang ke lo,” lanjutku. ”Yang paling pengin gue bilang adalah lo jangan pergi dan tetap di sini sama gue. Itu ng-nggak mungkin, kan? Gue pengin lo berjanji sama gue bahwa lo akan sering-sering hubungin gue selama di London dan sering balik ke sini.”

”Gue akan melakukannya,” janji Lionel.

Aku merasa lega, tahu Lionel akan menepati janjinya. Memang sih kelegaan itu tidak sepenuhnya, karena masih ada yang mengganjal di hatiku. Aku teringat kata-kata Portia ketika aku meminta sarannya mengenai aku dan Lionel.

”Pastiin Lionel tahu perasaan lo, sebelum dia ke London, kalau emang dia menerima beasiswa itu.”

Lionel belum mengetahui perasaanku, karena aku memang belum mengungkapkannya. Ini kesempatan terakhirku, sebelum dia ke London.

Aku menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk mengungkapkan...

”A-ada satu hal lagi, sebenarnya,” tambahku, yang meski sudah bersiap, tetap saja gugup. ”I-ini tentang perasaan gue ke lo. Nel, sebenarnya gue ”

”Jangan bilang,” larang Lionel. Dia sampai melepaskan pelukannya, agar bisa menatap wajahku yang masih ada sisa-sisa air mata. ”Gue tahu apa yang mau lo bilang, tapi jangan.”

Lionel tahu? Maksudnya dia mengetahui perasaanku?

Lionel bisa membaca kebingunganku, dan tanpa kusuarakan pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku, dia mengangguk. ”Ya, gue tahu perasaan lo ke gue,” akunya. ”Gue bisa merasakannya, Nat, dan sejujurnya, perasaan gue ke lo pun sama.”

Tunggu. Tunggu... Apa Lionel—Lionel Orlando yang kusukai— secara tidak langsung baru mengungkapkan perasaannya padaku?

”Gue ngerasa egois banget kalau gue ngungkapinnya saat gue akan pergi,” lanjut Lionel. ”Gue nggak mau mengikat lo, Nat, karena itu nggak adil buat lo. Jadi untuk sementara, kayaknya cukup kita tahu sama tahu ya? Nanti, kalau gue udah balik dari London dan ternyata perasaan kita masih sama, gue yang akan ngungkapin ke lo duluan.”

Aku mengerti maksud Lionel dan merasa itu yang terbaik. Untuk saat ini, aku merasa sudah cukup dengan mengetahui perasaan Lionel. Cewek yang akhir-akhir ini dipikirkan Lionel ternyata memang aku.

”Oh iya, gue ada sesuatu buat lo.” Lionel berkata sembari melepas ranselnya, dan membuka ritsleting. ”Tadinya mau gue titipin ke Troy, tapi nggak jadi, karena ternyata lo ke sini.”

Yang dikeluarkan Lionel adalah buku. Aku tercengang ketika menyadari itu buku masak yang agak kumal.

Lionel memperlihatkan senyum malu-malu, yang cukup menggemaskan. ”Buku itu sebenarnya punya gue,” akunya. ”Gue belajar masak pakai buku itu. Bisa dibilang, buku itu kitab suci gue dalam masak-memasak.”

”Terus kenapa lo kasih ke gue?” tanyaku.

”Gue pengin kasih lo buku,” kata Lionel. ”Menurut gue, untuk lo yang hobi masak, nggak ada yang lebih tepat selain buku masak. Gue udah nyoba masak semua resep yang ada di buku itu, jadi sekarang giliran lo. Semoga pas gue balik dari London, kita bisa masak bareng lagi.”

Sudah berhari-hari aku tidak tersenyum. Kini aku mendapati diriku tersenyum. ”Gue bakal nguasain semua resep yang ada di buku ini dalam sekejap,” sesumbarku.

Lionel tertawa. ”Percaya deh.”

Lalu kami sama-sama diam. Lionel melihat ke arah jam tangannya, dan aku tahu artinya: sudah saatnya dia pergi. Perasaan riang yang sempat menghinggapi diriku kini menghilang, kembali digantikan perasaan sedih.

”So,” cetus Lionel. ”See you?”

Dengan berat hati, aku mengangguk. ”See you.”

Lionel melihat aku nyaris menangis lagi, jadi dia membalikkan tubuhku secara tiba-tiba, dan ketika aku ingin menoleh ke belakang, dia melarangku. ”Lo mau gue nggak pergi, tapi gue nggak bisa,” katanya. ”Tapi seenggaknya, gue bisa bikin lo nggak ngelihat gue pergi, dan biar gue yang ngelihat lo pergi. Jadi sekarang lo jalan aja, dan jangan nengok ke belakang lagi.”

Aku melakukannya. Aku berjalan sambil mendekap erat buku masak pemberian Lionel di dadaku dan tidak menoleh ke belakang lagi.

Kembali ke bagian pinggir terminal keberangkatan, aku merasa begitu kosong, seakan ada yang hilang dari diriku. Untuk sesaat aku merasa akan jatuh, tapi nyatanya bisa bertahan.

Aku harus bertahan.

Ketika mengedarkan pandangan ke sekitar luar terminal keberangkatan, aku menyadari aku tidak melihat Austin di mana pun. Apa dia benar-benar melupakanku dan pulang duluan? Tadi dia bersama Ivy.... Oh, astaga. Dia pasti mengantar Ivy pulang, tidak ingin Ivy berlama-lama di sini karena Ivy pasti akan terus teringat Lionel. Dengan Ivy yang menangis begitu, Austin pasti melupakanku.

Aku sempat berharap Troy dan Sophie masih di sini, supaya bisa nebeng mereka, tapi mereka pasti menyangka aku naik mobil sendiri ke sini. Sayang sekali, padahal mereka harapan terakhirku, mengingat aku tidak bisa menghubungi siapa pun, karena tidak membawa ponsel. Dan aku juga tidak bisa menggunakan telepon umum karena tidak membawa dompet.

Ya sudahlah. Mungkin aku akan menunggu Austin sebentar di sini, siapa tahu dia tiba-tiba mengingatku dan kembali ke sini. Kalaupun tidak, aku bisa pulang naik taksi, dan membayar di rumah.

Bersandar di dinding, aku menunggu Austin sambil membukabuka buku masak pemberian Lionel. Ada beberapa resep sulit. Aku salut Lionel sudah mencoba memasaknya.

Sampai pada halaman terakhir, aku melihat tulisan tangan Lionel dengan tinta biru. Aku membacanya dan membacanya lagi, dan senyum pun terbit di bibirku, diiringi air yang kembali menggenangi mataku. Kali ini air mata bahagia.

Dear Natasha,

According to my grandma, you’re my girlfriend. I hope someday  I  can  make  it  official.

Miss you already, Lionel 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊