menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 12

Mode Malam
Bab 12
SEHARUSNYA orang seceroboh diriku tidak ditugaskan membantu murid-murid kelas dua belas mendekor lapangan basket indoor sekolah. Aku sudah tahu akan melakukan kesalahan sebelum memulainya.

Meski tugas mendekor ini diwajibkan, nyatanya hanya segelintir murid yang datang. Aku hanya melihat empat atau lima murid kelas dua belas, padahal ini kan acara prom night mereka. Edgar? Boro-boro, dia mana mau ikut mendekor seperti ini! Padahal kalau semua murid mau datang, tugas mendekor akan selesai pada hari pertama, dan aku tidak akan sempat melakukan kesalahan.

Omong-omong tentang Edgar, aku belum sempat memberitahunya tentang Kiran. Aku sudah pernah mencoba meneleponnya, tapi dia tidak mengangkatnya dan aku terlalu malas untuk mencoba lagi.

Prom night sekolah bertema Di Bawah Laut sehingga akan seperti itulah dekorasi yang menghiasi lapangan basket indoor. Terpal biru menutupi hampir seluruh langit-langit lapangan, dengan pita-pita biru yang dililitkan di sepanjang dinding. Ornamen berbentuk ikan, kerang, dan bintang laut dipasang di hampir seluruh tempat, mulai dari panggung di sisi kanan lapangan sampai ke meja-meja bertaplak biru, dengan sarung kursi biru di sisi belakang lapangan.

Karena ini hari terakhir mendekor, nyaris tidak ada lagi yang bisa dilakukan murid-murid yang datang. Semua sudah beres sehingga kami malah melakukan hal-hal yang tidak penting seperti melicinkan taplak meja, meluruskan kursi-kursi, dan semacamnya. Semua murid sudah pulang, kecuali aku, Ellen, dan Portia. Aku tidak sengaja tersandung kaki kursi, dan tanganku menjadikan salah satu pita biru yang dililitkan di dinding sebagai pegangan. Tentunya ini membuat pita ambrol, terlepas dari lilitannya. Bagai efek domino, satu lilitan melepas lilitan lainnya, entah berapa meter pita yang terlepas. Kini pita itu melambailambai tertiup angin, seperti lidah yang menjulur-julur meledekku.

”Sori ya, Nat, gue nggak bisa bantuin lo masang pita itu lagi,” kata Portia tidak enak. ”Kakak gue nyuruh gue buru-buru pulang, soalnya dia mau pergi dan nggak ada yang jagain adik gue di rumah.”

”Gue juga sori ya, Nat,” kata Ellen ikut-ikutan. ”Nggak ada yang nyuruh gue buru-buru pulang sih, tapi kalau gue bantuin lo, gue pulangnya gimana? Bokap gue nggak bisa jemput, dan gue nggak berani naik angkot sendirian.”

Aku bisa mengerti alasan mereka, maka dari itu aku meyakinkan mereka bahwa aku bisa memasang pita itu sendiri. Ellen sengaja datang untuk menemaniku dan Portia, sebagai ganti kami menemaninya kemarin, jadi tentu dia tidak perlu membantuku. Lagi pula, dia memang perlu ikut Portia pulang karena mobil Austin hanya muat dua orang.

Ellen dan Portia menghabiskan waktu untuk menenangkanku. Setelah yakin aku tidak menjerit-jerit ala tokoh-tokoh di film horor karena ditinggalkan sendirian, barulah mereka pulang.

Melengkapi kesialanku hari ini, baterai ponselku juga habis. Untungnya,  aku  sudah  sempat  mengirim  LINE  pada  Austin, memberitahunya untuk menjemputku lebih larut dari biasanya, sebelum ponselku mati total.

Tadinya kupikir memasang pita tidak akan makan waktu lama, ternyata keliru. Melakukannya sendirian, aku kesulitan karena panjangnya sampai bermeter-meter. Seluruh proses merentangkan pita, melilitkannya di paku, dan mengikatnya, berubah dari yang seharusnya bisa bermenit-menit menjadi berjam-jam. Hari sudah malam ketika aku selesai memasang pita.

Aku baru akan mengambil tas yang kuletakkan di salah satu meja bertaplak biru dan mematikan lampu-lampu di lapangan, ketika tiba-tiba mendengar teriakan. Karena di sekolah ini hanya tinggal aku dan Mang Ujang, aku menebak itu teriakan Mang Ujang. Tapi kenapa dia berteriak?

Penasaran, aku beranjak ke pintu lapangan dan melongok ke luar. Terlihat pos penjaga sekolah di dekat pintu gerbang, dengan satu-satunya lampu yang menyala selain lampu-lampu di lapangan. Ada beberapa sinar lain yang terlihat di depan pos penjaga sekolah itu yang berasal dari lampu-lampu senter. Mulanya aku tidak bisa melihat orang yang memegang sentersenter itu karena sinarnya membutakanku. Begitu senter menyorot ke arah lain, aku bisa melihat mereka, dan dengan segera menyadari mereka adalah orang-orang yang sudah dua kali kulihat sedang mengawasi sekolahku.

Senter-senter mengarah ke bawah, ke arah Mang Ujang yang terbaring berlumuran darah. Salah satu dari mereka sedang mengikat Mang Ujang, dan alasan Mang Ujang tidak lagi berteriak adalah karena mulutnya dilakban.

Pemandangan Mang Ujang yang berlumuran darah membuatku mual, tapi aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku ingin menolongnya, tapi bagaimana? Aku tidak tahu siapa orang-orang itu, dan kenapa mereka sampai melukai Mang Ujang seperti itu.

”Jangan dendam sama kami, ya.” Suara salah satu dari mereka sampai ke telingaku. Dia berbicara pada Mang Ujang. ”Dendam aja sama si Edgar. Tahu Edgar, kan? Bocah yang sekolah di sini, yang suka sok-sokan jadi jagoan.”

Hanya karena salah satu dari orang-orang itu menyebut nama Edgar, aku langsung tahu mereka, seperti dugaanku, anggota geng Cebol. Tapi aku tidak tahu alasan mereka berada di sekolahku saat ini.

”Udah,  biarin  aja  dia,”  kata  yang  lain.  ”Ayo,  kita  hancurin tempat ini.”

”Lampu di lapangan masih nyala tuh,” kata yang lainnya lagi. ”Mungkin masih ada orang lain di sini.”

Sadar kalau lapangan yang dimaksud anggota geng Cebol itu adalah lapangan tempatku berada saat ini, aku dengan cepat beringsut keluar dari lapangan, dan menyatukan diri dengan kegelapan, sebelum sinar senter sempat mencapaiku. Aku berlari nyaris tanpa suara di sepanjang jalan setapak yang memisahkan bangunan sekolah dengan lapangan basket indoor, menuju belakang sekolah. Ada kantin di sana, yang tentunya saat ini sudah tutup, dan aku sempat berhenti sejenak di depannya karena bingung dengan tujuanku.

Aku jelas tidak bisa keluar dari pintu gerbang sekolah, karena geng Cebol pasti menyuruh salah satu atau beberapa anggotanya untuk berjaga-jaga di sana. Ada satu pintu keluar lain dari sekolah, dan itu adalah pintu menuju pelataran parkir, tapi letaknya dekat pintu gerbang.

Aku harus mencoret pilihan untuk lari keluar dari sekolah dan memilih bersembunyi saja, sampai mungkin—mungkin—ada bantuan datang. Maksudku, meski di luar jam sekolah daerah di sekitar sini sepi, pasti ada satu-dua orang yang melihat atau mendengar sesuatu yang mencurigakan di sini, kan?

Sayangnya kantin terlalu terbuka, aku merasa tidak aman kalau bersembunyi di sana. Kalau aku berlari lurus lalu berbelok ke kanan, aku akan tiba di taman samping sekolah. Bersembunyi di taman itu, yang lebih terbuka dibanding kantin, dengan kuntilanak di pohon beringin?

Tidak, terima kasih.

Aku justru berlari memasuki bangunan sekolah yang gelap gulita melalui pintu belakang, yang letaknya tepat di seberang kantin. Aku sempat takut pintu itu terkunci, tapi untungnya tidak.

Belum sempat aku berpikir harus bersembunyi di sebelah mana, pintu depan terbuka, dan seberkas sinar senter masuk. Panik, aku segera berbelok ke kanan, menaiki tangga menuju lantai dua, dan memasuki pintu pertama yang kutemukan.

Aku tiba di kelas, meski tidak tahu ruang kelas berapa. Aku berjongkok di sudut terjauh dari pintu, bersembunyi di balik bangku, gemetaran, takut ada anggota geng Cebol yang masuk dan menemukanku.

Suara-suara terdengar dari luar. Menghalau ketakutan, aku membuka secelah jendela di atas kepalaku agar bisa mendengar suara lebih jelas.

Di antara suara barang-barang yang dihancurkan, ada anggota geng Cebol yang berkata, ”Hancurin semuanya, tanpa sisa. Biar bocah-bocah tolol itu nggak bisa ngadain prom nit.”

Anggota geng Cebol itu memang bilang begitu: prom nit, dan bukannya prom night. Dengan kesalahan eja, berani-beraninya dia menyebut murid-murid kelas dua belas sekolahku sebagai bocah-bocah tolol.

Tapi, ya ampun... berarti geng Cebol sudah menghancurkan dekorasi lapangan basket indoor yang sudah capek-capek dikerjakan para murid? Dan pita yang kupasang lagi itu, yang berjam-jam kukerjakan, pasti juga sudah berantakan.

Geng Cebol cukup berhati-hati dengan tidak menyalakan lampu, dan lebih memilih memakai senter saja—menghindari orang-orang yang pasti heran melihat lampu-lampu sekolah dalam keadaan menyala padahal biasanya dimatikan. Namun mereka tidak berhati-hati dengan suara gaduh yang mereka hasilkan.

”Lo bawa apa tuh?” Salah satu anggota geng Cebol bertanya.

”Tas. Ada yang ninggalin tasnya di dalam. Berarti benar, masih ada orang di sini.”

Astaga, tasku! Tadi belum sempat kuambil.

”Coba cek isinya,” kata si pemilik suara Prom Nit. Selama beberapa saat anggota geng Cebol tidak bersuara. Aku tebak dia sedang mengecek isi tasku. ”Wah,” katanya, ”Gue ketemu dompet. Isinya banyak banget, coy.”

Terbanglah sudah uang jajanku selama seminggu.

”Bagi gue sini,” kata si Prom Nit. Aku mendengar anggota geng Cebol lainnya memprotes, mungkin karena si Prom Nit mengambil lebih banyak darinya. ”Kartu pelajarnya jangan dikasih ke gue. Gue nggak butuh.”

”Gue juga nggak butuh,” sungut anggota geng Cebol lainnya itu.

Gue yang butuh, jeritku di dalam hati, membayangkan keribetan yang akan kualami untuk membuat kartu pelajar yang baru.

”Eh, tapi lihat kartu pelajar ini deh,” kata anggota geng Cebol lainnya tiba-tiba. ”Nama yang tercantum di sini Natasha Lorraine, dan muka di fotonya kelihatan familier. Ini Natasha adiknya Austin Allen bukan sih?”

Mati aku. Tas yang belum sempat kuambil itu bukan hanya memastikan memang masih ada orang di sini, tapi juga membongkar siapa orang itu!

Tanpa menanggapi anggota geng Cebol yang lainnya, si Prom Nit malah bertanya, ”Di tasnya ada HP, nggak?”

Lagi-lagi anggota geng Cebol itu tidak bersuara, mungkin sedang mengecek isi tasku lagi. ”Nggak ada,” jawabnya.

”Sial!” seru si Prom Nit, sedikit panik. ”Mungkin dia bawa HP-nya, dan bisa-bisa, dia nelepon polisi.”

Kenapa aku tidak terpikir untuk menelepon polisi? Tapi sebelum aku mengeluarkan ponsel dari saku rok, aku teringat baterai ponselku habis. Hebat sekali, baterainya habis saat aku kepepet begini.

”Gimana dong?” Nada suara mereka terdengar panik. ”Gue nggak mau ditangkap polisi.”

”Kita kasih tahu teman-teman untuk berhenti ngehancurin tempat ini. Fokus nyari cewek itu aja,” kata si Prom Nit, membuatku langsung pucat. ”Tadinya kan emang dia yang kita incar. Ayo, berpencar, dan kasih tahu yang lain. Gerak cepat, sebelum polisi datang.”

Berarti dua kali aku melihat geng Cebol mengawasi sekolahku itu, sebenarnya mereka sedang mengawasiku. Ternyata dalam proses mengawasiku itu, mereka menyadari sekolahku akan mengadakan prom night, sehingga ganti mengincar sekolahku, karena Austin selalu mengantar-jemputku. Sepertinya mereka menunggu hingga hari terakhir mendekor, kemudian menghancurkan dekorasinya sekalian menghancurkan sekolahku. Ini juga sekolah Edgar, jadi mereka menggunakannya sebagai peringatan untuk Edgar. Mungkin aku dilewati, atau malah lagi-lagi disimpan untuk selanjutnya.

Bersembunyi kini tidak lagi menjadi pilihan yang bagus. Geng Cebol fokus mencariku, dan itu berarti mereka akan memeriksa setiap sudut sekolah. Tidak ada polisi yang akan datang karena aku tidak bisa menelepon mereka.

Aku harus berada sedekat mungkin dengan pintu gerbang sekolah, dan kalau memang ada satu atau beberapa anggota geng Cebol yang menjaganya, aku hanya harus menunggu mereka lengah, lalu menyelinap keluar. Jadi aku keluar dari tempat bersembunyi, dan mulai menuruni tangga. Baru tiga anak tangga kuturuni, terdengar suara langkah menaiki tangga, disusul seberkas sinar senter yang memantul di dinding bordes. Aku berbalik naik, terus hingga ke lantai tiga, berharap suara kakiku tidak terdengar orang yang naik itu.

Sama seperti ketika berada di lantai dua, di lantai tiga pun aku memasuki pintu pertama yang kutemukan. Laboratorium biologi. Aku menutup pintu dengan pelan, dan berjalan mundur sembari mataku menatap ke jendela, yang memperlihatkan koridor gelap di luar, ingin tahu apa anggota geng Cebol yang naik itu berhenti di lantai dua atau naik terus hingga lantai tiga.

Langkahku baru terhenti ketika punggungku menabrak sesuatu, dan ketika aku berbalik, aku nyaris menjerit melihat seseorang di belakangku.

Tunggu, itu bukan orang, melainkan model tubuh manusia. Murid-murid sekolahku menyebutnya Mr. Handsome, meski model itu tampilannya begitu mengerikan dengan isi tubuh terlihat di sana-sini. Aku menelan jeritanku dan melangkah memutari meja tempat Mr. Handsome diletakkan, lalu bersembunyi di baliknya. Sepertinya anggota geng Cebol yang naik itu berhenti di lantai dua, sebab aku tidak mendengar suara langkahnya di lantai tiga.

Meski aku tidak ingin lagi bersembunyi, nyatanya cukup lama aku berdiam di sana. Suara barang-barang yang dihancurkan tidak lagi terdengar, jadi mungkin si Prom Nit dan anggota geng Cebol yang tadi berbicara dengannya sudah memberitahu rekan-rekan mereka untuk berhenti menghancurkan sekolah dan fokus mencariku saja.

Suara-suara itu berganti teriakan marah bercampur kesakitan, yang meski samar, tetap terdengar sampai ke lantai tiga. Apa mereka melukai Mang Ujang lagi? Aku tidak sempat memikirkan Mang Ujang lagi karena mendengar suara langkah di lantai tiga. Aku mengerut di balik meja. Suara itu terdengar begitu dekat, tepat di koridor di depan laboratorium biologi.

Benar saja. Tidak lama, pintu lab dibuka, dan suara langkah yang mendekat menandakan pemiliknya sudah berada di dalam. Aku mati-matian menahan napas, tanganku menekap mulut sementara keringat dingin mengucuri tubuhku.

”Eh, monyong!” Tiba-tiba anggota geng Cebol yang masuk itu bersuara, sinar senternya jatuh di atasku, tepatnya pada Mr. Handsome. Sepertinya dia sama sepertiku, mengira Mr. Handsome manusia, sehingga kaget sendiri dan malah latah.

”Kenapa? Ada orang di dalam?” Terdengar suara anggota geng Cebol yang lainnya, menyusul suara langkahnya yang lebih dulu terdengar.

”Nggak, itu model kampret bikin gue kaget,” kata si Preman Latah, dan langkahnya terdengar menjauh, mungkin menghampiri anggota geng Cebol yang lainnya. ”Cari di ruangan selanjutnya aja deh. Di sini kayaknya nggak ada siapa-siapa.”

Pintu ditutup, dan suara-suara langkah mereka pun semakin menjauh. Fiuuuh... cukup aman aku tetap bersembunyi di sini. Lupakan pintu gerbang sekolah karena mereka toh menganggap tidak ada siapa-siapa di sini, meski si Preman Latah tidak benarbenar  mencari.  Aku  harus  berterima  kasih  pada  Mr.  Handsome.

Baru saja merasa lega, aku tidak sengaja menyenggol meja di belakangku dalam usaha mengubah posisi jongkok karena kakiku kesemutan. Praaang! Sebuah gelas ukur melayang jatuh. Suara jatuhnya bagai suara ledakan bom nuklir. Aku tidak heran ketika mendengar suara-suara langkah si Preman Latah dan anggota geng Cebol yang lainnya itu kembali mendekat.

”Siapa di sana?” seru si Preman Latah, setelah pintu kembali dibuka. Senternya disorotkan ke seluruh penjuru ruangan, dan untung dia tidak latah lagi sewaktu sinarnya kembali jatuh pada Mr. Handsome.

”Neng Natasha, ya?” tebak anggota geng Cebol yang lainnya itu, dengan suara genit. ”Sini, Neng, jangan takut. Keluar aja, biar Abang bisa lihat Neng. Neng bakal aman kok sama Abang.”

Apa anggota geng Cebol itu berpikir aku akan sebodoh itu menyerahkan diri? Maaf-maaf saja, meskipun takut, aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Dari suara-suara langkah, aku tahu mereka berpencar di ruangan ini untuk mencariku. Yang satu ke arah kiri, sedangkan yang satu lagi ke arah kanan, mendekati meja Mr. Handsome, di mana di baliknya aku berjongkok dengan kaki kesemutan.

Tidak ada jalan lain. Aku tidak bisa tetap bersembunyi di sini, karena dalam beberapa detik mereka akan menemukanku. Jadi sudah saatnya aku muncul dan melawan—atau lebih tepatnya, kabur dari mereka.

Dengan memperhitungkan waktu anggota geng Cebol yang berjalan ke arah kanan itu tiba di depan meja Mr. Handsome, aku berdiri, dan dengan sekuat tenaga mendorong Mr. Handsome ke arahnya. Anggota geng Cebol itu berseru kaget, tubuhnya limbung, dan jatuh bersama Mr. Handsome.

Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari semampuku dengan kaki kesemutan, memutari meja yang kini kosong karena Mr. Handsome sedang bergulat dengan anggota geng Cebol itu di lantai, dan mengarah ke pintu yang terbuka lebar. Tapi sebelum aku sempat mencapai pintu, tangan anggota geng Cebol itu terulur dari balik Mr. Handsome, dan menarik kakiku yang kesemutan. Aku jatuh, daguku membentur lantai, dan rasa sakitnya sampai membuat mataku berkunang-kunang.

Tidak ada waktu untuk mengaduh-aduh. Aku segera bangkit— untungnya kesemutanku sedikit berkurang—dan lari menuju pintu. Dari sudut mata, aku melihat anggota geng Cebol yang lainnya, yang tadi berjalan ke arah kiri, berlari mendekatiku. Dia tiba di depan pintu tepat saat aku akan menutupnya, dan tangannya yang diletakkan di kosen terhantam pintu yang kututup dengan keras, membuatnya meraung kesakitan.

”Cewek itu di tangga belakang! Cewek itu di tangga belakang!” adalah seruan dari kedua anggota geng Cebol yang mengiringi langkahku menuruni tangga. Kesemutanku sudah hilang total sehingga aku bisa berlari lebih cepat dari sebelumnya. Tapi itu juga bumerang untukku, karena begitu tiba di tangga yang membawaku menuju lantai satu—tidak ada siapa-siapa di koridor lantai dua, sejauh yang bisa kulihat—saking cepatnya aku berlari, sampai kelewatan satu anak tangga dari tiga anak tangga yang tersisa, dan aku pun lagi-lagi jatuh.

Aku memaksakan bangkit, karena di koridor lantai satu, ada beberapa anggota geng Cebol yang menyadari kehadiranku. Mereka berseru, menyuruhku berhenti, sembari berlari ke arahku. Tapi mereka tidak bisa berlari dengan cepat, karena koridor di depan mereka, dipenuhi meja dan bangku yang mereka hancurkan. Aku berterima kasih pada meja-meja dan bangkubangku itu, dan berharap mereka bisa menahan para anggota geng Cebol lebih lama lagi, aku berlari keluar bangunan sekolah melalui pintu yang sama ketika aku masuk tadi: pintu belakang.

Tadinya aku ingin berbelok ke kiri, dan berlari menuju gerbang melalui jalan setapak di antara bangunan sekolah dan bangunan lapangan basket indoor itu lagi, tapi dari sana, aku melihat beberapa sinar senter, yang menandakan ada beberapa anggota geng Cebol. Aku berbelok ke kanan, meski menyadari jalan ini membawaku ke taman samping yang tadi kuhindari—kuntilanaknya itu lho—tapi tidak ada jalan lain.

Rasanya aku mulai kehabisan napas, tapi suara langkah di belakangku memaksaku tetap berlari. Aku sudah memasuki taman samping dan baru saja melewati pohon beringin ketika tiba-tiba sepasang tangan menangkapku, membekap mulutku, dan membawaku ke balik pohon itu.

Pikiran pertamaku adalah kuntilanak di pohon itu yang menangkapku. Mungkin ingin menjadikanku teman supaya dia tidak bergelantungan sendirian. Tidak ingin bergelantungan di pohon, aku meronta, berharap kuntilanak itu berbaik hati dan melepaskanku. Kalau dia ingin teman, dia tangkap anggota geng Cebol saja. Mereka kan banyak, jadi nanti dia bisa punya banyak teman bergelantungan.

”Sssttt... ini gue,” bisik kuntilanak itu, dengan suara Edgar.

Aku menoleh ke belakang, dan ternyata memang Edgar yang menangkapku. Jadi aku berhenti meronta, merasa lega luar biasa dengan kehadiran Edgar, juga karena dia bukan kuntilanak. Edgar masih mendekap dan membekapku sementara matanya mengawasi ke sekeliling taman, yang kemudian dilewati para anggota geng Cebol yang mengejarku. Tidak satu pun dari mereka menyadari kehadiranku dan Edgar di balik pohon, sehingga malah terus berlari ke luar taman. Setelah merasa situasinya aman, barulah Edgar melepaskanku.

”Kok lo bisa ada di sini?” adalah hal pertama yang kutanyakan pada Edgar begitu mulutku terbebas dari tangannya.

”Gue dapat telepon dari Austin, yang ngasih tahu sekolah diserang geng Cebol,” kata Edgar. ”Selain gue, dia juga ngasih tahu Troy dan anggota gengnya sendiri. Dia panik karena lo masih ada di sini dan sama sekali nggak bisa dihubungin. Jadi setelah nelepon kami, dia langsung ke sini.”

Aku lupa Austin akan menjemputku. Pastilah dia panik, karena begitu sampai di sekolah, dia melihat geng Cebol sedang menghancurkan sekolahku.

”Terus, sekarang Austin di mana?” tanyaku.

Edgar mengangkat bahu. ”Dia juga nggak bisa dihubungin.”

Darahku rasanya berhenti mengalir. Austin masuk sendirian ke sekolah yang dipenuhi geng Cebol. Tentu geng Cebol menganggapnya sebagai mangsa empuk. Austin tidak mungkin sanggup melawan geng Cebol sendirian sementara jumlah anggota geng itu puluhan. Jangan-jangan suara teriakan marah bercampur kesakitan yang tadi kudengar, bukan suara Mang Ujang, tapi... teriakan Austin?

”G-gue mau nyari Austin,” kataku, tidak tahan membayangkan geng Cebol melukai abangku.

”Gue yang akan nyari Austin,” kata Edgar. ”Lo harus sembunyi karena gue nggak bisa bawa lo keluar sekarang.”

”Gue nggak mau sembunyi lagi,” tukasku. Sudah cukup aku bersembunyi, aku tidak ingin melakukannya lagi—tidak dengan nasib Austin yang belum kuketahui. ”Gue ikut lo nyari Austin.” ”Kalau lo ikut gue nyari Austin, lo hanya akan nyusahin gue. Lo nggak mau kan, malah menghambat pencarian?” tandas Edgar.

Tentu saja yang kumau adalah Austin segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Baiklah, aku tidak ikut Edgar mencari Austin.

”Gue tunggu di luar aja,” kataku. ”Jadi kalau anggota geng lo, geng Austin, dan geng Troy datang, gue bisa kasih tahu mereka keadaan di sini, dan nyuruh mereka bantu lo nyari Austin.”

”Udah gue bilang, gue nggak bisa bawa lo keluar sekarang,” ulang Edgar. ”Ada dua anggota geng Cebol yang jaga pintu gerbang. Kalau gue nekat nerobos bareng lo, yang ada lo bakal ketangkep dan gue bakal dikeroyok, karena mereka pasti manggil rekan-rekannya.”

”Emangnya tadi gimana cara lo masuk ke sini?” tanyaku heran.

Edgar menunjuk ke tembok di seberang kami, dan aku malah bertambah heran. Apa Edgar bisa berjalan menembus tembok?

Membaca keherananku, Edgar berkata, ”Ada tumpukan kotak kayu di luar yang gue pakai manjat tembok.”

Oh, tumpukan kotak kayu itu. Aku baru ingat. Tanpa tumpukan itu tidak mungkin memanjat tembok karena temboknya terlalu tinggi.

”Gue harus sembunyi di mana?” tanyaku, pasrah.

Edgar berpikir sejenak, dan ketika tatapannya jatuh pada pohon di dekat kami, dia langsung mendapat ide. ”Di atas pohon ini,” putusnya mantap.

Kalau tidak ingat ada geng Cebol, aku pasti sudah menyerukan ”apa?” sekeras mungkin. Bagaimana mungkin Edgar menyuruhku bersembunyi di atas pohon itu? Apa tidak ada pilihan tempat yang lebih baik?

”Kenapa harus di atas pohon ini?” tanyaku keberatan. ”Karena kecil kemungkinan geng Cebol akan menemukan lo

di sana,” kata Edgar. ”Mereka nggak akan ingat untuk mengecek ke atas pohon.”

”Tadi waktu lo bawa gue ke balik pohon ini, mereka juga nggak sadar kita ada di sini,” kataku. ”Jadi gue sembunyi di sini aja.”

Edgar tidak menerima ideku. ”Lebih aman di atas,” desaknya.

”Gue nggak bisa manjat.” ”Gue bantu lo.”

”Gue pakai rok.”

”Gue nggak akan ngintip.”

Saat aku mengatakan aku pakai rok, maksudku adalah akan semakin sulit bagiku untuk memanjat pohon itu. Aku tidak menuduh Edgar akan mengintip ke dalam rokku. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, dengan aku yang berjuang memanjat pohon dan Edgar di bawah membantuku memanjat, aku memang akan memamerkan celana dalamku padanya, meski aku percaya Edgar bukan orang semesum itu.

”Tapi gue—”

”Natasha, ini bukan waktunya berdebat,” potong Edgar, mulai tidak sabar. ”Geng Cebol bisa muncul lagi di sini sewaktu-waktu, dan nggak akan nungguin lo manjat pohon keparat ini.”

Edgar benar. Dengan terpaksa aku memanjat pohon itu. Edgar terus memberiku petunjuk demi petunjuk: bagaimana aku harus memosisikan tubuh, di mana aku harus meletakkan kaki, dan sebagainya. Aku begitu takut sampai-sampai tidak peduli kalau Edgar melihat celana dalamku, asal aku tidak jatuh. Akhirnya aku berhasil duduk di dahan yang kokoh, sambil memeluk batang pohon erat-erat. Posisiku tidak terlalu tinggi, tapi aku takut melihat ke bawah.

”S-sampai kapan gue mesti di sini?” tanyaku, dengan suara agak keras supaya Edgar di bawah bisa mendengarku.

”Sampai keadaan aman,” kata Edgar, dengan volume suara yang sama denganku.

”Kapan keadaan akan aman?” tanyaku lagi.

”Kalau geng Cebol nggak ada lagi di sini,” kata Edgar. ”Gue jemput lo nanti, dan bantu lo turun, jadi lo harus tetap di atas pohon.”

”Lo nggak akan lupa jemput gue, kan?” tanyaku khawatir. ”Edgar? Edgar?”

Tak ada sahutan dari Edgar. Ketika aku memberanikan diri melongok ke bawah, dan kepalaku mendadak terasa berputar karenanya, ternyata Edgar sudah berlari meninggalkan taman. Semoga saja dia tidak lupa menjemputku, atau aku terancam bergelantungan di pohon ini sampai pagi.

Selama duduk di pohon, pikiranku terbagi antara Austin dan kuntilanak, dan terus begitu sampai tiba-tiba terdengar suarasuara dari balik tembok di seberangku, dan anggota geng Edgar, berlompatan ke dalam satu per satu.

Seperti kata Edgar, meski bukan anggota geng Cebol, anggota gengnya pun tidak ingat untuk mengecek ke atas pohon. Padahal, sewaktu mereka berada di atas tembok, posisi mereka nyaris berhadapan denganku.

Hanya selang beberapa detik setelah anggota geng Edgar berlari meninggalkan taman, terdengar suara-suara lain—campuran antara suara teriakan, suara barang dihancurkan, dan suara pukulan. Aku menebak, bukan hanya geng Edgar yang datang, juga geng Austin dan geng Troy. Pertempuran pasti sudah dimulai.

Kalau geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar sudah berada di sini, berarti aku tidak perlu menunggu di atas pohon sampai geng Cebol tidak ada lagi, kan? Keadaan aman untukku, karena banyak yang bisa melindungiku. Mampukah aku menuruni pohon ini sendirian, tanpa bantuan Edgar?

Jawabannya: harus mampu.

Jadi aku mulai menuruni pohon itu, hanya sekali-sekali saja melihat ke bawah, karena keberanianku pasti surut kalau aku sering-sering melakukannya. Tapi akibatnya, kakiku terpeleset di dahan paling bawah, dahan yang terlihat begitu tipis dan ujungnya dipenuhi ranting. Aku merosot jatuh hingga ke tanah. Kaki kananku berada pada posisi yang salah ketika berusaha menahan jatuhku. Sakitnya luar biasa, sepertinya terkilir.

Bagus, Natasha. Bagus sekali. Waktu yang tepat untuk terkilir. Aku mencoba berdiri, tapi jatuh lagi begitu menapak dengan kaki kananku yang mengirimkan sinyal sakit ke otak.

Kalau aku tidak bisa berjalan, bahkan berdiri saja tidak bisa, apa itu artinya aku harus menyeret-nyeret tubuhku hingga ke gerbang seperti suster ngesot? Tidak cukupkah menjadi kuntilanak, sehingga aku harus menjadi suster ngesot juga?

Semoga ada anggota geng Austin, anggota geng Troy, atau anggota geng Edgar yang masuk ke taman untuk membantuku. Aku bahkan berharap kalau bukan Austin, yang akan membantuku adalah Lionel, meski aku ragu dia ikut pertempuran ini.

Yang masuk ke taman, justru orang yang sama sekali tidak kuharapkan yaitu anggota geng Cebol. Dia menyeringai ketika melihatku, apalagi begitu menyadari ketidakberdayaanku dengan kakiku yang terkilir.

”Akhirnya Neng Natasha ketangkep juga ya,” kata anggota geng Cebol, dari suaranya kusadari adalah si Prom Nit, yang mungkin sudah mengambil lebih dari separuh uang jajanku.

Aku menyeret tubuhku mundur, dan itu membuat seringai si Prom Nit bertambah lebar. Dia bermain-main denganku, mencoba menarik kakiku, lalu membatalkannya, lalu mencobanya lagi, tetap dengan seringainya.

”J-jangan macam-macam,” seruku takut, meski aku berharap rasa takut tidak terdengar dalam suaraku.

”Atau apa?” tantang si Prom Nit.

”A-atau... atau gue bakal lapor polisi,” ancamku, yang sebenarnya bohong mengingat baterai ponselku habis. Dan ternyata, si Prom Nit juga tahu itu hanya ancaman kosong.

”Kalau Neng mau lapor polisi, Neng pasti udah melakukannya dari tadi,” kata si Prom Nit. ”Tapi buktinya, mana polisinya? Nggak datang-datang sampai sekarang. Ada dua kemungkinan sih. Pertama, Neng nggak bawa HP. Dan kedua, baterai HP Neng habis.”

Aku tidak akan memberitahu kemungkinan kedualah yang benar, dan si Prom Nit juga tidak peduli mana yang benar, karena yang diinginkannya hanyalah menangkapku. Jadi kali selanjutnya dia menarik kakiku, dia tidak bermain-main. Setelah menarik kakiku, dia mengangkat tubuhku hingga berdiri, memaksaku menapak dengan kedua kaki sehingga aku menjerit kesakitan. Mungkin dia mau membawaku keluar taman, menjadikanku sandera. Meski kondisi kakiku tidak memungkinkan, aku meronta dan melayangkan tinju ke mana-mana, berharap mengenai si Prom Nit. Satu kali, tinjuku mengenai sisi pipinya, dan dia langsung melepaskanku, membuatku langsung jatuh—yang kelima kali hari ini, sehingga bukan hanya kakiku yang sakit, juga seluruh tubuhku.

Oh, ternyata bukan tinjuku yang membuat si Prom Nit melepaskanku, melainkan orang lain di taman, yang menariknya lepas dariku dan menghajarnya habis-habisan. Orang yang bikin aku sampai harus mengucek mata berkali-kali untuk memastikan tidak salah lihat adalah... Lionel. Ternyata dia ikut.

Lionel tidak sejago Troy dalam berkelahi, tapi bukan berarti dia tidak memiliki kemampuan. Memang butuh lebih banyak pukulan untuk merobohkan si Prom Nit daripada jika Troy yang melakukannya. Tapi si Prom Nit akhirnya tersungkur pingsan di tanah. Begitu yakin lawannya tidak akan sadar dalam waktu dekat, Lionel bergegas menghampiriku, lalu berjongkok di depanku.

”Lo nggak apa-apa?” tanya Lionel khawatir, memeriksaku dari atas ke bawah, dan terlihat terpukul begitu melihat kaki kananku bengkak. ”Kaki lo...”

”Cuma terkilir,” kataku, meski kata ”cuma” tampaknya terlalu mengecilkan denyutan menyakitkan di kakiku. Untuk mengalihkan perhatian Lionel dari kakiku, aku berkata lega, ”Gue nggak nyangka lo bakal datang.”

Perhatian Lionel tidak sepenuhnya teralihkan karena matanya masih terpaku ke kaki kananku ketika dia berkata, ”Troy bilang ke gue bahwa Austin nelepon dia, buat ngasih tahu sekolah ini diserang geng Cebol, dan lo masih ada di sini. Gue mutusin datang karena takut lo kenapa-kenapa. Waktu gue baru sampai, gue ketemu Edgar, dan dia ngasih tahu lo sembunyi di sini. Fokus gue emang nyari lo, jadi gue buru-buru ke sini.”

Aku tidak bisa tidak senang mendengar penuturan Lionel. Dia datang bukan untuk ikut pertempuran, melainkan untuk mencariku karena khawatir padaku. Akulah satu-satunya alasan Lionel berada di sini.

”Ayo, kita keluar dari sini,” kata Lionel. ”Lo bisa jalan?”

Bahkan sebelum aku menggeleng, Lionel sudah tahu jawaban pertanyaannya. Dia berbalik, menghadapkan punggungnya padaku, sebagai isyarat dia akan menggendongku.

”N-nggak usah, Nel,” tolakku grogi. ”Lo bisa mapah gue aja.” ”Nanti kaki lo tambah parah,” kata Lionel. ”Udah, nggak apa-

apa. Naik aja.”

Dengan wajah memerah, aku naik juga ke punggung Lionel. Dia bisa mengangkatku dengan mudah, seakan beratku hanya setara dengan sehelai kapas.

Seumur hidupku, laki-laki yang pernah menggendongku hanya Papa, dan itu pun waktu aku masih kecil. Apa yang kulakukan dengan Lionel terasa begitu... intim.

Sama seperti ketika aku berada di motor Lionel, kali ini aku juga menghidu aroma maskulin Lionel, dan terang saja jantungku langsung menggila, meski rasanya tidak etis mengingat pertempuran sedang berlangsung di sekeliling kami.

Aku baru mengerti kata-kata Edgar ketika dia bilang aku akan menyusahkan kalau ikut dengannya, karena kini aku mengalaminya bersama Lionel. Tiga anggota geng Cebol mengadang ketika kami baru keluar taman. Lionel tidak mungkin menghadapi mereka sambil menggendongku. Dia menurunkanku, sampai aku terduduk di aspal. Dengan ngeri aku menyaksikan dia menghadapi ketiga anggota geng Cebol.

Awalnya Lionel bisa menghadapi mereka tanpa masalah, tapi lama-kelamaan, dia kewalahan. Situasi tiga lawan satu memang tidak  menguntungkan.  Syukurlah,  dua  anggota  geng  Lionel datang dan membantunya, dan setelah situasinya berimbang satu lawan satu, mereka bisa merobohkan ketiga anggota geng Cebol.

Setelah mengucapkan terima kasih pada dua anggota gengnya, Lionel kembali menggendongku dan melanjutkan langkahnya. Ketika sampai di halaman depan sekolah, barulah aku bisa melihat sebesar apa pertempurannya.

Pertempuran di markas geng Cebol dulu sudah cukup besar, yang ini lebih besar lagi. Jumlah geng yang terlibat tetap sama, hanya berbeda kubu. Geng Edgar tidak lagi berkubu dengan geng Cebol karena sudah berpindah kubu ke geng Austin dan geng Troy.

Pukulan, tendangan, dan tonjokan diempaskan di mana-mana. Banyak orang—kebanyakan anggota geng Cebol—yang membawa senjata, entah itu potongan kayu, tongkat besi, pisau, bahkan sampai celurit. Beberapa orang terluka parah, bahkan sampai ada yang bersimbah darah. Tubuh-tubuh yang sudah kalah bergelimpangan, ada yang sampai terinjak-injak, dan yang masih bertahan rata-rata kepayahan.

Seluruh kaca di bagian depan sekolah sudah pecah, dan pecahannya memenuhi lantai. Entah bagaimana, terpal biru yang berasal dari lapangan basket indoor, bisa berakhir di halaman depan.

Susah payah Lionel membawaku melintasi halaman di pinggir pertempuran, berusaha tidak menarik perhatian. Kami sudah akan sampai di dekat pos penjaga, ketika dari arah berlawanan aku melihat Austin dipapah Troy, menuju arah yang sama.

Awalnya aku tidak mengerti kenapa Austin sampai harus dipapah Troy, sampai kemudian aku melihat kondisinya, yang kontan membuat air mataku merebak. Austin adalah salah satu orang yang bersimbah darah. Dan saat aku bilang bersimbah, aku tidak main-main. Dia mengenakan kaus putih yang kini berubah menjadi merah karena darah di tubuhnya membasahi kaus. Rambutnya lengket oleh darah, yang mengental di sisi kiri kepalanya. Hidungnya berdarah, juga sudut bibirnya yang robek.

”Austin!” seruku panik. Aku minta diturunkan. Tapi Lionel tidak mengizinkanku, yang memang akan percuma saja karena aku tidak bisa berjalan sendiri. Lionel membawaku ke pos penjaga, menyusul Troy. Dia menurunkanku di lantai, di dekat Austin yang terbaring kesakitan.

Ekspresi kesakitan Austin bercampur dengan sedikit ekspresi lega ketika dia melihatku. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun padanya karena lebih sibuk menangis, Austin bertanya, ”N-Natasha... lo n-nggak apa-apa?”

Aku hanya bisa mengangguk, merasa ironis dengan pertanyaan Austin, mengingat dia sendiri yang kondisinya parah. ”K-kenapa lo jadi kayak gini, Tin?” tanyaku, meski sebenarnya aku sudah tahu penyebabnya.

Austin jelas tidak dalam keadaan bisa menjelaskan sehingga Troy yang mengambil alih. ”Geng Cebol ngeroyok dia waktu dia baru sampai di sini,” katanya. ”Mereka ngikat dia, lalu masukkin dia ke gudang. Aku yang nemuin dia waktu lewat di depan gudang. Karena dia nggak mau dibawa ke rumah sakit, aku bawa dia ke pos ini dulu. Seenggaknya, pos ini dekat dengan pintu gerbang, jadi kalau kondisinya mulai membaik, dia bisa keluar sewaktu-waktu.”

”Tapi lo harus ke rumah sakit, Tin,” kataku pada Austin, setelah selesai mendengar penjelasan Troy. ”Lo berdarah banyak banget.”

Austin mengangkat tangan, ingin mengibas tapi tidak punya tenaga, jadi dia menjatuhkannya lagi. ”I-ini bukan apa-apa kok.”

”Bukan apa-apa gimana?” tukasku, mulai marah karena Austin terlalu menyepelekan kondisinya. ”Lo bisa mati, lo tahu? Mati.”

Austin mengernyit, seakan suaraku membuat telinganya sakit. ”B-bawa Natasha keluar dari sini,” katanya, entah pada Lionel atau Troy, jelas-jelas mengabaikanku.

”Austin!” protesku.

Troy berada di pihak Austin. ”Kamu emang harus ke luar dari sini, Nat,” katanya. ”Tempat ini terlalu berbahaya untukmu.” Seakan mendukung kata-kata Troy, tahu-tahu ada tubuh yang jatuh di depan pos ini. Anggota geng Edgar itu mengerang, lalu dengan susah payah bangkit, dan kembali ke arena pertempuran. Mungkin untuk membalas siapa pun yang sudah membuatnya terlempar ke sini.

”Tapi Austin gimana?” tanyaku, setelah intermeso singkat itu.

”Aku akan nyuruh anggota gengku jagain dia di sini,” kata Troy. ”Jadi kalau ada anggota geng Cebol yang ngelihat dia di sini, akan ada yang bantuin dia. Dan setelah pertempuran selesai, kalau kondisinya nggak juga membaik, nggak peduli apa pun katanya, aku bawa dia ke rumah sakit.”

”G-gue udah bilang, gue n-nggak butuh ke rumah sakit,” sergah Austin keras kepala, tapi tidak ada yang memedulikannya. Lionel memberiku isyarat untuk naik ke punggungnya lagi,

dan dengan terpaksa aku melakukannya.

”Bawa Natasha ke mobil gue, Nel,” kata Troy pada Lionel, yang disambut dengan anggukan.

Sepanjang perjalanan menuju mobil Troy, yang diparkir cukup jauh dari sekolah, aku menangis, sementara Lionel berusaha menenangkanku, mengatakan Austin akan baik-baik saja. Tangisku sedikit mereda begitu melihat Ivy ketika Lionel membuka pintu belakang mobil Troy. Di sebelah Ivy ada Sophie, sementara di jok penumpang depan ada cowok yang pernah kulihat di 9 Balls saat aku ke sana bersama Ivy dan Sophie, yang kalau tidak salah  bernama  Andy.  Sama  sepertiku,  mereka  juga  kaget melihatku. Ivy bergeser untuk memberiku tempat.

Sebelum Lionel sempat pergi, aku menahan tangannya, menggenggamnya erat-erat sementara menatapnya lurus-lurus. ”Tolong.”

Hanya satu kata itu, aku tidak menambahkan kata lain, tapi Lionel mengerti. Dia mengangguk, tersenyum menenangkan, baru kemudian pergi.

Arti interaksi itu adalah aku meminta Lionel menolong Austin dan membawanya ke rumah sakit. Aku tahu Troy sudah berjanji melakukannya, tapi aku ingin Austin dibawa ke rumah sakit secepatnya. Dia bisa kehabisan darah, dan aku tidak ingin itu terjadi. Lionel mengiakan permintaanku, karena toh tujuannya ke sekolah untuk mencariku sudah tercapai. ”Nat, lo tadi masih di sekolah?” tanya Ivy, setelah pintu mobil ditutup.

Aku mengangguk sembari menghapus air mata. Aku tidak ingin Ivy menanyakan alasanku menangis, yang berarti aku harus memberitahunya kondisi Austin. Ternyata itu tidak terhindarkan. Memang, cepat atau lambat dia akan tahu, tapi aku tidak ingin menjadi orang yang menyampaikan kabar buruk itu.

”Kenapa lo nangis, Nat?” tanya Ivy. ”Apa geng Cebol nyakitin lo?”

Itu memberiku ide. Aku tidak harus memberitahu Ivy kondisi Austin, melainkan memberikan alasan lain yang cukup kuat.

”Mereka bikin gue jatuh berkali-kali,” kataku, meski jatuhku sebagian besar adalah kesalahanku sendiri. ”Kaki gue terkilir.”

Ivy otomatis melirik ke arah kakiku, tapi tidak melihat bengkaknya karena terlalu gelap.

”Oh, lo digendong Lionel karena kaki lo terkilir, bukan karena lo malas jalan?” timbrung Sophie. ”Gue pikir lo sengaja manjamanjaan sama Lionel.”

Aku tidak perlu menanggapi Sophie karena Ivy sudah berpaling padanya untuk memelototinya, sebelum kembali berpaling padaku. Sophie pun diam, meski belum puas mengomentari aksi gendongku dengan Lionel.

”Terus, apa lo lihat Austin?” tanya Ivy.

Raut wajahku langsung menegang teringat kondisi Austin yang bersimbah darah. Mati-matian aku berusaha menahan air mata yang mengancam mengalir kembali, tidak ingin alasan yang baru kuberikan pada Ivy menjadi sia-sia.

”C-cuma sebentar,” dustaku. Lalu, untuk mencegah Ivy bertanya lebih lanjut tentang Austin, aku balas bertanya, ”Kok lo dan Sophie bisa ada di sini?”

”Gue nggak sengaja dengar waktu Troy dapat telepon dari Austin,” kata Ivy. ”Sophie juga kebetulan lagi di rumah gue. Gue nggak bisa dengar Austin ngomong apa, tapi dari beberapa kata yang diucapin Troy, gue berkesimpulan SMA Soteria diserang geng Cebol, dan dia segera ke sana. Gue dan Sophie berencana nyusul Troy karena khawatir sama dia dan Austin. Tapi kami ketahuan Troy, bahkan sebelum kami berangkat. Karena takut kami akan tetap nyusul meski udah dilarang, dia ngajak kami sekalian. Tapi kami nggak boleh ikut masuk ke sekolah, harus tetap di mobil.”

”Dia nugasin perkutut ini untuk ngejaga kami,” tambah Sophie, menunjuk Andy yang memasang tampang protes karena disebut ”perkutut”. ”Jahat banget si perkutut, nggak mau kerja sama ngizinin kami turun dari mobil.”

”Itu kan juga bukan mau gue,” kata Andy membela diri. ”Troy sendiri yang ngelarang kalian turun dari mobil.”

”Eh, masih berani protes lagi,” geram Sophie. ”Gue bilangin sama Troy nih, tadi lo berani meluk-meluk gue.”

Andy kontan panik. ”G-gue bukannya sengaja meluk-meluk lo,” sergahnya. ”Habis lo tadi mau kabur, jadi gue kudu nangkap lo.”

”Tapi kan bisa nangkapnya biasa aja. Pakai satu tangan, misalnya. Nggak perlu sampai meluk-meluk segala,” Sophie berkeras.

”Mana bisa nangkap lo pakai satu tangan aja?” sergah Andy. ”Tenaga lo kan kayak kuli.” Mobil bergoyang hebat ketika Sophie menerkam Andy, dan Andy yang tidak bisa kabur ke mana-mana terpaksa menerima serangan cubitan Sophie di sekujur tubuhnya. Cowok malang itu terus menjerit setiap dicubit. Aku membayangkan betapa sakitnya cubitan Sophie.

”Soph, entar anak orang mati lho,” kata Ivy memperingatkan.

”Biarin aja perkutut ini mati,” tandas Sophie. ”Berani-beraninya dia bilang tenaga gue kayak kuli.”

Serangan cubitan Sophie baru berhenti ketika mendadak terdengar suara sirene, lalu beberapa mobil polisi menderu lewat di jalan. Dilihat dari arahnya, mereka menuju sekolahku.

”Ada yang nelepon polisi,” komentar Andy.

Mata Sophie langsung membesar, ketakutan. ”Troy,” gumamnya. Tanpa berlama-lama lagi, dia membuka pintu mobil dan lari keluar.

”Aduh, cewek itu!” sungut Andy, berlari menyusul Sophie yang sudah hampir seperempat jalan menuju sekolah.

Aku dan Ivy sama-sama tetap berada di mobil. Aku memang tidak memiliki pilihan selain tetap di sini, kecuali mau menyeretnyeret tubuhku di aspal. Kami sama-sama terguncang. Kalau tadi aku berharap polisi datang, kini tidak lagi.

Sebenarnya kehadiran polisi ada bagusnya. Mereka bisa menghentikan pertempuran sehingga tidak ada lagi yang harus terluka. Tapi kakakku dan teman-temanku bisa berada dalam masalah. Dan masalah yang melibatkan polisi, sama sekali tidak bagus.

Dari kaca depan mobil, aku bisa melihat Andy berhasil menangkap Sophie yang terus meronta, dengan latar belakang sirene mobil-mobil polisi yang berhenti tepat di depan sekolah. Kelap-kelip lampunya memantul di mataku dan mata Ivy.

***

Banyak yang terjadi setelah pertempuran malam itu. Polisi menangkap geng Cebol atas tuduhan perusakan, pemukulan, dan sederet tindak kejahatan lainnya yang tidak berhubungan dengan pertempuran itu. Saksi yang memberatkan adalah Mang Ujang dan orang yang melapor ke polisi. Orang itu adalah tukang ojek yang kebetulan lewat di depan sekolahku, tepat saat geng Cebol merangsek masuk. Karena penasaran, dia berhenti dan sempat melihat geng Cebol memukuli Mang Ujang. Banyaknya anggota geng Cebol membuat dia tidak berani menolong Mang Ujang. Karena tidak tahu nomor telepon polisi, dia memutuskan pergi ke kantor polisi terdekat.

Kesaksian Mang Ujang dan tukang ojek itu juga membuat status anggota geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar, berubah dari tersangka menjadi saksi. Mereka dianggap berusaha melindungi SMA Soteria dan melakukan tindak pembelaan diri.

Untunglah Austin dan Lionel tidak sampai berurusan dengan polisi. Ternyata sebelum polisi datang, Lionel sudah berhasil membawa Austin pergi dari sekolah dengan mobil Austin. Seharusnya bisa lebih cepat lagi andai Austin tidak begitu keras kepala dan tetap kukuh menolak dibawa ke rumah sakit, sampai Lionel harus menyeretnya. Austin yang babak belur begitu, tentu tidak mampu melawan.

Berbeda dengan Austin dan Lionel, Troy dan Edgar justru harus sering bolak-balik ke kantor polisi. Ivy bilang, ayahnya marah sekali pada Troy, dan sebagai hukuman, ayahnya menyuruh Troy magang di perusahaannya sebelum kuliah. Tidak ada liburan untuk Troy, dan itu membuat Sophie uring-uringan, karena kesibukan Troy membuatnya jarang bertemu cowok itu.

Sedangkan Edgar, aku tidak tahu bagaimana om dan tantenya menanggapi keterlibatan dirinya dalam kasus geng Cebol karena dia tidak pernah menjawab teleponku. Mengingat watak Edgar, mungkin dia tidak akan peduli dengan tanggapan om dan tantenya.

Omong-omong, Edgar dan murid-murid kelas dua belas sekolahku lainnya terpaksa membatalkan prom night, karena bukan hanya tempat acaranya, tapi sekolah kami juga sudah dihancurkan, dan dijadikan TKP oleh polisi. Mereka menggantinya dengan mengadakan acara perpisahan dadakan ke Bandung, seminggu setelah prom night yang dibatalkan itu.

Entah dari mana Papa tahu—kemungkinan besar dari om Edgar—hingga kasus geng Cebol sampai ke telinga Papa. Dengan ditangkapnya geng Cebol, Papa pun melaporkan penggelapan uang perusahaan yang dilakukan direktur utama Scorpio Group ke polisi. Aku bisa tahu karena menguping pembicaraan telepon Papa dengan seseorang—lagi-lagi, kemungkinan besar om Edgar. Dari pembicaraan itu aku jadi tahu Papa berencana mengungsikan mantan sopir direktur utama Scorpio Group beserta keluarganya ke tempat lain, untuk melindungi mereka dari geng Cebol, tapi belum sempat melakukannya karena geng Cebol memata-matai mereka.

Amplop bergambar kalajengking yang di dalamnya terdapat dokumen berisi daftar nama pelaku penggelapan uang dan daftar transaksi mereka, sudah menghilang dari ruang kerja Papa. Mungkin berada di tangan polisi.

Direktur utama Scorpio Group diperiksa polisi dan kasusnya menjadi begitu heboh, masuk berita-berita televisi dan mengisi berita utama surat kabar. Aku jadi tidak percaya aku pernah terlibat kasus itu.

Begitulah. Masalah Edgar dengan geng Cebol—yang melibatkan bukan hanya anggota gengnya sendiri, tapi juga geng Austin dan geng Troy—akhirnya selesai. Aku, Ivy, dan Sophie kembali aman. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊