menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 11

Mode Malam
Bab 11
SESUAI dugaanku, Lionel pergi ke acara prom night bersamaku. Sekolahnya membolehkan murid-murid mengajak orang luar sehingga aku tidak bakal diusir dari tempat acara di ballroom hotel.

Pakaian dan aksesori yang kukenakan, menurut Lionel, sesuai dengan tema prom night sekolahnya yaitu emas. Aku memang mengenakan warna serbaemas, mulai dari halter dress, stiletto, dan clutch. Kebetulan saja, bukan sengaja mengikuti tema, karena aku tidak tahu temanya. Lionel mengenakan kemeja abu-abu gelap, celana hitam, dan oxford shoes hitam. Sangat menawan, tapi tetap ada satu yang kurang: senyumnya, yang tidak pernah lagi terlihat sejak kematian omanya.

Lionel tidak berbohong. Ketika kami sampai di hotel dan naik ke ballroom, aku melihat warna emas di mana-mana: di taplak yang menutupi meja-meja panjang yang digunakan sebagai meja penerima tamu (satu dari lima penerima tamu yang semuanya cewek dan sepertinya adik kelas, memberi Lionel kartu untuk mengambil buku tahunan saat pulang nanti), di latar belakang area berfoto di dekat pintu masuk yang bermotif sulur-sulur malang melintang (kami sempat berfoto di area itu, dan si fotografer mengatakan kami terlihat kaku, sampai memaksa Lionel merangkul bahuku, dan aku mengizinkannya), dan di gapura yang menyambut kami setelah melewati pintu masuk.

Tidak hanya itu. Beberapa tirai di sisi dinding ballroom, latar belakang panggung di salah satu sisi dinding—motifnya sama seperti motif latar belakang area berfoto—taplak beberapa meja bundar yang terletak di sisi dinding beseberangan dengan panggung, dan sarung kursi yang mengelilingi meja-meja itu, semuanya berwarna emas. Aku bisa saja menjadi bunglon, menyatukan diriku dengan latar belakang emas itu, dan orang-orang tidak akan bisa melihatku.

Selama beberapa menit pertama, Lionel berbincang-bincang dengan teman-temannya, mengenalkanku pada mereka. Semua menyangka aku pacarnya, sampai kami capek sendiri menyangkalnya. Lalu tiba-tiba beberapa cewek berkasak-kusuk sambil menatap ke pintu masuk, membuatku ikut-ikutan menoleh ke sana, dan melihat sumber kasak-kusuk yaitu Troy dan Sophie yang baru datang.

Tidak heran dengan kasak-kusuk cewek-cewek itu karena Troy cowok paling populer di SMA Vilmaris. Tapi dia terlarang untuk didekati, karena selain dia memang tidak ingin berpacaran dengan cewek yang satu sekolah dengannya—meski ada dua pengecualian—ada cewek yang membuat cewek-cewek lain gentar.

Dan cewek itu bukanlah Sophie. Troy dan Sophie melihatku dan Lionel, lalu menghampiri kami. Troy mengenakan kemeja biru dongker, celana hitam, dan oxford shoes hitam; sedangkan Sophie mengenakan one-shoulder dress kuning kenari, ankle strap shoes putih, dan clutch putih.

Secara terang-terangan, Sophie memandangiku dari atas ke bawah, dan setelah dia selesai aku bisa mendengarnya mendesah kalah. Dia memang sering begitu, merasa tidak percaya diri soal penampilan kalau berhadapan denganku. Karena ada Troy di sebelahnya, dia mengeratkan pegangannya pada Troy. Troy sampai menoleh padanya dan bertanya kenapa, tapi Sophie hanya menggeleng. Sophie menolak untuk menatapku lagi setelah itu.

Untungnya Sophie lalu punya kesibukan baru dengan memberikan tatapan setajam lasernya pada cewek-cewek yang tadi berkasak-kusuk. Dia bukannya mendengar kasak-kusuk mereka, tapi memergoki mereka menatap terpesona pada Troy.

Setelah berbincang sejenak dengan Troy-Sophie, aku dan Lionel beranjak ke meja bundar di sisi kanan kami sementara Troy mengajak Sophie menghampiri beberapa temannya. LCD di kiri panggung menayangkan slide show foto para lulusan SMA Vilmaris tahun ini.

Acara prom night dibuka tepat waktu oleh MC, yang lalu mempersilakan kepala sekolah SMA Vilmaris dan wakil lulusan SMA Vilmaris tahun ini— menurut Lionel adalah murid yang lulus dengan nilai tertinggi—naik ke panggung dan memberikan sambutan. Selesai acara seremonial, MC mempersilakan para tamu menikmati hidangan yang disiapkan di meja-meja panjang di luar, di belakang area meja bundar. Antreannya sepanjang naga ketika aku dan Lionel bergabung dengan para murid yang kelaparan.

Selama para tamu makan, panggung diisi pertunjukan musik dan tari oleh murid-murid kelas sepuluh dan sebelas. Kursiku dan Lionel menghadap ke panggung sehingga menonton dengan leluasa.

Di tengah acara makan, beberapa panitia prom membagikan kertas pemilihan prom king dan prom queen kepada para tamu. Kertas itu berisi lima nama nominasi masing-masing prom king dan prom queen, yang akan dicentang sesuai pilihan pemegang kertas.

Tentu saja aku mencentang nama Troy untuk prom king. Untuk prom queen, karena tidak kenal satu pun nama yang tertulis, aku menyontek Lionel saja, dengan memilih Andrea Jovita. Kertas yang sudah kami isi dikembalikan ke panitia prom yang tadi membagikannya.

Selesai makan, aku pamit pada Lionel ke toilet. Karena dua toilet di ballroom penuh, bahkan antreannya lagi-lagi sepanjang naga, aku mencari toilet di luar.

Aku menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit di toilet, untuk pipis dan merapikan riasan. Ketika keluar, untuk kembali ke ballroom, langkahku mendadak terhenti di tengah koridor. Aku mendengar suara Troy dan suara cewek dari kananku.

Entah siapa cewek itu, aku tidak berani mengintip sebab terlalu berisiko. Aku berdiri sedekat mungkin dengan mulut koridor untuk menguping. Aku tidak terlalu menangkap pembicaraan mereka, tapi tahu mereka sedang bertengkar. Troy ingin cewek itu berhenti bergantung padanya karena sekarang dia sudah memiliki Sophie, dan cewek itu marah Troy ingkar janji. Pertengkaran ditutup dengan kata ”persetan” terlontar dari mulut cewek itu.

Luapan kemarahan cewek itu membuatku kaget sehingga aku terlambat menyadari suara langkah yang mendekat ke arahku. Aku hanya sempat mundur beberapa langkah ketika cewek itu muncul di mulut koridor. Aku berhasil melihatnya.

Sama sepertiku, cewek itu mengenakan warna emas mulai dari long dress berbelahan tinggi hingga mencapai pertengahan paha, stiletto, dan clutch. Bukan pakaian dan aksesorinya yang membuatku terpesona, melainkan dirinya.

Kata ”cantik”, ”anggun”, dan ”berkelas” yang sering digunakan orang-orang untuk menggambarkanku, lebih tepat untuk menggambarkan cewek itu. Aku yang sesama cewek saja berani mengakui cewek itu sebagai cewek tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku. Kecantikannya hampir terlihat tidak manusiawi, seolah dia malaikat atau apa. Sungguh, aku tidak akan kaget seandainya dia memiliki sepasang sayap di punggungnya.

Cewek itu memiliki wajah tirus sempurna dengan mata oval abu-abu—entah warnanya asli atau lensa kontak—hidung mancung, bibir penuh, dan tulang pipi tinggi. Rambutnya lurus panjang, hampir mencapai pinggang, dan terlihat begitu halus. Tubuhnya tinggi, dan lebih tinggi lagi karena stiletto-nya menyatu di kulit seputih pualam.

Satu kata lagi yang harus kutambahkan untuk cewek itu: sempurna.

Dengan setiap sisi wajahnya terekam baik di otakku, aku tahu siapa cewek itu.

Kiran Katrina, sang primadona SMA Vilmaris, sekaligus pacartiga-bulan Troy. Kiran adalah cewek yang sengaja dipeluk Troy di depanku ketika aku berusaha mengonfrontasinya dulu. Dia kelas sebelas, jadi bisa berada di sini lantaran menjadi pasangan seseorang. Sepertinya dia bukan panitia prom maupun pengisi acara prom.

Kiran memang hanya berpacaran tiga bulan dengan Troy, dan untuk Troy, itu rekor berpacaran terlamanya. Ada satu cewek yang menyandang status sebagai pacar-tiga-jam Troy, entah siapa namanya, tapi yang jelas dia sahabat Kiran. Dia hanya berpacaran sesingkat itu dengan Troy, karena Kiran ingin hanya dia satusatunya yang pernah berpacaran dengan Troy di SMA Vilmaris sehingga Troy terpaksa memutuskannya. Awalnya aku berpikir itu sungguh konyol, tapi setelah mengetahui Kiran tidak memiliki temperamen baik—ketidaksempurnaan dalam kesempurnaannya— tidak heran dia begitu egois kepada sahabatnya sendiri.

Ya, Kiran dan pacar-tiga-jam Troy adalah dua pengecualian yang dibuat Troy dalam berpacaran dengan cewek satu sekolah dengannya. Dan Kiran jugalah yang membuat cewek-cewek lainnya gentar mendekati Troy.

Tidak heran sih. Kiran memang menakutkan.

Troy memutuskan Kiran karena cewek itu memiliki terlalu banyak masalah. Meski sudah putus, hubungan mereka tetap dekat. Troy bergonta-ganti cewek, tapi pasti kembali ke Kiran. Sekarang mungkin dia tidak melakukannya lagi karena berniat berpacaran serius dengan Sophie.

Segala hal tentang Kiran, kuketahui dari Lionel. Saat peristiwa Troy dengan sengaja memeluk Kiran di depanku, Lionel ada di sana. Dia mengejarku sampai ke mobil ketika aku berlari pergi dengan air mata memenuhi wajah karena yang kulihat begitu menyakitkan. Dia ingin memastikan aku baik-baik saja dan menyetir mobilku hingga ke rumah. Nah, selama di mobil itulah dia menceritakan tentang Kiran, dan bahwa aku tidak perlu memukirkan hubungannya dengan Troy, meski aku tetap saja khawatir.

Kalau tadi aku sempat takut tertangkap basah Kiran, kini tidak perlu lagi karena Kiran terlalu marah untuk menyadari kehadiranku. Dia melewatiku begitu saja dengan tatapan lurus ke depan, seolah apa yang ada di kanan dan kirinya terlalu remeh untuk mendapat perhatiannya. Kakinya yang jenjang tersingkap dari balik gaun di setiap langkahnya. Kok dia masih bisa berjalan dengan anggun saat sedang marah begitu, dengan mengenakan stiletto? Maksudku, astaga, mungkin tinggi hak stiletto yang dikenakannya itu dua belas sentimeter. Tinggi hak stiletto-ku hanya lima sentimeter, dan itu saja sudah membuat jalanku mirip penguin. Kalau aku mengenakan stiletto dua belas sentimeter, bukannya berjalan, aku justru akan terguling-guling.

Aku masih memperhatikan punggung Kiran yang menjauh, sampai-sampai tidak menyadari Troy sudah berdiri di belakangku. Aku begitu kaget sampai hampir melempar clutch-ku ke muka Troy.

Bukannya heran karena aku berdiri diam di tengah koridor dekat tempatnya bertengkar dengan Kiran, Troy malah lebih tertarik dengan fakta aku sedang memperhatikan Kiran.

”Kamu masih ingat Kiran?” tanya Troy. Dia memang tahu Lionel menceritakan padaku tentang Kiran.

Aku mengangguk. Mana mungkin aku tidak mengingat cewek yang dengan sengaja dipeluk Troy di depanku, hanya satu hari setelah dia menjadi mantan pacarku? ”Dan apa kamu dengar... mmm... pembicaraan kami?” tanya Troy lagi.

Tak ada gunanya berbohong. ”Sedikit. Nggak sengaja dengar waktu lewat.” Aku tidak menambahkan bahwa sebenarnya aku sengaja berhenti untuk menguping.

Troy mendesah. ”Kiran terlalu bergantung sama aku, terutama soal keluarganya,” katanya, malah mulai bercerita meski tidak menjabarkan apa masalah keluarganya itu. ”Salahku juga sebenarnya karena bikin dia jadi begitu. Aku pengin menghentikannya karena ngerasa itu nggak baik untuk Kiran.”

”Apa Sophie tahu tentang Kiran?” tanyaku penasaran. ”Awalnya nggak,” kata Troy. ”Maksudku, dia tahu ada cewek

yang berstatus sebagai Pacar-Tiga-Bulan-ku, tapi nggak tahu lebih dari itu. Aku juga ragu untuk cerita, karena kamu tahu kan, dia pencemburu.” Sama kayak kamu, batinku. ”Tapi rasanya nggak enak kalau aku nyembunyiin tentang Kiran, apalagi aku dan Kiran masih sering ketemu. Jadi akhirnya aku cerita juga, dan yah... butuh usaha ekstra supaya Sophie nggak ketemu Kiran dan mencabik-cabiknya.”

Aku meringis. Dengan Sophie, itu sangat mungkin terjadi. Serunya film Batman vs Superman: Dawn of Justice—aku tim Superman,  omong-omong,  karena  Henry  Cavill  gantengnya kebangetan—bakal kalah dibanding Sophie Wyna vs Kiran Katrina. Aku rela mengantre paling depan untuk membeli tiketnya.

Tolong jangan katakan itu pada Henry Cavill.

Di luar Henry Cavill dan kegantengannya, aku mendadak teringat pada seseorang yang sampai sekarang kepastian identitasnya belum kuketahui, dan belum sempat kucari tahu lagi karena terbentur peristiwa perampokan Ivy dan kematian oma Lionel: cewek yang dulu Edgar lihat di mobil Troy, yang disangka selingkuhan Troy. Mungkinkah itu Kiran?

”Troy,” kataku, ”apa setelah kamu pacaran sama Sophie, kamu pernah jalan sama Kiran?”

”Pernah,” kata Troy. ”Tapi aku nggak menyebutnya sebagai ’jalan’ karena kami bukan jalan bareng. Waktu itu Kiran nelepon. Dia tahu aku sering ke 9 Balls, dan sengaja bilang dia ada di pinggir jalan dekat situ supaya aku mau nemuin dia. Dia tahu aku akan khawatir, apalagi dia juga bilang habis bertengkar dengan papanya. Aku pun nemuin dia. Kebetulan aku juga mau ketemu Edgar di 9 Balls. Aku suruh Kiran nunggu di mobil sementara aku ngomong sama Edgar. Setelah pembicaraanku dan Edgar selesai, baru aku antar Kiran pulang.”

Oke, sekarang jelas sudah, cewek yang dulu Edgar lihat di mobil Troy memang Kiran, dan dia bukan selingkuhan Troy. Sesuai dugaanku, Edgar hanya salah paham. Aku harus ingat untuk memberitahu Edgar tentang Kiran.

Setelah cerita Troy tentang Kiran selesai, dia mengajakku kembali ke ballroom. Kami berpisah di depan area meja bundar: aku menghampiri Lionel di meja kami, dan Troy menghampiri Sophie di meja mereka. Untungnya Sophie tidak melihat Troy bersamaku.

Lionel tidak bertanya kenapa aku menghabiskan waktu begitu lama hanya untuk ke toilet, mungkin karena dia tahu dua toilet di ballroom penuh. Dia sedang berbincang-bincang dengan cowok yang duduk di sebelahnya, tapi berhenti begitu aku duduk.

Pertunjukan musik dan tari masih berlangsung beberapa menit setelahnya, lalu selesai, dan yang selanjutnya adalah penayangan video kenangan para lulusan SMA Vilmaris tahun ini di LCD. Banyak lulusan cewek yang menangis saat menyaksikan video itu. Cowok yang duduk di sebelah Lionel diam-diam mengusap air matanya saat dia menyangka tidak ada yang melihat.

Tayangan video berakhir, tapi tangisan para lulusan tidak lantas berakhir. Mereka saling merangkul, ada juga yang berpelukan, tidak rela berpisah.

MC naik ke panggung dan menceriakan suasana dengan lelucon-leluconnya. Tidak ada yang benar-benar tertawa, tapi setidaknya suasananya tidak sesuram tadi. Apalagi MC meminta para tamu yang berada di area meja bundar untuk bergabung di lantai dansa depan panggung bersama para tamu lainnya yang sudah lebih dulu berada di sana. Dia juga mempersilakan kepala sekolah SMA Vilmaris dan para nominator prom king dan prom queen ke panggung untuk pengumuman pemenang.

Melihat Troy di antara para nominator prom king—begitu menonjol dan percaya diri—aku tahu pasti dia terpilih sebagai prom king. Karena aku dan Lionel berdiri dekat panggung, aku bisa melihat Sophie yang berdiri di deretan paling depan, menatap Troy dengan penuh pemujaan.

Pengumuman pun dibacakan kepala sekolah. Benar saja, untuk prom king, Troy yang terpilih. Untuk prom queen, Andrea Jovita, yang tadi kupilih karena menyontek Lionel.

Kepala sekolah memasangkan mahkota pada Andrea, yang terus-menerus tersenyum semringah. Mungkin dia tidak akan tersenyum sesemringah itu andai tahu tatapan setajam laser Sophie secara eksklusif tertuju padanya.

Prom king dan prom queen akan membuka dansa. Para tamu menyingkir dan mengosongkan bagian tengah sementara Troy dan Andrea turun panggung—tangan Andrea merangkul siku Troy. Baru saja pasangan itu menjejak lantai dansa, Sophie langsung menerjang ke arah mereka, menepis tangan Andrea dari Troy, dan menarik Troy pergi dengan paksa. Tinggal Andrea yang berdiri bengong karena tinggal sendirian.

Para tamu terkikik melihat kejadian itu. Mata mereka mengikuti Sophie yang terus menarik Troy hingga ke luar ballroom. MC dengan sigap menyuruh salah satu nominator prom king yang tidak terpilih untuk menggantikan Troy berdansa dengan Andrea sehingga gadis itu tidak perlu berlama-lama berdiri bengong.

Musik mengalun, dan setelah nominator prom king dan Andrea berdansa, pasangan-pasangan lain pun mengikuti mereka—diawasi ketat para guru, agar tidak ada yang mencari-cari kesempatan untuk berbuat macam-macam. Aku yang tadi mundur hingga ke tepi, dengan canggung mundur lagi ketika mendengar suara Lionel.

”Dance with me?” Lionel meminta sembari mengulurkan tangan padaku.

Aku tersenyum dan menerima tangan cowok itu. Dia membawaku ke tengah lantai dansa dan kami pun mulai berdansa. Tidak ada di antara kami yang bisa berdansa, jadi sebenarnya kami hanya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan mengikuti musik.

”Makasih ya, Nat,” kata Lionel di tengah-tengah dansa kami. Aku mengernyit. ”Makasih buat apa?” tanyaku bingung. ”Karena lo udah nemenin gue selama minggu yang sulit ini,”

kata Lionel. ”Gue nggak tahu bakal gimana kalau nggak ada lo. Gue juga nggak akan ada di sini kalau bukan karena lo mau pergi nemenin gue.”

Aku tersipu. ”Gue cuma mau lo kembali bahagia, Nel,” gumamku.

Lionel tersentuh kata-kataku, dan perlahan, akhirnya, senyumnya muncul. Samar, tapi itu pun sudah cukup untuk menghangatkan hatiku.

Dan begitu saja, aku pun menyadarinya.

Lionel sudah ada untukku, jauh sebelum aku ada untuknya. Salah satunya adalah ketika dia menyetir mobilku setelah peristiwa Troy yang sengaja memeluk Kiran di depanku. Katakata yang kuucapkan padanya tadi—”Gue cuma mau lo kembali bahagia.”—sebenarnya adalah kata-kata yang dulu diucapkannya sebelum dia pulang dari rumahku. Tampaknya dia tidak mengingatnya.

Selama ini Lionel berada di balik bayang-bayang Troy. Aku tidak pernah benar-benar menyadari keberadaannya, sampai aku menembus bayang-bayang itu, dan membiarkannya menghilang di belakangku. Tanpa bayang-bayang itu, kini aku bisa melihat Lionel dengan jelas—sejelas kenyataan tentang apa yang ada di dalam hatiku.

Bahwa aku sudah mulai jatuh cinta pada Lionel Orlando.

***

Sejak menyadari perasaanku pada Lionel, aku jadi sering uringuringan. Dari sekian banyak waktu yang kumiliki, kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Maksudku, kalau Lionel sampai menerima beasiswa kuliah di London—aku tidak pernah menanyakannya lagi sehingga tidak tahu perkembangannya— maka dia akan pergi. Jarak Jakarta dan London kan superjauh. Apa aku siap berhubungan jarak jauh dengannya?

Tunggu! Berhubungan jarak jauh? Apa yang kupikirkan soal jarak jauh? Aku kan belum tahu apa Lionel memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak.

Aku sudah move on dari Troy. Tapi Lionel, apa dia sudah move on dari Ivy? Atau masih ada bayang-bayang Ivy yang menutupi keberadaanku? Maukah Lionel menembus bayang-bayang itu untukku?

”’Aquarius: sedang jatuh cinta.’” Suara Ellen tiba-tiba memasuki pikiranku, mengenyahkan pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku yang belum kuketahui jawabannya. Aku berada di kantin sekolah, melamun sambil mengaduk-aduk es teh manis sementara Ellen dan Portia seru membaca majalah yang diletakkan di meja di hadapan kami. UAS sudah selesai, dan sebenarnya minggu lalu adalah minggu terakhir kami sekolah sebagai murid kelas sepuluh. Tapi minggu ini, secara bergantian, setiap beberapa kelas diwajibkan membantu murid-murid kelas dua belas mendekor lapangan basket indoor yang akan dijadikan tempat acara prom night Minggu ini. Sebenarnya kelasku dan Portia baru mendapat giliran besok, bersama kelas X-1, tapi kami tetap datang untuk menemani Ellen, yang kelasnya mendapat giliran hari ini bersama kelas X-4.

”Lo beneran sedang jatuh cinta, Nat?”

Aku nyaris menumpahkan es teh manis saat mendengar pertanyaan Ellen. Reaksiku tentu mengundang kecurigaan Ellen dan Portia. ”Beneran ya, Nat?” kejar Ellen.

”A-apaan sih?” elakku. ”Itu kan ramalan zodiak aja.” ”Tapi benar nggak ramalan zodiaknya?” kejar Ellen lagi.

Aku meminum es teh manis, menyedotnya banyak-banyak, dan nyaris tersedak karenanya. Reaksiku yang ini bukan hanya mengundang kecurigaan Ellen dan Portia, tapi sekaligus mengonfirmasinya.

”Ternyata benar, Len.” Portia berkata sambil sengaja memandang dramatis ke Ellen. ”Canggih juga ramalan zodiak nih majalah.”

”G-gue... gue nggak ” Aku ingin menyangkalnya, tapi rasanya

sulit sekali menyusun kata-kata.

”Udahlah, Nat,” kata Portia. ”Jujur aja, kenapa sih? Kami kan sahabat lo, jadi seharusnya lo cerita sama kami.”

Aku mendesah, menyadari aku harus menceritakan perasaanku pada Lionel ke Ellen dan Portia. Mungkin mereka bisa memberiku beberapa saran yang membuatku tidak uring-uringan.

”Iya deh,” kataku, ”gue emang sedang jatuh cinta.”

”Sama Lionel?” tebak Portia, tepat sasaran. Memang tidak ada cowok lain lagi yang bisa ditebaknya sih.

Aku mengangguk, dan Ellen langsung memekik. Dia tiba-tiba memelukku, tampak lebih gembira daripadaku, seolah dialah yang sedang jatuh cinta.

”Akhirnya lo bisa move on juga dari Troy, Nat,” kata Ellen, masih sambil memelukku. ”Move on-nya ke Lionel lagi. Kalau dia, gue jelas setuju deh. Emang susah ya, temenan sama cowok kayak dia tanpa jadi jatuh cinta.”

”Tapi,” cetusku, dan satu kata itu langsung membuat Ellen melepaskan pelukannya, ”gue nggak tahu apa dia punya perasaan yang sama kayak gue.”

”Pasti punya lah,” kata Ellen yakin. ”Kalian kan udah cukup dekat.”

”Dia kan suka sama Ivy, Len,” kataku mengingatkan.

”Dan Ivy udah sama Austin,” tandas Ellen. ”Serius, Nat. Ivy mah udah cerita lama buat Lionel. Apa dia pernah ngomongin soal Ivy lagi di depan lo akhir-akhir ini?”

Aku berpikir-pikir sejenak, lalu menggeleng. Nama Ivy tidak pernah lagi terucap dari mulut Lionel, tapi itu tidak membuktikan perasaannya pada Ivy sudah hilang.

”Nah, itu salah satu buktinya,” kata Ellen penuh kemenangan, bertolak belakang dengan pikiranku. ”Kalaupun dia belum move on dari Ivy, Nat, kini dia akan move on. Lo hanya harus sabar nunggu.”

”Nunggu sampai dia pulang dari London?” gumamku, nyaris tanpa sadar.

”Apa?” cetus Ellen dan Portia bersamaan, sama-sama merasa salah dengar. Aku memang belum menceritakan pada mereka tentang beasiswa London.

”Dia dapat beasiswa kuliah di London,” kataku. ”Meski belum tahu sih, dia akan menerimanya atau nggak.”

Ellen dan Portia sama-sama ternganga, meski dari ekspresi wajahnya, sepertinya Portia lebih terkejut daripada Ellen.

”Beasiswa kuliah di London?” ulang Portia. ”Itu... wow!”

Yeah, wow. Itu juga yang dulu kukatakan.

”Serius, Nat, itu keren banget,” puji Portia. ”Gue juga mau dapat beasiswa kuliah di London.”

”Empok Opor,” tegur Ellen, melihat Portia ingin mengambil ponselnya dan mencari tahu cara mendapat beasiswa kuliah di London.

Portia menoleh pada Ellen, sejenak bingung, tapi sadar setelah Ellen mengedikkan kepalanya ke arahku. ”Oh, sori,” katanya, kembali fokus padaku. ”Jadi Lionel dapat beasiswa untuk kuliah di London. Terus?”

”Terus”? Kenapa dia malah bilang ”terus”? Apa dia tidak mengerti apa yang akan terjadi kalau Lionel menerima beasiswa itu?

”Dia akan... pergi?” aku mengucapkan itu dengan nada bertanya.

”Lo nggak siap LDR-an?” tebak Portia.

”B-bukan masalah LDR-an,” sanggahku, meski tadi aku juga sempat memikirkannya. ”L-lagian, dia kan juga belum tentu punya—”

”—perasaan yang sama kayak lo, gue tahu,” sambung Portia. ”Gue udah dengar tadi. Tapi misalkan dia emang punya perasaan yang sama kayak lo dan nembak lo, lo nggak siap untuk LDRan?”

Aku menunduk. ”Gue nggak tahu,” gumamku.

”LDR-an mah bukan masalah di zaman sekarang, Nat,” kata Portia, begitu yakin seolah dia pernah berhubungan jarak jauh. ”Teknologi udah maju, lo bisa berkomunikasi sama dia saban hari, meski nggak ketemu langsung. Lagian, dia kan sekali-sekali pasti balik ke sini. Dan bokap lo kan sering ngajakin lo liburan ke luar negeri, jadi lo bisa nyamperin dia. Itu kalau kalian mau LDR-an ya.”

”Bawain gue oleh-oleh dari London, Nat,” pinta Ellen, sudah meminta oleh-oleh saja, padahal aku bahkan belum tentu akan ke sana.

”Di luar masalah LDR-an, Por, gue harus gimana sekarang?” tanyaku meminta saran, mengabaikan permintaan Ellen.

”Pastiin Lionel tahu perasaan lo sebelum dia ke London kalau emang dia menerima beasiswa itu,” kata Portia.

”G-gue harus nembak dia?” tanyaku, merasa ngeri dengan kemungkinan itu. Oke, aku tahu aku pernah meminta Troy balikan, tapi ini kan berbeda.

”Nggak harus nembak sih,” kata Portia. ”Cukup dia tahu perasaan lo aja. Kalau dia emang punya perasaan yang sama kayak lo, siapa tahu dia yang bakal nembak lo. Dan kalau kalian mau LDR-an, yah kalian LDR-an deh.”

Aku mempertimbangkan saran Portia. Tidak akan mudah bagiku membuat Lionel mengetahui perasaanku, tapi kalau sudah terdesak, mungkin aku akan melakukannya.

”Gue jadi mau baca ramalan zodiak gue,” kata Ellen tiba-tiba, mungkin karena ramalan cinta zodiakku terbukti benar. Dia kembali membaca majalahnya. ”’Leo: butuh usaha lebih keras untuk mendapatkan hati si doi.’ Astaga, emangnya usaha gue kurang keras apa lagi?!”

Ellen memang sedang naksir anggota geng Edgar, Hans. Si Hans kelas sebelas dan penerus Edgar sebagai ketua geng SMA Soteria.

”Lo tetap mau punya pacar ketua geng ya, setelah dulu gagal sama Edgar?” tuduh Portia.

”Bukan masalah dia ketua geng atau bukan, meski itu salah satu nilai plusnya sih,” kata Ellen. ”Dia kan ganteng.”

Portia memutar bola matanya. ”Alasan lo suka cowok nggak pernah benar, ya,” komentarnya. ”Yah karena ganteng lah, karena ketua geng lah.”

”Bawel ah,” sungut Ellen. ”Ini, mending lo baca ramalan zodiak lo. ’Scorpio: cobalah untuk lebih membuka hati.’ Tuh, Por, buka hati lo. Sama cowok kayaknya lo anti banget.”

Aku buru-buru merebut majalah yang sedang dibaca Ellen dan Portia. Tidak kupedulikan Ellen dan Portia yang heran karena aku jadi begitu bernafsu membaca, padahal sebelumnya aku cuek-cuek saja akan keberadaan majalah itu. Mataku menelusuri zodiak demi zodiak, sampai akhirnya berhenti pada zodiak Portia, yang tadi ramalan cintanya dibacakan Ellen: Scorpio. Bukan karena aku ingin membaca ramalannya, melainkan untuk melihat lambang zodiaknya: kalajengking.

Melihat gambar kalajengking, pikiranku melayang ke tiga hal. Pertama, ke amplop yang pernah kulihat di ruang kerja Papa saat aku membantu Austin membungkus hadiah untuk Ivy. Aku ingat benar, di sisi kiri atas amplop putih itu terdapat gambar kalajengking. 

Kedua, di nama perusahaan yang direktur utamanya pemilik dokumen yang diminta geng Cebol, yang menyuruh mereka mencari dokumen itu: Scorpio Group. Scorpio kan kalajengking, dan tidak mengherankan bila lambang perusahaan itu kalajengking.

Ketiga, dalam kata-kata tante Edgar ketika aku datang ke rumah Edgar. ”Papamu teman lama suami Tante sehingga ngundang kami ke pesta ulang tahunmu.” Nah, mungkin dokumen itu tidak ada lagi di om Edgar, karena sudah diserahkan ke Papa. Mungkin dia merasa tidak aman kalau dokumen itu tetap ada padanya sementara hal itu sudah diketahui geng Cebol. Jadi dia mencari orang yang bisa dipercayainya untuk menyimpan dokumen itu, dan orang itu adalah Papa—teman lamanya, yang kebetulan pengacara.

Ada yang harus kulakukan untuk memastikannya: mengecek amplop bergambar kalajengking di ruang kerja Papa, segera setelah aku tiba di rumah. Aku jadi gelisah, ingin cepat-cepat pulang, tapi masih harus menemani Ellen.

Saat Austin menjemputku, aku tidak mengatakan padanya soal tiga hal itu. Aku juga tidak mengatakan padanya soal orangorang yang mengawasi sekolahku.

Setibanya di rumah, aku langsung turun dari mobil Austin, bahkan sebelum Austin sempat mematikan mesinnya. Aku berlari menuju ruang kerja Papa, lalu menghampiri meja kerja. Aku sempat lemas ketika tidak melihat amplop bergambar kalajengking itu di sana, tapi oh... ternyata hanya tertumpuk beberapa map.

Tanganku gemetaran ketika memegang amplop itu. Gambar kalajengking terlihat mengilap, dan ketakutanku akan binatang itu membuat bergidik.

Setelah menarik napas dalam-dalam, perlahan aku membuka amplop itu, dan mengeluarkan dokumennya. Cukup tebal. Yang pertama tertangkap mataku adalah nama Scorpio Group. Di bawah kop surat itu terdapat sederet nama beserta sejumlah angka di sebelah masing-masing nama. Aku tidak mengerti artinya kalau sekadar membacanya begini, tapi Austin pernah bilang dokumen yang diminta geng Cebol berisi daftar nama orang yang terlibat penggelapan uang perusahaan yang dilakukan direktur utama Scorpio Group, dan daftar transaksi mereka. Jadi inilah daftar itu. Inilah dokumen yang diminta geng Cebol.

Apa yang harus kulakukan dengan dokumen ini?

Awalnya aku ingin geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar bisa secepatnya menemukan dokumen ini, tapi aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi begitu dokumen ini ditemukan. Sekarang aku harus memikirkan pilihan-pilihan yang bisa kuambil.

Pertama, menyerahkan dokumen ini pada geng Cebol. Kalau aku melakukan itu maka bukti penggelapan yang dilakukan direktur utama Scorpio Group akan menghilang. Bisa sih aku memotokopinya, tapi ayolah, mereka juga tidak akan sebodoh itu, mengira hal itu tidak mungkin terjadi. Mereka pasti menyiapkan sesuatu untuk mengantisipasi kemungkinan itu.

Kedua, menganggap aku tidak pernah menemukan dokumen ini. Aku juga tidak akan memberitahu geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar karena mungkin mereka tidak akan setuju denganku. Tapi geng Cebol bisa saja memperingatkan mereka dan akan melakukannya melalui aku—dengan menyerangku, seperti yang sudah mereka lakukan pada Ivy dan Sophie. Kalau itu tidak mempan juga, mereka akan menyerang geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar. Kemungkinan itu membuatku ngeri. Aku tidak ingin kakakku dan teman-temanku sampai terluka.

Ketiga, melapor pada polisi. Lakukan itu, dan aku secara tidak langsung akan membunuh mantan sopir direktur utama Scorpio Group beserta keluarganya.

Ya Tuhan, tidak ada satu pun pilihan yang enak. Apa aku sudah terjebak dalam tiga pilihan itu, atau mungkin masih ada pilihan lain? Saat aku sedang pusing memikirkan pilihan lain, Austin tibatiba saja muncul di ambang pintu ruang kerja Papa. Saking buru-burunya, aku membiarkan pintu itu tetap terbuka.

”Ngapain lo di ruang kerja Papa?” tanya Austin heran.

”N-nggak ngapa-ngapain,” dustaku, sembari menyembunyikan dokumen itu di belakang punggung. Dan itu adalah kesalahan, sebab Austin malah makin curiga. Dia memasuki ruang kerja Papa, mendekatiku, sementara aku bergerak mundur.

”Apa  yang  lo  sembunyiin  di  belakang  lo?”  tanya  Austin, berhasil mendesakku hingga ke dinding.

Meski tidak ada jalan keluar, aku tetap berdusta, ”B-bukan apa-apa.”

Mana mungkin Austin percaya? Jadi dia mengulurkan tangan ke belakang punggungku, dan merebut dokumen itu. Dahinya bekernyit sementara dia berusaha memproses hal yang sedang dibacanya di dokumen itu, lalu perlahan kernyitannya menghilang saat dia sadar dokumen apa itu.

Austin menatapku. ”Ini...?”

Meski Austin tidak menyelesaikan pertanyaannya, aku tahu maksudnya, maka aku mengangguk.

”Selama ini lo tahu dokumen ini ada di sini?” tuntut Austin. Untuk yang ini, aku menggeleng. ”Gue pernah ngelihat doku-

men itu, tapi baru sekarang tahu bahwa itu dokumen yang diminta geng Cebol.”

”Kenapa dokumen ini bisa ada di sini?” tanya Austin heran. ”Papa itu teman lama om Edgar,” kataku. ”Mungkin om Edgar

sendiri yang menyerahkan dokumen itu ke Papa.”

Austin mengangguk-angguk, dan setelah keheranannya mendapat penjelasan, wajahnya mendadak menjadi cerah. ”Ini bagus,” katanya. ”Kita bisa segera kasih dokumen ini ke geng Cebol.”

”Jangan!” Aku buru-buru mencegah sembari merebut kembali dokumen itu dari Austin. ”Dokumen ini mungkin satu-satunya bukti penggelapan uang yang dilakukan direktur utama Scorpio Group. Kalau kita kasih ke geng Cebol, yang pasti akan mengembalikannya ke direktur utama Scorpio Group, maka dia akan lolos begitu aja.”

”Terus apa kita harus lapor polisi?” tanya Austin.

”Kita juga nggak bisa lapor polisi, dengan nyawa mantan sopir direktur utama Scorpio Group beserta keluarganya yang menjadi taruhannya.”

”Nggak kasih ke geng Cebol, dan nggak lapor polisi...” kata Austin. ”Lantas apa yang harus kita lakukan?”

”Anggap aja kita nggak pernah menemukan dokumen ini,” kataku, sudah memutuskan untuk mengambil pilihan kedua, dengan tidak adanya pilihan lain. ”Biarkan aja dokumen ini di sini, di tempat yang aman. Nggak usah omong-omong ke anggota geng lo, geng Troy, dan geng Edgar karena mungkin mereka nggak akan setuju dengan kita. Untuk sementara, biarkan mereka terus mencari, hanya supaya geng Cebol nggak macam-macam ke mereka.”

”Mungkin mereka akan macam-macam pada lo,” kata Austin. ”Tinggal lo yang belum diserang sama mereka, Nat, dan mungkin mereka akan menggunakan lo sebagai peringatan terakhir ke kami.”

Itu sudah kupikirkan.

”Mereka nggak akan bisa melakukannya kalau ada lo jagain gue,” kataku. ”Lagian, ini kan bukan untuk selamanya, Tin. Gue yakin Papa sedang berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini, nggak akan terus mendiamkan dokumen ini di sini. Ini masalah orang dewasa, jadi biarkan orang dewasa yang menanganinya.”

Austin masih tampak tidak yakin selama beberapa saat, tapi akhirnya mendesah. ”Oke,” katanya, ”kalau menurut lo itu yang terbaik.”

Mungkin bukan yang terbaik karena tidak menawarkan penyelesaian apa pun, selain menunggu. Dan menunggu pada saat seperti ini, sama seperti menunggu bom waktu yang akan meledak. Tik, tik, tik... lalu hancurlah sudah. Semoga saja, sebelum waktunya habis, bom waktu itu bisa dijinakkan. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊