menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 10

Mode Malam
Bab 10
PEDULI amat dengan anggota geng Cebol.

Kata-kata itu lagi yang kupikirkan ketika aku berlari mening galkan ruang makan, membiarkan nasi dan sapo tahu buatan Bi Ina yang baru kumakan setengah. Aku masuk ke kamar untuk berganti pakaian serta mengambil kunci mobil. Dalam waktu singkat, aku sudah melaju menuju rumah duka, yang nama dan nomor ruangan persemayaman jenazah oma Lionel sudah diberitahukan Troy di telepon tadi.

Jenazah.

Aku tidak percaya menyandingkan kata itu dengan oma Lionel. Berita yang kudengar dari Troy begitu mengagetkan, sampai aku tidak peduli harus pergi sendirian setelah kejadian Ivy kemarin.

Terakhir aku bertemu Oma adalah ketika beliau memintaku berjanji untuk menjaga Lionel, dan tidak sempat menjenguknya lagi. Kemarin aku bertemu Ivy. Austin juga berada di rumah Ivy sampai malam. Hari ini pun Austin mengapel ke rumah Ivy se hingga tidak ada yang mengantarku ke rumah sakit.

Oh, janji itu.... Oma seakan tahu hidupnya tidak akan lama lagi sehingga memintaku berjanji. Dengan sisa hidupnya yang singkat, yang dipikirkannya hanyalah Lionel.

Ketika aku sampai di rumah duka dan masuk ke ruangan yang diberitahukan Troy, hanya ada Lionel di sana. Aku sempat berpikir ini hanya candaan Troy yang tidak lucu, membuatku datang ke rumah duka, padahal oma Lionel sudah diperbolehkan pulang dan sedang diomeli Lionel karena lagi-lagi susah makan. Begitu melihat ekspresi wajah Troy yang sedih, aku pun sadar Troy tidak bercanda. Oma Lionel memang meninggal.

Aku menghampiri Troy lalu duduk di sebelahnya. Senyum sedihnya menjadi penyambutku.

”Lionel ada di ruang belakang,” kata Troy lemah, mengedikkan kepalanya ke arah pintu di sudut kanan belakang, tanpa perlu kutanya lagi. Dari posisi dudukku saat ini, hanya terlihat koridor di balik pintu itu, yang mengarah ke ruang belakang yang disebut Troy. Kuperkirakan di ruang itu, para pegawai rumah duka se dang menyuntikkan formalin ke jenazah Oma, meriasnya, kemu dian memindahkannya ke peti mati. Aku tidak akan sanggup melihatnya, dan juga merasa... yah... tidak pantas berada di sana. Aku memilih tetap bersama Troy di sini, alih-alih menemui Lionel di sana.

Ada pintu lain yang terletak agak ke kiri pintu di sudut kanan belakang itu, dengan posisi lebih dekat denganku dan Troy. Mungkin di balik pintu itu ada kamar untuk ditempati keluarga yang menunggui jenazah. ”Kenapa Oma bisa meninggal, Troy?” tanyaku. ”Maksudku, beliau kan udah terlihat lebih baik waktu terakhir aku jenguk.” ”Kena serangan jantung lagi, Nat,” kata Troy. ”Menurut cerita Lionel, Oma baru selesai makan ketika mendadak kena serangan,

dan kali ini, nggak tertolong.”

”Lionel telepon kamu?” tanyaku lagi.

Troy menggeleng. ”Tadi aku ke rumah sakit, mau ngejenguk omanya lagi, tapi ternyata kamarnya kosong,” katanya. ”Jadi aku telepon Lionel, dan dia kasih tahu omanya baru aja mening gal.”

”Dia pasti sedih banget,” gumamku.

”Dia sama sekali nggak nangis,” kata Troy. ”Tapi bukankah itu lebih mengkhawatirkan?”

Ya, memang lebih baik kalau Lionel menangis, atau bahkan mengamuk sekalian untuk mengeluarkan emosinya, daripada menyimpannya seorang diri. Aku tidak ingin dia berpura-pura kuat. Itu hanya akan menyakiti dirinya kemudian hari.

Terdengar suara-suara dari arah koridor di balik pintu di sudut kanan belakang itu, dan beberapa detik kemudian, beberapa pegawai rumah duka muncul melewati pintu itu sambil mendo rong peti mati putih. Lionel muncul dari belakangnya, disusul ayahnya, Bi Melati, dan dua wanita setengah baya yang mungkin teman keluarga—mengingat Oma Lionel pernah bilang Lionel tidak memiliki saudara.

Lionel sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari peti mati omanya, dan karena itu, tidak menyadari kehadiranku ber sama Troy yang langsung berdiri begitu iringan jenazah muncul. Troy benar, Lionel memang tidak menangis. Aku tidak melihat matanya bengkak, kalau-kalau dia menangis diam-diam. Tapi sulit dimungkiri betapa kesedihan begitu nyata di wajahnya, seolah dia tidak akan pernah bisa bahagia lagi.

”Nel,” panggilku pelan, setelah aku dan Troy berada di dekat Lionel. Yang dipanggil sedang memperhatikan para pegawai rumah duka meluruskan posisi peti, tapi segera menoleh. Dia tidak terkejut melihatku, mungkin tahu Troy yang memberitahuku. ”Gue turut berduka ya.”

Lionel mengangguk, mengucapkan terima kasih tanpa suara. Aku mengucapkan hal yang sama pada ayahnya, yang tidak seperti Lionel, menyuarakan terima kasihnya.

Aku melihat ke dalam peti, ke arah Oma yang terbaring. Yang dikenakan kepada almarhumah adalah kebaya berwarna emas. Beliau terlihat begitu damai, seolah sedang tidur. Bersama Bi Melati yang menangis sejak tadi, aku mengucurkan air mata.

***

Aku terus datang ke rumah duka selama dua hari selanjutnya. Lionel tidak banyak bicara padaku. Dia malah lebih sering memandangi omanya sambil sesekali berbicara dengan suara pelan padanya, seolah omanya bisa mendengarnya.

Pada hari ketiga, ketika ada kebaktian penutupan peti, Troy datang bersama Ivy dan Sophie. Melihat Ivy, hatiku jadi perih, teringat oma Lionel ingin bertemu dirinya. Kini Ivy berada di sini, tapi beliau tidak bisa melihatnya.

Selama kebaktian penutupan peti, aku duduk di deretan tengah bersama Troy, Ivy, dan Sophie. Lionel yang duduk di de retan depan tampak gelisah. Mungkin karena dia tahu ini hari terakhir melihat omanya. Emosi yang selama ini disimpan Lionel, akhirnya keluar juga ketika para pegawai rumah duka mulai menutup peti. Dia mener jang ke arah peti, sampai ayahnya harus menahannya. Dari jarak yang cukup jauh, aku bisa mendengar tangisan pilu Lionel, memanggil-manggil omanya. Sampai peti sudah tertutup, suara tangisannya masih terdengar, sementara dia memeluk peti itu. Aku sendiri juga bersimbah air mata, menekap mulutku, ber usaha meredam suara tangisanku. Aku tidak ingat pernah me nangis sekencang ini sampai dadaku terasa begitu perih. Aku tidak sanggup lagi berada di sini mendengar tangis Lionel. Jadi aku segera berdiri, melewati Ivy yang duduk di sebelahku, lalu Sophie,  setelah  itu  Troy  yang  duduk  paling  pinggir.  Mereka mengangkat wajah selama aku lewat, mungkin awalnya heran karena aku tiba-tiba pergi, tapi lalu mengerti begitu melihat air

mataku.

Aku berlari keluar ruangan, ke arah pelataran parkir, dan berhenti di dekat salah satu dari beberapa pohon mahoni. Udara malam menerjang kulit, membuatku sedikit tenang. Aku masih menangis meski tidak sekencang tadi.

Lionel. Betapa sebenarnya aku ingin berada di sisinya saat

ini, memeluk dan menenangkannya. Aku ingin dia tahu dirinya tidak sendiri, dan aku akan ada kapan pun dia membutuhkanku. Ini bukan karena aku sudah berjanji pada Oma untuk menjaganya, tapi aku memang murni ingin melakukannya.

Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Troy. Aku buru-buru menghapus air mata, meski sebenarnya dia sudah melihatnya dari tadi.

”Are you okay?” tanya Troy. Dia sudah tahu jawabannya, meng ingat sisa-sisa air mata masih ada di wajahku. ”I’m not,” akuku. ”But I will, eventually.”

Troy tersenyum mengerti. ”Sedih ya ngelihat Lionel kayak gitu,” katanya. ”Selama ini Lionel selalu cenderung kalem. Nga getin juga dia sampai lepas kendali kayak gitu.”

Kalau Troy yang notabene sudah menjadi sahabat Lionel selama bertahun-tahun saja masih kaget, apalagi aku. Aku me mang lega Lionel mengeluarkan emosinya, hanya saja itu mem buatku kaget, meski bukan berarti aku tidak memprediksinya.

Sekalipun Troy sudah beberapa menit bersamaku, tahu-tahu aku tersentak menyadari kami hanya berdua—mengabaikan orang-orang  lain  di  pelataran  parkir  ini.  Maksudku,  dia  kan datang bersama Sophie—mengabaikan Ivy juga—jadi seharusnya Sophie tidak membiarkannya hanya berdua bersamaku. Mataku pun secara otomatis mencari-cari Sophie, dan itu tidak luput dari pengamatan Troy.

”Nyari Sophie, ya?” tebak Troy.

Tersipu, aku mengangguk. ”Nanti dia marah kalau ngelihat kamu sama aku.”

”Nggak akan,” kata Troy menenangkan. ”Ini udah seizin dia kok.”

Aku menarik napas lega. Tumben Sophie mengizinkan Troy bersamaku, mungkin dia tahu kami hanya akan membicarakan Lionel.

”Apa oma Lionel juga minta kamu menjaga Lionel, Nat?” tanya Troy.

Aku mengangguk. ”Waktu terakhir aku ngejenguknya.” ”Sama, aku juga,” kata Troy. ”Waktu itu aku punya firasat nggak

enak, tapi kuabaikan. Nggak nyangka, malah kejadian betulan. Aku udah nyanggupin permintaan beliau, karena bagaimanapun, Lionel kan sahabatku.”

”Kalau aku, awalnya sempat ragu,” kataku. ”Aku ngerasa aku bukan orang yang tepat untuk jaga Lionel, dan omanya minta aku jaga dia karena beliau nyangka aku pacarnya.”

”Nah, itu yang sempat bikin aku bingung,” kata Troy. ”Oma sering nyebut-nyebut kamu, muji-muji kamu, bilang Lionel ber untung punya pacar kayak kamu. Aku jelas bingung, dan sempat nyangka kamu dan Lionel diam-diam udah pacaran. Aku tanya ke Lionel, dan ternyata omanya bisa nyangka kamu pacarnya hanya karena Lionel pernah ngajak kamu ke rumahnya. Lionel bilang kamu udah nyuruh dia klarifikasi bahwa kamu bukan pacarnya, tapi dia belum melakukannya karena nggak tega sama omanya yang suka banget sama kamu.”

Ya, aku dan Lionel sama-sama tidak tega pada omanya. ”Kita harus sama-sama jaga Lionel ya, Nat,” kata Troy. ”Dia

lagi ngebutuhin kita, lebih daripada biasanya.”

Aku mengangguk dan hendak menanggapinya ketika ter dengar suara berkerisik dari arah pohon mahoni. Sementara aku kebingungan—dan sempat ketakutan juga karena menyangka yang membuat suara itu adalah hantu—Troy justru menggeleng geleng.

”Miss Wyna,” kata Troy, berbicara ke arah pohon mahoni. ”Keluarlah. Aku tahu kamu di sana.”

Suara berkerisik lagi. Lalu... Sophie muncul dari balik pohon. Bukannya malu karena ketahuan, dia justru memasang ekspresi sombong dengan dagu diangkat tinggi-tinggi.

”Kamu ngapain nguping sih, Soph?” tuntut Troy.” Aku kan udah bilang aku cuma bicara sebentar sama Natasha.” ”Aku  nggak  nguping  kok,”  bantah  Sophie,  jelas-jelas  ber bohong. ”Aku cuma lagi nyari udara segar.”

”Dengan ngumpet di balik pohon?” ”Sengaja, biar dapat banyak oksigen.”

”Nilai biologiku nggak bagus-bagus amat,” kata Troy. ”Tapi bukannya kalau malam tumbuhan justru ngeluarin karbon dioksi da dan bukannya oksigen?”

Sophie sempat tercenung, lalu setelah menyadari kesalahan nya, memberikan tatapan bengis pada pohon mahoni itu, seolah marah karena pohon itu tidak bekerja sama dengannya dalam membuat alasan.

Karena sudah selesai berbicara denganku, Troy pamit dan menghampiri Sophie. Dia sempat mengacak-acak rambut Sophie, sebelum berbalik dan merangkulnya sambil berjalan kembali ke ruang persemayaman.

Aneh. Aku melihat kemesraan Troy dan Sophie, tapi rasanya biasa saja. Tidak ada rasa perih yang biasanya menghinggapi hatiku setiap melihat kemesraan mereka. Aku sampai mengorek ngorek hatiku, karena siapa tahu rasa perih itu tersembunyi di balik rasa sedih akibat kematian Oma, ternyata tetap tidak ada apa-apa. Mereka layaknya pasangan lain saja, tidak menimbulkan efek apa pun padaku. Bagus, kan? Aku sudah bisa sepenuhnya move on dari Troy.

Aku sedang membiasakan diri dengan hatiku yang bebas Troy. Butuh beberapa menit untuk kembali ke ruang persemayam an.

Kebaktian penutupan peti selesai dan beberapa pelayat su dah pulang. Troy, Ivy, dan Sophie berada di dekat peti, berbicara dengan ayah Lionel, mungkin ingin pamit. Aku tidak melihat Lionel di mana pun sehingga menghampiri mereka dan mencolek bahu Ivy yang berdiri paling belakang.

”Lionel mana, Vy?” tanyaku ketika Ivy sudah menoleh. ”Di kamar,” jawab Ivy. ”Baru aja dia masuk.”

Aku segera beranjak ke kamar yang dimaksud Ivy dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Khawatir, aku membuka pintu perlahan. Lionel duduk di ranjang single-size, menghadap meja di seberangnya. Tidak ada apa pun lagi di kamar itu.

Lionel sudah tidak menangis, tapi wajahnya hampa. Dia tidak menyadari ketika aku masuk, pun ketika aku duduk di sebelahnya. Mungkin itu sebabnya dia sampai terlonjak sedikit ketika aku memanggilnya.

”Nggak apa-apa kan gue di sini?” tanyaku meminta izin. Lionel mengangguk, dan ketika berbicara, hal yang dikata-

kannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan keberadaanku di kamar ini. ”Sori ya tadi lo mesti ngelihat gue kayak gitu,” kata nya. ”Gue nggak percaya nggak bisa ngelihat Oma lagi. Hampir setiap hari selama hidup, gue ngelihat beliau. Nggak ada lagi yang akan nungguin gue dan nyambut gue setiap kali gue pulang. Rumah gue kosong sekarang, dan pulang jadi terasa menyakitkan. Baru tiga hari, Nat, tapi gue udah begitu merindukan Oma. Gue akan melakukan apa pun—apa pun!—asal beliau bisa hidup dan gue bisa ngelihat beliau lagi.”

”Beliau tetap hidup di dalam hati lo, Nel,” kataku.

Lionel mendesah, setuju dengan kata-kataku, tapi juga merasa berat untuk menerima fakta Oma hanya hidup di hatinya. Butuh waktu untuk membiasakan diri dengan hal itu.

”Lo pernah dua kali nanya soal kuliah gue, kan?” kata Lionel begitu saja mengganti topik. ”Selama ini gue menghindar menjawab karena belum siap. Sekarang gue kasih tahu lo bahwa gue dapat beasiswa kuliah di London.”

Aku terbelalak, meski sebenarnya itu tidak terlalu menge jutkan, mengingat cowok itu pintar. Aku tahu soal beasiswa itu, tapi tidak tahu tempatnya di London, dan itulah yang membuatku sedikit terkejut. Maksudku, London! Wow!

”Nggak ada yang tahu soal itu, kecuali keluarga gue,” kata Lionel. ”Bahkan Troy pun nggak tahu karena gue nggak pernah kasih tahu. Cuma lo yang sekarang gue kasih tahu. Gue ragu menerima beasiswa itu karena nggak mau ninggalin Oma. Bokap gue selalu sibuk dengan kerjaannya, jadi kalau gue menerima beasiswa itu, berarti Oma di rumah sama Bi Melati aja. Oma tahu kenapa gue ragu, dan karena itu, beliau terus bujuk gue untuk menerima beasiswa itu. Gue nggak juga terbujuk, bahkan sampai beliau di rumah sakit. Entah bagaimana, gue ngerasa Oma sengaja menyerah dengan sakitnya supaya nggak ada lagi yang bikin gue ragu menerima beasiswa itu.”

”Lionel!” kataku, sedikit membentak. ”Jangan berpikir kayak gitu. Oma meninggal karena emang udah waktunya. Jangan dihubungkan sama beasiswa lo segala.” Lalu, ”Oke, gue akan jujur sama lo. Soal beasiswa itu, sebenarnya gue udah tahu dari Oma pas di rumah sakit. Oma minta gue bujuk lo supaya mene rimanya. Nah, kalau beliau sampai meminta gue begitu, berarti beliau emang benar-benar pengin lo ambil kesempatan itu. Jadi daripada berpikir yang bukan-bukan, lebih baik lo melakukan seperti apa yang Oma inginkan. Terima beasiswa itu, Nel, karena lo emang pantas mendapatkannya.”

”Meski Oma udah nggak ada, gue tetap ragu menerima beasiswa itu, Nat,” kata Lionel. ”Gue nggak tahu apa itu emang yang terbaik buat gue. Gue nggak tahu apa pun. Gue nggak tahu. ”

Lionel terlihat begitu sedih, begitu bingung, begitu hilang arah. Aku memberanikan diri mewujudkan hal yang ingin kula kukan sejak tadi: memeluknya. Tubuhnya sempat menegang sedikit—mungkin terkejut—lalu perlahan-lahan rileks. Dia bahkan menyandarkan kepalanya di atas kepalaku, dan selama beberapa saat, kami hanya diam seperti itu.

***

Selama berminggu-minggu setelahnya, aku hampir tidak pernah absen menemui Lionel. Aku berkunjung ke rumahnya, memasak kannya berbagai makanan, dan memastikan dia makan. Bi Melati bilang, kalau tidak disuruh, Lionel tidak mau makan.

Seiring dengan berlalunya hari, kesedihan Lionel sedikit demi sedikit menghilang, tapi tidak punah sama sekali. Terkadang, aku memergoki ia berada di kamar Oma, hanya duduk dan me mandang ke sekitarnya, seolah berharap Oma tiba-tiba muncul. Pemandangan itu begitu menyedihkan, sampai aku masuk ke kamar mandi, mengunci diriku dan menangis beberapa menit.

Bukan hanya aku yang suka mengunjungi Lionel, Troy juga. Kami berdua sama-sama sedang menepati janji pada Oma untuk menjaga cucunya.

Pada salah satu kunjunganku, tepat pada hari pengumuman kelulusan SMA—Austin, Lionel, Troy, dan Edgar semuanya lulus; syukurlah—kebetulan Troy juga mengunjungi Lionel sehingga kami bertiga menghabiskan waktu bersama-sama di ruang keluarga. Lionel tampak terhibur dengan kebersamaan kami, membuatku berpikir kami harus lebih sering melakukannya.

Dengan lulusnya Austin, Lionel, Troy, dan Edgar; berarti posisi mereka sebagai anggota geng—khususnya ketua dan wakil ketua—di sekolah masing-masing sudah berakhir, diteruskan murid lain. Kupikir akan ada acara serah-terima resmi, ternyata tidak, dan malah berakhir begitu saja.

Rambut Austin sudah kembali hitam, omong-omong.

Lionel dan Troy sedang membicarakan soal penerus mereka sebagai ketua dan wakil ketua geng SMA Vilmaris—Troy yang lebih banyak berbicara, sementara aku hanya mendengarkan, ketika tiba-tiba saja Troy beralih membicarakan prom night yang diadakan beberapa hari lagi.

”Jadi, Nel, lo udah tahu mau pergi sama siapa ke prom?” tanya Troy.

”Gue nggak tahu apa gue akan pergi,” kata Lionel. ”Kenapa?” tanya Troy, seolah tidak tahu apa yang sedang

terjadi pada Lionel. ”Gara-gara nggak ada pasangan?”

Lionel menggeleng serius menanggapi Troy, meski tahu Troy hanya asal menebak. ”Nggak mood, tepatnya.”

”Mungkin lo nggak akan ketemu lagi sama beberapa teman kita,” kata Troy.

”Gue udah siap dengan risiko itu,” tegas Lionel.

Ini tidak benar. Kalau Oma masih hidup, Lionel pasti tidak akan melewatkan acara prom night. Lagi pula, bertemu teman temannya di acara prom night akan membantu Lionel kembali pada dirinya yang biasa, dirinya sebelum kematian omanya. Dia tidak boleh terus-menerus mengurung diri di rumah dan ber muram durja. ”Lo harus pergi ke prom,” kataku pada Lionel. Tanpa sempat berpikir lagi, aku menambahkan, ”Gue akan jadi pasangan lo.”

Lionel dan Troy sama-sama tercengang mendengarnya, membuatku kontan menjadi malu sendiri. Apa-apaan sih aku, malah menawarkan diri menjadi pasangan Lionel, dan bukannya menunggu dia mengajakku?! Itu juga kalau dia mau mengajakku sih, meski aku tidak tahu apa sekolahnya memperbolehkan muridnya mengajak orang luar. Eh, sepertinya boleh, kalau dilihat dari kata-kata Troy selanjutnya pada Lionel.

”Tuh, Nel,” kata Troy. ”Natasha mau jadi pasangan lo ke prom.

Masa lo nggak mau pergi?”

Lionel masih menatapku. Telanjur menawarkan diri menjadi pasangannya, aku memasang wajah penuh harap, supaya dia mau pergi ke acara prom night sekolahnya bersamaku.

”Akan gue pikirin lagi...” kata Lionel.

”Akan gue pikirin lagi”-nya Lionel terdengar bernada positif, dan itu pertanda bagus. Diam-diam aku dan Troy bertukar se nyum.

***

Kesibukanku dengan Lionel membuatku nyaris tidak pernah memikirkan soal geng Cebol lagi. Austin memang masih meng antar-jemputku ke sekolah. Tapi kalau ke rumah Lionel biasanya aku sendirian. Austin dan Lionel pernah menegurku soal itu, tapi aku sudah kembali membandel.

Ketika pulang sekolah dan melihat beberapa preman meng awasi sekolahku, aku langsung teringat geng Cebol lagi. Austin tampaknya tidak menyadari kehadiran mereka ketika menjem putku, dan karena tidak ingin dia tiba-tiba nekat mengonfrontasi mereka, aku tidak menyebut-nyebutnya.

Sampai malam harinya, ketika kami bersantai di ruang ke luarga, sambil menonton film Wanted, aku mengajaknya ber bincang.

”Gimana perkembangan masalah Edgar sama geng Cebol?” tanyaku membuka obrolan. ”Apa dokumen yang diminta geng Cebol udah ketemu?”

Austin mengalihkan pandangan dari Angelina Jolie di televisi padaku dan balik bertanya dengan curiga, ”Kenapa tiba-tiba lo nanya soal itu?”

”Cuma penasaran,” kataku. ”Kalian kan udah bukan anggota geng lagi, jadi mungkin kalian udah lepas tangan soal itu.”

”Mana mungkin kami lepas tangan?!” sergah Austin sedikit tersinggung. ”Kami kan nggak mungkin melimpahkan tugas itu ke anggota geng yang baru sementara mereka nggak tahu apa apa. Ketua dan wakil ketua yang baru mungkin tahu karena udah jadi anggota geng sejak kelas sebelas, tapi yang lainnya kan belum tahu.”

”Terus dokumennya...?” kejarku.

”Dokumennya belum ketemu,” jawab Austin, tidak curiga. ”Tapi kami udah tahu itu dokumen apa. Dari beberapa detail yang diingat Edgar, kami tahu itu milik Scorpio Group, peru sahaan properti. Kami pun nyari tahu hal-hal yang bisa meng hubungkan om Edgar dengan perusahaan itu, dan ini makan waktu lama.

”Waktu anggota geng gue mau nyelidikin beberapa orang Scorpio Group yang diantar sopirnya ke sana, sopirnya bilang temannya dulu juga pernah kerja sebagai sopir direktur utama perusahaan itu, lalu berhenti tiba-tiba. Ngerasa teman sopirnya itu mungkin tahu sesuatu soal dokumen itu, anggotaku minta alamatnya, lalu mendatanginya. Mau tahu kejutannya? Ternyata mantan sopir direktur utama Scorpio Group itu pernah jadi sopir om Edgar. Dialah yang menghubungkan om Edgar dengan Scorpio Group.”

”Menghubungkan gimana sih maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.

”Jadi begini...” kata Austin, yang tumben sabar menjelaskan. ”Dokumen yang diminta geng Cebol, secara lebih spesifiknya, menurut mantan sopir direktur utama Scorpio Group itu, adalah milik majikannya. Dia penasaran akan isinya karena majikannya menjaga dokumen itu baik-baik. Majikannya juga sering melaku kan telepon misterius sehubungan dengan dokumen itu. Waktu dokumen itu nggak sengaja tertinggal di mobil, si sopir nggak bisa lagi menahan penasarannya sehingga membaca dokumen itu. Menghubungkan isi dokumen itu dengan pembicaraan pembicaraan di telepon yang didengarnya, dia tahu majikannya menggelapkan uang perusahaan. Rupanya isi dokumen itu ada lah daftar nama orang yang terlibat penggelapan uang peru sahaan dan daftar transaksi mereka. Kalau isi dokumen itu sampai terbongkar... wah... Scorpio Group bisa dalam masalah. ”Sopir itu terlalu takut untuk lapor polisi, dan karena nggak tahu siapa di Scorpio Group yang bisa dipercayai, dia membawa dokumen itu ke mantan majikannya, om Edgar. Mungkin dia pengin sesama orang berkuasa yang mengurus soal itu, karena om Edgar punya jabatan di perusahaannya sendiri. Sopir itu akhirnya berhenti dan kabur. Tentu direktur utama Scorpio Group akhirnya tahu sopirnya yang membawa kabur dokumen itu sehingga dia bergegas membayar geng Cebol untuk men carinya. Geng Cebol menyiksa sopir itu sampai dia buka mulut bahwa dokumen itu ada di om Edgar. Si Om nggak lapor polisi karena geng Cebol mengancam akan membunuh sopir itu beser ta keluarganya kalau dia melakukannya. Tapi Om juga nggak mau kalah, dan berbalik mengancam lapor polisi kalau mereka berani macam-macam pada sopir itu beserta keluarganya. Bisa dibilang, kedudukan mereka seimbang.

”Nah, waktu geng Cebol lagi mencari dokumen itu, Edgar juga meminta bantuan mereka untuk melawan geng Troy. Tahu Edgar keponakan orang yang memegang dokumen itu, mereka langsung meminta dokumen itu sama dia. Seperti yang lo tahu, dokumen itu menghilang, dan sekarang kami yang kebingungan mencari nya.”

”Kalau udah begini, apa nggak sebaiknya langsung nanya sama om Edgar?” usulku.

”Edgar udah melakukannya, akhirnya,” kata Austin. ”Nggak secara langsung sih. Dia cuma bilang pernah lihat dokumen itu dan kepingin tahu dokumen itu ada di mana. Tapi omnya nggak mau ngasih tahu, justru mencegah dia ikut campur dalam masa lahnya.”

”Jadi kalian menghadapi jalan buntu?” tanyaku.

Austin mengangkat bahu. ”Gue sih belum nyerah,” katanya. ”Kami harus nyelidikin om Edgar lebih dalam lagi.” Lalu dia kembali menoleh ke televisi dan mengernyit. ”Kok tiba-tiba filmnya udah nyampe sini aja sih?”

Mengabaikan Austin yang bersungut-sungut karena terlewat beberapa adegan, aku bertanya-tanya dalam hati. Apa mungkin geng Cebol mengira geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar sudah menghadapi jalan buntu dan karena itu kembali meng ambil tindakan sendiri, yang dimulai dengan mengawasi seko lahku? Tapi untuk apa mereka melakukan itu? Maksudku, apa hubungannya antara dokumen yang sedang mereka cari dengan sekolahku?

Percuma juga aku bertanya-tanya begitu karena belum tentu orang-orang yang tadi kulihat adalah anggota geng Cebol. Aku harus berpikir positif dengan menganggap orang-orang itu tertarik pada sekolahku untuk tujuan baik. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊