menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 09

Mode Malam
Bab 09
”TROY selingkuh dari Sophie.”

Betapa kagetnya aku ketika baru keluar dari toilet wanita, mendapati Edgar berdiri bersandar di tembok di sebelah toilet, menyampaikan berita itu. Terakhir aku melihat dia dalam kondisi babak belur, kini terlihat jauh lebih baik. Hanya ada sedikit sisa memar yang tampaknya akan segera hilang.

Tadinya aku berusaha menyegarkan otak dengan izin ke toilet saat pelajaran matematika, jadi aku bisa sejenak melupakan soal-soal matematika yang sedang kukerjakan, yang membuat otakku butek—sebutek otak para murid yang mau UN kemarin— dengan berjalan-jalan di koridor sekolah dan mencuci muka di toilet. Edgar malah semakin membutekkan otakku dengan infor masi yang tidak ada hubungannya dengan matematika.

Selesai UN, anak-anak kelas dua belas datang ke sekolah untuk bersantai-santai saja karena sudah tidak ada pelajaran. Paling-paling jam pelajaran mereka diisi class meeting. Mem buatku iri. Aku rela bertukar tempat dengan salah satu dari mereka, kalau saja ada yang mau menggantikanku mengerjakan matematika.

Edgar yang kebetulan berada di luar kelas dan melihat aku masuk toilet wanita, dengan sengaja menungguku di depannya agar bisa menyampaikan berita itu. Bagiku berita itu ngaco karena aku tidak percaya Troy berselingkuh dari Sophie. Dia sangat menyukai Sophie, aku bisa melihatnya. Dan demi Ivy, adiknya yang adalah sahabat Sophie, dia tidak akan mencoba bermain api.

Oke, aku tahu Troy playboy. Tapi itu dulu. Pada saat itu pun, dia tidak pernah memacari lebih dari satu cewek secara ber samaan. Kalaupun ada cewek lain yang memikat, dia akan memu tuskan cewek yang sedang dipacarinya terlebih dahulu. Sifatnya itu membuatku yakin dia tidak berselingkuh dari Sophie.

”Kok lo bisa mengira Troy selingkuh dari Sophie?” tanyaku. ”Gue bukan mengira,” bantah Edgar. ”Gue melihat.”

”Apa tepatnya yang lo lihat?” tanyaku lagi.

”Tadi malam gue dan Troy ketemu di 9 Balls buat ngomongin kemajuan pencarian dokumen yang diminta geng Cebol,” tutur Edgar. ”Kami nggak masuk, cuma ngomong di depannya. Mobil nya diparkir dekat gue, dan mesinnya dalam keadaan nyala. Gue nggak merhatiin waktu dia datang. Tapi waktu dia pulang dan pintu mobilnya terbuka, sekilas gue lihat ada cewek di jok pe numpang depan. Jelas bukan Sophie karena rambutnya pan jang.”

Ya ampun, hanya karena Edgar melihat ada cewek di mobil Troy, dia lantas menuduh Troy berselingkuh dari Sophie? ”Mungkin cewek itu temannya,” tebakku. ”Atau bahkan mung kin Ivy.”

”Entah dengan temannya, tapi yang jelas bukan Avi,” tukas Edgar yakin. ”Rambut cewek itu lebih panjang dari rambut Avi.”

Berusaha menahan diriku untuk mengoreksi ”Avi” menjadi ”Ivy”, aku berkata, ”Lo kan baru ketemu Avi, eh, Ivy, sebentar, jadi mungkin lo salah mengira panjang rambutnya.”

”Ini bukan tentang rambut!” sentak Edgar. ”Ini tentang Troy yang seenaknya jalan sama cewek lain, nggak peduli meski cewek itu temannya sekalipun, sementara dia udah punya So phie. Dan Sophie, astaga, dia mungkin nggak tahu apa-apa ten tang ini.”

”Dia akan tetap nggak tahu apa-apa sampai kita tahu kebenar annya,” kataku, berjaga-jaga seandainya Edgar berniat buka mulut pada Sophie. ”Serius, Edgar, ini bukan urusan kita. Jadi lebih baik, kita biarin aja—”

”Kita biarin aja Sophie dipermainkan cowok brengsek itu?” sambung Edgar seenaknya, padahal bukan itu yang ingin kuucap kan.

Kebencian Edgar pada Troy mendorongnya memikirkan ke mungkinan terburuk yang berkaitan dengan Troy dan cewek di mobilnya itu, serta tidak memikirkan kemungkinan lainnya. Mak sudku, masih ada berjuta kemungkinan tentang identitas cewek itu, kan? Meski bagaimana cewek itu bisa berada di mobil Troy, aku tidak tahu.

Tiba-tiba saja, saat aku sibuk memikirkan kemungkinan iden titas cewek itu, Edgar meninju tembok di dekatny. Aku terlonjak kaget. Aku sampai bisa mendengar suara tulang-tulangnya berderak, lalu seperti patah berserakan....

Oke, tidak sedramatis itu sih.

Aku hanya membayangkan mendengar suara tulang-tulang Edgar berderak karena dia memang meninju tembok sekencang itu. Kulit di pangkal-pangkal jarinya sampai terkelupas, mengeluar kan darah. Aku ngilu sendiri, mengusap-usap pangkal-pangkal jariku seolah jarikulah yang berdarah.

Edgar tampaknya tidak sadar, atau tidak peduli, dengan keadaan pangkal-pangkal jarinya. Aku pun yang berinisiatif memeriksanya. Baru aku menyentuh tangannya sedikit, dia menepis. Sungguh, saking kerasnya tepisan Edgar, kupikir aku akan terbang.

”Gue udah menduga,” desis Edgar, ”cowok brengsek itu nggak pantas untuk Sophie. Sophie berhak mendapatkan yang lebih baik, jauh lebih baik dari dia.”

Sebenarnya aku ingin nyeletuk, ”Maksud lo yang lebih baik itu lo?” Tapi bisa-bisa aku akan benar-benar terbang, bukan lagi karena tepisan Edgar, melainkan karena tinjuannya.

”Gue emang bego,” lanjut Edgar. ”Kalau gue benar-benar suka Sophie, seharusnya gue nggak menyerah semudah itu. Gue justru harus memperjuangkannya. Ya, kan?”

Aku jadi serbasalah. Kalau aku jawab ”ya”, berarti aku men dukung Edgar untuk memperjuangkan Sophie, padahal itu salah, karena Sophie pacar Troy. Tapi kalau aku jawab ”tidak”... yah...

aku tidak perlu menyebut-nyebut soal terbang lagi, kan? Jadi untuk amannya, aku diam saja, dan tampaknya Edgar juga tidak membutuhkan jawabanku.

”Itulah yang akan gue lakukan,” putus Edgar. ”Gue akan mem perjuangkan Sophie dan akan memulainya dengan merebutnya dari Troy.”

Aku tersentak. ”Edgar,” kataku, memperingatkannya. ”Jangan khawatir,” kata Edgar santai, dan aku seakan bisa

membayangkan dia mengatakan hal yang sama jika dunia akan kiamat, misalnya ”Besok dunia akan kiamat, tapi jangan kha watir.”

”Gue nggak akan melakukannya sekarang—nggak selama gue masih tercatat sebagai murid SMA Soteria dan Troy sebagai murid SMA Vilmaris. Gue nggak mau masalah pribadi kami akan melibatkan geng kami, kayak yang terjadi sama geng dia dan geng Austin dulu. Gue akan bersabar dan nunggu sampai kami lulus.”

Astaga, jadi Edgar serius? Dia benar-benar akan merebut Sophie dari Troy? Lantas kenapa dia mengatakannya padaku? Apa dia tidak takut aku akan mengadukannya pada Troy?

Yah, tentu saja, Edgar tidak takut.

Aduh, mati, mati, mati! Aku harus bagaimana? Masa aku ber pangku tangan saja sementara sudah mendengar rencana jahat Edgar? Cinta Sophie mungkin hanya untuk Troy seorang, tapi kalau dia sampai mendengar soal cewek di mobil Troy itu dari Edgar, bukan tidak mungkin dia akan berpaling juga, kan? Aku memiliki kesempatan untuk menyelamatkan hubungan Troy dan Sophie tapi malah tidak melakukannya.

Cewek di mobil Troy itu...

Yang menjadi penentu adalah cewek di mobil Troy. Kalau cewek itu bukan selingkuhan Troy, maka Edgar tidak akan bisa menggunakannya untuk memengaruhi Sophie. Aku harus men cari tahu identitas cewek itu secepat mungkin. Bagaimana caranya? Aku kan tidak bisa menanyakannya lang sung pada Troy, apalagi pada Sophie. Kalau Lionel, mungkin dia tahu, tapi aku tidak ingin mengganggunya dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan omanya.

Berarti... yang tersisa tinggal Ivy.

Meski tadi aku sudah mengatakan pada Edgar bahwa apa pun yang terjadi dalam hubungan Troy dan Sophie bukan urusan kami, aku sendiri malah menceburkan diri dengan mengajak Ivy bertemu. Kebetulan hari ini Ivy tidak ada acara karena Austin sedang berkumpul dengan anggota gengnya, jadi dia pun mengiakan ajakanku.

”Jangan ajak Sophie ya,” pintaku pada Ivy. Kalaupun dia penasaran  kenapa  tidak  boleh  mengajak  Sophie,  dia  tidak bertanya.

Masih sehubungan dengan kami yang tidak boleh ke mana mana sendirian, aku menjemput Ivy ke rumahnya dan bukannya bertemu di suatu tempat. Kalau aku berdua dengan Ivy, meski kami sama-sama cewek, tidak bisa dibilang sendirian, kan?

Kami memutuskan ke Crystal Coffee lagi, dan kami lagi-lagi duduk di salah satu dari delapan meja di kanan, hanya berbeda satu meja dari meja yang dulu kami tempati bersama Troy dan Sophie. Aku memesan ice blended strawberry dan Ivy memesan iced caramel macchiato.

”Jadi, Vy,” mulaiku. ”Gue mau nanya sesuatu tentang Troy.”

Mata Ivy membesar. ”Troy?” ulangnya, seolah aneh aku mengajaknya bertemu karena Troy.

Aku mengangguk. ”Tadi malam lo pergi sama dia?” tanyaku, memastikan cewek di mobil Troy itu Ivy atau bukan, karena mungkin saja Edgar salah. ”Gue nyaris seharian nggak ketemu dia kemarin,” kata Ivy. ”Dari pagi dia nggak di rumah: ke sekolah sebentar buat setor muka karena udah nggak ngapa-ngapain, terus siangnya jenguk oma Lionel di rumah sakit tapi nggak ngajak-ngajak gue, padahal gue pengin ikut, terus sorenya nge-gym, dan malamnya ketemuan Edgar.”

Nah, Ivy mengungkit soal pertemuan Troy dengan Edgar. ”Dia ketemu Edgar sama siapa?” selidikku.

”Kayaknya sendirian,” kata Ivy. ”Biasanya dia ngurusin masalah geng sama Lionel, tapi Lionel kan lagi jaga omanya.”

”Apa nggak mungkin dia ketemu Edgar ditemani anggota geng nya yang lain?” tanyaku. ”Atau sama teman ceweknya, mung kin?”

Ivy mendengus. ”Dia bisa dibunuh Sophie kalau sampai berani ketemu Edgar pakai bawa teman cewek segala,” katanya. ”Sejak pacaran  sama  Sophie,  dia  cenderung  jauhin  teman-teman ceweknya. Sophie tuh asli pencemburu berat. Tapi sama sih, dia sendiri juga pencemburu berat, nggak suka kalau Sophie dekat dekat cowok lain. Waktu itu ada cowok yang berani ngelirik-lirik Sophie di depannya, hampir aja dijotos sampai ke langit ketujuh sama dia. Cemburunya mereka mirip-mirip deh sama Austin. Gue jadi penasaran, siapa di antara mereka bertiga yang paling cemburuan.”

Aku juga penasaran sih, tapi saat ini, bukan itu yang penting. Kalau Troy memang menjauhi teman-teman ceweknya, lantas siapa cewek di mobilnya itu?

”Hubungan Troy dan Sophie baik-baik aja, kan, Vy?” tanyaku. ”Maksud gue... mungkinkah Troy diam-diam jalan sama cewek lain di belakang Sophie?” Ivy sudah akan menggeleng, tapi tiba-tiba berhenti, dan malah menatapku dengan ekspresi seolah ada pemahaman baru di benaknya. Dia melepaskan tangannya dari gelas plastik berisi iced caramel macchiato yang sedari tadi dipegangnya. Telapak tangannya yang dingin diletakkan di punggung tanganku yang hangat, dan perbedaan suhu di antara kami sempat membuatku berjengit sedikit.

”Nat, sori,” kata Ivy, tampak tidak enak. ”Soriiii banget. Tapi kalau lo mau jalan sama Troy lagi, gue nggak bisa bantu lo. Bukan apa-apa. Sophie kan sahabat gue, jadi gue nggak mungkin mengkhianati dia dengan ngebiarin pacarnya jalan sama cewek lain, nggak peduli cewek lainnya itu lo, yang selain teman gue, juga adik pacar gue.”

Tunggu, tunggu. Ivy mengira pertanyaanku soal Troy karena aku ingin jalan dengannya lagi?

”Gue emang nggak peka,” lanjut Ivy. ”Gue suka seenaknya aja ngomongin Troy di depan lo, dan bahkan dulu nyuruh dia jemput gue ke sini, padahal lo juga ada di sini, dan akhirnya lo jadi ter paksa ngelihat dia sama Sophie. Hati lo pasti sakit banget ya, Nat? Sekali lagi, sori banget.”

Memang sakit, pada saat itu. Tapi sejujurnya, aku sudah tidak berharap jalan dengan Troy lagi. Bahkan beberapa hari ini, aku nyaris tidak lagi memikirkan dirinya. Satu-dua kali, memang pernah, tapi sudah tidak separah dulu.

Dulu, aku seakan melihat Troy di mana-mana. Aku melihatnya di A-line dress biru yang kukenakan di pertemuan pertamaku dengannya, di spatula yang kugunakan untuk memasak nasi goreng untuknya saat kencan kami, di setiap Nissan Juke putih yang kulihat di jalan, dan itu bahkan baru beberapa saja. Menyedihkan dan sungguh menyiksa, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengenyahkan bayangannya.

Syukurlah, saat-saat itu sudah berlalu. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya aku bisa sepenuhnya move on dari Troy.

Jadi, salah kalau Ivy mengira aku ingin jalan dengan Troy lagi. Kalau memang aku ingin begitu, untuk apa aku di sini berusaha menyelamatkan hubungan Troy dan Sophie? Aku seharusnya justru membiarkan Edgar merebut Sophie dari Troy, supaya jalanku dengan Troy terbuka lagi. Kenyataannya tidak begitu, kan? Aku malah minum ice blended strawberry sambil mencari tahu identitas cewek di mobil Troy pada Ivy yang ternyata jelas tidak tahu.

Kalau aku menyangkal perkiraan Ivy, maka dia bisa-bisa mencari alasan lain di balik pertanyaanku soal Troy. Berbahaya kalau dia bisa menebak ada cewek lain yang terlibat. Aku me mutuskan untuk berkorban saja dan berpura-pura sedih, mem biarkan Ivy mengira dugaannya benar.

Setelah menghabiskan minuman masing-masing dan berdiri hendak pulang, aku tanpa sengaja menjatuhkan tasku, membuat isinya berserakan ke mana-mana. Itu hanya kecerobohan biasa, tapi Ivy mengira kesedihankulah—kesedihan palsu itu, bagian dari acting-ku yang ternyata meyakinkan—yang membuatku tidak bisa memegang tas dengan benar. Dia membantuku memungut barang-barang yang berserakan dan memasukkannya kembali ke tas.

Bukan cuma itu. Ivy juga menuntunku selama kami berjalan keluar  dari  Crystal  Coffee,  seolah  bisa  terjatuh  kapan  saja, padahal aku kan baik-baik saja. Aku meneruskan acting berpura pura sedih agar dia tidak curiga.

Mobilku diparkir dekat Crystal Coffee, dan kami baru sampai di depannya ketika aku menyadari kuncinya tidak ada di tas, mungkin tidak terpungut ketika tasku jatuh. Buru-buru aku kembali ke kedai kopi setelah meminta Ivy menunggu.

Kunci mobilku ternyata terlempar ke kolong bangku yang tadi kududuki, dan aku berhasil mendapatkannya setelah berjongkok dan meraba-raba ke sana. Syukurlah. Sepertinya segala kegiatan yang kulakukan—lari ke Crystal Coffee, mencari-cari kunci mobil, dan lari kembali ke mobilku—memakan waktu tidak lebih dari lima menit, tapi begitu aku tiba di depan mobilku, aku menyadari keanehan: Ivy berdiri gemetaran dengan wajah basah air mata.

”Ivy!” seruku, bergegas menghampirinya dengan panik, melupakan niat membuka pintu mobil. ”Lo kenapa?”

Ivy menoleh perlahan padaku, masih sambil mengucurkan air mata, seolah baru menyadari aku sudah kembali. ”G-gue... gue dirampok...,” isaknya.

Dirampok? Dalam waktu lima menit sejak aku meninggalkannya, Ivy dirampok? Pada sore hari, dalam suasana ramai begini? Oke, memang tidak terlalu ramai. Tapi banyak kendaraan berseliweran di jalan, dan orang-orang juga hilir mudik dari ruko ke ruko— belum ditambah dengan orang-orang yang berada di dalam ruko.

”Siapa pelakunya, Vy? Dia lari ke mana?” berondongku.

”P-pelakunya anggota geng Cebol,” isak Ivy. ”Barusan aja dia nyamperin gue dan ngambil tas gue. Habis itu dia naik lagi ke motornya yang diparkir di pinggir jalan... langsung pergi.” ”Tas lo isinya apa aja?” tanyaku, untuk tahu apa saja yang hilang.

”Dompet,  HP,  kunci  rumah.  selebihnya  nggak  ada  yang penting,” kata Ivy. ”Gue nggak bawa duit terlalu banyak, tapi HP gue Aduuuhhh, banyak data penting di dalamnya.”

Aku tahu betapa tidak enaknya kehilangan ponsel karena ponselku juga pernah hilang. Bukan karena dirampok, tapi karena tertinggal entah di mana. Ponselnya memang bisa dibeli lagi, tapi tidak dengan data-data di dalamnya.

”Apa orang-orang di sekitar sini ada yang sadar lo dirampok, Vy?” tanyaku, melihat ke sekeliling, siapa tahu ada saksi mata. Yang terdekat adalah juru parkir yang sedang asyik merokok sambil bersandar di mobil orang, tapi tidak terlihat seperti baru menyaksikan perampokan di depan mata.

”Dia nggak kayak ngerampok gue, Nat,” kata Ivy. ”Dia ngomong sama gue biasa aja, seolah mau nanya alamat atau yang semacamnya. Tapi dia nggak sekadar ngomong, dia ngancam sambil narik tas gue, dan gue juga terlalu takut untuk teriak.”

”Dia ngancam apa?” tanyaku.

”Dia ngancam nusuk kalau gue nggak kasih tas gue,” kata Ivy. Mengucapkan itu saja, dia gemetaran. ”Dia nggak megang pisau, tapi mungkin nyimpan pisau lipat di sakunya, jadi gue nggak berani ambil risiko. Apalagi dia juga bawa-bawa Troy, bilang kalau gue nggak suka dengan tindakannya, gue bisa ngadu ke Troy. Dari sanalah gue tahu dia anggota geng Cebol. Entah yang dulu pernah ngikutin gue dan Sophie, atau yang nyerempet motor Sophie atau bukan. Kali ini dia pakai jaket, jadi gue nggak bisa ngecek di lengannya ada tato tengkorak atau nggak.” Anggota geng Cebol dengan tato tengkorak pernah dihajar Edgar karena menyerempet motor Sophie.

”Tujuan utama dia ngerampok lo bukan untuk dapetin duit, tapi untuk nakut-nakutin lo, supaya lo ngadu ke Troy, guamamku”

”Dia mau gue ngadu ke Troy supaya Troy membantu Edgar mencari dokumen yang diminta gengnya, kan?” kata Ivy. ”Troy kan udah ngelakuin itu, jadi kenapa anggota geng Cebol masih nakut-nakutin gue?”

”Mungkin dia nggak tahu Troy udah membantu Edgar, atau merasa bantuan Troy belum maksimal,” tebakku. ”Yang mana pun, dua-duanya juga berlaku untuk Austin. Itu berarti yang akan diincarnya selanjutnya adalah... gue.”

Aku dan Ivy sama-sama terdiam setelah aku selesai mengucap kan itu. Kata-kata itu membuatku memikirkan hal lain, yang sedikit menakutkanku. Mungkin, yang sebenarnya diincar anggo ta geng Cebol bukanlah Ivy, melainkan aku. Bagaimanapun, mobilkulah yang telah diikutinya hari ini, mungkin sudah sejak aku pergi ke rumah Ivy, meski lagi-lagi aku telah bersikap cero boh dengan mengabaikannya. Dia mungkin menunggu kami mengobrol di Crystal Coffee, belum menemukan waktu yang pas untuk menyerang. Tapi lalu aku memberinya kesempatan itu dengan meninggalkan Ivy sendirian sementara aku lari ke Crystal Coffee untuk mencari kunci mobil bodoh itu. Pikirnya mungkin dia bisa menyimpanku untuk serangan selanjutnya, dan sekarang menyerang yang ada di depan mata saja. Jadi dia pun melancarkan serangannya pada Ivy, dengan merampoknya, mem buat temanku itu menangis ketakutan. Salahku. Semuanya jelas-jelas salahku. Bukan hanya karena aku sudah meninggalkan Ivy sendirian, tapi juga karena aku sudah mengajaknya bertemu. Kalau tidak, dia pasti aman di rumahnya, terlindung di balik pagar dan tembok serta ponsel yang ditangisinya ada di tangan.

Betapa bodohnya aku, karena sempat mengira kalau kami berdua maka kami aman. Kenyataannya, kami tidak bisa saling melindungi. Maksudku, kalaupun tadi aku bersama Ivy ketika dia dirampok, tetap saja aku tidak bisa menolongnya karena jelas tidak berani melawan anggota geng Cebol. Bisa-bisa aku ikut-ikutan dirampok.

Kenapa anggota geng Cebol itu tidak sekalian saja meram pokku? Karena sepertinya dia ingin memperingatkan Austin dan Troy secara bertahap.

Di mobil dalam perjalanan ke rumah Ivy, dia sudah berhenti menangis. Tangannya diletakkan dengan canggung di pang kuannya, tempat tasnya seharusnya berada, tapi tampaknya dia sudah merelakan kehilangannya.

Begitu kami sampai di depan rumah Ivy dan melihat mobil Troy sudah teparkir di sana—Troy tidak di rumah ketika aku menjemput Ivy—dan pemiliknya keluar ketika Ivy memencet bel karena kunci rumahnya juga hilang, Ivy kembali menangis. Dia lari ke pelukan Troy yang kebingungan melihat adiknya menangis seperti itu.

Kebingungan Troy segera mendapat penjelasan dari Ivy sendiri. Terisak-isak dalam pelukan Troy, Ivy menceritakan keja hatan yang menimpanya. Dia hanya bilang dia dirampok, lalu aku menambahkan bahwa pelakunya anggota geng Cebol. Troy akhirnya tahu keseluruhan ceritanya. Setelah bermenit-menit berusaha menenangkan Ivy, Troy membawanya masuk ke rumah. Tidak ada yang mengatakan apa-apa padaku, jadi aku sempat bingung apa yang harus kulakukan: ikut masuk ke rumah, tetap diam di ambang pintu pagar, atau pulang saja.

Saat aku berpikir lebih baik pulang saja, Troy kembali keluar. Ivy tidak bersamanya, mungkin menenangkan diri di kamar. Wajah Troy begitu muram. Mungkin sedih dengan kejadian Ivy. Meski aku juga bisa melihat titik-titik amarah yang setengah mati diredamnya.

”Sori, Troy,” gumamku begitu Troy tiba di dekatku. ”Ini nggak akan terjadi kalau aku nggak ngajak Ivy ketemu.”

”Bukan salah kamu, Nat,” kata Troy. ”Anggota geng Cebol aja yang brengsek. Seharusnya dulu aku nggak usah janji sama Sophie segala, dan benar-benar menghajar semua anggota geng Cebol sampai mampus. Dengan begitu mereka nggak akan bisa ngerampok Ivy.”

Aduh, cukup dengan Edgar, jangan sampai Troy juga akan dibuat babak belur oleh geng Cebol. Sekalipun bisa jadi dia lebih pintar dari Edgar dengan datang bersama anggota gengnya, tetap saja yang akan dilawannya adalah sekumpulan preman.

”Jangan begitu, Troy,” nasihatku. ”Kekerasan bukan jalan ke luarnya.”

Troy mendesah. ”Aku tahu,” gumamnya. ”Aku hanya nggak bisa nemuin cara lain untuk melawan orang-orang brengsek kayak mereka.”

Kasihan Troy. Setelah pacarnya, kini adiknya yang diserang geng Cebol. Aku salut karena dia bisa menahan diri dan tidak melanggar  janji  pada  Sophie.  Aku  curiga  di  dalam  tadi  Ivy memaksanya membuat janji yang sama.

”Bukannya aku mau nakut-nakutin kamu, Nat,” kata Troy se rius. ”Untuk selanjutnya, mereka mungkin ngincar kamu.” Tepat seperti yang kukatakan pada Ivy. ”Mulai sekarang, kamu harus lebih berhati-hati. Jangan sering-sering keluar rumah dulu, kecuali untuk sekolah dan hal yang memang penting.”

Aku mengangguk patuh. Tidak membandel dengan pergi sen dirian lagi, karena aku juga takut.

”Kamu masih mau ngobrol sama Ivy, Nat?” tanya Troy, akhirnya menawariku masuk.

”Nggak deh,” tolakku. ”Aku pulang aja. Kasihan Ivy, mungkin dia mau nenangin diri.”

”Kalau begitu, aku kawal kamu pulang ya,” kata Troy.

Bukan hal bagus menolak yang ini, karena siapa tahu anggota geng Cebol mengikutiku lagi dan mencegatku di tengah perja lanan. Jadi aku mengiakan Troy dan menunggu sebentar selama dia masuk ke rumah untuk mengambil kunci mobilnya.

Mobil Troy terus mengikuti mobilku sementara kami melaju ke rumahku. Lucu memang, meski hanya mobilnya yang bisa kulihat dari kaca spion, aku merasa aman.

Sesampainya di depan rumahku sementara Pak Heru membu kakan pintu gerbang, aku membuka kaca mobil dan melongok ke belakang, ke arah mobil Troy yang kaca kemudinya juga terbuka. Aku mengangguk penuh terima kasih padanya, dan dia balas mengangguk, sebelum mobilnya berlalu pergi.

Hal pertama yang kulakukan begitu masuk rumah, bahkan ketika aku baru berada di ruang tamu adalah menelepon Austin, untuk memberitahukan kejadian yang menimpa Ivy. Ivy ingin menenangkan diri, tapi siapa tahu kehadiran Austin akan mem buatnya lebih tenang?

”Ya?” Suara Austin dengan latar belakang berisik menyambutku setelah deringan ketiga.

”Tin, lo masih ngumpul sama anggota geng lo?” ”Masih. Kenapa emangnya?”

”Mendingan sekarang lo ke rumah Ivy deh.”

”Ngapain? Ivy tahu kok gue lagi ngumpul sama anggota geng gue.”

Aku menggigit bibir, bersiap menyampaikan berita buruk itu pada Austin. ”Ivy baru dirampok, Tin.”

”APA???” Aku langsung menjauhkan ponsel karena teriakan Austin membuat telingaku berdenging. Ketika aku mendekatkan kembali ponselku, dia berseru, ”Gimana bisa dia dirampok? Dan gimana bisa lo tahu?”

”Gue tadi bareng Ivy.” ”Lo juga dirampok?”

”Gue nggak, cuma Ivy. Dia lagi sendirian pas anggota geng Cebol nyamperin dia dan ngambil tasnya.”

”Anggota geng Cebol? Anggota geng Cebol yang ngerampok dia?”

”Iya. Kayak yang gue bilang tadi, mendingan sekarang lo ke rumah Ivy, karena dia butuh lo buat nenangin dia. Ya, Tin? Aus tin?”

Ternyata teleponku sudah ditutup. Aku membayangkan sete lah menutup telepon, Austin pasti langsung ngebut ke rumah Ivy.

Sambil mendesah, aku menjatuhkan diri ke sofa. Meski Troy sudah mengatakan apa yang menimpa Ivy bukan salahku, tetap saja aku merasa bersalah.

***

Aku sedang makan malam di ruang makan—sendirian karena Papa dan Mama belum pulang kerja dan Austin ngapel ke rumah Ivy. Ivy masih takut keluar rumah, bahkan sampai membolos sekolah hari ini, jadi mereka tidak pergi berkencan—ketika Troy meneleponku keesokan harinya.

Aku sempat berpikir Troy meneleponku karena ingin meralat kata-katanya kemarin dengan mengatakan bahwa musibah Ivy memang salahku. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab telepon, mempersiapkan diri untuk disemprot.

”Halo, Troy?”

”Nat,” kata Troy, suaranya terdengar begitu serius. ”Apa kamu udah dengar? Oma Lionel meninggal.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊