menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 08

Mode Malam
Bab 08
SELAMA tiga hari UN anak-anak kelas dua belas, seharusnya aku bisa menikmati liburan, tapi nyatanya tidak. Aku malah sibuk menjadi pengawas Austin sementara yang diawasi justru santaisantai saja. Aku tidak mengerti kenapa Austin bisa sesantai itu, padahal aku yang tidak UN saja sampai sakit perut setiap kali dia berangkat sekolah.

Untungnya tiga hari berlalu dengan cepat, dan UN pun selesai sehingga aku tidak perlu berlama-lama sakit perut. Pada malam selesai  UN,  aku  menelepon  Lionel  dan  menentukan  besok malam sebagai waktu yang tepat untuk merealisasikan janji mentraktirnya. Karena Lionel tidak ingin ditraktir yang mahalmahal—berbeda sekali dengan Ellen dan Portia, yang begitu mendengar kata ”traktir” akan berusaha mencari makanan paling mahal, seakan berupaya membuat si pentraktir malang itu bangkrut—aku berencana mentraktirnya di Kafe Amora. Tempat itu bagus dan harga makanannya tidak terlalu mahal. Aku sudah siap dengan A-line dress putih dengan ikat pinggang hitam, tas hitam, dan slingback shoes hitam tepat pukul tujuh malam—waktu yang dijanjikan Lionel untuk menjemputku. Sampai jam menunjukkan pukul setengah delapan, Lionel belum juga datang. Ini aneh. Tidak biasanya Lionel telat seperti ini, dan sama sekali tidak memberi kabar. Aku bukan tipe cewek yang suka merongrong cowok dan menanyakan kabar mereka setiap lima menit sekali sehingga tidak menghubunginya dan memutuskan tetap menunggunya saja. Mungkin dia terjebak macet atau apa.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan dan Lionel masih belum datang, barulah aku mulai gelisah. Apa mungkin dia lupa akan janji kencan kami? Atau mungkin dia mengalami kecelakaan di jalan?

Tidak tahan otakku memikirkan yang buruk-buruk, aku menghubungi Lionel. Butuh delapan deringan sampai dia mengangkatnya.

”Halo, Nat?”

”Nel!” seruku, lega luar biasa mendengar suara lelaki itu. ”Kok lo belum datang? Gue udah nungguin dari tadi.”

”Eh?” cetus Lionel, terdengar tidak fokus. ”Kenapa lo nungguin gue?”

Oke, sepertinya Lionel lupa akan kencan kami. ”Kan kita mau ke Kafe Amora,” aku mengingatkannya.

”Astaga!” cetus Lionel lagi, terdengar terkejut sekaligus menyesal. ”Sori, Nat, gue lupa. Gue lagi di rumah sakit sekarang.”

Ganti aku yang terkejut. ”Rumah sakit?” ulangku. ”Siapa yang sakit?”

”Oma,” kata Lionel. ”Kena serangan jantung.” Jantungku rasanya berhenti berdetak mendengarnya. ”Terus gimana keadaan Oma sekarang?”

”Udah mulai stabil,” kata Lionel. ”Jadi sekali lagi sori ya, Nat. Tadi keadaannya chaos banget, gue nggak bisa mikirin hal-hal lainnya.”

”Nggak apa-apa kok, Nel,” kataku. ”Yang penting kan Oma.” Sadar aku tidak akan tenang kalau tetap di rumah setelah mengetahui yang terjadi pada oma Lionel, aku bertanya, ”Di rumah sakit mana oma lo dirawat?”

Setelah Lionel memberitahu nama rumah sakit sekaligus nomor ruang rawat inapnya, aku segera mengambil kunci mobil dari kamar dan melaju menuju rumah sakit itu. Austin tidak di rumah, sedang merayakan selesainya UN dengan Ivy. Aku merasa tidak apa-apa kalau lagi-lagi harus membandel dengan pergi sendirian karena ini darurat.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera naik ke lantai tiga, tempat ruang-ruang rawat inap VIP dan menuju kamar nomor

308. Aku tidak langsung masuk, mengintip dari kaca kecil di pintu. Yang kulihat pertama kali adalah Oma yang terbaring di ranjang, lalu Lionel yang duduk di kursi di sebelahnya sembari menggenggam tangan Oma. Ada dua orang lagi di sana: Bi Melati yang berdiri di kaki ranjang sambil memandangi Oma dan pria setengah baya yang kukenali dari album-album foto yang pernah diperlihatkan Oma sebagai ayah Lionel, duduk setengah melamun di sofa di seberang ranjang.

Bi Melati tiba-tiba berpaling dan melihatku. Tertangkap basah, aku nyaris kabur, tapi ingat aku datang untuk menjenguk Oma. Aku menarik napas panjang dan membuka pintu. Semua orang di ruang rawat inap itu—kecuali Oma yang sedang tidur serentak menoleh ke arahku. Aku salah tingkah, meski sebenarnya tidak perlu.

”Natasha,” kata Lionel, berdiri untuk menyambutku.

Aku tersenyum kikuk pada cowok itu, sembari melirik ke arah ayah Lionel, yang terlihat memandangiku dengan penuh ingin tahu. Lionel menyadari arah mataku, lalu berinisiatif mengenalkanku pada ayahnya.

”Pa, ini Natasha, teman Lionel,” kata Lionel pada ayahnya.

Ayah Lionel berdiri. Mencegah beliau menghampiriku, aku buru-buru mendekatinya. Beliau terlihat lelah, matanya berkantong dan rambut lurusnya sedikit berantakan, tapi tetap tersenyum.

”Senang bertemu kamu, Natasha,” kata ayah Lionel. ”Terima kasih kamu sudah menjenguk Oma.”

”Sama-sama, Om,” balasku. ”Dan saya juga senang bertemu Om.”

Setelah perkenalan singkat itu, ayah Lionel kembali duduk sementara aku berbalik menghadap Lionel yang membawaku mendekati omanya. Kami berdiri bersisian di tepi ranjang, samasama memandangi wanita tua itu.

Selang oksigen tertempel di hidung Oma yang wajahnya pucat. Teringat kebaikannya dan melihat keadaannya saat ini, aku nyaris menangis. Kugigit bibirku keras-keras untuk mencegah turunnya air mata. Aku tidak ingin menangis apalagi di depan ayah Lionel.

”Mau ngobrol di luar aja?” tawar Lionel, setelah beberapa saat, mungkin menyadari aku sedang berperang dengan air mata.

Aku mengangguk, tak mampu menjawab. Lionel membawaku keluar ruang rawat inap. Ketika melewati ayah Lionel dan Bi Melati, aku menyempatkan tersenyum pada mereka.

Aku dan Lionel duduk di kursi yang berjajar menyambung di depan ruang rawat inap. Meski tadi Lionel menawarkan untuk mengobrol di sini, nyatanya untuk beberapa saat, kami hanya duduk membisu. Dia tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, yang pasti dipenuhi kekhawatiran atas kondisi omanya, sedangkan aku tidak berani mengganggunya.

Setelah mendesah panjang, cowok itu menoleh padaku. ”Lucu ya, bukannya di Kafe Amora, kita malah ada di sini sekarang,” katanya. ”Nggak nyangka aja, hanya sehari setelah selesai UN, yang seharusnya gue bisa bersenang-senang, malah terjadi hal kayak gini.” 

”Kok bisa mendadak ya, Nel?” tanyaku, yang sebenarnya agak bodoh, karena yang namanya serangan jantung kan memang tak bisa diprediksi.

”Gue juga kaget, Nat,” kata Lionel. ”Oma gue ada di kamarnya sepanjang hari, jadi gue pikir beliau lagi istirahat. Tahu-tahu gue dengar ada suara jatuh di kamarnya sehingga gue segera ke sana. Betapa kagetnya gue ketika melihat yang jatuh itu Oma. Tergeletak di lantai, muka Oma terlihat kesakitan sambil tangannya megangin dada. Gue panik, apalagi Bokap masih di kantor. Jadi gue manggil Bi Melati. Kami berusaha nenangin Oma dan ngasih obat ke beliau, sambil nunggu ambulans datang.”

Aku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya situasi itu bagi Lionel. Kalau aku jadi dia, aku pasti sangat panik sampai tidak bisa melakukan apa pun.

”Gue  takut,  Nat,”  lanjut  Lionel,  suaranya  seperti  bisikan, ”sebelumnya Oma udah beberapa kali kena serangan jantung, tapi ini pertama kalinya gue melihat secara langsung. Itu membuat gue sadar betapa rapuhnya beliau, dan bisa kehilangan beliau sewaktu-waktu. Pemikiran itu begitu menakutkan buat gue, sampai gue... sampai gue ” Dia tidak mampu melanjutkan

kata-katanya. Kedua tangannya yang tersimpul di pangkuannya gemetar.

Dengan memberanikan diri, aku meletakkan sebelah tanganku di atas kedua tangan Lionel, meremasnya pelan. Tidak ada katakata. Lionel paham karena saat dia menoleh ke arahku, aku bisa melihat rasa terima kasih yang tidak terucap di matanya. Itu juga sudah cukup.

***

Oma Lionel dalam keadaan bangun ketika aku menjenguk keesokan harinya. Beliau hanya ditemani Lionel, yang sedang menyuapinya makan.

Karena Austin lagi-lagi berkencan dengan Ivy, aku pergi sendirian ke rumah sakit. Sama seperti saat aku menjenguk Sophie, aku membawakan apel dan jeruk untuk Oma. Melihat buah tanganku, di wajah beliau yang masih pucat tercetak senyum lemah penuh rasa terima kasih.

”Oma senang kamu ke sini,” kata Oma lirih. ”Lionel bilang, tadi malam kamu juga ke sini.”

”Iya, tapi omanya lagi tidur,” kataku. ”Oma udah baikan sekarang?”

”Gimana mau baikan?” sergah Lionel, sebelum omanya sempat menjawabku. ”Tadi disuruh makan susah banget. Sekalinya mau makan, baru dua suap, minta udahan.” ”Oma nggak nafsu makan,” jawab Oma.

”Tetap harus dipaksa makan dong, Oma,” kata Lionel.

Aku tidak bisa tidak tersenyum mendengar percakapan Lionel dan omanya. Mereka seperti sedang bertukar peran, Lionel seakan berusaha membujuk cucunya agar mau makan.

”Gimana kalau saya aja yang nyuapin Oma?” tawarku, dan tanpa menunggu persetujuan siapa pun, aku mengambil piring berisi bubur dari tangan Lionel sementara Lionel bangun dari kursi di sebelah ranjang agar aku bisa ganti mendudukinya.

Denganku, Oma mau lanjut makan sesuap demi sesuap, ditonton Lionel yang menggeleng-geleng karena Oma lebih menurut padaku. Dia terlihat senang Oma mau menghabiskan bubur.

Selesai makan, aku mengobrol dengan Oma. Topiknya kebanyakan mengenai diriku yang belum sempat dikoreknya ketika aku ke rumahnya. Saat Lionel ke kamar mandi, Oma berubah serius, dan bahkan sampai menggenggam tanganku segala.

”Oma pengin meminta sesuatu sama kamu,” kata Oma. ”Tadi siang waktu Troy datang ke sini, Oma juga udah meminta hal yang sama ke dia, dan dia menyanggupinya. Oma harap kamu juga akan menyanggupinya.”

Kata-kata oma Lionel membuatku penasaran sekaligus tegang. Apa kiranya yang ingin diminta beliau dariku, yang juga sudah dimintanya dari Troy?

”Kalau Oma udah nggak ada nanti,” kata omanya Lionel, ”tolong kamu jaga Lionel ya. Pastikan dia selalu baik-baik.”

Aku terkejut dengan permintaan itu. ”Oma, jangan ngomong begitu,” kataku. ”Oma emang sakit, tapi nanti Oma sembuh dan bisa jaga Lionel lagi.”

”Oma akan lega kalau tahu bukan hanya Oma yang akan jaga Lionel,” kata Oma. ”Dia nggak dekat dengan papanya dan nggak ada saudara. Dia praktis hanya punya teman-teman dan kamu. Jadi, tolong, Natasha. Jaga Lionel, ya?”

Aku menelan ludah. Sepertinya Oma masih menyangka aku pacar Lionel. Lionel jelas belum mengoreksinya, dan seharusnya dulu aku sendiri yang melakukannya sehingga kesalahpahaman tidak berlanjut.

Sejujurnya, permintaan Oma sungguhlah berat. Kalau aku menyanggupinya, itu akan mengikatku seumur hidup, padahal aku baru akhir-akhir ini dekat dengan Lionel. Maksudku, siapa yang tahu bagaimana kelangsungan hubungan kami ke depannya?

Namun aku tidak bisa menolak. Oma begitu berharap aku menyanggupi permintaannya, dan genggamannya juga menguat. Beliau hanya mengkhawatirkan cucunya, jadi bagaimana mungkin aku menolak dan membiarkan kekhawatiran beliau terus bersarang, padahal beliau sedang sakit begini? Kudapati diriku mengangguk, dan beliau terlihat lega luar biasa. Aku jadi merasa sudah mengambil keputusan tepat.

”Dan satu lagi, Nat,” kata Oma. ”Oma harap kamu bisa membujuk Lionel untuk menerima beasiswa kuliahnya. Oma tahu dia ragu menerimanya karena nggak mau ninggalin Oma. Itu kan untuk masa depannya, jelas lebih penting.”

Keningku berkerut. ”Beasiswa apa, Oma?” tanyaku. Belum sempat Oma menjawab, Lionel sudah keluar dari kamar mandi.

Diamnya aku dan Oma tepat ketika Lionel keluar dari kamar mandi, membuatnya curiga kami baru saja membicarakannya. Dia tidak sempat mempermasalahkan itu karena beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. ”Nah, itu Melati datang,” kata Oma. ”Dia bisa gantiin kamu jaga Oma, Nel. Sekarang giliran kamu makan. Ajak Natasha juga.”

Lionel terlihat enggan meninggalkan Oma, meski hanya untuk makan. Karena tadi dia sudah memaksa omanya makan dan tidak ingin omanya berbalik memaksanya, dia memutuskan untuk menurut. Diajaknya diriku, dan aku langsung mengikut saja.

Ini hanya dugaanku. Dengan menyuruh Lionel mengajak aku, mungkin Oma ingin memberi isyarat padaku agar mulai membujuk Lionel menerima beasiswa. Masalahnya, aku belum tahu soal beasiswa itu dan di mana dia akan berkuliah nanti. Dari pembicaraan kami saat makan malam di restoran Eureka dulu, dia cenderung menghindar setiap ditanya rencana kuliah.

Sepanjang perjalanan menuju kafeteria di lantai satu, aku sibuk memikirkan cara membujuk Lionel. Kami di meja untuk empat orang di sudut kiri kafeteria. Di depan makanan kami masing-masing—ketupat sayur untukku, nasi dan opor ayam untuk Lionel. Aku yang mentraktir Lionel sebagai ganti mentraktirnya di Kafe Amora. Awalnya Lionel menolak, tapi aku berkeras karena aku sudah berjanji—tetap tidak terpikirkan satu cara pun. Mungkin lebih baik aku kembali menanyakan soal kuliahnya dulu, karena setidaknya, aku akan punya sedikit bayangan soal beasiswa itu, meski kalau pada akhirnya dia tidak menyebutkannya padaku.

”Apa lo udah tahu mau lanjut kuliah di mana, Nel?” tanyaku, seolah hanya berbasa-basi membuka pembicaraan, padahal aku benar-benar ingin tahu.

Reaksi Lionel hampir sama seperti saat pertama aku menanyakan soal kuliahnya dulu, dengan raut wajahnya yang sempat menegang sedikit. Kali ini, butuh waktu lebih lama baginya untuk bisa kembali rileks.

”Masih gue pikirin,” gumam Lionel. Dan seakan tahu aku akan terus mengorek-ngorek soal kuliahnya, dia berusaha menghindar dengan tiba-tiba bertanya, ”Apa lo ke sini sendirian, Nat?”

Aku, yang dengan mudah dialihkan, menjawab, ”Iya.” ”Tadi malam juga?”

”Iya.”

Lionel terlihat khawatir. ”Apa anggota geng Cebol masih ngikutin lo?”

”Nggak ada kok,” jawabku, padahal yang lebih tepat, aku sama sekali tidak memperhatikan. Kalaupun anggota geng Cebol berada tepat di belakang mobilku, aku juga tidak akan sadar. Aku tahu itu sangat ceroboh, sangat khas diriku. Pokoknya yang ada di pikiranku, aku ingin menjenguk Oma. Peduli amat dengan geng Cebol.

”Bukannya gue nggak mau lo jenguk Oma, Nat,” kata Lionel, ”tapi kalau lo sendirian, mending jangan ke sini. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Apalagi lo tahu kan, masalah Edgar sama geng Cebol masih jauh dari kata ’selesai’. Gue nggak bisa bantu karena udah bilang sama Troy bahwa gue mau fokus sama perawatan Oma.”

Memang tidak mungkin Lionel tetap membantu Edgar mencari dokumen yang diminta geng Cebol sementara omanya terbaring di rumah sakit. Untuk larangannya agar aku tidak ke sini sendirian, aku mengerti dan tidak ingin menambah beban pikirannya dengan membandel.

”Besok-besok gue akan ke sini sama Austin,” janjiku, entah Austin mau atau tidak. Mestinya Austin bersedia mengesampingkan egonya karena Lionel sedang terkena musibah.

Lionel mengangguk, sedikit lega. Dia jelas tidak mempermasalahkan siapa pun yang ke sini bersamaku, asal aku tidak sendirian.

Jadi begitu saja. Niatku membujuk Lionel untuk menerima beasiswa kuliah tidak terlaksana. Jangankan soal beasiswa, sekadar menanyakan soal kuliahnya pun, aku tidak mendapatkan jawaban. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊