menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 07

Mode Malam
Bab 07
MENJELANG pulang sekolah keesokan harinya, Austin meneleponku. Karena aku masih mengikuti pelajaran terakhir, aku izin pada guru yang mengajar untuk ke toilet, padahal aku keluar untuk mengangkat telepon.

Ternyata Austin tidak bisa menjemputku karena harus mengantar dokumen penting ke kantor Papa. Dia menyuruhku pulang dengan salah satu temanku. Ellen dan Portia pulang-pergi sekolah naik angkot, aku tidak mungkin bersama mereka. Sedangkan teman-teman lain, yang membawa kendaraan sendiri, tidak ada yang terlalu dekat denganku sampai bisa kutumpangi pulang. Hanya satu orang lagi yang lalu terpikir olehku: Lionel. Jadi setelah mematikan telepon dari Austin, aku segera menelepon Lionel.

”Natasha?” Suara Lionel keheranan menyambutku setelah dering ketiga. ”Ada apa? Tumben nelepon gue?”

”Iya nih,” kataku, sedikit canggung untuk menyatakan maksudku menelepon cowok itu. ”Apa lo lagi sibuk, Nel?” ”Cuma lagi belajar,” kata Lionel.

Aduh, tentu saja Lionel sedang belajar, karena dia akan UN. Aku malah seenaknya menelepon untuk memintanya menjemputku, padahal seharusnya dia tidak diganggu untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu.

”O-oh,” kataku tidak enak. ”K-kalau begitu, udahan dulu deh teleponnya. Maaf ya kalau gue ganggu.”

”Tunggu, tunggu!” cegah Lionel cepat, sebelum aku benarbenar mematikan telepon. ”Emangnya kenapa lo telepon gue?”

”Nggak penting sih,” elakku. ”Tadinya gue pengin minta lo jemput gue, tapi karena lo lagi belajar, nggak jadi deh. Biar gue minta teman gue yang lain aja.”

”Gue akan jemput lo,” kata Lionel. ”Nggak usah, Nel,” tolakku. ”Lo kan lagi—”

”Gue akan jemput lo,” ulang Lionel, menandaskan ucapannya, jelas tidak mau dibantah. ”Tapi bokap lagi pakai mobilnya. Apa nggak apa-apa kalau gue jemput lo pakai motor?”

Bayangan motor Lionel yang tinggi langsung memasuki benakku, membuatku sempat keder. Meski aku bisa menggunakan motornya sebagai alasan untuk lagi-lagi menolaknya menjemputku, aku tidak melakukannya. Aku tidak ingin Lionel berpikir aku hanya mau dijemput naik mobil.

”N-nggak apa-apa kok, Nel,” kataku, berusaha agar ketakutan akan motornya tidak terdengar dalam suaraku. ”Tapi apa lo yakin lo mau jemput gue? Entar belajar lo jadi terganggu.”

”Gue butuh refreshing bentar, Nat,” kata Lionel. ”Dari kemarin-kemarin belajar mulu, otak gue udah mulai butek.”

Sepertinya para murid yang mau UN otaknya sudah butek semua, karena belum lama Edgar juga mengatakan hal sama. Aku jadi tidak tahu apa aku harus kasihan pada orangnya atau pada otaknya.

”Sekolah lo udah mau bubaran, kan?” tanya Lionel. ”Gue jalan sebentar lagi ya.”

Setelah bel pulang berbunyi, aku berjalan ke pintu gerbang bersama Ellen dan Portia. Di depan pintu gerbang, Lionel sudah menunggu bersama motornya yang menakutkan. Dia belum melihatku, jadi aku bisa berpuas-puas diri menatapnya yang entah kenapa hari ini terlihat lebih kinclong dari biasanya; dengan kaus putih yang dilapisi jaket, celana jins, dan sneakers, serbahitam. Serius, aku melihat beberapa cewek yang melewatinya melirik-lirik seakan dia personel SHINee yang nyangkut di Indonesia. Kalau Ivy melihatnya, dia akan jejeritan histeris karena menyangka Lionel adalah Minho.

Eh, tapi Minho yang mana ya?

”Nat,” kata Ellen tiba-tiba menahan langkahku. ”Jangan bilang cowok yang lagi duduk di motor hijau itu Lionel.”

Ellen memang belum pernah melihat Lionel sebelumnya.

Begitu juga Portia.

”Iya,” kataku, ”itu emang Lionel.” Ellen langsung melotot. ”Ya ampun!”

Seruan Ellen membuatku kaget. ”Kenapa, Len?” tanyaku. ”Lo kenal Lionel?”

”Ganteng banget!” Ellen melanjutkan seruannya, langsung mematahkan segala dugaan yang berkeliaran di benakku.

Dasar Ellen. Kukira dia sampai berseru begitu karena mengenal Lionel, tapi ternyata hanya sedang mengagumi kegantengannya. ”Kenapa sih lo bisa susah move on dari Troy, Nat. Padahal di dekat lo ada cowok yang nggak kalah ganteng begitu?” tanya Ellen heran. Aku tidak sempat menyahutinya karena Lionel melihatku, lalu memanggilku.

Aku tersenyum dan menghampirinya sembari membawa serta Ellen dan Portia. Mumpung Lionel ada di sini, sekalian saja aku mengenalkannya pada kedua sahabatku, apalagi Ellen begitu ngebet.

”Nel,” kataku begitu aku, Ellen, dan Portia tiba di dekat Lionel. ”Kenalin nih, sahabat-sahabat gue.”

Perkenalan Lionel dan Portia berlangsung normal-normal saja, tapi begitu tiba pada perkenalan Lionel dan Ellen, ketika bersalaman, aku bersumpah Ellen memegang tangan Lionel lima detik lebih lama dari seharusnya.

”Mau pulang sekarang atau mau ngobrol-ngobrol dulu sama Ellen dan Portia?” tanya Lionel. ”Gue bisa nunggu kok.”

Ellen, yang tidak ditanya, langsung angkat suara. ”Ngobrolngobrol dulu a—”

”Pulang sekarang aja,” jawabku, memotong kata-kata Ellen, tanpa memedulikan raut protesnya. Dia pasti ingin mengobrol dengan Lionel, tapi aku tidak boleh membiarkannya sebab Lionel harus buru-buru pulang untuk lanjut belajar.

Bencana datang ketika aku mencoba naik ke motor Lionel: aku benar-benar kesulitan duduk di sadelnya, apalagi dengan mengenakan rok. Butuh bantuan Portia untuk memegangiku sampai akhirnya aku berhasil nangkring dengan manis di sadelnya.

”Pegangan ke gue aja kalau lo takut,” kata Lionel, yang ternyata bisa merasakan ketakutanku. Yang ada, aku bukan sekadar berpegangan pada cowok itu, tapi memeluknya erat-erat. Serius! Sepanjang perjalanan ke rumah, bisa dibilang tubuhku menempel bak permen karet ke punggungnya, dengan kedua tangan melingkari pinggangnya, dan wajah yang kutenggelamkan ke bahunya. Kedua mataku juga terpejam, sehingga hidungku bisa lebih berkonsentrasi menghidu aroma maskulin Lionel, menambah intensitas debaran jantungku, yang menggila karena aku sangat ketakutan.

Aku tidak tahu berapa lama aku jadi permen karet. Aku baru membuka mata ketika mendengar suara Lionel yang menyatakan kami sudah sampai di rumahku. Ya ampun, aku bahkan tidak sadar ketika Pak Heru membukakan pintu gerbang untuk kami.

Yang kusadari justru diriku masih memeluk Lionel. Aku refleks melepaskan diri. Sebagai akibatnya, aku nyaris terjengkang. Untung sebelah tanganku belum lepas dari pinggang Lionel, jadi dia masih bisa menangkapku.

”Hati-hati, Nat,” kata Lionel, sebisa mungkin memegangiku ketika aku turun.

Setelah berhasil turun dari motor dengan selamat, aku lebih merasa malu ketimbang lega. Tidakkah tadi aku berlebihan, sampai setakut itu naik motor?

”M-maaf ya, Nel,” ucapku tidak enak. ”Gue meluk-meluk lo kayak tadi.”

”Nggak apa-apa kok,” kata Lionel. ”Gue yang harus minta maaf, bikin lo takut. Gue sih berusaha bawa motor sepelan mungkin, tapi lo tetep takut.”

”Nggak begitu takut kok,” dustaku, seolah tadi aku jadi permen karet karena kepingin. ”Kalau begitu, jangan kapok ya gue jemput,” kata Lionel.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati berjanji untuk sering-sering latihan naik motor dengan ke mana-mana naik ojek.

”Oh iya, Nel,” kataku, ”lo udah ketemu Edgar belum kemarin?”

”Belum,” geleng Lionel. ”Gue ketemu dia malam hari pas kecelakaan Sophie, bareng Troy, Austin, dan David, untuk bilang kami mau membantu dia mencari dokumen yang diminta geng Cebol.”

Edgar juga sempat menyinggung soal pertemuan itu ketika kutanya.

”Kami lanjut omongin soal dokumen itu, seperti apa aja yang dia ingat dan apa omnya benar-benar pemiliknya. Maksud gue, mungkin aja kan dokumen itu punya orang lain, yang dikasih ke omnya, atau sekadar dititipin? Edgar ingat beberapa detail dokumen itu tapi nggak bisa memastikan kepemilikannya. Sekarang kami berusaha menyelidiki omnya dan orang-orang di sekitar yang mungkin berhubungan dengan dokumen itu. Sulit. Kami melakukannya tanpa memancing kecurigaan. Tapi layak dicoba, kan?”

Maksud awalku bertanya apa Lionel sudah bertemu Edgar kemarin sebenarnya untuk mengecek apa dia sudah tahu kondisi Edgar yang babak belur, tapi nyatanya aku malah mendapat informasi yang sedang dilakukan ketiga geng itu saat ini. Baguslah. Dan lebih bagus lagi, Lionel tidak tahu kondisi Edgar yang babak belur, dan aku juga tidak berniat memberitahunya. Edgar melarangku memberitahu Sophie, dan aku juga tidak mau memberitahu orang lain karena berisiko berita itu sampai di telinga Sophie.

”Sebenarnya gue mau nawarin lo masuk,” kataku menyadari aku dan Lionel malah mengobrol di halaman. ”Tapi mungkin lo mau langsung pulang buat belajar?”

”Gue emang mau langsung pulang,” kata Lionel. ”Udah janji sama Oma kalau gue cuma keluar sebentar.”

Mendengar Lionel menyebut omanya, aku jadi merindukan perempuan tua yang baik hati itu. ”Salam buat oma lo ya, Nel,” kataku.

”Nanti gue sampein,” janji Lionel.

Bersama motornya, Lionel meninggalkan halaman rumahku. Meski dia sudah tidak tampak lagi, hidungku masih bisa menghirup aroma maskulinnya, yang membuat jantungku berulah lagi.

***

Malam menjelang UN anak-anak kelas dua belas, Ivy meneleponku, ingin mengecek apakah Austin belajar atau tidak. Si Austin kalau belajar memang hobinya mepet-mepet, dan selalu beralasan dia bisa lupa kalau belajar dari jauh-jauh hari.

Di luar kebiasaan belajarnya itu, aku bisa bilang Austin pada dasarnya pintar. Bahkan sewaktu SMP, dia pernah meraih peringkat tiga besar. Hanya saja sejak masuk SMA dan mengenal dunia geng, dia mulai malas belajar. Itu yang menyebabkan kemerosotan nilai-nilainya.

Tadi saja, aku melihat abangku sedang belajar di ruang keluarga sambil menonton televisi. Aku tidak tahu apakah yang dipelajarinya itu bisa masuk ke otak atau tidak, karena dia lebih sering melirik televisi daripada buku pelajarannya.

”Austin belajarnya serius nggak?” tanya Ivy di telepon, dan pertanyaan itu membuatku sampai turun dari kamar untuk mengecek Austin lagi yang masih berada di ruang keluarga. Dan yang kulihat membuatku ternganga tidak percaya.

Austin malah tidur, dengan buku pelajaran dalam keadaan terbuka yang diletakkan menutupi wajahnya. Televisi masih menyala.

”Ini gue udah sampai bawah, Vy,” kataku pada Ivy, sambil mendekati sofa tempat Austin tidur, dan mengambil buku pelajaran dari wajahnya. Kugunakan buku pelajaran itu untuk menampar-nampar pelan wajahnya, membuat Austin perlahan membuka mata. Dia sudah akan protes, tapi aku membuat isyarat dengan mulutku, berkata, ”Ivy,” sambil menunjuk ke ponsel di telingaku.

Austin langsung duduk, mengambil buku pelajaran dari tanganku, membuka halamannya secara acak, dan juga membuat isyarat dengan mulutnya, berkata, ”Bilangin gue lagi belajar.”

Aku menggeleng, menunjuk buku pelajarannya dengan tegas, tanda bahwa dia harus benar-benar belajar dulu, dan dia pun dengan terpaksa mengangguk.

”Austin belajarnya serius kok, Vy,” kataku pada Ivy ketika melihat Austin membuka halaman buku pelajarannya dan mulai belajar lagi.

”Sering-sering dicek ya, Nat,” pinta Ivy. ”Gue takut dia kayak Troy nih, ditinggal dikit, langsung tidur.”

Lho, kok sama? Tapi, yah, aku tidak bilang ke Ivy bahwa tadi Austin tidur. Dibanding Austin dan Troy yang akan UN, tampaknya memang aku dan Ivy yang lebih cemas. Oh, tambahkan Sophie juga, karena tadi Ivy sempat bilang bahwa dia juga telepon-teleponan  dengan  Sophie,  yang  memintanya  untuk sering-sering mengecek Troy.

Setelah membuatku berjanji akan memberikan laporan berkala tentang kegiatan belajar Austin pada Ivy, kami pun mengakhiri telepon. Masih sambil memegang ponsel, aku mendadak teringat pada satu orang lagi yang akan UN.

Lionel.

Setelah sempat bimbang, kuputuskan untuk mengirim LINE ke Lionel, sekadar untuk memberinya semangat.

PrincessNat: Good luck buat UN bsk ya. PrincessNat:  Gw  yakin  u  pasti  bisa.

PrincessNat: P.S.: Nanti begitu u selesai UN, gw traktir deh. ;)

Balasan dari Lionel masuk beberapa menit kemudian.

Lionel Orlando: Thank you ya, Nat. :)

Lionel Orlando: Gw emg lagi perlu dikasih semangat nih.

Lionel Orlando: P.S.: Jadi gak sabar nunggu UN selesai, biar bisa ditraktir. :P

Tanpa sadar aku tersenyum saat membaca balasan Lionel, tidak menyesal sama sekali telah mengiriminya LINE. Semoga UN cepat selesai agar aku bisa segera mentraktirnya.

Heran, ada apa ya denganku? Sepertinya aku mulai menikmati saat-saat bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Lionel sehingga mulai mencari-cari alasan untuk bertemu. Ah, tapi sekarang bukan saat tepat untuk memikirkan hal itu karena aku harus fokus pada Austin. Aku segera menurunkan ponsel dan menoleh padanya, untuk melihat sudah sejauh mana dia belajar.

Tapi, ya ampun, ternyata Austin sudah tidur lagi! 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊