menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 06

Mode Malam
Bab 06
MINGGU ini masuk minggu tenang, jadi anak-anak kelas dua belas sudah diliburkan. Maka itu aku heran ketika pada jam istirahat melihat Edgar berjalan memasuki perpustakaan sekolah. Entah apa hanya kelasnya di XII IPS-4 yang tetap masuk, atau malah hanya dia sendiri?

Karena penasaran, aku membatalkan niat ke kantin, meninggalkan Ellen dan Portia untuk menyusul Edgar ke perpustakaan.

Perpustakaan kalah populer dengan kantin pada jam istirahat begini. Anak-anak yang kelaparan dan kehausan beramai-ramai menyerbu kantin, jadi suasana perpustakaan cukup sepi. Bu Ussy, sang pustakawati, sibuk mencatat sesuatu di buku besar, tapi menyempatkan diri tersenyum padaku ketika aku lewat.

Perpustakaan sekolah kami cukup besar, dengan tiga rak berjajar di masing-masing kiri depan dan kanan depannya, diselingi dua meja panjang dan empat meja pendek di tengahtengahnya, dan lagi-lagi tiga rak berjajar di masing-masing kiri depan dan kiri belakangnya. Di bagian paling belakang, ada meja yang panjangnya memenuhi seluruh tembok, dan disekat-sekat. Di sanalah Edgar berada, duduk di meja paling kiri.

Dengan mengendap-endap, aku duduk di samping cowok itu. Edgar tidak tampak terkejut dengan kemunculanku. Dia malah tetap pada kesibukannya membaca buku, tidak memedulikanku sama sekali.

”Lo belajar?” tanyaku terkejut, menyadari buku yang dipegang Edgar adalah buku pelajaran.

”Nggak, cuma melototin huruf-huruf yang ada di buku aja,” jawab Edgar sinis.

Aku tergelak. ”Nggak nyangka bakal ngelihat seorang Edgar Julian belajar,” godaku.

”Ini juga terpaksa,” sergah Edgar. ”Gue kan pengin lulus. Amitamit banget kalau mesti ngulang satu tahun lagi di sini.”

”Karena takut nggak lulus, lo sampai bela-belain datang ke sekolah untuk belajar di perpus meski lagi libur?” tanyaku.

”Yep,” jawab Edgar. ”Tapi malah digangguin lo.”

”Sori deh kalau gue ganggu,” kataku, meski tanpa rasa bersalah. ”Gue perlu ngeganggu lo agak lama nih, soalnya ada yang mau gue tanyain.”

”Jangan mentang-mentang gue lagi belajar, lo jadi mau nanya ke gue soal pelajaran,” protes Edgar. ”Otak gue udah cukup butek sama pelajaran gue sendiri, nggak perlu ditambahin sama pelajaran lo juga.”

”Bukan soal pelajaran kok,” sergahku. ”Ini soal lo dengan geng Cebol. Apa Austin dan Troy udah bilang bahwa mereka mau membantu lo mencari dokumen yang diminta geng Cebol?”

”Udah, tadi malam,” kata Edgar. ”Gue heran sih, mendadak mereka mau membantu gue, padahal sebelumnya mereka maksa supaya gue mencari dokumen itu sendiri.”

”Jelas itu karena kecelakaan Sophie, kan?” celetukku. ”Maksud gue, itu kan jadi semacam peringatan bahwa hal yang sama bisa menimpa gue dan Ivy kalau dokumen itu nggak ditemukan.”

Kalimat keduaku sepertinya tidak didengarkan Edgar karena dia terpaku pada kalimat pertamaku. ”Kecelakaan Sophie?” ulangnya, dengan nada waspada. ”Kecelakaan apa? Emangnya Sophie kenapa?”

Lho, memangnya tadi malam Austin dan Troy tidak sekalian mengatakan soal kecelakaan yang menimpa Sophie? Kalau memang ya, berarti mereka—atau Troy lebih tepatnya—tidak ingin Edgar tahu soal itu, dan aku malah seenaknya ngember.

Melihat diriku diam, Edgar menatapku seperti sedang mengerahkan segenap kesabaran yang dimilikinya untuk tidak mengguncang-guncang tubuhku. ”Natasha, Sophie kenapa?” tanyanya lagi, dan selain nada waspada, aku mendengar nada khawatir tersirat jelas dalam suaranya.

Yah, karena telanjur, jadi sekalian saja kukatakan semuanya pada Edgar. ”Sophie jatuh dari motor,” kataku. ”Dia diserempet orang yang lagi-lagi ngikutin dia, yang sekarang udah jelas anggota geng Cebol.”

Edgar terlihat begitu khawatir. ”Terus gimana keadaan Sophie?” tanyanya. ”Apa dia... apa dia...?” Entah apa yang dipikirkan Edgar terjadi pada Sophie hingga tidak sanggup menyelesaikan pertanyaannya.

”Sophie nggak apa-apa,” kataku menenangkan, tidak tega melihat kecemasan Edgar. ”Kakinya cuma lecet sedikit.” Fakta itu hanya melegakan Edgar sedikit, lalu kekhawatirannya berubah menjadi kemarahan, yang tentunya ditujukan kepada geng Cebol. Dia sampai melempar buku yang dipegangnya, dan buku itu pun menabrak rak terdekat.

”Edgar!” seruku, tidak suka dengan apa yang dilakukan cowok itu. Khawatir akan nasib buku yang dilempar, aku berdiri untuk mengambilnya. Untung saja buku itu tidak sampai rusak. Kasihan sekali. Bukannya dibaca, buku itu malah jadi sasaran kemarahan Edgar.

Ketika aku kembali duduk di samping Edgar, aku sempat melirik ke arahnya, dan yang kulihat membuatku sedikit ngeri. Edgar duduk dengan napas memburu dan pandangan berapi-api. Kedua tangannya terkepal erat di pangkuannya seolah dia akan meninju siapa pun yang berani mengganggunya.

”Edgar,” panggilku hati-hati, takut kalau aku malah menjadi korban tinjuannya. ”Jangan marah begitu ya. Sophie kan nggak apa-apa.”

Edgar tiba-tiba mendesah panjang, seolah dengan cara itulah dia mengeluarkan seluruh kemarahannya. ”Ini semua salah gue,” gumamnya. ”Seharusnya gue nggak melibatkan Sophie dalam masalah geng gue, dan membuatnya jadi incaran geng Cebol. Lagian apa sih yang gue pikirkan saat menjadikan Sophie sandera dalam pertikaian itu? Gue emang lagi marah dan kecewa sama dia, tapi seharusnya gue berpikir jernih. Sekarang udah terlambat, dan Sophie harus menanggung akibat kesalahan gue.”

”Edgar,” kataku, seolah aku tidak tahu perasaan Edgar pada Sophie, ”lo sampai sepeduli itu sama Sophie, apa karena lo suka dia?” Bukannya menjawab pertanyaanku, Edgar justru berkata, ”Sophie datang dalam hidup gue bagai badai di laut yang tenang.” Dia sempat membuatku tercengang karena tiba-tiba berfilosofi. ”Dalam sekejap, hidup gue, terutama hati gue, langsung porak-poranda—dalam arti yang baik. Hidup gue yang tadinya monoton, bahkan cenderung membosankan, menjadi lebih berwarna. Untuk pertama kalinya sejak kematian Roger, gue bersemangat menjalani hidup. Setiap hari gue menanti-nanti kedatangan Sophie, nggak sabar melihat kejutan apa lagi yang bakal dia bawa.”

Roger yang disebut-sebut Edgar adalah kakaknya yang meninggal dalam tawuran sekitar tiga tahun lalu, karena berada di tempat dan waktu yang salah. Itulah yang membuat Edgar begitu membenci orang-orang yang seenaknya memukuli orang lain tanpa alasan jelas. Itu juga yang mengawali kebenciannya pada Troy, karena dulu Troy pernah memukuli dirinya dan anggota gengnya.

”Ternyata ada kejutan Sophie yang nggak menyenangkan, dan itu adalah kenyataan bahwa dia temenan sama gue hanya untuk manfaatin gue,” lanjut Edgar. ”Apa lagi, dia melakukannya demi Troy, cowok yang gue benci setengah mati. Warna-warna dalam hidup gue seketika lenyap dan kembali menyisakan hidup monoton.”

Meski tidak secara langsung menjawab pertanyaanku, melalui kata-kata yang panjang-lebar itu, jelas cowok itu sudah mengonfirmasikannya. Aku tidak menyangka perasaan Edgar pada Sophie sampai sedalam itu. Dulu denganku, Edgar tidak sampai sebegitunya.

”Gue mau minta tolong sama lo, Nat,” kata Edgar. ”Tolong bilangin ke Sophie, gue minta maaf. Bilang juga ke dia, gue sadar ini semua salah gue, dan gue akan mencoba menebusnya.”

”Kenapa lo nggak bilang sendiri ke dia?” tanyaku lembut.

Cowok di sebelahku itu menggeleng samar. ”Gue nggak bisa ketemu Sophie,” gumamnya. ”Atau lebih tepatnya, gue nggak boleh ketemu dia. Tolong lo aja yang bilang ya, Nat? Tolong...”

Sudah empat kata ”tolong” yang diucapkan Edgar dalam waktu beberapa detik ini. Mengingat kata itu nyaris tidak pernah diucapkannya, bagaimana mungkin aku sanggup menolak?

Jadi itulah kenapa sore harinya aku berada dalam perjalanan ke rumah Sophie, setelah sebelumnya mampir ke supermarket untuk membeli apel dan jeruk, karena tidak ingin menjenguk Sophie untuk kedua kalinya dengan tangan kosong. Tentu saja aku bersama Austin, yang sesuai janjinya, mengantar-jemputku ke sekolah. Dia memang sempat keberatan karena aku tidak langsung pulang dan malah memintanya mengantarku dan ke rumah Sophie dulu. Namun dia tidak ingin aku pergi sendiri.

Ketika berdiri di depan rumah Sophie, aku tidak langsung memencet bel, nyaliku mendadak ciut. Sumpah, mau masuk ke rumah Sophie rasanya seperti mau masuk ke sarang dinosaurus, saking mengerikannya si nona pemilik rumah. Karena tidak mungkin aku hanya berdiri mematung di depannya, dengan Austin yang bisa memperhatikan segala gerak-gerikku dari dalam mobil, kupencet juga belnya.

Sama seperti kemarin, yang membukakan pintu adalah Jason, wajah kepiting rebusnya muncul ketika dia menyadari siapa yang datang. Pintu pagar yang bergetar di tangannya seolah menjadi penanda betapa gugup dirinya, padahal seharusnya dia tidak perlu segugup itu di depanku. Aku kan tidak menggigit, meski wajah imutnya rasanya membuatku ingin menggigit sesuatu saking gemasnya.

”Sophie-nya ada?” Pertanyaan retorik sebenarnya, karena aku sudah tahu Sophie pasti di dalam.

Jason mengangguk. ”M-masuk aja,” katanya mempersilakan. ”Seharian Sophie ada d-di kamarnya.”

Sejak Jason menutup pintu hingga kami masuk ke rumahnya, aku terus menunggu hingga dia memimpinku ke kamar Sophie, tidak seperti kemarin saat aku dan Lionel masuk tanpa Jason. Entahlah, mungkin aku hanya takut Sophie tiba-tiba muncul dan menimpukku dengan botol parfum atau semacamnya.

”Lo kok jadi demen banget sih datang ke rumah gue?” adalah kata-kata sambutan yang dipersembahkan Sophie begitu melihatku masuk ke kamarnya. Jason sampai sempat mendelik pada kakaknya sebelum terpaksa meninggalkanku berdua dengan Sophie.

”Gue cuma mau bawain lo buah-buahan ini,” kataku beralasan, sembari meletakkan kantong plastik berisi apel dan jeruk ke nakas, tepat di samping foto Sophie dengan Troy.

”Makasih, tapi seharusnya lo nggak perlu repot-repot,” kata Sophie.

”Nggak repot kok,” kataku.

Lalu kami diam. Sophie melanjutkan kesibukannya memainkan ponsel, seperti yang dilakukannya saat aku masuk. Aku berdiri canggung di tengah-tengah kamar, memperhatikan apa pun kecuali Sophie.

”Udah kan, bawain buah-buahannya?” tanya Sophie, yang kusambut dengan anggukan. ”Terus kenapa lo masih di sini?” Saatnya untuk jujur. ”Sebenarnya... ada alasan lain kenapa gue ke sini.”

”Udah gue duga,” cibir Sophie. ”Lo nggak mungkin sebaik itu datang ke sini buat bawain gue buah-buahan doang. Jadi langsung aja, apa alasan lainnya?”

”Edgar,” sebutku. ”Dia minta gue ke sini.”

Nama Edgar sukses membuat Sophie mengalihkan perhatian sepenuhnya dari ponsel untuk menatapku sungguh-sungguh. Ada rasa ingin tahu teramat besar di matanya, yang tidak bisa disembunyikan, seberapa pun dia menginginkannya. Aku melanjutkan kata-kataku tanpa harus diminta.

”Dia tahu soal kecelakaan lo, dan merasa itu salahnya,” lanjutku. ”Dia meminta gue bilang ke lo bahwa dia minta maaf dan berjanji menebusnya.”

Sophie diam sejenak, tampak begitu kalut sebelum berkata, ”Gue nggak mau menerima permintaan maafnya.”

Aku tersentak. ”Lo nggak mau maafin dia?”

”Gue nggak mau menerima permintaan maafnya,” ulang Sophie, ”karena gue nggak merasa dia salah apa pun sama gue. Yang mencelakai gue adalah anggota geng Cebol, bukan dia, jadi nggak seharusnya dia yang minta maaf sama gue.”

Oh, aku sudah berpikir yang macam-macam saja, bahwa Sophie begitu kejam karena tidak mau memaafkan Edgar.

”Oke, akan gue bilang ke Edgar,” janjiku. Tidak ada alasan lain lagi yang membuatku harus bertahan di rumah Sophie, aku pun mengikuti keinginan Sophie semula dengan berkata, ”Kalau begitu, gue pulang dulu ya.”

Sophie yang masih tampak kalut, tidak menanggapiku. Aku beranggapan dia sudah mendengarku pamit. Aku balik badan, berniat meninggalkan kamarnya. Tapi baru setengah jalan aku menuju pintu kamarnya, dia memanggilku. Aku pun mengerem mendadak. Kalau aku mobil, pasti sudah disundul dari belakang.

Aku berbalik lagi, menanti Sophie mengemukakan maksudnya memanggilku. Bukannya berbicara, dia malah meremas-remas ponsel dengan resah, sampai-sampai aku takut benda malang itu hancur di tangannya.

”Edgar...” kata Sophie, menyebut nama Edgar dengan sangat hati-hati. ”Apa dia akan baik-baik aja?”

Aku tidak mengerti maksud pertanyaan itu. ”Kenapa dia harus nggak baik-baik aja?” aku membalikkan.

”Masalahnya dengan geng Cebol kan belum selesai,” kata Sophie. ”Mungkin... entahlah, geng Cebol akan menyakitinya? Bukan berarti gue bermaksud macam-macam, hanya... yah... takut dia kenapa-kenapa.”

Entah kenapa, aku jadi terenyuh. Sophie tidak bisa membalas perasaan Edgar karena cintanya hanya untuk Troy seorang, tapi dia jelas peduli padanya. Sebagai teman, tentunya.

”Kan ada Austin dan Troy yang akan bantu dia,” kataku. ”Jadi ini hanya soal waktu sampai Edgar bisa menyelesaikan masalahnya dengan geng Cebol.” Dan karena Sophie masih saja tampak kalut, aku menambahkan, ”Sophie, Edgar akan baik-baik aja.”

Sophie mengangguk-angguk, seakan ingin mengamini katakataku. Lalu, dalam satu kedipan mata, dia sudah kembali menjadi Sophie yang biasa.

”Tadi katanya mau pulang, tapi kok lo masih betah aja di sini?” tuntut Sophie, seakan lupa tadi dia yang memanggilku. ”Sana pulang! Jangan kelamaan mamerin kaki mulus lo di sini.”

Kalau Sophie sudah membawa-bawa soal kaki mulus, memang sebaiknya aku segera angkat kaki dari kamarnya kalau tidak mau kena semprot lagi. Lagi-lagi aku balik badan dan melanjutkan langkah menuju pintu kamar yang sempat tertunda tadi.

***

Edgar tidak datang ke sekolah lagi keesokan harinya sehingga aku tidak bisa menyampaikan jawaban Sophie akan permintaan maafnya. Ketika aku berusaha meneleponnya, dia tidak mengangkatnya. Karena tidak tahu apa sepanjang minggu ini dia akan datang ke sekolah lagi atau tidak, aku memutuskan untuk datang ke rumahnya saja.

Masalahnya, bagaimana aku bisa ke rumah Edgar, padahal aku tidak boleh ke mana-mana sendirian? Bisa saja sih aku membandel, tapi kan Austin akan menjemputku pulang sekolah nanti, dan jelas tidak akan mau mengantarku ke rumah Edgar, apalagi dengan peringatan yang sudah diberikannya kemarin. Lagi pula, kalau dia bertanya untuk apa aku ke rumah Edgar, aku harus bilang apa?

Setelah sempat putus asa dan pulang tanpa harapan bisa ke rumah Edgar, keajaiban terjadi. Austin langsung pergi lagi setelah pulang karena ingin ke rumah Ivy yang sudah berbaikan dengannya. Tanpa menunggu lama, karena aku harus sudah pulang sebelum Austin pulang, aku meluncur ke rumah Edgar.

Menemukan alamat Edgar itu mudah. Apalagi kompleks perumahannya dekat kompleksku. Hanya dalam lima belas menit, aku sudah sampai di depan rumahnya. Suzuki Swift silver Edgar teparkir di garasi, jadi aku menebak pemiliknya ada di rumah.

Yang kutahu, Edgar tinggal bersama om dan tantenya karena orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil tujuh tahun lalu. Omnya mungkin sedang bekerja, tapi entah dengan tantenya. Aku memencet bel rumah sambil harap-harap cemas soal siapa yang akan membuka pintu.

Wanita bertubuh tinggi dan berambut ikal pendek membuka pintu dan memperkenalkan diri sebagai tante Edgar. Aku menarik napas lega karena ternyata tante Edgar ramah sekali.

”Tante senang ada yang mau menjenguk Edgar,” kata wanita itu ketika membawaku masuk ke rumahnya. ”Selama ini dia nggak pernah sekali pun mengajak temannya ke rumah. Jadi Tante pikir sekarang kondisinya lagi parah begini, juga nggak ada yang bakal datang.”

Aku mengernyit. ”Kondisinya lagi parah...?” ulangku bingung. ”Emangnya Edgar kenapa, Tante?”

”Lho, kamu nggak tahu?” Tante ikut-ikutan bingung. ”Memangnya kamu datang ke sini cuma kebetulan, bukan untuk menjenguk Edgar?”

”Saya mau nemuin Edgar aja, Tante,” kataku.

”Oh...” kata si Tante. ”Tante pikir kamu mau menjenguk Edgar. Dia tadi malam pulang dengan tubuh penuh luka. Karena memang udah biasa begitu, Tante nggak kaget lagi. Tante tetap khawatir sih, apalagi dia menolak dibawa ke rumah sakit. Tante takut ada luka dalam dan nggak ketahuan. Kalau misalnya dia sampai kenapa-kenapa, Tante akan merasa bersalah sekali sama mamanya, kakak perempuan Tante. Apalagi sebelumnya juga Roger...” Suara tante Edgar menghilang, dan matanya berkacakaca.

Tidak ingin Tante sampai menangis, aku mengusap-usap lengannya perlahan. ”Sabar ya, Tante,” kataku.

Tante Edgar menghapus air matanya yang keburu keluar, kemudian mencoba tersenyum. ”Edgar pernah cerita tentang Roger ke kamu?”

”Udah beberapa kali, Tante,” akuku.

”Dia sayang sekali sama kakaknya itu,” kata tante Edgar. ”Wajar sih. Mereka memang dekat, terlebih setelah orangtua mereka meninggal.”

Dari cerita-cerita Edgar tentang kakaknya, aku tahu mereka dekat, dan itulah yang membuat kematian Roger begitu memengaruhi Edgar. Aku tidak tahu bagaimana Edgar yang dulu, tapi rasanya dia tidak segetir sekarang.

”Eh, sepertinya kamu familier,” kata Tante, secara tiba-tiba mengalihkan pembicaraan soal diriku. ”Tadi siapa kamu bilang namamu?”

”Natasha, Tante,” sebutku.

”Natasha, ya,” gumam wanita paro baya itu, terlihat mengingatingat. Lalu beliau menepuk tangannya sekali. ”Apa kamu Natasha anaknya Jimmy?”

Karena nama yang disebut memang nama Papa, aku spontan mengangguk, meski heran dari mana beliau tahu tentang Papa. ”Benar, Tante.”

Tante terlihat puas. ”Berarti benar Tante pernah melihat kamu sebelumnya,” katanya. ”Belum lama kamu ngadain pesta ulang tahun keenam belas di Sunflower Hotel, kan? Papamu teman lama suami Tante, makanya kami diundang ke pestamu.” Karena tamu yang datang ke pesta ulang tahun keenam belasku mencapai ratusan, aku tidak ingat siapa saja yang datang. Apalagi Papa juga mengundang cukup banyak teman dan relasi bisnisnya. Aku kaget juga karena om dan tante Edgar datang. Padahal Edgar-nya sendiri tidak datang karena dia tahu aku mengundang Troy. Dia tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan Troy, jadi dia hanya mengucapkan selamat melalui SMS.

Setibanya di depan kamar Edgar, Tante mengetuk pintu dan berseru, ”Edgar, ada teman kamu nih.”

Tidak ada sahutan selama beberapa detik, sampai akhirnya suara ketus Edgar terdengar. ”Masuk aja.”

Tante membuka pintu kamar Edgar dan mempersilakanku masuk. Dengan membiarkan pintu kamar tetap terbuka, beliau pergi setelah aku masuk.

Besar kamar Edgar hampir sama dengan kamar Sophie. Di sisi sebelah kiri, ranjang susun mepet ke tembok, sementara di sisi kanan, rak kaca dan lemari pakaian berdiri berdampingan. Di rak kaca itu, berjajar berbagai piala yang sebagian besar dimenangkan dari lomba debat bahasa Inggris atas nama Roger Julian. Melihat rak kaca dan ranjang susun yang seharusnya untuk dua orang, tidak sulit menebak dulu Edgar menempati kamar ini bersama kakaknya.

Di sudut kanan, terdapat meja belajar, dan tidak jauh ke kiri, tepat di seberang ranjang, terdapat televisi yang menyala, memperlihatkan saluran HBO Signature.

Setelah mengalihkan pandangan dari layar televisi, aku melihat Edgar berusaha duduk di ranjang bawah. Usaha itu membuatnya meringis kesakitan. Rupanya Tante tidak melebihlebihkan ketika mengatakan kondisi keponakannya itu parah. Air mataku bahkan menitik ketika melihat dengan mata-kepalaku sendiri betapa parahnya kondisi Edgar—mata lebam, bibir robek, dan memar di sana-sini.

”Jangan nangis begitu,” sentak Edgar. ”Gue kan belum mati.”

Aku mengabaikan hardikan cowok itu dan membiarkan air mata terus menitik. ”S-siapa... siapa yang melakukan ini sama lo?”

”Nggak penting siapa yang melakukan ini ke gue,” kata Edgar.

Edgar tidak ingin mengatakan siapa pelakunya padaku, tapi aku bisa menebak dengan sendirinya. Baru kemarin aku mengatakan soal kecelakaan Sophie padanya, kini aku menemukan Edgar dalam kondisi babak belur begini.

”A-apa pelakunya geng Cebol?” tebakku.

Edgar tidak menyahut dan aku pun tahu tebakanku benar. Dia pasti mendatangi geng Cebol tadi malam, dengan niat membalas karena mereka mencelakai Sophie. Malang baginya, malah dia yang dihajar habis-habisan. Jangan-jangan dia nekat datang seorang diri, tanpa mengajak anggota gengnya. Jelas saja, itu sih namanya bunuh diri.

Salahku juga. Seharusnya aku tidak perlu ngember soal kecelakaan Sophie segala. Apalagi setelah tahu Edgar menyukai Sophie meski tidak tahu sudah sedalam itu. Kalau Troy masih memiliki Sophie yang bisa memperingatkannya untuk tidak membalas  geng  Cebol,  siapa  yang  bisa  memperingatkan Edgar? ”Jadi ini yang lo maksud dengan menebus kesalahan lo sama Sophie?” tanyaku. ”Lo berusaha membalas geng Cebol?”

”Bajingan-bajingan itu pantas dihajar karena berani-beraninya mencelakai Sophie kayak gitu,” geram Edgar.

”Bukan mereka yang akhirnya dihajar, melainkan lo,” kataku.

Edgar mendengus. ”Seenggaknya gue berhasil menghajar bajingan yang nyerempet motor Sophie.”

”Dari mana lo tahu anggota geng Cebol yang mana yang nyerempet motor Sophie?” tanyaku penasaran.

”Bajingan itu ngaku sendiri,” kata Edgar. ”Dia ngaku sambil ketawa. Bayangin aja, Nat, ketawa! Padahal perbuatannya ke Sophie bisa berakibat lebih parah dari pada sekadar kaki lecet. Kalau itu sampai terjadi, gue nggak akan hanya menghajarnya, tapi membunuhnya sekalian.”

Aku berjengit mendengar Edgar menyebut soal bunuhmembunuh. Semoga saja dia tidak serius.

”Gar, gue ke sini untuk menyampaikan jawaban Sophie akan permintaan maaf lo,” kataku. ”Dia nggak mau menerimanya, karena merasa lo nggak ada salah apa pun sama dia. Dia malah khawatir sama lo. Takut lo kenapa-kenapa, karena masalah lo sama geng Cebol belum selesai.”

Kata-kataku ternyata membawa efek luar biasa untuk Edgar. Bibirnya membentuk senyum. Samar dan sangat singkat, tapi tetap saja senyuman. Aku sampai ingin menyalakan kembang api untuk merayakannya.

”Tipikal Sophie,” gumam Edgar. Dari suaranya saja, aku bisa mendengar sedikit nada riang.

”Makanya lo nggak usah berusaha membalas geng Cebol lagi ya,” bujukku. ”Kasihan Sophie kalau harus terus-terusan khawatir.”

Bagai anak kecil, Edgar dengan patuh mengangguk. Sepertinya nama Sophie sangat ampuh membuat Edgar menuruti apa pun yang kukatakan.

Merasa sudah cukup membicarakan geng Cebol dan Sophie, aku mengalihkan pembicaraan ke topik lain. ”Omong-omong,” kataku. ”Apa lo tahu om lo dan bokap gue teman lama?”

”Nggak tahu dan nggak tertarik untuk tahu,” kata Edgar, yang sepertinya tidak tertarik membicarakan topik lain. Karena itu, aku putuskan pamit pulang.

”Boleh gue minta tolong lagi sama lo, Nat?” pinta Edgar, sebelum aku keluar dari kamar. ”Tentang kondisi gue ini, tolong jangan kasih tahu Sophie ya.”

Seperti permintaan tolong Edgar yang pertama, untuk permintaan tolongnya yang kedua, aku juga tidak sanggup menolak. Memang tidak ada gunanya memberitahu Sophie kondisi Edgar dan membuatnya bertambah khawatir, jadi aku mengangguk.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊