menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 05

Mode Malam
Bab 05
SESUAI janji, Minggu ini aku dan Lionel memasak bersama. Karena kehadiran Austin tidak memungkinkan kami memasak di rumahku, kami memutuskan untuk memasak di rumah Lionel. Sebelumnya kami sudah menentukan apa yang akan dimasak sehingga Lionel telah menyiapkan semua bahan. Aku sempat ngotot untuk menyumbang sedikit bahan masakan, tapi Lionel menolaknya, menjamin semua bahan lengkap tersedia.

Sebenarnya aku sangat tegang harus datang ke rumah Lionel. Ini pertama kali aku datang ke rumah cowok sendirian, setelah sebelum-sebelumnya bersama teman-temanku, misalnya untuk kerja kelompok.

”Di rumah lo ada siapa aja, Nel?” tanyaku, tidak tahan untuk tidak bertanya, karena siapa tahu kami hanya akan berdua. Itu lebih parah lagi.

”Ada oma gue sama Bi Melati, asisten rumah tangga gue,” jawab Lionel. ”Bokap gue lagi di Jepang buat urusan bisnis.”

Fiuh, untunglah kami tidak akan berdua saja. ”Oma lo keberatan nggak gue datang?” tanyaku khawatir. ”Tentu aja nggak,” jawab Lionel yakin. ”Beliau paling senang

kalau ada teman gue datang.”

Bisa jadi Lionel hanya berusaha menenangkanku. Tetap saja rasa tegangku terus bertahan sampai mobil Lionel berhenti di depan rumahnya. Dia tidak memasukkan mobil ke garasi agar memudahkan nanti mengantarku pulang.

Turun dari mobil, aku meremas kedua tangan untuk menyalurkan ketegangan. Lionel tersenyum geli melihat wajahku yang mungkin tampak pucat.

”Tenang, Nat, gue nggak lagi bawa lo ke rumah hantu kok,” goda Lionel, yang meski sedikit, sukses memancing senyum di tengah-tengah pucatnya wajahku.

Awalnya, aku tidak menyadari keberadaan perempuan tua yang duduk di kursi rotan di teras ketika Lionel mengajakku masuk melewati pintu gerbang rumahnya. Perempuan itu berdiri, meneliti siapa yang masuk, dan aku kontan berhenti di tempat.

”Oma,” sapa Lionel pada perempuan berdaster hitam kembang-kembang jingga. Rambutnya sudah putih semua.

”Lionel,” balas Oma, senang cucunya sudah pulang meski Lionel hanya pergi menjemputku, jadi belum terhitung lama meninggalkan rumah. Beliau menyipitkan mata, memandang ke belakang Lionel, mungkin kesulitan melihatku. Aku menghampirinya, menyusul Lionel yang berada beberapa langkah di depanku.

Lionel berhenti di teras, di depan omanya, dan aku mengikutinya. Kami sama-sama membuka mulut—aku ingin menyapa oma Lionel, sedangkan Lionel sepertinya ingin memperkenalkanku—tapi juga sama-sama keduluan oma Lionel. ”Apa ini Ivy?” tanya oma Lionel, menatapku dengan ekspresi tertarik.

Aku sempat bengong karena disangka Ivy. ”Bukan, Oma,” ralat Lionel. ”Ini Natasha.”

Oma Lionel menepuk keningnya. ”Aduh, maaf ya, Natasha,” katanya tidak enak. ”Oma kira kamu Ivy. Habis Lionel sering cerita soal Ivy, tapi nggak pernah bawa anak itu ke sini.”

Kalau Lionel memang sering bercerita soal Ivy pada omanya, berarti dia tidak menutup-nutupi soal cewek yang disukainya. Itu salah satu bukti yang menunjukkan hubungan dengan omanya pasti sangat dekat.

”Nggak apa-apa kok, Oma,” kataku, juga tidak enak karena beliau sampai harus minta maaf begitu padaku, padahal itu bukan masalah besar. ”Maaf ya, saya datang Minggu begini. Takutnya mengganggu Oma yang mau istirahat.”

”Aduh, aduh, kok malah minta maaf?” protes Oma. ”Mau kamu datang setiap hari juga nggak apa-apa kok. Oma malah senang ada yang nemenin.”

Lionel menatapku dengan ekspresi gue-bilang-juga-apa, lalu menuntun omanya ketika kami bertiga masuk. Dia mendudukkan omanya di sofa ruang tamu dan mempersilakanku duduk. Aku duduk di sofa yang sama dengan Oma.

”Lionel, ambilin minuman buat Natasha ya,” pinta Oma. ”Sekalian sama nastar dan kastengel yang ada di ruang makan. Nggak bisa nyuruh si Melati, lagi ke minimarket. Baru aja berangkat sebelum kalian datang.”

”Aduh, Oma, nggak usah repot-repot,” tolakku, lagi-lagi tidak enak karena beliau menjamuku sampai sebegitunya. Aku menggeleng pada Lionel yang belum sempat duduk. ”Nggak  repot  kok,”  sergah  Oma.  Lionel  mengabaikan  gelenganku, menghilang dari ruang tamu. ”Sayang nastar dan kastengel nggak ada yang makan. Lionel nggak begitu suka.”

”Oh,” cetusku. Menyerah karena Oma jelas tidak akan menerima penolakanku, aku berkata, ”Makasih kalau begitu, Oma.”

Oma tampak puas, dan setelah itu beralih menanyakan soal diriku. ”Kamu dan Lionel satu sekolah?”

”Nggak, Oma,” jawabku. ”Saya sekolah di SMA Soteria.” ”Kok bisa kenal Lionel?” tanya Oma bingung.

Tidak mungkin aku menjawab bahwa aku mengenal Lionel karena dulu aku pacar sahabatnya. Sebagai gantinya, aku menjawab, ”Kami punya teman yang sama.”

”Oh, apa teman kalian itu Troy?” tanya Oma tepat sasaran, padahal tadinya aku tidak ingin menyebut-nyebut soal Troy.

Tergagap, aku menjawab, ”I-iya, Oma.”

”Troy sejak SMP sering main ke sini,” kata Oma. ”Tapi dia nggak pernah bawa adiknya ke sini, padahal Oma penasaran ingin lihat Ivy. Oma kira Ivy pacar Lionel, tapi ternyata malah kamu.”

”Eh?” cetusku kaget. Kenapa aku disangka pacar Lionel? ”Tapi saya bukan—”

”Nggak apa-apa, karena sejauh ini Oma juga suka sama kamu,” kata Oma, tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikan kalimatku. ”Kamu cantik, sopan, dan kelihatan cocok sama Lionel.”

Pujian Oma membuatku tersipu, dan di sisi lain, juga membuatku tidak tega untuk mengoreksi bahwa aku bukan pacar Lionel. Kubiarkan saja beliau menyangka begitu, dan berharap nanti Lionel sendiri yang mengoreksinya. Nastar dan kastengel tersaji di meja kopi di depanku beberapa menit kemudian, bersama Fanta stroberi yang semuanya dibawakan Lionel. Demi menghargai jamuan tersebut, aku memakan kue-kue itu dan menghabiskan Fanta.

”Oma udah minum obat?” tanya Lionel di tengah obrolan kami yang kebanyakan masih mengenai diriku, karena sepertinya itulah topik yang paling membuat Oma tertarik.

”Sudah,” jawab Oma. ”Nanti satu lagi Oma minum habis makan siang.”

”Kalau begitu, Oma istirahat dulu yuk,” ajak Lionel. ”Lionel sama Natasha mau masak makan siang. Nanti kalau udah jadi, Lionel panggil Oma.”

Menuruti cucunya, Oma pun pamit padaku. Dituntun Lionel, mereka menghilang dari ruang tamu. Ketika Lionel kembali, ia mengajakku ke dapur.

Dapur Lionel dihiasi kitchen cabinet bernuansa krem. Meja bar dipenuhi berbagai bahan masakan. Melihatnya saja, hatiku sudah melonjak senang—hal yang selalu terjadi setiap kali aku akan memasak.

”Bahan-bahan yang gue taruh di freezer, udah gue keluarin sebelum jemput lo,” kata Lionel. ”Kalau gue keluarin pas kita mau masak, akan bisa lama defrosting-nya.”

Aku mengangguk mengerti dan mendekati meja bar untuk memeriksa bahan-bahan masakan. Lengkap seperti yang dikatakan Lionel, jadi aku tidak perlu khawatir.

”Udah selesai inspeksinya?” tanya Lionel geli.

”Udah dong,” jawabku. ”Selamat ya, lo lolos inspeksi.”

Kami sama-sama tertawa, dan tanpa membuang waktu segera memulai memasak. Lionel mencuci bahan-bahan, aku lanjut memotong-motongnya. Soal potong-memotong, Lionel mengaku bukan keahliannya, karena sering kali hasilnya panjang-pendek sehingga dia menyerahkannya padaku.

Kami juga bergantian merebus, menumis, dan memasukkan bumbu-bumbu. Semuanya berjalan lancar, sampai ketika aku membalur cumi dengan tepung, ada tepung yang mengotori wajahku. Aku berusaha menyingkirkan rambut-rambut nakal dari wajahku, padahal sudah mengikatnya menjadi kucir ekor kuda, dan tidak sadar tanganku berlumuran tepung.

Lionel, yang akan mengambil cacahan bawang putih dari talenan di meja bar, dekat piring lebar berisi cumi dan tepung, menyadari keberadaan tepung di wajahku. Dia mendekatiku, membuatku otomatis menghadapnya, dan dengan punggung tangannya, dia membersihkan tepung itu dari wajahku.

Sentuhan cowok itu membuatku tegang. Aku berdiri kaku sementara dia tidak beranjak dari sisiku. Mata kami bertautan, dan aku melihat kelembutan memancar dari matanya.

Jantungku bertalu-talu, menyadari betapa dekatnya posisiku dan Lionel. Entah berapa lama kami akan saling menatap seperti itu kalau tidak mendadak terdengar suara yang membuat kami terlonjak dan menjauhkan diri satu sama lain.

”Den Lionel, ada yang bisa Bibi bantu?”

Aku dan Lionel berbarengan menoleh ke sumber suara, dan melihat perempuan setengah baya berdiri di muka dapur sambil menenteng beberapa kantong plastik. Kutebak dia Bi Melati, yang baru pulang dari minimarket.

”Nggak usah, Bi,” tolak Lionel. ”Bibi jaga-jaga di dekat kamar Oma aja, takut Oma manggil.”

Bi Melati hanya mengangguk dan tersenyum saat berpaling padaku yang dengan segera kubalas, meski terlihat jelas dia penasaran dengan identitasku. Dia mengeluarkan barang-barang belanjannya dari kantong plastik, meletakkannya di kulkas dan di kabinet dapur, baru kemudian menghilang dari dapur, meninggalkanku dan Lionel dalam kecanggungan yang diakibatkan kejadian tadi.

Apa sebenarnya yang kami lakukan tadi? Kenapa kami malah saling menatap seperti itu, seakan kami pasangan yang sedang dimabuk cinta?

Mau tak mau, aku jadi teringat kata-kata Ellen, ketika aku memberitahunya dan Portia soal janjiku dengan Lionel yang akan memasak bersama.

”Nanti kayak di film-film, lagi, muka lo belepotan tepung, terus sama Lionel dibersihin pakai tangannya, terus kalian tatap-tatapan mesra, terus akhirnya ciuman deh.”

Kenapa kata-kata Ellen bisa menjadi kenyataan seperti itu, seolah dia peramal saja? Yah, kecuali bagian ciuman sih, tapi itu juga mungkin terjadi, kalau acara tatap-menatap tadi tidak diinterupsi Bi Melati.

Berusaha menghilangkan kecanggungan, aku dan Lionel kembali menyibukkan diri. Aku lebih berhati-hati membalur sisa-sisa cumi dengan tepung, tidak ingin tepung mampir ke wajahku lagi.

Tidak sampai setengah jam kemudian, masakan berupa tumis buncis daging cincang, cumi goreng tepung, dan sup hipio sudah terhidang di meja makan; dikelilingi olehku, Lionel, dan omanya. Aku duduk di sebelah kiri Oma, sedangkan Lionel di sebelah kanan. ”Masakanmu  enak,  Natasha,”  puji  Oma  setelah  mencicipi semua masakan.

”Bukan cuma saya kok yang masak, Oma,” kataku, tidak ingin mengambil pujian itu untuk diri sendiri. ”Lionel juga ikut masak.”

”Bohong,” tuduh Lionel, yang tentunya hanya berpura-pura. ”Semuanya Natasha yang masak, Oma. Lionel bantuin dikit-dikit aja.”

”Nggak kok,” tukasku buru-buru, tidak ingin Oma memercayai kebohongan cucunya. ”Sup hipionya hampir semuanya dikerjain Lionel.”

”Iya, iya, Oma percaya,” kata Oma, geli mendengar perdebatanku dan Lionel. Untuk mempertegas, beliau meralat katakatanya yang sebelumnya, ”Masakan kalian berdua enak.”

Bukan ingin memuji diri sendiri, tapi masakan kali ini memang terasa lebih enak dari biasanya. Mungkin karena aku memasaknya bersama Lionel. Dia tidak bohong saat bilang dia bisa masak, bahkan mungkin lebih jago dari yang diakuinya—di luar ketidakahliannya dalam potong-memotong.

”Yang ajarin kamu masak siapa, Natasha?” tanya Oma. ”Mama kamu?”

”Bukan, Oma,” ralatku. ”Mama saya justru nggak bisa masak.

Yang ajarin Bi Ina, kepala asisten rumah tangga di rumah.” ”Oh,” cetus Oma. ”Lionel nggak ada yang ngajarin, bisa sen-

diri. Meski kadang bentuknya aneh, rasa masakannya enak.” Lionel merengut. ”Oma sebenarnya mau muji atau nyindir

Lionel sih?” protesnya, membuat meja sempat ramai oleh tawaku dan omanya.

”Kamu tahu, Natasha,” kata Oma setelah tawa kami mereda, ”kamu ngingetin Oma sama mama Lionel. Selain cantik, dia pintar memasak. Oma beruntung punya menantu seperti dirinya.”

Aku ingat Lionel pernah bilang ibunya sudah tidak ada sejak dia kecil. Mungkin itu yang menjelaskan kenapa Lionel sekarang hanya menunduk menatap makanan, tampak sedih begitu topik mengenai ibunya diangkat.

”Sayang dia harus pergi begitu cepat, karena leukemia,” lanjut Oma. ”Waktu itu Lionel masih kecil sekali, baru lima tahun, mungkin nggak terlalu ingat mamanya. Yang jelas, mamanya sangat sayang sama dia. Dan nggak peduli meski lagi sakit, mamanya tetap telaten merawatnya.

”Sejak mamanya meninggal, Oma yang mengambil alih mengurus Lionel karena papanya sibuk dengan kerjaan. Untungnya Lionel nggak bandel kayak anak cowok umumnya, jadi nggak susah mengurusnya.”

”Udah ah, Oma,” kata Lionel, risi dijadikan topik pembicaraan. ”Omongin yang lain aja. Natasha pasti nggak mau dengar soal Lionel.”

”Siapa bilang?” cetusku. ”Saya mau dengar soal Lionel kok, Oma. Kan lumayan, saya jadi banyak tahu dia.”

Oma tampak senang, dan malah semakin membuat Lionel risi dengan mengajakku melihat-lihat album foto Lionel ketika dia masih kecil, tentu setelah kami selesai makan. Wajah Lionel baru berubah lega ketika aku dan omanya selesai melihat semua album. Sebelum omanya sempat menunjukkan hal-hal lain yang berkaitan dengan dirinya, dia segera mengajakku pulang. Ketika pamit, beliau berpesan agar aku sering-sering mampir ke rumahnya, dan aku mengiakan saja meski tidak tahu apa Lionel akan mengajakku lagi.

”Oma lo baik banget,” pujiku ketika dalam perjalanan ke rumahku.

”I know, right?” tanggap Lionel. ”She’s the best.” ”Beliau sayang banget sama lo,” tambahku.

”Gue juga sayang banget sama Oma,” kata Lionel, seakan tidak mau kalah. ”Gue berusaha menjadi cucu yang baik buat Oma, meski kayaknya belum terlalu berhasil. Yang jelas, gue pengin membuat Oma bangga sama gue.”

”Biar gimana pun, beliau pasti bangga sama lo, Nel,” kataku. ”Semoga aja begitu,” harap Lionel.

Aku teringat sesuatu. ”Kayaknya ada yang perlu lo koreksi sama oma lo: gue bukan pacar lo.”

Lionel tertawa kikuk. ”Yah... Oma selalu nyuruh gue ngajak pacar ke rumah, nggak peduli gue berkali-kali bilang nggak punya pacar,” katanya. ”Begitu Oma ngelihat gue ngajak lo, secara otomatis Oma nganggap lo pacar gue.”

”Pacar yang dimaksud beliau itu Ivy?” tanyaku.

Tawa kikuk Lionel berlanjut. ”Gue selalu cerita sama Oma mengenai berbagai hal, termasuk tentang Ivy,” katanya. ”Jadi Oma tahu gue...” Kata-katanya mengambang, seakan dia terlalu malu untuk melanjutkannya.

”... suka sama Ivy?” aku berbaik hati melanjutkannya.

”... suka sama Ivy,” Lionel membeo, untuk pertama kali mengakui padaku soal perasaannya pada Ivy. Dia sampai salah tingkah sendiri.

”Apa lo masih suka sama Ivy sampai sekarang, Nel?” tanyaku penasaran. ”Bohong kalau gue bilang udah nggak, Nat,” aku Lionel. ”Dulu, pertama kali ngelihat Ivy, dia masih kelas lima SD. Gue belum suka dia, masih nganggap dia sebatas adik sahabat gue aja. Pas kami sama-sama SMP, perasaan itu mulai timbul, meski belum dalam skala besar. Gue mulai serius suka dia sejak dia kelas delapan, tapi nggak pernah berani ngungkapin... sampai beberapa bulan lalu. Itu juga spontan banget, nggak pakai rencana. Tapi yah, lo tahu sendiri hasilnya.” Dia tersenyum kecut. ”Gue bukannya nggak mau memperjuangkan Ivy, tapi tahu perasaan dia bukan buat gue, dan gue nggak mau maksa. Lagi pula gue lihat dia bahagia banget sama Austin, jadi gue nggak berencana merebutnya dari Austin atau semacamnya.”

Seharusnya aku merekam kalimat-kalimat terakhir Lionel, jadi Austin bisa mendengarnya, dan berhenti salah paham pada Lionel.

”Gue lagi berusaha ngelupain Ivy, meski belum berhasil sampai saat ini,” lanjut Lionel. ”Dalam prosesnya, gue nggak mau sampai ngejauhin Ivy, karena gue tahu itu akan membuat dia sedih.”

”Move on emang sulit ya, Nel,” gumamku.

”Tapi bukan berarti nggak mungkin,” kata Lionel. Lalu dia melirikku penuh pengertian. ”Masih belum bisa move on dari Troy, ya?”

Aku mendesah. Sepertinya ini giliranku untuk bercerita. ”Gue bingung gimana caranya, Nel,” keluhku. ”Meski sekarang dia udah sama Sophie pun, gue masih suka kepikiran dia. Padahal kan nggak boleh. Aneh kan, setelah dicampakkan dan ditolak balikan, gue masih aja berharap sama dia.”

”Ditolak balikan...?” ulang Lionel. Dengan malu aku mengangguk. ”Gue pernah minta balikan sama dia, tapi ditolak. Dia bilang udah nggak ada perasaan apa pun lagi sama gue,” akuku. ”Sakit sih rasanya, tapi mau bagaimana lagi? Gue kan nggak mungkin maksa dia.”

Lionel diam sesaat, lalu berkata, ”Troy mungkin salah dengan mencampakkan  lo,  Nat,  tapi  dia  nggak  jahat.  Gue  ngomong begini bukan karena gue sahabatnya, tapi emang kenyataannya begitu. Dia juga sedih berpisah sama lo. Karena saat itu, dia benar-benar suka sama lo. Dia mengabaikan seluruh usaha lo untuk menghubungi dia saat itu. Karena dia takut hatinya akan melemah dan berakhir dengan kebersamaan kalian lagi. Padahal dia menganggap itu nggak boleh, mengingat status lo sebagai adik Austin.”

Aku terpana mendengarnya. Sungguh aku tidak tahu perpisahan kami sempat membuat Troy sedih. Kupikir dia dengan mudahnya berpindah ke cewek lain, cewek yang dengan sengaja dipeluknya di depanku saat aku berusaha mengonfrontasinya. ”Troy emang suka bertindak impulsif, nggak mikir akibatnya,” lanjut Lionel. ”Soal geng juga begitu. Dia seenaknya masuk jadi anggota geng di sekolah kami, padahal sebenarnya nggak ada bagusnya. Emang dia nggak pernah maksa gue masuk, tapi gue tetap masuk karena gue merasa perlu ngawasin dia. Gue takut, kalau dengan masuk geng begitu, dia akan sering kena masa-

lah.”

Aku tersenyum. ”Troy beruntung punya sahabat sebaik lo, Nel,” pujiku.

”Nggak sebaik itu, Nat,” kilah Lionel. ”Gue nggak akan sok suci dengan bilang gue sekadar ngawasin Troy. Kenyataannya gue sering kebawa-bawa juga, bahkan ikutan ngelakuin yang buruk-buruk, berantem misalnya.”

”Itu nggak bisa dihindari sih, karena lo kan anggota geng,” kataku mengerti. ”Berantem udah jadi ciri khas geng-geng SMA kayak kalian, kan?”

”Nggak semuanya sih,” kata Lionel. ”Ada yang nggak, dan malah membentuk geng untuk melakukan hal-hal yang bisa membanggakan sekolah, tapi yah... kebanyakan emang berantem melulu.”

Geng Austin termasuk salah satu yang suka berantem melulu itu. Sudah sering aku melihat Austin pulang dengan tubuh memar-memar, tapi tidak juga kapok.

”Kok kita jadi ngomongin geng ya?” ujar Lionel, sadar topik pembicaraan kami melenceng. ”Balik ke soal Troy. Nanti juga lo bisa move on dari dia, Nat. Sekarang belum saatnya aja. Gue juga berharap sama soal gue dan Ivy.”

Aku mendesah. ”Troy Cornelius dan Ivy Cornelia, dua kakakberadik itu emang ahli membuat orang sulit move on ya, Nel,” gumamku. Dan salah satu dari kedua kakak-beradik itu, kemudian menelepon Lionel.

”Ivy?” sapa Lionel di telepon, setelah dia mengangkatnya. ”Ada apa?” Diam sesaat, lalu, ”Nggak, Vy. Troy nggak lagi sama aku. Emangnya kenapa?” Tampaknya Ivy berbicara panjang-lebar, karena cukup lama Lionel hanya diam dengan kening berkerut, sebelum akhirnya, ”Serius? Terus dia nggak apa-apa?” Diam sesaat lagi, lalu, ”Oke, Vy. Aku akan cari Troy sekarang, dan nyuruh dia ke rumah Sophie.” Telepon pun terputus.

”Ada apa, Nel?” tanyaku penasaran. Lionel melirikku dengan gelisah. ”Sophie jatuh dari motor,” katanya. ”Dia diserempet orang yang lagi-lagi ngikutin dia.”

Aku terbelalak. ”Terus Sophie-nya gimana? Dia nggak apa-apa, kan?” tanyaku khawatir.

”Ivy bilang kaki Sophie cuma lecet sedikit,” kata Lionel. ”Tapi dia nangis-nangis terus, nyariin Troy. Sedangkan Troy-nya lagi nge-gym, HP-nya nggak bisa dihubungin.”

”Lo mesti ke tempat gym Troy, Nel,” saranku.

”Rencana gue emang begitu,” kata Lionel. ”Apa lo mau gue antar pulang dulu atau—”

”Gue ikut lo,” potongku cepat, tidak ingin Lionel membuangbuang waktu dengan mengantarku pulang dulu. Kasihan Sophie, pasti sangat membutuhkan Troy sekarang.

Dalam waktu singkat, mobil Lionel sudah sampai di depan Maximum Gym, tempat gym Troy. Setelah memarkir, kami segera turun, dan menuju pintu masuk. Beruntungnya kami! Tanpa perlu mencari-cari, kami malah berpapasan dengan Troy yang baru keluar dari sana.

”Ngapain kalian di sini?” tanya Troy padaku dan Lionel, tampak heran melihat kami bisa berada di sana. ”Mau nge-gym juga?”

”Bukan,” sanggah Lionel. ”Kami nyariin lo.” ”Kenapa nyariin gue?” tanya Troy.

”Dari tadi Ivy berusaha ngehubungin lo, tapi nggak bisa-bisa,” kata Lionel. ”Jadi gue mutusin bantuin dia dengan datang ke sini sama Natasha.”

”HP sengaja gue matiin tadi, lupa nyalain lagi.” Troy berkata sembari merogoh saku celananya, mencari ponsel. ”Kenapa Ivy berusaha ngehubungin gue?” ”Buat ngasih tahu lo Sophie jatuh dari motor,” kata Lionel. ”Dia di...—Troy!” Dia sudah tidak lagi didengarkan, karena bertepatan dengan kalimat pertamanya selesai diucapkan tadi, Troy sudah berlari ke mobilnya.

Tidak pernah kulihat Troy bergerak secepat itu. Sedetik dia ada di hadapanku dan Lionel, dan sedetik kemudian dia sudah tiba di dekat mobilnya. Aku dan Lionel pun segera menyusulnya.

”Mana sih tukang parkirnya?!” seru Troy tidak sabar, karena ada mobil yang parkir paralel di belakang mobilnya.

”Naik mobil gue aja, Troy,” tawar Lionel, tahu Troy tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena dia tampaknya sudah siap menghancurkan mobil lain.

Troy menerima tawaran Lionel, mengikuti Lionel yang memimpin jalan ke arah mobilnya. Aku mengikuti mereka.

Di mobil, Troy yang menggantikanku duduk di jok penumpang depan, sementara aku pindah ke jok belakang. Cowok itu melanjutkan mencari ponsel, dan langsung menelepon Sophie begitu menemukannya. Sepertinya Sophie mengangkatnya pada deringan pertama, bukti bahwa dia memegang ponselnya sepanjang waktu, menunggu Troy menghubunginya. Cowok itu sudah berbicara padanya tidak lama setelah menempelkan ponsel ke telinga.

”Sophie, kamu nggak apa-apa?” tanya Troy. Aku bisa mendengar tangisan Sophie yang kencang sebagai jawabannya. ”Udah, kamu jangan nangis. Aku dalam perjalanan ke rumahmu.” Sepanjang perjalanan ke rumah Sophie, Troy tidak menyudahi pembicaraannya dengan Sophie, berusaha menenangkannya.

Mobil Austin terlihat di depan rumah Sophie ketika mobil Lionel sampai di sana. Austin tidak bilang dia mau pergi, jadi mungkin Ivy yang meneleponnya dan meminta mengantar ke rumah Sophie setelah mendengar berita kecelakaan itu.

Lionel memarkir mobil di belakang mobil Austin, dan Troy orang pertama yang turun dari mobil. Sepertinya Sophie menyuruh seseorang menanti kedatangan Troy, sebab tanpa memencet bel pun, sudah ada yang membukakan pintu.

Yang membukakan Troy pintu adalah cowok berwajah luar biasa imut, bahkan lebih imut dari Ellen yang sudah seperti anak SD. Sepertinya itu adik Sophie yang bernama Jason.

Troy masuk begitu saja tanpa menyapa, meninggalkan Jason yang masih membuka pintu untukku dan Lionel. Semakin dekat kami dengannya, wajahnya perlahan-lahan berubah terkejut. Yang membuat Jason terkejut adalah aku, sebab akulah yang sedang ditatapnya. Dia sama sekali tidak menoleh pada Lionel.

”N-natasha?” ceplos Jason.

Lho, kok anak itu tahu namaku? Apa Sophie pernah menceritakan tentangku padanya? Ah, tapi untuk apa? Sophie kan membenciku, jadi tidak mungkin dia menceritakan tentangku pada adiknya, kecuali untuk menjelek-jelekkanku. Eh, aku tidak boleh berprasangka buruk seperti itu.

”Eh... halo,” sapaku, membuat wajah Jason merah padam seperti kepiting rebus.

”M-masuk,” kata Jason mempersilakan.

Aku tersenyum penuh terima kasih, tapi sepertinya itu salah. Wajah merah padam Jason sudah seperti kepiting yang direbus untuk kedua kalinya. Tidak ingin menyiksanya lebih lama lagi, aku segera masuk ke rumah bersama Lionel, membiarkan Jason menutup pintu.

Austin ada di ruang tamu, duduk sambil memainkan ponselnya. Dia mendongak ketika mendengar langkah kami, dan mendengus begitu melihat kami.

”Dari pagi udah ngilang, kirain ke mana,” kata Austin sinis. ”Ternyata malah pergi sama dia.”

Austin berada di kamarnya ketika Lionel menjemputku. Aku juga tidak bilang padanya bahwa aku mau pergi, karena tahu dia akan bersikap persis seperti ini. Tidak disangka-sangka, kami malah bertemu di sini.

”Austin, ini rumah orang,” bisikku memperingatkan. ”So?” tanggap Austin menyebalkan.

”Jaga sikap sedikit dong,” kataku, sedikit kesal.

Austin akan menanggapi lagi, tapi Jason sudah keburu muncul di ruang tamu. Merasa itu kesempatan bagus untuk memisahkan Austin dan Lionel, aku bertanya pada Jason, ”Sophie di mana ya?”

Ditanya  tiba-tiba,  Jason  gelagapan.  ”D-di...  di  kamarnya,” jawabnya, menunjuk ke pintu di sebelah kiri ruang keluarga yang terlihat dari sini.

Mengajak Lionel, aku menuju pintu yang ditunjuk Jason. Setelah mengetuk dan dipersilakan masuk—sepertinya oleh Ivy—aku membukanya, dan langsung disambut tangis Sophie.

Kamar Sophie cukup besar, meski tidak sebesar kamarku. Ranjang queen-size terletak di tengah dengan nakas di kirinya, di atasnya terdapat bingkai Rilakkuma memenuhi setiap sisinya, berisi foto cewek itu dengan Troy. Lemari pakaian ada di kanan ranjang. Di seberang ranjang terdapat meja rias. Awalnya,  Sophie  tidak  menyadari  siapa  yang  masuk  ke kamarnya, apalagi dia teralang tubuh Troy yang duduk di ranjang. Ivy duduk di bangku meja rias Sophie. Semakin aku masuk ke kamarnya, dia menangkap diriku dan Lionel, dan aku tidak bisa bilang dia senang dengan salah satu tamu yang dilihatnya.

”Ngapain lo datang ke rumah gue?” tuntut Sophie padaku. ”Mau ngetawain kaki gue?”

Karena Sophie menyebut-nyebut soal kakinya, refleks aku melirik ke kakinya yang dibalut perban. Dilihat dari perban itu, sepertinya luka Sophie tidak terlalu parah.

”Sophie,” Troy dan Ivy memperingatkan secara bersamaan. ”Emang benar, kan?” tuntut Sophie, tak memedulikan per-

ingatan itu. ”Lo pasti senang ngelihat kaki gue luka begini, sedangkan kaki lo mulus-mulus aja?”

Aku hanya bergerak salah tingkah karena terus disemprot, padahal apa yang terjadi dengan kaki Sophie bukan salahku. Yang menjadi salahku, aku nekat menjenguknya sementara dia tidak mengharapkannya.

”Sophie, kok kamu begitu sih ngomongnya?” omel Troy. ”Natasha kan baik mau jenguk kamu, kenapa malah diomel-omelin begitu?”

”H-habis, aku kan lagi sedih sama kakiku,” kata Sophie, kembali terisak. ”Kakiku codet begini, pasti kamu nggak suka lagi sama aku, bakal mutusin aku.”

Troy mendesah. ”Miss Wyna, aku nggak akan mutusin kamu hanya karena kaki kamu codet.”

”A-apa menurut kamu codetnya bisa hilang?” tanya Sophie khawatir.

”Lama-lama pasti hilang kok,” kata Troy yakin. ”Kalau nggak hilang...?” kejar Sophie. ”Kamu pasti akan mutusin aku dan berpaling ke cewek-cewek berkaki mulus.”

Troy habis kesabaran. ”Mau cewek-cewek itu punya delapan kaki yang mulus-mulus sekalipun, aku tetap nggak akan mutusin kamu.”

”Ih, delapan kaki! Emangnya kamu pikir mereka laba-laba?” kata Sophie dongkol, tapi sedikit lebih tenang, karena tahu luka di kakinya tidak akan membuat Troy memutuskan hubungan mereka.

Sophie kembali fokus pada Troy dan melupakan keberadaanku.

Aku menarik napas lega.

Ivy menghampiriku dan Lionel. ”Sori ya,” bisiknya padaku. ”Sophie lagi sensitif banget sama kakinya, jadi nyari orang yang bisa dijadiin kambing hitam. Sialnya, lo yang kena.”

”Nggak apa-apa kok,” kataku memaksakan senyum. ”Gue ngerti.”

”Detail kecelakaan Sophie kayak gimana sih, Vy?” tanya Lionel di sebelahku.

”Tadi Sophie mau ke minimarket, tapi sebelum nyampe, orang yang dulu ngikutin kami nyerempet motornya,” cerita Ivy. ”Kayaknya dia udah ngikutin sejak Sophie masih di rumah, dan itu berarti, dia ngawasin rumah ini. Begitu Sophie jatuh, dia langsung kabur. Sophie nelepon Troy, tapi karena Troy nggak bisa dihubungin, dia nelepon aku. Aku minta Austin antar aku ke sini sambil terus berusaha hubungin Troy. Karena sampai aku tiba di rumah Sophie masih nggak bisa hubungi Troy juga, aku nelepon kamu. Aku nggak tahu tempat gym Troy. Sambil nungguin Troy, aku sama Jason ngobatin kaki Sophie. Kasihan, orangtuanya lagi di luar kota.” Pada akhir cerita Ivy, Troy tiba-tiba menghampiri kami. ”Vy, temenin Sophie dulu ya,” katanya pada Ivy, yang langsung diiakan Ivy. Lalu pada Lionel, dia berkata, ”Ikut gue sebentar, Nel.” Mereka pun sama-sama keluar kamar.

Sementara Ivy menggantikan Troy duduk di sisi ranjang, berusaha menenangkan Sophie yang meratapi kakinya, aku meletakkan gelas berisi sirop jeruk yang baru seperempat kosong di meja rias Sophie, dan mendekati pintu kamar yang tidak tertutup sempurna setelah Lionel dan Troy keluar. Melalui celah di pintu itu, aku mencuri dengar percakapan mereka dengan Austin di ruang tamu.

”Edgar udah kasih gue kepastian tadi malam.” Itu suara Troy, dan tampaknya ditujukan pada Austin, karena Lionel seharusnya sudah tahu apa pun yang ingin dikatakan Troy. ”Dia bilang orang yang ngikutin Ivy, Sophie, dan Natasha emang anggota geng Cebol. Dia sendiri yang mendatangi mereka dan mendapat info itu. Dugaannya tepat, status ketiga cewek itu yang membuat geng Cebol ngikutin mereka, supaya kita membantu Edgar mencari dokumen yang mereka minta. Setelah geng Cebol yakin kita tahu mereka yang ngikutin cewek-cewek itu, mereka menjadi-jadi dengan mencelakai Sophie kayak gitu.”

”Lo nggak akan diam aja, kan?” Suara Austin terdengar serius.

”Gue mau mendatangi mereka dan menghajar mereka sampai mampus,” kata Troy, ”tapi gue telanjur janji sama Sophie bahwa gue nggak akan melakukannya.”

Sophie tahu Troy berniat membalas geng Cebol karena telah mencelakainya. Sophie melarangnya karena tidak mau Troy celaka. ”Kita harus mempertimbangkan untuk membantu Edgar, Troy.” Lionel berusaha memberikan saran pada Troy. ”Kalau Edgar nggak juga nemuin dokumen itu, apa lagi yang kiranya bakal dilakuin geng Cebol, padahal sekarang aja mereka udah berani mencelakai Sophie kayak gitu? Apalagi masih ada Natasha dan Ivy.”

Hawa dingin merambat di punggungku begitu mendengar kalimat terakhir Lionel. Atau mungkin, karena Ivy tiba-tiba ada di belakangku, mengagetkanku.

”Lagi nguping, ya?” bisik Ivy menyeringai.

Aku mengangguk malu-malu. ”Habis penasaran sih,” akuku. ”Mereka lagi ngomongin kita lho.”

Ivy jadi tertarik. ”Oh, ya? Gue ikutan nguping deh.” Dia benarbenar meninggalkan Sophie, yang kini seorang diri meratapi kakinya.

”Gue setuju sama Lionel,” kata Austin, meski jelas sangat terpaksa mengatakannya. ”Gue nggak mau Natasha dan Ivy sampai kenapa-kenapa.”

”Gimana kita bisa membantu Edgar mencari dokumen itu kalau kita sama sekali nggak tahu dokumen apa itu?” tanya Troy.

”Kita cari tahu sebisanya dari Edgar,” kata Lionel. ”Meski dia juga udah pernah bilang dia nggak tahu. Seenggaknya dia pernah ngelihat dokumen itu, jadi mungkin ada detail yang dia ingat.”

Tidak terdengar apa pun lagi dari luar selama beberapa saat, sampai Troy berkata, ”Oke, kita akan membantu Edgar. Sebelum dokumen itu ditemukan, nggak ada seorang pun dari Ivy, Sophie, dan Natasha yang boleh ke mana-mana sendirian. Austin, kalau Ivy lagi nggak sama gue, tolong bantu jagain dia ya.”

Kapan lagi bisa mendengar Troy meminta tolong pada Austin untuk menjaga Ivy? Dulu dia sampai memukuli Austin karena berani memacari Ivy.

”Lo nggak perlu minta,” kata Austin mantap.

Di sebelahku, Ivy tersenyum-senyum sendiri. Ketika aku bertanya kenapa, dia berkata, ”Gue senang kalau lihat Troy dan Austin lagi akur begitu.”

Pembicaraan  Austin,  Lionel,  dan  Troy  tampaknya  sudah selesai. Begitu aku dan Ivy mendengar langkah-langkah mendekat, kami kontan menjauh dari pintu. Troy masuk tak lama kemudian, tapi tidak bersama Lionel.

”Bisa nggak sih kaki dioperasi plastik?” tanya Sophie, sepertinya menujukannya pada Troy, karena cowok itu yang ditatapnya.

”Astaga, Sophie! Masih soal itu juga?” seru Troy tidak percaya.

Aku tidak mendengarkan perdebatan Troy dan Sophie karena mendadak teringat sesuatu. Kalau Lionel tidak ikut masuk, berarti dia di luar bersama Austin. Mungkin ada Jason juga sih, tapi keberadaannya pasti tidak begitu berpengaruh.

Ivy sepertinya memikirkan hal yang sama denganku, karena kulihat wajahnya mendadak berubah waspada. Kami sempat bertatapan beberapa detik, sebelum memutuskan untuk samasama keluar. Dan untung saja kami keluar, karena ternyata Austin dan Lionel masih berada di ruang tamu, berdiri berhadap-hadapan, sedangkan Jason entah ada di mana.

”Dulu Ivy, dan sekarang Natasha.” Bisa kudengar Austin mengonfrontasi Lionel. ”Sebenarnya niat lo apa sih?”

”Gue nggak ada niat apa-apa,” kata Lionel, tidak seperti Austin yang tampak berapi-api, dia tampak begitu tenang. ”Terus kenapa—”

”Austin!” seruku dan Ivy berbarengan.

Austin menoleh pada kami. ”Kebetulan kamu keluar,” katanya pada Ivy. ”Ayo, Sayang, kita pulang sekarang.”

Aku mengerjap. Sayang? Memangnya selama ini Austin memanggil Ivy dengan sebutan ”Sayang”? Rasanya ini pertama kali aku mendengarnya.

”Aku masih mau nemenin Sophie,” tolak Ivy.

”Sophie nggak bakal sendirian kok,” kata Austin. ”Selain ada Jason, kan masih ada Troy. Lagian kamu lama-lama di sini juga nggak ada gunanya.”

Ivy kontan berang. ”Aku nemenin sahabatku yang baru kecelakaan, dan kamu bilang itu nggak ada gunanya?”

”Kan kamu udah nemenin dia dari tadi,” Austin membela diri. ”Jadi mending kita pulang aja sekarang.”

”Kalau kamu mau pulang, ya pulang aja sendiri,” kata Ivy ketus. ”Biar nanti aku pulang sama Troy.” Lalu dia berbalik dan kembali ke kamar Sophie, tanpa memedulikan Austin yang berkali-kali memanggilnya.

Baru tadi Ivy bilang dia senang Austin dan Troy akur, tapi kini malah dia sendiri yang bertengkar dengan Austin. Memang sih, bagi Austin dan Ivy, pertengkaran itu soal biasa.

Malu karena ajakan pulangnya ditolak Ivy dengan ketus di depan Lionel, Austin berpindah menawariku. ”Ayo, Nat, kita aja yang pulang kalau begitu.”

Sepertinya lebih baik aku pulang dengan Austin, karena Lionel harus mengantar Troy dan Ivy ke Maximum Gym untuk mengambil mobil Troy. Kalau aku ikut dengan Lionel juga, dia pasti repot karena harus mengantarku. Aku pun menyetujui ajakan Austin. Lagi pula, aku juga tidak setega itu pada kakakku, menolaknya setelah apa yang Ivy lakukan.

”Nel,  gue  pulang  sama  Austin  ya,”  pamitku  pada  Lionel. ”Makasih buat hari ini.”

Lionel mengangguk. ”Sama-sama, Nat.”

Jason mendadak muncul dari antah-berantah, seolah dia tahu aku dan Austin mau pulang. Mungkin sedari tadi dia bersembunyi entah di mana, mendengarkan pembicaraan kami.

”Jason, gue pulang dulu,” pamitku pada Jason. ”Tolong bilangin ke Sophie ya.”

Kenapa bukan aku sendiri yang bilang ke Sophie? Terus terang, aku tidak punya nyali untuk kembali ke kamar Sophie dan menghadapi semprotannya lagi.

Wajah kepiting rebus Jason tampak lagi, lalu dia mengangguk. ”P-pasti! Pasti akan gue bilangin ke Sophie.”

Dengan diantar Jason hingga keluar, aku dan Austin pun berlalu pulang. Selama di mobil, wajah Austin tertekuk bete, mungkin karena pertengkarannya dengan Ivy.

”Selama beberapa hari ini, lo jangan ke mana-mana sendirian ya, Nat,” kata Austin di antara kebeteannya. ”Ke sekolah juga begitu. Gue yang antar-jemput lo.”

”Terus Ivy gimana?” tanyaku, karena selama ini Austin selalu mengantar-jemput Ivy ke sekolah.

”Dia bisa sama Troy,” kata Austin.

”Emangnya Troy nggak antar-jemput Sophie?” tanyaku lagi.

Austin mengangkat bahu. ”Kalaupun iya, dengan kakinya yang begitu, mungkin Sophie nggak akan masuk sekolah dulu,” katanya. ”Lagian, Troy kan bisa antar-jemput mereka berdua sekaligus. Toh Ivy juga serumah sama dia.” Aku mengangguk-angguk. Meski pasti akan mengekang sedikit kebebasanku. Bagaimanapun, harus kuakui aku lega mengetahui ada Austin yang akan membuatku merasa tetap aman. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊