menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 04

Mode Malam
Bab 04
AKU menceritakan pada Ellen dan Portia, mengenai pertemuanku dengan Troy dan Sophie, ketika kami berada di kantin saat itu jam istirahat pertama. Kami sama-sama menikmati nasi goreng. Sebenarnya, aku sempat ragu untuk menceritakannya pada mereka, tapi tidak mampu menahan diri.

Di luar dugaan, reaksi mereka biasa saja, seolah aku hanya sedang membicarakan cuaca atau semacamnya. Padahal aku mengira mereka akan heboh, bagaimanapun pasangan yang kutemui itu kan bukan sembarang pasangan untukku, melainkan Troy dan Sophie. Tapi karena ruang lingkup pertemananku, Troy, dan Sophie yang dekat; Ellen dan Portia tidak heran, bahkan tahu cepat atau lambat aku pasti bertemu pasangan baru itu.

Percakapan kami terpotong kemunculan Edgar yang tidak biasanya. Dia berada di kantin, dan bukannya memerankan kuntilanak laki-laki di pohon beringin di taman samping sekolah. Dia berdiri di samping meja kami dan menatapku meski yang diajaknya berbicara adalah Ellen dan Portia. Salah. Edgar bukan mengajak mereka bicara.

”Minggir lo berdua,” usir Edgar pada Ellen dan Portia dengan nada ketus luar biasa. ”Gue mau ngomong sama Natasha.”

Ellen, yang memang takut pada Edgar, menurutinya tanpa protes. Sebenarnya dulu dia sempat naksir Edgar, tapi akhirnya bergabung dengan banyak cewek lain yang mengundurkan diri menjadi penggemar karena dia pernah kena semprot cowok itu. Dia berdiri, tapi tidak langsung pergi karena menunggu Portia yang malah tetap cuek memakan nasi goreng. Masih berkebalikan dengan Ellen, Portia memang tidak takut pada Edgar. Lebih luas lagi, Portia sepertinya tidak takut pada apa pun.

”Eh, lo bego atau budek sih?” semprot Edgar pada Portia. ”Kalau gue bilang minggir, ya minggir.”

Portia mendengus keras. ”Apa hak lo ngusir-ngusir gue dari sini?” balasnya. ”Emangnya ini sekolah punya bapak moyang lo, apa?”

Edgar yang tidak suka dilawan, naik pitam. ”Mau ini sekolah punya bapak moyang gue atau bukan, gue mau lo enyah dari meja ini,” serunya marah. ”Sekarang atau gue lempar lo sama bangku lo sekalian ke luar dari kantin.”

Portia hendak melawan lagi, tapi aku memberikan gelengan samar padanya. Lebih baik dia tidak mencari masalah dengan Edgar. Kalau Edgar sudah mengancam, biasanya benar-benar melaksanakan ancamannya.

Menuruti gelenganku, Portia berdiri. Tentu setelah membanting sendoknya ke piring. Dia tidak mengikuti Ellen yang tampak ketakutan setengah mati, ke meja lain, melainkan menyempatkan diri memelototi Edgar. Tentu saja pelototannya bersambut.

Setelah Ellen dan Portia menjauh, meninggalkan nasi goreng yang masih setengah penuh, Edgar duduk di seberangku. Aku tidak menyentuh nasi gorengku, terlalu penasaran kenapa Edgar tiba-tiba ingin berbicara padaku. Aku mendapat penjelasannya sepersekian detik kemudian.

”Kenapa lo nggak bilang lo diikutin seseorang?” tembak Edgar, tanpa merasa perlu berbasa-basi.

Aku ternganga. ”Dari mana lo tahu gue diikutin seseorang?” ”Troy yang bilang sama gue.”

Aku semakin ternganga. ”Troy?” ulangku heran.

”Dia telepon gue tadi malam, dan bisa dibilang, mengonfrontasi gue soal itu,” kata Edgar. ”Bukan lo aja yang kata diikutin seseorang, adiknya juga, dan... mmm... Sophie.”

Apa perasaanku saja, atau suara Edgar memang benar-benar melembut ketika dia menyebut nama Sophie? Aneh, kemarin Sophie yang berubah gugup begitu aku menyebut nama Edgar, dan kini Edgar berubah aneh begitu menyebut nama Sophie. Apa ada sesuatu di antara mereka berdua?

Setahuku, dulu Sophie sering mendatangi Edgar, tapi sematamata untuk mengorek informasi darinya, berkaitan dengan niat Edgar untuk menghancurkan geng Troy. Istilahnya, Sophie mengajukan diri menjadi mata-mata Troy. Tentu, akhirnya dia ketahuan Edgar, bahkan sampai disandera cowok itu segala.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka setelah pertempuran dan penyanderaan Sophie selesai. Sophie jelas tidak pernah mendatangi Edgar lagi. Kuperhatikan, Edgar bertambah murung saja sejak Sophie absen dalam hidupnya.

Apa  mungkin  Edgar...?  Ah,  sudahlah.  Tidak  ada  gunanya menebak-nebak, apalagi untuk hal yang bukan urusanku. ”Selain bilang soal itu, Troy bilang apa lagi?” tanyaku ingin tahu.

”Dia bilang kami harus membicarakannya lebih lanjut sore ini,” jawab Edgar. ”Dan yang dimaksudnya dengan ’kami’ adalah geng gue, gengnya, juga geng Austin. Mereka curiga orang yang ngikutin kalian adalah geng Cebol,”—sama seperti kecurigaanku dan Ivy—”karena merasa gue penyebabnya, maka gue harus bertanggung jawab.”

Geng Austin? Kok Austin tidak bilang padaku ya bahwa dia tahu aku, Ivy, dan Sophie diikuti seseorang? Apa mungkin dia sama seperti Edgar, baru tahu tadi malam? Kalau memang iya, itu wajar. Sepulang dari Crystal Coffee kemarin, aku langsung mengurung diri di kamar akibat pertemuan dengan Troy dan Sophie. Dan tadi pagi kami tidak sempat bertemu. Austin sudah berangkat sebelum aku turun sarapan.

”Sore ini jam berapa? Di mana?” Itu tentu bukan untuk kuketahui, tapi karena berniat mengawasi pertemuan mereka, tetap saja kutanyakan. Dan Edgar, yang tampak gundah, sama sekali tidak menyadari aku sedang berusaha mengorek informasi darinya sehingga enteng saja menjawabnya.

”Jam empat, di 9 Balls.”

Bagus. Dengan begini, niatku bisa terlaksana. Sama seperti ketika dulu aku menguping pembicaraan saat Troy ke rumahku. Dia meminta bantuan geng Austin untuk melawan geng Edgar dan geng Cebol. Dari menguping itu, aku berhasil mendapat informasi tempat dan waktu pertempuran, lalu melaporkannya pada Ivy.

Aku berani melakukannya karena tahu cowok-cowok itu bisa melindungiku. Kalau dulu tidak ada Ivy, aku tidak mungkin berani-berani amat. Sekarang, sebaiknya aku melaporkannya pada Ivy. Siapa tahu dia mau ikut mengawasi pertemuan mereka? Kan enak, aku jadi ada teman.

Ternyata benar. Ivy tidak ingin melewatkan kegiatan pengawasan. Aku akan menjemputnya sepulang sekolah nanti.

Bukan hal mengherankan ketika aku sampai di rumah Ivy pada sore hari dan melihat Sophie di sana. Bagaimanapun Sophie kan korban, sama sepertiku dan Ivy. Dengan mobilku, kami bertolak menuju 9 Balls.

Kami sampai di 9 Balls pukul empat lebih dua puluh menit. Pelataran parkir dipenuhi berbagai kendaraan; yang kutebak sebagian besar merupakan kendaraan geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar. Entah seberapa penuhnya di dalam, karena anggota geng Edgar saja sudah dua belas orang, belum ditambah anggota dua geng lainnya.

”Eh, gimana cara kita ngawasin pertemuan mereka?” tanya Ivy.

Pertanyaan bagus. Aku belum berpikir sampai ke situ. Yang kupikirkan hanyalah kami harus datang ke 9 Balls saat pertemuan berlangsung.

”Kayaknya kita nggak akan bisa ngawasin mereka secara diamdiam deh,” komentar Sophie. ”Medannya nggak mendukung.”

Sophie benar. Bagian depan tempat bermain biliar itu ditutup kaca gelap. Kami kesulitan melihat ke dalam, tapi yang di dalam bisa melihat kami. Itu pun kalau geng Austin, geng Troy, dan geng Edgar ada di lantai bawah. Kalau mereka ngumpul di lantai atas, mau tidak mau kami harus masuk.

”Jadi, langsung masuk aja?” tanya Ivy. ”Nggak ada pilihan lain, kan?” balas Sophie. ”Lagian tanggung, kita udah di sini.”

”Mau ngomong apa sama Troy dan Austin?” tanya Ivy lagi. ”Kita mau main biliar...?” usul Sophie.

Ivy cemberut. ”Siapa yang bakal percaya?” sungutnya.

”Troy pernah janji ngajarin gue main biliar kok,” kata Sophie.

”Sekarang dia ada di sini bukan buat ngajarin lo main biliar,” sergah Ivy. ”Lagian di dalam banyak cowok lain. Kayaknya yang lebih mungkin kita bakal langsung ditendang ke luar kalau maksa masuk.”

”Troy terlalu sayang sama gue buat nendang-nendang gue,” kata Sophie percaya diri. ”Nggak usah ribet begitu dululah, Vy. Yang penting masuk, terus lo rayu deh kakak lo. Kalau dia udah oke, cowok lo mah nggak bakal bisa ngelarang-larang.”

Begitulah. Aku memarkir mobil di pinggir jalan, lalu kami berjalan menuju 9 Balls. Kami membuka pintu kaca dan masuk, dengan sedikit tegang.

Lantai bawah 9 Balls khusus untuk meja standar. Ada delapan meja biliar, empat berjajar di kiri, dan empat sisanya di kanan. Lampu-lampu digantung rendah untuk menerangi setiap meja. Di depan masing-masing meja terdapat meja lain dengan empat bangku yang dipepetkan ke tembok. Meja kasir ada di bawah tangga menuju lantai atas, dan di sebelahnya, ada konter makanan dan minuman.

Hanya dua meja yang sedang disewa saat itu, tapi tampaknya penyewanya bukanlah anggota ketiga geng tersebut. Meski tidak hafal semua anggota geng tersebut, kecuali anggota geng Edgar yang tentunya merupakan murid-murid sekolahku, jelas empat pria setengah baya yang menyewa meja pertama, dan sepasang cowok-cewek yang menyewa meja kedua tampak terlalu tua untuk menjadi anak SMA, bukanlah murid SMA Emerald maupun SMA Vilmaris.

Berarti mereka ada di lantai atas. Kami berjalan menuju tangga. Di kaki tangga, seorang cowok duduk sambil memainkan ponsel, yang awalnya tidak begitu kami perhatikan. Sepertinya dia anggota geng Troy, yang mungkin ditugaskan berjaga-jaga di bawah sini. Dugaanku itu terbukti ketika mendengar Sophie mengajaknya berbicara.

”Hai, Andy, cowok gue di atas?” tanya Sophie pada cowok yang ternyata bernama Andy.

Andy mengangkat kepala dari ponselnya, terkejut ketika melihat Sophie, ditambah lagi dengan keberadaanku dan Ivy. ”S-Sophie? Kok lo bisa ada di sini?”

”Yah bisa lah, gue kan punya kaki,” sahut Sophie asal.

”T-tapi kan seharusnya orang luar nggak tahu soal pertemuan ini.”

Sophie melotot. ”Orang luar?” ulangnya marah. ”Gue ceweknya Troy, gue bukan orang luar.”

”M-maksud gue, orang di luar geng-geng yang lagi ngumpul di atas,” ralat Andy.

”Oh, jadi emang benar lagi pada ngumpul di atas ya?” cetus Sophie. Lalu dia menoleh pada Ivy, dengan sengaja melewatkanku. ”Ayo, Vy, kita naik.”

Mata Andy langsung membesar. ”Eh, tunggu, tunggu!” perintahnya panik. ”Kalian nggak boleh ke atas.”

”Kenapa nggak boleh?” tuntut Sophie. ”Karena ini perintah Troy,” kata Andy. ”Kalaupun kalian mau naik, gue harus lapor ke Troy dulu.”

”Kenapa harus lapor-lapor kalau yang datang cewek dan adiknya?” tuntut Sophie lagi.

Andy cukup pusing menghadapi Sophie yang nekat merangsek melewatinya. Aku dan Ivy berpandangan, ragu untuk mengikuti Sophie. Lebih baik kami tidak naik dulu, karena beberapa saat kemudian, terlihat Troy menuruni tangga—mungkin mendengar keributan di bawah yang didominasi suara Sophie.

Kalau tadinya Sophie begitu percaya diri untuk naik, begitu melihat Troy, dia malah turun dan berlindung di belakang Ivy. Tampaknya dia segan pada Troy.

”Ngapain kalian di sini?” tanya Troy pada kami bertiga setelah tiba di kaki tangga.

”M-main  biliar,”  kata  Sophie,  benar-benar  menggunakan usulnya sendiri tadi sebagai alasan.

Troy tentu saja tidak percaya sehingga tidak menanggapi Sophie, dan bertanya lagi, ”Siapa yang ngasih tahu kalian soal pertemuan ini?”

Sophie melihat ini sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dengan tega langsung menunjukku. Aku tidak siap dan gelagapan begitu melihat tatapan tajam Troy beralih padaku.

Aduh, Troy dulu memang pacarku, tapi aku lupa betapa Troy bisa menjadi sangat menyeramkan. Usus-ususku langsung terasa berantakan di dalam tubuh.

”A-aku nggak sengaja dengar waktu Edgar lagi ngomong sama anggota gengnya,” kataku, sedikit berbohong. Aku kan tidak mungkin bilang Edgar sudah membocorkan soal pertemuan mereka, bisa-bisa dia dapat masalah baru dengan Troy.

Troy mendesah. ”Seharusnya kalian nggak datang ke sini,” katanya. ”Ayo, pulang sekarang.”

”Nggak mau,” tolak Ivy. ”Gue mau naik.” ”Ivy...” Troy memperingatkan.

”Gue, Sophie, dan Natasha kan alasan utama kalian ngadain pertemuan ini,” kata Ivy, mengemukakan alasannya. ”Jadi kami jelas punya hak untuk ikut serta. Kami kan perlu tahu cara kalian ngatasin masalah yang melibatkan kami ini. Lagi pula, apa bahayanya kami ikut naik? Kalian tidak bermaksud perang di atas, kan?” Cowok yang berada di balik meja kasir sampai melirik kami dengan waspada begitu mendengar kalimat terakhir Ivy. Troy hanya menggeleng samar padanya, sebagai tanda dia tidak memedulikan kata-kata Ivy.

”Meski kalian emang alasan utamanya, gue nggak bisa membiarkan kalian mencampuri urusan kami,” kata Troy.

”Mencampuri apanya sih?” protes Ivy. ”Kami cuma ngedengerin kalian, nggak akan bicara sepatah kata pun. Janji. Izinin kami naik, ya? Please, Troy?”

Troy tetap pada keputusannya tidak mengizinkan kami naik. Namun, dia mengernyit melihat wajah Ivy yang berubah menjadi super memelas.

”Eits, jangan pasang tampang begitu,” Troy memperingatkan. ”Serius, Ivy. Nggak akan mempan buat gue.”

Ivy tidak memedulikan peringatan Troy, wajahnya semakin memelas dengan mata berkaca-kaca dan bibir sedikit mengerucut. Melihat wajah seperti itu, kukira seluruh laki-laki di seantero dunia pasti rela melakukan apa pun yang diminta Ivy. Bahkan Andy, yang masih berada di kaki tangga, tampaknya akan rela menggendong Ivy ke atas.

Troy  terlihat  gerah  luar  biasa.  Dia  pun  menyerah.  ”Oke,” katanya, dengan sedikit menyentak. ”Lo boleh ke atas.”

Wajah memelas Ivy langsung menghilang, digantikan wajah penuh senyum. Dengan penuh kemenangan, dia melenggang ke atas. Aku sebenarnya tidak tahu apa izin Troy juga berlaku untukku, tapi aku mengikuti Ivy ke atas.

”Kamu nggak boleh,” kata Troy menahan Sophie.

Sophie jelas tidak terima. ”Ivy dan Natasha boleh, kenapa aku nggak boleh?” protesnya.

Aku tidak mendengar tanggapan Troy setelah itu karena dia sudah menarik Sophie menjauhi tangga sementara aku hampir tiba di puncak tangga.

Lantai atas 9 Balls khusus untuk meja VIP. Hanya ada empat meja biliar dengan lampu-lampu menggantung rendah di atasnya. Berbeda dengan meja standar, meja VIP dilengkapi meja kopi dan sofa.

Semua sofa dipindahkan ke dekat tangga, membentuk segi empat. Geng Austin mengambil tempat di sisi kanan dan setengah sisi belakang, geng Troy di sisi kiri dan setengah sisi belakang sisanya, dan geng Edgar di sisi depan. Tidak semuanya mendapat duduk, jadi ada yang berdiri.

Melihat mereka menguasai lantai atas, kutebak Troy pasti menyewa seluruh meja VIP. Kalau tidak, mana mungkin pemilik tempat ini berbaik hati meminjamkan lantai atasnya, tidak peduli meski Troy pelanggan tetapnya?

Mereka berbicara serius, tapi begitu Ivy muncul di puncak tangga, disusul denganku, dengung pembicaraan berhenti. Semua memandang kami, sampai-sampai kami menjadi risi sendiri.

”Ivy?” Suara Austin memecah keheningan. Dia berdiri dari sofa dan menghampiri kami. Mungkin tadinya aku ketutupan Ivy, Austin baru menyadari kehadiranku setelah dia mendekat. ”Natasha? Kenapa kalian bisa ada di sini?”

”Diajak Troy,” dusta Ivy, merasa kalau membawa-bawa kakaknya adalah jawaban paling aman.

Austin tidak serta-merta percaya. ”Nggak mungkin Troy ngajak kalian...”

”Terserah kalau nggak percaya,” potong Ivy cuek. Dia sudah akan melangkah, entah menuju sisi mana, tapi Austin menggandengnya dan membawanya ke sisi gengnya, di sisi kanan.

Bingung harus ke mana, dan tampaknya Austin juga mendadak lupa padaku, aku memutuskan mengikutinya menuju sisi geng Austin. Austin mengusir dua anggota gengnya dari sofa sehingga aku dan Ivy bisa duduk—Ivy di sebelah Austin, dan aku di sebelah Ivy.

Setelah duduk, aku menjadi lebih berani memindai seluruh ruang ini. Aku melihat Lionel duduk di sisi belakang, dan ketika aku menoleh ke arahnya, dia juga sedang melihatku. Kami bertukar senyum, meski untuk Lionel, dengan raut penuh tanya di wajahnya—pastinya sama seperti yang lain, merasa heran dengan kemunculanku dan Ivy.

Edgar duduk di sisi depan, seperti sedang setengah melamun. Aku tidak yakin dia menyadari kemunculanku dan Ivy karena dia sama sekali tidak menoleh ke arah kami.

Ketika Troy muncul dengan membawa Sophie di sisinya, wajah Edgar  sontak  berubah.  Serius,  kalau  biasanya  awan  kelabu merundungi wajahnya, kini awan itu tersingkir secara tiba-tiba, digantikan matahari yang bersinar cerah.

Selama setengah tahun lebih mengenal Edgar, baru kali ini aku melihat wajah Edgar secerah itu hanya karenakehadiran Sophie.

Sementara Edgar terus menatap dengan rasa rindu yang tidak ditutup-tutupi, Sophie justru menghindari tatapannya. Dia hanya meliriknya sekilas, sebelum buru-buru berpaling dengan wajah memerah.

Aku tidak perlu menebak-nebak lagi karena jelas Edgar menyukai Sophie. Mungkin Edgar sudah menyatakan perasaannya pada Sophie, dilihat dari kecanggungan yang tampak di wajah Sophie. Dan Troy pasti sudah tahu hal itu. Jelaslah kenapa dia sempat melarang Sophie naik, karena pastinya dia tidak ingin Sophie bertemu Edgar. Meskipun mengizinkan Sophie naik, dia terus merangkul Sophie dengan protektif, bahkan sampai mereka duduk.

Dasar Edgar. Dia selalu menguliahiku untuk move on, ternyata dia sendiri belum move on.

”Kita lanjutin lagi,” kata Troy, yang sepertinya memimpin pertemuan ini. Dia menatap tajam pada Edgar, membuatku tahu kata-katanya itu terutama ditujukan pada Edgar. ”Apa aja yang pernah lo tawarin sama geng Cebol waktu itu, untuk ngebantu geng lo?”

Edgar, meski dengan terpaksa, berpaling dari Sophie. Tidak sepenuhnya, karena Sophie toh duduk di sebelah Troy.

”Uang,” jawab Edgar singkat. ”Cuma uang?” selidik Troy. Edgar mendesah. ”Dan dokumen,” tambahnya.

Troy mengernyit. ”Dokumen?” ulangnya. ”Dokumen apa?” ”Gue nggak tahu dokumen apa,” aku Edgar. ”Sebenarnya,

dokumen itu merupakan tambahan yang mereka minta, karena awalnya mereka cuma minta uang. Tapi begitu mereka tahu siapa gue, atau lebih tepatnya, siapa om gue, mereka meminta dokumen itu. Yang megang dokumen itu om gue. Gue mengiyakan aja. Gue pikir itu bukan dokumen penting dan memang gue pernah ngelihat dokumen itu di ruang kerja om. Lalu dokumen itu menghilang entah ke mana, mungkin dipindahin om. Gue nggak berani nanya sama beliau karena nggak mau beliau tahu gue ngincar dokumen itu.”

”Untuk apa geng Cebol minta dokumen itu?” tanya Troy.

Edgar mengangkat bahu. ”Banyak orang, selain gue, yang suka makai jasa geng Cebol untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor mereka. Jadi mungkin dokumen itu permintaan orang yang makai jasa mereka,” tebaknya.

”Menurut  lo,  apa  mereka  yang  ngikutin  Ivy,  Sophie,  dan Natasha?” tanya Troy lagi.

”Kemungkinan besar emang mereka,” jawab Edgar.

”Apa lo tahu alasan mereka melakukannya?” Troy terus bertanya.

Edgar berpikir baik-baik dulu sebelum menjawab, ”Gue punya dugaan, tapi nggak tahu lo mau dengar atau nggak.”

”Just spill it,” perintah Troy.

”Sophie...”  Sophie  sampai  tersentak  mendengar  namanya disebut Edgar, mungkin mengira Edgar memanggilnya, padahal tidak. ”Natasha, dan... mmm... siapa nama adik lo tadi?” ”Ivy,” kata Troy tidak sabar. ”Avi?” ulang Edgar, salah dengar.

”Ivy,” kata Troy sekali lagi, berbarengan dengan Austin yang tampak kesal karena Edgar tidak bisa mengingat nama pacarnya. Sedangkan Ivy hanya menunduk salah tingkah karena namanya sudah membuat kehebohan.

”Ah ya, Ivy,” kata Edgar. ”Mereka ada di markas geng Cebol waktu terjadi pertempuran di antara kita, dan mungkin itu alasan geng Cebol ngikutin mereka. Tapi gue rasa, alasan utamanya adalah status mereka.”

”Status mereka?” ulang Troy tidak mengerti.

”Sophie cewek lo,” kata Edgar, dengan nada pahit dalam suaranya ketika mengucapkan fakta itu. Aku tidak tahu dari mana Edgar tahu soal itu, padahal aku saja baru tahu karena Lionel tidak sengaja memberitahukannya padaku. Apa mungkin dia bisa menebaknya karena melihat keprotektifan Troy pada Sophie saat ini? Maksudku, Troy masih saja merangkul Sophie. ”Natasha adik Austin, dan Avi... maksud gue, Ivy, adik lo, sekaligus cewek Austin.”

”Lantas apa hubungannya dengan geng Cebol?” tanya Troy, masih tidak mengerti.

”Geng Cebol mungkin pengin nakut-nakutin mereka dengan ngikutin mereka terang-terangan kayak begitu,” kata Edgar. ”Gunanya, supaya mereka ngelapor ke lo dan Austin. Begitu kalian tahu adik dan pacar kalian terancam, kalian pasti mencari tahu siapa mereka. Dan begitu kalian tahu, kalian pasti mengonfrontasi gue sebagai orang yang pernah makai jasa mereka. Seperti sekarang. Gue terpaksa ngasih tahu kalian soal dokumen yang diminta mereka. Mereka berharap, kalian akan membantu gue mencari dokumen itu.”

Troy mendengus. ”Membantu lo?” ulangnya meremehkan. ”Yang lebih tepat adalah kami akan—”

Lagu Hello dari SHINee tiba-tiba terdengar, memotong ucapan Troy. Seluruh orang di lantai atas berpandangan satu sama  lain,  mencari  tahu  ponsel  siapa  yang  berbunyi.  Aku, Sophie, Austin, Lionel, dan Troy menoleh pada Ivy. Dia sendiri bingung, malah balik menatap Austin. Wajah Austin berubah horor, seolah baru menyadari sesuatu. Dia buru-buru merogoh saku celana, dan ternyata benar ponselnya yang berbunyi.

Mungkin Austin lupa mengganti nada dering ponselnya, atau mungkin juga dia sudah menggantinya tapi diganti lagi oleh Ivy.

Tidak ada yang salah dengan cowok yang suka musik Korea, beberapa teman cowokku juga suka. Tapi itu tidak berlaku untuk Austin, yang menganggap jenis musik itu terlarang baginya. Jadi ketika ponselnya berbunyi dan memperdengarkan lagu boyband Korea di depan seluruh anggota gengnya, anggota geng Troy, dan anggota geng Edgar; harga dirinya jelas tercerai-berai.

Sementara Austin bergegas mematikan teleponnya, Ivy di sebelahnya mati-matian menahan tawa hingga wajahnya memerah. Bahkan air mata Ivy sampai menetes, saking gelinya. Tidak dipedulikannya lirikan maut Austin, yang tampak keki dengan keisengan Ivy yang entah sudah keberapa kalinya.

Reaksi orang-orang terhadap kejadian itu berbeda—mulai dari cuek, bengong, kaget, sampai tertawa pelan. Entah siapa yang berani tertawa, jelas cari mati, tapi yang menarik perhatianku adalah reaksi Lionel. Dia tersenyum geli, tapi bukan karena nada dering Austin, melainkan karena reaksi Ivy. Tatapannya tidak lepas dari Ivy, jelas menikmati tawa tertahan Ivy.

Mengumpulkan segenap harga dirinya yang masih tersisa, Austin berusaha memasang tampang sejaim mungkin, dan memutar tangannya dua kali di depan dadanya sembari berkata, ”Continue.”

Kejadian itu pun langsung dilupakan, orang-orang fokus kembali pada Troy yang melanjutkan kata-katanya tadi.

”Bukannya membantu elo. Yang lebih tepat adalah kami akan menekan lo untuk secepatnya menemukan dokumen sialan itu,” lanjut Troy. ”Gue nggak mau tahu, apa pun yang terjadi, lo harus secepatnya menyelesaikan masalah lo sama geng Cebol, dan nggak lagi membawa-bawa Ivy, Sophie, dan Natasha.”

Edgar hanya mengangguk meski tidak menjanjikan apa pun. Mungkin semudah itu dia menuruti Troy karena dia tahu yang terjadi adalah salahnya, atau mungkin juga karena salah satu korbannya adalah Sophie.

Pertemuan diakhiri tidak lama setelah itu. Troy dan Sophie adalah dua orang pertama yang turun. Jelas Troy ingin buru-buru menjauhkan Sophie dari Edgar. Meski sebelum turun, tepat ketika melewati Edgar yang terus saja menatapnya, aku melihat Sophie sempat menatap balik Edgar diam-diam tanpa sepengetahuan Troy, dengan tatapan yang bisa kuartikan sebagai tatapan prihatin.

”Serius, Ivy? SHINee lagi?” Bisa kudengar omelan Austin pada Ivy, di tengah-tengah bubarnya orang-orang di lantai atas. Mereka juga pulang bersama, membuat kedua orang yang datang bersamaku kini tidak lagi membutuhkanku untuk pulang.

Lionel muncul dari kerumunan untuk menghampiriku. Dia ingin menuntaskan rasa ingin tahu yang sedari tadi menggelayutinya.

”Nggak nyangka banget bakal ngelihat lo, Ivy, dan Sophie di sini,” kata Lionel. ”Bukan kebetulan, kan?”

Tidak ingin berbohong pada Lionel, aku mengangguk. ”Gue dengar soal pertemuan ini, jadi mutusin ngajak Ivy dan Sophie ke sini,” akuku.

”Terus, apa lo dapat hasil yang memuaskan dari pertemuan ini?”

”Seenggaknya kalau orang yang ngikutin gue, Ivy, dan Sophie emang benar anggota geng Cebol, kami jadi tahu alasan dia melakukannya,” kataku. ”Dan sama seperti yang dibilang Troy tadi, gue juga berharap Edgar bisa segera menyelesaikan masalahnya sama geng Cebol. Takutnya mereka akan melakukan hal yang lebih parah dari pada sekadar ngikutin kami.”

”Itu juga yang gue takutin,” kata Lionel. ”Maka itu kalian hatihati ya. Kalau ada yang mencurigakan, jangan ragu bilang ke gue, Troy, atau Austin.”

Aku mengangguk, menghargai perhatian cowok itu. Kami dua orang terakhir yang berada di lantai atas dan baru berpisah untuk menuju kendaraan masing-masing. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊