menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 03

Mode Malam
Bab 03
”GIMANA kencan lo sama Lionel tadi malam?” Pertanyaan itu diajukan Portia begitu aku tiba di kelas X-2, kelasku. Tidak ada nada  sinis  dalam  suaranya,  yang  menandakan  dia  tidak  menyindirku dan murni ingin tahu. Mungkin dia kapok ceramahnya sudah membuatku menangis kemarin.

Portia memang sekelas denganku dan duduk di depanku. Sedangkan Ellen, yang saat ini duduk di sebelahnya, anak kelas X-3 tapi suka mampir ke kelas kami untuk mengobrol sejenak sebelum kelas dimulai.

”Menyenangkan,” akuku singkat, karena kencanku dengan Lionel memang bisa disimpulkan dalam satu kata itu.

”Cuma ’menyenangkan’?” protes Ellen. ”Ceritain detailnya dong.”

”Nggak ada yang bisa diceritain,” tukasku. ”Kami cuma asyik ngobrol ini-itu, dan bikin janji masak bareng Minggu nanti.”

”Cie, masak bareng, romantis amat,” goda Ellen. ”Nanti kayak di film-film lagi, muka lo belepotan tepung, terus sama Lionel dibersihin pakai tangannya, terus kalian tatap-tatapan mesra, terus akhirnya ciuman deh.”

”Ih, Ellen, apaan sih?!” protesku malu. ”Nggak sampai kayak gitu juga kali.”

Ellen hanya tertawa, lalu bertanya, ”Emangnya Lionel bisa masak? Atau dia nemenin lo masak sambil bantuin motongmotong?”

”Dia bilang bisa kok,” kataku. ”Lucu ya? Gue jarang kenal cowok yang bisa masak. Kayaknya malah dia yang pertama.”

”Terus, apa itu menambah nilainya di mata lo?” tanya Portia, entah dengan maksud apa.

Aku mengangkat bahu. ”Sedikit, mungkin.”

”Yakin cuma sedikit?” pancing Portia. ”Ini ada hubungannya dengan kemampuannya masak lho, dan masak kan hobi lo.”

Aku tidak mengerti ke arah mana maksud pertanyaan Portia, tapi tidak sempat memikirkannya karena merasakan ponsel di saku rok bergetar. Aku mengambilnya dan keningku berkerut begitu melihat LINE dari Ivy, yang mengajakku bertemu pukul empat sore nanti di Crystal Coffee—kedai kopi baru buka yang beberapa kali pernah kulewati dalam perjalanan ke sekolah. Penasaran dengan alasannya mengajakku bertemu, aku pun mengiakannya.

Perjalanan ke Crystal Coffee yang terletak di posisi hook jajaran ruko di muka kompleks perumahan pada sore hari berlangsung singkat. Agak sulit mencari tempat parkir karena pelataran parkir ruko-ruko penuh kendaraan. Untung ada satu yang kosong, meski aku baru mendapatkannya setelah putar balik dan kebetulan menemukan mobil yang baru keluar. Itu pun di depan ruko lain, agak jauh dari Crystal Coffee. Lonceng yang berada di atas pintu masuk Crystal Coffee berdenting ketika aku membukanya, dan aroma kopi pekat segera menyambutku. Bentuk kedai kopi itu memanjang, dengan empat meja dalam formasi dadu di sebelah kiriku, dan empat meja lagi dalam formasi yang sama di ujung kiri depan, dibatasi meja konter yang panjang. Di sisi kanan, terdapat delapan meja di pinggir kaca.

Ivy sudah datang. Dia menempati satu dari delapan meja di sepanjang sisi kanan, bersama...

Sophie.

Aku menelan ludah. Kok Ivy tidak bilang akan datang bersama Sophie? Bukan keberatan sih. Hanya saja, kehadiran Sophie membuatku tidak nyaman.

Sekalipun tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan, aku tahu Sophie membenciku, dan penyebabnya jelas karena aku mantan pacar Troy. Dia selalu bersikap jutek padaku, bahkan kami sempat bersitegang sedikit karena aku nekat menyatakan niatku tidak mau mengalah soal Troy. Karena pada dasarnya tidak suka berkonfrontasi, aku menangis begitu tiba di mobil.

Hubungan kami sempat membaik ketika dalam sebuah kejadian, dia menangis dalam pelukanku sementara aku sibuk menenangkannya—tidak peduli aku pun ingin sekali menangis, yang baru bisa kulampiaskan di rumah. Kukira dia tidak akan membenciku lagi setelah itu, tapi sepertinya aku keliru kalau melihat tatapan setajam laser yang saat ini diarahkannya padaku.

Ya, bukannya Ivy, justru Sophie duluan yang menyadari kehadiranku karena dia duduk menghadap pintu masuk. Ivy baru menoleh setelah Sophie mengatakan sesuatu padanya sambil mengedikkan kepala ke arahku. Berlainan dengan Sophie, Ivy melambai-lambai penuh semangat padaku, dengan senyum semringah, memintaku bergabung.

Ivy sangat cantik: berkulit putih, wajah berbentuk hati, dan rambut lurus yang panjangnya melewati bahu. Dalam sekali lihat saja, aku tahu kenapa Austin begitu menyukainya.

Sedangkan Sophie memiliki rambut ikal pendek, yang saat ini beberapa helainya dipelintir jari. Aku tidak bilang dia tidak cantik, tapi dia akan terlihat lebih menarik kalau wajahnya tidak ditekuk begitu.

Merasa Sophie akan menjungkirbalikkan bangku kalau aku nekat duduk di sebelahnya, aku memilih kursi di sebelah Ivy. Di meja tersedia iced caramel macchiato untuk Ivy dan iced cappuccino untuk Sophie.

”Mau pesan minuman dulu, Nat?” tawar Ivy.

Aku menggeleng. ”Nggak deh. Gue lagi nggak kepingin minum.”

”Vy, nggak usah sok basa-basi gitu deh,” omel Sophie. ”Cepetan lo jelasin maksud dan tujuan lo ngajak dia ketemuan di sini, sebelum gue seret lo pulang. Gue udah bilang kan, gue nggak bisa lama-lama. Kasihan Jason di rumah belum makan.”

Aku tidak tahu siapa Jason, mungkin adik Sophie, yang pernah sekali disebutnya padaku. Dia bilang adiknya juga mau sekolah di SMA Soteria.

”Jason kan bisa masak sendiri,” tukas Ivy. ”Lagian nih ya, sekarang udah terlalu sore untuk makan siang, dan terlalu pagi untuk makan malam.”

”Dia suka makan sore,” kata Sophie asal.

Ivy hanya berdecak, lalu kembali fokus padaku. ”Langsung aja deh ya, Nat,” katanya, menuruti Sophie juga. ”Tadi malam Lionel sempat nelepon gue, ngasih tahu gue soal lo yang diikutin seseorang.”

Oh, ternyata setelah mengantarku tadi malam, Lionel menelepon Ivy. Tidak heran sih, mereka kan dekat.

”Lo mungkin udah tahu dari Lionel bahwa gue dan Sophie juga diikutin seseorang,” lanjut Ivy. ”Gue jadi penasaran, apa orang yang ngikutin kita itu orang yang sama atau bukan. Apa lo sempat ngelihat mukanya?”

Aku menggeleng. ”Mukanya ketutupan helm,” kataku. ”Gue ngelihat badannya, gede dan tatoan.”

”Tato tengkorak?” tanya Ivy, bersemangat.

”Nggak lihat jelas tatonya,” kataku. ”Soalnya kan gue di mobil.”

”Gue dan Sophie juga nggak ngelihat muka orang yang ngikutin kami karena ketutupan helm, tapi di lengannya ada tato tengkorak,” kata Ivy. ”Kayaknya sih preman.”

”Gue juga berpikir orang yang ngikutin gue itu preman,” timpalku.

”Mungkin orang yang ngikutin kita sama,” simpul Ivy. ”Kalaupun beda, mungkin berasal dari geng preman yang sama.”

Kata-kata ”geng preman” membuatku berpikir soal satu geng preman yang kutahu, dan sepertinya Ivy dan Sophie berpikir hal yang sama. Kami bertiga berpandangan beberapa detik, sebelum salah satu dari kami menyuarakan hal itu.

”Apa mungkin orang itu... mmm... anggota geng Cebol?” tebakku.

Geng Cebol, tidak seperti namanya, terdiri dari banyak preman bertubuh besar. Aku tidak pernah bermimpi berurusan dengan mereka, tapi suatu kejadian membuatku sampai harus datang ke markas mereka.

Zaman dulu, antara Troy dan Edgar pernah terjadi salah paham sehingga Edgar berniat menghancurkan geng Troy. Dalam usahanya  itu,  Edgar  meminta  bantuan  geng  Cebol,  meski akhirnya Troy juga mendapat bantuan geng Austin. Terjadi pertempuran besar di antara keempat geng itu, yang baru berakhir ketika Troy kejatuhan balok-balok kayu dalam usaha menyelamatkan Sophie. Troy sempat tidak sadarkan diri, dan itulah yang membuat Sophie sampai menangis dalam pelukanku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan geng Cebol setelah itu dan tidak pernah menanyakannya pada Edgar. Kupikir masalah itu sudah selesai dengan sendirinya. Seharusnya kami tidak pernah lagi berurusan dengan mereka.

”Kalau emang orang itu anggota geng Cebol, untuk alasan apa dia ngikutin kita?” tuntut Ivy.

”Karena kita ada di markas mereka waktu terjadi pertempuran dulu?” dugaku, hanya itu alasan yang terpikir olehku.

”Okelah kita emang ada di markas mereka waktu itu, tapi kan nggak terlibat secara langsung,” kata Ivy. ”Kecuali Sophie, yang sempat disandera.” Dia melirik Sophie, yang dari tadi diam saja mendengar percakapan kami. ”Tetap aja, itu bukan alasan yang cukup kuat untuk mereka mengincar kita. Maksud gue, apa untungnya, coba, ngikutin kita kayak gitu? Emangnya kita seleb, dan mereka wartawan gosip yang lagi ngejar berita?”

”Mungkin kita harus tanya Edgar,” gumamku samar, namun telinga Sophie tetap menangkapnya.

”K-kenapa kita harus tanya Edgar?” tuntut Sophie, gugup. Dia mau juga bicara. Apa karena aku menyebut nama Edgar? Kenapa dia harus gugup begitu?

”Kan Edgar yang dulu minta bantuan geng Cebol,” kataku. ”Kalau ada yang tahu alasan geng Cebol ngikutin kita, orang itu seharusnya Edgar...”

”Kan belum tentu orang yang ngikutin kita itu anggota geng Cebol,” tukas Sophie. ”Mungkin dia anggota geng preman lain, atau mungkin juga dia bukan preman. Lo dan Ivy kan tadi berspekulasi aja. Nggak usahlah sampai tanya Edgar segala, untuk hal yang belum jelas kayak gitu.”

Ivy lebih condong mendukungku. ”Kan nggak ada salahnya kita—”

”Pokoknya nggak usah!” potong Sophie. ”Udah ah, Vy. Obrolan kita udah selesai, kan? Gue mau pulang sekarang.” Dia menyedot habis iced cappuccino, bersiap pulang.

”Ya udah, lo pulang aja duluan,” kata Ivy mempersilakan. ”Gue masih mau di sini sama Natasha.”

”Terus lo pulangnya gimana?” tanya Sophie. ”Sama Natasha juga?”

Ivy menggeleng. ”Gue udah LINE Troy sebelum kita ke sini tadi, minta dia jemput gue,” katanya santai, tapi berhasil menciptakan badai setelahnya.

”APA???” Aku berani bersumpah, pekikan yang berasal dari Sophie membuat barista di balik konter sampai tersundut mesin pembuat kopi, dan cewek yang duduk di meja depan kami pun sampai menyemburkan sedikit minuman.

”Duh, Sophie, suara lo tuh cempreng banget sih!” omel Ivy.

Sophie mengabaikan omelan Ivy. ”K-kenapa lo LINE Troy begitu?” ”Habis lo bawel banget tadi, belum nyampe sini aja, udah ngancam-ngancam mau buru-buru pulang terus,” kata Ivy. ”Daripada pembicaraan gue dan Natasha nggak selesai, mending gue nyuruh Troy jemput gue.”

”T-tapi... tapi kan. ” Sophie melirik-lirikku, dan aku pun tahu,

dia tidak mau Troy ke sini karena ada aku. Sejujurnya, aku juga sempat terkejut begitu Ivy bilang dia meminta Troy menjemputnya. Entahlah, aku belum siap melihat Troy dan Sophie bersama-sama sebagai sepasang kekasih. Mungkin Sophie tidak tahu aku sudah tahu dia dan Troy sudah jadian, maka kalimat Sophie selanjutnya seperti ingin mempertegas hubungan mereka. ”Lo seharusnya nggak usah sampai nyuruh cowok gue jemput lo segala. Dia kan sibuk. Gue sebagai ceweknya harus bantuin dia nganterin adiknya pulang.”

”Halah, Troy sibuk apaan sih?” cibir Ivy. ”Paling-paling dia nge-gym, ngumpul-ngumpul sambil main biliar sama gengnya, atau nge-date sama cewek.”

Sophie melemparkan gelas plastiknya yang sudah kosong ke arah Ivy. ”Heh, Troy udah nggak pernah nge-date sama cewek lain lagi ya selain sama gue. Enak aja lo ngomong!” omel Sophie. ”Udah, mending sekarang lo LINE dia, minta dia batalin jemput. Lo tetap pulang sama gue.”

Ivy mengambil ponsel dari saku rok, setelah sebelumnya sempat melempar balik gelas plastik ke Sophie, lalu mengutakatik ponsel sejenak. ”Telat, dia udah LINE gue lagi, udah mau nyampe sini,” umumnya. ”LINE-nya udah dikirim beberapa menit lalu.”

Wajah Sophie langsung berubah horor. Dia buru-buru berdiri dan menarik-narik tangan Ivy. ”Kita harus cabut sekarang juga!” perintahnya panik.

”Kenapa sih, Soph?” tanya Ivy tidak mengerti. ”Lo kan jadi enak nggak usah nganterin gue pulang, dan dapat bonus ketemu Troy, lagi.”

Sophie gemas setengah mati dengan kepolosan Ivy. ”Nenek Lampir kan ada di sini,” dia memperingatkan, tanpa merasa perlu memelankan suaranya.

Astaga, aku disebut ”Nenek Lampir”, tepat di depan mukaku! Ivy sampai memelototi Sophie tapi cewek itu tidak peduli dan tetap mengajak pulang.

Di tengah-tengah paksaan Sophie, terdengar lonceng berdenting, tanda pintu kedai dibuka. Perhatian Sophie terpecah ke sana, dan wajahnya lagi-lagi berubah horor. Tanpa menoleh ke belakang pun, aku tahu yang datang Troy.

Cowok itu bertubuh tinggi besar, mencapai 183 sentimeter, dan berambut cepak. Dia mengenakan kemeja denim biru pas badan; yang semakin mempertegas otot-otot tubuhnya, hasil nge-gym bertahun-tahun, tepatnya sejak dia masuk SMA; celana khaki selutut, dan sneakers putih. Luar biasa memesona, seolah dia baru keluar dari majalah fashion.

Berpasang-pasang mata menatap kagum pada Troy, hampir semuanya cewek. Aku tidak menyalahkan mereka, karena saat ini pun perutku terasa seperti ada ribuan kupu-kupu—ralat, ribuan naga yang beterbangan, mengepakkan sayap yang besarbesar. Memang itu yang selalu terjadi setiap aku melihat Troy.

Aku jadi teringat pertemuan pertama kami, di pesta ulang tahun teman kami. Lewat lirikan-lirikan yang sepintas saja, kami bisa langsung tahu kami saling tertarik. Troy bukan cowok pemalu. Dia sendiri yang mengajakku kenalan. Bermula dari obrolan penuh basa-basi, akhirnya berakhir dengan saling tukar nomor ponsel. Kami tidak pernah putus berkomunikasi sejak itu. Berminggu-minggu kemudian setelah kami pulang berkencan, dia menyatakan cinta padaku di mobil, dan kami pun jadian.

”I love you, Princess. Would you be my girlfriend?” Itulah yang diucapkan Troy saat memintaku menjadi pacarnya, saat pertama kali dia memanggilku ”Princess”, yang kemudian menjadi panggilan kesayangannya untukku. Dia sempat berhenti memanggilku begitu setelah kami putus, tapi setelah hubungan kami membaik, panggilan itu kembali.

Sophie berlari menyambut Troy. Larinya begitu cepat, sampai rambutku ikut tertiup ke arah yang ditujunya. Senyum Troy mengembang  begitu  melihat  Sophie,  dan  tangannya  terentang seakan dia ingin memeluknya. Mungkin karena di tempat umum, dia tidak benar-benar melakukannya, hanya sekadar membiarkan Sophie bergelayut manja di lengannya.

Tatapan yang diberikan Troy pada Sophie seperti tatapan orang yang sedang dimabuk cinta. Bahkan denganku dulu, Troy tidak pernah menatapku seperti itu. Sophie tidak menanggapi Troy, malah sibuk menatap setajam laser pada cewek-cewek yang memandang terpesona pada Troy. Luar biasa karena Sophie tidak melewatkan satu pun cewek-cewek itu, seolah matanya lebih dari dua. Sebelum ikut-ikutan jadi korban, aku buru-buru berpaling.

Tadinya Sophie duduk di seberang Ivy, kini dia membiarkan Troy yang mengambil tempat itu. Pilihan lain adalah Troy duduk di seberangku, dan Sophie tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Dia sendiri yang duduk di seberangku. Ah, tidak tepat disebut begitu karena dia duduk begitu dempet dengan Troy, nyaris menjepit Troy ke kaca sehingga di seberangku bisa dibilang kosong.

”Hai, Princess,” sapa Troy padaku. Aku melihat tatapan setajam laser Sophie bergegas diarahkan padaku. Sophie tidak senang bukan karena Troy menyapaku, tapi karena dia memanggilku Princess. Aku tidak menyangka Troy memanggilku begitu di depan Sophie. Mungkin hanya karena kebiasaan atau merasa itu bukan masalah, toh sekadar panggilan. Tapi Aku tetap merasa tidak enak pada Sophie.

Aku menelan ludah dan susah payah membalas, ”H-hai, Troy.”

”Ngapain kalian ngumpul di sini?” tanya Troy, menatap kami bergantian.

”Arisan,” kata Ivy asal. ”Serius, Vy,” tandas Troy.

”Cuma ngobrol-ngobrol antarcewek,” kata Ivy. ”Nggak ada yang penting.”

Troy mengangkat alis, jelas tidak percaya. Tidak mungkin tidak ada yang penting kalau sampai aku dan Sophie berada di satu meja seperti ini. Dia tahu kami merahasiakan pembicaraan kami, maka dia tidak memaksa.

”Soph, bukannya tadi lo bilang lo harus buru-buru pulang ya?” pancing Ivy. ”Kan Jason belum makan.”

”Dia bisa masak sendiri,” sergah Sophie galak, mengulang kata-kata Ivy tadi. Ivy menggeleng-geleng. Jelas tadi Sophie hanya mencari-cari alasan untuk buru-buru pulang.

”Nggak apa-apa kalau kamu mau pulang, Soph,” kata Troy, tidak tahu-menahu tentang akal bulus Sophie. ”Ivy kan bisa pulang sama aku.”

Sophie menggeleng kuat-kuat. ”Aku bahkan bisa di sini sampai pagi kok.”

Troy memandang Sophie geli. ”Mau ngapain kamu di sini sampai pagi?”

”Jadi satpam,” kata Sophie asal. ”Siapa tahu ada yang nyolong biji kopi.”

Troy tertawa sembari tangannya mengacak-acak rambut Sophie. Sophie tidak tampak terganggu dan malah mengambil tangan Troy dari kepalanya, kemudian menggenggamnya. Genggamannya dibalas Troy, dan sejenak mereka berpandangan seolah hanya ada mereka di kedai kopi ini.

Ivy berdeham. ”Please deh ya, nggak usah tatap-tatapan kayak di telenovela begitu,” gerutunya. ”Muka kalian tetap mirip Shrek dan Princess Fiona yang udah jadi ogress walau ditatap lama-lama begitu.”

”Ngiri aja lo, Vy,” tukas Sophie. ”Sana, mending lo telepon Austin, suruh dia ke sini, biar bisa tatap-tatapan kayak di telenovela juga.”

”Ih, gue dan Austin kan nggak norak kayak kalian,” cibir Ivy. Perdebatan antara Ivy dan Sophie hanya kudengarkan sete-

ngah-setengah, karena aku sedang berjuang melawan perih yang menghinggapi hatiku melihat kemesraan Troy dan Sophie.

Seharusnya tidak seperti ini. Aku sudah melihat yang jauh lebih parah dari pada Troy dan Sophie yang hanya bergenggaman dan berpandangan. Aku pernah melihat Troy mencium kening Sophie. Saat itu aku bersama Ivy di markas geng Cebol, bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu karena mengira anggota geng Cebol yang datang, tapi ternyata Troy dan Sophie yang sedang berdebat. Pada akhir perdebatan itulah, ciuman di kening terjadi. Di depan Troy, Ivy, dan Sophie waktu itu, aku berpura-pura menganggap itu hal lucu, meski perih di hatiku berkali-kali lipat dibanding yang kurasakan sekarang.

Aku menyesal tadi menolak memesan minuman sehingga tidak ada yang bisa kupakai untuk mengalihkan perhatian. Kalau tidak, aku bisa menyibukkan diri dengan minuman dan berpurapura tidak memperhatikan kemesraan itu.

Troy tampaknya tidak merasa perlu memesan minuman karena ada iced caramel macchiato Ivy yang bisa diminumnya. Ketika Ivy lengah, dia mengambil gelas iced caramel macchiato dari pemiliknya, membuang sedotannya, membuka tutupnya, dan menghabiskannya dalam beberapa tegukan.

Ivy langsung menjerit. Orang-orang di kedai kopi ini mungkin mulai terganggu dengan keberisikan meja kami. Ivy tidak peduli, tetap meratapi gelas yang kini kosong.

”P-padahal minumnya udah disayang-sayang,” ratap Ivy. Dia terlihat begitu sedih. Selesai meratap, dia memelototi Troy, si biang keladi. ”Kok minuman gue dihabisin sih? Nggak pakai izin lagi.”

”Kalau kebanyakan minum entar perut lo kembung,” kata Troy beralasan.

”Ih, nggak mau tahu, pokoknya lo kudu beliin gue minuman lagi,” kata Ivy. Dia sampai berdiri, memutari meja kami, dan berusaha menarik tangan Troy untuk mengikutinya. Seberapa keras usaha Ivy menarik kakaknya, Troy tidak akan bergerak sedikit pun kalau bukan dia sendiri yang memutuskan untuk mengikuti Ivy. Ditinggal Troy dan Ivy ke konter untuk memesan minuman baru, aku merasa canggung hanya berdua Sophie. Mana kami sama-sama tidak punya minuman lagi. Menghindari menatapku, Sophie terus mengamati Troy.

Untungnya Troy dan Ivy cepat kembali. Ivy terlihat bahagia dengan iced caramel macchiato barunya, sedangkan Troy membawa dua gelas minuman.

Meski sudah menghabiskan segelas iced cappuccino sebelumnya, Sophie tetap tersenyum girang ketika Troy memberikan iced cappuccino baru padanya. Senyuman Sophie segera lenyap ketika gelas satunya yang berisi ice blended strawberry, yang dikiranya untuk Troy sendiri, diberikan padaku.

Rasa haru menyelinap ke hatiku sehingga membuatku tak memedulikan tatapan laser Sophie padaku. Kedai kopi ini juga menjual teh dan ice blended drink berbagai rasa. Minuman yang dibelikan Troy untuk Ivy dan Sophie berbau kopi, untukku tidak, sebab dia ingat aku antikopi. Dia membelikanku ice blended drink rasa stroberi sebab ingat aku paling suka stroberi.

Jadi, tidak bolehkah aku terharu?

Aku tahu diri, tidak memperlihatkan rasa haru. Aku harus menjaga perasaan Sophie. Aku mengambil ice blended strawberry dari Troy dengan wajah yang sengaja kubuat selempeng mungkin, sembari mengucapkan terima kasih.

”Jadi, pulang sekarang?” tanya Troy, entah pada siapa.

Ivy yang menyahut, ”Yep, sekarang aja.” Lalu dia berjalan lebih dulu ke luar kedai, disusul diriku, serta Troy dan Sophie di belakangku.

Aku baru memperhatikan bahwa Yamaha Mio pink Sophie parkir tepat di depan kedai. Nissan Juke putih Troy juga parkir dekat kedai. Hanya aku yang harus berjalan jauh menuju kendaraanku.

”Mobilmu parkir di mana, Nat?” tanya Troy, untungnya tidak memanggilku ”Princess” lagi.

Aku menunjuk jauh ke kanan. ”Di sana. Tadi nggak dapat parkir di dekat-dekat sini,” kataku.

”Oh,” kata Troy. ”Kalau gitu, biar kuantar kamu ke mobilmu dulu.”

”Eh, nggak usah, Troy,” tolakku. ”Aku bisa sendiri kok.” ”Udah, nggak apa-apa,” kata Troy. Lalu pada Ivy dan Sophie,

dia berkata, ”Sebentar ya.”

Sementara Ivy melambai padaku, Sophie untuk keempat kalinya mengarahkan tatapan setajam lasernya padaku. Aduh, diserang bertubi-tubi seperti itu, aku keder juga. Mungkin aku harus memasukkan Sophie Wyna di posisi nomor satu dalam hal yang paling kutakuti, bersama ular dan hantu.

Berjalan berdua dengan Troy, meski hanya ke mobilku, tak urung membuat jantungku jumpalitan. Naga-naga di perutku beraksi kembali, sayap-sayap besar mereka menggelitik perutku.

”Sebenarnya aku tahu kenapa kalian ngumpul hari ini,” aku Troy di tengah-tengah usahaku menjinakkan naga. ”Lionel udah bilang sama aku, soal kalian bertiga yang diikutin seseorang.”

Oh, semalam Lionel memang bilang dia akan membicarakan itu dengan Troy. Ternyata tadi Troy hanya pura-pura tidak tahu.

”Terus, kamu udah tahu siapa orang itu?” tanyaku penuh harap. Troy menggeleng, langsung menghancurkan harapanku. ”Ada yang kucurigai, tapi harus kupastikan dulu. Kamu jangan khawatir, kuusahakan segera membereskannya. Jangan bikin rencana aneh-aneh sama Ivy dan Sophie, ya.”

”Kami nggak bikin rencana apa-apa kok,” kataku jujur, tahu Troy hanya mengkhawatirkan kami, takut kami berbuat nekat— misalnya balik mengikuti orang yang mengikuti kami itu. Aku sih tidak berani, tapi mungkin Ivy, dan terutama Sophie, berani.

Begitu cepatnya, kami sudah sampai di mobilku. Hanya untuk menahan Troy beberapa detik lebih lama, aku berkata, ”Omongomong, congrats ya untuk kamu dan Sophie. Akhirnya kamu bisa nemuin cewek yang tepat.”

Troy tersenyum. ”Thank you, Princess,” katanya, kembali memanggilku ”Princess”. ”Semoga kamu juga bisa segera nemuin cowok yang tepat ya.”

Aku harap cowok itu kamu, begitu kata hatiku membalasnya. Aku nyaris menampar diriku sendiri karenanya. Apa-apaan sih aku, mengharapkan cowok yang sudah menjadi pacar orang lain?!

Sebelum aku bertambah ngaco, aku buru-buru berpamitan pada Troy dan naik ke mobil. Bisa kudengar Troy menyuruhku berhati-hati sebelum aku menutup pintu mobil. Dia menunggu sampai mobilku melaju, baru kembali pada Ivy dan Sophie yang kupamiti sekali lagi dengan klakson dan lambaian dari kaca mobil yang terbuka ketika melewati mereka.

Mobilku tidak lama melaju, karena setelah melewati sebuah tikungan, aku langsung menepi. Aku mengambil ice blended strawberry di cup holder mobil yang belum kuminum dan hanya memandanginya untuk waktu lama sambil memikirkan Troy. Perlahan, tetes-tetes embun yang memenuhi permukaan gelas plastik itu jatuh ke pangkuan, seiring dengan air mata yang juga jatuh ke pipiku.... 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊