menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 02

Mode Malam
Bab 02
OKE, aku harus tenang. Aku tidak boleh panik agar bisa berpikir jernih. Aku sedang menyetir. Aku harus bisa berkonsentrasi dan memikirkan cara meloloskan diri dari kuntitan motor.

Ketika melihat lampu lalu lintas di depan, mendadak aku mendapat ide. Aku memelankan laju mobil sehingga berkebalikan dengan kendaraan-kendaraan lain yang justru semakin mengebut karena lampu lalu lintas sudah berubah kuning. Mereka tentu tidak ingin terjebak lampu merah. Sedangkan aku ingin menjebak seseorang di lampu merah. Jadi begitu lampu lalu lintas berubah merah, bukannya berhenti seperti yang mungkin dikira orang yang sedang mengikutiku karena mobilku memelan, aku justru tancap gas.

Klakson-klakson mengiringiku ketika mobilku menjadi satusatunya kendaraan dari arahku yang melenggang di perempatan jalan. Moncong mobil yang berasal dari arah kanan berada begitu dekat dengan sisi kanan mobilku ketika aku melewatinya. Setelah terbebas dari perempatan jalan dan kembali aman, aku tidak sempat berhenti untuk menenangkan diri. Aku masih takut, meski orang yang mengikutiku, seperti yang kuinginkan, berhasil terjebak di lampu merah.

Syarat Papa ketika membelikanku mobil ini hanya satu: jangan mengebut. Aku selalu menurutinya, tapi ini kondisi darurat. Semoga saja beliau bisa mengerti.

Aku terus ngebut, bahkan sampai memasuki kompleks perumahanku dan tiba di depan rumah. Jika biasanya aku hanya mengklakson sekali dan menunggu dengan sabar hingga pintu gerbang dibuka, kali ini aku mengklakson berkali-kali. Pak Heru, satpam di rumah, sampai tergopoh-gopoh keluar dari pos. Setelah pintu gerbang terbuka, aku juga tidak membuka kaca untuk berterima kasih padanya seperti kebiasaanku, melainkan nyelonong begitu saja.

Toyota 86 merah Austin terparkir di halaman, menandakan pemiliknya sudah pulang. Aku memarkir mobil di sebelahnya. Seolah orang yang mengikutiku tadi bisa mendadak muncul di halaman rumah dan menculikku, aku buru-buru keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumah.

Yah, aku tidak tahu sih apa tujuan orang itu mengikutiku, apa memang benar untuk menculikku atau bukan, tapi yang jelas aku merasa tidak aman sebelum berada di dalam rumah—lebih lagi, di dalam kamarku, dan bergelung di balik selimut. Aku selalu begitu sejak kecil, merasa di balik selimut sebagai tempat teraman sedunia.

Ruang tamu kulewati dengan cepat. Begitu melalui ruang keluarga, saking cepatnya berlari menuju kamarku, aku hampir bertabrakan dengan Austin. ”Whoa!” seru Austin kaget. Dia mengangkat kotak berwarna cokelat ke dekat kepalanya, menjauhkannya agar tidak tersenggol olehku. ”Santai aja dong, Neng.”

Tidak perlu selimut, kehadiran Austin sudah membuatku merasa aman. Adrenalinku masih tinggi dan napasku ngos-ngosan setelah berlari. Aku perlu menenangkan diri.

Austin mengernyit menatapku, mungkin heran karena tidak biasanya aku seperti ingin menerjang seisi rumah begini. ”Kenapa sih lo? Kebelet?” tebaknya asal.

”Bukan,” sanggahku. ”T-tadi di jalan ada... ada. ” Aku meng-

hentikan kata-kataku, karena tidak ada gunanya menceritakan pada Austin soal orang yang mengikutiku tadi. Bisa-bisa sifat overprotective-nya kumat, dan aku dilarang ke mana-mana sendirian. Sebagai ganti kata-kata yang batal kuucapkan, aku justru bertanya, ”Itu apa?” sambil menunjuk kotak berwarna cokelat yang sedari tadi dipegangnya, yang kini sudah diturunkan, setelah keberadaanku tidak lagi menjadi ancaman.

”Hadiah buat Ivy.” ”Emangnya dia ultah?” ”Nggak.”

”Terus, dalam rangka apa lo ngasih dia hadiah?” ”Dalam rangka ngerayain enam bulan hari jadi kami.”

Wah, ternyata sudah enam bulan saja mereka pacaran. Meski bagi Austin, enam bulan terbilang singkat. Sebelum dengan Ivy, dia sudah pernah dua kali pacaran, dan dua-duanya melewati waktu satu tahun. Dua pacar yang sebelumnya itu tidak pernah ada yang dikenalkannya padaku. Baru Ivy saja. Jadi bisa dibilang Ivy spesial.

Austin termasuk tipe setia. Alasannya putus dari dua pacar sebelumnya kucurigai karena ada hal tidak beres dengan pacarnya. Semoga saja itu tidak terulang dalam hubungannya dengan Ivy.

Austin membawa kotak itu ke sofa dan meletakkannya di meja kopi, di samping kertas kado pink bermotif hati dan selotip sementara aku hanya memperhatikannya. Wajahnya yang dihiasi rahang tegas, hidung mancung, dan bulu mata panjang, tampak sangat serius ketika mencoba membungkus kotak itu. Gemas dengan poni yang mulai mencapai mata dan dirasa mengganggunya dalam proses pembungkusan hadiah, dia menyibakkan poninya dengan kasar.

Aku menyukai rambut Austin yang cukup halus untuk ukuran cowok. Ketika naik kelas dua belas dan menjadi ketua geng, Austin malah mengecat merah sedikit bagian sisi kiri rambutnya, memanjang hingga mencapai poni. Setiap beberapa bulan sekali, dia mengecat ulang dengan warna sama. Aku sudah memperingatkannya soal itu. Karena sayang kalau rambutnya sampai rusak lantaran dicat terus-menerus, tapi dia cuek. Baginya rambut merah adalah ciri khasnya sebagai ketua geng SMA Emerald. Padahal, emerald kan hijau, jadi lebih tepat dia mengecat  rambutnya  hijau.  Sayangnya,  hijau  tidak  pernah menjadi warna favorit Austin.

Dari tadi, proses pembungkusan hadiah hanya berkutat pada lipat-buka-lipat-buka saja. Austin pasti akan mengamuk setelah ini. Benar saja. Baru sepersekian detik berlalu sejak aku berpikir begitu, terdengar teriakan frustrasinya.

”Astaga,  kenapa  nggak  bisa  rapi-rapi  sih  hasilnya?!”  omel Austin. Dia hampir membanting kotak yang masih telanjang itu, tapi pada detik-detik terakhir ingat untuk tidak melakukannya. Dengan gerakan cepat, dia menoleh padaku yang berdiri di belakang sofa dan berkata, ”Nat, lo kan cewek, jadi lo aja yang bungkus.”

”Apa hubungannya cewek sama bungkus-membungkus sih?” protesku, merasa alasan Austin tidak nyambung.

”Cewek kan biasanya hasil kerjanya lebih rapi,” Austin mengemukakan alasannya, yang bagiku seperti dibuat-buat saja. Tapi yah, alasanku menonton Austin membungkus hadiah memang karena aku tahu cepat atau lambat dia akan membutuhkan bantuanku. Ini kan bukan kejadian pertama kali.

Aku mengambil tempat di sebelah Austin di sofa, bersiap menggantikannya membungkus kotak itu. Belum sempat menyentuh kotak itu, terdengar lagu Hello dari SHINee mengambang di udara.

Aku dan Austin berpandangan. Mungkin tadinya dia mengira lagu itu nada dering ponselku, tapi begitu melihat aku malah balik memandanginya dengan tampang bingung, dia buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ternyata memang ponselnyalah yang berbunyi, dan dia tidak menyadarinya karena bukan lagu Hello dari SHINee yang seharusnya menjadi nada deringnya.

”Ivy,” desis Austin, dan aku tahu yang dimaksud Austin bukanlah orang yang sedang meneleponnya, melainkan orang yang sudah mengganti nada dering ponselnya. Dia berdiri dan berjalan menjauh, lalu menghentikan suara SHINee dengan mengangkat telepon.

Austin memang tidak suka segala hal yang berbau Korea. Ivy sebaliknya, mati-matian mencintai boyband asal Korea itu, SHINee. Ivy senang sekali mengisengi Austin dengan membawabawa SHINee. Beberapa minggu lalu, aku mendapati Austin mencak-mencak karena ada poster jumbo SHINee di dalam tasnya, yang tentu saja hasil keisengan Ivy juga. Poster itu berakhir di tanganku karena Austin tidak mau menyimpannya— apalagi memajangnya. Bayangan Austin memajang poster jumbo SHINee di dinding kamarnya berhasil memancing senyumku.

Diiringi suara Austin yang berbicara di telepon sebagai latar belakang, aku membungkus kotak cokelat itu. Dengan penasaran aku mengintip isinya dan mendapati snow globe di dalamnya. Snow globe tersebut indah sekali. Ada rumah kayu bercerobong asap di tengah salju, dengan manusia salju dan tiga pohon cemara di bagian depannya.

Andai Austin juga mau membelikannya untukku, aku pasti akan memajangnya di meja belajar. Dengan begitu setiap kali suntuk belajar, aku bisa memandangi snow globe dan berandaiandai suatu hari tinggal di rumah kayu di tengah salju seperti itu. Tapi Austin pasti akan menyuruhku membelinya sendiri. Dia jarang membelikan hadiah untukku.

Kertas kado yang kugunakan untuk membungkus kotak terlalu panjang. Kalau terpaksa dilipat, hasilnya bisa tidak rapi. Aku memerlukan gunting. Karena yang ada di meja hanyalah selotip, aku bangkit berdiri dan beranjak ke ruang kerja Papa di seberang ruang keluarga.

Sebenarnya Papa paling tidak suka ada yang masuk ke ruang kerjanya sembarangan, tapi aku terlalu malas mencari gunting di tempat lain.

Bukan tanpa alasan Papa menjadikan ruang kerjanya sebagai tempat terlarang. Itu ruangan paling rapi di rumah ini. Di sisi kanannya ada rak buku kecil. Karena Papa pengacara, rak buku itu penuh buku hukum, yang disusun sesuai jenis-jenis hukum. Setiap jenis disusun sesuai abjad inisial nama penulisnya. Sedangkan di sisi kiri terletak kabinet-kabinet yang tertutup rapi, tapi aku tahu penuh berbagai dokumen. Tepat di tengahtengah ada meja kerja Papa. Meja yang berisi berbagai macam alat tulis—termasuk gunting yang kuperlukan—dan laptop, juga tumpukan map yang disusun dengan warna berkelompok. Ada yang berbeda dari tumpukan map tersebut yang terletak di paling atas, amplop putih bergambar kalajengking di sisi kirinya.

Ih, kalajengking kan binatang yang paling kutakuti selain ular. Tapi tidak seperti ular, aku tidak mengharapkan binatang itu punah. Tidak apa-apa tidak punah, asal jangan berada dekatdekat diriku.

Setelah mengambil gunting, aku kembali ke ruang keluarga dan berjuang membungkus kotak itu. Tugasku selesai bersamaan dengan Austin yang juga selesai berbicara di telepon. Dia tidak mengucapkan terima kasih, tapi dari raut wajahnya, aku tahu dia puas dengan hasil kerjaku.

”Apa lo mau pergi sama Ivy habis ini, buat ngerayain hari jadi kalian?”

Austin mengambil kotak terbungkus kertas kado itu dari meja kopi, lalu mengangguk. ”Ini juga gue udah mau siap-siap,” katanya. ”Gue mau ajak dia jalan-jalan dulu sebelum makan malam.”

Dalam hati, aku bersorak. Aku memang berharap Austin tidak ada di rumah ketika Lionel menjemputku nanti. Bukan apa-apa, aku takut Austin membuat Lionel merasa tidak nyaman.

Austin memang membenci Lionel—melebihi kebenciannya pada Troy. Penyebabnya jelas. Lionel pernah—atau masih— menyukai Ivy. Kebenciannya diperparah karena Lionel masih berteman akrab dengan Ivy hingga saat ini. Austin sering menyatakan keberatannya pada Ivy, tapi pacarnya itu bandel, tidak mau dilarang-larang. Itu yang membuat mereka sering bertengkar.

Soal aku dan Lionel menjadi dekat, Austin juga keberatan. Dia merasa Lionel hanya mau memanfaatkanku. Istilahnya, aku sekadar pengisi waktu sampai Lionel berhasil merebut Ivy dari Austin.

Tentu saja itu pemikiran konyol. Aku percaya Lionel tidak sepicik itu. Austin dibakar rasa cemburu.

Aku menunggu hingga Austin berangkat, baru bersiap-siap. Kamarku menjadi tempat berjibaku selama dua jam, apalagi di kamarku ada kamar mandi pribadi. Di sebelah kamar mandi, ada walk-in closet yang penuh pakaian, tas, sepatu, serta berbagai aksesori. Aku bisa menghabiskan waktu selamanya di dalam walk-in closet. Tempat itu surga pribadi bagiku.

Ranjang queen-size terletak di tengah kamar, berseberangan dengan kamar mandi dan walk-in closet, juga televisi yang ditempel di tembok. Di kiri ranjang ada nakas untuk meletakkan beker dan bingkai perak berisi fotoku dan keluargaku di depan Menara Eiffel saat kami liburan ke Paris dua tahun lalu. Di kanan ranjang, ada meja rias dan meja belajar yang berdampingan.

Untuk kencan dengan Lionel, aku mengenakan tube dress biru berlapis kardigan putih yang panjangnya hampir menyamai panjang gaun. Untuk tas dan wedges, aku memilih putih, menyamai warna kardigan.

Melihat leherku kosong, aku berinisiatif menambahkan kalung. Aku melangkah ke walk-in closet dan membuka satu dari belasan laci yaitu laci penyimpan kalung. Setiap jenis perhiasan ada lacinya sendiri-sendiri.

Kalung emas putih dengan liontin berbentuk mahkota segera menyambutku, terlihat menonjol dibanding kalung lain. Bukan, bukan karena kalung itu yang paling mahal, atau yang paling indah. Itu pemberian Troy pada ulang tahunku yang keenam belas.

Jemariku membelai kalung itu sementara pikiranku melanglang ke saat Troy memasangkannya ke leherku. Kami hanya berdua saat itu, di ruangan di balik ballroom hotel tempat pesta ulang tahunku. Troy bisa dibilang menculikku dari tamu-tamu dengan membawaku ke sana.

Meski Troy datang bersama Sophie, aku sempat berpikir dia berniat memintaku menjadi pacarnya lagi di sana. Ternyata tidak. Dia hanya ingin memberikan hadiah ulang tahun, dan aku terkejut ketika melihat kalung yang kuinginkan saat kami masih berpacaran. Dia memang berjanji membelikan kalung itu, tapi kami keburu putus. Entah bagaimana dia berhasil menemukan kalung yang persis sama, padahal sudah berbulan-bulan berlalu.

Untuk pertama kali sejak kami putus, Troy meminta maaf padaku atas apa yang telah dilakukannya, dan menyatakan utang janjinya padaku telah lunas. Dengan kata lain, dia secara resmi menutup kisah kami. Dasar akunya yang bebal, lantaran masih sangat berharap, aku tidak percaya kisah kami telah berakhir hingga dia memacari Sophie.

Setelah lama berpikir-pikir, aku memutuskan mengenakan kalung itu saja. Hanya sekadar mengenakan kok, tidak ada maksud lain. Kan sayang, Troy sudah membelikannya mahalmahal untukku tapi tidak pernah kupakai.

Meja rias menjadi tempatku berdiam diri, sambil mengamati pantulanku di cermin, terutama kalung yang berkilauan di leher. Austin mirip Papa, sedangkan orang-orang bilang aku mirip Mama. Kami sama-sama memiliki mata oval dan rambut panjang bergelombang.

Salah satu dari tiga asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar, mengabarkan Lionel sudah datang. Setelah mengecek ulang dandanan, aku segera turun.

Lionel duduk di sofa ruang tamu ketika aku tiba di sana. Dia berdiri begitu melihatku dan memamerkan senyumnya, yang pastinya bisa melumerkan tulang-tulang cewek-cewek jika melihatnya.

Rambut Lionel jabrik, dan aku bisa melihatnya sedikit basah oleh gel. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana jins hitam, melengkapi kemeja garis-garis biru-putih yang dikenakannya. Ternyata warna kemejanya serasi dengan warna pakaian yang kukenakan.

Berkebalikan dengan Edgar, kata ”ramah” memenuhi kamus Lionel  Orlando,  sampai  tidak  muat  lagi  untuk  kata  ”jutek”. Pokoknya aku tidak bisa membayangkan Lionel bersikap jutek.

Senyum Lionel sedikit memudar begitu tatapannya jatuh ke leherku, tepatnya ke kalung yang kukenakan. Uh-oh, tentu saja. Lionel kan tahu kalung ini hadiah dari Troy, karena dia datang tidak lama setelah Troy memakaikan kalung itu padaku. Dia melihat Troy membawaku ke ruangan itu dan menyusul untuk memberitahu bahwa orangtuaku mencariku. Belum apa-apa, aku sudah menyesal mengenakan kalung ini. Ah, bodoh sekali. Seharusnya tadi aku memilih kalung lain saja. Terlambat, Lionel sudah melihatnya. Meski sebenarnya tidak masalah, aku hanya tidak ingin Lionel berpikir aku cewek menyedihkan yang belum bisa move on dari mantan yang sudah memiliki pacar lain—setepat apa pun itu.

”Berangkat sekarang?” tanya Lionel, berusaha mengembalikan senyumnya dan tidak berkomentar apa-apa soal kalung di leherku.

Pertanyaan retorik, jadi aku hanya mengangguk. Aku mengikuti Lionel berjalan ke luar rumah, dan melihat BMW hitam tepakir di depan teras rumah, dekat mobilku.

BMW hitam itu mobil ayah Lionel. Dia meminjamnya setiap kali pergi denganku karena tahu aku tidak biasa naik motor, sehingga tidak tega kalau harus memboncengku dengan Kawasaki Ninja hijaunya. Apalagi motornya itu lebih tinggi dari motormotor normal, dan sadelnya juga sedikit nungging. Sebenarnya aku sendiri tidak keberatan naik motor, meski agak-agak takut. Seumur hidup, bisa dihitung dengan jari satu tangan, berapa kali aku naik motor.

Lionel ingin mengajakku makan malam, dan ini pertama kalinya dia berinisiatif melakukannya tanpa campur tangan Troy. Tidak bisa dibilang ini ajakan romantis, karena sebenarnya dia hanya kalah taruhan denganku.

Ceritanya, beberapa hari lalu, kami bertemu di tempat geng Troy biasa main biliar, 9 Balls. Kami menonton anggota geng Troy bermain biliar, dan supaya lebih seru, kami taruhan bahwa yang kalah harus mentraktir makan yang menang. Tidak disangkasangka, aku menang. Jadi ajakan makan malam Lionel sebenarnya untuk memenuhi kewajibannya mentraktirku.

Yang mengejutkan, ternyata Lionel mengajakku makan malam di restoran Eureka. Apa dia tahu itu restoran favoritku dan Troy?

Duduk di meja untuk empat orang di sisi kiri restoran, di sebelah dinding yang dihiasi wallpaper keemasan bermotif bunga, dan berseberangan dengan enam ruang VIP yang berjajar di sisi kanan, aku sempat tenggelam dalam berbagai kenangan bersama Troy di restoran ini. Bahkan di restoran ini juga aku meminta Troy balikan, meski sayangnya tidak berakhir baik. Aku sempat mogok datang ke sini karena hal itu.

Kini, aku kembali ke tempat ini. Ketika Lionel berbaik hati menyerahkan menu makanan kepadaku, aku memesan menu yang biasa kupesan dengan Troy: brokoli saus tiram, udang goreng mayones, dan ayam garam.

Kami mengobrolkan berbagai hal sepele, sampai akhirnya pramusaji mengantarkan pesanan. Kangen dengan makanan itu, aku tidak sabar untuk segera menyantapnya.

”Enak?” tanya Lionel, ketika satu per satu makanan masuk ke perutku. Dia tidak tahu saja ini bukan kali pertama aku menyantapnya.

”Banget,” sahutku, yang langsung memancing tawa lelaki itu.

”Pantas makannya kayak orang udah nggak makan setahun,” goda Lionel, merujuk pada kecepatan makanku.

Aku kontan panik. ”Eh? Apa gue makan secepat itu?”

Tawa Lionel berlanjut. ”Iya, cepat banget, gue aja sampai kalah,” godanya lagi. Lalu dia mengibaskan tangan. ”Cuma bercanda kok, Nat. Nggak ada yang salah dengan kecepatan makan lo.”

Tetap saja, aku malu dikomentari begitu. Jadi di suapansuapan selanjutnya, aku sengaja memelankan makanku.

”Syukur deh kalau lo suka makanan di sini,” kata Lionel. ”Gue sempat bingung pilih restoran soalnya. Orang yang jago masak kayak lo, pasti lidahnya peka sama rasa makanan. Cari restorannya jelas harus yang makanannya enak-enak.”

”Ah, gue nggak jago-jago amat masak kok,” kataku merendah.

”Yang gue yakin sih, masakan lo pasti lebih enak dari masakan di restoran ini,” puji Lionel. ”Kalau yang nggak jago-jago amat masak mah gue.”

Aku menatap cowok di depanku itu, tertarik. ”Lo bisa masak?”

”Kenapa? Cowok nggak boleh bisa masak, ya?” cetus Lionel, tidak dengan nada tersinggung.

”Tentu aja boleh,” jawabku. ”Biasanya kan cowok nggak mau dihubungin sama dapur.”

”Gue nggak keberatan dihubungin sama dapur,” tukas Lionel enteng. ”Nyokap udah nggak ada dari gue kecil. Bokap gue sibuk sama kerjaannya, jarang di rumah. Bisa dibilang, gue dibesarin oma gue. Tapi Oma udah tua, jadi gue nggak mau sering-sering nyusahin. Gue belajar mandiri, termasuk soal makanan. Masa udah gede gini, makannya masih diurusin Oma?”

Aku terpana mendengar penuturan Lionel. Baru kali ini dia bercerita soal keluarganya. Jadi aku juga baru tahu selama ini dia tumbuh besar tanpa ibu.

”Nyokap gue tipe wanita karier yang nggak bisa masak,” kataku, gantian bercerita soal keluargaku. ”Hari-harinya lebih banyak dihabisin di kantor, nggak ada waktu untuk dapur. Untungnya, ada Bi Ina. Dia kepala asisten rumah tangga di rumah gue, tukang masaknya. Gue sering nonton Bi Ina masak sehingga lama-kelamaan tertarik untuk belajar masak.”

”Makasih sama Bi Ina, sekarang ada calon wanita karier yang bisa masak,” goda lelaki itu, membuatku tertawa. ”Kayaknya seru juga kali ya, kalau sekali-sekali kita masak bareng.”

”Ide bagus!” cetusku bersemangat. ”Ayo, kita masak bareng secepatnya!”

”Hari Minggu ini?” usul Lionel. Aku mengacungkan jempol. ”Oke.”

Pasti menyenangkan memasak bareng Lionel. Aku jadi tidak sabar menunggu Minggu tiba.

Setelahnya baru aku menyadari bahwa lagi-lagi aku membuat janji berduaan saja dengan Lionel. Tanpa bisa dihindari, aku jadi bertanya-tanya, apa ini nantinya menjadi kebiasaan? Aku dan Lionel, menghabiskan waktu hanya berdua?

”Gimana, udah siap UN?” tanyaku, setelah tidak lagi membahas masak-memasak. ”Tinggal dua minggu lagi, kan?”

Lionel mengerang. ”Duh, lo ngingetin gue sama hal yang mau gue lupain,” keluhnya. ”Minggu lalu gue baru selesai UAS, terus minggu ini lagi sibuk-sibuknya ujian praktikum, sebelum masuk minggu tenang untuk ngadepin UN. Tentu aja, minggu tenang itu bakal jadi minggu yang nggak tenang karena gue pasti sibuk belajar.”

”Seenggaknya lo masih ada niat belajar,” kataku. ”Coba si Austin, kayaknya mau UN juga santai aja.” Lelaki itu tertawa pelan, tidak menanggapi. Tentu saja, topik mengenai Austin bukanlah topik yang disukainya.

”Terus, rencananya lo mau lanjut kuliah di mana, Nel?” tanyaku, baru sadar aku tidak tahu di mana dia akan kuliah.

Raut wajah Lionel sempat menegang sedikit, lalu dia kembali rileks dan berkata, ”Soal itu nanti dulu deh. Yang penting gue lulus dulu.”

”Hah? Kok nanti dulu sih?” cetusku heran. ”Bukannya kampuskampus udah buka pendaftaran dari berbulan-bulan lalu ya?”

Cowok di hadapanku itu hanya mengangguk, tapi lagi-lagi tidak menanggapi—seolah topik mengenai kuliah sama tidak disukainya seperti topik mengenai Austin.

Apa mungkin pria itu tidak berniat kuliah? Setahuku dia pintar dan tidak memiliki masalah keuangan. Kalau dia sampai tidak berniat kuliah, apa penyebabnya?

Sadar aku tidak akan mendapat jawaban karena orangnya tidak mau cerita, aku memutuskan membiarkan topik itu berlalu. Itu bukan urusanku, kan?

”Lo sendiri, gimana dengan sekolah lo, Nat?” tanya Lionel. ”Nggak sabar nunggu anak-anak kelas dua belas UN, biar kelas

sepuluh dan sebelas diliburin,” kataku, terang-terangan menggoda cowok itu.

Lionel berdecak. ”Asyik ya, libur,” katanya. ”Nanti kalau lo udah kelas dua belas, gantian deh lo yang ngerasain UN.”

”Masih lama kok,” ucapku santai.

”Waktu cepat berlalu lho,” tegas Lionel, berusaha menakutiku. ”Tahu-tahu dalam satu kedipan mata, lo udah UN aja.”

”Lo kali, yang dalam satu kedipan mata udah UN,” balasku. ”Iya juga sih,” aku Lionel, dan kami pun sama-sama tertawa. ”Omong-omong soal sekolah,” kataku, ”tadi pas pulang, ada orang yang ngikutin gue pakai motor. Gue nggak tahu siapa, tapi dia bikin gue takut banget.”

Mata Lionel membesar. ”Aneh,” gumamnya. ”Baru kemarin Ivy cerita sama gue bahwa dia dan Sophie diikutin seseorang.”

”Oh, ya?” cetusku kaget. ”Apa mungkin itu cuma kebetulan?”

”Mungkin juga sih,” gumam lelaki itu. ”Tetap aja itu aneh. Coba nanti gue omongin sama Troy soal ini.”

Tidak peduli situasi dan kondisi, nama Troy tetap saja berpengaruh dahsyat padaku. Untuk menutupinya dari Lionel, aku buru-buru minum.

Makan malam tanpa terasa berakhir, dan Lionel pun mengantarku pulang. Yang membuatku lemas, ketika mobil Lionel memasuki halaman, aku melihat mobil Austin sudah terparkir kembali di sebelah mobilku. Lebih parah lagi, pemiliknya pun muncul di teras, bersandar santai sambil bersedekap di salah satu dari empat pilar yang menyangga atap teras, menunggu sampai mobil Lionel berhenti di depannya.

Tadinya aku berharap Lionel akan langsung pulang begitu aku turun dari mobil, ternyata—mungkin demi alasan kesopanan—dia ikut turun. Jelas hal itu tidak disia-siakan Austin.

”Habis asyik-asyikan, ya?” tuduh Austin, lebih kepada Lionel.

”Kami cuma makan malam,” kata Lionel jujur. Tidak ingin meladeni Austin, dia berpaling padaku dan berkata, ”Gue pulang dulu ya, Nat.”

”Oh,  nggak  mau  masuk  dulu?”  Sebelum  aku  sempat menanggapi Lionel, Austin lebih dulu bersuara. Tentu dia tidak benar-benar menawari Lionel masuk, melainkan hanya bersikap sinis. Kalau tidak ada dia, tentu aku yang menawari Lionel masuk. ”Kami punya berbagai minuman lho. Kalau minuman yang lo mau nggak ada, gue sendiri yang akan jalan kaki keluar buat beli, sebagai ucapan terima kasih lo udah ngajak adik gue, tanpa izin gue, makan malam.”

Sementara aku memelototi Austin, karena merasa kata-katanya keterlaluan, Lionel hanya menggeleng sopan dan berkata, ”Nggak, makasih,” dan segera masuk ke mobil, yang dalam waktu singkat, berlalu dari halaman.

Austin menatap kepergian Lionel dengan puas, dan baru belakangan menyadari aku masih memelototinya. ”Apa?”

Apa? Apa kata Austin? Apa dia tidak sadar apa saja yang sudah dikatakannya pada Lionel, yang sudah berbaik hati mengajakku makan malam dan mengantar-jemput?

”Perlu ya, lo ngomong kayak begitu sama Lionel?” tuntutku tidak senang.

”Emangnya gue ngomong apa?” balas Austin, seolah mendadak hilang ingatan.

”Nyindir-nyindir dia, padahal dia nggak salah apa-apa,” kataku, berbaik hati mengingatkan abangku.

Austin mendengus. ”Siapa suruh dia dekat-dekat adik gue dan cewek gue?” cetusnya, sama sekali tidak merasa bersalah telah menyindir-nyindir Lionel. ”Kalau dia nggak mau disindirsindir lagi, dia mesti lebih tahu diri, dan nyari cewek lain yang bisa diganggu.”

Sudahlah. Tidak ada gunanya mencoba mengonfrontasi Austin karena dia begitu keras kepala, apalagi soal Lionel. Aku memilih untuk melewatinya dan tidak berbicara lagi padanya sampai aku tiba di kamarku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊