menu

Bad Boys #3 Lionel's Keeper Bab 01

Mode Malam
Bab 01
”G-GUE... gue suka sama lo, Natasha.”

Siangku yang cerah berubah kelabu begitu mendengar kalimat itu meluncur dari mulut cowok yang duduk di sebelahku. Sepertinya dia kesulitan mengucapkan kalimat itu. Sampai harus melewati fase berkeringat dingin hingga gemetaran hebat— getarannya membuatku serasa duduk di jok bajaj, alih-alih di bangku taman. Sungguh, andai dia memegang segelas susu, bisa-bisa susu itu jadi milkshake, saking hebat getaran tubuhnya.

Oh, jangan lupakan juga fase ikan maskoki. Alias fase mulutnya membuka dan menutup berkali-kali, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, saking gugup. Dan tampaknya fase ini belum berakhir, karena aku melihat mulutnya lagi-lagi membuka dan menutup, pertanda ada kelanjutan.

”Apa lo mau jadi c-cewek gue?”

Sama seperti saat aku mendengar kalimat yang pertama, kalimat ini pun membuatku mengeluh dalam hati. Pernyataan cinta yang sudah kuduga ketika melihat cowok itu tiba-tiba menghampiri di kantin saat aku asyik makan bersama kedua sahabatku, Ellen dan Portia. Cowok itu memintaku ikut dengannya ke taman samping sekolah. Dia bilang ada hal penting menyangkut hidup dan mati yang ingin dibicarakan denganku. Terpaksalah aku meninggalkan kedua sahabatku, beserta semangkuk bakso menggiurkan berkuah panas, saus, dan sambal, menuju tempat yang tak bakal aku berani datangi sendirian.

Yap,  taman  samping  sekolah  memang  terkenal  berhantu. Tidak banyak murid yang mendatanginya. Dan aku yang paling takut hantu, menganggap tempat itu paling terlarang untuk kujejak. Bayanganku pun tidak boleh terlihat di sana. Apa daya, aku tidak ingin cowok itu tahu ketakutanku, sehingga aku tidak mengusulkan mengganti lokasi.

Tempat itu sebenarnya tidak cocok disebut taman karena begitu gersang. Rumput seperti tidak punya niat tumbuh, botak di sana-sini sehingga memperlihatkan tanah yang kering. Selain bangku-bangku taman bercat putih berjajar, di samping bangunan sekolah hanya ada kolam ikan kosong dan pohon beringin raksasa. Kabarnya, suka ada kuntilanak bergelantungan di pohon itu. Jadi tahu kan, kenapa aku lebih memilih duduk di salah satu bangku yang membelakangi pohon itu? Bahkan sudut mataku pun kularang untuk melirik-lirik ke sana.

Di balik tembok di seberang pohon itu—tembok yang membatasi taman dengan jalanan di luar—ada tumpukan kotak kayu. Biasa digunakan murid-murid yang telat sebagai pijakan untuk memanjat tembok agar bisa masuk ke area sekolah. Aku sih belum pernah menggunakannya. Selain jarang telat, aku lebih memilih dihukum lari keliling lapangan sepuluh kali daripada memanjat tembok.

Kembali ke pernyataan cinta tadi.

Aku tidak mungkin menerima cowok itu, namanya pun aku tidak tahu. Aku tahu dia kelas sebelas, tapi, yah, hanya itu.

Bukannya sombong, tapi selama ini, sudah banyak cowok yang menyatakan cinta padaku. Nyaris semuanya kutolak. Aku memang tidak memiliki perasaan apa pun pada mereka. Heran. Kenapa mereka—termasuk cowok yang barusan menyatakan cinta padaku itu—bisa menyukaiku, padahal mereka tidak terlalu mengenalku?

Kalau boleh, aku ingin menerima mereka semua. Sungguh. Semakin banyak cowok yang kutolak, berarti semakin banyak hati yang kusakiti. Dan aku paling tidak suka menyakiti. Namun, aku tidak mungkin berpacaran dengan orang yang tak kusuka, kan?

Setelah memantapkan hati, aku menjawab tulus cowok yang menatapku dengan pandangan berharap itu, ”Gue senang banget lo suka sama gue. Beneran, gue ngerasa terhormat bisa disukain cowok kayak lo. Tapi maaf, gue nggak bisa jadi cewek lo.”

Wajah cowok itu berubah pias. Binar-binar penuh harap di matanya menghilang, berganti kehampaan. Aku melihat di balik kehampaan itu, ada genangan air mata.

Oh, tidak. Apa cowok itu menangis?

Hatiku terasa seperti ditusuk-tusuk. Menolak cowok adalah satu hal, tapi membuatnya menangis karena itu? Aku bisa tenggelam ke kubangan rasa bersalah selama berminggu-minggu. ”Oke,” kata cowok itu, berusaha tabah. Suaranya sedikit bergetar. ”Makasih atas jawaban lo, Natasha.”

Astaga, dia mengucapkan terima kasih setelah kutolak. Benarbenar berhati malaikat. Kenapa aku tidak bisa menyukainya, di samping tidak mengetahui namanya?

”Maaf banget ya,” gumamku, merasa tidak enak.

”Nggak apa-apa kok,” kata cowok itu, mencoba tersenyum meski senyumnya terlihat patah.

Kami sama-sama berdiri. Setelah tersenyum sekali lagi—yang sama patahnya dengan senyum tadi—cowok itu berjalan pergi. Tertunduk dengan bahu terkulai.

Rasa bersalah menggelayutiku melihat cowok itu berjalan lunglai, membuatku memanggilnya lagi, bahkan sebelum dia sampai di depan bangku taman selanjutnya. Begitu dia menoleh, hatiku yang tadinya hanya terasa seperti ditusuk-tusuk, naik tingkat menjadi seperti dicacah-cacah, lantaran melihat air mata.

Ya Tuhan, dia menangis! Aku pasti akan tenggelam ke kubangan rasa bersalah.

Aku menelan ludah, mendadak lupa alasan memanggilnya. Setelah ingat, gantian aku yang mengalami fase ikan koki. Aku jadi lebih menghargai keberaniannya menyatakan cinta padaku, karena aku gugup untuk sekadar menghiburnya.

”K-kalau lo mau, kita bisa berteman,” tawarku.

Cowok itu mengangguk penuh rasa terima kasih, mengusap air mata dengan punggung tangan, lalu lanjut berjalan hingga menghilang di balik bangunan sekolah. Sementara aku terduduk di bangku taman tadi dan menutup wajah dengan kedua tangan. Tolong, tolong jangan ada lagi cowok yang harus kutolak. Aku tidak sanggup menyakiti seperti ini lagi.

Setelah mampir sejenak di kubangan rasa bersalah, yang masih akan menjadi tempat tinggalku pada minggu-minggu ke depan, aku berdiri dan berjalan meninggalkan taman. Sibuk dengan rasa bersalah membuatku lupa bahwa aku sendirian di taman ini. Aku baru tersadar ketika ada yang melompat turun dari pohon beringin dan mendarat tepat di dekatku. Spontan aku menjerit dan buru-buru jongkok sambil menutup kepala dengan kedua tangan, seolah dengan begitu aku bisa melindungi diriku dari apa pun yang akan menyerangku.

Yah, aku tahu. Aku sama menyedihkan dengan burung unta yang memasukkan kepala ke tanah, berusaha bersembunyi dari predator yang akan memangsanya. Tapi, aku akan mengajukan pembelaan diri.

Jadi begini. Orang-orang selalu menggunakan kata ”cantik”, ”anggun”, dan ”berkelas” untuk menggambarkanku, tapi percayalah, aku tidak begitu. Kalau ada tiga kata yang paling tepat untuk mendeskripsikanku, maka kata itu adalah ”cengeng”, ”ceroboh”, dan ”penakut”.

Selama hidup enam belas tahun, aku sering menangis. Aku menangis untuk hal sepele. Aku menangis ketika boneka Barbieku hilang, aku menangis ketika nyeri haid tidak tertahankan, dan aku menangis ketika kapster salon memotong rambutku lebih pendek satu sentimeter dari yang kuinginkan. Intinya, air mataku acap terbuang percuma.

Aku juga sering jatuh. Termasuk menjatuhkan barang-barang, tersandung, maupun terguling-guling. Entah kenapa keseimbangan tubuhku sangat buruk. Kalau bukan karena pertolongan orangorang baik hati di sekitarku, mungkin sudah jutaan kali aku menggelinding.

Hal yang kutakuti juga ada jutaan, saking banyak. Dari semua itu, yang beruntung menempati posisi nomor satu ada dua—ya, dua-duanya berada di posisi nomor satu karena aku tidak bisa memilih mana yang lebih kutakuti: ular dan hantu. Astaga, hewan melata bernama ular alangkah menjijikkannya, aku tidak keberatan kalau mereka punah. Dan hantu, aku percaya mereka ada, tapi berharap tidak harus membuktikannya dengan melihat secara langsung. Boro-boro melihat langsung, hantu-hantu di televisi saja sudah berhasil membuatku ketakutan.

Contoh terbarunya, semalam kakakku, Austin, menonton The Conjuring pada pukul dua belas. Aku tentu tidak ikut menonton. Ketika terbangun dari tidur dan turun untuk minum, mataku yang bandel secara tidak sengaja melirik ke televisi, tepat ketika hantu di film itu melompat turun dari lemari untuk menerkam gadis yang berdiri di depan lemari itu. Adegan tersebut sukses membuatku tidak bisa tidur semalaman dan memberikan mata panda pagi ini. Adegan itu juga yang terbayang di benakku ketika barusan ada yang melompat dari beringin. Aku takut hantu The Conjuring mendatangiku.

”Yang benar aja.”

Eh, aku mengenali suara itu. Dan itu jelas bukan suara hantu film The Conjuring. Tetap sih, aku harus berjaga-jaga, siapa tahu hantu itu menirukan suara orang yang kukenal. Sebaiknya aku memastikannya dulu.

Perlahan, aku menurunkan kedua tangan dari atas kepala, dan mataku mendapati sepasang sneakers hitam dengan garis putih. Pandanganku bergerak naik, ke celana abu-abu yang dikenakannya, terus naik hingga ke kemeja putih yang tidak dimasukkan, dan berakhir di wajah jutek permanen yang dibingkai rambut ikal berantakan.

Edgar Julian. Teman cowokku sekaligus ketua geng SMA Soteria, sekolahku.

Spontan aku menarik napas lega karena ternyata bukan hantu The Conjuring. Lagi pula, bagaimana mungkin aku bisa lupa Edgar memang suka menghabiskan jam istirahat dengan melamun sendirian di dahan beringin itu? Jangan-jangan, kuntilanak yang suka disebut-sebut orang bergelantungan di pohon itu, sesungguhnya Edgar.

”Lo sebenarnya ngapain sih?” tuntut Edgar, tidak habis pikir dengan kelakuanku yang mungkin dianggapnya berlebihan.

Malu, perlahan aku berdiri. ”G-gue pikir lo hantu,” akuku. ”Mana ada hantu siang-siang begini?”

”Ada. Di film-film horor ada.”

Edgar berdecak. Dia memiringkan kepala sedikit, dan mengacak-acak salah satu sisi rambutnya. Tindakan yang mungkin dirasanya biasa-biasa saja itu, justru membuat para penggemarnya menggelepar bak ikan di darat. Saking mereka menganggapnya seksi, dan melupakan kejutekannya sementara.

Mau tahu kenapa tadi aku menyebut wajah Edgar jutek permanen? Aku nyaris tidak pernah melihatnya tersenyum. Tersenyum ramah lho, dan bukan tersenyum sinis, yang beberapa kali ditunjukkannya. Kalau mau tahu seberapa jutek wajah Edgar, bayangkan saja wajah orang paling jutek yang pernah kau kenal, lalu kalikan sejuta.

Pokoknya kata ”ramah” tidak ada di kamus seorang Edgar Julian. Itu juga yang membuat banyak penggemar Edgar memilih mengundurkan diri karena tidak tahan semprotan cowok itu. Edgar menganggap mereka pengganggu yang harus buru-buru dibasmi, sebelum bertambah banyak. Dalam hal semprotmenyemprot, dia tidak pandang bulu. Baik cowok maupun cewek, kalau membuatnya terganggu, dia akan membalasnya dengan membuat mereka serasa berada di neraka.

Bukan berarti Edgar tidak pernah menyukai cewek lho. Dia... yah... pernah menyukaiku. Tapi dia tahu aku hanya menganggapnya teman, jadi tidak pernah menyatakan cinta padaku secara langsung. Untunglah, aku tidak harus menolaknya, karena pasti sulit menolak orang yang sudah kauanggap teman. Lucunya, kami malah jadi lebih dekat karena hal itu. Dia sering curhat padaku, terutama mengenai kakaknya, yang sedihnya, sudah meninggal. Aku pun sering curhat padanya. Mengabaikan kejutekannya, dia memang teman cowokku yang terbaik.

”Jadi, apa lo baru matahin hati cowok malang lagi?” tebak Edgar, merujuk pada cowok yang kutolak tadi. Tiba-tiba dia tidak lagi tertarik topik hantu-hantuan.

Ah ya, Edgar kan bersemadi di atas pohon, jadi bisa mendengar pembicaraanku dengan cowok tadi. Aku sedikit tersinggung dengan pilihan kata-katanya meski kesannya kok aku jahat betul.

”Gue bukan sengaja nolak dia kok,” kataku membela diri. ”Gue nggak punya perasaan apa pun sama dia, jadi apa boleh buat, kan? Gue nggak mungkin nerima cowok yang nggak gue suka.” ”Selalu alasan yang sama,” cibir Edgar. ”Lo itu ya, kayaknya nggak pernah lagi punya perasaan apa pun sama cowok. Apa

itu karena lo belum bisa move on dari mantan lo?” Jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar pertanyaan Edgar.  Dia  benar.  Astaga,  dia  sangat  benar.  Tapi  aku  tidak mungkin mengakuinya, meski tampaknya reaksiku sudah membenarkan pertanyaannya.

Edgar mendadak maju selangkah, memperdekat jarak di antara kami sementara aku hanya menatapnya bingung. Mau apa dia dekat-dekat begini?

”Natasha Lorraine,” Edgar menyebutkan nama lengkapku. ”Move”—dia mendorong pelan keningku menggunakan telunjuknya—”on.” Diulanginya kegiatan mendorong keningku sekali lagi, sebelum dia meninggalkanku sendirian.

Tunggu. Meninggalkanku sendirian? Sadar kalau lagi-lagi hanya tinggal aku yang berada di taman ini, aku buru-buru ngibrit dengan tidak anggun, dan kembali ke kantin.

Baksoku sudah tidak menggiurkan lagi, karena selain sudah dingin, rasa bersalah pada cowok tadi dan pertanyaan Edgar sukses melenyapkan nafsu makanku. Hal itu tidak luput dari pengamatan Ellen dan Portia, yang sudah menghabiskan makanan masing-masing.

Kedua sahabatku itu sangat bertolak belakang dalam hal penampilan. Ellen bertubuh pendek dengan kulit putih dan rambut keriting sebahu. Wajahnya begitu imut sehingga dia sering disangka anak SD. Berkebalikan dengannya, Portia bertubuh tinggi—paling tinggi di antara kami bertiga—dengan kulit gelap dan rambut lurus model bob. Wajahnya yang eksotis terlihat terlalu tua untuk usianya, tapi menurutku dia sangat cantik.

Sekalipun sangat bertolak belakang, aku sangat menyayangi mereka yang sudah menjadi sahabatku sejak SMP. ”Cowok yang tadi nembak lo, lo tolak ya?” tebak Portia. ”Kok tahu?” cetusku.

”Gue lihat dia lewat depan kantin. Mukanya kayak mau buruburu pulang buat gantung diri di pohon toge,” sambung Portia.

Kubangan rasa bersalah, datanglah padaku dan tenggelamkan aku.

”Kok lo tolak sih, Nat?” tanya Ellen. ”Kan tuh cowok lumayan ganteng. Gue aja nggak keberatan kalau dikasih gratis.”

”Lo mah emang nggak bakal keberatan dikasih cowok mana pun,” sungut Portia. ”Dikasih Mang Ujang juga bakal lo tomplok.” Yang disebutnya itu adalah nama penjaga sekolah kami.

Ellen cemberut. ”Iihhh, Empok Opor, gue kan nggak seganjen itu, sampai-sampai Mang Ujang juga gue tomplok,” protesnya.

Ellen memang selalu memanggil Portia dengan ”Empok Opor”. Mulanya, Portia marah dengan panggilan itu, tapi karena Ellen malah senang kalau dia marah, lama-lama dia tidak peduli dan membiarkan Ellen memanggil sesukanya.

Aku mengulangi kembali pada Ellen dan Portia, hal yang kukatakan pada Edgar mengenai alasanku menolak cowok tadi.

”Gue bahkan nggak tahu namanya,” aku menambah alasanku. ”Apa kalian tahu namanya?”

”Upin,” cetus Portia.

”Upin?” ulangku bingung. ”Kayak Upin dari Upin & Ipin?” ”Bercanda kali,” kata Portia, gemas dengan kepolosanku.

”Kalau lo aja nggak tahu namanya, apalagi gue? Gue justru nggak tahu ada makhluk kayak dia di sekolah.”

Memang benar. Kalau Edgar orang paling jutek yang pernah kukenal, maka Portia orang paling cuek. Jangankan cowok tadi, kurasa Portia juga tidak tahu nama-nama teman sekelas. Dia tidak peduli soal banyak hal, meski untungnya, dia peduli padaku.

”Jadi, apa malam ini kita bisa hang out?” tanya Ellen, mengubah topik pembicaraan, mungkin karena ingin mengeluarkanku dari kubangan rasa bersalah.

”Gue bisa aja,” sahut Portia. ”Kebetulan gue nggak mau lamalama di rumah. Kakak gue kayaknya lagi PMS, kerjaannya marahmarah melulu, jadi mendingan gue kabur aja.”

”Kalau lo, Nat?” tanya Ellen lagi, kali ini khusus padaku. ”Gue ada kencan sama Lionel malam ini,” sahutku buru-buru,

karena sebenarnya tidak ingin memberitahu mereka, terutama pada Portia.

Ellen dan Portia sama-sama mengernyit, dan sama-sama berkata, ”Hah? Apa?”

”Gue-ada-kencan-sama-Lionel–malam-ini,” ulangku, kali ini lebih lambat.

Nah, sudah kukatakan. Ellen dan Portia pun sudah mendengarnya. Aku tinggal menanti ceramah Portia, yang kudapatkan setiap aku menyebut nama Lionel.

Benar saja. Mata Portia berkedut dan dia mendesah, bersiap menuturkan ceramah. Ibaratnya, kalau dia ingin mengajakku berantem, saat ini dia sedang menyingsingkan lengan baju.

”Natasha,” mulai Portia, jelas berusaha sabar, ”sebenarnya gue nggak pengin terus-terusan mengonfrontasi lo soal ini, tapi gue nggak pernah dapat jawaban memuaskan dari lo. Sekarang gue tanya lagi, apa lo jalan sama Lionel murni karena kemauan lo atau Troy yang nyuruh lo?” Untuk kedua kalinya hari ini, jantungku seperti berhenti berdetak. Kalau tadi Edgar sekadar menyebut ”mantan lo”, kali ini Portia lebih parah dengan langsung menyebut namanya.

Ya, Troy nama mantanku, yang membuatku tidak bisa move on sampai detik ini. Maklumlah, dia satu-satunya cowok yang kuterima menjadi pacarku.

Hubunganku dengan Troy berjalan mulus, hanya pada awalnya. Aku sangat menyukainya, dan tidak pernah merasakan yang seperti itu pada cowok lain. Dia sangat mengerti aku dan sering membuatku tertawa. Bersamanya, aku sangat bahagia.

Sayang, kebahagiaan itu hanya bertahan sebulan. Begitu Troy tahu aku adik Austin, yang notabene musuh bebuyutannya, dia mencampakkanku begitu saja lewat SMS. Aku masih ingat benar isi SMS-nya, hanya terdiri atas satu kalimat: Sorry, Nat, but it’s over.

Tentu aku tidak terima. Aku berusaha mengonfrontasi Troy; baik lewat SMS, telepon, maupun bertemu langsung; tapi dia selalu menghindariku. Puncaknya, ketika dia dengan sengaja memeluk cewek lain di depanku, hanya untuk membuatku pergi.

Aku sedih luar biasa, bahkan sempat depresi karena dia serbapertama untukku. Dia pacar pertamaku. Dengannya aku merasakan kencan pertama, pelukan pertama, dan mmm... ciuman pertama.

Yang terjadi padaku tentu meruncingkan tombak permusuhan antara Austin dan Troy. Austin ketua geng SMA Emerald, sedangkan Troy ketua geng SMA Vilmaris, dan kedua sekolah itu terkenal saling membenci bertahun-tahun ini. Ditambah dengan masalah pribadi antara dua ketua gengnya, lengkaplah sudah alasan permusuhan mereka.

Untungnya, sekarang geng Austin dan geng Troy sudah mengadakan gencatan senjata, karena kini justru Austin yang berpacaran dengan adik Troy, Ivy. Troy sudah sepenuhnya merestui hubungan Austin dan Ivy.

Aku sempat berandai-andai, kalau saja dulu Austin juga merestui hubunganku dan Troy, mungkin Troy tidak akan mencampakkanku, dan mungkin sampai sekarang kami masih berpacaran. Bukannya aku tidak pernah berusaha mendapatkan Troy kembali. Sudah. Aku sampai membuang gengsiku jauh-jauh untuk memintanya balikan, tapi Troy bilang dia sudah tidak memiliki perasaan apa pun padaku. Aku patah hati untuk kedua kalinya, meski tidak separah yang pertama, karena pada yang kedua, setidaknya dia masih mau berteman denganku.

Baiklah, aku tidak munafik. Aku sempat berharap berteman denganku lagi akan membuat Troy kembali suka padaku. Tapi sepertinya harapanku itu tidak menjadi nyata, karena beberapa hari lalu, aku mendapat kabar yang mengubur harapanku itu ke dasar bumi terdalam.

Lionel adalah sahabat Troy, yang juga wakil ketua geng SMA Vilmaris. Dia menyukai Ivy, sepertinya masih sampai sekarang. Dia patah hati karena Ivy hanya menganggapnya sebatas teman dan malah berpacaran dengan Austin.

Diam-diam, sepertinya Troy berusaha mendekatkanku dengan Lionel. Dia tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku menyadarinya, karena setiap kali kami pergi bertiga, dia mencari alasan untuk meninggalkan aku dan Lionel berdua saja. Itulah yang mendasari ceramah Portia, dan membuatnya menyangka kedekatanku dengan Lionel karena Troy menginginkannya begitu.

”Gue menganggap semua cowok brengsek,” kata Portia melanjutkan ceramah, padahal aku belum menjawab pertanyaannya dan malah sibuk melamun. ”Tapi dari cowok-cowok brengsek itu, ada beberapa yang memang nggak brengsek-brengsek amat, dan kayaknya Lionel salah satunya. Dia jelas nggak sebrengsek Troy. Gue kasihan aja kalau sampai lo manfaatin dia.”

Portia benci setengah mati pada Troy. Dari awal tidak pernah setuju aku berpacaran dengan Troy, dan setelah apa yang dilakukan Troy padaku, kebencian Portia menjadi-jadi.

”Gue nggak manfaatin dia,” sanggahku lemah.

”Lo jelas manfaatin dia kalau lo cuma jalan sama dia demi memuaskan mantan lo yang brengsek itu,” tandas Portia. ”Sorry to say ya, Nat. Lo sebenarnya pintar, tapi kalau udah menyangkut Troy, lo suka mendadak bego.”

Ellen berdecak. ”Duh, Empok Opor,” katanya. ”Yang sopan dong ngomongnya. Kita lagi ada di sekolah lho.”

Portia mengabaikannya. ”Lagian, kenapa sih lo masih ngarepin Troy, Nat?” tuntutnya. ”Bukannya lo bilang sekarang dia udah sama sahabat pacar kakak lo? Siapa namanya? Gue lupa.”

”Sophie,” gumamku, menyebut nama pacar Troy.

”Nah, iya, Sophie. Bukannya lo bilang dia udah sama cewek itu?” ulang Portia.

Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Beberapa hari lalu, aku mendengar dari Lionel bahwa Troy sudah seminggu ini berpacaran dengan Sophie. Bukannya Lionel sengaja memberitahuku. Dia sangka aku sudah tahu. Kabar itulah yang mengubur harapanku bahwa Troy akan kembali menyukaiku.

Sebelumnya Troy beberapa kali berpacaran dengan cewek lain. Tapi kali ini aku tahu berbeda, karena karena dipacarinya sahabat Ivy, dan semua orang tahu betapa sayangnya Troy pada Ivy. Dia jelas tidak akan mengecewakan adiknya dengan mempermainkan sahabatnya.

”Atau lo berharap mereka putus supaya lo bisa balikan sama Troy?” tuduh Portia.

Aku tersengat dengan tuduhan Portia, dan sengatan itu menyerang langsung ke mataku. Sudah kubilang kan diriku cengeng? Nah, ini buktinya. Ketika aku mengangkat kepala untuk menatap Portia, wajahku sudah berlinangan air mata.

”Tentu aja nggak, Por!” sanggahku. ”Gue emang masih s-sayang Troy, tapi bukan berarti berharap dia dan Sophie putus. Ya Tuhan, Por, gue nggak sejahat itu. K-kalau emang Troy udah nemuin cewek yang menurutnya tepat, gue ikut senang. Beneran. Gue senang dia sama Sophie, jadi gue nggak berharap  Gue

nggak pernah berharap ” Tangisanku semakin kencang setelah

itu sehingga aku gagal meneruskan kata-kataku.

”Ya  ampun,  Nat.”  Ellen  yang  duduk  di  sebelah  kananku, mendekatiku untuk memeluk. Dia memelototi Portia yang duduk di seberangnya. ”Empok Opor, udah cukup deh ceramahnya. Kasihan Natasha.”

Meski mataku tertutup kabut air mata, aku bisa melihat raut bersalah di wajah Portia. Dia pindah dari duduknya, ke sebelah kiriku, dan ikut memelukku.

”Sori ya, Nat,” ucap Portia tulus. ”Gue bukannya mau nuduh lo macam-macam dan bikin lo nangis begini. Gue cuma khawatir sama lo, dan nggak mau lo nyesal nantinya. Nggak apa-apa kalau lo mau jalan sama Lionel, asal emang kemauan lo sendiri.”

Aku hanya bisa mengangguk-angguk, karena masih disibukkan air mata. Bisa kulihat murid-murid lain di kantin menatap kami dengan penasaran, tapi kami sama-sama tidak memedulikan mereka.

Ceramah Portia masih tersangkut di pikiranku meski aku sudah berada di Honda Jazz pink, mobilku, bersiap pulang. Jujur, awalnya aku memang bersedia jalan dengan Lionel karena tahu Troy menginginkannya begitu, dan aku cenderung menuruti keinginannya. Semakin dekat dengan Lionel, aku tahu dia cowok yang baik, juga menyenangkan. Karena itu, jalan dengannya lantas berubah menjadi keinginanku sendiri. Kami juga bukan dekat seperti orang kasmaran, hanya asyik berteman.

Karena terus memikirkan ceramah Portia, awalnya aku tidak menyadari motor yang dengan setia mengikuti mobilku. Aku tidak bisa melihat wajah pengemudinya yang tertutup helm, tapi tubuhnya besar dan bertato, mirip preman. Sepertinya dia mengikutiku sejak mobilku keluar pelataran parkir sekolah, tapi aku tidak yakin juga. Apa mungkin kami hanya kebetulan searah?

Oke, saatnya melakukan percobaan. Aku akan berbelok ke kanan empat kali, dan itu berupa gerakan memutar. Kalau kami memang hanya kebetulan searah, tidak mungkin dia masih mengikutiku.

Empat belokan kulalui, dan ternyata motor itu masih saja bisa kulihat di spion. Dengan ngeri aku menyadari, dia memang mengikutiku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊